Rabu, 20 Juli 2016

Puing 7 #Jingga #NovelSeries

Alarm Jingga berdering lantang memenuhi ruangan apartemen tanpa sekat. Semalaman tidurnya lelap. Mungkin karena pengaruh obat dokter yang masih diminumnya. Hari ini hari Senin, hari paling ekstrim sedunia karena harus menjalani rutinitas setelah menghindar sementara waktu dari pekerjaan yang menumpuk.
Jingga bermalas-malasan di tempat tidur, memainkan ponselnya sejenak, mendengarkan lagu milik Meghan Trainor bertajuk Dear Future Husband. Lagu yang belakangan ini sering diputar menemani Rachel Platten dan Taylor Swift. Kantung kemihnya belum menagih untuk dibuang. Bibirnya melengkungkan senyum aduhai, mengingat gandengan tangan Rama kemarin sore, mendengar perhatian kecil yang menyuruhnya lekas tidur dan jangan begadang larut malam, serta memberikannya makanan penutup yang penuh dengan sayur-mayur dan buah-buahan segar.
Rasa-rasanya dia bukan remaja lagi. Tapi semenjak pertemuan di rumah sakit itu, ia merasakan ada getaran aneh dalam dirinya. Getaran yang tiga tahun terakhir menghilang. Namun saat menyadari dirinya jatuh hati, Jingga lekas bangkit dari tempat tidur. Menurutnya jatuh cinta selalu menyakitkan, hanya manis di awal.
Hubungan yang baik-baik saja akan terasa sakit ketika tidak kuasa menahan rindu, cemburu, dan lain sebagainya. Bagaimana kalau hubungan itu buruk, seperti jadi korban selingkuhan, penghianatan, materialisme, dan kebohongan lainnya yang membuatnya benci setengah mati kala mengingat pengalaman pahitnya dulu. Mungkin dengan memainkan busa di bath tub, ia bisa menentramkan jiwanya yang berkecamuk.
***
Sudah empat hari Jingga tidak masuk kerja lantaran dilarang Livi karena fisiknya belum fit. Suasana kantor masih sama seperti minggu lalu. Ordner-ordner yang berbaris di rak, komputer dan telepon yang masih bersampingan, serta kalender yang penuh dengan bulatan dan coretan mengenai deadline laporan.
Jingga meletakkan hobo bag warna coklat tua di loker, menyalakan komputer dan radio. Sepagi ini ia sudah mulai membaca email dari atasan dan membalas satu per satu terkait pekerjaannya yang dikerjakan Livi seminggu terakhir menggantikan posisinya. Ia memasang kacamata minus dan memperbesar ukuran tulisan di komputernya yang sekecil semut. Kemudian mereview hasil pekerjaan asisten sekaligus sahabat dekatnya, Livi. Jingga menarik napas lega karena Livi sudah berjasa membackup apa yang harus ia kerjakan.
Livi mempunyai daya ingat yang luar biasa. Meski pekerjaan seabrek-abrek, transaksi sekecil apapun di tahun lalu, masih diingatnya. Begitu halnya saat kuliah dulu, tidak ada satupun rumus akuntansi dan matematika yang ia lupa. Maka, menarik Livi untuk membantu daya ingatnya yang terbatas, Jingga merasa beruntung. Meski kadang asistennya itu suka berulah yang aneh-aneh. Mengeluh dan mendumel, misalnya.
Ponsel Jingga tiba-tiba berdering. Rupanya Rama.
“Pagi, Jingga,” sapanya dengan suara agak serak. Nampaknya Rama baru bangun tidur karena begadang menuntaskan pekerjaan seni lukisnya.
“Pagi,” jawab Jingga acuh. Ini merupakan telepon pertama dari Rama setelah akhirnya mereka resmi bertukar nomor telepon kemarin sore. Hatinya merasa senang ketika mengetahui Rama yang menelepon. Tetapi sebagian hatinya tidak suka. Dia takut jatuh hati pada pemuda itu.
“Kamu masih minum obat dari rumah sakit?” tanyanya penuh perhatian.
“Sudah tidak lagi. Semalam obat terakhir yang kuminum. Sudah habis.”
“Kalau begitu kamu harus tetap sarapan biarpun tidak meminum obat,”
“Iya, aku paham meski tidak kau beri tahu. Aku bukan anak kecil lagi yang harus diingatkan. Sudah dulu ya, aku repot.” Jingga berkata ketus, tidak ingin terlalu lama berbicara dengan laki-laki asing yang kini berputar-putar di otaknya.
“Nanti sore pulang jam berapa? Boleh aku menjemputmu?”
“Belum tahu. Lagipula tidak perlu repot menjemputku. Aku dijemput Pak Eki,” Jingga menggigit bibir.
“Tapi aku tetap akan menunggumu pulang. Selamat bekerja, Ibu Manager…” Rama menutup teleponnya.
Jingga mematung. Sekali lagi ia tidak suka hatinya terombang-ambing oleh perasaan aneh yang menguasai dirinya saat ini. Bukankah cinta hanya manis di awal saja? Bukankah cinta selalu menyakitkan? Bukankah cinta membuat hidupnya terasa seperti kiamat? Entahlah. Namun berada dekat pemuda itu selalu menyenangkan. Ia sungguh benci dengan pertemuan ini.
Empat menit berselang setelah Jingga berhasil mengatur napasnya secara teratur, Livi menarik pintu ruangan, terlonjak kaget mendapati wanita berambut panjang terurai sedang memainkan keyboard dan mouse di meja kerja atasannya.
“Kau bukan hantu yang menyerupai atasanku yang judes itu kan?” Livi melirik kaki Jingga sambil membungkuk.
“Ya, aku hantu gentayangan yang baru mati kemarin sore karena shock tak ketulungan, dan baru saja mereview hasil pekerjaanmu,” ujar Jingga dengan mata melotot dan suara dibuat-buat.
“…”
Tak ada banyak pekerjaan hari ini, karena deadline laporan sudah beres. Tapi Jingga masih harus mengomentari kenaikan dan penurunan dari masing-masing akun yang terdapat dalam laporan neraca, rugi/laba, arus kas, dan perubahan modal. Ia juga harus menyusun laporan affilasi dan konsolidasi empat perusahaan. Pikirannya kalut karena kehadiran Rama. Gatal, ia menceritakan apa yang ada dalam hatinya pada Livi.
Bukannya memberikan pengertian yang diinginkan, Livi justru berceramah panjang lebar. Mengingatkan bahwa umur Jingga sudah matang nyaris membusuk. Menyuruhnya membuka hati dan jangan terlalu banyak memilih, serta melupakan kesalahan masa lalu yang membuatnya trauma.
Menyesal telah bercerita, Jingga kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi hatinya sependapat dengan semua yang dikatakan Livi. Bahwa perasaan tetaplah perasaan. Manusia selalu membutuhkan manusia lainnya untuk bertahan hidup. Maka ia harus membuka balutan perban yang selama ini merawat luka hatinya dari tujuh mantan terdahulu yang membuatnya remuk berkeping-keping.
Di ruang kerja yang menghadap ke taman, Jingga melayangkan pandangan kosong. Mencoba mengingat umur berapakah ia sekarang. Batinnya mendidih perih. Ini bukan perkara banyak memilih dan menutup hati. Banyak orang yang menikah karena bosan ditanya kapan, takut usia keburu menua, dan malu akan cemoohan. Jingga bukanlah gadis seperti kebanyakan orang yang memutuskan menikah lantaran keadaan.
Menurutnya, memutuskan menerima teman hidup yang bersedia mendampingi hingga akhir hayat, merupakan kesepakatan antara dua hati yang saling mengasihi, atas dasar suka sama suka, ketulusan, dan bukan keterpaksaan. Untuk apa menikah jika tidak bahagia? Barangkali itulah yang ada dalam pikirannya selama ini karena saking seringnya dikecewakan dan sakit hati.
**
Rama sedang mematut penampilannya di depan cermin. Mencari baju paling pantas dan cocok untuk menjemput Jingga sore ini. Meski dari gagang telepon nada suara Jingga cuek, tapi itu tak mematahkan semangatnya untuk tetap menjemput gadis bunglon itu. Mungkin Jingga memang benar-benar sibuk dan tidak dapat diganggu, atau mungkin sedang datang bulan, pikirnya.
Dengan mantap, pemuda bertubuh tinggi tegap itu meluncurkan mobil Fortunernya ke kantor Jingga di kawasan Sudirman. Jika bertemu dengan gadis itu, hatinya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga yang manis. Ya, Jingga begitu manis di matanya, menggemaskan, menggoda, dan misterius. Ia tidak ingin memaksakan keadaan jika memang Jingga tidak tertarik padanya. Jujur, berada di dekatnya membuat darahnya berhenti mengalir dan bergetar, ada perasaan bahagia dan keyakinan akan cinta yang ia cari selama ini. Itulah kenapa ia selalu ingin menemui gadis anggun itu.
Sudah satu jam menunggu, Jingga belum jua keluar dari markas kebesarannya. Livi bilang, Jingga sedang tidak bisa diganggu. Kalau mau tetap menunggu, harus sediakan kopi hitam tanpa gula untuk begadang hingga esok pagi. Namun Rama tetap antusias melihat bibir dan mata itu, menangkap senyum dan marahnya. Harapannya pun terwujud. Jingga berdiri di hadapannya dengan wajah super bete.
“Sudah kukatakan, tidak perlu repot menjemput. Tapi kamu malah datang. Kasihan kan Pak Eki sudah menjemputku,” Jingga mengisyaratkan bahasa tubuhnya pada Rama.
Pak Eki yang juga duduk satu sofa dengan Rama menjawab, “Tidak apa-apa, Nona, saya bisa langsung kembalikan mobil Nona ke basemant. Jangan menolak rejeki,” Pak Eki permisi pulang duluan.
Dengan berat hati, Jingga ikut pulang bersama Rama. Dan seperti biasa pula, Rama mengajaknya mampir ke rumah makan, memaksa Jingga menghabiskan santapan sehat yang terdiri dari banyak macam sayuran dan buah. Ia tidak ingin gadis itu sakit lagi. Entah mengapa perasaannya berubah menjadi rasa sayang yang tak pernah terduga sebelumnya.
Jingga menyerah dengan perhatian Rama yang menurutnya sangat berlebihan. Ia tak bisa membohongi hatinya bahwa ada perasaan senang ketika berada di samping pemuda itu. Dadanya yang bidang membuatnya ingin memeluknya sebagai ungkapan terimakasih. Namun sekali lagi, sebagian hatinya melarang.
“Aku masuk,” Jingga menyunggingkan senyum terpaksa dan segera berlalu.
High heels setinggi sepuluh centimeter dan blouse merah menyala yang dikenakan Jingga hari ini membuat Rama tak bisa mengedipkan mata. Betapa anggun Jingga di matanya. Namun ia harus sadar diri, tak mungkin menakhlukan hati Jingga yang keras bagai batu. Sikapnya mudah berubah. Bukan berarti dia tidak konsisten. Jingga itu misterius. Kadang menyenangkan, kadang juga menyebalkan. Dia memang pantas dijuluki gadis bunglon. Sikapnya susah sekali ditebak.
**
Apartemen lantai tujuh yang setiap hari dilalui Rama selalu sepi. Mungkin orang kota memang individualistis, hobi mengurung diri dan enggan bertetangga. Tak dipungkiri, hal itu pun menular pada dirinya belakangan ini, setelah meninggalkan rumah kontrakan petak di sisi Jakarta, ia hanya berteman security dan petugas kebersihan. Walaupun ada banyak rekan kerja di luar apartmen yang kenal baik bahkan seperti saudara sendiri. Namun di apartemen ini, ia merasa sendiri.
Di lorong lift menuju kamar apartemennya nomor 75, langkah kakinya mendadak berhenti tiap kali melewati pintu ruangan Jingga yang selalu tertutup rapat. Mungkin hatinya pun seperti itu, selalu tertutup. Ia mempercepat langkah kakinya untuk tidak sibuk memikirkan wanita yang baru saja dijemputnya pulang, yang kini bertahta hebat dalam benaknya.
Saat sedang membuka kunci apartemen, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Suara yang selama ini terngiang-ngiang di telinganya seminggu terakhir. Jingga. Ya, tidak salah lagi. Gadis itu memanggil namanya.
“Emm… Kamu tinggal di sini juga? Kenapa tidak pernah cerita?” Wajah Jingga masih jutek seperti sepuluh menit yang lalu.
Rama hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam tanpa menawarkan tetangganya ikut masuk. Pintunya dibiarkan tidak ditutup, berharap Jingga mengikuti langkahnya dari belakang.
“Aku boleh bertamu?” Entah ada kekuatan apa Jingga mengatakan hal itu. Sebenarnya ia hendak keluar apartemen untuk membeli keperluan memasak, tetapi kaget mengegep Rama di lantai apartemen yang sama, ia pun tertarik untuk menginterogasi orang yang sudah membuatnya serba salah beberapa hari terakhir.
Betapa terkejutnya Rama mendengar pertanyaan Jingga yang ingin bertamu ke apartemennya. Dengan senang hati, ia menyilakan gadis itu duduk di sofa, menawarkan mau minum apa.
“Aku tidak mau minum apa-apa,” Jingga merebahkan tubuhnya ke sofa kulit berwarna biru dongker. Kalau diperhatikan, semua benda yang Rama punya tak jauh dari warna biru. Apakah itu warna kegemarannya? Tanyanya dalam hati.
Rama mengangguk dan melangkah ke dapur mininya yang tersaji berbagai macam peralatan masak. Bahkan lebih lengkap dari perabotan ibu - ibu PKK.
Sekilas apartemen Rama seperti rumah pada umumnya. Ada ruang tamu, kamar tidur, ruang santai, toilet, dapur, dan ruang melukis. Berbeda dengan apartemennya yang sengaja dibiarkan tanpa sekat dan polos. Di ruang tamu terpajang lukisan abstrak yang sama sekali tak ia pahami artinya. Di meja kecil, berdiri patung perempuan cantik yang sedang menari aduhai. Di bupet yang tak terlalu besar sebagai sekat ruang santai, terpampang patung-patung dari pahatan batu dan pernak-pernik lainnya. Jam dinding yang biasa digantung di dinding, ia sandarkan di sela-sela patung pahatan dan pernak-pernik itu . Sungguh aneh, tapi itulah kenyataannya.
Sambil memperhatikan isi ruang tamu Jingga mengajukan pertanyaan basi pada Rama. “Istrimu tinggal dimana, Ram?” Jingga menggigit bibir bawahnya, menyadari ketidaksopanannya memasuki rumah laki-laki dewasa yang tidak jelas juntrungannya. Kalau benar ternyata Rama sudah berkeluarga, apa jadinya?
Rama yang masih berkelut di dapur entah membuat jamuan apa, tertawa atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan Jingga. “Kalau aku sudah menikah, mana mungkin aku membiarkanmu masuk ke kamarku, juga tidak akan menemanimu di rumah sakit, mengantar dan menjemputmu, dan sebagainya,” Rama melipat dahinya.
Semoga Rama tidak berbohong, batin Jingga berkata demikian.
Dari ruang tamu berukuran mini ini, Jingga bisa melihat ruang lukisan Rama yang entah lupa ditutup sang empunya atau sengaja dibiarkan terbuka begitu saja Spontan lukisan-lukisan itu menyedot perhatiannya untuk meninggalkan sofa empuk. Di ruangan itu, selain lukisan yang sudah jadi, ada juga lukisan yang setengah jadi, berdampingan dengan alat-alat lukis, seperti; kuas berbagai jenis, kanvas kecil, besar, dan sedang, cat warna, minyak, papan bantu, kertas karton, pensil, penghapus, meja ekstra lebar, kursi, dan lain sebagainya.
Bermacam-macam lukisan dengan ukuran dan bentuk berbeda digantung di dinding, sebagian tergeletak di lantai dengan bungkusan plastik. Nampaknya itu lukisan pesanan seseorang yang hendak dikirim, terkanya sok tahu. Ada juga yang bersandar di kaki tembok. Ada yang menggunakan alas kertas, bingkai kecil, kanvas, serta dilukis langsung di tembok. Semua lukisan Rama membuatnya terpukau. Jingga sampai berjinjit saat melihat lukisan sebuah pemandangan alam nan asri yang terpampang di atas kepalanya. Ruangan lukis Rama amat luas, penuh warna, dan damai.
Namun mata Jingga terbelalak ketika mendapati lukisan setengah jadi yang nyaris menyerupai wajahnya. Lukisan itu belum sempurna selesai, tapi menilik dari lengkung bibir, garis hidung, alis, dan dagu, Jingga yakin betul itu lukisan mirip sekali dengan dirinya. Tapi bagaimana bisa gambar wajahnya ada di sana? Jingga menggeleng-gelengkan kepala, mungkin saja perempuan berambut panjang agak ikal yang ada dalam lukisan setengah jadi itu ialah kembarannya di dunia. Ibundanya pernah bilang, kalau di dunia ini ada tujuh manusia yang memiliki wajah hampir sama, dan mungkin ini salah satunya, ucapnya dalam hati tidak ingin salah persepsi.
“Mau kubantu gendong? Kucari kemana-mana, rupanya kau di sini,” Rama menepuk bahu Jingga yang kelihatan bingung. Ia membawakan segelas air mineral beserta roti panggang untuk tetangganya.
“Maaf, aku lancang masuk ke ruangan rahasiamu. Tak semestinya aku berada di sini dan tetap duduk manis di sofa. Oh ya, aku kan sudah bilang kalau tidak berminat untuk makan dan minum apapun. Aku juga tidak butuh digendong.” Jingga menerima gelas yang diberikan Rama, langsung meletakannya ke meja. Namun saking gemetarannya berada di dekat pemuda itu, diluar kendali, gelas itu susah nian menyentuh meja. Alhasil lantai ruang lukis Rama jadi basah oleh tumpahan air. Untung saja gelasnya tidak jatuh dan pecah menimpa cat warna dan menciprat ke lukisan yang diletakkan di lantai.
Jingga menundukkan badan berusaha mengeringkan lantai menggunakan tisu yang ada di atas meja. Rama membantu Jingga. Jarak mereka kini hanya 15 cm. Jingga bisa merasakan aroma maskulin Rama dari dekat. Begitupun dengan Rama yang bisa mencium wangi sampo dan parfum dari rambut dan leher Jingga. Rama bisa melihat belahan dada Jingga yang menyembul indah dalam blouse rendahnya.
Keduanya terpaku saling tatap. Dan seperti laki-laki lain yang terbius keindahan, Rama menyentuh dagu Jingga, merapatkannya ke bibirnya. Bibir itu kini saling bertemu. Jingga pasrah saat Rama mengecupnya lembut. Sadar melakukan kesalahan, Jingga segera melepaskan ciuman tiga detik itu. Ia duduk di sofa dengan wajah bersemu merah. Sama halnya dengan Rama yang kaku. Ini bukan rencana jahatnya menyentuh gadis bunglon yang kini berjarak beberapa centi dari hadapannya.
Berada di dekat Jingga, spontan bara cintanya menyala. Keduanya duduk dengan posisi kikuk. Namun tak lama kedua bibir itu bertemu lagi. Kali ini lebih dalam dan panas. Rama mengulum bibir atas Jingga maju dan mundur. Sesekali menekan dan memasukkan lidahnya ke mulut Jingga, membuat ia tergoda untuk bertindak lebih lanjut. Nalarnya sungguh diluar kendali antara batas kesadarannya yang hilang. Brengsek.
Sialan. Jingga yang awalnya merasa keberatan, kini justru membalas ciuman mesra Rama. Ia kadang jahil mengigit lidah bawah Rama, mengeluarkan desahan yang membuat Rama menegang oleh keinginan dan hasrat yang menggebu. Keduanya hanyut dalam gairah yang selama ini hanya ada dalam khalayan masing-masing. Ada sesuatu yang menggelitik perut bawah dan pangkal paha Jingga. Jika saja bukan karena perasaan suka, ia bisa saja menampar laki-laki ini karena sudah lancang menyentuhnya.
Tangan Jingga melingkar ke leher Rama, tubuhnya melengkung ke dada bidang pemuda itu. Membuat belahan dada Jingga terhimpit oleh rasa nikmat dan bisa merasakan detak jantung Rama yang berdetak cepat. Tangan kanannya menyisihkan anak rambut Jingga yang berantakan. Sedangkan tangan kirinya melingkar ke pinggang Jingga. Ciuman mereka semakin panas dan erotis. Rasanya ada sesuatu yang ingin ia lakukan lebih. Tapi tidak sekarang, belum waktunya. Ia bahkan tidak menyangka bahwa Jingga akan membalas ciumannya sedahsyat ini. Keduanya saling terpejam. Napas mereka saling memburu. Manis, hangat, dan basah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar