Malam senyap, tak ada suara lain kecuali dentang jam dinding yang terus berotasi pada benda berbentuk kotak yang tergantung di atas lukisan purnama. Seorang perempuan dengan rambut terurai acak-acakan, sedang kusut hatinya. Tangannya gemas meremas bantal, dan kalbunya memberontak tak terelakkan.
Kapan menikah?
Pertanyaan itu. Entah sejak kapan ia membencinya. Memangnya jodoh dijual di pasar? Enak sekali kalau begitu ceritanya, bisa memilih yang terbaik untuk pasangan hidup, meski harganya berlipat-lipat lebih mahal. Omong kosong cinta membawa bahagia. Omong kosong! Jeritnya pilu.
Kata orang cinta itu aneh, ajaib, penuh misteri, seperti teka-teki. Semua makhluk hidup di muka bumi ini lahir atas nama cinta, tumbuh karena cinta, dan bernapas saja perlu cinta. Ada yang bilang cinta adalah perasaan bahagia yang membuat jantung berdebar dan perlahan tumbuh harapan. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta merupakan misteri yang tak bisa dipecahkan. Sebagian orang ada yang setuju kalau cinta ialah merelakan dan melepaskan sesuatu walau menyakitkan.
Apalah itu semua penjelasan tentang cinta, setiap insan bebas mengemukakan dengan definisi dan cara berpikir yang berbeda. Yang jelas, bagi Jingga, cinta adalah sumber bencana yang selalu menyiksa.
Diliriknya tujuh deretan nama mantan dan teman sekolah. 97% di antara mereka sudah berkomitmen membina rumah tangga. Kata ‘menikah’ adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari pemikiran Jingga, gadis penikmat purnama dan hujan yang kesehariannya berkutat sebagai leader keuangan di salah satu perusahaan swasta di kota metropolitan.
Perjalanan perempuan pengagum langit senja, yang merindukan bisa pulang kantor tepat sebelum matahari tenggelam namun tak pernah kesampaian, tidak semulus cerita di dalam dongeng sebelum tidur yang berujung bahagia. Pengalaman makan asam garam sudah dilaluinya dengan tawa dan tangis. Disamping belum siap seratus persen, Jingga belum menemukan jodoh yang tepat, yang digadang-gadangkan sebagai kepala keluarga kecilnya nanti.
“Buktinya, tanpa cinta aku masih bisa bertahan kan sampai hari ini?”
Jingga membatin, nada suaranya meninggi. Bantal yang baru saja ia remas, dilemparkannya kencang ke tembok. Jiwa dan pikirannya sedang bertengkar hebat memperdebatkan realita hidupnya yang pilu. Selama ini dia justru menikmati kesendiriannya yang mungkin lebih terasa bahagia dibandingkan memiliki kekasih yang selalu menyakiti. Rasa sakit karena patah hati oleh calon tunangannya – Dika, membuat ia dibayang-banyangi masa kelam yang tak berkesudahan.
Meski sudah rebah pijah di kasur empuk dengan lampu gelap, Jingga belum jua memejamkan mata. Padahal sejak tadi siang, perempuan berambut panjang agak ikal di atas pinggang itu, sama sekali tidak meminum zat yang mengandung kafein. Pikirannya teramat kusut, menerawang jauh ke masa depan yang hingga detik ini belum bisa diramal oleh paranormal terhebat manapun di belahan dunia. Tiba-tiba ia terngiang obrolan beberapa hari yang lalu di sebuah kafe tak terlalu ramai pengunjung, bersama Livi –sahabat dekatnya.
“Lihat ke meja seberang, Jingga! Kau tidak mungkin merantai hatimu seperti wanita itu, kan?” Livi berbisik di dekat telinga Jingga, menunjuk pada perempuan yang mengenakan behel tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau utarakan, Livi.” Jingga mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
“Aku dengar merantai gigi sakitnya bukan main, Jingga. Bagaimana dengan merantai hati?”
“Ini beda kasus, Livi. Astaga, jangan kau samakan fisik dengan batin, jelas berbeda.” Jingga menyeringai sebal, paham maksud Livi. Apalagi kalau bukan berniat menyindir dirinya yang masih betah sendiri.
“Sama saja. Aku hanya ingin memberikan gambaran melalui perempuan berbehel itu. Tidak baik berlama-lama merantai hati dan pikiranmu, Jingga. Orang pakai behel, semakin lama semakin rapi, tapi tentunya perlu melakukan kontrol rutin seperti mengganti karet, mengencangkan kunci, per, serta perawatan lainnya. Kalau tidak melakukan pengontrolan dan perawatan rutin, lama-lama kawat akan berkarat. Sama seperti hatimu saat ini.” Livi menandaskan kopi vanilla latenya.
Jingga mengangkat alis, menyendok es krim yang hampir habis.
“Jangan kau pikir karat yang kumaksud adalah senyawa yang ada pada emas. Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku besi karatan. Nah, kau tahu kan bagaimana rupa besi dan kawat yang karatan? Contoh sederhana, kenapa manusia bisa meninggal hanya karena tertusuk paku atau besi di jalan? Besi, paku, kawat yang karatan itu akan menyebabkan tetanus, infeksi, dan menimbulkan racun pada tubuh manusia. Sehingga manusia tidak dapat bertahan lebih lama. Coba kau renungkan.”
“Akan kucoba renungkan.” Jingga menelan suapan es krim terakhirnya dengan perasaan tertampar. Ucapan Livi masuk akal. Tapi ia belum mau membuka rantai itu. Memangnya semudah itu menambal hati yang berlubang? Livi ini selalu saja sibuk memberikan gambaran yang tidak-tidak perihal hatinya yang lama tak terisi oleh laki-laki.
Jarum jam terus berputar, merangkak ke arah 02.37 WIB. Hey, bukankah ini hampir pagi? Entahlah. Jingga tidak tahu apa yang harus diperbuat selain menangisi kemalangan kisah asmaranya. Meski ia sadar betul bahwa lima jam lagi harus beranjak ke meja kerja seperti biasa. Usianya kini mendekati kepala tiga, namun ia masih saja mengeles akan hal berbau cinta. Ia memanfaatkan kesibukannya sebagai wanita karir yang mempunyai jadwal lebih dari normal sebagai obat untuk meredam kekalutan hatinya, meski itu sama sekali tidak manjur. Menurutnya cinta adalah sumber malapetaka dan nestapa.
Di ruangan gelap gulita yang hening, isakan tangis Jingga berbaur dengan irama detak jantungnya yang seolah menyatu bersama iringan suara jarum jam dinding. Jingga, wanita yang terkenal ceria dan tegar, sedang tersedu di pojokan kamar apartemen, memeluk lutut, dan memikirkan hal rumit yang membuat hidupnya seperti tercekik.
“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta sekali lagi? Jatuh cinta pada orang yang tepat? Jatuh cinta pada orang yang tulus? Aku lelah, kenapa cinta itu selalu menyakitkan? Kenapa aku selalu gagal? Siapa yang salah? Aku tak pernah menyakiti, justru merekalah yang melukaiku, meninggalkan rasa trauma dan jejak luka yang membuatku benci setengah mati. Benci dengan kata CINTA..."
Jingga menjerit merintih. Air matanya bak hujan yang mengguyur hutan lebat. Tatapan matanya kosong. Balutan luka yang selama ini rapi, tiba-tiba merobek lagi. Basah. Luka itu kembali basah. Kenangan akan masa lalu bagai bayangan mejik yang sesuka hati muncul. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah bersamanya, Jingga tak pernah beruntung. Ia selalu saja tertipu. Ingatannya begitu kelam. Baginya hidup ini ibarat jeruji besi yang mengukung kebebasannya untuk mencicipi rasa bahagia.
Sesungguhnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi. Terlalu sakit, sungguh! Rasanya bagai dicincang, menyayat hingga ke rusuk tulang belulang. Jingga berceloteh pada selimut tebal sambil mengusap ingus, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoret-coret dinding dengan cakaran kukunya yang belum sempat digunting. Ia tidak ingin air matanya terbuang sia-sia hanya untuk mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
Tidak. Kali ini Jingga tidak menangis karena rasa kecewa pada masa lalunya, melainkan karena rindu teramat dalam. Rindu yang kerap membuatnya terisak. Rindu yang tak kunjung terbalas. Rindu yang hanya bisa dirasakan seorang diri. Rindu yang terus menghujam dadanya yang semakin sesak, yang bahkan belum juga mampu menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan yang datang dari sang ibunda, saudara, kerabat, handai-taulan, dan sahabat-sahabatnya perkara jodoh.
Jodoh?
Dahi Jingga berkerut. Kepalanya mendadak berat. Dadanya sesak. Wajahnya berubah pucat. Tahu apa ia tentang jodoh? Bahkan tak akan ada yang menjamin pemahaman tentang perkara itu.
“Kenapa sih mesti ada perasaan? Kenapa pula harus ada cinta? Kenapa manusia harus menikah, punya suami, anak, cucu, dan ini-itu? Memangnya keluarga bisa membuat manusia bahagia? Haruskah seperti itu?” tukasnya sendu. Ia sudah berhenti menangis. Namun emosinya masih meluap laiknya Sungai Katulampa pada saat musim penghujan. Sesekali ia tertawa kecut, menertawai kemalangan nasibnya. Saat ia kecil, ayahnya pergi entah kemana. Meninggalkan ibu dan adiknya yang masih balita. Kenapa laki-laki selalu serakah? Kenapa di dunia harus ada cinta? Memangnya dunia mau bertanggungjawab atas hilangnya sang ayah? Jingga mengacak-acak rambutnya yang panjang. Gadis itu benar-benar frustasi.
***
Di belahan bumi bagian tengah, pada jam yang sama namun tempat berbeda, Azka dan Dewa sedang serius menonton pertandingan duel maut El-Clasico. Di kamar yang tidak terlalu terang cahaya lampu dan berukuran tidak begitu besar itu, mata Azka dan Dewa hampir tidak berkedip memandang layar televisi slim yang tertempel di tembok. Tangan kanan Azka sibuk mencomot cemilan kacang kulit yang disuguhi oleh ibunda Dewa, sementara Dewa asyik dengan secangkir kopi hitam sambil berseru-seru sebal lantaran tim kesayangannya kalah 1-0 di menit ke-40.
Kadangkala keduanya berteriak histeris jika striker gagal mencetak gol, atau salah satu menepuk dahi berkali-kali bila tidak jadi pinalti ketika ketahuan lawan bermain curang. Tak tanggung-tanggung, Azka yang memegang bendera berwarna biru-kuning, berlompat-lompat girang sembari teriak ala Tarzan menirukan gaya orang utan mendapatkan pisang tatkala tim jagoannya menjebol gawang. Sedangkan Dewa mengutuk tawa Azka dengan melempar bantal. Dua sahabat itu masih saja bertingkah laiknya anak kecil. Padahal boleh jadi usia mereka sudah tua.
Azka yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, sengaja menginap di rumah Dewa yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kesibukan masing-masing menjadi alasan kuat mengapa mereka sulit sekali menyatukan waktu. Demi menghormati tamu dari jauh yang juga merupakan sahabat karib, Dewa mempersilakan Azka berbuat onar di kamarnya, termasuk mengacak-acak benda milik pribadi yang hukumnya privasi dan konfidensial disela-sela waktu jeda.
“Kau masih menyimpan foto ini?” Azka menatap lamat-lamat foto usang yang tersimpan rapi di album biru berdebu milik Dewa sewaktu dirinya kecil.
“Ya, tentu saja aku masih menyimpannya. Bagiku foto adalah sebuah kenangan yang tak akan mampu dibeli dan kembali. Kita hanya tertawa atau menangis saat menatap wajah-wajah yang ada di album itu. Tergantung kenangannya, manis atau pahit.” Dewa ikut menatap foto hitam-putih ukuran 4R yang sedang dipegang Azka.
Di dalam foto itu, dia, Azka, dan Anggun sedang adu kelereng di bawah pohon nangka yang rindang. Bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang riang. Sungguh masa-masa kecil yang indah dan tak terlupakan. Tiga sekawan itu selalu bersama kemanapun pergi. Meski kadang Dewa melarang Anggun ikut bila hendak mencuri pepaya di kebun milik orang. Namun pertemanan itu tak lama. Dewa meninggalkan Azka dan Anggun saat dirinya lulus sekolah dasar, mengikuti ayah dan ibunya yang sudah selesai dinas di desa kelahiran Azka dan Anggun.
“Aku ingin bertemu gadis kecil itu.” Dewa menempelkan kepalan tangannya ke mulutnya berkali-kali. “Dia yang dulu sering kujahili. Dia yang memiliki senyum paling manis di antara gadis-gadis kecil yang lain. Dia yang selalu ingin menang sendiri. Batu. Tidak mau kalah. Lantas dia menangis bilang aku yang salah. Ah, pokoknya dia…”
Azka menepuk keras paha Dewa, “Bolanya sudah mulai, Kawan. Ayo kita nonton lagi. Coba kau tebak, jagoan siapa yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Pasti jagoanku.” Azka mencoba berkelakar.
Dewa tidak ikut tertawa. Dia merasa Azka mencoba mengalihkan topik pembicaraan mengenai masa kecil mereka. Waktu break memang telah berakhir, tapi pemandangan komentator yang mengoceh mengomentari ketidakbecusan sang kiper belum juga menghilang. Ini artinya bola belum berlanjut. Ia menginjak kaki Azka. “Kau tahu dimana dia? Aku ingin bertemu gadis itu.” Katanya serius.
Azka meringis kesakitan.“Sudahlah. Dia itu musuhmu. Kau yang sering mengatakannya padaku. Dia telah melupakanmu sejak selangkah kau meninggalkan desa tercinta kita. Kau tahu, dia tumbuh menjadi wanita yang jelek dan galak. Aku yakin kau akan menyesal bertemu dengan gadis kecilmu itu.” Azka membesarkan volume tv, sengaja betul menghindari topik pembicaraan.
Dewa bersungut-sungut kesal. Sialan, bukannya memberikan kabar yang sedap didengar tentang kawan kecilnya, Azka justru menjelek-jelekkan Anggun. Gara-gara Azka membuka album lama, ia jadi tidak konsentrasi menonton bola, cenderung sibuk memikirkan sosok Anggun. Apakah benar wajah gadis kecil yang tersenyum di foto itu tak seanggun namanya? Tiba-tiba hatinya tertantang untuk membenarkan ucapan Azka, kalau Anggun hanyalah sebuah nama, aslinya sama sekali tidak anggun, alias jelek, lebih tepatnya buruk rupa, ia harus membuktikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar