Rabu, 20 Juli 2016

Puing 4 #Jingga #NovelSeries

Livi berjalan terpogoh-pogoh mengimbangi langkah kaki pemuda yang saat ini membopong tubuh sahabatnya menuju lobby rumah sakit. Seketika bau khas obat-obatan menyengat menusuk hidung. Lalu-lalang manusia berseliweran keluar masuk. Ada yang wajahnya kusut, ada yang bersikap datar, ada yang terburu-buru seperti dirinya saat ini mengurus keperluan rumah sakit. Tak lama ia disambut empat perempuan berpakaian serba hijau dengan topi mirip perahu terbalik berwarna putih yang dijepitkan di kepala. Kereta dorong siap mengantar Jingga ke kamar rawat inap.
Suster-suster itu sibuk menyolokkan selang infus ke pergelangan tangan Jingga yang terkulai lemah. Sesekali memeriksa denyut nadi yang semakin pelan. Kata suster, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jingga hanya pingsan karena tidak sanggup menopang tubuhnya yang kehabisan tenaga. Denyut nadi yang pelan bukan berarti napasnya tinggal beberapa jam lagi, melainkan aktivitas yang menurun drastis.
Enggan melihat jarum suntik melukai lengan sahabatnya, Livi memutuskan keluar dari ruangan. Setelah dokter selesai menangani sahabat sekaligus atasannya itu, ia baru mau kembali ke kamar rawat inap, menyaksikan Jingga yang belum juga bangun dari tidur lelapnya. Ia berkali-kali menggoyang-goyangkan lengan kiri Jingga yang tak dililit selang infus, berbisik merayunya lekas membuka mata.
Sudah sembilan kali Livi melirik jam tangan, melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar VVIP lalu masuk lagi ke dalam. Pikirannya serba salah, antara tetap bersama Jingga, ataukah menghandle pekerjaan yang menggunung. Ia harus segera kembali ke kantor, gertaknya dalam hati. Tetapi disaat kritis seperti ini, ia urung meninggalkan Jingga seorang diri yang terbaring terlilit selang infus. Saat ini Jingga merupakan tanggungjawabnya juga.
Livi menekan kontak Pak Steven, meminta maaf karena berkas dokumen mengenai aset lancar dan cadangan kerugian piutang tertunda. Sekaligus menginformasikan bahwa Jingga masuk UGD.
Pemuda berkemeja panjang itu memperhatikan gerak-gerik Livi yang gelisah. Ia memberanikan diri mendekat. “Biar aku saja yang menunggu Jingga. Aku sedang tidak banyak pekerjaan hari ini,” bebernya menawarkan jasa.
Livi tidak menjawab. Siapa dia? Kenal saja baru kemarin siang, gumamnya dalam hati. Sebelum keluarga Jingga datang, ia tidak mau meninggalkan atasannya sendirian. Bisa-bisa Jingga diculik ke bulan.
Jingga memang keras kepala, sudah tahu demamnya tinggi, bilang baik-baik saja. Sekarang ia harus mengakui kalau tubuhnya butuh perawatan intens. Pening di kepalanya membuat ia tumbang ketika hendak menuju toilet di kamar apartemennya. Dan pemuda itulah yang membawanya ke rumah sakit ini. Hampir dua jam lebih Jingga belum sadarkan diri. Demamnya semakin tinggi. Livi sudah mengabari ibu dan adik Jingga yang berada di Kota Kembang. Dalam panggilan telepon yang singkat, ibu Jingga nampak panik dan berkata akan langsung menuju Jakarta detik itu juga.
Ruangan serba putih dan sunyi ini membuat Livi merinding. Lima tahun silam ia harus menyaksikan kedua orangtuanya menjemput ajal. Dada Livi terasa sesak. Ia berusaha mengenyahkan bayangan akan masa lalunya yang tragis. Berselang satu jam, Pak Steven, Pak Heri, dan beberapa pejabat tinggi lainnya berkunjung ke rumah sakit membesuk Jingga. Mereka menyampaikan ungkapan prihatin dan membawakan sekantong buah-buahan. Tiga jam berlalu, Jingga belum juga siuman.
Usai kunjungan direksi, Ibu dan adik Jingga datang menjenguk. Livi izin ke kantin untuk makan siang. Tentu saja dengan pemuda yang tak dikenalnya. Perut Livi sudah bernyanyi lagu aerobik sejak tadi. Makanan yang dibeli dari rumah makan, ketinggalan di apartemen Jingga. Suasana di kantin tak jauh berbeda dengan di ruang rawat inap. Sunyi dan senyap. Hanya suara piring, garpu, dan sendok yang terdengar. Sesekali suara dari pengunjung yang baru masuk. Meski terkenal cerewet dan bawel, kali ini Livi tidak berselera bicara terlalu banyak. Ia hanya menjawab seperlunya jika pemuda asing itu bertanya. Setelah menandaskan makan siang, ia kembali ke kamar rawat inap. Jingga belum jua sadar.
**
Siang itu langit Jakarta mendung mengundang. Jalanan masih becek bekas hujan tadi pagi. Bunyi klakson yang saling bersahutan serta ulah para pengendara roda dua dan empat yang tidak mau mengalah, membuat siang ini terasa buruk. Para pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya di lampu merah, pengamen-pengamen berkeliaran dari mobil satu ke mobil lain, meminta uang paksa pada penumpang. Jika tidak diberi, mereka akan melakukan tindak kriminal, memakan silet, dan berorasi panjang lebar, bilang belum lama keluar dari penjara dan sekarang akan mencari korban baru. Namun tidak dalam ruangan kecil yang sunyi senyap, seorang gadis malang sedang menjalani masa gawat darurat. Matanya terpejam rapat.
“Kau kan tahu, Nak, Jingga memang keras wataknya. Mohon bersabar menanggapinya,” ucap ibu Jingga pada Livi.
“Iya, Bu, aku akan berusaha sabar mengikuti kemauannya. Andai saja dia tidak nekat menerjang hujan, pastilah tidak seperti ini keadaannya.” Livi memandang wajah Jingga yang pucat, sedikit kesal jika harus mengingat tragedi kemarin siang.
“Sebenarnya, Jingga sakit bukan karena kehujanan. Sejak kecil tubuhnya kebal oleh air hujan. Jingga adalah gadis penikmat hujan.” Ibu Jingga menatap Livi. “Ada sesuatu yang ia pikirkan. Dia terus bertanya di mana keberadaan ayahnya. Ibu tak bisa menjelaskan. Laki-laki pengecut itu mungkin sudah ditelan paus. Sebulan lalu, Jingga pulang ke Bandung, wajahnya ceria. Ia langsung memanggil adiknya - Ninda, berkata tentang kesuksesannya di Jakarta. Berharap apa yang dilakukannya menular pada Ninda. Tapi mendadak wajahnya terlipat, katanya kebahagiaannya belum lengkap tanpa kehadiran ayah yang telah meninggalkannya semasih dia berusia sebelas tahun. Untuk mengalihkan topik, Ibu bertanya tentang calon menantu. Wajah Jingga semakin terlipat.”
Livi duduk takzim, mendengarkan ibu dengan seksama tanpa memotong sepatah kalimatpun, kemudian menatap Ninda sekilas. Ninda menghela napas.
“Kesuksesan bukan hanya diukur berdasarkan pangkat seseorang, tapi juga status sosial. Bagaimana mungkin dikatakan sukses bila tidak punya keluarga lengkap, demikian ucap Jingga. Nampaknya Jingga memendam sakit hatinya sendirian. Ia teramat sangat membenci ayahnya, mendendam pada hampir semua laki-laki yang kerap membuatnya menangis. Menurut Jingga, semua laki-laki di muka bumi ini tak ada bedanya, pecundang.” Ibu menarik napas, lalu melanjutkan, “Setelah bersalaman dan memberikan oleh-oleh pada kami, lantas dia langsung pamit kembali ke Jakarta.” Ibu menarik napas lagi, menatap nanar putri sulungnya.
Livi ikut menatap Jingga. “Oo, jadi karena itu?” Ia memperhatikan kelopak mata Jingga yang sembab, di matanya yang terpejam, terlihat rona kesedihan yang selama ini tak terbaca olehnya. Pantas saja, sebulan ini tingkah Jingga aneh. Livi berkata-kata dalam hati.
“Bukan pertama kalinya Kak Jingga seperti ini, Kak Livi. Dulu setiap kali pulang, Kak Jingga selalu curhat padaku, bahwa dia pun ingin menjadi wanita normal yang memiliki keluarga lengkap, tapi ia selalu gagal, mengelak bahwa ini bukan kemauannya untuk terus hidup melajang. Berumahtangga bukan hanya menyatukan kedua belah pihak. Tapi juga butuh kecocokan antara pihak satu dengan pihak lainnya. Katanya, jodoh itu adalah kecocokan antara dua hati, bila tidak cocok, namanya bukan jodoh. Demikian yang ia ucapkan pada ibu. Ninda tak sengaja mendengarnya,” tutur Ninda menambahkan penjelasan.
Ibu mengelus putri bungsunya, mahasiswi ITB semester empat. “Ibu kadang sedih, kenapa anak ibu yang cantik dan pintar ini selalu saja dibodohi oleh laki-laki? Ibu tidak ingin kisah anak-anak ibu sama mirisnya dengan kisah ibu.” Ibu menahan air matanya yang hampir tumpah.
“Semoga saja tidak, Bu. Jangan berkata begitu, Bu. Jingga selalu bilang padaku kalau ucapan itu suatu doa. Berbicaralah yang baik-baik.” Livi berusaha menenangkan hati ibu Jingga.
Pemuda itu berdiri di ambang pintu, mengusap wajah, merasa tersinggung. Berarti di mata Jingga semua laki-laki sama saja. Dan menurutnya semua wanita juga sama saja, selalu menyalahkan laki-laki. Egois. Rama ingin menyingkir, tapi itu bukanlah pilihan tepat. Bagaimanapun, ia sudah terperangkap dalam urusan mengenai Jingga sejak kejadian di bawah hujan kemarin siang.
**
Jingga mendengar samar-samar perbincangan antara ibundanya dengan Livi. Matanya bagai dilem aibon. Lengket. Usianya kini sudah 29 tahun jalan, tapi belum ada satupun tanda-tanda bahwa dirinya akan segera menyudahi masa lajang. Tangannya terasa sakit dan pegal. Ia tidak menyadari kalau selang infus merajam kulitnya hingga ke pangkal nadi.
Jingga masih terpejam, namun tidak dengan pikirannya yang terus berputar-putar. Kepalanya pusing setiap kali mengingat percakapan dengan sahabat, sanak saudara, dan handai taulan lainnya jika pulang ke kampung halaman. Semua orang bertanya hal yang sama; “Kapan menikah, Jingga? Masa belum punya calon? Kamu kan cantik, pintar, sukses lagi.” Salah satu saudaranya iseng menggoda
“Jingga, si Surya anaknya sudah sekolah, yang kedua sedang belajar berjalan. Malahan kalau tidak salah, istrinya sudah hamil tua. Anaknya hampir tiga. Nah, kamu kapan?” Salah satu tetangganya meledek.
“Teman-teman sekolahmu sudah menikah semua, Jingga. Kamu kenapa belum? Jangan terlalu banyak memilih, loh. Tidak baik. Hanya laki-laki yang pantas memilih.” Bibinya iseng menggoda.
“Anakku sudah dua, Jingga. Anakku yang besar sudah mau kelas tiga SD, sebentar lagi naik kelas empat dan yang kecil sudah lulus TK. Aku ingin anak-anak kita bersahabat seperti kita dulu. Kau jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jingga. Pikirkan pula keluarga,” Ayumi, sahabat masa sekolah SD dan SMP berkali-kali mengingatkan.
“Tinggal kamu mantanku yang belum menikah, Jingga. Ayolah lekas menyusul. Sampai kapan kamu menjomblo seperti ini terus? Aku ikut prihatin. Mana usahamu?” Surya, mantan cinta dan pacar pertamanya ikut berkomentar.
“Ya, kapan-kapan. Minta doanya saja,” selalu begitu bila menjawab pertanyaan yang membuatnya kenyang.
“Kapan-kapan? Aku sudah mendoakan, tinggal usaha kamu yang belum maksimal. Kamu ini perempuan, Jingga, ingat umur kamu yang semakin hari semakin bertambah.”
Jingga menarik napas mendengar celotehan Surya. Bilang saja aku makin tua, batinnya mendesis sebal.
“Jingga, kau tahu David? Ah, iya, sahabat SMA kita. Dia menikah saat sedang kuliah semester dua. Masa kamu kalah.” Dian, sahabat SMAnya yang juga sudah memiliki tiga putri besar, iseng membanding-bandingkan.
Jingga susah payah menelan ludah. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ia benar-benar tidak suka mendapat pertanyaan itu. Adakah pertanyaan lain yang lebih menyenangkan dan lebih berbobot selain ditanya kapan menikah? Memangnya dengan menikah urusan kelar? Hei, bahkan setelah enikah urusan semakin runyam. Dada Jingga makin sesak, kerongkongannya terasa kering, tangan kananya ngilu.
Selarik pertanyaanpun selesai. Jingga membuka matanya perlahan, silau dan bergidik ngeri setelah menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan tangan terbelit selang. Rupanya barusan buruk. Mimpi yang tak diinginkan.
“Air… Aku haus…” Jingga menjerit parau, suaranya amat pelan. Ia bagai putri duyung yang terlalu lama terdampar di daratan.
Pemuda berkemeja panjang yang mendengar rintihan Jingga, segera bergegas menghampirinya, membantu gadis itu duduk bersandarkan bantal, menyodorkan segelas air mineral ke mulutnya, kemudian mengembalikan posisi Jingga ke semula, tidur terlentang.
“Jingga, Kamu sudah sadar, Nak?” Ibu terkejut menyaksikan pria asing menopang tubuh Jingga dan membantunya memberikan air mineral. Livi juga tertegun, lalai menjaga Jingga. Beliau bangkit dari sofa coklat dan menghampiri putrinya yang masih pucat.
Jingga yang mengira mimpi mendengar percakapan antara ibundanya dengan Livi, lebih terkejut, “Loh, ibu ada di sini? Kenapa kamar apartemenku berubah?” tanyanya bingung.
“Kamu pingsan, Jingga. Tubuhmu menggigil, wajahmu pias. Aku yang panik langsung membawamu ke sini. Dan dia yang membopongmu hingga berada di ruangan ini.” Livi berdiri di samping ibu, menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga.
“Syukurlah, Jingga, demammu sedikit berkurang.” Livi membantu Jingga merapatkan selimut hingga ke dada. Jingga mengucapkan terimakasih.
Dipandangnya wajah sang ibunda yang mulai muncul bintik-bintik hitam. Jingga tersenyum hambar. Siapa sih yang tidak ingin menjadi wanita normal? Hidup bahagia bersama suami, anak, orangtua, sahabat, dan rekan sejawat? Semua orang juga pasti menginginkannya, gumamnya dalam hati.
“Ibu, katakan padaku dimana ayah? Aku ingin memarahinya, membalaskan rasa sakit ibu padanya. Orang tua tak bertanggung jawab macam dia mesti diberi pelajaran.”
Bukannya menjawab, ibu malah menangis. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak tahu. Saat kau naik ke kelas enam, ayahmu pergi entah kemana. Meninggalkan ibu, meninggalkan kamu dan adikmu-Ninda. Ibu sudah mencarinya ke segala penjuru kota, namun ia tidak ada. Sudahlah, relakan dia.”
Jingga meneteskan air mata kecewa. Laki-laki biadab itu tak bisa seenak jidat lari dari tanggung jawab. Apa salah ibu sehingga ia pergi bersama wanita lain? Memangnya anak kecil berusia sebelas tahun tidak paham dengan apa yang dialami orang dewasa?
Livi enggan berkomentar. Ia kini tahu kenapa akhir-akhir ini Jingga berubah drastis. Sikapnya yang aneh belakangan ini sudah terjawab. Ia permisi bergegas kembali ke kantor. Berjanji akan datang lagi sepulang kerja.
**
Karena tak tega membiarkan ibu dan adiknya berjaga di rumah sakit, Jingga meminta Pak Eki menjemput mereka ke apartemen. Meski ibu dan Ninda bersikeras tetap tinggal, tapi dengan tegas ia melarang, “Ada banyak malaikat dan suster yang menjagaku, Bu. Pulanglah…”
Ibu dan adik Jingga menyerah pulang ke apartemen, bilang pada suster titip anak saya. Namun ia tak berhasil mengusir pemuda itu. Jingga kalah argumen. Seketika ruangan senyap. Hanya detak jam dinding dan tetesan air dari tabung infusan yang menjadi latar suara. Gejolak jiwa yang berkecamuk, membuat darahnya panas, menghantarkan hingga ke permukaan kulitnya yang mulai berkeringat.
Kini di ruangan serba putih itu, tinggalah Jinga dan pemuda berkemeja panjang yang menghuninya. Kebisuan membuat suasana berubah canggung. Jingga pura-pura memejamkan mata.
“Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Jangan segan.” Pemuda itu menatap wajah sendu Jingga.
“Terimakasih…” jawab Jingga dengan ekspresi datar.
“Sama-sama. Anggap saja aku suster di sini. Aku akan siap melayanimu kapanpun.”
Jingga tersenyum. “Baiknya kau pulang saja. Kita baru bertemu, belum saling mengenal. Aku hanya akan merepotkanmu. Pulanglah, Tuan, biarkan suster yang menjagaku di sini.”
“Tapi bagaimanapun juga, aku ikut terlibat atas kejadian kemarin siang yang membuatmu sakit seperti sekarang ini. Jangan berpikir macam-macam tentangku, Jingga, dan jangan menolak maksud baikku. Aku sama sekali tidak ada niat jahat sedikitpun padamu. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas kelalaianku, itu saja. Mohon terimalah iktikad baikku.” Pemuda itu seperti tahu jalan pikiran Jingga.
“Baiklah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Jika kau berani macam-macam padaku, biarkan Tuhan dan para malaikat yang turun tangan menghajarmu. Aku baru kemarin dan hari ini melihatmu. Namamu saja aku tidak tahu. Bisa-bisanya kau ingin menemaniku. Jangan-jangan Livi benar, kau hendak menculikku ke bulan. Kau jelmaan alien, bukan?”
Pemuda itu tertawa mendengar tuduhan asal Jingga. “Kata teman-teman, aku ini alien yang baik hati, jadi tidak perlu takut. Oh iya, namaku Rama. Kamu Jingga, kan?” Pemuda itu mengangkat alis, tersenyum manis.
“Jelas kau sudah tahu namaku melalui teriakan Livi kemarin siang. Sudah, pulang saja! Aku sungguh merasa tidak enak merepotkanmu, Manusia Alien jadi-jadian…”
Pemuda itu tersenyum mendengar kalimat cibiran Jingga. “Sama sekali tidak merepotkan. Justru aku senang bisa membantumu.” Ia memandang sayu mata gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Jingga seorang diri di sini, hatinya sungguh tidak tega. Seperti ada bisikan halus kalau ia harus menemaninya, tidak boleh tidak, begitu perintah hatinya.
Mata Jingga terpejam, tak meneruskan pembicaraan. Nampaknya ia terangsang obat tidur yang belum lama diminumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar