“Bergegas, Jingga! Langit sudah mau jatuh. Gerimisnya membesar.” Livi berlarian mencari tempat berteduh.
Belakangan ini cuaca di Jakarta memang sedang moody. Sejam lalu terik, kemudian berganti gelap. Livi benar, mendung yang menggelayut di akhir Bulan Maret ini bagaikan hendak tumpah, mengguyur seluruh permukaan bumi dan isinya. Jingga tidak ikut berlari menghindari tumpahan langit seperti yang dilakukan asisten sekaligus sahabat baiknya, Livi. Gadis berpengawakan mungil dan imut itu amat menyukai hujan. Menurutnya bulir air yang menetes dari langit merupakan hiburan dari Tuhan. Selalu mengesankan.
“Jingga, apa kau tidak mendengar kata-kataku? Lari, Jingga! Nanti kau basah kuyup setiba di kantor,” Livi berteriak seperti tarzan. Tak sadar kalau orang-orang di sekitar memperhatikan tingkahnya macam anak kecil main tak umpat. Perempuan berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi itu berteduh di depan ruko kecil di samping halte busway.
Jingga berjalan santai di antara kesibukan siang itu. Sepanjang trotoar, para pekerja kantoran macam Jingga dan Livi yang sama-sama bosan makan di kantin gedung maupun catering dari perusahaan, memilih makan di kantin gedung tetangga, dan kini berlarian menjauhi hujan. Satpam-satpam repot mengatur masuk dan keluarnya mobil dari dan hendak ke parkiran. Jingga benar-benar tak menghiraukan teriakan Livi yang mati-matian berusaha mengeringkan kemeja formalnya menggunakan tangan yang disulap menjadi kipas buatan.
“Makeupmu luntur, Jingga! Rambutmu akan lepek. Kau bisa sakit. Ah, kau ini selalu keras kepala.” Livi terus berteriak. Napasnya tersengal, seperti habis berlari satu putaran kebun binatang.
“Biarkan saja,” jawab Jingga ketus setibanya setengah menit kemudian menyusul Livi di tempat berteduh. Ia bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan makeupnya luntur, rambutnya lepek, kemeja blousenya kuyup, sepatu hak tingginya kotor, dan akan sakit seperti yang dikatakan Livi barusan. Tak lama berselang, halte yang mereka singgahi penuh sesak oleh manusia-manusia yang takut tertimpa air hujan dan menjadi ajang arisan dadakan.
“Kau jangan gila, Jingga!” Livi mencoba tidak peduli. Ia masih sibuk mengeringkan bajunya dengan tangan. Kemejanya tidak sebasah Jingga, karena lebih dulu sampai di tempat berteduh, tetapi ia terus berusaha bagaimana caranya agar kemejanya kembali kering. Percuma, tampias air hujan yang tertiup angin menambah basah kemejanya.
Jingga tersenyum memperhatikan ulah Livi yang terus berkicau, tidak bisa diam. Ia melirik jam tangan warna silvernya, waktu istirahat tinggal 17 menit lagi, sementara hujan semakin lebat. Sebenarnya gedung perkantoran tidak terlalu jauh, sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Hanya tinggal menyeberang jalan, melewati dua gedung perkantoran yang tinggi menjulang, dan menerobos taman serta lahan parkiran. Jingga bisa saja berlari di bawah hujan, sudah kepalang basah juga. Tapi demi menghargai Livi, ia pun harus menghentikan langkah.
“Pekerjaan masih banyak, Liv. Kita harus segera ke kantor,” Jingga menatap jalanan. Mobil yang berseliweran di sepanjang Jalan Sudirman terlihat lengang. Mungkin sebagian pengendara enggan mengoperasikan kendaraan roda empatnya saat turun hujan.
Dulu sebelum gubernur DKI baru dilantik, jalanan ini semburawut macam benang kusut. Sepeda motor yang jumlahnya jutaan memadati seluruh badan jalan. Ribuan kendaraan roda empat dan dua milik pribadi, angkutan umum seperti bus patas, kopaja, metromini, angkot-angkot kecil, dan bajaj, kerap membuat Jakarta tidak bergerak dan berisik oleh riuh klakson yang terdengar bagai terompet di malam tahun baru. Setiap hari seperti itu. Membosankan. Ia dan semua penghuni Jakarta merasa setahun lebih tua dari umur sebenarnya, termasuk Livi yang masih mengeluh tentang bajunya yang basah.
Livi memandangi Jingga tidak suka, “Kau memang benar-benar sudah gila, Jingga! Di otakmu cuma ada pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan, tidak jauh-jauh. Aku kenyang mendengarnya,”
Jingga mengangkat kedua alisnya, Loh, ada yang salah dengan ucapanku? Memang begitu kan kenyataannya? “Lantas sampai kapan kita menunggu hujan reda? Pekerjaan menggunung sudah memanggil-manggil untuk diselesaikan, Liv,” Jingga melirik lagi jam tangannya. Jarum panjangnya kini sudah di angka 10, sepuluh menit menjelang pukul 13.00 WIB. “Sebentar lagi jam istirahat berakhir,” Jingga menarik napas resah.
“Bisa tidak, sekali waktu di luar kantor tidak perlu membahas soal pekerjaan. Mau dibahas habis juga tidak akan pernah ada habisnya. Habis sih, kalau perusahaannya gulung tikar,” Livi bersedekap dada, tidak ingin berkomentar lebih panjang.
“Aku akan ke kantor sekarang,” Jingga membungkukkan badan, melipat ujung celananya.
Livi pura-pura tidak mendengar.
“Kau mau ikut denganku, atau tetap menunggu hingga langit bersih dan menampakkan kembali matahari teriknya?” Jingga berdiri menatap sekitar, ancang-ancang melangkahkan kaki. “Apa kau berharap ada pelangi seusai hujan? Silakan…” tegasnya melirik Livi sambil ancang-ancang menerobos derasnya hujan.
Livi menoleh. Ia sendiri tak dapat memastikan kapan hujan akan usai. Mau tidak mau ia harus ikut pulang ke meja kerja bersama Jingga yang super keras kepala.
“Apa boleh buat,” Livi mengangkat bahu pasrah dengan wajah tertekuk.
Jingga menoleh ke kiri jalan, memastikan tidak ada mobil yang lewat. Tangannya diangkat ke atas kepala, berusaha menampik air hujan mengenai ubun-ubunnya. Gagal. Pada akhirnya, tidak ada satupun tetesan dari awan beku itu berhasil dihalang. Sudah kepalang.
Livi tertinggal beberapa langkah di belakang Jingga. Ia berjalan setengah berlari menyusul rekan kerjanya. Sial, air hujan perlahan masuk ke celah-celah sepatu pantopelnya yang mendadak membuatnya licin. Perempuan berambut pendek itu terpeleset tepat di bahu jalan.
“JINGGA…” Livi berteriak menahan sakit. Rintihannya kalah oleh derasnya gemericik hujan.
Dan tiba-tiba…
Terdengar bunyi ban mobil direm mendadak, memekakkan telinga. Kegaduhan terjadi. Suara klakson terdengar bersahutan membuat bising. Livi berteriak histeris. Ia menutup kedua mata dan telinganya. Bunyi itu cukup kencang. Hanya berbatas satu meter saja darinya. Jika kalian melihatnya, pasti bagai menonton adegan film Fast & Furious versi nyata. Betapa menggentarkan.
Jingga yang merasa ganjil, menengok ke arah belakang. Matanya terbelalak menyaksikan Livi terjatuh di bahu jalan sambil memegangi tumit kakinya, mengaduh kesakitan. Entah dia menangis atau tidak. Kalaupun menangis, air matanya tersamarkan oleh rintikan air hujan. Jingga berlari panik menghampiri Livi yang terlihat meringis mencopot sepatu pantopelnya.
“Ya Tuhan, Livi, apa yang terjadi?” Jingga menyentuh lembut bahu Livi.
“Kakiku terkilir, Jingga. Tolong bangunkan aku! Sakit sekali...” Livi berkata parau. Ia jatuh persis di depan mobil yang hampir saja menabraknya. Beruntung pengemudi di dalam mobil berwarna putih itu berhasil mengendalikan rem.
“Pelan-pelan, Liv,” Dengan sigap, Jingga membantu membangunkan Livi, memapahnya ke trotoar. Ia juga melambaikan tangan pada orang yang ada di dalam mobil yang nyaris menabrak sahabatnya agar segera bertanggungjawab.
Sesosok laki-laki berbadan tegap tinggi keluar dari mobil, memekarkan payung besar bermotif kotak-kotak biru, bertanya apakah Livi baik-baik saja.
“Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir,” tukas Jingga mencoba biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Suara klakson semakin ramai. Rasa-rasanya ini bukan malam tahun baru yang sebelumnya sempat dibahas. Iringan suara panjang, pendek, dan tak berarturan itu membuat kepalanya pusing. Pemuda itu menundukkan kepalanya meminta maaf pada pengendara lain karena membikin kemacetan panjang dan segera meminggirkan posisi mobil Fortunernya ke sisi kiri jalan.
“Aku sungguh minta maaf,” ujar pemuda itu dengan payung kotak-kotak ekstra besar usai memarkirkan sembarang mobilnya. Spontan payung besarnya menghalangi tubuh Jingga dan Livi dari guyuran air hujan.
“Tak apa. Kecuali kau tidak mampu mengerem mobilmu dengan terampil dan mengenai anggota tubuh sahabatku, sampai mati aku tak akan memaafkanmu. Dan bisa jadi urusan kita sampai ke pengadilan,” tukas Jingga ketus.
Pemuda itu mengangguk. “Kantor kalian dimana?” tanyanya basa-basi.
“Di sana, tidak terlalu jauh.” Jingga menunjuk gedung berwarna biru dongker yang berdiri gagah di depan pelupuk mata.
Pemuda itu mengulum senyum, merasa lega. “Biar kuantar,” sapanya jentel.
“Tidak perlu. Lagipula kami terlanjur basah,” sergah Jingga menolak.
“Kenapa kalian nekat sekali? Kenapa tidak menunggu hujan reda?” tanyanya menginterogasi.
Livi diam, takut salah menjawab. Ia membiarkan Jingga yang memberikan keterangan pasca insiden kakinya pincang. Dalam hatinya meringis kesakitan. Dua sepatunya ditenteng oleh Jingga. Tapi kalau dipikir-pikir, pemuda berkumis tipis ini tampan juga, bisiknya nakal.
Jingga juga diam, tak dapat berkata-kata. Ini salahnya, memaksa Livi untuk ikut pulang dalam keadaan hujan setengah badai. Bila diceritakan pada laki-laki asing ini, bisa-bisa berbuntut panjang. Dia malas berujar.
“Hmm.. Baju kalian basah kuyup. Perlukah aku membantu membelikannya di swalayan terdekat?”
“Perlu sekali,” Sambar Livi menggebu-gebu. “Aku tidak ingin jatuh sakit memakai baju basah hingga sore,” mulutnya manyun.
“Hehehe…” Pemuda itu tertawa pelan.
“Tidak usah repot-repot, Pak. Kami punya pakaian salin cadangan di loker. Mungkin teman saya lupa,” Jingga menunduk memperhatikan jalan, takut terpeleset seperti Livi.
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau sudah menyiapkan baju ganti?” protes Livi tidak terima dibilang pelupa.
“Karena kau bawel sekali, Livi. Aku pusing mendengar celotehanmu,” Jingga melotot sebal menyuruh Livi diam.
Livi mengerutkan dahi. Di taman serba hijau yang dihiasi bunga kaktus dan hamparan rumput jepang, ia membenarkan kalimat Jingga. Tak ada seorangpun yang mampu menandingi kebawelannya. Dan tak ada seekor cicak yang tak gentar melihat Jingga melotot, seakan bola matanya hendak copot. Menyeramkan. Livi bergidik membayangkan jika kedua bola mata Jingga benar-benar lepas dari cangkangnya.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar.” Pemuda itu tertawa lagi. “Jangan panggil Pak. Saya belum menjadi bapak.”
“Benarkah?” Mata Livi berbinar-binar. Rasa sakitnya tiba-tiba menghilang.
“Benar,” jawabnya singkat.
Jingga tidak menyimak obrolan kecil antara sahabatnya dengan orang asing yang sedang memayunginya saat ini. Baginya obrolan itu sama sekali tidak penting. Gadis mungil itu memandang lurus ke depan, tidak lagi memperhatikan jalan. Tiba-tiba kakinya tersandung selang yang terhubung ke taman. Dasar selang sialan! Beraninya bersembunyi di balik rumput. Makinya dalam hati.
“Kau tidak apa-apa, Jingga?” Pemuda itu spontan menahan tangan dan tubuh Jingga. Payungnya miring, membuat Livi kehujanan lagi.
Jingga shock. Jika saja tak ada si pemuda asing ini, ia sudah tersungkur mencium rumput dan tanah. Sepasang pantopel milik Livi yang dipegang Jingga jatuh. Ia buru-buru bangkit dan mengambilnya.
“Makanya, lepas saja sepatunya sepertiku, Jingga. Kau ini memang keras kepala,” celoteh Livi tanpa dosa.
Jingga melotot kesal. Maksudnya tidak lain begini; “Bisakah kau diam sebentar, Livi?” kecamnya dalam hati.
“Benar, dilepas saja. Daripada terkilir seperti temanmu, kan repot jadinya, hehehe…” Pemuda itu meledek.
Jingga tersenyum kecut. Livi memang pantas diledek.
“Sudah hampir sampai, Pak. Jadi aku tidak perlu melepas sepatu,” ungkap Jingga jutek. “Sekarang Bapak bisa meninggalkan kami di sini dan kembali ke mobil. Di sana pasti banyak orang yang sebal gara-gara mobil Anda berhenti sembarangan.”
Livi mencubit pinggang Jingga yang ditimpal dengan pekikan. Jangan judes-judes dong jadi orang, bisiknya pada Jingga. Jingga hanya memasang ekspresi sebal. Tak lama ketiganya sudah tiba di pintu masuk. Pemuda itu undur diri, sekali lagi meminta maaf karena nyaris menabrak Livi. Jingga lai-lagi menjawabnya singkat. Ia menggosok-gosokan telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin.
Livi mengelus dada, bersyukur ia selamat dari kecelakaan maut meski kakinya sedikit membiru, “Lain kali, kau tidak boleh mengebut dalam keadaan hujan deras. Untung saja remnya pakem. Coba kalau blong, aku tidak tahu bagaimana nasibku nanti. Kau akan masuk penjara.” tuturnya panjang lebar.
“Aku sungguh minta maaf. Aku buru-buru menerjang hujan demi tiba di tempat meeting tepat waktu,” kata Pemuda itu terus terang.
“Lekaslah kembali ke mobilmu, Tuan! Aku tidak suka bunyi klakson memenuhi gendang telingaku.” Jingga memalingkan badan, memasuki pintu masuk yang disulap oleh kaca ajaib yang bisa membuka dan menutup dengan sendiri secara otomatis tiap kali ada seseorang yang masuk dan keluar gedung.
“Dia memang seperti itu, jutek dan keras kepala. Lain kali kau harus tetap hati-hati saat mengendarai kendaraan. Karena bisa merugikan diri sendiri dan nyawa orang lain,” desis Livi menggigil.
“Terimakasih sudah mengingatkan. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit. Segeralah ganti pakaian kalian. Kalau perlu, mandi air hangat dulu.” Pemuda itu tersenyum. Senyum yang sangat manis. Ia membalikkan badan menuju mobilnya yang terpakir sembarang di sisi jalan.
“Hey, siapa namamu, Tuan? Kau bahkan sudah tahu nama kami,” teriak Livi hendak mengejar, namun tidak jadi mengingat kakinya terasa ngilu. Yang ada ia malah meringis kesakitan memegangi lutut dan tumit kakinya.
Pemuda itu menoleh sebentar, tersenyum melambaikan tangan, membalikkan badan dan berlalu tanpa memberi tahu siapa namanya. Cowok yang aneh, protes Livi sebal.
“Tidak perlu berlebihan begitu pada orang asing, Livi. Cepat masuk! Atau kau mau punggungmu penuh tato kerikan tulang ikan kakap atau hiu lantaran terlalu lama mengenakan baju basah?”
“Eh? Kupikir kau sudah ganti pakaian,” Livi menghampiri Jingga yang berdiri disamping meja security, kemudian berjalan bersisian menuju lift ke lantai sebelas. “Sebentar, Jingga. Aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini kau berubah drastis? Bukankah kau selalu menyenangkan dengan orang baru? Dan kau selalu bisa mencairkan suasana?” Livi menatap janggal sahabatnya.
Jingga mengangkat bahu. Ia memang terkenal ramah dan supel pada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak untuk hari ini. Mengapa dia berubah? Dirinya sendiripun menggeleng tidak tahu.
Rabu, 20 Juli 2016
Puing 2 #Jingga #NovelSeries
Malam senyap, tak ada suara lain kecuali dentang jam dinding yang terus berotasi pada benda berbentuk kotak yang tergantung di atas lukisan purnama. Seorang perempuan dengan rambut terurai acak-acakan, sedang kusut hatinya. Tangannya gemas meremas bantal, dan kalbunya memberontak tak terelakkan.
Kapan menikah?
Pertanyaan itu. Entah sejak kapan ia membencinya. Memangnya jodoh dijual di pasar? Enak sekali kalau begitu ceritanya, bisa memilih yang terbaik untuk pasangan hidup, meski harganya berlipat-lipat lebih mahal. Omong kosong cinta membawa bahagia. Omong kosong! Jeritnya pilu.
Kata orang cinta itu aneh, ajaib, penuh misteri, seperti teka-teki. Semua makhluk hidup di muka bumi ini lahir atas nama cinta, tumbuh karena cinta, dan bernapas saja perlu cinta. Ada yang bilang cinta adalah perasaan bahagia yang membuat jantung berdebar dan perlahan tumbuh harapan. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta merupakan misteri yang tak bisa dipecahkan. Sebagian orang ada yang setuju kalau cinta ialah merelakan dan melepaskan sesuatu walau menyakitkan.
Apalah itu semua penjelasan tentang cinta, setiap insan bebas mengemukakan dengan definisi dan cara berpikir yang berbeda. Yang jelas, bagi Jingga, cinta adalah sumber bencana yang selalu menyiksa.
Diliriknya tujuh deretan nama mantan dan teman sekolah. 97% di antara mereka sudah berkomitmen membina rumah tangga. Kata ‘menikah’ adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari pemikiran Jingga, gadis penikmat purnama dan hujan yang kesehariannya berkutat sebagai leader keuangan di salah satu perusahaan swasta di kota metropolitan.
Perjalanan perempuan pengagum langit senja, yang merindukan bisa pulang kantor tepat sebelum matahari tenggelam namun tak pernah kesampaian, tidak semulus cerita di dalam dongeng sebelum tidur yang berujung bahagia. Pengalaman makan asam garam sudah dilaluinya dengan tawa dan tangis. Disamping belum siap seratus persen, Jingga belum menemukan jodoh yang tepat, yang digadang-gadangkan sebagai kepala keluarga kecilnya nanti.
“Buktinya, tanpa cinta aku masih bisa bertahan kan sampai hari ini?”
Jingga membatin, nada suaranya meninggi. Bantal yang baru saja ia remas, dilemparkannya kencang ke tembok. Jiwa dan pikirannya sedang bertengkar hebat memperdebatkan realita hidupnya yang pilu. Selama ini dia justru menikmati kesendiriannya yang mungkin lebih terasa bahagia dibandingkan memiliki kekasih yang selalu menyakiti. Rasa sakit karena patah hati oleh calon tunangannya – Dika, membuat ia dibayang-banyangi masa kelam yang tak berkesudahan.
Meski sudah rebah pijah di kasur empuk dengan lampu gelap, Jingga belum jua memejamkan mata. Padahal sejak tadi siang, perempuan berambut panjang agak ikal di atas pinggang itu, sama sekali tidak meminum zat yang mengandung kafein. Pikirannya teramat kusut, menerawang jauh ke masa depan yang hingga detik ini belum bisa diramal oleh paranormal terhebat manapun di belahan dunia. Tiba-tiba ia terngiang obrolan beberapa hari yang lalu di sebuah kafe tak terlalu ramai pengunjung, bersama Livi –sahabat dekatnya.
“Lihat ke meja seberang, Jingga! Kau tidak mungkin merantai hatimu seperti wanita itu, kan?” Livi berbisik di dekat telinga Jingga, menunjuk pada perempuan yang mengenakan behel tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau utarakan, Livi.” Jingga mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
“Aku dengar merantai gigi sakitnya bukan main, Jingga. Bagaimana dengan merantai hati?”
“Ini beda kasus, Livi. Astaga, jangan kau samakan fisik dengan batin, jelas berbeda.” Jingga menyeringai sebal, paham maksud Livi. Apalagi kalau bukan berniat menyindir dirinya yang masih betah sendiri.
“Sama saja. Aku hanya ingin memberikan gambaran melalui perempuan berbehel itu. Tidak baik berlama-lama merantai hati dan pikiranmu, Jingga. Orang pakai behel, semakin lama semakin rapi, tapi tentunya perlu melakukan kontrol rutin seperti mengganti karet, mengencangkan kunci, per, serta perawatan lainnya. Kalau tidak melakukan pengontrolan dan perawatan rutin, lama-lama kawat akan berkarat. Sama seperti hatimu saat ini.” Livi menandaskan kopi vanilla latenya.
Jingga mengangkat alis, menyendok es krim yang hampir habis.
“Jangan kau pikir karat yang kumaksud adalah senyawa yang ada pada emas. Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku besi karatan. Nah, kau tahu kan bagaimana rupa besi dan kawat yang karatan? Contoh sederhana, kenapa manusia bisa meninggal hanya karena tertusuk paku atau besi di jalan? Besi, paku, kawat yang karatan itu akan menyebabkan tetanus, infeksi, dan menimbulkan racun pada tubuh manusia. Sehingga manusia tidak dapat bertahan lebih lama. Coba kau renungkan.”
“Akan kucoba renungkan.” Jingga menelan suapan es krim terakhirnya dengan perasaan tertampar. Ucapan Livi masuk akal. Tapi ia belum mau membuka rantai itu. Memangnya semudah itu menambal hati yang berlubang? Livi ini selalu saja sibuk memberikan gambaran yang tidak-tidak perihal hatinya yang lama tak terisi oleh laki-laki.
Jarum jam terus berputar, merangkak ke arah 02.37 WIB. Hey, bukankah ini hampir pagi? Entahlah. Jingga tidak tahu apa yang harus diperbuat selain menangisi kemalangan kisah asmaranya. Meski ia sadar betul bahwa lima jam lagi harus beranjak ke meja kerja seperti biasa. Usianya kini mendekati kepala tiga, namun ia masih saja mengeles akan hal berbau cinta. Ia memanfaatkan kesibukannya sebagai wanita karir yang mempunyai jadwal lebih dari normal sebagai obat untuk meredam kekalutan hatinya, meski itu sama sekali tidak manjur. Menurutnya cinta adalah sumber malapetaka dan nestapa.
Di ruangan gelap gulita yang hening, isakan tangis Jingga berbaur dengan irama detak jantungnya yang seolah menyatu bersama iringan suara jarum jam dinding. Jingga, wanita yang terkenal ceria dan tegar, sedang tersedu di pojokan kamar apartemen, memeluk lutut, dan memikirkan hal rumit yang membuat hidupnya seperti tercekik.
“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta sekali lagi? Jatuh cinta pada orang yang tepat? Jatuh cinta pada orang yang tulus? Aku lelah, kenapa cinta itu selalu menyakitkan? Kenapa aku selalu gagal? Siapa yang salah? Aku tak pernah menyakiti, justru merekalah yang melukaiku, meninggalkan rasa trauma dan jejak luka yang membuatku benci setengah mati. Benci dengan kata CINTA..."
Jingga menjerit merintih. Air matanya bak hujan yang mengguyur hutan lebat. Tatapan matanya kosong. Balutan luka yang selama ini rapi, tiba-tiba merobek lagi. Basah. Luka itu kembali basah. Kenangan akan masa lalu bagai bayangan mejik yang sesuka hati muncul. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah bersamanya, Jingga tak pernah beruntung. Ia selalu saja tertipu. Ingatannya begitu kelam. Baginya hidup ini ibarat jeruji besi yang mengukung kebebasannya untuk mencicipi rasa bahagia.
Sesungguhnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi. Terlalu sakit, sungguh! Rasanya bagai dicincang, menyayat hingga ke rusuk tulang belulang. Jingga berceloteh pada selimut tebal sambil mengusap ingus, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoret-coret dinding dengan cakaran kukunya yang belum sempat digunting. Ia tidak ingin air matanya terbuang sia-sia hanya untuk mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
Tidak. Kali ini Jingga tidak menangis karena rasa kecewa pada masa lalunya, melainkan karena rindu teramat dalam. Rindu yang kerap membuatnya terisak. Rindu yang tak kunjung terbalas. Rindu yang hanya bisa dirasakan seorang diri. Rindu yang terus menghujam dadanya yang semakin sesak, yang bahkan belum juga mampu menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan yang datang dari sang ibunda, saudara, kerabat, handai-taulan, dan sahabat-sahabatnya perkara jodoh.
Jodoh?
Dahi Jingga berkerut. Kepalanya mendadak berat. Dadanya sesak. Wajahnya berubah pucat. Tahu apa ia tentang jodoh? Bahkan tak akan ada yang menjamin pemahaman tentang perkara itu.
“Kenapa sih mesti ada perasaan? Kenapa pula harus ada cinta? Kenapa manusia harus menikah, punya suami, anak, cucu, dan ini-itu? Memangnya keluarga bisa membuat manusia bahagia? Haruskah seperti itu?” tukasnya sendu. Ia sudah berhenti menangis. Namun emosinya masih meluap laiknya Sungai Katulampa pada saat musim penghujan. Sesekali ia tertawa kecut, menertawai kemalangan nasibnya. Saat ia kecil, ayahnya pergi entah kemana. Meninggalkan ibu dan adiknya yang masih balita. Kenapa laki-laki selalu serakah? Kenapa di dunia harus ada cinta? Memangnya dunia mau bertanggungjawab atas hilangnya sang ayah? Jingga mengacak-acak rambutnya yang panjang. Gadis itu benar-benar frustasi.
***
Di belahan bumi bagian tengah, pada jam yang sama namun tempat berbeda, Azka dan Dewa sedang serius menonton pertandingan duel maut El-Clasico. Di kamar yang tidak terlalu terang cahaya lampu dan berukuran tidak begitu besar itu, mata Azka dan Dewa hampir tidak berkedip memandang layar televisi slim yang tertempel di tembok. Tangan kanan Azka sibuk mencomot cemilan kacang kulit yang disuguhi oleh ibunda Dewa, sementara Dewa asyik dengan secangkir kopi hitam sambil berseru-seru sebal lantaran tim kesayangannya kalah 1-0 di menit ke-40.
Kadangkala keduanya berteriak histeris jika striker gagal mencetak gol, atau salah satu menepuk dahi berkali-kali bila tidak jadi pinalti ketika ketahuan lawan bermain curang. Tak tanggung-tanggung, Azka yang memegang bendera berwarna biru-kuning, berlompat-lompat girang sembari teriak ala Tarzan menirukan gaya orang utan mendapatkan pisang tatkala tim jagoannya menjebol gawang. Sedangkan Dewa mengutuk tawa Azka dengan melempar bantal. Dua sahabat itu masih saja bertingkah laiknya anak kecil. Padahal boleh jadi usia mereka sudah tua.
Azka yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, sengaja menginap di rumah Dewa yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kesibukan masing-masing menjadi alasan kuat mengapa mereka sulit sekali menyatukan waktu. Demi menghormati tamu dari jauh yang juga merupakan sahabat karib, Dewa mempersilakan Azka berbuat onar di kamarnya, termasuk mengacak-acak benda milik pribadi yang hukumnya privasi dan konfidensial disela-sela waktu jeda.
“Kau masih menyimpan foto ini?” Azka menatap lamat-lamat foto usang yang tersimpan rapi di album biru berdebu milik Dewa sewaktu dirinya kecil.
“Ya, tentu saja aku masih menyimpannya. Bagiku foto adalah sebuah kenangan yang tak akan mampu dibeli dan kembali. Kita hanya tertawa atau menangis saat menatap wajah-wajah yang ada di album itu. Tergantung kenangannya, manis atau pahit.” Dewa ikut menatap foto hitam-putih ukuran 4R yang sedang dipegang Azka.
Di dalam foto itu, dia, Azka, dan Anggun sedang adu kelereng di bawah pohon nangka yang rindang. Bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang riang. Sungguh masa-masa kecil yang indah dan tak terlupakan. Tiga sekawan itu selalu bersama kemanapun pergi. Meski kadang Dewa melarang Anggun ikut bila hendak mencuri pepaya di kebun milik orang. Namun pertemanan itu tak lama. Dewa meninggalkan Azka dan Anggun saat dirinya lulus sekolah dasar, mengikuti ayah dan ibunya yang sudah selesai dinas di desa kelahiran Azka dan Anggun.
“Aku ingin bertemu gadis kecil itu.” Dewa menempelkan kepalan tangannya ke mulutnya berkali-kali. “Dia yang dulu sering kujahili. Dia yang memiliki senyum paling manis di antara gadis-gadis kecil yang lain. Dia yang selalu ingin menang sendiri. Batu. Tidak mau kalah. Lantas dia menangis bilang aku yang salah. Ah, pokoknya dia…”
Azka menepuk keras paha Dewa, “Bolanya sudah mulai, Kawan. Ayo kita nonton lagi. Coba kau tebak, jagoan siapa yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Pasti jagoanku.” Azka mencoba berkelakar.
Dewa tidak ikut tertawa. Dia merasa Azka mencoba mengalihkan topik pembicaraan mengenai masa kecil mereka. Waktu break memang telah berakhir, tapi pemandangan komentator yang mengoceh mengomentari ketidakbecusan sang kiper belum juga menghilang. Ini artinya bola belum berlanjut. Ia menginjak kaki Azka. “Kau tahu dimana dia? Aku ingin bertemu gadis itu.” Katanya serius.
Azka meringis kesakitan.“Sudahlah. Dia itu musuhmu. Kau yang sering mengatakannya padaku. Dia telah melupakanmu sejak selangkah kau meninggalkan desa tercinta kita. Kau tahu, dia tumbuh menjadi wanita yang jelek dan galak. Aku yakin kau akan menyesal bertemu dengan gadis kecilmu itu.” Azka membesarkan volume tv, sengaja betul menghindari topik pembicaraan.
Dewa bersungut-sungut kesal. Sialan, bukannya memberikan kabar yang sedap didengar tentang kawan kecilnya, Azka justru menjelek-jelekkan Anggun. Gara-gara Azka membuka album lama, ia jadi tidak konsentrasi menonton bola, cenderung sibuk memikirkan sosok Anggun. Apakah benar wajah gadis kecil yang tersenyum di foto itu tak seanggun namanya? Tiba-tiba hatinya tertantang untuk membenarkan ucapan Azka, kalau Anggun hanyalah sebuah nama, aslinya sama sekali tidak anggun, alias jelek, lebih tepatnya buruk rupa, ia harus membuktikannya.
Kapan menikah?
Pertanyaan itu. Entah sejak kapan ia membencinya. Memangnya jodoh dijual di pasar? Enak sekali kalau begitu ceritanya, bisa memilih yang terbaik untuk pasangan hidup, meski harganya berlipat-lipat lebih mahal. Omong kosong cinta membawa bahagia. Omong kosong! Jeritnya pilu.
Kata orang cinta itu aneh, ajaib, penuh misteri, seperti teka-teki. Semua makhluk hidup di muka bumi ini lahir atas nama cinta, tumbuh karena cinta, dan bernapas saja perlu cinta. Ada yang bilang cinta adalah perasaan bahagia yang membuat jantung berdebar dan perlahan tumbuh harapan. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta merupakan misteri yang tak bisa dipecahkan. Sebagian orang ada yang setuju kalau cinta ialah merelakan dan melepaskan sesuatu walau menyakitkan.
Apalah itu semua penjelasan tentang cinta, setiap insan bebas mengemukakan dengan definisi dan cara berpikir yang berbeda. Yang jelas, bagi Jingga, cinta adalah sumber bencana yang selalu menyiksa.
Diliriknya tujuh deretan nama mantan dan teman sekolah. 97% di antara mereka sudah berkomitmen membina rumah tangga. Kata ‘menikah’ adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari pemikiran Jingga, gadis penikmat purnama dan hujan yang kesehariannya berkutat sebagai leader keuangan di salah satu perusahaan swasta di kota metropolitan.
Perjalanan perempuan pengagum langit senja, yang merindukan bisa pulang kantor tepat sebelum matahari tenggelam namun tak pernah kesampaian, tidak semulus cerita di dalam dongeng sebelum tidur yang berujung bahagia. Pengalaman makan asam garam sudah dilaluinya dengan tawa dan tangis. Disamping belum siap seratus persen, Jingga belum menemukan jodoh yang tepat, yang digadang-gadangkan sebagai kepala keluarga kecilnya nanti.
“Buktinya, tanpa cinta aku masih bisa bertahan kan sampai hari ini?”
Jingga membatin, nada suaranya meninggi. Bantal yang baru saja ia remas, dilemparkannya kencang ke tembok. Jiwa dan pikirannya sedang bertengkar hebat memperdebatkan realita hidupnya yang pilu. Selama ini dia justru menikmati kesendiriannya yang mungkin lebih terasa bahagia dibandingkan memiliki kekasih yang selalu menyakiti. Rasa sakit karena patah hati oleh calon tunangannya – Dika, membuat ia dibayang-banyangi masa kelam yang tak berkesudahan.
Meski sudah rebah pijah di kasur empuk dengan lampu gelap, Jingga belum jua memejamkan mata. Padahal sejak tadi siang, perempuan berambut panjang agak ikal di atas pinggang itu, sama sekali tidak meminum zat yang mengandung kafein. Pikirannya teramat kusut, menerawang jauh ke masa depan yang hingga detik ini belum bisa diramal oleh paranormal terhebat manapun di belahan dunia. Tiba-tiba ia terngiang obrolan beberapa hari yang lalu di sebuah kafe tak terlalu ramai pengunjung, bersama Livi –sahabat dekatnya.
“Lihat ke meja seberang, Jingga! Kau tidak mungkin merantai hatimu seperti wanita itu, kan?” Livi berbisik di dekat telinga Jingga, menunjuk pada perempuan yang mengenakan behel tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau utarakan, Livi.” Jingga mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
“Aku dengar merantai gigi sakitnya bukan main, Jingga. Bagaimana dengan merantai hati?”
“Ini beda kasus, Livi. Astaga, jangan kau samakan fisik dengan batin, jelas berbeda.” Jingga menyeringai sebal, paham maksud Livi. Apalagi kalau bukan berniat menyindir dirinya yang masih betah sendiri.
“Sama saja. Aku hanya ingin memberikan gambaran melalui perempuan berbehel itu. Tidak baik berlama-lama merantai hati dan pikiranmu, Jingga. Orang pakai behel, semakin lama semakin rapi, tapi tentunya perlu melakukan kontrol rutin seperti mengganti karet, mengencangkan kunci, per, serta perawatan lainnya. Kalau tidak melakukan pengontrolan dan perawatan rutin, lama-lama kawat akan berkarat. Sama seperti hatimu saat ini.” Livi menandaskan kopi vanilla latenya.
Jingga mengangkat alis, menyendok es krim yang hampir habis.
“Jangan kau pikir karat yang kumaksud adalah senyawa yang ada pada emas. Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku besi karatan. Nah, kau tahu kan bagaimana rupa besi dan kawat yang karatan? Contoh sederhana, kenapa manusia bisa meninggal hanya karena tertusuk paku atau besi di jalan? Besi, paku, kawat yang karatan itu akan menyebabkan tetanus, infeksi, dan menimbulkan racun pada tubuh manusia. Sehingga manusia tidak dapat bertahan lebih lama. Coba kau renungkan.”
“Akan kucoba renungkan.” Jingga menelan suapan es krim terakhirnya dengan perasaan tertampar. Ucapan Livi masuk akal. Tapi ia belum mau membuka rantai itu. Memangnya semudah itu menambal hati yang berlubang? Livi ini selalu saja sibuk memberikan gambaran yang tidak-tidak perihal hatinya yang lama tak terisi oleh laki-laki.
Jarum jam terus berputar, merangkak ke arah 02.37 WIB. Hey, bukankah ini hampir pagi? Entahlah. Jingga tidak tahu apa yang harus diperbuat selain menangisi kemalangan kisah asmaranya. Meski ia sadar betul bahwa lima jam lagi harus beranjak ke meja kerja seperti biasa. Usianya kini mendekati kepala tiga, namun ia masih saja mengeles akan hal berbau cinta. Ia memanfaatkan kesibukannya sebagai wanita karir yang mempunyai jadwal lebih dari normal sebagai obat untuk meredam kekalutan hatinya, meski itu sama sekali tidak manjur. Menurutnya cinta adalah sumber malapetaka dan nestapa.
Di ruangan gelap gulita yang hening, isakan tangis Jingga berbaur dengan irama detak jantungnya yang seolah menyatu bersama iringan suara jarum jam dinding. Jingga, wanita yang terkenal ceria dan tegar, sedang tersedu di pojokan kamar apartemen, memeluk lutut, dan memikirkan hal rumit yang membuat hidupnya seperti tercekik.
“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta sekali lagi? Jatuh cinta pada orang yang tepat? Jatuh cinta pada orang yang tulus? Aku lelah, kenapa cinta itu selalu menyakitkan? Kenapa aku selalu gagal? Siapa yang salah? Aku tak pernah menyakiti, justru merekalah yang melukaiku, meninggalkan rasa trauma dan jejak luka yang membuatku benci setengah mati. Benci dengan kata CINTA..."
Jingga menjerit merintih. Air matanya bak hujan yang mengguyur hutan lebat. Tatapan matanya kosong. Balutan luka yang selama ini rapi, tiba-tiba merobek lagi. Basah. Luka itu kembali basah. Kenangan akan masa lalu bagai bayangan mejik yang sesuka hati muncul. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah bersamanya, Jingga tak pernah beruntung. Ia selalu saja tertipu. Ingatannya begitu kelam. Baginya hidup ini ibarat jeruji besi yang mengukung kebebasannya untuk mencicipi rasa bahagia.
Sesungguhnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi. Terlalu sakit, sungguh! Rasanya bagai dicincang, menyayat hingga ke rusuk tulang belulang. Jingga berceloteh pada selimut tebal sambil mengusap ingus, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoret-coret dinding dengan cakaran kukunya yang belum sempat digunting. Ia tidak ingin air matanya terbuang sia-sia hanya untuk mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
Tidak. Kali ini Jingga tidak menangis karena rasa kecewa pada masa lalunya, melainkan karena rindu teramat dalam. Rindu yang kerap membuatnya terisak. Rindu yang tak kunjung terbalas. Rindu yang hanya bisa dirasakan seorang diri. Rindu yang terus menghujam dadanya yang semakin sesak, yang bahkan belum juga mampu menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan yang datang dari sang ibunda, saudara, kerabat, handai-taulan, dan sahabat-sahabatnya perkara jodoh.
Jodoh?
Dahi Jingga berkerut. Kepalanya mendadak berat. Dadanya sesak. Wajahnya berubah pucat. Tahu apa ia tentang jodoh? Bahkan tak akan ada yang menjamin pemahaman tentang perkara itu.
“Kenapa sih mesti ada perasaan? Kenapa pula harus ada cinta? Kenapa manusia harus menikah, punya suami, anak, cucu, dan ini-itu? Memangnya keluarga bisa membuat manusia bahagia? Haruskah seperti itu?” tukasnya sendu. Ia sudah berhenti menangis. Namun emosinya masih meluap laiknya Sungai Katulampa pada saat musim penghujan. Sesekali ia tertawa kecut, menertawai kemalangan nasibnya. Saat ia kecil, ayahnya pergi entah kemana. Meninggalkan ibu dan adiknya yang masih balita. Kenapa laki-laki selalu serakah? Kenapa di dunia harus ada cinta? Memangnya dunia mau bertanggungjawab atas hilangnya sang ayah? Jingga mengacak-acak rambutnya yang panjang. Gadis itu benar-benar frustasi.
***
Di belahan bumi bagian tengah, pada jam yang sama namun tempat berbeda, Azka dan Dewa sedang serius menonton pertandingan duel maut El-Clasico. Di kamar yang tidak terlalu terang cahaya lampu dan berukuran tidak begitu besar itu, mata Azka dan Dewa hampir tidak berkedip memandang layar televisi slim yang tertempel di tembok. Tangan kanan Azka sibuk mencomot cemilan kacang kulit yang disuguhi oleh ibunda Dewa, sementara Dewa asyik dengan secangkir kopi hitam sambil berseru-seru sebal lantaran tim kesayangannya kalah 1-0 di menit ke-40.
Kadangkala keduanya berteriak histeris jika striker gagal mencetak gol, atau salah satu menepuk dahi berkali-kali bila tidak jadi pinalti ketika ketahuan lawan bermain curang. Tak tanggung-tanggung, Azka yang memegang bendera berwarna biru-kuning, berlompat-lompat girang sembari teriak ala Tarzan menirukan gaya orang utan mendapatkan pisang tatkala tim jagoannya menjebol gawang. Sedangkan Dewa mengutuk tawa Azka dengan melempar bantal. Dua sahabat itu masih saja bertingkah laiknya anak kecil. Padahal boleh jadi usia mereka sudah tua.
Azka yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, sengaja menginap di rumah Dewa yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kesibukan masing-masing menjadi alasan kuat mengapa mereka sulit sekali menyatukan waktu. Demi menghormati tamu dari jauh yang juga merupakan sahabat karib, Dewa mempersilakan Azka berbuat onar di kamarnya, termasuk mengacak-acak benda milik pribadi yang hukumnya privasi dan konfidensial disela-sela waktu jeda.
“Kau masih menyimpan foto ini?” Azka menatap lamat-lamat foto usang yang tersimpan rapi di album biru berdebu milik Dewa sewaktu dirinya kecil.
“Ya, tentu saja aku masih menyimpannya. Bagiku foto adalah sebuah kenangan yang tak akan mampu dibeli dan kembali. Kita hanya tertawa atau menangis saat menatap wajah-wajah yang ada di album itu. Tergantung kenangannya, manis atau pahit.” Dewa ikut menatap foto hitam-putih ukuran 4R yang sedang dipegang Azka.
Di dalam foto itu, dia, Azka, dan Anggun sedang adu kelereng di bawah pohon nangka yang rindang. Bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang riang. Sungguh masa-masa kecil yang indah dan tak terlupakan. Tiga sekawan itu selalu bersama kemanapun pergi. Meski kadang Dewa melarang Anggun ikut bila hendak mencuri pepaya di kebun milik orang. Namun pertemanan itu tak lama. Dewa meninggalkan Azka dan Anggun saat dirinya lulus sekolah dasar, mengikuti ayah dan ibunya yang sudah selesai dinas di desa kelahiran Azka dan Anggun.
“Aku ingin bertemu gadis kecil itu.” Dewa menempelkan kepalan tangannya ke mulutnya berkali-kali. “Dia yang dulu sering kujahili. Dia yang memiliki senyum paling manis di antara gadis-gadis kecil yang lain. Dia yang selalu ingin menang sendiri. Batu. Tidak mau kalah. Lantas dia menangis bilang aku yang salah. Ah, pokoknya dia…”
Azka menepuk keras paha Dewa, “Bolanya sudah mulai, Kawan. Ayo kita nonton lagi. Coba kau tebak, jagoan siapa yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Pasti jagoanku.” Azka mencoba berkelakar.
Dewa tidak ikut tertawa. Dia merasa Azka mencoba mengalihkan topik pembicaraan mengenai masa kecil mereka. Waktu break memang telah berakhir, tapi pemandangan komentator yang mengoceh mengomentari ketidakbecusan sang kiper belum juga menghilang. Ini artinya bola belum berlanjut. Ia menginjak kaki Azka. “Kau tahu dimana dia? Aku ingin bertemu gadis itu.” Katanya serius.
Azka meringis kesakitan.“Sudahlah. Dia itu musuhmu. Kau yang sering mengatakannya padaku. Dia telah melupakanmu sejak selangkah kau meninggalkan desa tercinta kita. Kau tahu, dia tumbuh menjadi wanita yang jelek dan galak. Aku yakin kau akan menyesal bertemu dengan gadis kecilmu itu.” Azka membesarkan volume tv, sengaja betul menghindari topik pembicaraan.
Dewa bersungut-sungut kesal. Sialan, bukannya memberikan kabar yang sedap didengar tentang kawan kecilnya, Azka justru menjelek-jelekkan Anggun. Gara-gara Azka membuka album lama, ia jadi tidak konsentrasi menonton bola, cenderung sibuk memikirkan sosok Anggun. Apakah benar wajah gadis kecil yang tersenyum di foto itu tak seanggun namanya? Tiba-tiba hatinya tertantang untuk membenarkan ucapan Azka, kalau Anggun hanyalah sebuah nama, aslinya sama sekali tidak anggun, alias jelek, lebih tepatnya buruk rupa, ia harus membuktikannya.
Puing 3 #Jingga #NovelSeries
Dering telepon membuat Livi kaget. Sepagi ini ia sudah di kantor, repot mengurus keperluan meeting, mengebut deadline laporan mingguan. Seusai adzan Subuh, Jingga mengirimkan pesan singkat bahwa dirinya berhalangan hadir karena demam tinggi. Oleh sebab itu, Livi harus datang lebih awal menggantikan posisi atasannya hari ini. Pasca insiden kakinya terkilir kemarin siang, ia izin pulang cepat lantaran kakinya ngilu dan bengkak. Alhasil, sejumlah notes tentang pekerjaannya menumpuk di dekstop.
Di hari yang sama, Jingga tetap melanjutkan pekerjaan seperti biasa hingga larut mala. Berteman dengan komputer, telepon, dan berkas-berkas dokumen yang memabukan kepala. Ia harus merampungkan laporan keuangan cabang dalam waktu dekat. Ia bahkan sengaja membawa pulang setumpukan ordner dan berkas-berkas dokumen pendukung lainnya ke apartemen karena tak sempat diselesaikan berhubung waktu sudah teramat larut.
Dering telepon yang berbunyi semenit lalu, kembali berdering. Livi mendesis malas, meninggalkan sejenak perhatiannya pada angka milyaran rupiah di layar komputer.
“Halo, Livi! Kau dari mana saja? Jangan bilang kau terlambat ke kantor dengan alasan tukang urutnya tidak manjur menyembuhkan kakimu yang bengkak?”
Livi menarik napas. Dimana-mana atasan selalu bawel pada bawahannya. “Ya ampun, Jingga, kupikir siapa? Aku tak sempat mengangkat telepon. Kau tahu kan, betapa sibuknya aku menjalankan mandat darimu? Presiden saja kalah dengan kesibukanku.” Livi menyeringai, melirik jam dinding. Setengah jam lagi ia harus meeting bersama kepala cabang seluruh Indonesia dan jajaran petinggi lainnya untuk membahas omset penjualan yang menurun, serta membicarakan penyeragaman sistem pembukuan.
“Seharusnya kau yang menghadiri meeting ini, Jingga. Aku sungguh malas,” Livi memainkan pulpen di tangannya. “Kini aku baru tahu apa yang kau rasakan, Jingga. Pantas saja kau jadi manusia paling galak sekantor ini. Tanggung jawabmu sungguh luar biasa. Aku tidak sanggup mengemban tugas berat ini. Dan aku tidak ingin menjadi kau.” Celoteh Livi sambil mengapit gagang telepon di antara bahu dan telinganya yang bersentuhan dengan pipi. Matanya kembali pada layar komputer. Sedangkan kedua tangannya menggerakkan keyboard dan mouse. Hal serupa yang sering dilakukan Jingga jika sedang menghadapi seribu tugas yang meluber.
“Jadi kau keberatan menggantikanku, Liv? Sudahlah, jangan keseringan mengeluh. Anggap saja kau seorang leader yang mau tidak mau punya tanggung jawab itu. Oh iya, nanti kalau Pak Steven tanya dokumen perubahan aset lancar, katakan padanya kalau dokumen itu ada padaku. Kemarin sore dia minta dibuatkan updatenya. Tapi karena tidak sempat mengerjakannya, maka aku bawa pulang ke apartemen,”
“Hah, apa kau bilang? Pak Steven? Eh, bukannya tak mau menggantikan tugasmu,” Livi merasa salah bicara. Mendengar nama pemilik perusahaan yang terkenal angker itu, lehernya tiba-tiba bagai tercekik.
Jarum jam terus berputar. Waktu meeting tinggal 27 menit lagi. Bagaimana mungkin dia harus mengambil dokumen itu ke apartemen Jingga? Mengingat jalanan ibukota sudah bagai lautan kendaraan, tidak ada spasi untuk berenang. Livi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hei, kau tidak akan membahas aset lancar, Livi, hanya membahas omset penjulan sampai minggu ke-2. Berkas yang kubawa tidak ada hubungannya dengan meeting bersama kepala cabang,” ujar Jingga santai. Nada bicaranya tidak setinggi biasanya.
“Lalu untuk apa kau memberitahuku tentang dokumen itu?” Livi menarik napas lega.
“Untuk jaga-jaga kalau Pak Steven menanyakannya. Sebenarnya sudah selesai dan telah kuemail ke beliau.” Jelas Jingga di seberang telepon.
“Oh, syukurlah kalau begitu. Jadi intinya, jika mereka bertanya di luar omset, aku bisa membela diri. Begitu kan?” Livi mengernyitkan dahi. Tidak mengerti.
“Memangnya siapa pula yang akan mengajakmu berkelahi, pakai acara membela diri segala?” Jingga tertawa.
Livi tersenyum mendengar candaan Jingga yang sudah hampir seminggu menghilang dari pendengarannya.
“Eh, bagaimana kabarmu? Kau sudah ke dokter? Sudah makan buburnya? Obatnya sudah diminum?”
“Sudah. Terimakasih untuk semuanya.”
“Syukurlah, sekarang kau istirahat saja. Tapi ponselmu jangan sampai silent dan lowbat ya, aku takut terjadi apa-apa,” katanya serius.
“Ah, kau ini selalu berlebihan. Selamat bertemu kangen dengan Pak Steven ya, Liv. Tenang saja, dia tak seangker yang kau bayangkan. Cuma ya begitu, sedikit menyeramkan,” pungkas Jingga sembari tertawa kecil.
Livi menelan ludah. Ia paling anti berhadapan langsung dengan big bos. Ingin rasanya ia kabur, pura-pura mati suri atau tenggelam di dalam WC karena di sini tidak ada sumur. Tapi itu tak mungkin dilakukannya, karena Delima – sekretaris Pak Steven, sudah mewanti-wanti dirinya agar hadir sebagai inti dari segala penjelasan seluruh cabang, mewakili Jingga.
Setelah menelepon Livi, Jingga terkulai lemah tak berdaya. Semalaman demamnya cukup tinggi. Ia menggigil seorang diri. Tak ada satupun keluarga yang ia hubungi, termasuk Pak Eki, supir pribadinya. Ia tidak ingin merepotkan banyak orang. Meski di pagi buta, ia terpaksa menelepon Livi menginformasikan tidak dapat masuk kerja. Matanya sayu efek kurang tidur.
Dan Livilah yang meminta Pak Eki untuk menjemput Jingga di apartemen, mengantarkan ke dokter, serta membelikannya sarapan agar perutnya terisi. Meski menyebalkan, Jingga merupakan satu-satunya sahabat terdekat Livi. Mereka sempat berpisah tiga tahun bekerja di kantor orang. Lalu Jingga menariknya menjadi tangan kanan sekaligus asistennya selama empat musim terakhir.
Siapa bilang Jingga mirip singa, angkuh dan galak menerkam seluruh mangsa? Jingga seorang yang hangat, humble, setia kawan, loyal, dan segalanya bagi Livi. Saat Livi ada masalah, Jingga selalu berada paling depan. Saat Livi menyerah, Jingga yang mendorong kuat dari belakang. Saat Livi terpuruk lima tahun silam pada peristiwa kebakaran tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya, Jinggalah yang menjadi penyelamatnya.
Jingga menampung Livi di kosan sempit, karena waktu itu ia masih menjabat sebagai staf akunting biasa. Jingga tidak tega membiarkan Livi hidup sebatang kara di Jakarta. Ia tak pernah bosan menjadi motivator bijaknya setiap hari, tidak putus asa meskipun Livi beringas menolak mentah-mentah petuah bijaknya. Jingga pula yang berhasil megeluarkan Livi dari karantina psikis.
Atas dorongan dan semangat Jinggalah, Livi akhirnya bisa keluar dari masa suram itu. Kini ia sudah bisa menerima kenyataan. Sebagai ganti kehilangan, pasti akan ada yang datang. Rumus kehidupan memang seperti itu. Dua tahun berikutnya, ada arjuna yang bersedia menikahinya, meski sampai saat ini mereka belum dikaruniai momongan. Wajar bila Livi merasa berhutang budi pada Jingga. Bagi Livi, Jingga merupakan pahlawan. Ia ingin membalas semua kebaikan sahabatnya itu.
**
Pukul 12.01 WIB
Telepon di meja Jingga berdering. Livi malas menarik nomor extentionnya. Paling juga itu telepon dari Pak Steven.
Perempuan yang gemar memakai kemeja berkerah itu sedang sibuk merapikan kertas dan file yang berantakan di meja kerjanya. Sepuluh menit yang lalu meetingnya sukses dan lancar. Pak Steven tidak terlalu rewel bertanya macam-macam. Mungkin bisa jadi beliau mengerti posisi Livi yang hanya menggantikan Jingga. Ia hanya minta dokumen pendukung dari perubahan aset lancar yang sempat dikemukakan Jingga melalui telepon tadi pagi.
Dering telepon yang semula di meja Jingga, kini berpindah ke meja kerjanya.
Duh, siapa sih jam makan siang begini telepon? Tidak tahu sedang buru-buru, apa? Livi mengoceh sendiri. Tangannya mengunci laci meja, mematikan komputer.
“Halo?”
“Halo, Bu Livi ya? Ada tamu Ibu Jingga di bawah,” tuturnya dengan suara berat. Itu pak Ali, security lobby.
“Bu Jingga tidak masuk hari ini. Itu bukan tamu saya. Mintalah ia kembali lagi besok siang.” Jawab Livi tergesa-gesa.
“…”
Suara Pak Ali menjauh. Nampaknya ia sedang berbicara dengan tamu yang dimaksud.
“Maaf, Bu Livi, tapi pemuda ini mau bertemu dengan Ibu,”
“Memangnya dia siapa? Apa saya mengenalnya? Kalau begitu saya akan turun lima menit lagi.” Livi memutuskan sambungan telepon.
Siang ini, ia harus bergegas menemui Jingga di apartemennya untuk mengambil berkas dokumen yang diminta Pak Steven. Sekaligus memastikan kondisi terkini sahabatnya. Ia berlari mengejar lift yang terbuka, meminta maaf karena menyenggol karyawan lain dari divisi lain. Ia berkali-kali melirik jarum jam di tangannya, kemudian asyik memainkan layar tab.
“Eh…” Livi menghantam tembok di depannya saat keluar dari lift. Bukan tembok, tapi manusia berkulit sawo matang yang tinggi dan tegap.
“Kau lagi?” Livi terkejut. Belum 23 jamia nyaris tertabrak mobil pemuda itu, sekarang justru bertabrakan dengan pemiliknya.
“Hai, Liv. Aku menunggumu.” Laki-laki itu tersenyum manis.
“Loh, sedang apa di sini?” tanya Livi heran.
“Eh, aku…” Pemuda itu mengusap hidungnya yang bagai paruh burung rajawali. “Aku ingin bertemu denganmu, serta Jingga.” Ucapnya malu-malu.
“Jingga sakit. Aku mau ke apartemennya sekarang. Kau mau ikut?” Livi berjalan terburu-buru.
Pemuda itu tidak menjawab. Namun kedua kakinya mengikuti langkah perempuan yang sedikit berlari memanggil Taksi. Langkahnya yang cepat, bagaikan hendak pergi jauh mengejar pesawat. Livi tidak ada waktu menghubungi Pak Eki untuk menjemputnya.
“Naik mobilku saja,” Pemuda itu menahan lagkah Livi ke basement, menghampiri mobil gagah berwarna putih yang terpakir di barisan paling depan, dekat pintu keluar.
Livi mengangguk, tak banyak komentar. Baru setengah hari ditinggal Jingga, ia amat kelabakan. Apalagi jika menggantikan selama berminggu-minggu dan bulan. Seumpama Jingga resign, ia pun akan resign. Ucapnya dalam hati.
“Kita mampir dulu ke rumah makan. Aku ingin membeli bubur hangat untuk Jingga. Dan kita makan siang di apartemen Jingga saja. Kau belum makan juga, kan?” Livi memasuki mobil, mengarahkan jalan menuju rumah makan. Ia bahkan lupa menanyakan nama si pemuda yang kini berada di sampingnya.
“Kalau boleh tahu, memangnya Jingga sakit apa?” pemuda itu menoleh ke arah Livi. Wajahnya amat penasaran.
“Demam. Kemarin dia lembur hingga larut malam. Ditambah lagi begadang membawa sisa-sisa pekerjaannya yang belum tuntas. Semuda itu dia sudah menjadi leader keuangan. Mengontrol seluruh biaya, membuat anggaran setahun ke depan, mengatur masuk dan keluarnya uang, dan menyajikan laporan konsolidasi. Harus kuakui kerja keras dan keuletannya selama ini sungguhlah berat.” Livi melirik jam tangannya, gelisah.
“Leader?” Pemuda itu menatap Livi sekilas, yang dilirik menjawab dengan anggukan. Selebihnya, tidak ada lagi percakapan di mobil, selain Livi berkata belok kanan, kiri, berhenti, ayo jalan laksana pasukan paskibraka.
Setelah memesan makanan dari rumah makan yang tak jauh dari apartemen Jingga, Livi dan pemuda tak dikenal itu langsung menemui Jingga. Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam terlebih dulu, Livi membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang sengaja diberikan Jingga semasih dirinya single dulu. Katanya itu merupakan rumah Livi juga. Maka, Livi bebas bertandang kapanpun ia mau.
“Jingga…” Livi memanggil nama sahabatnya yang terbungkus selimut super tebal yang berbaring di tempat tidur.
Hening. Tidak ada sahutan. Livi sangat panik. Takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Tubuh Jingga semakin menggigil. Padahal sejak kemarin, ia tidak menyalakan air conditioner. Kaos kaki, sarung tangan, dan selimut tebal, masih menempel di tubuhnya yang lemas. Ruangan 7 x 10 meter tersebut begitu sunyi, menyisakan dentang jarum dan suara pendingin makanan. Jendela yang biasanya terbuka sedikit di siang hari, masih tertutup rapat. Bisa jadi Jingga belum bergerak semester pun.
Kamar apartemen Jingga mayoritas dipenuhi oleh warna putih. Seperti dinding, korden, asbes, lantai, spray, jam, dinding, laptop, dan rak buku. Warna selingan hanya cokelat di lemari baju yang memisahkan dapur, krem sofa dan meja, serta hijau pemandangan alam dalam kalender kecil di meja kerjanya.
Ruangan tak bersekat (kecuali kamar mandi) ini , tak terlihat satupun benda menggantung di tembok. Pemuda itu sejenak berpikir heran, bukankah perempuan paling suka memajang foto di dinding? Entah itu fotonya sendiri, sahabat, pasangan, atau keluarga. Tapi Jingga sama sekali tidak memajangnya. Hanya berdiri pas bunga dari kaca bening, yang di dalamnya terdapat dua bunga mawar merah muda yang merekah, serta satu yang masih kuncup, lengkap dengan batang berduri dan daun yang diletakkan di sudut meja ruang tamu yang bisa dikatakan tidak mirip dengan ruang tamu.
Ruang kerja Jingga menghadap ke balkon. Sehingga pemuda itu bisa berpikir Jingga akan membuka tirai tipis di balik beningnya kaca, yang langsung disuguhi pemandangan tumbuh-tumbuhan hijau di dalam pot yang disusun serapi mungkin oleh pemiliknya, serta tata letak bangku dan meja mini di samping sebelah kiri. Meski awalnya ia merasa tak ada yang spesial di ruangan Jingga, tapi setelah menjelajahi seluruh isi kamar, ia paham bahwa Jingga adalah gadis yang simpel dan tidak suka berlebihan.
Jujur saja, ia merasa damai berada di apartemen Jingga. Walau AC tidak menyala, namun sepoi-sepoi angin yang masuk melalui pentilasi, membuatnya ingin terlelap. Dengan tidak adanya sekat dan banyak warna, ruangan ini nampak luas dan teduh.
“Ayo, Jingga… Bangunlah... Coba lihat, aku bawakan bubur hangat untukmu. Lekas disantap, nanti keburu dingin dan rasanya tidak enak.” Livi menyibak selimut tebal yang mengatup wajah dan kepala Jingga. “Hey, memangnya kau tidak engap ditutup seperti ini, hah? Nanti kau kehabisan napas.”
Jingga membuka matanya. Mencoba tersenyum saat tahu sahabatnya datang menjenguk. Suara Livi berisik sekali, membuat kepalanya semakin pusing, ujarnya dalam hati.
“Aku malas makan, Liv,” tutur Jingga dengan nada lemah.
“Tapi kau harus makan, Jingga. Perutmu tidak boleh kosong. Aku ke sini mau mengambil berkas yang kau bilang tadi via telepon,” Livi menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga. Astaga! Panasnya tinggi sekali. Mata Livi terbelalak melihat bubur tadi pagi yang dibelikan oleh Pak Eki yang katanya sudah dihabiskan. Bubur itu belum disentuh Jingga sama sekali. Livi mengomel ke sana, ke mari.
“Kau harus dirawat sekarang juga,” Livi menggapai ponselnya di dalam tas. Hendak menghubungi keluarga Jingga.
“Tidak, Liv. Aku sudah sembuh. Aku hanya ingin istirahat total. Dokumennya ada di meja kerjaku, di dalam amplop cokelat. Ambilah.” Jingga menyergah tangan Livi yang hendak menekan kontak telepon ibundanya.
“Sembuh dari Hongkong? Demammu tinggi begini. Kau harus segera ditangani dokter.” Cibir Livi yang mendadak teringat sesuatu. Sekelebat ia mengambil panvi yang tergantung tak jauh dari kompor, mengisinya dengan air dari washtaffel, kemudian meletakannya di atas kompor gas dengan api yang menyala maksimal. Sambil menunggu air panas, Livi mencari handuk kecil di lemari pakaian.
Dan pemuda itu? Dia sedang duduk manis di sofa sambil membolak-balikan majalah di tangannya. Sejak tadi ia menjadi penonton dan penyimak dalam tayangan tentang dua sahabat yang saling merajuk, enggan ikut campur. Kedatangannya hari ini sebenarnya untuk mencari tahu kabar keduanya dan meminta maaf. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian siang itu. Ia amat ketakutan. Hatinya merasa tidak enak. Benar saja, salah satu dari dua perempuan yang ditemuinya kemarin siang, terjatuh sakit.
Dan semua ini ada hubungan yang melibatkan dirinya. Dia mengusap wajah.
Pemuda berkemeja biru polos itu mengusap wajah. Ini merupakan pemandangan yang mengharukan. Ia berjalan ke luar mencari angin, tidak bisa berlama-lama menonton adegan di dalam ruangan tanpa sekat ini.
“Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit, Liv. Kumohon…” Jingga memelas memohon.
“Aku ingin kau cepat sembuh, Jingga. Sampai kapan kau keras kepala?” Livi memeras handuk kecil ke dalam air panas dan menempelkannya ke dahi Jingga berulang-ulang. Ia menatap sendu sahabatnya yang kini bagai mayat hidup. Wajah Jingga teramat pias, sorot matanya meredup.
“Sudah kubilang, tunggu hingga hujan reda. Tapi kau tidak mau mendengar. Kau tahu, waktu itu perutku terasa penuh oleh santapan makan siang, tapi kau memaksa berlari di bawah hujan. Dan sekarang, kau sakit, kan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa belakangan ini kau amat tertutup padaku? Katakan, Jingga…” Livi membuka kantung plastik bening berisikan bubur ayam hangat, memaksa Jingga memakannya, sembari terus menginterogasi bak polisi gadungan.
“Aku tidak pernah membenci hujan,” ungkap Jingga datar. Sudah seminggu terakhir ia tidak nafsu makan. Pikirannya kacau. Hujan kemarin siang bukan kesialan, melainkan satu-satunya hiburan.
“Kenapa kau tidak meneleponku kalau keadaanmu seperti ini? Kukira kau sakit biasa yang hanya membutuhkan istirahat saja,” Livi cekatan mengganti kompres, memeras handuk yang sudah dingin, memasangkannya kembali ke dahi Jingga.
“Aku tidak ingin mengganggu meetingmu, Liv.” Jingga mencoba tersenyum. Senyum yang getir.
“Apakah keluargamu belum tahu?"
Jingga menggeleng.
Livi menyeringai, “Biar aku telepon,”
“Jangan,” pinta Jingga memohon.
Livi menghela napas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jingga? Selama ini mereka sangat dekat. Teramat dekat. Tetapi baru kali ini Jingga begitu tertutup, seolah semua baik-baik saja.
Apalah gunanya sahabat jika tak ada lagi kata transparan? Bukankah sahabat tempat untuk berbagi keluh kesah dan gundah? Meluapkan seluruh suka dan duka? “Tapi kenapa? Kenapa Jingga merahasiakan sesuatu? Bukankah selama ini dia selalu ingin tahu masalahku? Membantuku keluar dari masalah itu? Apa dia tidak memercayaiku?” Livi berkata-kata dalam hati. Merasakan ada yang ganjil terjadi pada Jingga.
Jingga terdiam. Bingung harus memulai cerita dari mana. Terlalu banyak penjelasan asal muasal cerita itu dimulai. Tubuhnya yang bersandar di tumpukan bantal semakin melemah. Singa yang galak itu kini bagai seekor ikan yang kehabisan air. Terdampar di ranjang.
Di hari yang sama, Jingga tetap melanjutkan pekerjaan seperti biasa hingga larut mala. Berteman dengan komputer, telepon, dan berkas-berkas dokumen yang memabukan kepala. Ia harus merampungkan laporan keuangan cabang dalam waktu dekat. Ia bahkan sengaja membawa pulang setumpukan ordner dan berkas-berkas dokumen pendukung lainnya ke apartemen karena tak sempat diselesaikan berhubung waktu sudah teramat larut.
Dering telepon yang berbunyi semenit lalu, kembali berdering. Livi mendesis malas, meninggalkan sejenak perhatiannya pada angka milyaran rupiah di layar komputer.
“Halo, Livi! Kau dari mana saja? Jangan bilang kau terlambat ke kantor dengan alasan tukang urutnya tidak manjur menyembuhkan kakimu yang bengkak?”
Livi menarik napas. Dimana-mana atasan selalu bawel pada bawahannya. “Ya ampun, Jingga, kupikir siapa? Aku tak sempat mengangkat telepon. Kau tahu kan, betapa sibuknya aku menjalankan mandat darimu? Presiden saja kalah dengan kesibukanku.” Livi menyeringai, melirik jam dinding. Setengah jam lagi ia harus meeting bersama kepala cabang seluruh Indonesia dan jajaran petinggi lainnya untuk membahas omset penjualan yang menurun, serta membicarakan penyeragaman sistem pembukuan.
“Seharusnya kau yang menghadiri meeting ini, Jingga. Aku sungguh malas,” Livi memainkan pulpen di tangannya. “Kini aku baru tahu apa yang kau rasakan, Jingga. Pantas saja kau jadi manusia paling galak sekantor ini. Tanggung jawabmu sungguh luar biasa. Aku tidak sanggup mengemban tugas berat ini. Dan aku tidak ingin menjadi kau.” Celoteh Livi sambil mengapit gagang telepon di antara bahu dan telinganya yang bersentuhan dengan pipi. Matanya kembali pada layar komputer. Sedangkan kedua tangannya menggerakkan keyboard dan mouse. Hal serupa yang sering dilakukan Jingga jika sedang menghadapi seribu tugas yang meluber.
“Jadi kau keberatan menggantikanku, Liv? Sudahlah, jangan keseringan mengeluh. Anggap saja kau seorang leader yang mau tidak mau punya tanggung jawab itu. Oh iya, nanti kalau Pak Steven tanya dokumen perubahan aset lancar, katakan padanya kalau dokumen itu ada padaku. Kemarin sore dia minta dibuatkan updatenya. Tapi karena tidak sempat mengerjakannya, maka aku bawa pulang ke apartemen,”
“Hah, apa kau bilang? Pak Steven? Eh, bukannya tak mau menggantikan tugasmu,” Livi merasa salah bicara. Mendengar nama pemilik perusahaan yang terkenal angker itu, lehernya tiba-tiba bagai tercekik.
Jarum jam terus berputar. Waktu meeting tinggal 27 menit lagi. Bagaimana mungkin dia harus mengambil dokumen itu ke apartemen Jingga? Mengingat jalanan ibukota sudah bagai lautan kendaraan, tidak ada spasi untuk berenang. Livi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hei, kau tidak akan membahas aset lancar, Livi, hanya membahas omset penjulan sampai minggu ke-2. Berkas yang kubawa tidak ada hubungannya dengan meeting bersama kepala cabang,” ujar Jingga santai. Nada bicaranya tidak setinggi biasanya.
“Lalu untuk apa kau memberitahuku tentang dokumen itu?” Livi menarik napas lega.
“Untuk jaga-jaga kalau Pak Steven menanyakannya. Sebenarnya sudah selesai dan telah kuemail ke beliau.” Jelas Jingga di seberang telepon.
“Oh, syukurlah kalau begitu. Jadi intinya, jika mereka bertanya di luar omset, aku bisa membela diri. Begitu kan?” Livi mengernyitkan dahi. Tidak mengerti.
“Memangnya siapa pula yang akan mengajakmu berkelahi, pakai acara membela diri segala?” Jingga tertawa.
Livi tersenyum mendengar candaan Jingga yang sudah hampir seminggu menghilang dari pendengarannya.
“Eh, bagaimana kabarmu? Kau sudah ke dokter? Sudah makan buburnya? Obatnya sudah diminum?”
“Sudah. Terimakasih untuk semuanya.”
“Syukurlah, sekarang kau istirahat saja. Tapi ponselmu jangan sampai silent dan lowbat ya, aku takut terjadi apa-apa,” katanya serius.
“Ah, kau ini selalu berlebihan. Selamat bertemu kangen dengan Pak Steven ya, Liv. Tenang saja, dia tak seangker yang kau bayangkan. Cuma ya begitu, sedikit menyeramkan,” pungkas Jingga sembari tertawa kecil.
Livi menelan ludah. Ia paling anti berhadapan langsung dengan big bos. Ingin rasanya ia kabur, pura-pura mati suri atau tenggelam di dalam WC karena di sini tidak ada sumur. Tapi itu tak mungkin dilakukannya, karena Delima – sekretaris Pak Steven, sudah mewanti-wanti dirinya agar hadir sebagai inti dari segala penjelasan seluruh cabang, mewakili Jingga.
Setelah menelepon Livi, Jingga terkulai lemah tak berdaya. Semalaman demamnya cukup tinggi. Ia menggigil seorang diri. Tak ada satupun keluarga yang ia hubungi, termasuk Pak Eki, supir pribadinya. Ia tidak ingin merepotkan banyak orang. Meski di pagi buta, ia terpaksa menelepon Livi menginformasikan tidak dapat masuk kerja. Matanya sayu efek kurang tidur.
Dan Livilah yang meminta Pak Eki untuk menjemput Jingga di apartemen, mengantarkan ke dokter, serta membelikannya sarapan agar perutnya terisi. Meski menyebalkan, Jingga merupakan satu-satunya sahabat terdekat Livi. Mereka sempat berpisah tiga tahun bekerja di kantor orang. Lalu Jingga menariknya menjadi tangan kanan sekaligus asistennya selama empat musim terakhir.
Siapa bilang Jingga mirip singa, angkuh dan galak menerkam seluruh mangsa? Jingga seorang yang hangat, humble, setia kawan, loyal, dan segalanya bagi Livi. Saat Livi ada masalah, Jingga selalu berada paling depan. Saat Livi menyerah, Jingga yang mendorong kuat dari belakang. Saat Livi terpuruk lima tahun silam pada peristiwa kebakaran tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya, Jinggalah yang menjadi penyelamatnya.
Jingga menampung Livi di kosan sempit, karena waktu itu ia masih menjabat sebagai staf akunting biasa. Jingga tidak tega membiarkan Livi hidup sebatang kara di Jakarta. Ia tak pernah bosan menjadi motivator bijaknya setiap hari, tidak putus asa meskipun Livi beringas menolak mentah-mentah petuah bijaknya. Jingga pula yang berhasil megeluarkan Livi dari karantina psikis.
Atas dorongan dan semangat Jinggalah, Livi akhirnya bisa keluar dari masa suram itu. Kini ia sudah bisa menerima kenyataan. Sebagai ganti kehilangan, pasti akan ada yang datang. Rumus kehidupan memang seperti itu. Dua tahun berikutnya, ada arjuna yang bersedia menikahinya, meski sampai saat ini mereka belum dikaruniai momongan. Wajar bila Livi merasa berhutang budi pada Jingga. Bagi Livi, Jingga merupakan pahlawan. Ia ingin membalas semua kebaikan sahabatnya itu.
**
Pukul 12.01 WIB
Telepon di meja Jingga berdering. Livi malas menarik nomor extentionnya. Paling juga itu telepon dari Pak Steven.
Perempuan yang gemar memakai kemeja berkerah itu sedang sibuk merapikan kertas dan file yang berantakan di meja kerjanya. Sepuluh menit yang lalu meetingnya sukses dan lancar. Pak Steven tidak terlalu rewel bertanya macam-macam. Mungkin bisa jadi beliau mengerti posisi Livi yang hanya menggantikan Jingga. Ia hanya minta dokumen pendukung dari perubahan aset lancar yang sempat dikemukakan Jingga melalui telepon tadi pagi.
Dering telepon yang semula di meja Jingga, kini berpindah ke meja kerjanya.
Duh, siapa sih jam makan siang begini telepon? Tidak tahu sedang buru-buru, apa? Livi mengoceh sendiri. Tangannya mengunci laci meja, mematikan komputer.
“Halo?”
“Halo, Bu Livi ya? Ada tamu Ibu Jingga di bawah,” tuturnya dengan suara berat. Itu pak Ali, security lobby.
“Bu Jingga tidak masuk hari ini. Itu bukan tamu saya. Mintalah ia kembali lagi besok siang.” Jawab Livi tergesa-gesa.
“…”
Suara Pak Ali menjauh. Nampaknya ia sedang berbicara dengan tamu yang dimaksud.
“Maaf, Bu Livi, tapi pemuda ini mau bertemu dengan Ibu,”
“Memangnya dia siapa? Apa saya mengenalnya? Kalau begitu saya akan turun lima menit lagi.” Livi memutuskan sambungan telepon.
Siang ini, ia harus bergegas menemui Jingga di apartemennya untuk mengambil berkas dokumen yang diminta Pak Steven. Sekaligus memastikan kondisi terkini sahabatnya. Ia berlari mengejar lift yang terbuka, meminta maaf karena menyenggol karyawan lain dari divisi lain. Ia berkali-kali melirik jarum jam di tangannya, kemudian asyik memainkan layar tab.
“Eh…” Livi menghantam tembok di depannya saat keluar dari lift. Bukan tembok, tapi manusia berkulit sawo matang yang tinggi dan tegap.
“Kau lagi?” Livi terkejut. Belum 23 jamia nyaris tertabrak mobil pemuda itu, sekarang justru bertabrakan dengan pemiliknya.
“Hai, Liv. Aku menunggumu.” Laki-laki itu tersenyum manis.
“Loh, sedang apa di sini?” tanya Livi heran.
“Eh, aku…” Pemuda itu mengusap hidungnya yang bagai paruh burung rajawali. “Aku ingin bertemu denganmu, serta Jingga.” Ucapnya malu-malu.
“Jingga sakit. Aku mau ke apartemennya sekarang. Kau mau ikut?” Livi berjalan terburu-buru.
Pemuda itu tidak menjawab. Namun kedua kakinya mengikuti langkah perempuan yang sedikit berlari memanggil Taksi. Langkahnya yang cepat, bagaikan hendak pergi jauh mengejar pesawat. Livi tidak ada waktu menghubungi Pak Eki untuk menjemputnya.
“Naik mobilku saja,” Pemuda itu menahan lagkah Livi ke basement, menghampiri mobil gagah berwarna putih yang terpakir di barisan paling depan, dekat pintu keluar.
Livi mengangguk, tak banyak komentar. Baru setengah hari ditinggal Jingga, ia amat kelabakan. Apalagi jika menggantikan selama berminggu-minggu dan bulan. Seumpama Jingga resign, ia pun akan resign. Ucapnya dalam hati.
“Kita mampir dulu ke rumah makan. Aku ingin membeli bubur hangat untuk Jingga. Dan kita makan siang di apartemen Jingga saja. Kau belum makan juga, kan?” Livi memasuki mobil, mengarahkan jalan menuju rumah makan. Ia bahkan lupa menanyakan nama si pemuda yang kini berada di sampingnya.
“Kalau boleh tahu, memangnya Jingga sakit apa?” pemuda itu menoleh ke arah Livi. Wajahnya amat penasaran.
“Demam. Kemarin dia lembur hingga larut malam. Ditambah lagi begadang membawa sisa-sisa pekerjaannya yang belum tuntas. Semuda itu dia sudah menjadi leader keuangan. Mengontrol seluruh biaya, membuat anggaran setahun ke depan, mengatur masuk dan keluarnya uang, dan menyajikan laporan konsolidasi. Harus kuakui kerja keras dan keuletannya selama ini sungguhlah berat.” Livi melirik jam tangannya, gelisah.
“Leader?” Pemuda itu menatap Livi sekilas, yang dilirik menjawab dengan anggukan. Selebihnya, tidak ada lagi percakapan di mobil, selain Livi berkata belok kanan, kiri, berhenti, ayo jalan laksana pasukan paskibraka.
Setelah memesan makanan dari rumah makan yang tak jauh dari apartemen Jingga, Livi dan pemuda tak dikenal itu langsung menemui Jingga. Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam terlebih dulu, Livi membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang sengaja diberikan Jingga semasih dirinya single dulu. Katanya itu merupakan rumah Livi juga. Maka, Livi bebas bertandang kapanpun ia mau.
“Jingga…” Livi memanggil nama sahabatnya yang terbungkus selimut super tebal yang berbaring di tempat tidur.
Hening. Tidak ada sahutan. Livi sangat panik. Takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Tubuh Jingga semakin menggigil. Padahal sejak kemarin, ia tidak menyalakan air conditioner. Kaos kaki, sarung tangan, dan selimut tebal, masih menempel di tubuhnya yang lemas. Ruangan 7 x 10 meter tersebut begitu sunyi, menyisakan dentang jarum dan suara pendingin makanan. Jendela yang biasanya terbuka sedikit di siang hari, masih tertutup rapat. Bisa jadi Jingga belum bergerak semester pun.
Kamar apartemen Jingga mayoritas dipenuhi oleh warna putih. Seperti dinding, korden, asbes, lantai, spray, jam, dinding, laptop, dan rak buku. Warna selingan hanya cokelat di lemari baju yang memisahkan dapur, krem sofa dan meja, serta hijau pemandangan alam dalam kalender kecil di meja kerjanya.
Ruangan tak bersekat (kecuali kamar mandi) ini , tak terlihat satupun benda menggantung di tembok. Pemuda itu sejenak berpikir heran, bukankah perempuan paling suka memajang foto di dinding? Entah itu fotonya sendiri, sahabat, pasangan, atau keluarga. Tapi Jingga sama sekali tidak memajangnya. Hanya berdiri pas bunga dari kaca bening, yang di dalamnya terdapat dua bunga mawar merah muda yang merekah, serta satu yang masih kuncup, lengkap dengan batang berduri dan daun yang diletakkan di sudut meja ruang tamu yang bisa dikatakan tidak mirip dengan ruang tamu.
Ruang kerja Jingga menghadap ke balkon. Sehingga pemuda itu bisa berpikir Jingga akan membuka tirai tipis di balik beningnya kaca, yang langsung disuguhi pemandangan tumbuh-tumbuhan hijau di dalam pot yang disusun serapi mungkin oleh pemiliknya, serta tata letak bangku dan meja mini di samping sebelah kiri. Meski awalnya ia merasa tak ada yang spesial di ruangan Jingga, tapi setelah menjelajahi seluruh isi kamar, ia paham bahwa Jingga adalah gadis yang simpel dan tidak suka berlebihan.
Jujur saja, ia merasa damai berada di apartemen Jingga. Walau AC tidak menyala, namun sepoi-sepoi angin yang masuk melalui pentilasi, membuatnya ingin terlelap. Dengan tidak adanya sekat dan banyak warna, ruangan ini nampak luas dan teduh.
“Ayo, Jingga… Bangunlah... Coba lihat, aku bawakan bubur hangat untukmu. Lekas disantap, nanti keburu dingin dan rasanya tidak enak.” Livi menyibak selimut tebal yang mengatup wajah dan kepala Jingga. “Hey, memangnya kau tidak engap ditutup seperti ini, hah? Nanti kau kehabisan napas.”
Jingga membuka matanya. Mencoba tersenyum saat tahu sahabatnya datang menjenguk. Suara Livi berisik sekali, membuat kepalanya semakin pusing, ujarnya dalam hati.
“Aku malas makan, Liv,” tutur Jingga dengan nada lemah.
“Tapi kau harus makan, Jingga. Perutmu tidak boleh kosong. Aku ke sini mau mengambil berkas yang kau bilang tadi via telepon,” Livi menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga. Astaga! Panasnya tinggi sekali. Mata Livi terbelalak melihat bubur tadi pagi yang dibelikan oleh Pak Eki yang katanya sudah dihabiskan. Bubur itu belum disentuh Jingga sama sekali. Livi mengomel ke sana, ke mari.
“Kau harus dirawat sekarang juga,” Livi menggapai ponselnya di dalam tas. Hendak menghubungi keluarga Jingga.
“Tidak, Liv. Aku sudah sembuh. Aku hanya ingin istirahat total. Dokumennya ada di meja kerjaku, di dalam amplop cokelat. Ambilah.” Jingga menyergah tangan Livi yang hendak menekan kontak telepon ibundanya.
“Sembuh dari Hongkong? Demammu tinggi begini. Kau harus segera ditangani dokter.” Cibir Livi yang mendadak teringat sesuatu. Sekelebat ia mengambil panvi yang tergantung tak jauh dari kompor, mengisinya dengan air dari washtaffel, kemudian meletakannya di atas kompor gas dengan api yang menyala maksimal. Sambil menunggu air panas, Livi mencari handuk kecil di lemari pakaian.
Dan pemuda itu? Dia sedang duduk manis di sofa sambil membolak-balikan majalah di tangannya. Sejak tadi ia menjadi penonton dan penyimak dalam tayangan tentang dua sahabat yang saling merajuk, enggan ikut campur. Kedatangannya hari ini sebenarnya untuk mencari tahu kabar keduanya dan meminta maaf. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian siang itu. Ia amat ketakutan. Hatinya merasa tidak enak. Benar saja, salah satu dari dua perempuan yang ditemuinya kemarin siang, terjatuh sakit.
Dan semua ini ada hubungan yang melibatkan dirinya. Dia mengusap wajah.
Pemuda berkemeja biru polos itu mengusap wajah. Ini merupakan pemandangan yang mengharukan. Ia berjalan ke luar mencari angin, tidak bisa berlama-lama menonton adegan di dalam ruangan tanpa sekat ini.
“Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit, Liv. Kumohon…” Jingga memelas memohon.
“Aku ingin kau cepat sembuh, Jingga. Sampai kapan kau keras kepala?” Livi memeras handuk kecil ke dalam air panas dan menempelkannya ke dahi Jingga berulang-ulang. Ia menatap sendu sahabatnya yang kini bagai mayat hidup. Wajah Jingga teramat pias, sorot matanya meredup.
“Sudah kubilang, tunggu hingga hujan reda. Tapi kau tidak mau mendengar. Kau tahu, waktu itu perutku terasa penuh oleh santapan makan siang, tapi kau memaksa berlari di bawah hujan. Dan sekarang, kau sakit, kan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa belakangan ini kau amat tertutup padaku? Katakan, Jingga…” Livi membuka kantung plastik bening berisikan bubur ayam hangat, memaksa Jingga memakannya, sembari terus menginterogasi bak polisi gadungan.
“Aku tidak pernah membenci hujan,” ungkap Jingga datar. Sudah seminggu terakhir ia tidak nafsu makan. Pikirannya kacau. Hujan kemarin siang bukan kesialan, melainkan satu-satunya hiburan.
“Kenapa kau tidak meneleponku kalau keadaanmu seperti ini? Kukira kau sakit biasa yang hanya membutuhkan istirahat saja,” Livi cekatan mengganti kompres, memeras handuk yang sudah dingin, memasangkannya kembali ke dahi Jingga.
“Aku tidak ingin mengganggu meetingmu, Liv.” Jingga mencoba tersenyum. Senyum yang getir.
“Apakah keluargamu belum tahu?"
Jingga menggeleng.
Livi menyeringai, “Biar aku telepon,”
“Jangan,” pinta Jingga memohon.
Livi menghela napas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jingga? Selama ini mereka sangat dekat. Teramat dekat. Tetapi baru kali ini Jingga begitu tertutup, seolah semua baik-baik saja.
Apalah gunanya sahabat jika tak ada lagi kata transparan? Bukankah sahabat tempat untuk berbagi keluh kesah dan gundah? Meluapkan seluruh suka dan duka? “Tapi kenapa? Kenapa Jingga merahasiakan sesuatu? Bukankah selama ini dia selalu ingin tahu masalahku? Membantuku keluar dari masalah itu? Apa dia tidak memercayaiku?” Livi berkata-kata dalam hati. Merasakan ada yang ganjil terjadi pada Jingga.
Jingga terdiam. Bingung harus memulai cerita dari mana. Terlalu banyak penjelasan asal muasal cerita itu dimulai. Tubuhnya yang bersandar di tumpukan bantal semakin melemah. Singa yang galak itu kini bagai seekor ikan yang kehabisan air. Terdampar di ranjang.
Puing 4 #Jingga #NovelSeries
Livi berjalan terpogoh-pogoh mengimbangi langkah kaki pemuda yang saat ini membopong tubuh sahabatnya menuju lobby rumah sakit. Seketika bau khas obat-obatan menyengat menusuk hidung. Lalu-lalang manusia berseliweran keluar masuk. Ada yang wajahnya kusut, ada yang bersikap datar, ada yang terburu-buru seperti dirinya saat ini mengurus keperluan rumah sakit. Tak lama ia disambut empat perempuan berpakaian serba hijau dengan topi mirip perahu terbalik berwarna putih yang dijepitkan di kepala. Kereta dorong siap mengantar Jingga ke kamar rawat inap.
Suster-suster itu sibuk menyolokkan selang infus ke pergelangan tangan Jingga yang terkulai lemah. Sesekali memeriksa denyut nadi yang semakin pelan. Kata suster, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jingga hanya pingsan karena tidak sanggup menopang tubuhnya yang kehabisan tenaga. Denyut nadi yang pelan bukan berarti napasnya tinggal beberapa jam lagi, melainkan aktivitas yang menurun drastis.
Enggan melihat jarum suntik melukai lengan sahabatnya, Livi memutuskan keluar dari ruangan. Setelah dokter selesai menangani sahabat sekaligus atasannya itu, ia baru mau kembali ke kamar rawat inap, menyaksikan Jingga yang belum juga bangun dari tidur lelapnya. Ia berkali-kali menggoyang-goyangkan lengan kiri Jingga yang tak dililit selang infus, berbisik merayunya lekas membuka mata.
Sudah sembilan kali Livi melirik jam tangan, melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar VVIP lalu masuk lagi ke dalam. Pikirannya serba salah, antara tetap bersama Jingga, ataukah menghandle pekerjaan yang menggunung. Ia harus segera kembali ke kantor, gertaknya dalam hati. Tetapi disaat kritis seperti ini, ia urung meninggalkan Jingga seorang diri yang terbaring terlilit selang infus. Saat ini Jingga merupakan tanggungjawabnya juga.
Livi menekan kontak Pak Steven, meminta maaf karena berkas dokumen mengenai aset lancar dan cadangan kerugian piutang tertunda. Sekaligus menginformasikan bahwa Jingga masuk UGD.
Pemuda berkemeja panjang itu memperhatikan gerak-gerik Livi yang gelisah. Ia memberanikan diri mendekat. “Biar aku saja yang menunggu Jingga. Aku sedang tidak banyak pekerjaan hari ini,” bebernya menawarkan jasa.
Livi tidak menjawab. Siapa dia? Kenal saja baru kemarin siang, gumamnya dalam hati. Sebelum keluarga Jingga datang, ia tidak mau meninggalkan atasannya sendirian. Bisa-bisa Jingga diculik ke bulan.
Jingga memang keras kepala, sudah tahu demamnya tinggi, bilang baik-baik saja. Sekarang ia harus mengakui kalau tubuhnya butuh perawatan intens. Pening di kepalanya membuat ia tumbang ketika hendak menuju toilet di kamar apartemennya. Dan pemuda itulah yang membawanya ke rumah sakit ini. Hampir dua jam lebih Jingga belum sadarkan diri. Demamnya semakin tinggi. Livi sudah mengabari ibu dan adik Jingga yang berada di Kota Kembang. Dalam panggilan telepon yang singkat, ibu Jingga nampak panik dan berkata akan langsung menuju Jakarta detik itu juga.
Ruangan serba putih dan sunyi ini membuat Livi merinding. Lima tahun silam ia harus menyaksikan kedua orangtuanya menjemput ajal. Dada Livi terasa sesak. Ia berusaha mengenyahkan bayangan akan masa lalunya yang tragis. Berselang satu jam, Pak Steven, Pak Heri, dan beberapa pejabat tinggi lainnya berkunjung ke rumah sakit membesuk Jingga. Mereka menyampaikan ungkapan prihatin dan membawakan sekantong buah-buahan. Tiga jam berlalu, Jingga belum juga siuman.
Usai kunjungan direksi, Ibu dan adik Jingga datang menjenguk. Livi izin ke kantin untuk makan siang. Tentu saja dengan pemuda yang tak dikenalnya. Perut Livi sudah bernyanyi lagu aerobik sejak tadi. Makanan yang dibeli dari rumah makan, ketinggalan di apartemen Jingga. Suasana di kantin tak jauh berbeda dengan di ruang rawat inap. Sunyi dan senyap. Hanya suara piring, garpu, dan sendok yang terdengar. Sesekali suara dari pengunjung yang baru masuk. Meski terkenal cerewet dan bawel, kali ini Livi tidak berselera bicara terlalu banyak. Ia hanya menjawab seperlunya jika pemuda asing itu bertanya. Setelah menandaskan makan siang, ia kembali ke kamar rawat inap. Jingga belum jua sadar.
**
Siang itu langit Jakarta mendung mengundang. Jalanan masih becek bekas hujan tadi pagi. Bunyi klakson yang saling bersahutan serta ulah para pengendara roda dua dan empat yang tidak mau mengalah, membuat siang ini terasa buruk. Para pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya di lampu merah, pengamen-pengamen berkeliaran dari mobil satu ke mobil lain, meminta uang paksa pada penumpang. Jika tidak diberi, mereka akan melakukan tindak kriminal, memakan silet, dan berorasi panjang lebar, bilang belum lama keluar dari penjara dan sekarang akan mencari korban baru. Namun tidak dalam ruangan kecil yang sunyi senyap, seorang gadis malang sedang menjalani masa gawat darurat. Matanya terpejam rapat.
“Kau kan tahu, Nak, Jingga memang keras wataknya. Mohon bersabar menanggapinya,” ucap ibu Jingga pada Livi.
“Iya, Bu, aku akan berusaha sabar mengikuti kemauannya. Andai saja dia tidak nekat menerjang hujan, pastilah tidak seperti ini keadaannya.” Livi memandang wajah Jingga yang pucat, sedikit kesal jika harus mengingat tragedi kemarin siang.
“Sebenarnya, Jingga sakit bukan karena kehujanan. Sejak kecil tubuhnya kebal oleh air hujan. Jingga adalah gadis penikmat hujan.” Ibu Jingga menatap Livi. “Ada sesuatu yang ia pikirkan. Dia terus bertanya di mana keberadaan ayahnya. Ibu tak bisa menjelaskan. Laki-laki pengecut itu mungkin sudah ditelan paus. Sebulan lalu, Jingga pulang ke Bandung, wajahnya ceria. Ia langsung memanggil adiknya - Ninda, berkata tentang kesuksesannya di Jakarta. Berharap apa yang dilakukannya menular pada Ninda. Tapi mendadak wajahnya terlipat, katanya kebahagiaannya belum lengkap tanpa kehadiran ayah yang telah meninggalkannya semasih dia berusia sebelas tahun. Untuk mengalihkan topik, Ibu bertanya tentang calon menantu. Wajah Jingga semakin terlipat.”
Livi duduk takzim, mendengarkan ibu dengan seksama tanpa memotong sepatah kalimatpun, kemudian menatap Ninda sekilas. Ninda menghela napas.
“Kesuksesan bukan hanya diukur berdasarkan pangkat seseorang, tapi juga status sosial. Bagaimana mungkin dikatakan sukses bila tidak punya keluarga lengkap, demikian ucap Jingga. Nampaknya Jingga memendam sakit hatinya sendirian. Ia teramat sangat membenci ayahnya, mendendam pada hampir semua laki-laki yang kerap membuatnya menangis. Menurut Jingga, semua laki-laki di muka bumi ini tak ada bedanya, pecundang.” Ibu menarik napas, lalu melanjutkan, “Setelah bersalaman dan memberikan oleh-oleh pada kami, lantas dia langsung pamit kembali ke Jakarta.” Ibu menarik napas lagi, menatap nanar putri sulungnya.
Livi ikut menatap Jingga. “Oo, jadi karena itu?” Ia memperhatikan kelopak mata Jingga yang sembab, di matanya yang terpejam, terlihat rona kesedihan yang selama ini tak terbaca olehnya. Pantas saja, sebulan ini tingkah Jingga aneh. Livi berkata-kata dalam hati.
“Bukan pertama kalinya Kak Jingga seperti ini, Kak Livi. Dulu setiap kali pulang, Kak Jingga selalu curhat padaku, bahwa dia pun ingin menjadi wanita normal yang memiliki keluarga lengkap, tapi ia selalu gagal, mengelak bahwa ini bukan kemauannya untuk terus hidup melajang. Berumahtangga bukan hanya menyatukan kedua belah pihak. Tapi juga butuh kecocokan antara pihak satu dengan pihak lainnya. Katanya, jodoh itu adalah kecocokan antara dua hati, bila tidak cocok, namanya bukan jodoh. Demikian yang ia ucapkan pada ibu. Ninda tak sengaja mendengarnya,” tutur Ninda menambahkan penjelasan.
Ibu mengelus putri bungsunya, mahasiswi ITB semester empat. “Ibu kadang sedih, kenapa anak ibu yang cantik dan pintar ini selalu saja dibodohi oleh laki-laki? Ibu tidak ingin kisah anak-anak ibu sama mirisnya dengan kisah ibu.” Ibu menahan air matanya yang hampir tumpah.
“Semoga saja tidak, Bu. Jangan berkata begitu, Bu. Jingga selalu bilang padaku kalau ucapan itu suatu doa. Berbicaralah yang baik-baik.” Livi berusaha menenangkan hati ibu Jingga.
Pemuda itu berdiri di ambang pintu, mengusap wajah, merasa tersinggung. Berarti di mata Jingga semua laki-laki sama saja. Dan menurutnya semua wanita juga sama saja, selalu menyalahkan laki-laki. Egois. Rama ingin menyingkir, tapi itu bukanlah pilihan tepat. Bagaimanapun, ia sudah terperangkap dalam urusan mengenai Jingga sejak kejadian di bawah hujan kemarin siang.
**
Jingga mendengar samar-samar perbincangan antara ibundanya dengan Livi. Matanya bagai dilem aibon. Lengket. Usianya kini sudah 29 tahun jalan, tapi belum ada satupun tanda-tanda bahwa dirinya akan segera menyudahi masa lajang. Tangannya terasa sakit dan pegal. Ia tidak menyadari kalau selang infus merajam kulitnya hingga ke pangkal nadi.
Jingga masih terpejam, namun tidak dengan pikirannya yang terus berputar-putar. Kepalanya pusing setiap kali mengingat percakapan dengan sahabat, sanak saudara, dan handai taulan lainnya jika pulang ke kampung halaman. Semua orang bertanya hal yang sama; “Kapan menikah, Jingga? Masa belum punya calon? Kamu kan cantik, pintar, sukses lagi.” Salah satu saudaranya iseng menggoda
“Jingga, si Surya anaknya sudah sekolah, yang kedua sedang belajar berjalan. Malahan kalau tidak salah, istrinya sudah hamil tua. Anaknya hampir tiga. Nah, kamu kapan?” Salah satu tetangganya meledek.
“Teman-teman sekolahmu sudah menikah semua, Jingga. Kamu kenapa belum? Jangan terlalu banyak memilih, loh. Tidak baik. Hanya laki-laki yang pantas memilih.” Bibinya iseng menggoda.
“Anakku sudah dua, Jingga. Anakku yang besar sudah mau kelas tiga SD, sebentar lagi naik kelas empat dan yang kecil sudah lulus TK. Aku ingin anak-anak kita bersahabat seperti kita dulu. Kau jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jingga. Pikirkan pula keluarga,” Ayumi, sahabat masa sekolah SD dan SMP berkali-kali mengingatkan.
“Tinggal kamu mantanku yang belum menikah, Jingga. Ayolah lekas menyusul. Sampai kapan kamu menjomblo seperti ini terus? Aku ikut prihatin. Mana usahamu?” Surya, mantan cinta dan pacar pertamanya ikut berkomentar.
“Ya, kapan-kapan. Minta doanya saja,” selalu begitu bila menjawab pertanyaan yang membuatnya kenyang.
“Kapan-kapan? Aku sudah mendoakan, tinggal usaha kamu yang belum maksimal. Kamu ini perempuan, Jingga, ingat umur kamu yang semakin hari semakin bertambah.”
Jingga menarik napas mendengar celotehan Surya. Bilang saja aku makin tua, batinnya mendesis sebal.
“Jingga, kau tahu David? Ah, iya, sahabat SMA kita. Dia menikah saat sedang kuliah semester dua. Masa kamu kalah.” Dian, sahabat SMAnya yang juga sudah memiliki tiga putri besar, iseng membanding-bandingkan.
Jingga susah payah menelan ludah. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ia benar-benar tidak suka mendapat pertanyaan itu. Adakah pertanyaan lain yang lebih menyenangkan dan lebih berbobot selain ditanya kapan menikah? Memangnya dengan menikah urusan kelar? Hei, bahkan setelah enikah urusan semakin runyam. Dada Jingga makin sesak, kerongkongannya terasa kering, tangan kananya ngilu.
Selarik pertanyaanpun selesai. Jingga membuka matanya perlahan, silau dan bergidik ngeri setelah menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan tangan terbelit selang. Rupanya barusan buruk. Mimpi yang tak diinginkan.
“Air… Aku haus…” Jingga menjerit parau, suaranya amat pelan. Ia bagai putri duyung yang terlalu lama terdampar di daratan.
Pemuda berkemeja panjang yang mendengar rintihan Jingga, segera bergegas menghampirinya, membantu gadis itu duduk bersandarkan bantal, menyodorkan segelas air mineral ke mulutnya, kemudian mengembalikan posisi Jingga ke semula, tidur terlentang.
“Jingga, Kamu sudah sadar, Nak?” Ibu terkejut menyaksikan pria asing menopang tubuh Jingga dan membantunya memberikan air mineral. Livi juga tertegun, lalai menjaga Jingga. Beliau bangkit dari sofa coklat dan menghampiri putrinya yang masih pucat.
Jingga yang mengira mimpi mendengar percakapan antara ibundanya dengan Livi, lebih terkejut, “Loh, ibu ada di sini? Kenapa kamar apartemenku berubah?” tanyanya bingung.
“Kamu pingsan, Jingga. Tubuhmu menggigil, wajahmu pias. Aku yang panik langsung membawamu ke sini. Dan dia yang membopongmu hingga berada di ruangan ini.” Livi berdiri di samping ibu, menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga.
“Syukurlah, Jingga, demammu sedikit berkurang.” Livi membantu Jingga merapatkan selimut hingga ke dada. Jingga mengucapkan terimakasih.
Dipandangnya wajah sang ibunda yang mulai muncul bintik-bintik hitam. Jingga tersenyum hambar. Siapa sih yang tidak ingin menjadi wanita normal? Hidup bahagia bersama suami, anak, orangtua, sahabat, dan rekan sejawat? Semua orang juga pasti menginginkannya, gumamnya dalam hati.
“Ibu, katakan padaku dimana ayah? Aku ingin memarahinya, membalaskan rasa sakit ibu padanya. Orang tua tak bertanggung jawab macam dia mesti diberi pelajaran.”
Bukannya menjawab, ibu malah menangis. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak tahu. Saat kau naik ke kelas enam, ayahmu pergi entah kemana. Meninggalkan ibu, meninggalkan kamu dan adikmu-Ninda. Ibu sudah mencarinya ke segala penjuru kota, namun ia tidak ada. Sudahlah, relakan dia.”
Jingga meneteskan air mata kecewa. Laki-laki biadab itu tak bisa seenak jidat lari dari tanggung jawab. Apa salah ibu sehingga ia pergi bersama wanita lain? Memangnya anak kecil berusia sebelas tahun tidak paham dengan apa yang dialami orang dewasa?
Livi enggan berkomentar. Ia kini tahu kenapa akhir-akhir ini Jingga berubah drastis. Sikapnya yang aneh belakangan ini sudah terjawab. Ia permisi bergegas kembali ke kantor. Berjanji akan datang lagi sepulang kerja.
**
Karena tak tega membiarkan ibu dan adiknya berjaga di rumah sakit, Jingga meminta Pak Eki menjemput mereka ke apartemen. Meski ibu dan Ninda bersikeras tetap tinggal, tapi dengan tegas ia melarang, “Ada banyak malaikat dan suster yang menjagaku, Bu. Pulanglah…”
Ibu dan adik Jingga menyerah pulang ke apartemen, bilang pada suster titip anak saya. Namun ia tak berhasil mengusir pemuda itu. Jingga kalah argumen. Seketika ruangan senyap. Hanya detak jam dinding dan tetesan air dari tabung infusan yang menjadi latar suara. Gejolak jiwa yang berkecamuk, membuat darahnya panas, menghantarkan hingga ke permukaan kulitnya yang mulai berkeringat.
Kini di ruangan serba putih itu, tinggalah Jinga dan pemuda berkemeja panjang yang menghuninya. Kebisuan membuat suasana berubah canggung. Jingga pura-pura memejamkan mata.
“Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Jangan segan.” Pemuda itu menatap wajah sendu Jingga.
“Terimakasih…” jawab Jingga dengan ekspresi datar.
“Sama-sama. Anggap saja aku suster di sini. Aku akan siap melayanimu kapanpun.”
Jingga tersenyum. “Baiknya kau pulang saja. Kita baru bertemu, belum saling mengenal. Aku hanya akan merepotkanmu. Pulanglah, Tuan, biarkan suster yang menjagaku di sini.”
“Tapi bagaimanapun juga, aku ikut terlibat atas kejadian kemarin siang yang membuatmu sakit seperti sekarang ini. Jangan berpikir macam-macam tentangku, Jingga, dan jangan menolak maksud baikku. Aku sama sekali tidak ada niat jahat sedikitpun padamu. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas kelalaianku, itu saja. Mohon terimalah iktikad baikku.” Pemuda itu seperti tahu jalan pikiran Jingga.
“Baiklah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Jika kau berani macam-macam padaku, biarkan Tuhan dan para malaikat yang turun tangan menghajarmu. Aku baru kemarin dan hari ini melihatmu. Namamu saja aku tidak tahu. Bisa-bisanya kau ingin menemaniku. Jangan-jangan Livi benar, kau hendak menculikku ke bulan. Kau jelmaan alien, bukan?”
Pemuda itu tertawa mendengar tuduhan asal Jingga. “Kata teman-teman, aku ini alien yang baik hati, jadi tidak perlu takut. Oh iya, namaku Rama. Kamu Jingga, kan?” Pemuda itu mengangkat alis, tersenyum manis.
“Jelas kau sudah tahu namaku melalui teriakan Livi kemarin siang. Sudah, pulang saja! Aku sungguh merasa tidak enak merepotkanmu, Manusia Alien jadi-jadian…”
Pemuda itu tersenyum mendengar kalimat cibiran Jingga. “Sama sekali tidak merepotkan. Justru aku senang bisa membantumu.” Ia memandang sayu mata gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Jingga seorang diri di sini, hatinya sungguh tidak tega. Seperti ada bisikan halus kalau ia harus menemaninya, tidak boleh tidak, begitu perintah hatinya.
Mata Jingga terpejam, tak meneruskan pembicaraan. Nampaknya ia terangsang obat tidur yang belum lama diminumnya.
Suster-suster itu sibuk menyolokkan selang infus ke pergelangan tangan Jingga yang terkulai lemah. Sesekali memeriksa denyut nadi yang semakin pelan. Kata suster, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jingga hanya pingsan karena tidak sanggup menopang tubuhnya yang kehabisan tenaga. Denyut nadi yang pelan bukan berarti napasnya tinggal beberapa jam lagi, melainkan aktivitas yang menurun drastis.
Enggan melihat jarum suntik melukai lengan sahabatnya, Livi memutuskan keluar dari ruangan. Setelah dokter selesai menangani sahabat sekaligus atasannya itu, ia baru mau kembali ke kamar rawat inap, menyaksikan Jingga yang belum juga bangun dari tidur lelapnya. Ia berkali-kali menggoyang-goyangkan lengan kiri Jingga yang tak dililit selang infus, berbisik merayunya lekas membuka mata.
Sudah sembilan kali Livi melirik jam tangan, melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar VVIP lalu masuk lagi ke dalam. Pikirannya serba salah, antara tetap bersama Jingga, ataukah menghandle pekerjaan yang menggunung. Ia harus segera kembali ke kantor, gertaknya dalam hati. Tetapi disaat kritis seperti ini, ia urung meninggalkan Jingga seorang diri yang terbaring terlilit selang infus. Saat ini Jingga merupakan tanggungjawabnya juga.
Livi menekan kontak Pak Steven, meminta maaf karena berkas dokumen mengenai aset lancar dan cadangan kerugian piutang tertunda. Sekaligus menginformasikan bahwa Jingga masuk UGD.
Pemuda berkemeja panjang itu memperhatikan gerak-gerik Livi yang gelisah. Ia memberanikan diri mendekat. “Biar aku saja yang menunggu Jingga. Aku sedang tidak banyak pekerjaan hari ini,” bebernya menawarkan jasa.
Livi tidak menjawab. Siapa dia? Kenal saja baru kemarin siang, gumamnya dalam hati. Sebelum keluarga Jingga datang, ia tidak mau meninggalkan atasannya sendirian. Bisa-bisa Jingga diculik ke bulan.
Jingga memang keras kepala, sudah tahu demamnya tinggi, bilang baik-baik saja. Sekarang ia harus mengakui kalau tubuhnya butuh perawatan intens. Pening di kepalanya membuat ia tumbang ketika hendak menuju toilet di kamar apartemennya. Dan pemuda itulah yang membawanya ke rumah sakit ini. Hampir dua jam lebih Jingga belum sadarkan diri. Demamnya semakin tinggi. Livi sudah mengabari ibu dan adik Jingga yang berada di Kota Kembang. Dalam panggilan telepon yang singkat, ibu Jingga nampak panik dan berkata akan langsung menuju Jakarta detik itu juga.
Ruangan serba putih dan sunyi ini membuat Livi merinding. Lima tahun silam ia harus menyaksikan kedua orangtuanya menjemput ajal. Dada Livi terasa sesak. Ia berusaha mengenyahkan bayangan akan masa lalunya yang tragis. Berselang satu jam, Pak Steven, Pak Heri, dan beberapa pejabat tinggi lainnya berkunjung ke rumah sakit membesuk Jingga. Mereka menyampaikan ungkapan prihatin dan membawakan sekantong buah-buahan. Tiga jam berlalu, Jingga belum juga siuman.
Usai kunjungan direksi, Ibu dan adik Jingga datang menjenguk. Livi izin ke kantin untuk makan siang. Tentu saja dengan pemuda yang tak dikenalnya. Perut Livi sudah bernyanyi lagu aerobik sejak tadi. Makanan yang dibeli dari rumah makan, ketinggalan di apartemen Jingga. Suasana di kantin tak jauh berbeda dengan di ruang rawat inap. Sunyi dan senyap. Hanya suara piring, garpu, dan sendok yang terdengar. Sesekali suara dari pengunjung yang baru masuk. Meski terkenal cerewet dan bawel, kali ini Livi tidak berselera bicara terlalu banyak. Ia hanya menjawab seperlunya jika pemuda asing itu bertanya. Setelah menandaskan makan siang, ia kembali ke kamar rawat inap. Jingga belum jua sadar.
**
Siang itu langit Jakarta mendung mengundang. Jalanan masih becek bekas hujan tadi pagi. Bunyi klakson yang saling bersahutan serta ulah para pengendara roda dua dan empat yang tidak mau mengalah, membuat siang ini terasa buruk. Para pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya di lampu merah, pengamen-pengamen berkeliaran dari mobil satu ke mobil lain, meminta uang paksa pada penumpang. Jika tidak diberi, mereka akan melakukan tindak kriminal, memakan silet, dan berorasi panjang lebar, bilang belum lama keluar dari penjara dan sekarang akan mencari korban baru. Namun tidak dalam ruangan kecil yang sunyi senyap, seorang gadis malang sedang menjalani masa gawat darurat. Matanya terpejam rapat.
“Kau kan tahu, Nak, Jingga memang keras wataknya. Mohon bersabar menanggapinya,” ucap ibu Jingga pada Livi.
“Iya, Bu, aku akan berusaha sabar mengikuti kemauannya. Andai saja dia tidak nekat menerjang hujan, pastilah tidak seperti ini keadaannya.” Livi memandang wajah Jingga yang pucat, sedikit kesal jika harus mengingat tragedi kemarin siang.
“Sebenarnya, Jingga sakit bukan karena kehujanan. Sejak kecil tubuhnya kebal oleh air hujan. Jingga adalah gadis penikmat hujan.” Ibu Jingga menatap Livi. “Ada sesuatu yang ia pikirkan. Dia terus bertanya di mana keberadaan ayahnya. Ibu tak bisa menjelaskan. Laki-laki pengecut itu mungkin sudah ditelan paus. Sebulan lalu, Jingga pulang ke Bandung, wajahnya ceria. Ia langsung memanggil adiknya - Ninda, berkata tentang kesuksesannya di Jakarta. Berharap apa yang dilakukannya menular pada Ninda. Tapi mendadak wajahnya terlipat, katanya kebahagiaannya belum lengkap tanpa kehadiran ayah yang telah meninggalkannya semasih dia berusia sebelas tahun. Untuk mengalihkan topik, Ibu bertanya tentang calon menantu. Wajah Jingga semakin terlipat.”
Livi duduk takzim, mendengarkan ibu dengan seksama tanpa memotong sepatah kalimatpun, kemudian menatap Ninda sekilas. Ninda menghela napas.
“Kesuksesan bukan hanya diukur berdasarkan pangkat seseorang, tapi juga status sosial. Bagaimana mungkin dikatakan sukses bila tidak punya keluarga lengkap, demikian ucap Jingga. Nampaknya Jingga memendam sakit hatinya sendirian. Ia teramat sangat membenci ayahnya, mendendam pada hampir semua laki-laki yang kerap membuatnya menangis. Menurut Jingga, semua laki-laki di muka bumi ini tak ada bedanya, pecundang.” Ibu menarik napas, lalu melanjutkan, “Setelah bersalaman dan memberikan oleh-oleh pada kami, lantas dia langsung pamit kembali ke Jakarta.” Ibu menarik napas lagi, menatap nanar putri sulungnya.
Livi ikut menatap Jingga. “Oo, jadi karena itu?” Ia memperhatikan kelopak mata Jingga yang sembab, di matanya yang terpejam, terlihat rona kesedihan yang selama ini tak terbaca olehnya. Pantas saja, sebulan ini tingkah Jingga aneh. Livi berkata-kata dalam hati.
“Bukan pertama kalinya Kak Jingga seperti ini, Kak Livi. Dulu setiap kali pulang, Kak Jingga selalu curhat padaku, bahwa dia pun ingin menjadi wanita normal yang memiliki keluarga lengkap, tapi ia selalu gagal, mengelak bahwa ini bukan kemauannya untuk terus hidup melajang. Berumahtangga bukan hanya menyatukan kedua belah pihak. Tapi juga butuh kecocokan antara pihak satu dengan pihak lainnya. Katanya, jodoh itu adalah kecocokan antara dua hati, bila tidak cocok, namanya bukan jodoh. Demikian yang ia ucapkan pada ibu. Ninda tak sengaja mendengarnya,” tutur Ninda menambahkan penjelasan.
Ibu mengelus putri bungsunya, mahasiswi ITB semester empat. “Ibu kadang sedih, kenapa anak ibu yang cantik dan pintar ini selalu saja dibodohi oleh laki-laki? Ibu tidak ingin kisah anak-anak ibu sama mirisnya dengan kisah ibu.” Ibu menahan air matanya yang hampir tumpah.
“Semoga saja tidak, Bu. Jangan berkata begitu, Bu. Jingga selalu bilang padaku kalau ucapan itu suatu doa. Berbicaralah yang baik-baik.” Livi berusaha menenangkan hati ibu Jingga.
Pemuda itu berdiri di ambang pintu, mengusap wajah, merasa tersinggung. Berarti di mata Jingga semua laki-laki sama saja. Dan menurutnya semua wanita juga sama saja, selalu menyalahkan laki-laki. Egois. Rama ingin menyingkir, tapi itu bukanlah pilihan tepat. Bagaimanapun, ia sudah terperangkap dalam urusan mengenai Jingga sejak kejadian di bawah hujan kemarin siang.
**
Jingga mendengar samar-samar perbincangan antara ibundanya dengan Livi. Matanya bagai dilem aibon. Lengket. Usianya kini sudah 29 tahun jalan, tapi belum ada satupun tanda-tanda bahwa dirinya akan segera menyudahi masa lajang. Tangannya terasa sakit dan pegal. Ia tidak menyadari kalau selang infus merajam kulitnya hingga ke pangkal nadi.
Jingga masih terpejam, namun tidak dengan pikirannya yang terus berputar-putar. Kepalanya pusing setiap kali mengingat percakapan dengan sahabat, sanak saudara, dan handai taulan lainnya jika pulang ke kampung halaman. Semua orang bertanya hal yang sama; “Kapan menikah, Jingga? Masa belum punya calon? Kamu kan cantik, pintar, sukses lagi.” Salah satu saudaranya iseng menggoda
“Jingga, si Surya anaknya sudah sekolah, yang kedua sedang belajar berjalan. Malahan kalau tidak salah, istrinya sudah hamil tua. Anaknya hampir tiga. Nah, kamu kapan?” Salah satu tetangganya meledek.
“Teman-teman sekolahmu sudah menikah semua, Jingga. Kamu kenapa belum? Jangan terlalu banyak memilih, loh. Tidak baik. Hanya laki-laki yang pantas memilih.” Bibinya iseng menggoda.
“Anakku sudah dua, Jingga. Anakku yang besar sudah mau kelas tiga SD, sebentar lagi naik kelas empat dan yang kecil sudah lulus TK. Aku ingin anak-anak kita bersahabat seperti kita dulu. Kau jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jingga. Pikirkan pula keluarga,” Ayumi, sahabat masa sekolah SD dan SMP berkali-kali mengingatkan.
“Tinggal kamu mantanku yang belum menikah, Jingga. Ayolah lekas menyusul. Sampai kapan kamu menjomblo seperti ini terus? Aku ikut prihatin. Mana usahamu?” Surya, mantan cinta dan pacar pertamanya ikut berkomentar.
“Ya, kapan-kapan. Minta doanya saja,” selalu begitu bila menjawab pertanyaan yang membuatnya kenyang.
“Kapan-kapan? Aku sudah mendoakan, tinggal usaha kamu yang belum maksimal. Kamu ini perempuan, Jingga, ingat umur kamu yang semakin hari semakin bertambah.”
Jingga menarik napas mendengar celotehan Surya. Bilang saja aku makin tua, batinnya mendesis sebal.
“Jingga, kau tahu David? Ah, iya, sahabat SMA kita. Dia menikah saat sedang kuliah semester dua. Masa kamu kalah.” Dian, sahabat SMAnya yang juga sudah memiliki tiga putri besar, iseng membanding-bandingkan.
Jingga susah payah menelan ludah. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ia benar-benar tidak suka mendapat pertanyaan itu. Adakah pertanyaan lain yang lebih menyenangkan dan lebih berbobot selain ditanya kapan menikah? Memangnya dengan menikah urusan kelar? Hei, bahkan setelah enikah urusan semakin runyam. Dada Jingga makin sesak, kerongkongannya terasa kering, tangan kananya ngilu.
Selarik pertanyaanpun selesai. Jingga membuka matanya perlahan, silau dan bergidik ngeri setelah menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan tangan terbelit selang. Rupanya barusan buruk. Mimpi yang tak diinginkan.
“Air… Aku haus…” Jingga menjerit parau, suaranya amat pelan. Ia bagai putri duyung yang terlalu lama terdampar di daratan.
Pemuda berkemeja panjang yang mendengar rintihan Jingga, segera bergegas menghampirinya, membantu gadis itu duduk bersandarkan bantal, menyodorkan segelas air mineral ke mulutnya, kemudian mengembalikan posisi Jingga ke semula, tidur terlentang.
“Jingga, Kamu sudah sadar, Nak?” Ibu terkejut menyaksikan pria asing menopang tubuh Jingga dan membantunya memberikan air mineral. Livi juga tertegun, lalai menjaga Jingga. Beliau bangkit dari sofa coklat dan menghampiri putrinya yang masih pucat.
Jingga yang mengira mimpi mendengar percakapan antara ibundanya dengan Livi, lebih terkejut, “Loh, ibu ada di sini? Kenapa kamar apartemenku berubah?” tanyanya bingung.
“Kamu pingsan, Jingga. Tubuhmu menggigil, wajahmu pias. Aku yang panik langsung membawamu ke sini. Dan dia yang membopongmu hingga berada di ruangan ini.” Livi berdiri di samping ibu, menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga.
“Syukurlah, Jingga, demammu sedikit berkurang.” Livi membantu Jingga merapatkan selimut hingga ke dada. Jingga mengucapkan terimakasih.
Dipandangnya wajah sang ibunda yang mulai muncul bintik-bintik hitam. Jingga tersenyum hambar. Siapa sih yang tidak ingin menjadi wanita normal? Hidup bahagia bersama suami, anak, orangtua, sahabat, dan rekan sejawat? Semua orang juga pasti menginginkannya, gumamnya dalam hati.
“Ibu, katakan padaku dimana ayah? Aku ingin memarahinya, membalaskan rasa sakit ibu padanya. Orang tua tak bertanggung jawab macam dia mesti diberi pelajaran.”
Bukannya menjawab, ibu malah menangis. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak tahu. Saat kau naik ke kelas enam, ayahmu pergi entah kemana. Meninggalkan ibu, meninggalkan kamu dan adikmu-Ninda. Ibu sudah mencarinya ke segala penjuru kota, namun ia tidak ada. Sudahlah, relakan dia.”
Jingga meneteskan air mata kecewa. Laki-laki biadab itu tak bisa seenak jidat lari dari tanggung jawab. Apa salah ibu sehingga ia pergi bersama wanita lain? Memangnya anak kecil berusia sebelas tahun tidak paham dengan apa yang dialami orang dewasa?
Livi enggan berkomentar. Ia kini tahu kenapa akhir-akhir ini Jingga berubah drastis. Sikapnya yang aneh belakangan ini sudah terjawab. Ia permisi bergegas kembali ke kantor. Berjanji akan datang lagi sepulang kerja.
**
Karena tak tega membiarkan ibu dan adiknya berjaga di rumah sakit, Jingga meminta Pak Eki menjemput mereka ke apartemen. Meski ibu dan Ninda bersikeras tetap tinggal, tapi dengan tegas ia melarang, “Ada banyak malaikat dan suster yang menjagaku, Bu. Pulanglah…”
Ibu dan adik Jingga menyerah pulang ke apartemen, bilang pada suster titip anak saya. Namun ia tak berhasil mengusir pemuda itu. Jingga kalah argumen. Seketika ruangan senyap. Hanya detak jam dinding dan tetesan air dari tabung infusan yang menjadi latar suara. Gejolak jiwa yang berkecamuk, membuat darahnya panas, menghantarkan hingga ke permukaan kulitnya yang mulai berkeringat.
Kini di ruangan serba putih itu, tinggalah Jinga dan pemuda berkemeja panjang yang menghuninya. Kebisuan membuat suasana berubah canggung. Jingga pura-pura memejamkan mata.
“Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Jangan segan.” Pemuda itu menatap wajah sendu Jingga.
“Terimakasih…” jawab Jingga dengan ekspresi datar.
“Sama-sama. Anggap saja aku suster di sini. Aku akan siap melayanimu kapanpun.”
Jingga tersenyum. “Baiknya kau pulang saja. Kita baru bertemu, belum saling mengenal. Aku hanya akan merepotkanmu. Pulanglah, Tuan, biarkan suster yang menjagaku di sini.”
“Tapi bagaimanapun juga, aku ikut terlibat atas kejadian kemarin siang yang membuatmu sakit seperti sekarang ini. Jangan berpikir macam-macam tentangku, Jingga, dan jangan menolak maksud baikku. Aku sama sekali tidak ada niat jahat sedikitpun padamu. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas kelalaianku, itu saja. Mohon terimalah iktikad baikku.” Pemuda itu seperti tahu jalan pikiran Jingga.
“Baiklah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Jika kau berani macam-macam padaku, biarkan Tuhan dan para malaikat yang turun tangan menghajarmu. Aku baru kemarin dan hari ini melihatmu. Namamu saja aku tidak tahu. Bisa-bisanya kau ingin menemaniku. Jangan-jangan Livi benar, kau hendak menculikku ke bulan. Kau jelmaan alien, bukan?”
Pemuda itu tertawa mendengar tuduhan asal Jingga. “Kata teman-teman, aku ini alien yang baik hati, jadi tidak perlu takut. Oh iya, namaku Rama. Kamu Jingga, kan?” Pemuda itu mengangkat alis, tersenyum manis.
“Jelas kau sudah tahu namaku melalui teriakan Livi kemarin siang. Sudah, pulang saja! Aku sungguh merasa tidak enak merepotkanmu, Manusia Alien jadi-jadian…”
Pemuda itu tersenyum mendengar kalimat cibiran Jingga. “Sama sekali tidak merepotkan. Justru aku senang bisa membantumu.” Ia memandang sayu mata gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Jingga seorang diri di sini, hatinya sungguh tidak tega. Seperti ada bisikan halus kalau ia harus menemaninya, tidak boleh tidak, begitu perintah hatinya.
Mata Jingga terpejam, tak meneruskan pembicaraan. Nampaknya ia terangsang obat tidur yang belum lama diminumnya.
Puing 5 #Jingga #NovelSeries
Sore itu cuaca Jakarta bersahabat. Namun tetap saja langit tak sebiru di pedesaan. Gumpalan awan abu-abu sebenarnya bukan mendung, melainkan polusi udara dari asap pabrik dan kendaraan yang semakin merajalela. Seorang ibu repot menggendong anaknya yang masih balita. Berusaha memberikannya sebotol susu agar bayi itu tidak menangis lagi. Entah dimana suaminya berada.
“Ya, Pinang Ranti, Pinang Ranti….” Petugas Trans Jakarta berteriak kencang memanggil penumpang yang sudah menunggu berjam-jam.
Lautan manusia itu saling berebut. Aksi dorong mendorong terjadi. Namun Jingga betah dengan bacaan di tangannya. Telinganya disumpal handsfree yang mengalunkan lagu-lagu favoritnya. Ia malas menyaksikan keributan yang terjadi. Gadis mungil itu akhirnya memilih masuk ke dalam bus APTB jurusan Kampung Melayu.
“Ongkos-ongkos, ongkos-ongkos,” sang kenek menggerakkan tangannya dengan uang receh., menimbulkan bunyi seperti kerecekan. Itulah bahasa isyarat yang aneh guna menagih bayaran pada penumpang.
Jingga mengeluarkan satu lembar uang lima ribuan dan diberikannya kepada pak kondektur yang berkeliling memintai ongkos pada penumpang yang baru masuk. Tak apalah merogoh isi dompet membayar lagi jatah angkot. Yang penting dirinya bisa duduk dengan tenang dan nyaman. Tidak perlu berdesak-desakan dan bergelantungan macam orang hutan.
Sudah lima jam Jingga berkeliling menggunakan jasa Trans Jakarta dan APTB tanpa tujuan yang jelas. Kalau lapar, ia mampir ke rumah makan, kalau kebelet pipis, dia ke mal cari toilet, mau menonton, tinggal lari ke bioskop, bosan dengan kemacetan, ia melipir ke toko buku. Apapun yang ia mau, sesuka hatinya dimanjakan. Dari mulai berdiri, hingga duduk. Dari yang berhimpitan, hingga mengangkat kaki ke jok. Dari tujuan Jakarta Barat, selatan, utara, hingga timur.
Sebenarnya ia bisa saja mengemudikan mobil Jazz sendiri, atau meminta Pak Eki – supir pribadinya, untuk menemani. Tapi sudah lama ia tenggelam dengan kesibukannya sebagai wanita kantoran. Ia ingin bepergian sendiri. Mengejar angkot, menunggu berjam-jam, dan membaur dengan masyarakat Jakarta lainnya.
Ini adalah weekend pertamanya setelah keluar dari rumah sakit yang membosankan itu. Ia melirik tangan kanannya yang terluka bekas jarum suntik dan selang infus. Perih.Hatinya pun merasa demikian, perih oleh tusukan luka masa lalu akan cinta. Namun tiba-tiba ingatannya mendarat pada laki-laki yang menemaninya siang malam di unit gawat darurat.
“Sakit?” tanyanya.
Jingga mengangguk.
Laki-laki itu melayaninya sepenuh hati. Tak beranjak sedetikpun menjaganya. Mengambil air saat dirinya haus, menopangnya ketika kebelet buang air kecil, menyuapinya dengan sabar, dan menyelimutinya dengan ucapan selamat istirahat. Aneh, padahal mereka belum saling mengenal. Jingga senyum-senyum sendiri tiap kali mengingatnya.
Gadis itu mencoba mengalihkan pikirannya pada gedung-gedung tinggi di kanan dan kiri yang seperti berlari menyerupai atlet maraton. Lagu Fight Song milik Rachel Platten mengiang di telinganya, memanjakan hati yang berperang atas perlawanan jiwanya. Koran yang baru saja dibelinya, dimasukkannya ke dalam tas selempangan polos yang merupakan hadiah dari Dika, mantan calon tunangannya tiga tahun silam. Selera bacanya hilang jika tiba di bagian dunia politik.
Sejak tubuhnya terbaring lemah selama dua hari dua malam, ia berkeinginan untuk membebaskan dirinya dengan berjalan-jalan. Entah mau kemana kedua kakinya membawanya pergi. Berkeliling Jakarta merupakan salah satu caranya mengatasi kejenuhan.
**
Di tempat lain, Rama sedang memasangkan dasi cokelat polos ke kemeja putihnya. Ganteng nian penampilannya sore ini, gumanmnya mencoba menghibur hati. Hidungnya yang mancung bak burung rajawali, serasi dengan raut mukanya yang mempesona. Bila Jingga melihatnya, mungkin perempuan itu jatuh hati. Sayang, hati Jingga keras sekali. Ia teringat kata-kata Livi. Menurutnya semua lelaki sama saja. Tak ada yang benar-benar tulus dan baik, semuanya menyebalkan. Itu pun kata Livi saat menjenguk Jingga di rumah sakit.
Rama berjalan penuh semangat memasuki lift. Sepatu hitam mengkilapnya membuat ia semakin gagah saja. Sore ini ia akan menghadiri acara seminar kliennya, yang memamerkan hasil karya tangannya di sana. Namun kakinya berhenti persis di depan pintu apartemen Jingga yang tertutup rapat. Selama ini ia ingin sekali mengetuk pintu itu, mengajaknya keluar untuk sekadar mencari angin, atau menemaninya makan malam. Tapi ia tak pernah berani melakukannya.
Saat pertama kali bertemu dengan Jingga, Rama merasa semua ini merupakan kebetulan. Ia bahkan kaget saat Livi menawarkan untuk ikut menjenguknya di apartemen yang sama, lantai yang sama. Tapi biarlah Jingga mengetahuinya sendiri kalau ternyata mereka hanya terhalang tiga kamar.
Sejak pernikahannya yang batal tiga tahun silam, Rama lebih memilih memulai kehidupan baru di kota metropolitan. Kota yang sangat ia benci karena kesumperkan dan keliaran manusianya. Ia rela meninggalkan kkota kelahirannya hanya untuk melupakan kesedihannya. Dengan bermodal keahlian melukis dan design, ia merintis karirnya dari awal, berharap nasib baik menyambutnya. Ia tak menyangka akan sesukses ini di kota orang.
Namun tak dapat dipungkiri, kenangan masa lalu yang menyedihkan itu, selalu menjelma dalam kesehariannya. Saat ia melukis, saat termenung di toilet, saat bercakap dengan klien, dan saat apapun itu. Semuanya terlalu menyakitkan. Hukum keluarga yang diterapkan, membuatnya pusing. Kenapa harus ada kasta? Kenapa kekasihnya memilih membatalkan janji suci saat kalender sudah tinggal beberapa hari lagi? Kenapa calon istrinya justru memilih menikah dengan pria lain? Kenapa? Hatinya sungguh ingin meledak. Ia benci ketika harus mengenang puing kisah masa lalunya itu.
Rama mengencangkan dasi. Berusaha mengenyahkan bayangan masa lalunya yang terus membuntuti. Kalau saja ikatan dasi itu mampu membunuhnya seketika tanpa rasa sakit, mungkin sudah ia lakukan. Untungnya dia masih punya akal sehat untuk tidak mati sia-sia. Ia bercermin pada dinding lift yang mengkilap, merapikan anak rambut yang berantakan dengan tangannya. Tiba-tiba ia menangkap sosok Jingga di cermin itu. Jingga yang tersenyum manis memberikan ucapan terimakasih karena sudah dilayani dengan tulus.
Ia berusaha menampik. Tapi wajah Jingga semakin jelas. Ia membalikkan tatapannya ke arah lain. Masih sama. Jingga masih tersenyum manis. Pemuda itu mengusap wajah, buru-buru keluar setelah lift tiba di basemant.
Laki-laki selalu penuh logika. Ia rela menjadi pelayan otodidak hanya karena dirinya hidup di negeri orang. Jauh dari keluarga, kerabat, dan sanak saudara. Bila saja apa yang terjadi pada Jingga menimpanya, mungkin Jingga akan melakukan hal yang sama, merawatnya. Itulah kenapa ia berbaik hati menemani Jingga 48 jam di rumah sakit. Meski mereka belum saling mengenal satu sama lain.
***
Angin dari barat bertiup cukup kencang. Menyapu debu dan menerbangkan sampah-sampah kecil yang dibuang sembarang oleh oknum tak bertanggungjawab. Lalu-lalang manusia berseliweran di sepanjang jembatan busway. Ada yang sendiri, berdua, serta bergerombol dengan teman-teman dan keluarga mereka.
“Nanti kita mampir dulu ke pameran lukisan di kampus UKI.” Salah satu muda-mudi berceloteh pada teman sebayanya.
Jingga berjalan santai meniti jembatan yang menurun. Di sepanjang trotoar kawasan UKI, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan andalan mereka. Ada batu akik, pernak-pernik tas, sepatu, ikat pinggang, sarung tangan, makanan, minuman, dan dagangan lainnya yang tumpah ruah hingga memakan seperempat badan jalan dan membuat macet.
Gadis itu mengamati satu per satu pedagang kaki lima. Ia berhenti di tempat penjualan sepatu. Tangannya meraba sepatu kets bertali dan mencoba memakainya. Ukurannya kebesaran. Jingga mencopotnya lagi. Pedagang yang melihat, menghampiri dan mengintip ukuran kaki mulus nan mungilnya yang hanya 37. Itu saja kadang masih kendor. Ah, kalau boleh jujur, sebenarnya dia tidak berniat membeli. Tapi berhubung sang pemilik lapak teramat agresif, mau bilang apa lagi.
Pedagang kaki lima itu mencarikan ukuran yang paling pas untuk ukuran kaki Jingga yang mungil. Sambil menunggu, Jingga melihat-lihat sepatu model lainnya yang sengaja digantung dengan berbagai corak, bentuk dan warna. Ada sepatu untuk kerja, sekolah, olahraga, santai, dan sebagainya.
“Ini, Neng. Dicoba dulu saja,”
Dengan terpaksa, Jingga melepas lagi sandal tepleknya, memasukkan kakinya ke dalam sepatu yang disodorkan sang penjual. Ia bisa saja pergi ke swalayan untuk membeli merk ternama yang kualitasnya jauh lebih mumpuni.
“Muat, Mbak. Bagus. Ini harganya berapa?” Jingga memperagakan gaya catwalk. Berusaha menyenangkan hati pemilik lapak.
“Rp 65.000, Neng,”
Jingga mengangkat kepala. Murah sekali… batinnya berkata demikian.
“Sebenarnya saya tidak bermaksud membeli. Tadi saat menuruni anak tangga, mata saya terpaku dengan sepatu kets ini. Sayapun penasaran dan segera kemari untuk menyentuhnya.” Jingga memperhatikan dengan detil sepatu yang kini ada di tangannya. Kelihatannya bagus, tapi pasti baru dipakai sehari saja sudah rusak, pikirnya.
“Tidak beli juga tidak apa-apa, Neng. Dilihat dulu saja. Siapa tahu tertarik,” Wanita berjilbab itu menyunggingkan senyum.
“Selain warna hitam, ada warna lain?”
“Ada warna putih dan abu-abu. Sebentar, saya ambilkan.” Wanita berjilbab itu berlalu lagi.
“Ini! Ukurannya ada yang pas dengan kaki si Neng,”
Jingga memasangkannya kembali sepatu yang disodorkan penjual. Masih agak kendor sedikit. Tetapi lumayan untuk mengejar busway. Ia pun membelinya.
“Mbak sudah lama berjualan di sini?” Jingga mengeluarkan uang yang disebutkan pedagang sepatu tanpa menawar seperakpun. Keterlaluan sekali bila seorang Jingga, seorang manager di perusahaan go public, tega menawar dengan pedagang kaki lima.
Pedagang itu menerima uang dari Jingga dan langsung memasukkannya ke dalam dompet hitam besar yang diikat di pinggangnya. “Sudah lama, Neng.”
“Apa Mbak tidak takut kalau ada razia dari tata dinas kota?” Jingga menyelonjorkan kakinya di trotoar.
“Takut sih, Neng. Ya mau bagaimana lagi. Cari pekerjaan di Jakarta susah-susah gampang. Kadang kita harus sembunyi-sembunyi dari Satpol PP, mesti pintar memutar otak.” Dahi perempuan itu terlipat.
“Ada ongkos premannya, kah?” Jingga memasukkan sepasang sepatu kets putih ke dalam tas selempangnya. Tertarik mendengar cerita langsung dari pedangan pinggir jalan yang selama ini menjadi bulan-bulanan pemerintah karena memakai jalan umum dan menimbulkan kemacetan. Ada kalanya kita yang awam ilmu pengetahuan sosial, perlu sesekali berbicara dari hati ke hati dengan mereka terkait kondisi sebenarnya.
“Pasti ada, atuh. Namanya juga Jakarta. Semuanya serba ada. Usaha bentuk apapun bisa ditemukan di sini, tidak mengenal halal dan haram. Beginilah, Neng, hidup jadi perantau yang serba kekurangan. Tapi Alhamdulillah, sekarang keluarga kami berkecukupan.” Ibu itu mengusap hidung.
Suara klakson berseru membuat bising. Kemacetan sore tak terindahkan. Para pejalan kaki semakin ramai, mengalah melangkah di bahu jalan lantaran trotoar yang menjadi haknya diambil alih. Jingga memperbaiki kunciran rambutnya yang mengendor, sambil memerhatikan kesibukan di sekitarnya yang semakin ramai oleh lalu-lalang mahasiswa.
“Nominalnya besar?” Jingga meneguk air mineral.
“Lumayan. Ketimbang harus menyewa lahan di mal atau pameran. Kadang kalau berjualan di mal, omsetnya suka naik turun. Justru banyak turunnya.”
“Misalnya?” Jingga melipat kedua kakinya di atas karpet kecil dekat rak sepatu. Memandangi sang ibu, tak sabar menunggu celotehan berikutnya.
“Di mal itu tempatnya orang elit. Mana mau dengan barang murahan yang serba KW. Mereka lebih memilih barang mahal yang sudah pasti kualitasnya.” Perempuan itu cekatan merapikan sepatu yang tidak berada pada tempatnya.
“Pasti si Mbak dapat supplier langganan ya? Makanya berani kasih harga murah.”
“Benar, Neng. Kala tidak langganan, mana mungkin saya memperoleh gross profit / keuntungan dari hasil penjualan sepatu KW ini. Jangan salah, lho.. Dalam sehari saya bisa meraup untung rata-rata lima ratus ribu.”
Jingga mengangguk-angguk, berdecak kagum. Secara tidak sadar otaknya mengalkulasi pendapatan si ibu selama sebulan penuh. Seumpama dalam sebulan itu sang ibu berjualan tanpa libur dan tanpa embel-embel diusir Satuan lalulintas Polisi RI, maka gross profit yang diperoleh kurang lebih 15 juta? Wow, angka yang sangat fantastis.” Pekiknya dalam hati.
“Kalau suami Mba kerja di mana?” tanya Jingga lagi, yang lebih tepatnya ingin bertanya; “Suamimu kerja sebagai apa?”
“Kerja bareng dengan saya. Tapi dia sedang mengantar anak saya yang ke-2 les Bahasa Inggris. Pembantu yang biasa mengantar sedang mudik.”
English? Pembantu? Bagaimana bisa? Jingga melipat dahi.
“Pasti si Neng tidak percaya kan kalau seorang pedagang kaki lima seperti saya bisa mengursuskan anaknya Bahasa Inggris?” perempuan itu tersenyum. Jingga membalas dengan senyum tanggung.
“Si Neng juga pasti tidak akan percaya kalau saya dan suami lulusan Sarjana Ekonomi. Sejak lulus kuliah sepuluh tahun silam, kami berdua sama-sama mencari pekerjaan di kantor orang. Tapi ternyata bekerja sebagai pegawai kantor lebih banyak makan hatinya. Kadang bila beruntung mendapatkan atasan yang baik, rekan kerja banyak yang syirik, lantas mereka memusuhi kita. Kadang jika rekan kerja asyik, bosnya yang semena-mena. Disamping itu, gajinya ngepas, tidak cukup untuk menabung dan memberi orangtua. Alhasil kami berwiraswasta. Hasilnya lumayan. Lima kali lipat dari hasil kerja kantoran.” Perempuan itu telah selesai merapikan sepatu.
Jingga menggigit bibir, manggut-manggut mendengar sang wiraswastawati mencurahkan isi hati.
“Anak saya yang pertama sudah kelas tiga sekolah dasar. Dia sekolah di sekolahan Internasional. Anak yang pintar, nurut, dan berbakat.” Perempuan itu tersenyum sendiri. “Dan kami juga punya dua pembantu di rumah. Satu bertugas bersih-bersih, satunya bertugas memegang anak yang paling kecil, baru umur 6 bulan.” Ucapnya penuh bangga.
“Anak Mbak ada tiga?”
Perempuan itu mengangguk. “Kalau si Neng sudah berkeluarga?”
“Belum. Saya masih single,” Jingga benci dengan pertanyaan itu.
“Maaf, saya kira sudah berkeluarga.”
“Tak apa. Banyak yang bertanya begitu. Dan mungkin sudah sepantasnya begitu. Tapi faktanya saya masih betah sendiri.” Jingga tersenyum kecut sambil memperbaiki posisi duduknya.
Perbincangan singkat dengan sang pemilik lapak membuat hati Jingga terenyuh. Wanita itu tidak cantik, tapi punya pasangan yang setia. Kenapa orang lain gampangnya meraih kesuksesan? Bahagianya orang ini memiliki partner yang rela berjuang bersama-sama demi kesuksesan. Jingga mendadak sedih. Ia undur diri dan mengucapkan terimakasih pada perempuan yang membuka matanya bahwa tak selamanya pedagang kaki lima berpendidikan rendah, dan tak selamanya tampang pas-pasan tidak laku di pasaran dunia percintaan. Cantik itu relative, karena yang menilai itu hati, bukan mata. Tapi kadang memiliki hati yang cantik sekalipun masih rentan dikelabuhi.
Langit sore bersemu keemasan di bagian barat cukup meneduhkan hati yang panas. Kebisingan yang tak pernah usai serta hiruk pikuknya Jakarta menjadi karakter kuat mengapa kota ini dikatakan sangat kejam. Semua manusia dari nusantara berkumpul di sini. Menjadi perantau demi sesuap nasi yang begitu mahal. Para pejalan kaki semakin ramai. Saling berceloteh tentang kehidupan mereka masing-masing. Tertawa. Nampaknya tidak ada yang sesedih hatinya.
**
Usai menghadiri undangan kliennya, Rama iseng berjalan sebentar melihat keramaian ibukota sore hari di sekitar Jalan Mayjen Sutoyo, Jakarta Timur. Ia memarkir mobilnya di basemant Kampus UKI. Tidak mengapa pulang telat. Toh di apartemennya tidak ada yang menanti-nanti kehadirannya. Tiga tahun dalam kesibukan tanpa seseorang, membuatnya bebas melakukan apapun yang ia suka. Selama itu masih dalam lingkup yang positif.
Langkah Rama terhenti ketika mendapati seorang wanita imut yang beberapa hari terakhir muncul dalam otaknya. Ia mengucek mata. Semoga hanya halusinasi. Perempuan itu mengenakan kaos oblong berwarna putih, menguncir rambutnya tinggi-tinggi, memakai sandal teplek, dan duduk bersila di karpet salah satu pedagang kaki lima.
Nalurinya menyuruh mendekat. Mencoba menguping apa yang sedang mereka bicarakan. Alamak, gadis itu sungguh manis, meski wajahnya tak beralaskan bedak sama sekali. Bibirnya yang merah merekah, sudah beberapa kali menyunggingkan senyum menawan. Apa yang dilakukan gadis itu di sini? Tanyanya dalam hati.
“Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dari Mbak. Terimakasih banyak atas jiwa enterpreunershipnya. Kalau saja Mbak adalah seorang Mario Teguh, mungkin saya harus bayar mahal untuk mengikuti seminar singkat ini. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi.” Jingga tertawa renyah pada perempuan yang berdiri di hadapannya. Kemudian pamit.
Rama kagum pada sosok Jingga kali ini. Sungguh apa yang dipikirkannya selama ini salah. Bahwa Jingga hanyalah orang kaya yang sombong. Gadis jutek yang enggan bersahabat dengan rakyat kecil. Pemandangan ini membuat dirinya meralat perkataannya. Jingga adalah gadis sederhana dan apa adanya.
Tak perlu repot mengejar langkah Jingga. Namun langkahnya yang cepat, dan pengawakannya yang mungil, mudah untuk gadis itu menyelip di kerumunan. Rama berteriak memanggil nama gadis itu. Sayang, kedua telinganya disumpal handsfree. Gadis itu tidak mendengar teriakannya.
Dengan wajah kecewa, Rama membalik badan dan menuju parkiran. Pikirannya masih tersendat pada gadis berkulit putih yang terus membayangi hari-harinya belakangan ini. Ia menyalakan mesin mobil Fortunernya, melaju dengan kecepatan lambat karena kemacetan super panjang yang tidak bisa ditoleransi.
Jingga itu laksana bunglon. Kadang jutek, sendu, lucu, ceria, juga misterius. Ah, dia memang penuh teka-teki. Dalam benaknya yang kecewa, di lampu merah itu ia melihat Jingga sedang menyeberangi zebra cross. Tanpa ragu, Rama membuka pintu mobilnya dan mengejar gadis berpakaian santai yang sedang menikmati es krim di tangan kanannya.
“Jingga…” Rama berteriak lagi.
Gadis itu menoleh, mematung.
Seketika lampu berwarna hijau. Dua anak manusia itu membuat pengendara lain geregetan. Suara klakson bersahutan melengking ke telinga. Menyemaraki adegan keduanya di tengah jalan raya.
“Lekas naik mobilku!” Rama menarik paksa lengan Jingga yang mematung di tengah jalan raya.
“Astaga, Rama. Es krimku mau jatuh. Aku baru saja menjilatnya lima kali.” Jingga mengaduh sakit karena laki-laki asing itu menggeretnya tanpa ampun.
Pemuda itu tak mempedulikan. Ia menarik pedal gas dan melaju dengan kecepatan normal. Diliriknya gadis bunglon yang berada di samping kirinya. Jingga yang sedang manyun menatap lurus jalanan. Rama tersenyum menyaksikan wajah sebal Jingga. Kadang ekspresi seseorang bila sedang kesal, terlihat lebih lucu dan sayang jika tidak menggodanya.
“Aku tidak ingin kau tertabrak, Jingga.” Rama menoleh sebentar, memerhatikan mimik wajah Jingga yang terlipat, sebelum akhirnya fokus mengemudi.
“Tanganku sakit. Lihat ini! Merah bukan? Kau jahat sekali,” Jingga menunjukkan pergelangan tangannya yang merah akibat dicengkram Rama barusan.
Rama tersenyum. Gadis ini memang menggemaskan.
“Oh ya, aku tidak sempat meminta kontakmu saat kau mengantarku pulang dari rumah sakit.” Jingga mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang.
Rama mengangkat bahu, “Tentu tidak sempat. Kau kan wanita paling sibuk se-planet bumi. Sedang sakit saja masih sibuk memikirkan pekerjaan.”
Jingga melotot sebal. Tidak jadi meminta kontak laki-laki menyebalkan itu. Ia membalikkan wajahnya ke jendela, buru-buru menghabiskan es krim connya yang mencair. Memang sih, pada saat meringkuk di rumah sakit, Jingga terus menghubungi Livi, memantau dan mengontrol beberapa anak buahnya terkait pekerjaan urgent melalui telepon dan chatting.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rama tanpa menoleh.
“Baik,” Jingga menjawabnya singkat. Juga tanpa menoleh.
“Aku akan membelikanmu es krim yang jauh lebih besar dari ini.”
“Benarkah?” Jingga menatap Rama lamat-lamat. Matanya mengerjap-erjap macam anak kecil.
“Kukira kau mahasiswi yang sedang belanja sepatu di pedagang kaki lima, dan kemudian membeli es krim sambil menjilatinya di lampu merah,”
Jingga memanyunkan bibir, “Pedagang kaki lima itu telah menjadi guruku. Kau jangan merendahkan mereka. Manusia seringkali menilai manusia lainnya berdasarkan kerangka luar, warna kulit, dan kedudukan. Jika kau mau menelaah, sedikiiiitt saja…” Jingga menempelkan jempol dan kelingking tangannya, memasang wajah serius.
“Siapa kira mereka yang kita remehkan ternyata memiliki value / nilai yang jauh lebih berkelas, jauh lebih elit, jauh lebih jenius dari kita. Siapa kira seorang pedagang kaki lima yang jualan dagangannya di pinggir jalan, yang berperang dengan bisingnya kendaraan, sarat polusi, harus siap siaga dengan satuan lalulintas polisi atau satlantas polri, adalah orang-orang yang cerdas, merdeka, dan sukses. Siapa kira? Mereka berani menjadi diri sendiri, mereka bertanggungjawab atas resiko sendiri.” Tukas Jingga sambil mengelap mulutnya yang belepotan oleh es krim.
“Iya, aku tahu itu.” Rama tersenyum. Kali ini Jingga mirip sekali dengan mahasiswi semester awal. Wajahnya imut dan tidak sedewasa yang ia lihat kemarin siang. Jingga benar-benar mirip bunglon.
Kamu manis, Jingga, sungguh. Selain manis, kamu juga terbuka pada hal-hal umum, pada hal-hal sepele yang belum tentu orang lain mau peduli. Kau pelajar yang ulung. Jangan salahkan aku kalau aku kagum padamu. Sayang, kalimat itu hanya menggantung di tenggorokan Rama. Pita suaranya seakan bersembunyi, enggan membantunya bicara.
Berada di dekat Jingga, ia lupa dengan kemacetan yang luar biasa parah. Rama memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan di daerah Sarinah. Dengan pakaian Rama yang formal, dan Jingga yang abal-abal, mereka PD berkeliling mal di antara ratusan mata yang memandang. Tertawa. Ini adalah kali pertamanya Rama mendengar tawa lepas Jingga. Juga untuk kali pertamanya Jingga mengenal sosok Rama yang menyenangkan.
“Ya, Pinang Ranti, Pinang Ranti….” Petugas Trans Jakarta berteriak kencang memanggil penumpang yang sudah menunggu berjam-jam.
Lautan manusia itu saling berebut. Aksi dorong mendorong terjadi. Namun Jingga betah dengan bacaan di tangannya. Telinganya disumpal handsfree yang mengalunkan lagu-lagu favoritnya. Ia malas menyaksikan keributan yang terjadi. Gadis mungil itu akhirnya memilih masuk ke dalam bus APTB jurusan Kampung Melayu.
“Ongkos-ongkos, ongkos-ongkos,” sang kenek menggerakkan tangannya dengan uang receh., menimbulkan bunyi seperti kerecekan. Itulah bahasa isyarat yang aneh guna menagih bayaran pada penumpang.
Jingga mengeluarkan satu lembar uang lima ribuan dan diberikannya kepada pak kondektur yang berkeliling memintai ongkos pada penumpang yang baru masuk. Tak apalah merogoh isi dompet membayar lagi jatah angkot. Yang penting dirinya bisa duduk dengan tenang dan nyaman. Tidak perlu berdesak-desakan dan bergelantungan macam orang hutan.
Sudah lima jam Jingga berkeliling menggunakan jasa Trans Jakarta dan APTB tanpa tujuan yang jelas. Kalau lapar, ia mampir ke rumah makan, kalau kebelet pipis, dia ke mal cari toilet, mau menonton, tinggal lari ke bioskop, bosan dengan kemacetan, ia melipir ke toko buku. Apapun yang ia mau, sesuka hatinya dimanjakan. Dari mulai berdiri, hingga duduk. Dari yang berhimpitan, hingga mengangkat kaki ke jok. Dari tujuan Jakarta Barat, selatan, utara, hingga timur.
Sebenarnya ia bisa saja mengemudikan mobil Jazz sendiri, atau meminta Pak Eki – supir pribadinya, untuk menemani. Tapi sudah lama ia tenggelam dengan kesibukannya sebagai wanita kantoran. Ia ingin bepergian sendiri. Mengejar angkot, menunggu berjam-jam, dan membaur dengan masyarakat Jakarta lainnya.
Ini adalah weekend pertamanya setelah keluar dari rumah sakit yang membosankan itu. Ia melirik tangan kanannya yang terluka bekas jarum suntik dan selang infus. Perih.Hatinya pun merasa demikian, perih oleh tusukan luka masa lalu akan cinta. Namun tiba-tiba ingatannya mendarat pada laki-laki yang menemaninya siang malam di unit gawat darurat.
“Sakit?” tanyanya.
Jingga mengangguk.
Laki-laki itu melayaninya sepenuh hati. Tak beranjak sedetikpun menjaganya. Mengambil air saat dirinya haus, menopangnya ketika kebelet buang air kecil, menyuapinya dengan sabar, dan menyelimutinya dengan ucapan selamat istirahat. Aneh, padahal mereka belum saling mengenal. Jingga senyum-senyum sendiri tiap kali mengingatnya.
Gadis itu mencoba mengalihkan pikirannya pada gedung-gedung tinggi di kanan dan kiri yang seperti berlari menyerupai atlet maraton. Lagu Fight Song milik Rachel Platten mengiang di telinganya, memanjakan hati yang berperang atas perlawanan jiwanya. Koran yang baru saja dibelinya, dimasukkannya ke dalam tas selempangan polos yang merupakan hadiah dari Dika, mantan calon tunangannya tiga tahun silam. Selera bacanya hilang jika tiba di bagian dunia politik.
Sejak tubuhnya terbaring lemah selama dua hari dua malam, ia berkeinginan untuk membebaskan dirinya dengan berjalan-jalan. Entah mau kemana kedua kakinya membawanya pergi. Berkeliling Jakarta merupakan salah satu caranya mengatasi kejenuhan.
**
Di tempat lain, Rama sedang memasangkan dasi cokelat polos ke kemeja putihnya. Ganteng nian penampilannya sore ini, gumanmnya mencoba menghibur hati. Hidungnya yang mancung bak burung rajawali, serasi dengan raut mukanya yang mempesona. Bila Jingga melihatnya, mungkin perempuan itu jatuh hati. Sayang, hati Jingga keras sekali. Ia teringat kata-kata Livi. Menurutnya semua lelaki sama saja. Tak ada yang benar-benar tulus dan baik, semuanya menyebalkan. Itu pun kata Livi saat menjenguk Jingga di rumah sakit.
Rama berjalan penuh semangat memasuki lift. Sepatu hitam mengkilapnya membuat ia semakin gagah saja. Sore ini ia akan menghadiri acara seminar kliennya, yang memamerkan hasil karya tangannya di sana. Namun kakinya berhenti persis di depan pintu apartemen Jingga yang tertutup rapat. Selama ini ia ingin sekali mengetuk pintu itu, mengajaknya keluar untuk sekadar mencari angin, atau menemaninya makan malam. Tapi ia tak pernah berani melakukannya.
Saat pertama kali bertemu dengan Jingga, Rama merasa semua ini merupakan kebetulan. Ia bahkan kaget saat Livi menawarkan untuk ikut menjenguknya di apartemen yang sama, lantai yang sama. Tapi biarlah Jingga mengetahuinya sendiri kalau ternyata mereka hanya terhalang tiga kamar.
Sejak pernikahannya yang batal tiga tahun silam, Rama lebih memilih memulai kehidupan baru di kota metropolitan. Kota yang sangat ia benci karena kesumperkan dan keliaran manusianya. Ia rela meninggalkan kkota kelahirannya hanya untuk melupakan kesedihannya. Dengan bermodal keahlian melukis dan design, ia merintis karirnya dari awal, berharap nasib baik menyambutnya. Ia tak menyangka akan sesukses ini di kota orang.
Namun tak dapat dipungkiri, kenangan masa lalu yang menyedihkan itu, selalu menjelma dalam kesehariannya. Saat ia melukis, saat termenung di toilet, saat bercakap dengan klien, dan saat apapun itu. Semuanya terlalu menyakitkan. Hukum keluarga yang diterapkan, membuatnya pusing. Kenapa harus ada kasta? Kenapa kekasihnya memilih membatalkan janji suci saat kalender sudah tinggal beberapa hari lagi? Kenapa calon istrinya justru memilih menikah dengan pria lain? Kenapa? Hatinya sungguh ingin meledak. Ia benci ketika harus mengenang puing kisah masa lalunya itu.
Rama mengencangkan dasi. Berusaha mengenyahkan bayangan masa lalunya yang terus membuntuti. Kalau saja ikatan dasi itu mampu membunuhnya seketika tanpa rasa sakit, mungkin sudah ia lakukan. Untungnya dia masih punya akal sehat untuk tidak mati sia-sia. Ia bercermin pada dinding lift yang mengkilap, merapikan anak rambut yang berantakan dengan tangannya. Tiba-tiba ia menangkap sosok Jingga di cermin itu. Jingga yang tersenyum manis memberikan ucapan terimakasih karena sudah dilayani dengan tulus.
Ia berusaha menampik. Tapi wajah Jingga semakin jelas. Ia membalikkan tatapannya ke arah lain. Masih sama. Jingga masih tersenyum manis. Pemuda itu mengusap wajah, buru-buru keluar setelah lift tiba di basemant.
Laki-laki selalu penuh logika. Ia rela menjadi pelayan otodidak hanya karena dirinya hidup di negeri orang. Jauh dari keluarga, kerabat, dan sanak saudara. Bila saja apa yang terjadi pada Jingga menimpanya, mungkin Jingga akan melakukan hal yang sama, merawatnya. Itulah kenapa ia berbaik hati menemani Jingga 48 jam di rumah sakit. Meski mereka belum saling mengenal satu sama lain.
***
Angin dari barat bertiup cukup kencang. Menyapu debu dan menerbangkan sampah-sampah kecil yang dibuang sembarang oleh oknum tak bertanggungjawab. Lalu-lalang manusia berseliweran di sepanjang jembatan busway. Ada yang sendiri, berdua, serta bergerombol dengan teman-teman dan keluarga mereka.
“Nanti kita mampir dulu ke pameran lukisan di kampus UKI.” Salah satu muda-mudi berceloteh pada teman sebayanya.
Jingga berjalan santai meniti jembatan yang menurun. Di sepanjang trotoar kawasan UKI, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan andalan mereka. Ada batu akik, pernak-pernik tas, sepatu, ikat pinggang, sarung tangan, makanan, minuman, dan dagangan lainnya yang tumpah ruah hingga memakan seperempat badan jalan dan membuat macet.
Gadis itu mengamati satu per satu pedagang kaki lima. Ia berhenti di tempat penjualan sepatu. Tangannya meraba sepatu kets bertali dan mencoba memakainya. Ukurannya kebesaran. Jingga mencopotnya lagi. Pedagang yang melihat, menghampiri dan mengintip ukuran kaki mulus nan mungilnya yang hanya 37. Itu saja kadang masih kendor. Ah, kalau boleh jujur, sebenarnya dia tidak berniat membeli. Tapi berhubung sang pemilik lapak teramat agresif, mau bilang apa lagi.
Pedagang kaki lima itu mencarikan ukuran yang paling pas untuk ukuran kaki Jingga yang mungil. Sambil menunggu, Jingga melihat-lihat sepatu model lainnya yang sengaja digantung dengan berbagai corak, bentuk dan warna. Ada sepatu untuk kerja, sekolah, olahraga, santai, dan sebagainya.
“Ini, Neng. Dicoba dulu saja,”
Dengan terpaksa, Jingga melepas lagi sandal tepleknya, memasukkan kakinya ke dalam sepatu yang disodorkan sang penjual. Ia bisa saja pergi ke swalayan untuk membeli merk ternama yang kualitasnya jauh lebih mumpuni.
“Muat, Mbak. Bagus. Ini harganya berapa?” Jingga memperagakan gaya catwalk. Berusaha menyenangkan hati pemilik lapak.
“Rp 65.000, Neng,”
Jingga mengangkat kepala. Murah sekali… batinnya berkata demikian.
“Sebenarnya saya tidak bermaksud membeli. Tadi saat menuruni anak tangga, mata saya terpaku dengan sepatu kets ini. Sayapun penasaran dan segera kemari untuk menyentuhnya.” Jingga memperhatikan dengan detil sepatu yang kini ada di tangannya. Kelihatannya bagus, tapi pasti baru dipakai sehari saja sudah rusak, pikirnya.
“Tidak beli juga tidak apa-apa, Neng. Dilihat dulu saja. Siapa tahu tertarik,” Wanita berjilbab itu menyunggingkan senyum.
“Selain warna hitam, ada warna lain?”
“Ada warna putih dan abu-abu. Sebentar, saya ambilkan.” Wanita berjilbab itu berlalu lagi.
“Ini! Ukurannya ada yang pas dengan kaki si Neng,”
Jingga memasangkannya kembali sepatu yang disodorkan penjual. Masih agak kendor sedikit. Tetapi lumayan untuk mengejar busway. Ia pun membelinya.
“Mbak sudah lama berjualan di sini?” Jingga mengeluarkan uang yang disebutkan pedagang sepatu tanpa menawar seperakpun. Keterlaluan sekali bila seorang Jingga, seorang manager di perusahaan go public, tega menawar dengan pedagang kaki lima.
Pedagang itu menerima uang dari Jingga dan langsung memasukkannya ke dalam dompet hitam besar yang diikat di pinggangnya. “Sudah lama, Neng.”
“Apa Mbak tidak takut kalau ada razia dari tata dinas kota?” Jingga menyelonjorkan kakinya di trotoar.
“Takut sih, Neng. Ya mau bagaimana lagi. Cari pekerjaan di Jakarta susah-susah gampang. Kadang kita harus sembunyi-sembunyi dari Satpol PP, mesti pintar memutar otak.” Dahi perempuan itu terlipat.
“Ada ongkos premannya, kah?” Jingga memasukkan sepasang sepatu kets putih ke dalam tas selempangnya. Tertarik mendengar cerita langsung dari pedangan pinggir jalan yang selama ini menjadi bulan-bulanan pemerintah karena memakai jalan umum dan menimbulkan kemacetan. Ada kalanya kita yang awam ilmu pengetahuan sosial, perlu sesekali berbicara dari hati ke hati dengan mereka terkait kondisi sebenarnya.
“Pasti ada, atuh. Namanya juga Jakarta. Semuanya serba ada. Usaha bentuk apapun bisa ditemukan di sini, tidak mengenal halal dan haram. Beginilah, Neng, hidup jadi perantau yang serba kekurangan. Tapi Alhamdulillah, sekarang keluarga kami berkecukupan.” Ibu itu mengusap hidung.
Suara klakson berseru membuat bising. Kemacetan sore tak terindahkan. Para pejalan kaki semakin ramai, mengalah melangkah di bahu jalan lantaran trotoar yang menjadi haknya diambil alih. Jingga memperbaiki kunciran rambutnya yang mengendor, sambil memerhatikan kesibukan di sekitarnya yang semakin ramai oleh lalu-lalang mahasiswa.
“Nominalnya besar?” Jingga meneguk air mineral.
“Lumayan. Ketimbang harus menyewa lahan di mal atau pameran. Kadang kalau berjualan di mal, omsetnya suka naik turun. Justru banyak turunnya.”
“Misalnya?” Jingga melipat kedua kakinya di atas karpet kecil dekat rak sepatu. Memandangi sang ibu, tak sabar menunggu celotehan berikutnya.
“Di mal itu tempatnya orang elit. Mana mau dengan barang murahan yang serba KW. Mereka lebih memilih barang mahal yang sudah pasti kualitasnya.” Perempuan itu cekatan merapikan sepatu yang tidak berada pada tempatnya.
“Pasti si Mbak dapat supplier langganan ya? Makanya berani kasih harga murah.”
“Benar, Neng. Kala tidak langganan, mana mungkin saya memperoleh gross profit / keuntungan dari hasil penjualan sepatu KW ini. Jangan salah, lho.. Dalam sehari saya bisa meraup untung rata-rata lima ratus ribu.”
Jingga mengangguk-angguk, berdecak kagum. Secara tidak sadar otaknya mengalkulasi pendapatan si ibu selama sebulan penuh. Seumpama dalam sebulan itu sang ibu berjualan tanpa libur dan tanpa embel-embel diusir Satuan lalulintas Polisi RI, maka gross profit yang diperoleh kurang lebih 15 juta? Wow, angka yang sangat fantastis.” Pekiknya dalam hati.
“Kalau suami Mba kerja di mana?” tanya Jingga lagi, yang lebih tepatnya ingin bertanya; “Suamimu kerja sebagai apa?”
“Kerja bareng dengan saya. Tapi dia sedang mengantar anak saya yang ke-2 les Bahasa Inggris. Pembantu yang biasa mengantar sedang mudik.”
English? Pembantu? Bagaimana bisa? Jingga melipat dahi.
“Pasti si Neng tidak percaya kan kalau seorang pedagang kaki lima seperti saya bisa mengursuskan anaknya Bahasa Inggris?” perempuan itu tersenyum. Jingga membalas dengan senyum tanggung.
“Si Neng juga pasti tidak akan percaya kalau saya dan suami lulusan Sarjana Ekonomi. Sejak lulus kuliah sepuluh tahun silam, kami berdua sama-sama mencari pekerjaan di kantor orang. Tapi ternyata bekerja sebagai pegawai kantor lebih banyak makan hatinya. Kadang bila beruntung mendapatkan atasan yang baik, rekan kerja banyak yang syirik, lantas mereka memusuhi kita. Kadang jika rekan kerja asyik, bosnya yang semena-mena. Disamping itu, gajinya ngepas, tidak cukup untuk menabung dan memberi orangtua. Alhasil kami berwiraswasta. Hasilnya lumayan. Lima kali lipat dari hasil kerja kantoran.” Perempuan itu telah selesai merapikan sepatu.
Jingga menggigit bibir, manggut-manggut mendengar sang wiraswastawati mencurahkan isi hati.
“Anak saya yang pertama sudah kelas tiga sekolah dasar. Dia sekolah di sekolahan Internasional. Anak yang pintar, nurut, dan berbakat.” Perempuan itu tersenyum sendiri. “Dan kami juga punya dua pembantu di rumah. Satu bertugas bersih-bersih, satunya bertugas memegang anak yang paling kecil, baru umur 6 bulan.” Ucapnya penuh bangga.
“Anak Mbak ada tiga?”
Perempuan itu mengangguk. “Kalau si Neng sudah berkeluarga?”
“Belum. Saya masih single,” Jingga benci dengan pertanyaan itu.
“Maaf, saya kira sudah berkeluarga.”
“Tak apa. Banyak yang bertanya begitu. Dan mungkin sudah sepantasnya begitu. Tapi faktanya saya masih betah sendiri.” Jingga tersenyum kecut sambil memperbaiki posisi duduknya.
Perbincangan singkat dengan sang pemilik lapak membuat hati Jingga terenyuh. Wanita itu tidak cantik, tapi punya pasangan yang setia. Kenapa orang lain gampangnya meraih kesuksesan? Bahagianya orang ini memiliki partner yang rela berjuang bersama-sama demi kesuksesan. Jingga mendadak sedih. Ia undur diri dan mengucapkan terimakasih pada perempuan yang membuka matanya bahwa tak selamanya pedagang kaki lima berpendidikan rendah, dan tak selamanya tampang pas-pasan tidak laku di pasaran dunia percintaan. Cantik itu relative, karena yang menilai itu hati, bukan mata. Tapi kadang memiliki hati yang cantik sekalipun masih rentan dikelabuhi.
Langit sore bersemu keemasan di bagian barat cukup meneduhkan hati yang panas. Kebisingan yang tak pernah usai serta hiruk pikuknya Jakarta menjadi karakter kuat mengapa kota ini dikatakan sangat kejam. Semua manusia dari nusantara berkumpul di sini. Menjadi perantau demi sesuap nasi yang begitu mahal. Para pejalan kaki semakin ramai. Saling berceloteh tentang kehidupan mereka masing-masing. Tertawa. Nampaknya tidak ada yang sesedih hatinya.
**
Usai menghadiri undangan kliennya, Rama iseng berjalan sebentar melihat keramaian ibukota sore hari di sekitar Jalan Mayjen Sutoyo, Jakarta Timur. Ia memarkir mobilnya di basemant Kampus UKI. Tidak mengapa pulang telat. Toh di apartemennya tidak ada yang menanti-nanti kehadirannya. Tiga tahun dalam kesibukan tanpa seseorang, membuatnya bebas melakukan apapun yang ia suka. Selama itu masih dalam lingkup yang positif.
Langkah Rama terhenti ketika mendapati seorang wanita imut yang beberapa hari terakhir muncul dalam otaknya. Ia mengucek mata. Semoga hanya halusinasi. Perempuan itu mengenakan kaos oblong berwarna putih, menguncir rambutnya tinggi-tinggi, memakai sandal teplek, dan duduk bersila di karpet salah satu pedagang kaki lima.
Nalurinya menyuruh mendekat. Mencoba menguping apa yang sedang mereka bicarakan. Alamak, gadis itu sungguh manis, meski wajahnya tak beralaskan bedak sama sekali. Bibirnya yang merah merekah, sudah beberapa kali menyunggingkan senyum menawan. Apa yang dilakukan gadis itu di sini? Tanyanya dalam hati.
“Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dari Mbak. Terimakasih banyak atas jiwa enterpreunershipnya. Kalau saja Mbak adalah seorang Mario Teguh, mungkin saya harus bayar mahal untuk mengikuti seminar singkat ini. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi.” Jingga tertawa renyah pada perempuan yang berdiri di hadapannya. Kemudian pamit.
Rama kagum pada sosok Jingga kali ini. Sungguh apa yang dipikirkannya selama ini salah. Bahwa Jingga hanyalah orang kaya yang sombong. Gadis jutek yang enggan bersahabat dengan rakyat kecil. Pemandangan ini membuat dirinya meralat perkataannya. Jingga adalah gadis sederhana dan apa adanya.
Tak perlu repot mengejar langkah Jingga. Namun langkahnya yang cepat, dan pengawakannya yang mungil, mudah untuk gadis itu menyelip di kerumunan. Rama berteriak memanggil nama gadis itu. Sayang, kedua telinganya disumpal handsfree. Gadis itu tidak mendengar teriakannya.
Dengan wajah kecewa, Rama membalik badan dan menuju parkiran. Pikirannya masih tersendat pada gadis berkulit putih yang terus membayangi hari-harinya belakangan ini. Ia menyalakan mesin mobil Fortunernya, melaju dengan kecepatan lambat karena kemacetan super panjang yang tidak bisa ditoleransi.
Jingga itu laksana bunglon. Kadang jutek, sendu, lucu, ceria, juga misterius. Ah, dia memang penuh teka-teki. Dalam benaknya yang kecewa, di lampu merah itu ia melihat Jingga sedang menyeberangi zebra cross. Tanpa ragu, Rama membuka pintu mobilnya dan mengejar gadis berpakaian santai yang sedang menikmati es krim di tangan kanannya.
“Jingga…” Rama berteriak lagi.
Gadis itu menoleh, mematung.
Seketika lampu berwarna hijau. Dua anak manusia itu membuat pengendara lain geregetan. Suara klakson bersahutan melengking ke telinga. Menyemaraki adegan keduanya di tengah jalan raya.
“Lekas naik mobilku!” Rama menarik paksa lengan Jingga yang mematung di tengah jalan raya.
“Astaga, Rama. Es krimku mau jatuh. Aku baru saja menjilatnya lima kali.” Jingga mengaduh sakit karena laki-laki asing itu menggeretnya tanpa ampun.
Pemuda itu tak mempedulikan. Ia menarik pedal gas dan melaju dengan kecepatan normal. Diliriknya gadis bunglon yang berada di samping kirinya. Jingga yang sedang manyun menatap lurus jalanan. Rama tersenyum menyaksikan wajah sebal Jingga. Kadang ekspresi seseorang bila sedang kesal, terlihat lebih lucu dan sayang jika tidak menggodanya.
“Aku tidak ingin kau tertabrak, Jingga.” Rama menoleh sebentar, memerhatikan mimik wajah Jingga yang terlipat, sebelum akhirnya fokus mengemudi.
“Tanganku sakit. Lihat ini! Merah bukan? Kau jahat sekali,” Jingga menunjukkan pergelangan tangannya yang merah akibat dicengkram Rama barusan.
Rama tersenyum. Gadis ini memang menggemaskan.
“Oh ya, aku tidak sempat meminta kontakmu saat kau mengantarku pulang dari rumah sakit.” Jingga mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang.
Rama mengangkat bahu, “Tentu tidak sempat. Kau kan wanita paling sibuk se-planet bumi. Sedang sakit saja masih sibuk memikirkan pekerjaan.”
Jingga melotot sebal. Tidak jadi meminta kontak laki-laki menyebalkan itu. Ia membalikkan wajahnya ke jendela, buru-buru menghabiskan es krim connya yang mencair. Memang sih, pada saat meringkuk di rumah sakit, Jingga terus menghubungi Livi, memantau dan mengontrol beberapa anak buahnya terkait pekerjaan urgent melalui telepon dan chatting.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rama tanpa menoleh.
“Baik,” Jingga menjawabnya singkat. Juga tanpa menoleh.
“Aku akan membelikanmu es krim yang jauh lebih besar dari ini.”
“Benarkah?” Jingga menatap Rama lamat-lamat. Matanya mengerjap-erjap macam anak kecil.
“Kukira kau mahasiswi yang sedang belanja sepatu di pedagang kaki lima, dan kemudian membeli es krim sambil menjilatinya di lampu merah,”
Jingga memanyunkan bibir, “Pedagang kaki lima itu telah menjadi guruku. Kau jangan merendahkan mereka. Manusia seringkali menilai manusia lainnya berdasarkan kerangka luar, warna kulit, dan kedudukan. Jika kau mau menelaah, sedikiiiitt saja…” Jingga menempelkan jempol dan kelingking tangannya, memasang wajah serius.
“Siapa kira mereka yang kita remehkan ternyata memiliki value / nilai yang jauh lebih berkelas, jauh lebih elit, jauh lebih jenius dari kita. Siapa kira seorang pedagang kaki lima yang jualan dagangannya di pinggir jalan, yang berperang dengan bisingnya kendaraan, sarat polusi, harus siap siaga dengan satuan lalulintas polisi atau satlantas polri, adalah orang-orang yang cerdas, merdeka, dan sukses. Siapa kira? Mereka berani menjadi diri sendiri, mereka bertanggungjawab atas resiko sendiri.” Tukas Jingga sambil mengelap mulutnya yang belepotan oleh es krim.
“Iya, aku tahu itu.” Rama tersenyum. Kali ini Jingga mirip sekali dengan mahasiswi semester awal. Wajahnya imut dan tidak sedewasa yang ia lihat kemarin siang. Jingga benar-benar mirip bunglon.
Kamu manis, Jingga, sungguh. Selain manis, kamu juga terbuka pada hal-hal umum, pada hal-hal sepele yang belum tentu orang lain mau peduli. Kau pelajar yang ulung. Jangan salahkan aku kalau aku kagum padamu. Sayang, kalimat itu hanya menggantung di tenggorokan Rama. Pita suaranya seakan bersembunyi, enggan membantunya bicara.
Berada di dekat Jingga, ia lupa dengan kemacetan yang luar biasa parah. Rama memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan di daerah Sarinah. Dengan pakaian Rama yang formal, dan Jingga yang abal-abal, mereka PD berkeliling mal di antara ratusan mata yang memandang. Tertawa. Ini adalah kali pertamanya Rama mendengar tawa lepas Jingga. Juga untuk kali pertamanya Jingga mengenal sosok Rama yang menyenangkan.
Puing 6 #Jingga #NovelSeries
Seperti biasa, akhir pekan merupakan hari yang paling dinanti bagi sebagian besar penghuni kota metropolitan, khususnya bagi mereka yang mempunyai segudang kesibukan. Jingga berjalan bersisian dengan Rama menuju Food Court. Perut mereka kerucukan, mengingat tadi siang hanya mengemil makanan ringan sebagai ganjal penghilang lapar.
“Aku mau makan bistik. Kamu?” Jingga memandangi neonbox bergambar daging sapi bulat-bulat, lalu memandang wajah Rama, meminta persetujuan.
Rama mengangkat bahu, yang maksudnya, why not? Walaupun ia tidak memakan daging sapi, Rama tidak protes. Di list menu itu, dia bisa memilih menu lain. Ada gado-gado, capcai, puyunghai, dan soto ayam. Rama adalah seorang vegetarian, meski sesekali memakan daging ayam dan ikan.
“Kamu tidak makan nasi?” Rama memperhatikan Jingga menuliskan pesanan di list menu.
“Kamu juga tidak makan nasi,” Jingga mencatat pesanan Rama, yakni mie kuah ala-ala.
“Tapi kamu kan baru saja sehat, harus makan karbohidrat yang banyak,”
Jingga berhenti mencatat. “Aku sudah sehat. Nah, minumnya mau apa?” Jingga kembali memandangi list menu. Meski kadang pilihannya selalu jatuh pada ice lemon tea atau air mineral.
“Ice lemon tea,” kata Rama cepat.
Jingga menuliskan angka ‘2’ pada kolom ice lemon tea. Kali ini bukan kebetulan. Melainkan dari dahulu kala pilihan minumnya ya memang itu-itu saja.
Satu per satu pengunjung mengosongkan meja makan. Diganti dengan pengunjung lain yang terlihat menahan lapar. Jingga memilih meja paling ujung dekat jendela. Lampu di luar berkelip bagai lampion. Kesibukan Jakarta di malam minggu ini ditutupnya dengan makan malam bersama pria asing yang baru saja dikenalnya.
“Apakah ada yang menarik di luar? Serius benar,” Rama membangunkan lamunan gadis yang sedang menopang dagunya.
“Eh, tidak. Biasa saja. Maaf, aku lupa kalau saat ini sedang tidak sendirian.” Jingga memperbaiki duduknya yang miring. Tiga tahun terakhir ia terbiasa sendiri, kemana-mana sendiri, mengurus ini itu sendiri, makan dan minum sendiri, mandi dan pakai baju sendiri, nyuci baju sendiri, bahkan memotong kuku pun sendiri. Persis yang dilakukan Caca Handika dalam lagu galau andalan. Wajar jika kehadiran Rama membuatnya sedikit berbeda.
Rama mengangkat alis. Melihat wajah Jingga sedekat ini rasanya bagaikan melihat lukisan seorang perempuan yang tak pernah selesai dilukis. Raut wajah Jingga begitu rumit. Membuatnya tak sadar memandangi detil setiap bagian dahi yang lugas, alis yang melengkung sempurna, mata yang sedikit sayu dengan bulu mata agak lentik namun bercahaya, hidung yang membentuk 45 derajat, pipi oval yang sedikit tirus, dagu yang sekilas bagai sangkar burung tempua yang menggantung tanggung, dan terakhir… bibir. Bibir tipis dan basah yang sesekali menyembulkan barisan putih di dalamnya. Begitu seksi. Dasar warna merah muda yang bukan berasal dari pewarna, membuat ia ingin mengecupnya.
“Hey?” Jingga melambai-lambaikan tangannya ke wajah Rama, merasa sedang ditelanjangi.
Wajah Rama bersemu merah, “Emm… maaf, tadi aku pikir semut. Ternyata tahi lalat.” Rama mengalihkan pembicaraan. Tetapi ia tidak bohong, tahi lalat itu pas sekali terletak di sebelah kanan bibir bawah Jingga, menambah kesan manis ketika mulutnya berceloteh dan melengkungkan senyum.
Jingga menggigit bibir, pura-pura tidak mengerti. Ia menggerai rambutnya yang panjang setelah seharian menguncirnya. Warna kecoklatan di tiap helainya, membuat sisi feminin gadis itu semakin terlihat mempesona.
“Kamu kerja dimana?” Jingga membuka obrolan saat pelayan kafe menyuguhkan pesanan ke meja.
“Tidak kerja.” Rama menyedot ice lemon tea, menghilangkan dahaga selama dua jam terakhir menghadapi kemacetan.
“Masa? Aku tidak percaya,” selidik Jingga sembari mengambil garpu dan pisau yang tersaji di samping panggangan stik.
Rama melempar senyum meyakinkan. Tapi itu percuma. Jingga bukanlah orang yang mudah percaya. Maka diulanginya pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
“Kamu bekerja sebagai apa?”
“Aku tidak bekerja, Jingga. Masih belum percaya?” Rama merebahkan punggungnya ke kursi.
“Haruskah aku percaya padamu?” Jingga memicingkan matanya.
“Tidak percaya juga tidak apa-apa,” Rama menyodorkan kartu nama pada Jingga, berharap gadis itu mau percaya padanya. Ia langsung menyerbu makanan yang diantarkan waitress dengan lahap.
Jingga mengambil kartu nama yang disodorkan Rama. Ternyata pemuda itu tidak berbohong. Ia mengiris-iris potongan daging bulat menggunakan pisau dan garpu, kemudian menyuapkannya ke dalam mulut mungilnya. Sesekali terlihat kepanasan karena tidak sabar melahap potongan daging tersebut.
Rama memperhatikan tingkah Jingga, lagi-lagi mengulum senyum. Perempuan yang berada di depannya lucu juga. Gumamnya dalam hati.
“Pelukis juga profesi. Maka pekerjaanmu adalah melukis,” Jingga menyedot ice lemon tea dengan nikmat.
“Bukankah itu seniman?” sangkal Rama ber-huh-hah kepedasan.
“Pekerja kantoran juga seniman. Akunting misalnya, sejenis seni mencatat suatu transaksi yang berhubungan dengan keuangan. Marketing juga seni. Seni mengumpulkan pelanggan untuk mencintai produknya.”
“Tapi melukis yang lebih tepat dikatakan seni dibandingkan seni mencatat dan mengumpulkan pelanggan,” Rama membela pendapatnya.
Kali ini Jingga yang tersenyum. Ia malas adu argumen. Lebih tepatnya tidak suka berdebat.
“Kamu tidak bosan menjadi pekerja kantoran?”
“Memangnya kamu mau menafkahiku?” Jingga fokus pada santapannya, tidak menggubris pertanyaan konyol Rama. Mana ada pekerjaan yang tidak membosankan? Kalau bukan karena tuntutan, ia tidak mau bekerja. Mungkin akan bahagia menjadi pengangguran yang setiap bulan menerima gaji. Tapi pertanyaannya, siapa yang mau menggaji pengangguran? Presiden? Ah, orang pertama di Indonesia itu juga akan berpikir ulang bila harus menggaji jutaan pengangguran.
“Mau,” candanya sambil mengangkat alis.
Jingga berbeda dengan gadis kebanyakan. Dialah sosok wanita yang selama ini ia cari. Gadis yang tak pernah selesai dilukis dan dideskripsikan dalam karyanya.
“Emm…,” Hanya itu komentar Jingga. Gadis itu lebih asyik menandaskan bistik terakhirnya daripada merespon candaan garing Rama. Ia mengambil tisu dan mengelap mulutnya dari sisa makanan yang menempel. Hanya tertawa menanggapi celotehan Rama yang garing.
“Sejak kecil aku paling benci pelajaran menggambar, melukis, apalah itu yang berbau seni rupa. Kau tahu, aku selalu mendapatkan nilai enam dari pak guru,” Jingga tertawa mengingat masa sekolahnya dulu.
“Tapi aku pengagum lukisan.” Jingga memandangi Rama lamat-lamat. Guratan wajah pemuda itu tegas, rahangnya kuat, alis tebal, hidungnya bak burung rajawali, bibirnya yang merah, di dagu dan sela-sela bibir atas dan hidungnya terdapat bulu halus bekas dicukur. Begitu seksi. Saat ia tersenyum dan bicara, membuat Jingga ingin menciumnya.
“Besok siang, aku mau ke pameran lukisan di Jakarta Convention Center (JCC). Kamu mau ikut?” Rama sudah selesai menghabiskan seporsi mie kuah ala-ala. Ia mengelap mulutnya dengan tisu, menirukan gaya Jingga.
Mata Jingga berbinar-binar. Tanpa pikir panjang, ia mengangguk dan tersenyum meyakinkan: pasti datang. Rama membalas senyuman itu dan mengantar Jingga pulang ke apartemennya. Meski mereka terhalang satu kamar, tetapi Rama tidak ingin terang-terangan masuk ke dalam ruangan apartemennya berbarengan dengan Jingga. Ia pura-pura memutar mobil kemudian menuju basemant dan menyusul langkah Jingga dari belakang.
***
Sinar mentari menerobos masuk ke pentilasi kamar Jingga yang menghadap timur. Semalam tidurnya amat nyenyak. Pagi ini ia berniat untuk menggerakkan badannya di taman apartemen. Mungkin itu akan membuat fisiknya sedikit bugar.
Setelah meminum segelas air mineral, Jingga menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitasnya, yakni mencuci muka dan menggosok gigi. Kemudian ia memakai kaos dan celana training, serta menggantungkan handuk kecil di leher.
Saat menuntaskan satu putaran, gadis mungil dengan tinggi hanya 162 cm itu nampak mengatur napasnya yang tersengal. Ia duduk di pinggiran taman serba hijau yang sengaja ditanam oleh petugas apartemen untuk menambah oksigen bagi para penghuninya. Jingga kaget saat Rama duduk di sampingnya.
“Kamu joging juga?” tanyanya sambil menyeka dahi dan pundaknya yang berkeringat.
“Kenapa kamu ada di mana-mana? Jangan-jangan, kamu mengintilku ya?” Rambut Jingga yang panjang dan kecoklatan itu sedikit basah oleh keringat. Ia mencepolnya sembarang. Tengkuknya terlihat seksi.
“Mungkin,” Rama mengangkat bahu. Tiga kali dalam seminggu ia selalu lari pagi, tapi baru kali ini ia melihat Jingga di taman ini. Juga sudah tiga tahun lamanya ia menempati apartemen di daerah Permata Hijau yang ternyata hanya terhalang satu kamar dengannya. Kemana saja dia selama ini? Terlalu sibuk kah? Dirinya bertanya-tanya dalam hati.
Cahaya mentari sudah sepenggalah naik. Perut Jingga mulai keroncongan. Ia mengajak Rama untuk menemaninya sarapan bubur kacang hijau di pinggir jalan, dekat apartemen.
“Kamu tidak lupa kan, kalau nanti siang akan menemaniku ke pameran lukisan?” Rama telah selesai menandaskan makanannya.
“Tentu aku tidak melupakannya,” Jingga menyipitkan mata. Ia mohon pamit untuk segera beranjak ke toilet. Perutnya tiba-tiba mules.
Rama sedikit kecewa, ia pura-pura menawarkan jasa, “Perlu kuantar?”
Jingga menoleh sebentar, “Kau mau menggendongku?”
“Mau,” Suara Rama terbang terbawa angin. Ia hanya memandang punggung Jingga yang menjauh.
**
“Wawww…. Lukisannya indah sekali!” Mata Jingga terbelalak memandangi satu per satu lukisan yang tergantung di tembok. Ada yang beraliran realisme, surealisme, natural, impresionisme, abstrak, hingga auvisme. Dari mulai lukisan poster, coretan di acrylic, hingga kanvas. Semuanya indah, apalagi yang melukisnya, hatinya menerka-nerka sok tahu.
Jingga tak dapat memejamkan matanya walau sedetik. Ia terus memusatkan pandangannya mengamati lukisan sebuah perkotaan kuno yang berada di hadapannya. Warna dan teksturnya sungguh natural. Persis dengan kenyataan aslinya.
“Bagaimana, Nona? Tertarik dengan lukisannya? Ini lukisan terindah dan termahal yang ada di pameran ini. Nanti keburu diambil orang, loh.. Hehehe,” Seseorang berkemeja belang-belang dan berdasi kupu-kupu mendekati Jingga.
“Ini harganya berapa?” Jingga penasaran.
“Seratus juta,”
Jingga memekik tidak percaya. Seseorang yang melukis gambar ini, pastilah pelukis yang amat berbakat. Jingga menarik napas.
“Belum ada setengah hari, lukisanmu sudah laku sepuluh. Hebat sekali,” Laki-laki yang barusan basa-basi pada Jingga, menepuk bahu Rama dan mengobrol akrab.
“Tapi saya ragu dengan penawaran sebesar ini,” Rama memasukkan tangannya ke saku, melirik lukisan yang katanya terindah dan termahal. Ia sama sekali tidak membuat harga semahal itu.
“Jangan pesimis, Kawan. Bahkan di luar negeri harga suatu seni sampai berdolar-dolar. Milyaran rupiah. Saya yakin penjualan kali ini sukses besar,”
“Jadi ini lukisanmu, Rama? LUAR BIASA!!!” Jingga menatap Rama takjub.
Rama hanya tersenyum. Baru kali ini ada wanita yang memujinya seperti itu. Tapi pancaran wajah Jingga nampaknya tidak berdusta, bahwa gadis itu benar-benar mengangumi semua hasil karyanya.
“Kalian saling mengenal?” tanya laki-laki berkulit gelap yang memperbaiki dasi kupu-kupunya.
“Saya yang mengajaknya ke mari, Ton.”
“Kau ini diam-diam saja kalau membawa gadis cantik. Kau tidak mengenalkannya padaku?” Pria berambut klimis itu meledek.
“Itupun kalau dia mau menjadi gadisku,” Rama melempar senyum malu-malu pada Jingga.
Wajah Jingga bersemu merah. Banyak orang yang mengatakan dirinya cantik. Tapi belum pernah sebahagia ini.
“Jingga, perkenalkan ini Anton, rekan melukis dan kawan seperjuanganku. Dia pula yang menjadi seksi repot atas pameran ini. Dialah yang mengatur semuanya. Sejauh ini prediksi yang ditawarkan belum pernah meleset. Dia sungguh berjasa.”
“Aku yang seharusnya terimakasih karena berkat pemuda berbakat inilah, saya bisa memajang lukisan super keren dan mengundang banyak pecinta seni lukis yang terkagum-kagum,” Anton menepuk bahu Rama penuh semangat.
“Jadi gadis ini benar gadismu, bukan?” Anton mengulang pertanyaan.
Rama menggeleng. Tidak ingin salah mengakui sesuatu yang bukan miliknya. Tapi ia berharap apa yang dikatakan rekan kerjanya menjadi kenyataan.
Setelah asyik berbincang dengan Anton dan melihat-lihat lukisan, Rama menarik lengan Jingga menuju pusat stand pameran. Disana berdiri rekan bisnis lainnya, yakni Pak Alex. Beliau adalah orang yang telah berjasa mempromosikan kerja keras Rama.
“Apa kabar, Pak Pelukis? Senang sekali bisa bertemu lagi di ajang bergengsi ini,” Pak Alex mengambil microphone dan mempersilakan Rama untuk naik panggung.
Sesi tanya jawab antara penikmat seni dan seniman berlangsung. Jingga dipersilakan duduk oleh panitia karena diketahui datang bersama tamu kehormatan. Ia merasa tersanjung dan haru. Melihat gaya bicara Rama yang penuh wawasan, membuat Jingga salut dan tak berhenti tersenyum. Mungkinkah pemuda ini sosok yang ia cari selama ini? Hatinya masih perlu menimbang-nimbang.
Rama menyaksikan rasa kagum dari pancaran senyum Jingga yang selalu merebak. Kepercayaan dirinya meningkat karena gadis itu menemaninya dalam event penting ini. Ia sangat berharap gadis itu mau membuka hati sebagaimana dia telah berhasil membobrok hatinya yang lama mati.
Lepas ajang meet and great, Rama berbincang sebentar dengan panitia event organizer, lalu menggandeng lengan Jingga untuk pulang. Ia tidak ingin gadis manis itu kelelahan karena terlalu lama berada dalam keramaian. Jingga perlu istirahat dan bersantai di kamar, mengingat fisiknya belum sehat benar.
Ada sesuatu yang berbeda saat menyentuh tangan Jingga. Begitu halus dan lembut. Padahal ini bukan kali pertamanya ia menyentuh perempuan yang kini mengenakan sackdress berwarna peach polos selutut. Jingga begitu anggun dan menggoda. Membuat Rama gemas ingin menculiknya ke planet terjauh dari bumi di bagian utara.
Dada Jingga berdebar saat lengan Rama menggandengnya erat. Seakan tidak mau dirinya menjadi anak ayam hilang di tengah kerumunan. Tak sadar ia pun membalas genggaman tangan pemuda itu hingga ke parkiran basemant. Ada yang menggelitiki perutnya. Getaran aneh itu membuat jantung Jingga berdegup tak beraturan. Apakah ini cinta? TIDAK! Jingga buru-buru melepaskan genggaman tangan Rama dengan kasar.
“Aku mau makan bistik. Kamu?” Jingga memandangi neonbox bergambar daging sapi bulat-bulat, lalu memandang wajah Rama, meminta persetujuan.
Rama mengangkat bahu, yang maksudnya, why not? Walaupun ia tidak memakan daging sapi, Rama tidak protes. Di list menu itu, dia bisa memilih menu lain. Ada gado-gado, capcai, puyunghai, dan soto ayam. Rama adalah seorang vegetarian, meski sesekali memakan daging ayam dan ikan.
“Kamu tidak makan nasi?” Rama memperhatikan Jingga menuliskan pesanan di list menu.
“Kamu juga tidak makan nasi,” Jingga mencatat pesanan Rama, yakni mie kuah ala-ala.
“Tapi kamu kan baru saja sehat, harus makan karbohidrat yang banyak,”
Jingga berhenti mencatat. “Aku sudah sehat. Nah, minumnya mau apa?” Jingga kembali memandangi list menu. Meski kadang pilihannya selalu jatuh pada ice lemon tea atau air mineral.
“Ice lemon tea,” kata Rama cepat.
Jingga menuliskan angka ‘2’ pada kolom ice lemon tea. Kali ini bukan kebetulan. Melainkan dari dahulu kala pilihan minumnya ya memang itu-itu saja.
Satu per satu pengunjung mengosongkan meja makan. Diganti dengan pengunjung lain yang terlihat menahan lapar. Jingga memilih meja paling ujung dekat jendela. Lampu di luar berkelip bagai lampion. Kesibukan Jakarta di malam minggu ini ditutupnya dengan makan malam bersama pria asing yang baru saja dikenalnya.
“Apakah ada yang menarik di luar? Serius benar,” Rama membangunkan lamunan gadis yang sedang menopang dagunya.
“Eh, tidak. Biasa saja. Maaf, aku lupa kalau saat ini sedang tidak sendirian.” Jingga memperbaiki duduknya yang miring. Tiga tahun terakhir ia terbiasa sendiri, kemana-mana sendiri, mengurus ini itu sendiri, makan dan minum sendiri, mandi dan pakai baju sendiri, nyuci baju sendiri, bahkan memotong kuku pun sendiri. Persis yang dilakukan Caca Handika dalam lagu galau andalan. Wajar jika kehadiran Rama membuatnya sedikit berbeda.
Rama mengangkat alis. Melihat wajah Jingga sedekat ini rasanya bagaikan melihat lukisan seorang perempuan yang tak pernah selesai dilukis. Raut wajah Jingga begitu rumit. Membuatnya tak sadar memandangi detil setiap bagian dahi yang lugas, alis yang melengkung sempurna, mata yang sedikit sayu dengan bulu mata agak lentik namun bercahaya, hidung yang membentuk 45 derajat, pipi oval yang sedikit tirus, dagu yang sekilas bagai sangkar burung tempua yang menggantung tanggung, dan terakhir… bibir. Bibir tipis dan basah yang sesekali menyembulkan barisan putih di dalamnya. Begitu seksi. Dasar warna merah muda yang bukan berasal dari pewarna, membuat ia ingin mengecupnya.
“Hey?” Jingga melambai-lambaikan tangannya ke wajah Rama, merasa sedang ditelanjangi.
Wajah Rama bersemu merah, “Emm… maaf, tadi aku pikir semut. Ternyata tahi lalat.” Rama mengalihkan pembicaraan. Tetapi ia tidak bohong, tahi lalat itu pas sekali terletak di sebelah kanan bibir bawah Jingga, menambah kesan manis ketika mulutnya berceloteh dan melengkungkan senyum.
Jingga menggigit bibir, pura-pura tidak mengerti. Ia menggerai rambutnya yang panjang setelah seharian menguncirnya. Warna kecoklatan di tiap helainya, membuat sisi feminin gadis itu semakin terlihat mempesona.
“Kamu kerja dimana?” Jingga membuka obrolan saat pelayan kafe menyuguhkan pesanan ke meja.
“Tidak kerja.” Rama menyedot ice lemon tea, menghilangkan dahaga selama dua jam terakhir menghadapi kemacetan.
“Masa? Aku tidak percaya,” selidik Jingga sembari mengambil garpu dan pisau yang tersaji di samping panggangan stik.
Rama melempar senyum meyakinkan. Tapi itu percuma. Jingga bukanlah orang yang mudah percaya. Maka diulanginya pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
“Kamu bekerja sebagai apa?”
“Aku tidak bekerja, Jingga. Masih belum percaya?” Rama merebahkan punggungnya ke kursi.
“Haruskah aku percaya padamu?” Jingga memicingkan matanya.
“Tidak percaya juga tidak apa-apa,” Rama menyodorkan kartu nama pada Jingga, berharap gadis itu mau percaya padanya. Ia langsung menyerbu makanan yang diantarkan waitress dengan lahap.
Jingga mengambil kartu nama yang disodorkan Rama. Ternyata pemuda itu tidak berbohong. Ia mengiris-iris potongan daging bulat menggunakan pisau dan garpu, kemudian menyuapkannya ke dalam mulut mungilnya. Sesekali terlihat kepanasan karena tidak sabar melahap potongan daging tersebut.
Rama memperhatikan tingkah Jingga, lagi-lagi mengulum senyum. Perempuan yang berada di depannya lucu juga. Gumamnya dalam hati.
“Pelukis juga profesi. Maka pekerjaanmu adalah melukis,” Jingga menyedot ice lemon tea dengan nikmat.
“Bukankah itu seniman?” sangkal Rama ber-huh-hah kepedasan.
“Pekerja kantoran juga seniman. Akunting misalnya, sejenis seni mencatat suatu transaksi yang berhubungan dengan keuangan. Marketing juga seni. Seni mengumpulkan pelanggan untuk mencintai produknya.”
“Tapi melukis yang lebih tepat dikatakan seni dibandingkan seni mencatat dan mengumpulkan pelanggan,” Rama membela pendapatnya.
Kali ini Jingga yang tersenyum. Ia malas adu argumen. Lebih tepatnya tidak suka berdebat.
“Kamu tidak bosan menjadi pekerja kantoran?”
“Memangnya kamu mau menafkahiku?” Jingga fokus pada santapannya, tidak menggubris pertanyaan konyol Rama. Mana ada pekerjaan yang tidak membosankan? Kalau bukan karena tuntutan, ia tidak mau bekerja. Mungkin akan bahagia menjadi pengangguran yang setiap bulan menerima gaji. Tapi pertanyaannya, siapa yang mau menggaji pengangguran? Presiden? Ah, orang pertama di Indonesia itu juga akan berpikir ulang bila harus menggaji jutaan pengangguran.
“Mau,” candanya sambil mengangkat alis.
Jingga berbeda dengan gadis kebanyakan. Dialah sosok wanita yang selama ini ia cari. Gadis yang tak pernah selesai dilukis dan dideskripsikan dalam karyanya.
“Emm…,” Hanya itu komentar Jingga. Gadis itu lebih asyik menandaskan bistik terakhirnya daripada merespon candaan garing Rama. Ia mengambil tisu dan mengelap mulutnya dari sisa makanan yang menempel. Hanya tertawa menanggapi celotehan Rama yang garing.
“Sejak kecil aku paling benci pelajaran menggambar, melukis, apalah itu yang berbau seni rupa. Kau tahu, aku selalu mendapatkan nilai enam dari pak guru,” Jingga tertawa mengingat masa sekolahnya dulu.
“Tapi aku pengagum lukisan.” Jingga memandangi Rama lamat-lamat. Guratan wajah pemuda itu tegas, rahangnya kuat, alis tebal, hidungnya bak burung rajawali, bibirnya yang merah, di dagu dan sela-sela bibir atas dan hidungnya terdapat bulu halus bekas dicukur. Begitu seksi. Saat ia tersenyum dan bicara, membuat Jingga ingin menciumnya.
“Besok siang, aku mau ke pameran lukisan di Jakarta Convention Center (JCC). Kamu mau ikut?” Rama sudah selesai menghabiskan seporsi mie kuah ala-ala. Ia mengelap mulutnya dengan tisu, menirukan gaya Jingga.
Mata Jingga berbinar-binar. Tanpa pikir panjang, ia mengangguk dan tersenyum meyakinkan: pasti datang. Rama membalas senyuman itu dan mengantar Jingga pulang ke apartemennya. Meski mereka terhalang satu kamar, tetapi Rama tidak ingin terang-terangan masuk ke dalam ruangan apartemennya berbarengan dengan Jingga. Ia pura-pura memutar mobil kemudian menuju basemant dan menyusul langkah Jingga dari belakang.
***
Sinar mentari menerobos masuk ke pentilasi kamar Jingga yang menghadap timur. Semalam tidurnya amat nyenyak. Pagi ini ia berniat untuk menggerakkan badannya di taman apartemen. Mungkin itu akan membuat fisiknya sedikit bugar.
Setelah meminum segelas air mineral, Jingga menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitasnya, yakni mencuci muka dan menggosok gigi. Kemudian ia memakai kaos dan celana training, serta menggantungkan handuk kecil di leher.
Saat menuntaskan satu putaran, gadis mungil dengan tinggi hanya 162 cm itu nampak mengatur napasnya yang tersengal. Ia duduk di pinggiran taman serba hijau yang sengaja ditanam oleh petugas apartemen untuk menambah oksigen bagi para penghuninya. Jingga kaget saat Rama duduk di sampingnya.
“Kamu joging juga?” tanyanya sambil menyeka dahi dan pundaknya yang berkeringat.
“Kenapa kamu ada di mana-mana? Jangan-jangan, kamu mengintilku ya?” Rambut Jingga yang panjang dan kecoklatan itu sedikit basah oleh keringat. Ia mencepolnya sembarang. Tengkuknya terlihat seksi.
“Mungkin,” Rama mengangkat bahu. Tiga kali dalam seminggu ia selalu lari pagi, tapi baru kali ini ia melihat Jingga di taman ini. Juga sudah tiga tahun lamanya ia menempati apartemen di daerah Permata Hijau yang ternyata hanya terhalang satu kamar dengannya. Kemana saja dia selama ini? Terlalu sibuk kah? Dirinya bertanya-tanya dalam hati.
Cahaya mentari sudah sepenggalah naik. Perut Jingga mulai keroncongan. Ia mengajak Rama untuk menemaninya sarapan bubur kacang hijau di pinggir jalan, dekat apartemen.
“Kamu tidak lupa kan, kalau nanti siang akan menemaniku ke pameran lukisan?” Rama telah selesai menandaskan makanannya.
“Tentu aku tidak melupakannya,” Jingga menyipitkan mata. Ia mohon pamit untuk segera beranjak ke toilet. Perutnya tiba-tiba mules.
Rama sedikit kecewa, ia pura-pura menawarkan jasa, “Perlu kuantar?”
Jingga menoleh sebentar, “Kau mau menggendongku?”
“Mau,” Suara Rama terbang terbawa angin. Ia hanya memandang punggung Jingga yang menjauh.
**
“Wawww…. Lukisannya indah sekali!” Mata Jingga terbelalak memandangi satu per satu lukisan yang tergantung di tembok. Ada yang beraliran realisme, surealisme, natural, impresionisme, abstrak, hingga auvisme. Dari mulai lukisan poster, coretan di acrylic, hingga kanvas. Semuanya indah, apalagi yang melukisnya, hatinya menerka-nerka sok tahu.
Jingga tak dapat memejamkan matanya walau sedetik. Ia terus memusatkan pandangannya mengamati lukisan sebuah perkotaan kuno yang berada di hadapannya. Warna dan teksturnya sungguh natural. Persis dengan kenyataan aslinya.
“Bagaimana, Nona? Tertarik dengan lukisannya? Ini lukisan terindah dan termahal yang ada di pameran ini. Nanti keburu diambil orang, loh.. Hehehe,” Seseorang berkemeja belang-belang dan berdasi kupu-kupu mendekati Jingga.
“Ini harganya berapa?” Jingga penasaran.
“Seratus juta,”
Jingga memekik tidak percaya. Seseorang yang melukis gambar ini, pastilah pelukis yang amat berbakat. Jingga menarik napas.
“Belum ada setengah hari, lukisanmu sudah laku sepuluh. Hebat sekali,” Laki-laki yang barusan basa-basi pada Jingga, menepuk bahu Rama dan mengobrol akrab.
“Tapi saya ragu dengan penawaran sebesar ini,” Rama memasukkan tangannya ke saku, melirik lukisan yang katanya terindah dan termahal. Ia sama sekali tidak membuat harga semahal itu.
“Jangan pesimis, Kawan. Bahkan di luar negeri harga suatu seni sampai berdolar-dolar. Milyaran rupiah. Saya yakin penjualan kali ini sukses besar,”
“Jadi ini lukisanmu, Rama? LUAR BIASA!!!” Jingga menatap Rama takjub.
Rama hanya tersenyum. Baru kali ini ada wanita yang memujinya seperti itu. Tapi pancaran wajah Jingga nampaknya tidak berdusta, bahwa gadis itu benar-benar mengangumi semua hasil karyanya.
“Kalian saling mengenal?” tanya laki-laki berkulit gelap yang memperbaiki dasi kupu-kupunya.
“Saya yang mengajaknya ke mari, Ton.”
“Kau ini diam-diam saja kalau membawa gadis cantik. Kau tidak mengenalkannya padaku?” Pria berambut klimis itu meledek.
“Itupun kalau dia mau menjadi gadisku,” Rama melempar senyum malu-malu pada Jingga.
Wajah Jingga bersemu merah. Banyak orang yang mengatakan dirinya cantik. Tapi belum pernah sebahagia ini.
“Jingga, perkenalkan ini Anton, rekan melukis dan kawan seperjuanganku. Dia pula yang menjadi seksi repot atas pameran ini. Dialah yang mengatur semuanya. Sejauh ini prediksi yang ditawarkan belum pernah meleset. Dia sungguh berjasa.”
“Aku yang seharusnya terimakasih karena berkat pemuda berbakat inilah, saya bisa memajang lukisan super keren dan mengundang banyak pecinta seni lukis yang terkagum-kagum,” Anton menepuk bahu Rama penuh semangat.
“Jadi gadis ini benar gadismu, bukan?” Anton mengulang pertanyaan.
Rama menggeleng. Tidak ingin salah mengakui sesuatu yang bukan miliknya. Tapi ia berharap apa yang dikatakan rekan kerjanya menjadi kenyataan.
Setelah asyik berbincang dengan Anton dan melihat-lihat lukisan, Rama menarik lengan Jingga menuju pusat stand pameran. Disana berdiri rekan bisnis lainnya, yakni Pak Alex. Beliau adalah orang yang telah berjasa mempromosikan kerja keras Rama.
“Apa kabar, Pak Pelukis? Senang sekali bisa bertemu lagi di ajang bergengsi ini,” Pak Alex mengambil microphone dan mempersilakan Rama untuk naik panggung.
Sesi tanya jawab antara penikmat seni dan seniman berlangsung. Jingga dipersilakan duduk oleh panitia karena diketahui datang bersama tamu kehormatan. Ia merasa tersanjung dan haru. Melihat gaya bicara Rama yang penuh wawasan, membuat Jingga salut dan tak berhenti tersenyum. Mungkinkah pemuda ini sosok yang ia cari selama ini? Hatinya masih perlu menimbang-nimbang.
Rama menyaksikan rasa kagum dari pancaran senyum Jingga yang selalu merebak. Kepercayaan dirinya meningkat karena gadis itu menemaninya dalam event penting ini. Ia sangat berharap gadis itu mau membuka hati sebagaimana dia telah berhasil membobrok hatinya yang lama mati.
Lepas ajang meet and great, Rama berbincang sebentar dengan panitia event organizer, lalu menggandeng lengan Jingga untuk pulang. Ia tidak ingin gadis manis itu kelelahan karena terlalu lama berada dalam keramaian. Jingga perlu istirahat dan bersantai di kamar, mengingat fisiknya belum sehat benar.
Ada sesuatu yang berbeda saat menyentuh tangan Jingga. Begitu halus dan lembut. Padahal ini bukan kali pertamanya ia menyentuh perempuan yang kini mengenakan sackdress berwarna peach polos selutut. Jingga begitu anggun dan menggoda. Membuat Rama gemas ingin menculiknya ke planet terjauh dari bumi di bagian utara.
Dada Jingga berdebar saat lengan Rama menggandengnya erat. Seakan tidak mau dirinya menjadi anak ayam hilang di tengah kerumunan. Tak sadar ia pun membalas genggaman tangan pemuda itu hingga ke parkiran basemant. Ada yang menggelitiki perutnya. Getaran aneh itu membuat jantung Jingga berdegup tak beraturan. Apakah ini cinta? TIDAK! Jingga buru-buru melepaskan genggaman tangan Rama dengan kasar.
Langganan:
Postingan (Atom)