Saat itu aku masih berusia lima tahun. Aku masih ingat ayah bersemangat membawa kami ke Pantai Skip. Pantai yang berjarak delapan kilometer dari rumahku. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan seharian waktuku bersamanya, bersama ibu, juga adikku – Ajeng. Sayangnya, kebahagiaan itu teramat singkat.
Ketika aku dan Ajeng sedang asyik bermain pasir bersama ayah, aku mendengar ibu berteriak meminta tolong. Suaranya agak samar karena bercampur desau angin muson barat dan deburan ombak yang membuat nyaliku menciut.
Aku melihat dengan mataku sendiri ibu tergulung ombak setinggi empat meter lebih. Tangannya terjulur ke udara, seluruh tubuhnya terendam air, menyisakan uraian rambut panjangnya di tengah riakan busa. Ayah pontang-panting berusaha menyelamatkan ibu, dibantu beberapa lelaki dewasa yang bahu-membahu menolong ayah. Sia-sia, ayah justru ikut terseret amukan ombak yang tak henti-hentinya datang ke daratan.
Ternyata bukan hanya ibu dan ayah yang menjadi korban, tetapi ada dua remaja tanggung, sepasang muda-mudi, dua orang dewasa, dan dua lansia. Saat itu aku ketakutan bukan kepalang. Ajeng sampai menjerit-jerit memanggil nama ayah dan ibu sambil tersedu-sedan. Untung saja Paman Muklis dan Bibi Dian cepat datang ke lokasi, maka aku dan Ajeng tidak merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya lagi. Mereka berdua memeluk kami, berkata ibu dan ayah akan baik-baik saja.
Bibi Dian dan Paman Muklis bohong. Ibu dan ayah tidak baik-baik saja. Tubuh mereka membiru dan pucat. Terutama ibu yang lebih lama terendam di air laut. Keduanya dibawa ambulans, bersamaan dengan korban lainnya yang ditemukan beberapa jam kemudian. Aku dan Ajeng sempat menemani di mobil hingga rumah sakit. Sayangnya nyawa ibu tidak dapat tertolong lagi.
“Ibu bangun… Jangan tidur terus. Bangun, Bu,” kataku sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Ayah, kenapa ibu mendadak tuli? Ibu pura-pura tidur terus dari tadi,” aku meminta pembelaan pada Ayah. Namun ayah menjawabnya dengan senyum hambar. Senyum yang bisa kuartikan sebagai kegetiran paling menyesakkan. Waktu itu aku belum mengerti kata kematian.
Bulir air mata ayah menetes menjatuhi pipi saat pemakaman ibu. Di sana juga ada nenek, Paman Muklis, dan Bibi Dian. Semuanya menangis. Ada apa?
“Kenapa ibu dimasukkan ke dalam tanah, Yah? Nanti ibu susah bernapas? Ambil lagi ibunya, Yah, nanti ibu kegelapan” kata Ajeng sambil mengguncang-guncangkan lengan ayah. Ayah tidak menjawab, matanya merah berair.
Berselang detik, nenek menampar ayah, mengatakan bahwa ayah pembunuh. Bibi Dian beringsut memelukku dan Ajeng. Aku ingat sekali momen menyedihkan itu. Saat isak tangis tak mampu membawa ibu kembali, saat itu ayahku dibawa paksa manusia bertubuh besar yang memborgol tangannya di belakang pinggang. Ayah mau dikemanakan?
***
Sebelas tahun berlalu, aku belum jua bertemu dengan ayah semenjak pemakaman ibu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas satu SMA, menjadi remaja cantik yang dibesarkan tanpa ayah dan bunda, tanpa kasih sayang mereka. Kenapa ayah jahat padaku dan Ajeng? Kenapa dia tidak berniat sama sekali menjengukku? Kasihan nenek. Beliau terlihat letih mengurus kami berdua sedari kecil hingga sekarang ini. Wajahnya yang dulu segar kini keriput. Rupanya nenek sudah tua.
Ayah dimana? Cacha benci ayah, tapi Cacha juga rindu. Ajeng sering bertanya padaku kenapa Ayah tidak pernah berkunjung? Sebenarnya salah kami apa? Apakah perkataan nenek benar, bahwa ayah tidak sayang lagi kepada kami berdua? Ayah jahat! Apakah benar Ayah yang membunuh ibu? Sehingga Ayah malu kepada kami sekadar untuk bertemu denganku?
Tidak terasa air mataku berlinang dengan derasnya. Setiap pembagian raport di sekolah, teman-temanku mengolok-olok kalau aku adalah anak haram yang ditinggalkan ayahnya. Para tetangga kanan dan kiri mencemooh kalau aku hanyalah anak buangan yang tidak diinginkan ayah.
Entahlah. Semua cacian dan hinaan yang masuk ke telingaku membuatku pusing. Dan akhirnya semuanya menjadi jelas ketika aku bertemu dengan Paman Muklis di Bandara Soekarno Hatta Sabtu siang ini.
“Paman mencarimu kemana-mana, Nak. Pulanglah ke Mataram. Tengok ayahmu yang semakin kurus di dalam kerangkeng besi. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Setiap malam ia menangis menyebut nama kalian, Cacha dan Ajeng. Ayahmu tidak bersalah, ia bukanlah pembunuh. Ia hanya dituduh telah membunuh ibumu. Padahal kau tahu sendiri, bukan? Ibumu meninggal karena tenggelam terbawa ombak.” Dahi Paman Muklis mengerut sebelum melanjutkan ceritanya.
“Dia kehilangan ibumu, juga kalian. Dia kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarga dalam waktu bersamaan. Ayahmu tidak bersalah. Percayalah. Tapi mau bagaimana lagi, tuduhan kuat pasal 340 KUHP tentang motif pembunuhan berencana, menguatkan hakim untuk mengurungnya dua puluh tahun penjara. Sembilan tahun lagi dia baru bisa merasakan udara bebas.” Paman Muklis menarik napas. Tampak resah.
Aku masih terduduk mematung di lobi pemberangkatan. Pundakku terasa berat, dadaku mendadak sesak.
“Cacha…” Paman Muklis menatapku. Aku menundukkan wajah, memperhatikan kedua tanganku yang tiba-tiba lemas. “Pulanglah sebentar saja. Paman sudah membelikan tiket untukmu sekali jalan. Hanya kamu yang bisa menghapus tuduhan itu dan membebaskan ayahmu. Ayahmu amat rindu pada kalian berdua. Terusterang, Paman kesulitan mendapatkan kontakmu. Tapi Paman tidak menyerah, Paman terus mencari informasi terkait keberadaan kalian demi ayahmu, sahabat terbaik yang Paman punya.”
Mataku seketika berkaca-kaca dan sembab. Benarkah Ayah merindukan kami? Apakah yang dia alami selama sebelas tahun di dalam penjara tanpa kehadiranku? Mendadak air mata yang menggenang di mataku menetes tak tertahankan. Aku terisak.
“Maukah kamu menjenguk ayahmu yang sedang sekarat, Nak?” Paman Muklis merendahkan nada suaranya.
Suara keramaian di bandara seakan samar saat kalimat itu menancap ke telinga dan jantungku. Aku menoleh ke wajah penuh harap Paman Muklis dengan pipi yang basah. Kata Paman Muklis, nenek benci sekali pada ayah. Sehingga aku harus sembunyi-sembunyi bertemu dengannya di bandara ini usai sekolah.
Demi mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini kuanggap salah, aku menurut. Bahwa ayahku seorang pembunuh berencana yang tidak sesuai logika.
“Baiklah, Paman, Cacha mau pulang. Tapi sekolah Cacha bagaimana? Ajeng bagaimana? Apakah Cacha jemput Ajeng dulu di rumah? Dia pasti cemas mencariku. Begitupun nenek,” kataku.
“Tidak perlu, Nak. Kita hanya sebentar. Setelah vonis tuduhan ayahmu tercabut, kau boleh kembali ke Jakarta, meneruskan cita-cita kalian. Lalu kalian boleh pulang lagi menjenguk ayahmu yang sudah tua itu.”
Aku mengangguk lagi, menyeka air mataku dan mengusap ingus. Dengan tas ransel berisi buku-buku pelajaran dan kartu pelajar, aku memantapkan langkahku menuju tempat check-in, kemudian melewati pemeriksaan dan naik ke pesawat dengan tujuan Bandara Praya.
***
Tembok beton yang berdiri di hadapanku terlihat pengkuh dan angkuh. Seperti tidak mengenal belas kasihan bagi yang menghuninya macam ayah yang jelas tidak bersalah. Selama di pesawat tadi, aku lebih banyak diam, sementara Paman Muklis banyak menjelaskan apa yang selama ini tidak kuketahui.
Kata Paman Muklis, neneklah yang telah menjebloskan ayah ke penjara atas kekuasan Om Fahrul, adik kandung ibu yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Entah kenapa aku lebih percaya pada cerita Paman Muklis ketimbang nenek. Ayahku bukanlah pembunuh seperti yang kalian bayangkan.
Panjangnya lorong penjara yang sunyi dan gelap, membuat bulu kudukku merinding. Ini seperti neraka kehidupan yang sejujurnya aku sendiri belum melihat seperti apa bentuknya. Saat meliuk lagi ke kiri, kulihat dua penjaga berseragam coklat tengah berdiri memegang senjata api di tangan kanannya. Paman Muklis menghampiri mereka dan berkata ingin bertemu dengan ayahku.
Dua sipir itu mencatat nama kami dan menghubungi bagian pembawa kunci melalui HT yang tersampir di ikat pinggangnya. Kami kemudian dipersilakan duduk di bangku besi usang yang hanya bisa diduduki maksimal dua orang. Kudengar derap langkah semakin dekat ke arahku. Hatiku bergetar tidak karuan. Semakin dekat, dan rasanya aku ingin pingsan saja.
“Cacha? Anakku? Ya, Ayah yakin kau adalah anakku,” Namun suara berat itu membuatku menoleh, menguatkan hatiku yang ketakutan karena harus bertemu dengan masalalu. Dia ayahku. Ya, sampai kapanpun dia ayahku.
Sebelum laki-laki kurus berseragam oranye kumal itu duduk di hadapanku, aku segera berdiri dan mencium tangannya. Tentu saja dibubuhi dengan air mataku yang tidak bisa kuajak kompromi agar jangan keluar dulu sebelum percakapan kami selesai. Aku tidak bisa berdusta, kalau aku merindukan laki-laki yang separuh rambutnya sudah beruban ini. Kurasa itu bukan uban faktor usia, melainkan teramat banyaknya ia memikirkan suatu beban yang tak kunjung reda.
“Kamu pulang, sayang?” Dia ayahku, yang sebelas tahun kuanggap sebagai penjahat dan pecundang lantaran tak pernah mau menemuiku, kini mengelus rambut dan mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Sekarang siapa yang jahat? Aku atau dia? Seseorang yang selalu merindukanku siang dan maalam, menyebut namaku dalam setiap helaan napas dan doanya. Akulah yang jahat. Menuduhnya sebagai pembunuh dan ayah yang tidak bertanggungjawab.
Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk ayah, bilang kalau aku minta maaf atas kesalahpahamanku selama ini terhadapnya.
“Ayah sudah memaafkanmu, Nak, Ayah yang bersalah, tidak bisa menjemput kalian ke Jakarta. Dimana Ajeng? Dia tidak ikut?” katanya menatapku dengan bersimbah air mata.
Aku menoleh ke arah Paman Muklis, mencari jawaban. Tak kuduga ia pun menangis. Sesedih itukah pertemuanku dengan ayah? Sehingga para sipir pun ikut mengusap air mata.
“Ajeng akan menyusul, Ta. Setelah ini kalian bisa bersama-sama lagi. Tak ada yang akan bisa memisahkan kalian.” Paman Muklis menjelaskan.
Aku mengangguk setuju, kemudian memeluk ayah sekali lagi. Rasanya kostum yang ayah kenakan tidak sewangi dulu saat aku memeluknya. Kostum ini pasti jarang dicuci. Dan ayah jarang mandi. Tapi aku merasa nyaman berada dalam pelukannya. Aku tidak mau berpisah lagi. TIDAK MAU!
“Berhenti menangis, Nak. Jangan menangis lagi. Kita sudah bertemu. Semestinya kita bahagia,” Ayah mengendurkan pelukannya dan mengusap air mataku.
Namun sebelum aku ingin bicara panjang lebar padanya, para sipir menarik kasar ayahku dan bilang waktu besuknya telah habis. Aku menelan ludah. Kejam sekali mereka memperlakukan ayahku seperti itu. Sebelas tahun yang tak bisa kubayangkan ayah makan apa, tidurnya bagaimana, apakah ia dapat perlakuan yang layak atau tidak?
Ah, pikiran buruk itu membuatku semakin sengsara. Aku tidak tega menyaksikan ayah diboyong kembali ke dalam jeruji besi oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. Beliau menoleh kepadaku, aku mencoba tersenyum tegar, meski sebenarnya tidak.
Ayah, aku berjanji akan membebaskanmu dari sini. Bersabarlah… Aku sayang Ayah...
***
Cerita ini merupakan versi anaknya. Untuk lebih detailnya, saya tulis dalam bentuk novel yang bertajuk 'MARTANORA'
Novelnya bisa didapatkan di Pena Nusantara.
Kontak (WA : 0857-7186-0444)
Harga buku : Rp 44.100
Kamis, 04 Agustus 2016
Merayakan Kebebasan #Cerpen
Ada banyak serentetan kisah pilu yang berputar-putar di kepalaku. Lucu. Kadang aku suka tertawa sendiri mengingatnya. Laki-laki itu bernama Bombom. Panggilan sayang yang kulayangkan padanya. Karena bertubuh tambun dan tinggi besar, aku kadang memanggilnya si kasur empuk. Perkenalan yang tidak sengaja di sebuah bengkel motor, membuahkan benih-benih cinta antara aku dengan dia.
Dia tidak tampan, tapi aku menyukainya. Katanya orang gemuk seperti dia tidak akan kuat berjalan kaki sejauh satu kilometer. Jangankan 1 km, kuajak mengejar bus tujuh meter saja dia sudah melambaikan tangan. Tapi aku menyukainya.
Bombom tipikal cowok romantis. Bagaimana tidak, dia tak pernah absen membawakanku kejutan. Awal tahun 2012, dia memberikan boneka Modo–simbol Seagames yang kebetulan saat itu diadakan di Indonesia. Aku memang ingin sekali boneka itu sejak dulu, namun sayang tidak diperjual-belikan di tempat umum. Hingga akhirnya aku mendapatkannya dari Bombom.
“Kamu selalu tahu apa yang kumau,” kataku.
“Karena aku sayang kamu, Jesie. Semua pikiranmu terbaca olehku,” ujarnya gombal. Oh iya, Bombom juga pernah memberikanku sekuntum bunga mawar. Aduh, romantis, bukan?
Sebulan berikutnya, ia mengenalkanku pada kedua orangtuanya di daerah Bekasi. Saat itu ibunya sedang terkapar di rumah sakit karena penyakit diabetes. Kesan pertama yang kudapat saat bertemu dengan orangtuanya, aku merasa gemetar. Ayahnya yang seorang HRD di perusahaan TBK, wajahnya cukup sangar. Namun Bombom bilang, aku pasti bisa meluluhkannya.
Apakah kedua orangtuaku setuju seorang plankton berjalan dengan Tinky Winky? Jangan ditanya. Mereka selalu tersenyum bila Bombom bertandang ke rumahku, menenteng dua kotak martabak dan buah durian montong berukuran jumbo. Barangkali itulah siasatnya untuk menakhlukan hati keluargaku.
Tiga bulan pertama, hubungan kami sangat baik. Di tengah kesibukanku sebagai wanita kantoran, aku selalu menyempatkan diri bercakap-cakap dengannya melalui telepon. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang terjadi. Saat pulang kerja pun, aku dan Bombom masih bertukar cerita di kawat selular tanpa kabel. Bercerita ngaler-ngidul dan berakhir saat mata butuh dipejamkan. Serta memulai kembali perbincangan saat mata terbuka di pagi buta.
Selalu ada cerita seru yang kami lontarkan satu sama lain. Rasanya aku teramat sangat bahagia memiliki kekasih seperti dia. Selain perhatian, Bombom mudah sekali membuatku tertawa.
Semua masih baik-baik saja, sampai masalah pertama di bulan keempat pun muncul. Di mana kami bertukar ponsel sebagai wujud kepercayaan. Awalnya dia menolak, karena untuk apa saling percaya kalau harus membuat peraturan yang rumit. Hal itu malah membuatku curiga. Agar dia mau memberikan ponselnya, aku mengancamnya putus. Kata putus pertama yang kuajukan padanya.
"Papah, bagaimana keadaan Mamah? Bunda khawatir. Bolehkah Bunda menjenguk?" - From Indah.
Deg.
Jantungku remuk seketika membaca pesan yang tersangkut di trash ponsel Bombom.
"Sayang, nanti sore kamu mampir ke rumahku, kan? Kamu sudah janji lho, jangan pura-pura lupa lagi. Aku kangen banget sama kamu."
Perempuan bernama Dian merengek ingin bertemu.
Aku menarik napas. Siapa lagi wanita ini? Pikirku jengkel. Untuk membahas masalah ini, aku harus bertemu Bombom sesegera mungkin. Titik.
Minggu pukul sepuluh pagi, Bombom menjemputku di rumah. Aku sudah bersiap sejam yang lalu menunggu kedatangannya. Hari ini adalah awal pertengkaranku dengan Bombom. Aku tak banyak bicara dan menjaga jarak dudukku dengan dia yang sengaja kuganjal dengan tas selempang di tengahnya.
“Kamu kenapa sih? Aneh banget. Pegangan ke pinggangku, nanti jatuh,” ucapnya dengan nada bingung.
Aku diam saja, malas menjawab. Nama Indah dan Dian terus menggelayut dan berputar-putar di otakku laksana angin puting beliung. Aku benci nama perempuan-perempuan itu. Sesak hati, aku memberanikan diri memulai pembicaraan. “Tolong jelaskan padaku siapa Indah dan Dian?”
Bombom menoleh dan memelankan laju motornya. “Siapa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Sudahlah, jangan mengeles macam bajaj. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku.”
Bombom menepikan motornya di depan mini market. “Kamu tidak membawa jamuan untuk keluargaku, Jesie?” Bombom malah mengalihkan pembicaraan.
Aku terdiam, malas menjawab. Hatiku sedang dilanda kebakaran, kenapa pula dia mencoba memberikan angin. Aku butuh air untuk memadamkannya, bodoh sekali kau ini. Makiku kesal dalam hati.
“Bombom, kalau kau tidak mau menjelaskan, biar aku pulang. Aku tidak jadi menemui orangtuamu. Sini, kembalikan ponselku! Aku juga bisa berselingkuh dengan laki-laki lain. Memangnya kamu saja. Dan kita PUTUS!”
Bombom memicingkan matanya padaku. Ini adalah pernyataan pembubaran barisan kedua yang kugugat untuknya. Seandainya di sana ada benda pecah beling, mungkin sudah kulempar benda itu ke jalanan. Deras hujan yang mengguyur ibu kota, menyibak rasa sakitku akan cinta yang terkhianati. Bukankah Bombom hanya mencintaiku? Hanya menyayangiku seorang? Bohong! Di belakangku, dia menggandakan cintanya pada dua perempuan sekaligus. Dasar buaya darat.
Dua hari dua malam aku tak menggubris pesan singkat dan telepon dari Bombom. Dia mengatakan bahwa ibunya masuk kembali ke rumah sakit karena penyakit diabetesnya kambuh. Aku tidak membalas pesannya. Malas. Hatiku sedang terselimuti kabut cemburu. Aku amat membencinya. Di dalam angkutan umum, aku menyeka air mataku, tidak peduli penumpang lain memperhatikan. Di perjalanan sepulang bekerja, Bombom lagi-lagi meneleponku. Ini panggilannya yang ke-23. Aku tidak jua menjawab. Tubuhku yang lelah, kusandarkan pada punggung jok metro mini yang keras dan karatan.
Tetapi mataku terlonjak saat menatap layar ponsel bertuliskan nama ayah Bombom. Mau tidak mau, aku terpaksa mengangkat. Dengan berlinang air mata dan dada yang amat sesak, aku mencoba menyamarkan tangisanku. “Halo, Om.”
“Halo, Jesie. Aldo bilang kau tidak mau mengangkat teleponnya. Kalian bertengkar? Ah, masa muda seperti kalian masih rentan cemburu buta. Aldo sudah bercerita panjang lebar tentang masalah kalian. Kami sedang berada di RS Citra. Mamah Aldo kumat lagi penyakitnya. Sebentar, ini Izmi ingin bicara denganmu.”
Aku menyeringai. Susah payah mengumpulkan kalimat.
“Kak Jesie, Kak Indah itu mantannya Mas Aldo, sudah putus setahun lalu. Jangan bertengkar lagi ya, kasihan Mas Aldo. Dia demam memikirkan Kak Jesie. Mamah juga sedang diinfus lagi. Izmi hanya minta Kak Jesie percaya pada Mas Aldo. Itu saja,” pinta Izmi memelas. Sebenarnya aku tidak peduli.
Hubunganku dengan Izmi bisa dibilang seperti sahabat. Dia kerap curhat tentang kisah remajanya padaku. Dan aku selalu senang menanggapinya. Kedekatan itu pun semakin akrab tatkala kami mancing bersama ke Bogor, merayakan kepulangan Ibu Bombom dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Namun sekarang situasinya berbeda. Aku sudah tak percaya Bombom lagi. Bilapun dia berucap ini itu, berjanji untuk mengajakku pergi ke luar kota, aku menganggapnya tipuan halus agar aku memercayainya.
Tiga puluh jam lebih diam-diaman, aku mengalah berbaikan. Walau sebenarnya aku masih kesal pada penghianatan Bombom. Hubungan kami normal seperti sediakala. Namun Bombom kembali berulah setelah aku luluh dengan semua rayuannya.
“Ayangku, Jesie, aku tidak bisa ke rumahmu siang ini. Motorku mendadak ngambek. Bila dipaksakan, bisa fatal. Aku butuh uang untuk memperbaikinya,” jelasnya di ujung telepon.
“Berapa?” tanyaku langsung tembak.
Bombom menyebutkan nominal. Aku langsung mentransferkannya via e-banking. Tak apalah merogoh sedikit uang demi bisa bertemu sang pujaan hati. Mungkin untuk memusnahkan rindu mesti harus berkorban, baik hati maupun materi. Namun setelah dikasih hati ayam, dia malah minta jantung pisang. Perangai buruk Bombom semakin menjadi-jadi. Perihal alasannya resign dari pekerjaannya, dia terus memoroti uang hasil tabunganku selama bertahun-tahun. Dan aku selalu saja tak tega membiarkannya nelangsa.
Hingga pada suatu titik, cincin hasil jerih payahku selama ini disitanya lantaran dia terlalu lama menjadi pengangguran. Kata Bombom, “Uangku adalah uangmu, dan uangmu adalah uangku.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya akibat rasa trauma kandasnya hubungan dia dengan Indah dulu. Maka ia tak mau hal serupa terjadi lagi ketika menjalin hubungan serius denganku. Lantas apa hubungannya denganku?
Entah terhipnotis atau apa, aku pun memberikan cincin itu pada Bombom. Tiga bulan kemudian, hubungan kami seperti benang kusut. Perlahan aku mulai sadar kalau uang tabunganku habis tak bersisa gara-gara Bombom. Cincinku yang dulu disitanya tidak kembali. Aku semakin curiga kalau benda bulat berwarna emas yang kubeli dari hasil keringatku, diberikannya pada wanita lain. Entah itu Indah ataupun Dian. Brengsek. Umpatku kesal dalam hati. Semua janji manis yang ia ucapkan, tak satu pun ditepati. Seperti saat dia berjanji mengajakku ke bulan. Bukan ke bulan, melainkan berkeliling dunia menggunakan sepeda ontel.
Hingga aku pun harus melontarkan kata putus untuk ke sekian kalinya saat Bombom berpura-pura tidak dapat menemaniku di malam pergantian tahun 2013 dengan alasan pembagian warisan keluarga. Bohong. Aku tahu Bombom mengarang cerita palsu.
Beberapa detik setelah pergantian tahun, hujan deras mengguyur atap dan beranda rumah. Rumput dan pohon jarak bergoyang tertiup angin. Pagi pertama di tahun 2013, kulalui dengan suasana duka yang menyelimuti kekalutan hatiku. Aku menatap debit air yang semakin deras.
Bombom, kenapa kau belum mengabariku? Desisku dalam hati. Sampai malam kembali tiba, aku gelisah menanti kabar dari Bombom tercinta. Ia tak juga menghubungiku. Aku gengsi menghubunginya lebih dulu, dan lebih memilih meringkuk di kamar, berharap ia mau berbicara denganku besok pagi.
Sedetik, dua detik, berganti menit, jam, dan hari, ia tak pernah merespon telepon dan SMS dariku. Rasanya jemariku tak tahan untuk mengetikkan nomor ponselnya, mencoba menguhubunginya untuk ke sekian kalinya. Dering pertama, tak ada jawaban. Dering kedua membisu, tidak ada jawaban juga. Dering ketiga, suara laki-laki yang kukenal menjawab malas. “Halo.”
“Bombom... aku minta maaf. Tempo hari aku kesal padamu.”
“Jesie, ini sudah berapa kali kamu mengucapkan kata ‘putus’? Baiklah, kita SELESAI!” telepon terputus.
Aku menggigit bibir. Kaget bagai tersambar petir. Tanpa sadar, air mataku jatuh berderai mencari anak sungai.
“Bombom, kenapa kau setega itu? Aku tidak serius mengatakannya.” Aku berbicara dengan tembok. Niat menenangkan hati mendengarkan radio, yang ada hatiku semakin berkabut. Lagu ‘Kesedihanku’ milik Sammy Simorangkir, mengiringi air mataku yang terus berjatuhan laksana hujan. Menurutku, lagu itu merupakan lagu paling spektakuler yang pernah ada dalam kisah kandasnya sebuah cerita cinta.
Meskipun aku sering patah hati oleh cinta-cinta yang lain, harus kuakui, aku sangat terpukul kehilangan Bombom. Eh, tapi kenapa lirik lagunya ada kata ‘indah’? Padahal yang kini tersisa hanyalah kenangan terindah dan kesedihanku tentang dia.
Aku sering melamun bila berangkat dan pulang kerja. Di mobil, di toilet, di kamar, di mal, saat menyebrang jalan, menghentikan bus, dan sampai nyasar ke tempat antah barantah lantaran tidak fokus pada nomor jurusanKopaja yang kutumpangi.
Kok banyak pesawat terbang ya? Kok banyak lapangan bola sih? tanyaku dalam hati. Pantas saja, rupanya aku melewati jalan belakang bandara.
“Pak, saya tersesat lupa jalan pulang. Tolong antarkan saya ke Terminal Kali Deres ya,” aku menepuk seorang tukang ojek yang sedang mangkal. Entahlah, saat itu aku tidak sadar kalau ternyata lapangan bola yang super luas dan di atasnya terdapat banyak beterbangan pesawat merupakan sebuah bandara. Aku sungguh merasa asing berada di tempat itu. Kopaja yang terakhir kunaiki rupanya berhenti di persinggahan pamungkas di daerah Rawa Bokor.
“Memangnya si Neng mau pulang ke mana? Lumayan jauh loh ke Terminal Kali Deres”
“Ke rumah lah, masa ke gua,” jawabku sekenanya dan langsung naik di jok belakang motor.
“Pundaknya berat tidak, Neng?”
“Beberapa hari terakhir, saya memang sedang kurang enak badan, Pak,”
“Si Neng ketempelan, makanya pundaknya berat. Biar saya antar ke orang pintar ya, Neng,” kata si bapak tukang ojek.
Apa? Aku ketempelan? Ketempelan makhluk halus? Siluman? Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Ternyata problema putus cinta bisa mengakibatkan manusia bergaul dengan bangsa jin. Canggih sekali.
Biar kujelaskan padamu, bahwa pada saat hatiku runtuh ke jurang terdalam, pada saat air mataku bercucuran bak hujan yang terus mengguyur jalanan, hati ini semakin pedih tatkala aku menghampiri Bombom ke rumahnya dalam keadaan sakit. Dengan napas yang kurasa tinggal satu tabung lagi, dan dada sesak yang tak bisa kujelaskan, aku melihat ia turun dari mobil dan memasuki garasi bersama ayahnya entah dari mana. Anehnya, ketika aku bertanya apakah ada Bombom di dalam, keluarganya mendadak dingin dan bilang tidak ada.
“Baru saja keluar,” kata ibunya dengan nada ketus. Kebohongan apa lagi ini? Jauh-jauh aku datang untuk menyelesaikan perkara, tapi yang kudapat hanya kesakitan hati yang semakin parah. Di bawah mendungnya langit, aku mencari tukang ojek dan menunggu bus jurusan Jakarta. Mungkin hanya tukang ojek yang setia mengantarkanku ke mana pun aku butuh.
Ketika telah mendapatkan bus, aku memilih duduk di barisan samping jendela. Hujan pun mulai turun. Menggenangkan seluruh kenangan tentang Bombom. Tentang manis pahitnya perjalanan kami selama dua belas bulan. Dan di sepanjang perjalanan pulang, aku mengenang banyak hal yang tak akan pernah terulang. Ingin menjerit, namun pita suara hanya sampai di tenggorokan.
Di luar hujan semakin menderas. Membawaku pergi dari semua luka menyedihkan ini. Hingga akhirnya air mataku tak kuasa lagi meluber di jalanan ibukota yang selama seminggu terakhir membuat dadaku membuncah sesak. Kala itu Jakarta mengalami banjir besar-besaran yang melumpuhkan seluruh akses jalan dan aktivitas. Barangkali langit turut menangisi kepedihan hatiku. Barangkali langit berusaha menumpahkan seluruh isinya untuk mengucapkan belasungkawa.
Enam bulan kemudian, aku berhasil mengeringkan air mataku, membalut hatiku dengan perban, mengeringkan lukanya hingga normal. Susah payah aku melakukan semuanya. Dan dia datang menyapaku. Seolah merasa tidak ada apa-apa antara kami berdua. Hey, kau kira aku masih mencintaimu? Setelah apa yang kau perbuat selama ini padaku? Enak saja memintaku kembali dan berceloteh tentang cinta. Memangnya aku punya banyak hati untuk menerima semua rasa sakitku selama ini? Mungkin aku terlalu bodoh untuk mencintai. Tetapi aku tidak rela jika harus tertipu lagi. Aku tidak cantik, tidak juga pintar. Tapi aku tidak bodoh untuk terus dipermainkan.
Tepat 35 bulan atau hampir tiga tahun pasca putusnya hubunganku dengan Bombom, aku merogoh isi dompetku yang pernah terselipkan fotonya di sana. Di selembaran foto berukuran dompet itu, ia yang mengenakan kaus polos berwarna hijau, celana kolor di bawah lutut, sandal jepit, sedang tersenyum menyusuri pohon bambu. Aku merobeknya hingga menjadi sepuluh bagian, lalu kuremas dan kuhamburkan ke halaman. Aku berhak merayakan hari kebebasanku tanpa diiming-imingi masa lalu yang suram dan penuh penyesalan.
Cinta memang butuh pengorbanan, tapi tak selamanya membuatmu miskin secara materi. Cinta memang perlu memaafkan, namun tak selayaknya kau berikan hati dan ragamu secara cuma-cuma pada orang yang salah sasaran. Kini semuanya sudah terungkap, bahwa kekasihku yang paling kucintai dulu, tidak lain dan tidak bukan adalah psikopat. Sungguh, aku tak bermaksud menjelek-jelekannya. Memang seperti itulah kenyataannya. Aku percaya, masih banyak ikan yang lebih berkualitas di laut (itupun kalau lautnya tidak surut). Nah, apakah laki-laki seperti itu pantas dicintai? Kurasa kalian bisa menjawabnya sendiri.
Dia tidak tampan, tapi aku menyukainya. Katanya orang gemuk seperti dia tidak akan kuat berjalan kaki sejauh satu kilometer. Jangankan 1 km, kuajak mengejar bus tujuh meter saja dia sudah melambaikan tangan. Tapi aku menyukainya.
Bombom tipikal cowok romantis. Bagaimana tidak, dia tak pernah absen membawakanku kejutan. Awal tahun 2012, dia memberikan boneka Modo–simbol Seagames yang kebetulan saat itu diadakan di Indonesia. Aku memang ingin sekali boneka itu sejak dulu, namun sayang tidak diperjual-belikan di tempat umum. Hingga akhirnya aku mendapatkannya dari Bombom.
“Kamu selalu tahu apa yang kumau,” kataku.
“Karena aku sayang kamu, Jesie. Semua pikiranmu terbaca olehku,” ujarnya gombal. Oh iya, Bombom juga pernah memberikanku sekuntum bunga mawar. Aduh, romantis, bukan?
Sebulan berikutnya, ia mengenalkanku pada kedua orangtuanya di daerah Bekasi. Saat itu ibunya sedang terkapar di rumah sakit karena penyakit diabetes. Kesan pertama yang kudapat saat bertemu dengan orangtuanya, aku merasa gemetar. Ayahnya yang seorang HRD di perusahaan TBK, wajahnya cukup sangar. Namun Bombom bilang, aku pasti bisa meluluhkannya.
Apakah kedua orangtuaku setuju seorang plankton berjalan dengan Tinky Winky? Jangan ditanya. Mereka selalu tersenyum bila Bombom bertandang ke rumahku, menenteng dua kotak martabak dan buah durian montong berukuran jumbo. Barangkali itulah siasatnya untuk menakhlukan hati keluargaku.
Tiga bulan pertama, hubungan kami sangat baik. Di tengah kesibukanku sebagai wanita kantoran, aku selalu menyempatkan diri bercakap-cakap dengannya melalui telepon. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang terjadi. Saat pulang kerja pun, aku dan Bombom masih bertukar cerita di kawat selular tanpa kabel. Bercerita ngaler-ngidul dan berakhir saat mata butuh dipejamkan. Serta memulai kembali perbincangan saat mata terbuka di pagi buta.
Selalu ada cerita seru yang kami lontarkan satu sama lain. Rasanya aku teramat sangat bahagia memiliki kekasih seperti dia. Selain perhatian, Bombom mudah sekali membuatku tertawa.
Semua masih baik-baik saja, sampai masalah pertama di bulan keempat pun muncul. Di mana kami bertukar ponsel sebagai wujud kepercayaan. Awalnya dia menolak, karena untuk apa saling percaya kalau harus membuat peraturan yang rumit. Hal itu malah membuatku curiga. Agar dia mau memberikan ponselnya, aku mengancamnya putus. Kata putus pertama yang kuajukan padanya.
"Papah, bagaimana keadaan Mamah? Bunda khawatir. Bolehkah Bunda menjenguk?" - From Indah.
Deg.
Jantungku remuk seketika membaca pesan yang tersangkut di trash ponsel Bombom.
"Sayang, nanti sore kamu mampir ke rumahku, kan? Kamu sudah janji lho, jangan pura-pura lupa lagi. Aku kangen banget sama kamu."
Perempuan bernama Dian merengek ingin bertemu.
Aku menarik napas. Siapa lagi wanita ini? Pikirku jengkel. Untuk membahas masalah ini, aku harus bertemu Bombom sesegera mungkin. Titik.
Minggu pukul sepuluh pagi, Bombom menjemputku di rumah. Aku sudah bersiap sejam yang lalu menunggu kedatangannya. Hari ini adalah awal pertengkaranku dengan Bombom. Aku tak banyak bicara dan menjaga jarak dudukku dengan dia yang sengaja kuganjal dengan tas selempang di tengahnya.
“Kamu kenapa sih? Aneh banget. Pegangan ke pinggangku, nanti jatuh,” ucapnya dengan nada bingung.
Aku diam saja, malas menjawab. Nama Indah dan Dian terus menggelayut dan berputar-putar di otakku laksana angin puting beliung. Aku benci nama perempuan-perempuan itu. Sesak hati, aku memberanikan diri memulai pembicaraan. “Tolong jelaskan padaku siapa Indah dan Dian?”
Bombom menoleh dan memelankan laju motornya. “Siapa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Sudahlah, jangan mengeles macam bajaj. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku.”
Bombom menepikan motornya di depan mini market. “Kamu tidak membawa jamuan untuk keluargaku, Jesie?” Bombom malah mengalihkan pembicaraan.
Aku terdiam, malas menjawab. Hatiku sedang dilanda kebakaran, kenapa pula dia mencoba memberikan angin. Aku butuh air untuk memadamkannya, bodoh sekali kau ini. Makiku kesal dalam hati.
“Bombom, kalau kau tidak mau menjelaskan, biar aku pulang. Aku tidak jadi menemui orangtuamu. Sini, kembalikan ponselku! Aku juga bisa berselingkuh dengan laki-laki lain. Memangnya kamu saja. Dan kita PUTUS!”
Bombom memicingkan matanya padaku. Ini adalah pernyataan pembubaran barisan kedua yang kugugat untuknya. Seandainya di sana ada benda pecah beling, mungkin sudah kulempar benda itu ke jalanan. Deras hujan yang mengguyur ibu kota, menyibak rasa sakitku akan cinta yang terkhianati. Bukankah Bombom hanya mencintaiku? Hanya menyayangiku seorang? Bohong! Di belakangku, dia menggandakan cintanya pada dua perempuan sekaligus. Dasar buaya darat.
Dua hari dua malam aku tak menggubris pesan singkat dan telepon dari Bombom. Dia mengatakan bahwa ibunya masuk kembali ke rumah sakit karena penyakit diabetesnya kambuh. Aku tidak membalas pesannya. Malas. Hatiku sedang terselimuti kabut cemburu. Aku amat membencinya. Di dalam angkutan umum, aku menyeka air mataku, tidak peduli penumpang lain memperhatikan. Di perjalanan sepulang bekerja, Bombom lagi-lagi meneleponku. Ini panggilannya yang ke-23. Aku tidak jua menjawab. Tubuhku yang lelah, kusandarkan pada punggung jok metro mini yang keras dan karatan.
Tetapi mataku terlonjak saat menatap layar ponsel bertuliskan nama ayah Bombom. Mau tidak mau, aku terpaksa mengangkat. Dengan berlinang air mata dan dada yang amat sesak, aku mencoba menyamarkan tangisanku. “Halo, Om.”
“Halo, Jesie. Aldo bilang kau tidak mau mengangkat teleponnya. Kalian bertengkar? Ah, masa muda seperti kalian masih rentan cemburu buta. Aldo sudah bercerita panjang lebar tentang masalah kalian. Kami sedang berada di RS Citra. Mamah Aldo kumat lagi penyakitnya. Sebentar, ini Izmi ingin bicara denganmu.”
Aku menyeringai. Susah payah mengumpulkan kalimat.
“Kak Jesie, Kak Indah itu mantannya Mas Aldo, sudah putus setahun lalu. Jangan bertengkar lagi ya, kasihan Mas Aldo. Dia demam memikirkan Kak Jesie. Mamah juga sedang diinfus lagi. Izmi hanya minta Kak Jesie percaya pada Mas Aldo. Itu saja,” pinta Izmi memelas. Sebenarnya aku tidak peduli.
Hubunganku dengan Izmi bisa dibilang seperti sahabat. Dia kerap curhat tentang kisah remajanya padaku. Dan aku selalu senang menanggapinya. Kedekatan itu pun semakin akrab tatkala kami mancing bersama ke Bogor, merayakan kepulangan Ibu Bombom dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Namun sekarang situasinya berbeda. Aku sudah tak percaya Bombom lagi. Bilapun dia berucap ini itu, berjanji untuk mengajakku pergi ke luar kota, aku menganggapnya tipuan halus agar aku memercayainya.
Tiga puluh jam lebih diam-diaman, aku mengalah berbaikan. Walau sebenarnya aku masih kesal pada penghianatan Bombom. Hubungan kami normal seperti sediakala. Namun Bombom kembali berulah setelah aku luluh dengan semua rayuannya.
“Ayangku, Jesie, aku tidak bisa ke rumahmu siang ini. Motorku mendadak ngambek. Bila dipaksakan, bisa fatal. Aku butuh uang untuk memperbaikinya,” jelasnya di ujung telepon.
“Berapa?” tanyaku langsung tembak.
Bombom menyebutkan nominal. Aku langsung mentransferkannya via e-banking. Tak apalah merogoh sedikit uang demi bisa bertemu sang pujaan hati. Mungkin untuk memusnahkan rindu mesti harus berkorban, baik hati maupun materi. Namun setelah dikasih hati ayam, dia malah minta jantung pisang. Perangai buruk Bombom semakin menjadi-jadi. Perihal alasannya resign dari pekerjaannya, dia terus memoroti uang hasil tabunganku selama bertahun-tahun. Dan aku selalu saja tak tega membiarkannya nelangsa.
Hingga pada suatu titik, cincin hasil jerih payahku selama ini disitanya lantaran dia terlalu lama menjadi pengangguran. Kata Bombom, “Uangku adalah uangmu, dan uangmu adalah uangku.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya akibat rasa trauma kandasnya hubungan dia dengan Indah dulu. Maka ia tak mau hal serupa terjadi lagi ketika menjalin hubungan serius denganku. Lantas apa hubungannya denganku?
Entah terhipnotis atau apa, aku pun memberikan cincin itu pada Bombom. Tiga bulan kemudian, hubungan kami seperti benang kusut. Perlahan aku mulai sadar kalau uang tabunganku habis tak bersisa gara-gara Bombom. Cincinku yang dulu disitanya tidak kembali. Aku semakin curiga kalau benda bulat berwarna emas yang kubeli dari hasil keringatku, diberikannya pada wanita lain. Entah itu Indah ataupun Dian. Brengsek. Umpatku kesal dalam hati. Semua janji manis yang ia ucapkan, tak satu pun ditepati. Seperti saat dia berjanji mengajakku ke bulan. Bukan ke bulan, melainkan berkeliling dunia menggunakan sepeda ontel.
Hingga aku pun harus melontarkan kata putus untuk ke sekian kalinya saat Bombom berpura-pura tidak dapat menemaniku di malam pergantian tahun 2013 dengan alasan pembagian warisan keluarga. Bohong. Aku tahu Bombom mengarang cerita palsu.
Beberapa detik setelah pergantian tahun, hujan deras mengguyur atap dan beranda rumah. Rumput dan pohon jarak bergoyang tertiup angin. Pagi pertama di tahun 2013, kulalui dengan suasana duka yang menyelimuti kekalutan hatiku. Aku menatap debit air yang semakin deras.
Bombom, kenapa kau belum mengabariku? Desisku dalam hati. Sampai malam kembali tiba, aku gelisah menanti kabar dari Bombom tercinta. Ia tak juga menghubungiku. Aku gengsi menghubunginya lebih dulu, dan lebih memilih meringkuk di kamar, berharap ia mau berbicara denganku besok pagi.
Sedetik, dua detik, berganti menit, jam, dan hari, ia tak pernah merespon telepon dan SMS dariku. Rasanya jemariku tak tahan untuk mengetikkan nomor ponselnya, mencoba menguhubunginya untuk ke sekian kalinya. Dering pertama, tak ada jawaban. Dering kedua membisu, tidak ada jawaban juga. Dering ketiga, suara laki-laki yang kukenal menjawab malas. “Halo.”
“Bombom... aku minta maaf. Tempo hari aku kesal padamu.”
“Jesie, ini sudah berapa kali kamu mengucapkan kata ‘putus’? Baiklah, kita SELESAI!” telepon terputus.
Aku menggigit bibir. Kaget bagai tersambar petir. Tanpa sadar, air mataku jatuh berderai mencari anak sungai.
“Bombom, kenapa kau setega itu? Aku tidak serius mengatakannya.” Aku berbicara dengan tembok. Niat menenangkan hati mendengarkan radio, yang ada hatiku semakin berkabut. Lagu ‘Kesedihanku’ milik Sammy Simorangkir, mengiringi air mataku yang terus berjatuhan laksana hujan. Menurutku, lagu itu merupakan lagu paling spektakuler yang pernah ada dalam kisah kandasnya sebuah cerita cinta.
Meskipun aku sering patah hati oleh cinta-cinta yang lain, harus kuakui, aku sangat terpukul kehilangan Bombom. Eh, tapi kenapa lirik lagunya ada kata ‘indah’? Padahal yang kini tersisa hanyalah kenangan terindah dan kesedihanku tentang dia.
Aku sering melamun bila berangkat dan pulang kerja. Di mobil, di toilet, di kamar, di mal, saat menyebrang jalan, menghentikan bus, dan sampai nyasar ke tempat antah barantah lantaran tidak fokus pada nomor jurusanKopaja yang kutumpangi.
Kok banyak pesawat terbang ya? Kok banyak lapangan bola sih? tanyaku dalam hati. Pantas saja, rupanya aku melewati jalan belakang bandara.
“Pak, saya tersesat lupa jalan pulang. Tolong antarkan saya ke Terminal Kali Deres ya,” aku menepuk seorang tukang ojek yang sedang mangkal. Entahlah, saat itu aku tidak sadar kalau ternyata lapangan bola yang super luas dan di atasnya terdapat banyak beterbangan pesawat merupakan sebuah bandara. Aku sungguh merasa asing berada di tempat itu. Kopaja yang terakhir kunaiki rupanya berhenti di persinggahan pamungkas di daerah Rawa Bokor.
“Memangnya si Neng mau pulang ke mana? Lumayan jauh loh ke Terminal Kali Deres”
“Ke rumah lah, masa ke gua,” jawabku sekenanya dan langsung naik di jok belakang motor.
“Pundaknya berat tidak, Neng?”
“Beberapa hari terakhir, saya memang sedang kurang enak badan, Pak,”
“Si Neng ketempelan, makanya pundaknya berat. Biar saya antar ke orang pintar ya, Neng,” kata si bapak tukang ojek.
Apa? Aku ketempelan? Ketempelan makhluk halus? Siluman? Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Ternyata problema putus cinta bisa mengakibatkan manusia bergaul dengan bangsa jin. Canggih sekali.
Biar kujelaskan padamu, bahwa pada saat hatiku runtuh ke jurang terdalam, pada saat air mataku bercucuran bak hujan yang terus mengguyur jalanan, hati ini semakin pedih tatkala aku menghampiri Bombom ke rumahnya dalam keadaan sakit. Dengan napas yang kurasa tinggal satu tabung lagi, dan dada sesak yang tak bisa kujelaskan, aku melihat ia turun dari mobil dan memasuki garasi bersama ayahnya entah dari mana. Anehnya, ketika aku bertanya apakah ada Bombom di dalam, keluarganya mendadak dingin dan bilang tidak ada.
“Baru saja keluar,” kata ibunya dengan nada ketus. Kebohongan apa lagi ini? Jauh-jauh aku datang untuk menyelesaikan perkara, tapi yang kudapat hanya kesakitan hati yang semakin parah. Di bawah mendungnya langit, aku mencari tukang ojek dan menunggu bus jurusan Jakarta. Mungkin hanya tukang ojek yang setia mengantarkanku ke mana pun aku butuh.
Ketika telah mendapatkan bus, aku memilih duduk di barisan samping jendela. Hujan pun mulai turun. Menggenangkan seluruh kenangan tentang Bombom. Tentang manis pahitnya perjalanan kami selama dua belas bulan. Dan di sepanjang perjalanan pulang, aku mengenang banyak hal yang tak akan pernah terulang. Ingin menjerit, namun pita suara hanya sampai di tenggorokan.
Di luar hujan semakin menderas. Membawaku pergi dari semua luka menyedihkan ini. Hingga akhirnya air mataku tak kuasa lagi meluber di jalanan ibukota yang selama seminggu terakhir membuat dadaku membuncah sesak. Kala itu Jakarta mengalami banjir besar-besaran yang melumpuhkan seluruh akses jalan dan aktivitas. Barangkali langit turut menangisi kepedihan hatiku. Barangkali langit berusaha menumpahkan seluruh isinya untuk mengucapkan belasungkawa.
Enam bulan kemudian, aku berhasil mengeringkan air mataku, membalut hatiku dengan perban, mengeringkan lukanya hingga normal. Susah payah aku melakukan semuanya. Dan dia datang menyapaku. Seolah merasa tidak ada apa-apa antara kami berdua. Hey, kau kira aku masih mencintaimu? Setelah apa yang kau perbuat selama ini padaku? Enak saja memintaku kembali dan berceloteh tentang cinta. Memangnya aku punya banyak hati untuk menerima semua rasa sakitku selama ini? Mungkin aku terlalu bodoh untuk mencintai. Tetapi aku tidak rela jika harus tertipu lagi. Aku tidak cantik, tidak juga pintar. Tapi aku tidak bodoh untuk terus dipermainkan.
Tepat 35 bulan atau hampir tiga tahun pasca putusnya hubunganku dengan Bombom, aku merogoh isi dompetku yang pernah terselipkan fotonya di sana. Di selembaran foto berukuran dompet itu, ia yang mengenakan kaus polos berwarna hijau, celana kolor di bawah lutut, sandal jepit, sedang tersenyum menyusuri pohon bambu. Aku merobeknya hingga menjadi sepuluh bagian, lalu kuremas dan kuhamburkan ke halaman. Aku berhak merayakan hari kebebasanku tanpa diiming-imingi masa lalu yang suram dan penuh penyesalan.
Cinta memang butuh pengorbanan, tapi tak selamanya membuatmu miskin secara materi. Cinta memang perlu memaafkan, namun tak selayaknya kau berikan hati dan ragamu secara cuma-cuma pada orang yang salah sasaran. Kini semuanya sudah terungkap, bahwa kekasihku yang paling kucintai dulu, tidak lain dan tidak bukan adalah psikopat. Sungguh, aku tak bermaksud menjelek-jelekannya. Memang seperti itulah kenyataannya. Aku percaya, masih banyak ikan yang lebih berkualitas di laut (itupun kalau lautnya tidak surut). Nah, apakah laki-laki seperti itu pantas dicintai? Kurasa kalian bisa menjawabnya sendiri.
Kondangan dan Taksi Ajaib ala Flowers #TrueStories #Flowers #Cerpen
“Kalian sudah di mana? Gue hampir lumutan nunggu di sini.” Aku membenarkan posisi dudukku, memperhatikan dua laki-laki yang gerak-geriknya mencurigakan sedari tadi.
Siang ini cuaca amat terik. Menimbulkan buih-buih keringat di pelipis dan leherku. Rencananya aku dan keenam sahabatku akan kondangan ke tempat Yuni, teman satu kampus kami. Seperti yang sudah-sudah, setiap acara kondangan ke teman satu kampus, kami bertujuh patungan uang untuk membeli kado. Biarlah Vitri, Nia, dan Zaky yang mengurus. Aku hanya mendukung saja.
“Sebentar lagi, Ei. Kita lagi on the way ke sana. Naik Taksi.” Nia membalas chatku.
“Plat Taksinya nomor berapa?”
“Aduh, mana sempat gue lihat. Posisi lo dimana? Biar kita yang samperin.”
Aku menjelaskan panjang lebar sesuai posisiku saat ini. Kedua tanganku mendekap tas, takut-takut ada rampok, mengingat kolong Bunderan Slipi rentan dengan tindak kejahatan. Sebelum memutuskan untuk menunggu di tempat ini, kami sempat bersitegang di grup chatting. Susah sekali mengumpulkan tujuh kepala yang berbeda pendapatnya. Alhasil, lebih baik aku mengalah menunggu di persimpangan jalan.
Satu Taksi biru merapat ke arahku. Aku melongok melihat isinya. Siapa tau itu rombonganku. Nia dari dalam melambai-lambaikan tangan. Membuka pintu menyuruhku masuk. Aku celingak-celinguk ke belakang, mencari satu Taksi lagi.
“Kita cuma nyewa satu taksi, Ei. Ayo cepetan masuk. Nanti keburu ada polisi,” Nia menggeser duduknya agak ke tengah. Lebih tepatnya dipangku Zaky. Aku menganga lebar, “Apa? Satu Taksi?”
“Ini muat nggak? Bukannya kesepakatannya mau nyewa dua Taksi?”
“Muat-muatin ajalah, Ei. Lagipula kalau pakai dua Taksi takutnya malah berpencar.”
Aku mendengus tak berkomentar. Berimpitan dengan Nia, Zaky, Vitri, Tiur, dan Tya, semakin membuatku gerah. Sementara Puji duduk di depan menemani pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya. Sebenarnya dia mau menyilakanku duduk bersamanya, agar Nia tidak perlu dipangku Zaky segala. Tapi pak supir bilang, nanti takut kena sanksi polisi kalau di depan penumpangnya lebih dari dua orang.
Nah loh! Aku mendesis untuk ke sekian kalinya. Tubuhku terjepit tidak keruan. Mirip pepes pindang yang siap diobral di pasar.
“Aduh, dandanan gue luntur nih kena Indriani.” Zaky komplain karena mascaranya menipis. Nia tertawa saja menanggapinya. “Lu kecil-kecil berat juga, Indriani. Turun-turun dari taksi, gue langsung langsing.”
“Bagus donk, Jek, jadi gak usah diet-dietan. Hahaha” Nia memanfaatkan keadaan duduk sepuasnya di paha Zaky dan Tya. Tya pasrah menerima keadaan.
Tiur hanya membalas dengan tawa meledak-ledak. Dres anggunnya seketika tidak beraturan. AC sudah tidak ada rasanya. Vitri yang posisinya paling pinggir, jauh lebih kasihan tergencit. Ia tidak bisa berkutik lagi. Meskipun dongkol, aku juga ikut terbahak, menertawai kekonyolan sahabat-sahabatku ini.
“Lo udah lama nunggu, Ei?” Vitri membuka obrolan.
“Dari jam 10 gue udah nangkring di situ. Pegel tau nunggu kalian sejam lebih. Mana panas banget.” Seruku kesal.
“Nih, Tante Tya ngaret, Ei. Kita nungguin dia lama.” Zaky mengomel lagi.
“Maaf, ya, semuanya. Aduh, ini gue dari Depok, tempat kakak gue, Tadi mampir sebentar ke kosan ambil tas. Sorry ya Jeng-Jeng…” Tya mengelus satu per satu lengan manusia di dalam taksi ini.
“Nggak bisa gitu, Tante. Pokoknya nanti kena denda. Dandanan kita luntur nih gara-gara nungguin lo doang.” Nia memasang wajah super galak.
Tya mengusap hidungnya yang berkeringat, wajahnya pura-pura memelas.
Semua tertawa lagi. Pak supir yang mendengar keributan, hanya mengintip dari spion. Puji ikut menoleh, tertawa. Biasanya supir taksi tidak mau menerima jumlah manusia sebanyak ini ke dalam mobil argonya. Tujuh orang adalah jumlah yang banyak sekali. Tapi berhubung bapak supir orangnya baik hati dan tidak sombong, maka kami diberikan kesempatan menumpanginya secara beramai-ramai.
**
“Ei sama Tya gak ikut belanja nih, bawain kadonya! Berat tahu.” Vitri mengeluarkan plastik extra large dari dalam bagasi, mengikuti perangai Zaky. Nia membayar upah Taksi, sedangkan Tiur dan Puji menutup mata dengan tangan. Tampaknya mereka silau kena pantulan sinar matahari. Atau, takut mendadak hitam legam terbakar teriknya.
“Ini apa? Bed Cover?” Aku menerima plastik bersisi kado kotak tidak kalah besar untuk mempelai pengantin.
Sudah menjadi kebiasaan lumrah bagi kami membagi tugas. Aku tidak ikut berbelanja karena sedang ada urusan di rumah. Begitupun dengan Tya yang sedang berkunjung ke rumah kakaknya di kawasan Depok. Ini adalah isi kado yang sama untuk ke tiga kalinya, setelah kondangan ke Yana dan Siti.
Udara siang terasa semakin terik. Kaki kami sudah menginjak gedung pernikahan Yuni, mengisi buku tamu, lantas menyerahkan kado besar pada petugas pencatat tamu. Zaky yang mewakilkan menulis nama kami bertujuh.
“Suvenirnya mau gelas permen atau foto?” Pencatat tamu itu bertanya.
“Kalau dua-duanya tidak bisa ya?” Aku balik bertanya.
“Bisa. Hanya fotonya satu beramai-ramai.”
Aku berembuk sebentar dengan enam sahabatku. “Gimana?” Kami saling mengangguk dengan bahasa tubuh. Hanya aku dan enam sahabatku yang mengenali bahasa tubuh tersebut.
“Ya udah deh, Mba, kita pilih dua-duanya saja,”
“Kalau begitu, ini kupon untuk fotonya. Dan ini gelas permennya masing-masing orang kebagian satu, ya,” Mba Penerima tamu memberikan satu kupon foto untuk Nia dan tujuh gelas permen pada kami.
Gedung pernikahan semarak dengan tamu-tamu undangan. Musik melantun merdu memenuhi ruangan. Bunga berwarna-warni terpampang indah di setiap penjuru pintu. Eksotis. Mempelai wanita cantik sekali. Kamipun mendekat bersalaman, mengucapkan selamat dan cium pipi kiri-pipi kanan.
“Makasih ya udah datang. Komplit lagi, bertujuh.”
“Iya, Mbak Yun. Rasanya senang bisa berkesempatan datang ke tempat bersejarah ini. Cantik sekali dirimu.”
“Ah, Ei bisa saja. Kalian langsung makan saja di paresmenan. Nah, di sebelah kanan ya.” Yuni menunjuk meja makan panjang dengan tersenyum sumringah. Aku tidak bohong mengatakan bahwa dia hari ini terlihat jauh lebih cantik.
Setelah bersalaman, kami bertujuh langsung menyerbu makanan. Tepat sekali tiba gedung pukul 12 siang. Perutku sudah keroncongan.
“Kalian mau makan apa?” Mataku mencari-cari es krim. Tidak ada.
“Makan nasi aja biar kenyang.” Nia mencomot piring, sendok, garpu, dan isinya. Disusul Zaky, Vitri, Puji, Tya, dan Tiur. Aku mengekor paling belakang.
“Di sini gak ada es krim, Ei.” Vitri yang hafal betul gelagatku menyergah bangku kosong. Kami duduk berpencar, sibuk dengan makanan masing-masing yang kini ada di pangkuan kami. Hanya aku dan Vitri yang duduk bersisian.
Dimana pun berada, es krim adalah sasaran favoritku. Teringat setahun yang lalu saat menghadiri wedding party Lina, teman kampus kami juga. Saat makanan tandas di piring, kami bertujuh langsung menyerbu es krim yang sejak kami datang sudah menggiurkan lidah untuk menyecapnya.
“Kayaknya cuma nyampe kerongkongan ini mah.” Zaky menyeletuk asal, tangannya menjilati sendok es krim yang sudah tidak berasa.
“Gue gak puas nih, sumpah.” Nia meletakkan tempat es krim yang berukuran mini itu ke bawah bangku.
Tanpa basa-basi, aku mengompori enam sahabatku untuk nambah lagi. Dan di sana kami berjejer mengantri es krim untuk kedua kalinya. Tidak peduli semua mata memandang risih. Pelayan es krim hanya manut menuangkan krim ke tempat mini itu. Membuatku tidak sabar untuk menghabiskannya satu loyang penuh.
“Dulu kita pernah malu-maluin di acara nikahannya Lina. Gue sebenernya bingung mau taruh dimana lagi muka gue saat itu. Tapi jujur gue juga gak bisa ngelewatin es krim di depan mata. Meski hanya sesendok tok.” Vitri tergelak mengenang masa itu.
Aku juga sudah sedari tadi senyum-senyum sendiri mengingatnya. Kami laiknya anak kecil yang tidak bisa kehilangan momen es krim gratisan.
Ruangan makan semakin ramai dengan suara sendok dan garpu yang mengenai piring. Juga tawa dan bincang-bincang tamu lainnya. Aku dan Vitri sudah mengenyahkan seluruh makanan di piring ke dalam lambung. Saatnya untuk cuci mulut.
“Mau ke buah, kan? Gue ikut.” Zaky beranjak dari duduknya, menarik lenganku merengek minta diajak. “Sayangnya gak ada es krim di sini. Gue sudah mendamba-dambakan dari sebelum berangkat.”
“Gue sama Ei juga udah ngebayangin pesta es krim di sini. Tapi emang gak ada, mau gimana lagi. Nanti beli sendiri ajalah di rumah masing-masing. Hehe…” celetuk Vitri.
Saat aku, Vitri, dan Zaky mengerubungi ruang cuci mulut, Nia, Puji, Tiur, dan Tya sudah berbaris di belakang. Amboi, makanannya banyak sekali. Ada puding coklat, puding peach, kue bolu, aneka buah-buahan, dan minuman ringan lainnya. Seketika mataku mengerjap-ngerjap ingin mengambil semuanya.
Zaky dan Nia berebut garpu, tertawa mengambil makanan kesukaan mereka, yakni puding coklat. Tiur, Puji, dan Tya terlihat kerepotan menggenggam segelas sirup di tangan kiri mereka, dan piring kecil di tangan kanan berupa potongan buah melon dan semangka. Sedangkan aku dan Vitri sudah hinggap ke beberapa tempat mencicipi kue cubit.
“Eh, Nia, bantuin gue dong… Kenyang banget nih gue.” Zaky bekerja keras menghabiskan setengah potongan puding di piringnya. Nia melotot, suruh siapa ambil banyak-banyak, demikian maksudnya. Aku sendiri rasanya ingin muntah karena saking penuhnya perut oleh makanan.
“Habis ini kita foto-foto.” Vitri mengambil selembar tisu dari meja paresmenan, mengelap mulutnya yang belepotan.
Kami bertujuh menghampiri sesi pemotretan. Zaky merogoh tas selempangnya, mengeluarkan bedak dan lipstik. Warna merah di bibirnya memudar. Begitupun dengan bedaknya yang sudah luntur. Nia tidak mau kalah, meski ia cewek cuek yang tidak mementingkan makeup, namun kali ini dia berusaha sefeminin mungkin di depan kamera.
“Gue pinjem sisirnya dong, Ei…” Vitri menungguku yang sedang asyik menata rambutku helai demi helai.
Setelah memastikan sudah tampil cantik, kami bertujuh antri untuk seksi pemotretan. Dengan tingkah yang terus pecicilan tidak mau diam, akhirnya tibalah kami menjadi model terkenal. Nia menyerahkan kupon pada fotograper. Kamipun beraksi di atas panggung dengan gaya yang jauh dari pantas sebagai artis dadakan.
“Lah, koq tiga, Bang? Bukannya kami hanya mendapat satu kupon?” Aku kaget saat tukang foto memberikan tiga lembar hasil jepretan, katanya bonus. “Kalau begini caranya pasti ada yang iri, Bang.” Aku melipat dahi.
Aku dan keenam sahabatku turun panggung dengan nada kecewa. Kalau hanya tiga foto, lantas empat yang lainnya harus rela gigit jari.
“Ei, coba lo ngomong sama abangnya bisa diprinin lagi gak? Kan lo jago ngomong tuh!” Nia memberikan usul.
Ada benarnya membujuk sang fotograper, siapa tau kami bisa bawa pulang satu-satu. Dan akupun melangkah mendekati payung yang disorotkan lampu kamera. “Bang, apakah kami bisa cetak empat foto lagi? Kami kan ada tujuh orang, sedangkan tadi Abang memberikan tiga lembar jepretan. Kasihan yang gak dapet.”
Sang Fotographer berpikir sejenak. Tumpukan antrian sesi pemotretan bertambah panjang. “Kalau mau, si Neng baris lagi di belakang.” Mas fotograper kembali sibuk memberi aba-aba pada artis dadakan di panggung.
Aku melangkah antusias memberikan kabar baik pada sahabat-sahabatku, “Kita baris lagi di belakang.”
“Boleh, Ei?” Nia tertawa penuh kemenangan.
Kami berbaris lagi di belakang antrian. Bedanya tidak seperti antrian pertama. Kali ini tidak ada yang mengeluarkan cermin, bedak, lipstik, dan sisir. Kejadian ini mengingatkanku pada saat mengantri es krim kedua kalinya di acara kondangan Lina. Aku menggeleng-geleng. Sungguh memalukan. Aku dan keenam sahabatku laiknya orang ndeso yang haus akan jepretan kamera.
Semua mata memandang heran. Kami tidak peduli. Kameramen berbaik hati memberikan empat jatah foto lagi. Dengan gayanya yang khas, ia memberikan aba-aba, dan kami pun tersenyum lebar. Tujuh anak manusia ini selalu membuat rusuh di manapun berada.
Chees…
Empat jeperetan keluar dari mesin otomatis itu. Aku tersenyum lebar.
Akhirnya kami memegang hasil jepretan satu-satu, melambai-lambaikan membiarkannya kering. Setelah pamitan pada kedua mempelai dan keluarga pengantin, kami bertujuh berlenggak-lenggok keluar gedung, melewati penjaga buku tamu. Lihatlah, penjaga buku tamu itu terbengong-bengong melihat kami memegang foto di tangan kami. Bukankah jatahnya satu untuk beramai-ramai? Suka-suka kita, dong, syirik aja!
Tanpa rasa berdosa sedikitpun, kami terus tertawa hingga di luar gedung pernikahan, menertawai sikap kami yang tidak tahu malu. Kadang kebahagiaan tak dapat diukur hanya dari tingkat usia dan kedewasaan. Inilah rasa bahagia sejati sesungguhnya. Tertawa-tawa tanpa memikirkan hal apapun kecuali kekonyolan kita.
Selepas kondangan, kami duduk beralaskan rumput di bawah pohon rimbun, kemudian menyetop taksi yang sudi menampung kami bertujuh dalam satu angkutan. Ajaib, kan?
Siang ini cuaca amat terik. Menimbulkan buih-buih keringat di pelipis dan leherku. Rencananya aku dan keenam sahabatku akan kondangan ke tempat Yuni, teman satu kampus kami. Seperti yang sudah-sudah, setiap acara kondangan ke teman satu kampus, kami bertujuh patungan uang untuk membeli kado. Biarlah Vitri, Nia, dan Zaky yang mengurus. Aku hanya mendukung saja.
“Sebentar lagi, Ei. Kita lagi on the way ke sana. Naik Taksi.” Nia membalas chatku.
“Plat Taksinya nomor berapa?”
“Aduh, mana sempat gue lihat. Posisi lo dimana? Biar kita yang samperin.”
Aku menjelaskan panjang lebar sesuai posisiku saat ini. Kedua tanganku mendekap tas, takut-takut ada rampok, mengingat kolong Bunderan Slipi rentan dengan tindak kejahatan. Sebelum memutuskan untuk menunggu di tempat ini, kami sempat bersitegang di grup chatting. Susah sekali mengumpulkan tujuh kepala yang berbeda pendapatnya. Alhasil, lebih baik aku mengalah menunggu di persimpangan jalan.
Satu Taksi biru merapat ke arahku. Aku melongok melihat isinya. Siapa tau itu rombonganku. Nia dari dalam melambai-lambaikan tangan. Membuka pintu menyuruhku masuk. Aku celingak-celinguk ke belakang, mencari satu Taksi lagi.
“Kita cuma nyewa satu taksi, Ei. Ayo cepetan masuk. Nanti keburu ada polisi,” Nia menggeser duduknya agak ke tengah. Lebih tepatnya dipangku Zaky. Aku menganga lebar, “Apa? Satu Taksi?”
“Ini muat nggak? Bukannya kesepakatannya mau nyewa dua Taksi?”
“Muat-muatin ajalah, Ei. Lagipula kalau pakai dua Taksi takutnya malah berpencar.”
Aku mendengus tak berkomentar. Berimpitan dengan Nia, Zaky, Vitri, Tiur, dan Tya, semakin membuatku gerah. Sementara Puji duduk di depan menemani pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya. Sebenarnya dia mau menyilakanku duduk bersamanya, agar Nia tidak perlu dipangku Zaky segala. Tapi pak supir bilang, nanti takut kena sanksi polisi kalau di depan penumpangnya lebih dari dua orang.
Nah loh! Aku mendesis untuk ke sekian kalinya. Tubuhku terjepit tidak keruan. Mirip pepes pindang yang siap diobral di pasar.
“Aduh, dandanan gue luntur nih kena Indriani.” Zaky komplain karena mascaranya menipis. Nia tertawa saja menanggapinya. “Lu kecil-kecil berat juga, Indriani. Turun-turun dari taksi, gue langsung langsing.”
“Bagus donk, Jek, jadi gak usah diet-dietan. Hahaha” Nia memanfaatkan keadaan duduk sepuasnya di paha Zaky dan Tya. Tya pasrah menerima keadaan.
Tiur hanya membalas dengan tawa meledak-ledak. Dres anggunnya seketika tidak beraturan. AC sudah tidak ada rasanya. Vitri yang posisinya paling pinggir, jauh lebih kasihan tergencit. Ia tidak bisa berkutik lagi. Meskipun dongkol, aku juga ikut terbahak, menertawai kekonyolan sahabat-sahabatku ini.
“Lo udah lama nunggu, Ei?” Vitri membuka obrolan.
“Dari jam 10 gue udah nangkring di situ. Pegel tau nunggu kalian sejam lebih. Mana panas banget.” Seruku kesal.
“Nih, Tante Tya ngaret, Ei. Kita nungguin dia lama.” Zaky mengomel lagi.
“Maaf, ya, semuanya. Aduh, ini gue dari Depok, tempat kakak gue, Tadi mampir sebentar ke kosan ambil tas. Sorry ya Jeng-Jeng…” Tya mengelus satu per satu lengan manusia di dalam taksi ini.
“Nggak bisa gitu, Tante. Pokoknya nanti kena denda. Dandanan kita luntur nih gara-gara nungguin lo doang.” Nia memasang wajah super galak.
Tya mengusap hidungnya yang berkeringat, wajahnya pura-pura memelas.
Semua tertawa lagi. Pak supir yang mendengar keributan, hanya mengintip dari spion. Puji ikut menoleh, tertawa. Biasanya supir taksi tidak mau menerima jumlah manusia sebanyak ini ke dalam mobil argonya. Tujuh orang adalah jumlah yang banyak sekali. Tapi berhubung bapak supir orangnya baik hati dan tidak sombong, maka kami diberikan kesempatan menumpanginya secara beramai-ramai.
**
“Ei sama Tya gak ikut belanja nih, bawain kadonya! Berat tahu.” Vitri mengeluarkan plastik extra large dari dalam bagasi, mengikuti perangai Zaky. Nia membayar upah Taksi, sedangkan Tiur dan Puji menutup mata dengan tangan. Tampaknya mereka silau kena pantulan sinar matahari. Atau, takut mendadak hitam legam terbakar teriknya.
“Ini apa? Bed Cover?” Aku menerima plastik bersisi kado kotak tidak kalah besar untuk mempelai pengantin.
Sudah menjadi kebiasaan lumrah bagi kami membagi tugas. Aku tidak ikut berbelanja karena sedang ada urusan di rumah. Begitupun dengan Tya yang sedang berkunjung ke rumah kakaknya di kawasan Depok. Ini adalah isi kado yang sama untuk ke tiga kalinya, setelah kondangan ke Yana dan Siti.
Udara siang terasa semakin terik. Kaki kami sudah menginjak gedung pernikahan Yuni, mengisi buku tamu, lantas menyerahkan kado besar pada petugas pencatat tamu. Zaky yang mewakilkan menulis nama kami bertujuh.
“Suvenirnya mau gelas permen atau foto?” Pencatat tamu itu bertanya.
“Kalau dua-duanya tidak bisa ya?” Aku balik bertanya.
“Bisa. Hanya fotonya satu beramai-ramai.”
Aku berembuk sebentar dengan enam sahabatku. “Gimana?” Kami saling mengangguk dengan bahasa tubuh. Hanya aku dan enam sahabatku yang mengenali bahasa tubuh tersebut.
“Ya udah deh, Mba, kita pilih dua-duanya saja,”
“Kalau begitu, ini kupon untuk fotonya. Dan ini gelas permennya masing-masing orang kebagian satu, ya,” Mba Penerima tamu memberikan satu kupon foto untuk Nia dan tujuh gelas permen pada kami.
Gedung pernikahan semarak dengan tamu-tamu undangan. Musik melantun merdu memenuhi ruangan. Bunga berwarna-warni terpampang indah di setiap penjuru pintu. Eksotis. Mempelai wanita cantik sekali. Kamipun mendekat bersalaman, mengucapkan selamat dan cium pipi kiri-pipi kanan.
“Makasih ya udah datang. Komplit lagi, bertujuh.”
“Iya, Mbak Yun. Rasanya senang bisa berkesempatan datang ke tempat bersejarah ini. Cantik sekali dirimu.”
“Ah, Ei bisa saja. Kalian langsung makan saja di paresmenan. Nah, di sebelah kanan ya.” Yuni menunjuk meja makan panjang dengan tersenyum sumringah. Aku tidak bohong mengatakan bahwa dia hari ini terlihat jauh lebih cantik.
Setelah bersalaman, kami bertujuh langsung menyerbu makanan. Tepat sekali tiba gedung pukul 12 siang. Perutku sudah keroncongan.
“Kalian mau makan apa?” Mataku mencari-cari es krim. Tidak ada.
“Makan nasi aja biar kenyang.” Nia mencomot piring, sendok, garpu, dan isinya. Disusul Zaky, Vitri, Puji, Tya, dan Tiur. Aku mengekor paling belakang.
“Di sini gak ada es krim, Ei.” Vitri yang hafal betul gelagatku menyergah bangku kosong. Kami duduk berpencar, sibuk dengan makanan masing-masing yang kini ada di pangkuan kami. Hanya aku dan Vitri yang duduk bersisian.
Dimana pun berada, es krim adalah sasaran favoritku. Teringat setahun yang lalu saat menghadiri wedding party Lina, teman kampus kami juga. Saat makanan tandas di piring, kami bertujuh langsung menyerbu es krim yang sejak kami datang sudah menggiurkan lidah untuk menyecapnya.
“Kayaknya cuma nyampe kerongkongan ini mah.” Zaky menyeletuk asal, tangannya menjilati sendok es krim yang sudah tidak berasa.
“Gue gak puas nih, sumpah.” Nia meletakkan tempat es krim yang berukuran mini itu ke bawah bangku.
Tanpa basa-basi, aku mengompori enam sahabatku untuk nambah lagi. Dan di sana kami berjejer mengantri es krim untuk kedua kalinya. Tidak peduli semua mata memandang risih. Pelayan es krim hanya manut menuangkan krim ke tempat mini itu. Membuatku tidak sabar untuk menghabiskannya satu loyang penuh.
“Dulu kita pernah malu-maluin di acara nikahannya Lina. Gue sebenernya bingung mau taruh dimana lagi muka gue saat itu. Tapi jujur gue juga gak bisa ngelewatin es krim di depan mata. Meski hanya sesendok tok.” Vitri tergelak mengenang masa itu.
Aku juga sudah sedari tadi senyum-senyum sendiri mengingatnya. Kami laiknya anak kecil yang tidak bisa kehilangan momen es krim gratisan.
Ruangan makan semakin ramai dengan suara sendok dan garpu yang mengenai piring. Juga tawa dan bincang-bincang tamu lainnya. Aku dan Vitri sudah mengenyahkan seluruh makanan di piring ke dalam lambung. Saatnya untuk cuci mulut.
“Mau ke buah, kan? Gue ikut.” Zaky beranjak dari duduknya, menarik lenganku merengek minta diajak. “Sayangnya gak ada es krim di sini. Gue sudah mendamba-dambakan dari sebelum berangkat.”
“Gue sama Ei juga udah ngebayangin pesta es krim di sini. Tapi emang gak ada, mau gimana lagi. Nanti beli sendiri ajalah di rumah masing-masing. Hehe…” celetuk Vitri.
Saat aku, Vitri, dan Zaky mengerubungi ruang cuci mulut, Nia, Puji, Tiur, dan Tya sudah berbaris di belakang. Amboi, makanannya banyak sekali. Ada puding coklat, puding peach, kue bolu, aneka buah-buahan, dan minuman ringan lainnya. Seketika mataku mengerjap-ngerjap ingin mengambil semuanya.
Zaky dan Nia berebut garpu, tertawa mengambil makanan kesukaan mereka, yakni puding coklat. Tiur, Puji, dan Tya terlihat kerepotan menggenggam segelas sirup di tangan kiri mereka, dan piring kecil di tangan kanan berupa potongan buah melon dan semangka. Sedangkan aku dan Vitri sudah hinggap ke beberapa tempat mencicipi kue cubit.
“Eh, Nia, bantuin gue dong… Kenyang banget nih gue.” Zaky bekerja keras menghabiskan setengah potongan puding di piringnya. Nia melotot, suruh siapa ambil banyak-banyak, demikian maksudnya. Aku sendiri rasanya ingin muntah karena saking penuhnya perut oleh makanan.
“Habis ini kita foto-foto.” Vitri mengambil selembar tisu dari meja paresmenan, mengelap mulutnya yang belepotan.
Kami bertujuh menghampiri sesi pemotretan. Zaky merogoh tas selempangnya, mengeluarkan bedak dan lipstik. Warna merah di bibirnya memudar. Begitupun dengan bedaknya yang sudah luntur. Nia tidak mau kalah, meski ia cewek cuek yang tidak mementingkan makeup, namun kali ini dia berusaha sefeminin mungkin di depan kamera.
“Gue pinjem sisirnya dong, Ei…” Vitri menungguku yang sedang asyik menata rambutku helai demi helai.
Setelah memastikan sudah tampil cantik, kami bertujuh antri untuk seksi pemotretan. Dengan tingkah yang terus pecicilan tidak mau diam, akhirnya tibalah kami menjadi model terkenal. Nia menyerahkan kupon pada fotograper. Kamipun beraksi di atas panggung dengan gaya yang jauh dari pantas sebagai artis dadakan.
“Lah, koq tiga, Bang? Bukannya kami hanya mendapat satu kupon?” Aku kaget saat tukang foto memberikan tiga lembar hasil jepretan, katanya bonus. “Kalau begini caranya pasti ada yang iri, Bang.” Aku melipat dahi.
Aku dan keenam sahabatku turun panggung dengan nada kecewa. Kalau hanya tiga foto, lantas empat yang lainnya harus rela gigit jari.
“Ei, coba lo ngomong sama abangnya bisa diprinin lagi gak? Kan lo jago ngomong tuh!” Nia memberikan usul.
Ada benarnya membujuk sang fotograper, siapa tau kami bisa bawa pulang satu-satu. Dan akupun melangkah mendekati payung yang disorotkan lampu kamera. “Bang, apakah kami bisa cetak empat foto lagi? Kami kan ada tujuh orang, sedangkan tadi Abang memberikan tiga lembar jepretan. Kasihan yang gak dapet.”
Sang Fotographer berpikir sejenak. Tumpukan antrian sesi pemotretan bertambah panjang. “Kalau mau, si Neng baris lagi di belakang.” Mas fotograper kembali sibuk memberi aba-aba pada artis dadakan di panggung.
Aku melangkah antusias memberikan kabar baik pada sahabat-sahabatku, “Kita baris lagi di belakang.”
“Boleh, Ei?” Nia tertawa penuh kemenangan.
Kami berbaris lagi di belakang antrian. Bedanya tidak seperti antrian pertama. Kali ini tidak ada yang mengeluarkan cermin, bedak, lipstik, dan sisir. Kejadian ini mengingatkanku pada saat mengantri es krim kedua kalinya di acara kondangan Lina. Aku menggeleng-geleng. Sungguh memalukan. Aku dan keenam sahabatku laiknya orang ndeso yang haus akan jepretan kamera.
Semua mata memandang heran. Kami tidak peduli. Kameramen berbaik hati memberikan empat jatah foto lagi. Dengan gayanya yang khas, ia memberikan aba-aba, dan kami pun tersenyum lebar. Tujuh anak manusia ini selalu membuat rusuh di manapun berada.
Chees…
Empat jeperetan keluar dari mesin otomatis itu. Aku tersenyum lebar.
Akhirnya kami memegang hasil jepretan satu-satu, melambai-lambaikan membiarkannya kering. Setelah pamitan pada kedua mempelai dan keluarga pengantin, kami bertujuh berlenggak-lenggok keluar gedung, melewati penjaga buku tamu. Lihatlah, penjaga buku tamu itu terbengong-bengong melihat kami memegang foto di tangan kami. Bukankah jatahnya satu untuk beramai-ramai? Suka-suka kita, dong, syirik aja!
Tanpa rasa berdosa sedikitpun, kami terus tertawa hingga di luar gedung pernikahan, menertawai sikap kami yang tidak tahu malu. Kadang kebahagiaan tak dapat diukur hanya dari tingkat usia dan kedewasaan. Inilah rasa bahagia sejati sesungguhnya. Tertawa-tawa tanpa memikirkan hal apapun kecuali kekonyolan kita.
Selepas kondangan, kami duduk beralaskan rumput di bawah pohon rimbun, kemudian menyetop taksi yang sudi menampung kami bertujuh dalam satu angkutan. Ajaib, kan?
Rabu, 20 Juli 2016
Puing 1 #Jingga #NovelSeries
“Bergegas, Jingga! Langit sudah mau jatuh. Gerimisnya membesar.” Livi berlarian mencari tempat berteduh.
Belakangan ini cuaca di Jakarta memang sedang moody. Sejam lalu terik, kemudian berganti gelap. Livi benar, mendung yang menggelayut di akhir Bulan Maret ini bagaikan hendak tumpah, mengguyur seluruh permukaan bumi dan isinya. Jingga tidak ikut berlari menghindari tumpahan langit seperti yang dilakukan asisten sekaligus sahabat baiknya, Livi. Gadis berpengawakan mungil dan imut itu amat menyukai hujan. Menurutnya bulir air yang menetes dari langit merupakan hiburan dari Tuhan. Selalu mengesankan.
“Jingga, apa kau tidak mendengar kata-kataku? Lari, Jingga! Nanti kau basah kuyup setiba di kantor,” Livi berteriak seperti tarzan. Tak sadar kalau orang-orang di sekitar memperhatikan tingkahnya macam anak kecil main tak umpat. Perempuan berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi itu berteduh di depan ruko kecil di samping halte busway.
Jingga berjalan santai di antara kesibukan siang itu. Sepanjang trotoar, para pekerja kantoran macam Jingga dan Livi yang sama-sama bosan makan di kantin gedung maupun catering dari perusahaan, memilih makan di kantin gedung tetangga, dan kini berlarian menjauhi hujan. Satpam-satpam repot mengatur masuk dan keluarnya mobil dari dan hendak ke parkiran. Jingga benar-benar tak menghiraukan teriakan Livi yang mati-matian berusaha mengeringkan kemeja formalnya menggunakan tangan yang disulap menjadi kipas buatan.
“Makeupmu luntur, Jingga! Rambutmu akan lepek. Kau bisa sakit. Ah, kau ini selalu keras kepala.” Livi terus berteriak. Napasnya tersengal, seperti habis berlari satu putaran kebun binatang.
“Biarkan saja,” jawab Jingga ketus setibanya setengah menit kemudian menyusul Livi di tempat berteduh. Ia bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan makeupnya luntur, rambutnya lepek, kemeja blousenya kuyup, sepatu hak tingginya kotor, dan akan sakit seperti yang dikatakan Livi barusan. Tak lama berselang, halte yang mereka singgahi penuh sesak oleh manusia-manusia yang takut tertimpa air hujan dan menjadi ajang arisan dadakan.
“Kau jangan gila, Jingga!” Livi mencoba tidak peduli. Ia masih sibuk mengeringkan bajunya dengan tangan. Kemejanya tidak sebasah Jingga, karena lebih dulu sampai di tempat berteduh, tetapi ia terus berusaha bagaimana caranya agar kemejanya kembali kering. Percuma, tampias air hujan yang tertiup angin menambah basah kemejanya.
Jingga tersenyum memperhatikan ulah Livi yang terus berkicau, tidak bisa diam. Ia melirik jam tangan warna silvernya, waktu istirahat tinggal 17 menit lagi, sementara hujan semakin lebat. Sebenarnya gedung perkantoran tidak terlalu jauh, sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Hanya tinggal menyeberang jalan, melewati dua gedung perkantoran yang tinggi menjulang, dan menerobos taman serta lahan parkiran. Jingga bisa saja berlari di bawah hujan, sudah kepalang basah juga. Tapi demi menghargai Livi, ia pun harus menghentikan langkah.
“Pekerjaan masih banyak, Liv. Kita harus segera ke kantor,” Jingga menatap jalanan. Mobil yang berseliweran di sepanjang Jalan Sudirman terlihat lengang. Mungkin sebagian pengendara enggan mengoperasikan kendaraan roda empatnya saat turun hujan.
Dulu sebelum gubernur DKI baru dilantik, jalanan ini semburawut macam benang kusut. Sepeda motor yang jumlahnya jutaan memadati seluruh badan jalan. Ribuan kendaraan roda empat dan dua milik pribadi, angkutan umum seperti bus patas, kopaja, metromini, angkot-angkot kecil, dan bajaj, kerap membuat Jakarta tidak bergerak dan berisik oleh riuh klakson yang terdengar bagai terompet di malam tahun baru. Setiap hari seperti itu. Membosankan. Ia dan semua penghuni Jakarta merasa setahun lebih tua dari umur sebenarnya, termasuk Livi yang masih mengeluh tentang bajunya yang basah.
Livi memandangi Jingga tidak suka, “Kau memang benar-benar sudah gila, Jingga! Di otakmu cuma ada pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan, tidak jauh-jauh. Aku kenyang mendengarnya,”
Jingga mengangkat kedua alisnya, Loh, ada yang salah dengan ucapanku? Memang begitu kan kenyataannya? “Lantas sampai kapan kita menunggu hujan reda? Pekerjaan menggunung sudah memanggil-manggil untuk diselesaikan, Liv,” Jingga melirik lagi jam tangannya. Jarum panjangnya kini sudah di angka 10, sepuluh menit menjelang pukul 13.00 WIB. “Sebentar lagi jam istirahat berakhir,” Jingga menarik napas resah.
“Bisa tidak, sekali waktu di luar kantor tidak perlu membahas soal pekerjaan. Mau dibahas habis juga tidak akan pernah ada habisnya. Habis sih, kalau perusahaannya gulung tikar,” Livi bersedekap dada, tidak ingin berkomentar lebih panjang.
“Aku akan ke kantor sekarang,” Jingga membungkukkan badan, melipat ujung celananya.
Livi pura-pura tidak mendengar.
“Kau mau ikut denganku, atau tetap menunggu hingga langit bersih dan menampakkan kembali matahari teriknya?” Jingga berdiri menatap sekitar, ancang-ancang melangkahkan kaki. “Apa kau berharap ada pelangi seusai hujan? Silakan…” tegasnya melirik Livi sambil ancang-ancang menerobos derasnya hujan.
Livi menoleh. Ia sendiri tak dapat memastikan kapan hujan akan usai. Mau tidak mau ia harus ikut pulang ke meja kerja bersama Jingga yang super keras kepala.
“Apa boleh buat,” Livi mengangkat bahu pasrah dengan wajah tertekuk.
Jingga menoleh ke kiri jalan, memastikan tidak ada mobil yang lewat. Tangannya diangkat ke atas kepala, berusaha menampik air hujan mengenai ubun-ubunnya. Gagal. Pada akhirnya, tidak ada satupun tetesan dari awan beku itu berhasil dihalang. Sudah kepalang.
Livi tertinggal beberapa langkah di belakang Jingga. Ia berjalan setengah berlari menyusul rekan kerjanya. Sial, air hujan perlahan masuk ke celah-celah sepatu pantopelnya yang mendadak membuatnya licin. Perempuan berambut pendek itu terpeleset tepat di bahu jalan.
“JINGGA…” Livi berteriak menahan sakit. Rintihannya kalah oleh derasnya gemericik hujan.
Dan tiba-tiba…
Terdengar bunyi ban mobil direm mendadak, memekakkan telinga. Kegaduhan terjadi. Suara klakson terdengar bersahutan membuat bising. Livi berteriak histeris. Ia menutup kedua mata dan telinganya. Bunyi itu cukup kencang. Hanya berbatas satu meter saja darinya. Jika kalian melihatnya, pasti bagai menonton adegan film Fast & Furious versi nyata. Betapa menggentarkan.
Jingga yang merasa ganjil, menengok ke arah belakang. Matanya terbelalak menyaksikan Livi terjatuh di bahu jalan sambil memegangi tumit kakinya, mengaduh kesakitan. Entah dia menangis atau tidak. Kalaupun menangis, air matanya tersamarkan oleh rintikan air hujan. Jingga berlari panik menghampiri Livi yang terlihat meringis mencopot sepatu pantopelnya.
“Ya Tuhan, Livi, apa yang terjadi?” Jingga menyentuh lembut bahu Livi.
“Kakiku terkilir, Jingga. Tolong bangunkan aku! Sakit sekali...” Livi berkata parau. Ia jatuh persis di depan mobil yang hampir saja menabraknya. Beruntung pengemudi di dalam mobil berwarna putih itu berhasil mengendalikan rem.
“Pelan-pelan, Liv,” Dengan sigap, Jingga membantu membangunkan Livi, memapahnya ke trotoar. Ia juga melambaikan tangan pada orang yang ada di dalam mobil yang nyaris menabrak sahabatnya agar segera bertanggungjawab.
Sesosok laki-laki berbadan tegap tinggi keluar dari mobil, memekarkan payung besar bermotif kotak-kotak biru, bertanya apakah Livi baik-baik saja.
“Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir,” tukas Jingga mencoba biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Suara klakson semakin ramai. Rasa-rasanya ini bukan malam tahun baru yang sebelumnya sempat dibahas. Iringan suara panjang, pendek, dan tak berarturan itu membuat kepalanya pusing. Pemuda itu menundukkan kepalanya meminta maaf pada pengendara lain karena membikin kemacetan panjang dan segera meminggirkan posisi mobil Fortunernya ke sisi kiri jalan.
“Aku sungguh minta maaf,” ujar pemuda itu dengan payung kotak-kotak ekstra besar usai memarkirkan sembarang mobilnya. Spontan payung besarnya menghalangi tubuh Jingga dan Livi dari guyuran air hujan.
“Tak apa. Kecuali kau tidak mampu mengerem mobilmu dengan terampil dan mengenai anggota tubuh sahabatku, sampai mati aku tak akan memaafkanmu. Dan bisa jadi urusan kita sampai ke pengadilan,” tukas Jingga ketus.
Pemuda itu mengangguk. “Kantor kalian dimana?” tanyanya basa-basi.
“Di sana, tidak terlalu jauh.” Jingga menunjuk gedung berwarna biru dongker yang berdiri gagah di depan pelupuk mata.
Pemuda itu mengulum senyum, merasa lega. “Biar kuantar,” sapanya jentel.
“Tidak perlu. Lagipula kami terlanjur basah,” sergah Jingga menolak.
“Kenapa kalian nekat sekali? Kenapa tidak menunggu hujan reda?” tanyanya menginterogasi.
Livi diam, takut salah menjawab. Ia membiarkan Jingga yang memberikan keterangan pasca insiden kakinya pincang. Dalam hatinya meringis kesakitan. Dua sepatunya ditenteng oleh Jingga. Tapi kalau dipikir-pikir, pemuda berkumis tipis ini tampan juga, bisiknya nakal.
Jingga juga diam, tak dapat berkata-kata. Ini salahnya, memaksa Livi untuk ikut pulang dalam keadaan hujan setengah badai. Bila diceritakan pada laki-laki asing ini, bisa-bisa berbuntut panjang. Dia malas berujar.
“Hmm.. Baju kalian basah kuyup. Perlukah aku membantu membelikannya di swalayan terdekat?”
“Perlu sekali,” Sambar Livi menggebu-gebu. “Aku tidak ingin jatuh sakit memakai baju basah hingga sore,” mulutnya manyun.
“Hehehe…” Pemuda itu tertawa pelan.
“Tidak usah repot-repot, Pak. Kami punya pakaian salin cadangan di loker. Mungkin teman saya lupa,” Jingga menunduk memperhatikan jalan, takut terpeleset seperti Livi.
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau sudah menyiapkan baju ganti?” protes Livi tidak terima dibilang pelupa.
“Karena kau bawel sekali, Livi. Aku pusing mendengar celotehanmu,” Jingga melotot sebal menyuruh Livi diam.
Livi mengerutkan dahi. Di taman serba hijau yang dihiasi bunga kaktus dan hamparan rumput jepang, ia membenarkan kalimat Jingga. Tak ada seorangpun yang mampu menandingi kebawelannya. Dan tak ada seekor cicak yang tak gentar melihat Jingga melotot, seakan bola matanya hendak copot. Menyeramkan. Livi bergidik membayangkan jika kedua bola mata Jingga benar-benar lepas dari cangkangnya.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar.” Pemuda itu tertawa lagi. “Jangan panggil Pak. Saya belum menjadi bapak.”
“Benarkah?” Mata Livi berbinar-binar. Rasa sakitnya tiba-tiba menghilang.
“Benar,” jawabnya singkat.
Jingga tidak menyimak obrolan kecil antara sahabatnya dengan orang asing yang sedang memayunginya saat ini. Baginya obrolan itu sama sekali tidak penting. Gadis mungil itu memandang lurus ke depan, tidak lagi memperhatikan jalan. Tiba-tiba kakinya tersandung selang yang terhubung ke taman. Dasar selang sialan! Beraninya bersembunyi di balik rumput. Makinya dalam hati.
“Kau tidak apa-apa, Jingga?” Pemuda itu spontan menahan tangan dan tubuh Jingga. Payungnya miring, membuat Livi kehujanan lagi.
Jingga shock. Jika saja tak ada si pemuda asing ini, ia sudah tersungkur mencium rumput dan tanah. Sepasang pantopel milik Livi yang dipegang Jingga jatuh. Ia buru-buru bangkit dan mengambilnya.
“Makanya, lepas saja sepatunya sepertiku, Jingga. Kau ini memang keras kepala,” celoteh Livi tanpa dosa.
Jingga melotot kesal. Maksudnya tidak lain begini; “Bisakah kau diam sebentar, Livi?” kecamnya dalam hati.
“Benar, dilepas saja. Daripada terkilir seperti temanmu, kan repot jadinya, hehehe…” Pemuda itu meledek.
Jingga tersenyum kecut. Livi memang pantas diledek.
“Sudah hampir sampai, Pak. Jadi aku tidak perlu melepas sepatu,” ungkap Jingga jutek. “Sekarang Bapak bisa meninggalkan kami di sini dan kembali ke mobil. Di sana pasti banyak orang yang sebal gara-gara mobil Anda berhenti sembarangan.”
Livi mencubit pinggang Jingga yang ditimpal dengan pekikan. Jangan judes-judes dong jadi orang, bisiknya pada Jingga. Jingga hanya memasang ekspresi sebal. Tak lama ketiganya sudah tiba di pintu masuk. Pemuda itu undur diri, sekali lagi meminta maaf karena nyaris menabrak Livi. Jingga lai-lagi menjawabnya singkat. Ia menggosok-gosokan telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin.
Livi mengelus dada, bersyukur ia selamat dari kecelakaan maut meski kakinya sedikit membiru, “Lain kali, kau tidak boleh mengebut dalam keadaan hujan deras. Untung saja remnya pakem. Coba kalau blong, aku tidak tahu bagaimana nasibku nanti. Kau akan masuk penjara.” tuturnya panjang lebar.
“Aku sungguh minta maaf. Aku buru-buru menerjang hujan demi tiba di tempat meeting tepat waktu,” kata Pemuda itu terus terang.
“Lekaslah kembali ke mobilmu, Tuan! Aku tidak suka bunyi klakson memenuhi gendang telingaku.” Jingga memalingkan badan, memasuki pintu masuk yang disulap oleh kaca ajaib yang bisa membuka dan menutup dengan sendiri secara otomatis tiap kali ada seseorang yang masuk dan keluar gedung.
“Dia memang seperti itu, jutek dan keras kepala. Lain kali kau harus tetap hati-hati saat mengendarai kendaraan. Karena bisa merugikan diri sendiri dan nyawa orang lain,” desis Livi menggigil.
“Terimakasih sudah mengingatkan. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit. Segeralah ganti pakaian kalian. Kalau perlu, mandi air hangat dulu.” Pemuda itu tersenyum. Senyum yang sangat manis. Ia membalikkan badan menuju mobilnya yang terpakir sembarang di sisi jalan.
“Hey, siapa namamu, Tuan? Kau bahkan sudah tahu nama kami,” teriak Livi hendak mengejar, namun tidak jadi mengingat kakinya terasa ngilu. Yang ada ia malah meringis kesakitan memegangi lutut dan tumit kakinya.
Pemuda itu menoleh sebentar, tersenyum melambaikan tangan, membalikkan badan dan berlalu tanpa memberi tahu siapa namanya. Cowok yang aneh, protes Livi sebal.
“Tidak perlu berlebihan begitu pada orang asing, Livi. Cepat masuk! Atau kau mau punggungmu penuh tato kerikan tulang ikan kakap atau hiu lantaran terlalu lama mengenakan baju basah?”
“Eh? Kupikir kau sudah ganti pakaian,” Livi menghampiri Jingga yang berdiri disamping meja security, kemudian berjalan bersisian menuju lift ke lantai sebelas. “Sebentar, Jingga. Aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini kau berubah drastis? Bukankah kau selalu menyenangkan dengan orang baru? Dan kau selalu bisa mencairkan suasana?” Livi menatap janggal sahabatnya.
Jingga mengangkat bahu. Ia memang terkenal ramah dan supel pada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak untuk hari ini. Mengapa dia berubah? Dirinya sendiripun menggeleng tidak tahu.
Belakangan ini cuaca di Jakarta memang sedang moody. Sejam lalu terik, kemudian berganti gelap. Livi benar, mendung yang menggelayut di akhir Bulan Maret ini bagaikan hendak tumpah, mengguyur seluruh permukaan bumi dan isinya. Jingga tidak ikut berlari menghindari tumpahan langit seperti yang dilakukan asisten sekaligus sahabat baiknya, Livi. Gadis berpengawakan mungil dan imut itu amat menyukai hujan. Menurutnya bulir air yang menetes dari langit merupakan hiburan dari Tuhan. Selalu mengesankan.
“Jingga, apa kau tidak mendengar kata-kataku? Lari, Jingga! Nanti kau basah kuyup setiba di kantor,” Livi berteriak seperti tarzan. Tak sadar kalau orang-orang di sekitar memperhatikan tingkahnya macam anak kecil main tak umpat. Perempuan berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi itu berteduh di depan ruko kecil di samping halte busway.
Jingga berjalan santai di antara kesibukan siang itu. Sepanjang trotoar, para pekerja kantoran macam Jingga dan Livi yang sama-sama bosan makan di kantin gedung maupun catering dari perusahaan, memilih makan di kantin gedung tetangga, dan kini berlarian menjauhi hujan. Satpam-satpam repot mengatur masuk dan keluarnya mobil dari dan hendak ke parkiran. Jingga benar-benar tak menghiraukan teriakan Livi yang mati-matian berusaha mengeringkan kemeja formalnya menggunakan tangan yang disulap menjadi kipas buatan.
“Makeupmu luntur, Jingga! Rambutmu akan lepek. Kau bisa sakit. Ah, kau ini selalu keras kepala.” Livi terus berteriak. Napasnya tersengal, seperti habis berlari satu putaran kebun binatang.
“Biarkan saja,” jawab Jingga ketus setibanya setengah menit kemudian menyusul Livi di tempat berteduh. Ia bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan makeupnya luntur, rambutnya lepek, kemeja blousenya kuyup, sepatu hak tingginya kotor, dan akan sakit seperti yang dikatakan Livi barusan. Tak lama berselang, halte yang mereka singgahi penuh sesak oleh manusia-manusia yang takut tertimpa air hujan dan menjadi ajang arisan dadakan.
“Kau jangan gila, Jingga!” Livi mencoba tidak peduli. Ia masih sibuk mengeringkan bajunya dengan tangan. Kemejanya tidak sebasah Jingga, karena lebih dulu sampai di tempat berteduh, tetapi ia terus berusaha bagaimana caranya agar kemejanya kembali kering. Percuma, tampias air hujan yang tertiup angin menambah basah kemejanya.
Jingga tersenyum memperhatikan ulah Livi yang terus berkicau, tidak bisa diam. Ia melirik jam tangan warna silvernya, waktu istirahat tinggal 17 menit lagi, sementara hujan semakin lebat. Sebenarnya gedung perkantoran tidak terlalu jauh, sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Hanya tinggal menyeberang jalan, melewati dua gedung perkantoran yang tinggi menjulang, dan menerobos taman serta lahan parkiran. Jingga bisa saja berlari di bawah hujan, sudah kepalang basah juga. Tapi demi menghargai Livi, ia pun harus menghentikan langkah.
“Pekerjaan masih banyak, Liv. Kita harus segera ke kantor,” Jingga menatap jalanan. Mobil yang berseliweran di sepanjang Jalan Sudirman terlihat lengang. Mungkin sebagian pengendara enggan mengoperasikan kendaraan roda empatnya saat turun hujan.
Dulu sebelum gubernur DKI baru dilantik, jalanan ini semburawut macam benang kusut. Sepeda motor yang jumlahnya jutaan memadati seluruh badan jalan. Ribuan kendaraan roda empat dan dua milik pribadi, angkutan umum seperti bus patas, kopaja, metromini, angkot-angkot kecil, dan bajaj, kerap membuat Jakarta tidak bergerak dan berisik oleh riuh klakson yang terdengar bagai terompet di malam tahun baru. Setiap hari seperti itu. Membosankan. Ia dan semua penghuni Jakarta merasa setahun lebih tua dari umur sebenarnya, termasuk Livi yang masih mengeluh tentang bajunya yang basah.
Livi memandangi Jingga tidak suka, “Kau memang benar-benar sudah gila, Jingga! Di otakmu cuma ada pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan, tidak jauh-jauh. Aku kenyang mendengarnya,”
Jingga mengangkat kedua alisnya, Loh, ada yang salah dengan ucapanku? Memang begitu kan kenyataannya? “Lantas sampai kapan kita menunggu hujan reda? Pekerjaan menggunung sudah memanggil-manggil untuk diselesaikan, Liv,” Jingga melirik lagi jam tangannya. Jarum panjangnya kini sudah di angka 10, sepuluh menit menjelang pukul 13.00 WIB. “Sebentar lagi jam istirahat berakhir,” Jingga menarik napas resah.
“Bisa tidak, sekali waktu di luar kantor tidak perlu membahas soal pekerjaan. Mau dibahas habis juga tidak akan pernah ada habisnya. Habis sih, kalau perusahaannya gulung tikar,” Livi bersedekap dada, tidak ingin berkomentar lebih panjang.
“Aku akan ke kantor sekarang,” Jingga membungkukkan badan, melipat ujung celananya.
Livi pura-pura tidak mendengar.
“Kau mau ikut denganku, atau tetap menunggu hingga langit bersih dan menampakkan kembali matahari teriknya?” Jingga berdiri menatap sekitar, ancang-ancang melangkahkan kaki. “Apa kau berharap ada pelangi seusai hujan? Silakan…” tegasnya melirik Livi sambil ancang-ancang menerobos derasnya hujan.
Livi menoleh. Ia sendiri tak dapat memastikan kapan hujan akan usai. Mau tidak mau ia harus ikut pulang ke meja kerja bersama Jingga yang super keras kepala.
“Apa boleh buat,” Livi mengangkat bahu pasrah dengan wajah tertekuk.
Jingga menoleh ke kiri jalan, memastikan tidak ada mobil yang lewat. Tangannya diangkat ke atas kepala, berusaha menampik air hujan mengenai ubun-ubunnya. Gagal. Pada akhirnya, tidak ada satupun tetesan dari awan beku itu berhasil dihalang. Sudah kepalang.
Livi tertinggal beberapa langkah di belakang Jingga. Ia berjalan setengah berlari menyusul rekan kerjanya. Sial, air hujan perlahan masuk ke celah-celah sepatu pantopelnya yang mendadak membuatnya licin. Perempuan berambut pendek itu terpeleset tepat di bahu jalan.
“JINGGA…” Livi berteriak menahan sakit. Rintihannya kalah oleh derasnya gemericik hujan.
Dan tiba-tiba…
Terdengar bunyi ban mobil direm mendadak, memekakkan telinga. Kegaduhan terjadi. Suara klakson terdengar bersahutan membuat bising. Livi berteriak histeris. Ia menutup kedua mata dan telinganya. Bunyi itu cukup kencang. Hanya berbatas satu meter saja darinya. Jika kalian melihatnya, pasti bagai menonton adegan film Fast & Furious versi nyata. Betapa menggentarkan.
Jingga yang merasa ganjil, menengok ke arah belakang. Matanya terbelalak menyaksikan Livi terjatuh di bahu jalan sambil memegangi tumit kakinya, mengaduh kesakitan. Entah dia menangis atau tidak. Kalaupun menangis, air matanya tersamarkan oleh rintikan air hujan. Jingga berlari panik menghampiri Livi yang terlihat meringis mencopot sepatu pantopelnya.
“Ya Tuhan, Livi, apa yang terjadi?” Jingga menyentuh lembut bahu Livi.
“Kakiku terkilir, Jingga. Tolong bangunkan aku! Sakit sekali...” Livi berkata parau. Ia jatuh persis di depan mobil yang hampir saja menabraknya. Beruntung pengemudi di dalam mobil berwarna putih itu berhasil mengendalikan rem.
“Pelan-pelan, Liv,” Dengan sigap, Jingga membantu membangunkan Livi, memapahnya ke trotoar. Ia juga melambaikan tangan pada orang yang ada di dalam mobil yang nyaris menabrak sahabatnya agar segera bertanggungjawab.
Sesosok laki-laki berbadan tegap tinggi keluar dari mobil, memekarkan payung besar bermotif kotak-kotak biru, bertanya apakah Livi baik-baik saja.
“Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir,” tukas Jingga mencoba biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Suara klakson semakin ramai. Rasa-rasanya ini bukan malam tahun baru yang sebelumnya sempat dibahas. Iringan suara panjang, pendek, dan tak berarturan itu membuat kepalanya pusing. Pemuda itu menundukkan kepalanya meminta maaf pada pengendara lain karena membikin kemacetan panjang dan segera meminggirkan posisi mobil Fortunernya ke sisi kiri jalan.
“Aku sungguh minta maaf,” ujar pemuda itu dengan payung kotak-kotak ekstra besar usai memarkirkan sembarang mobilnya. Spontan payung besarnya menghalangi tubuh Jingga dan Livi dari guyuran air hujan.
“Tak apa. Kecuali kau tidak mampu mengerem mobilmu dengan terampil dan mengenai anggota tubuh sahabatku, sampai mati aku tak akan memaafkanmu. Dan bisa jadi urusan kita sampai ke pengadilan,” tukas Jingga ketus.
Pemuda itu mengangguk. “Kantor kalian dimana?” tanyanya basa-basi.
“Di sana, tidak terlalu jauh.” Jingga menunjuk gedung berwarna biru dongker yang berdiri gagah di depan pelupuk mata.
Pemuda itu mengulum senyum, merasa lega. “Biar kuantar,” sapanya jentel.
“Tidak perlu. Lagipula kami terlanjur basah,” sergah Jingga menolak.
“Kenapa kalian nekat sekali? Kenapa tidak menunggu hujan reda?” tanyanya menginterogasi.
Livi diam, takut salah menjawab. Ia membiarkan Jingga yang memberikan keterangan pasca insiden kakinya pincang. Dalam hatinya meringis kesakitan. Dua sepatunya ditenteng oleh Jingga. Tapi kalau dipikir-pikir, pemuda berkumis tipis ini tampan juga, bisiknya nakal.
Jingga juga diam, tak dapat berkata-kata. Ini salahnya, memaksa Livi untuk ikut pulang dalam keadaan hujan setengah badai. Bila diceritakan pada laki-laki asing ini, bisa-bisa berbuntut panjang. Dia malas berujar.
“Hmm.. Baju kalian basah kuyup. Perlukah aku membantu membelikannya di swalayan terdekat?”
“Perlu sekali,” Sambar Livi menggebu-gebu. “Aku tidak ingin jatuh sakit memakai baju basah hingga sore,” mulutnya manyun.
“Hehehe…” Pemuda itu tertawa pelan.
“Tidak usah repot-repot, Pak. Kami punya pakaian salin cadangan di loker. Mungkin teman saya lupa,” Jingga menunduk memperhatikan jalan, takut terpeleset seperti Livi.
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau sudah menyiapkan baju ganti?” protes Livi tidak terima dibilang pelupa.
“Karena kau bawel sekali, Livi. Aku pusing mendengar celotehanmu,” Jingga melotot sebal menyuruh Livi diam.
Livi mengerutkan dahi. Di taman serba hijau yang dihiasi bunga kaktus dan hamparan rumput jepang, ia membenarkan kalimat Jingga. Tak ada seorangpun yang mampu menandingi kebawelannya. Dan tak ada seekor cicak yang tak gentar melihat Jingga melotot, seakan bola matanya hendak copot. Menyeramkan. Livi bergidik membayangkan jika kedua bola mata Jingga benar-benar lepas dari cangkangnya.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar.” Pemuda itu tertawa lagi. “Jangan panggil Pak. Saya belum menjadi bapak.”
“Benarkah?” Mata Livi berbinar-binar. Rasa sakitnya tiba-tiba menghilang.
“Benar,” jawabnya singkat.
Jingga tidak menyimak obrolan kecil antara sahabatnya dengan orang asing yang sedang memayunginya saat ini. Baginya obrolan itu sama sekali tidak penting. Gadis mungil itu memandang lurus ke depan, tidak lagi memperhatikan jalan. Tiba-tiba kakinya tersandung selang yang terhubung ke taman. Dasar selang sialan! Beraninya bersembunyi di balik rumput. Makinya dalam hati.
“Kau tidak apa-apa, Jingga?” Pemuda itu spontan menahan tangan dan tubuh Jingga. Payungnya miring, membuat Livi kehujanan lagi.
Jingga shock. Jika saja tak ada si pemuda asing ini, ia sudah tersungkur mencium rumput dan tanah. Sepasang pantopel milik Livi yang dipegang Jingga jatuh. Ia buru-buru bangkit dan mengambilnya.
“Makanya, lepas saja sepatunya sepertiku, Jingga. Kau ini memang keras kepala,” celoteh Livi tanpa dosa.
Jingga melotot kesal. Maksudnya tidak lain begini; “Bisakah kau diam sebentar, Livi?” kecamnya dalam hati.
“Benar, dilepas saja. Daripada terkilir seperti temanmu, kan repot jadinya, hehehe…” Pemuda itu meledek.
Jingga tersenyum kecut. Livi memang pantas diledek.
“Sudah hampir sampai, Pak. Jadi aku tidak perlu melepas sepatu,” ungkap Jingga jutek. “Sekarang Bapak bisa meninggalkan kami di sini dan kembali ke mobil. Di sana pasti banyak orang yang sebal gara-gara mobil Anda berhenti sembarangan.”
Livi mencubit pinggang Jingga yang ditimpal dengan pekikan. Jangan judes-judes dong jadi orang, bisiknya pada Jingga. Jingga hanya memasang ekspresi sebal. Tak lama ketiganya sudah tiba di pintu masuk. Pemuda itu undur diri, sekali lagi meminta maaf karena nyaris menabrak Livi. Jingga lai-lagi menjawabnya singkat. Ia menggosok-gosokan telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin.
Livi mengelus dada, bersyukur ia selamat dari kecelakaan maut meski kakinya sedikit membiru, “Lain kali, kau tidak boleh mengebut dalam keadaan hujan deras. Untung saja remnya pakem. Coba kalau blong, aku tidak tahu bagaimana nasibku nanti. Kau akan masuk penjara.” tuturnya panjang lebar.
“Aku sungguh minta maaf. Aku buru-buru menerjang hujan demi tiba di tempat meeting tepat waktu,” kata Pemuda itu terus terang.
“Lekaslah kembali ke mobilmu, Tuan! Aku tidak suka bunyi klakson memenuhi gendang telingaku.” Jingga memalingkan badan, memasuki pintu masuk yang disulap oleh kaca ajaib yang bisa membuka dan menutup dengan sendiri secara otomatis tiap kali ada seseorang yang masuk dan keluar gedung.
“Dia memang seperti itu, jutek dan keras kepala. Lain kali kau harus tetap hati-hati saat mengendarai kendaraan. Karena bisa merugikan diri sendiri dan nyawa orang lain,” desis Livi menggigil.
“Terimakasih sudah mengingatkan. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit. Segeralah ganti pakaian kalian. Kalau perlu, mandi air hangat dulu.” Pemuda itu tersenyum. Senyum yang sangat manis. Ia membalikkan badan menuju mobilnya yang terpakir sembarang di sisi jalan.
“Hey, siapa namamu, Tuan? Kau bahkan sudah tahu nama kami,” teriak Livi hendak mengejar, namun tidak jadi mengingat kakinya terasa ngilu. Yang ada ia malah meringis kesakitan memegangi lutut dan tumit kakinya.
Pemuda itu menoleh sebentar, tersenyum melambaikan tangan, membalikkan badan dan berlalu tanpa memberi tahu siapa namanya. Cowok yang aneh, protes Livi sebal.
“Tidak perlu berlebihan begitu pada orang asing, Livi. Cepat masuk! Atau kau mau punggungmu penuh tato kerikan tulang ikan kakap atau hiu lantaran terlalu lama mengenakan baju basah?”
“Eh? Kupikir kau sudah ganti pakaian,” Livi menghampiri Jingga yang berdiri disamping meja security, kemudian berjalan bersisian menuju lift ke lantai sebelas. “Sebentar, Jingga. Aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini kau berubah drastis? Bukankah kau selalu menyenangkan dengan orang baru? Dan kau selalu bisa mencairkan suasana?” Livi menatap janggal sahabatnya.
Jingga mengangkat bahu. Ia memang terkenal ramah dan supel pada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak untuk hari ini. Mengapa dia berubah? Dirinya sendiripun menggeleng tidak tahu.
Puing 2 #Jingga #NovelSeries
Malam senyap, tak ada suara lain kecuali dentang jam dinding yang terus berotasi pada benda berbentuk kotak yang tergantung di atas lukisan purnama. Seorang perempuan dengan rambut terurai acak-acakan, sedang kusut hatinya. Tangannya gemas meremas bantal, dan kalbunya memberontak tak terelakkan.
Kapan menikah?
Pertanyaan itu. Entah sejak kapan ia membencinya. Memangnya jodoh dijual di pasar? Enak sekali kalau begitu ceritanya, bisa memilih yang terbaik untuk pasangan hidup, meski harganya berlipat-lipat lebih mahal. Omong kosong cinta membawa bahagia. Omong kosong! Jeritnya pilu.
Kata orang cinta itu aneh, ajaib, penuh misteri, seperti teka-teki. Semua makhluk hidup di muka bumi ini lahir atas nama cinta, tumbuh karena cinta, dan bernapas saja perlu cinta. Ada yang bilang cinta adalah perasaan bahagia yang membuat jantung berdebar dan perlahan tumbuh harapan. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta merupakan misteri yang tak bisa dipecahkan. Sebagian orang ada yang setuju kalau cinta ialah merelakan dan melepaskan sesuatu walau menyakitkan.
Apalah itu semua penjelasan tentang cinta, setiap insan bebas mengemukakan dengan definisi dan cara berpikir yang berbeda. Yang jelas, bagi Jingga, cinta adalah sumber bencana yang selalu menyiksa.
Diliriknya tujuh deretan nama mantan dan teman sekolah. 97% di antara mereka sudah berkomitmen membina rumah tangga. Kata ‘menikah’ adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari pemikiran Jingga, gadis penikmat purnama dan hujan yang kesehariannya berkutat sebagai leader keuangan di salah satu perusahaan swasta di kota metropolitan.
Perjalanan perempuan pengagum langit senja, yang merindukan bisa pulang kantor tepat sebelum matahari tenggelam namun tak pernah kesampaian, tidak semulus cerita di dalam dongeng sebelum tidur yang berujung bahagia. Pengalaman makan asam garam sudah dilaluinya dengan tawa dan tangis. Disamping belum siap seratus persen, Jingga belum menemukan jodoh yang tepat, yang digadang-gadangkan sebagai kepala keluarga kecilnya nanti.
“Buktinya, tanpa cinta aku masih bisa bertahan kan sampai hari ini?”
Jingga membatin, nada suaranya meninggi. Bantal yang baru saja ia remas, dilemparkannya kencang ke tembok. Jiwa dan pikirannya sedang bertengkar hebat memperdebatkan realita hidupnya yang pilu. Selama ini dia justru menikmati kesendiriannya yang mungkin lebih terasa bahagia dibandingkan memiliki kekasih yang selalu menyakiti. Rasa sakit karena patah hati oleh calon tunangannya – Dika, membuat ia dibayang-banyangi masa kelam yang tak berkesudahan.
Meski sudah rebah pijah di kasur empuk dengan lampu gelap, Jingga belum jua memejamkan mata. Padahal sejak tadi siang, perempuan berambut panjang agak ikal di atas pinggang itu, sama sekali tidak meminum zat yang mengandung kafein. Pikirannya teramat kusut, menerawang jauh ke masa depan yang hingga detik ini belum bisa diramal oleh paranormal terhebat manapun di belahan dunia. Tiba-tiba ia terngiang obrolan beberapa hari yang lalu di sebuah kafe tak terlalu ramai pengunjung, bersama Livi –sahabat dekatnya.
“Lihat ke meja seberang, Jingga! Kau tidak mungkin merantai hatimu seperti wanita itu, kan?” Livi berbisik di dekat telinga Jingga, menunjuk pada perempuan yang mengenakan behel tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau utarakan, Livi.” Jingga mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
“Aku dengar merantai gigi sakitnya bukan main, Jingga. Bagaimana dengan merantai hati?”
“Ini beda kasus, Livi. Astaga, jangan kau samakan fisik dengan batin, jelas berbeda.” Jingga menyeringai sebal, paham maksud Livi. Apalagi kalau bukan berniat menyindir dirinya yang masih betah sendiri.
“Sama saja. Aku hanya ingin memberikan gambaran melalui perempuan berbehel itu. Tidak baik berlama-lama merantai hati dan pikiranmu, Jingga. Orang pakai behel, semakin lama semakin rapi, tapi tentunya perlu melakukan kontrol rutin seperti mengganti karet, mengencangkan kunci, per, serta perawatan lainnya. Kalau tidak melakukan pengontrolan dan perawatan rutin, lama-lama kawat akan berkarat. Sama seperti hatimu saat ini.” Livi menandaskan kopi vanilla latenya.
Jingga mengangkat alis, menyendok es krim yang hampir habis.
“Jangan kau pikir karat yang kumaksud adalah senyawa yang ada pada emas. Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku besi karatan. Nah, kau tahu kan bagaimana rupa besi dan kawat yang karatan? Contoh sederhana, kenapa manusia bisa meninggal hanya karena tertusuk paku atau besi di jalan? Besi, paku, kawat yang karatan itu akan menyebabkan tetanus, infeksi, dan menimbulkan racun pada tubuh manusia. Sehingga manusia tidak dapat bertahan lebih lama. Coba kau renungkan.”
“Akan kucoba renungkan.” Jingga menelan suapan es krim terakhirnya dengan perasaan tertampar. Ucapan Livi masuk akal. Tapi ia belum mau membuka rantai itu. Memangnya semudah itu menambal hati yang berlubang? Livi ini selalu saja sibuk memberikan gambaran yang tidak-tidak perihal hatinya yang lama tak terisi oleh laki-laki.
Jarum jam terus berputar, merangkak ke arah 02.37 WIB. Hey, bukankah ini hampir pagi? Entahlah. Jingga tidak tahu apa yang harus diperbuat selain menangisi kemalangan kisah asmaranya. Meski ia sadar betul bahwa lima jam lagi harus beranjak ke meja kerja seperti biasa. Usianya kini mendekati kepala tiga, namun ia masih saja mengeles akan hal berbau cinta. Ia memanfaatkan kesibukannya sebagai wanita karir yang mempunyai jadwal lebih dari normal sebagai obat untuk meredam kekalutan hatinya, meski itu sama sekali tidak manjur. Menurutnya cinta adalah sumber malapetaka dan nestapa.
Di ruangan gelap gulita yang hening, isakan tangis Jingga berbaur dengan irama detak jantungnya yang seolah menyatu bersama iringan suara jarum jam dinding. Jingga, wanita yang terkenal ceria dan tegar, sedang tersedu di pojokan kamar apartemen, memeluk lutut, dan memikirkan hal rumit yang membuat hidupnya seperti tercekik.
“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta sekali lagi? Jatuh cinta pada orang yang tepat? Jatuh cinta pada orang yang tulus? Aku lelah, kenapa cinta itu selalu menyakitkan? Kenapa aku selalu gagal? Siapa yang salah? Aku tak pernah menyakiti, justru merekalah yang melukaiku, meninggalkan rasa trauma dan jejak luka yang membuatku benci setengah mati. Benci dengan kata CINTA..."
Jingga menjerit merintih. Air matanya bak hujan yang mengguyur hutan lebat. Tatapan matanya kosong. Balutan luka yang selama ini rapi, tiba-tiba merobek lagi. Basah. Luka itu kembali basah. Kenangan akan masa lalu bagai bayangan mejik yang sesuka hati muncul. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah bersamanya, Jingga tak pernah beruntung. Ia selalu saja tertipu. Ingatannya begitu kelam. Baginya hidup ini ibarat jeruji besi yang mengukung kebebasannya untuk mencicipi rasa bahagia.
Sesungguhnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi. Terlalu sakit, sungguh! Rasanya bagai dicincang, menyayat hingga ke rusuk tulang belulang. Jingga berceloteh pada selimut tebal sambil mengusap ingus, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoret-coret dinding dengan cakaran kukunya yang belum sempat digunting. Ia tidak ingin air matanya terbuang sia-sia hanya untuk mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
Tidak. Kali ini Jingga tidak menangis karena rasa kecewa pada masa lalunya, melainkan karena rindu teramat dalam. Rindu yang kerap membuatnya terisak. Rindu yang tak kunjung terbalas. Rindu yang hanya bisa dirasakan seorang diri. Rindu yang terus menghujam dadanya yang semakin sesak, yang bahkan belum juga mampu menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan yang datang dari sang ibunda, saudara, kerabat, handai-taulan, dan sahabat-sahabatnya perkara jodoh.
Jodoh?
Dahi Jingga berkerut. Kepalanya mendadak berat. Dadanya sesak. Wajahnya berubah pucat. Tahu apa ia tentang jodoh? Bahkan tak akan ada yang menjamin pemahaman tentang perkara itu.
“Kenapa sih mesti ada perasaan? Kenapa pula harus ada cinta? Kenapa manusia harus menikah, punya suami, anak, cucu, dan ini-itu? Memangnya keluarga bisa membuat manusia bahagia? Haruskah seperti itu?” tukasnya sendu. Ia sudah berhenti menangis. Namun emosinya masih meluap laiknya Sungai Katulampa pada saat musim penghujan. Sesekali ia tertawa kecut, menertawai kemalangan nasibnya. Saat ia kecil, ayahnya pergi entah kemana. Meninggalkan ibu dan adiknya yang masih balita. Kenapa laki-laki selalu serakah? Kenapa di dunia harus ada cinta? Memangnya dunia mau bertanggungjawab atas hilangnya sang ayah? Jingga mengacak-acak rambutnya yang panjang. Gadis itu benar-benar frustasi.
***
Di belahan bumi bagian tengah, pada jam yang sama namun tempat berbeda, Azka dan Dewa sedang serius menonton pertandingan duel maut El-Clasico. Di kamar yang tidak terlalu terang cahaya lampu dan berukuran tidak begitu besar itu, mata Azka dan Dewa hampir tidak berkedip memandang layar televisi slim yang tertempel di tembok. Tangan kanan Azka sibuk mencomot cemilan kacang kulit yang disuguhi oleh ibunda Dewa, sementara Dewa asyik dengan secangkir kopi hitam sambil berseru-seru sebal lantaran tim kesayangannya kalah 1-0 di menit ke-40.
Kadangkala keduanya berteriak histeris jika striker gagal mencetak gol, atau salah satu menepuk dahi berkali-kali bila tidak jadi pinalti ketika ketahuan lawan bermain curang. Tak tanggung-tanggung, Azka yang memegang bendera berwarna biru-kuning, berlompat-lompat girang sembari teriak ala Tarzan menirukan gaya orang utan mendapatkan pisang tatkala tim jagoannya menjebol gawang. Sedangkan Dewa mengutuk tawa Azka dengan melempar bantal. Dua sahabat itu masih saja bertingkah laiknya anak kecil. Padahal boleh jadi usia mereka sudah tua.
Azka yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, sengaja menginap di rumah Dewa yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kesibukan masing-masing menjadi alasan kuat mengapa mereka sulit sekali menyatukan waktu. Demi menghormati tamu dari jauh yang juga merupakan sahabat karib, Dewa mempersilakan Azka berbuat onar di kamarnya, termasuk mengacak-acak benda milik pribadi yang hukumnya privasi dan konfidensial disela-sela waktu jeda.
“Kau masih menyimpan foto ini?” Azka menatap lamat-lamat foto usang yang tersimpan rapi di album biru berdebu milik Dewa sewaktu dirinya kecil.
“Ya, tentu saja aku masih menyimpannya. Bagiku foto adalah sebuah kenangan yang tak akan mampu dibeli dan kembali. Kita hanya tertawa atau menangis saat menatap wajah-wajah yang ada di album itu. Tergantung kenangannya, manis atau pahit.” Dewa ikut menatap foto hitam-putih ukuran 4R yang sedang dipegang Azka.
Di dalam foto itu, dia, Azka, dan Anggun sedang adu kelereng di bawah pohon nangka yang rindang. Bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang riang. Sungguh masa-masa kecil yang indah dan tak terlupakan. Tiga sekawan itu selalu bersama kemanapun pergi. Meski kadang Dewa melarang Anggun ikut bila hendak mencuri pepaya di kebun milik orang. Namun pertemanan itu tak lama. Dewa meninggalkan Azka dan Anggun saat dirinya lulus sekolah dasar, mengikuti ayah dan ibunya yang sudah selesai dinas di desa kelahiran Azka dan Anggun.
“Aku ingin bertemu gadis kecil itu.” Dewa menempelkan kepalan tangannya ke mulutnya berkali-kali. “Dia yang dulu sering kujahili. Dia yang memiliki senyum paling manis di antara gadis-gadis kecil yang lain. Dia yang selalu ingin menang sendiri. Batu. Tidak mau kalah. Lantas dia menangis bilang aku yang salah. Ah, pokoknya dia…”
Azka menepuk keras paha Dewa, “Bolanya sudah mulai, Kawan. Ayo kita nonton lagi. Coba kau tebak, jagoan siapa yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Pasti jagoanku.” Azka mencoba berkelakar.
Dewa tidak ikut tertawa. Dia merasa Azka mencoba mengalihkan topik pembicaraan mengenai masa kecil mereka. Waktu break memang telah berakhir, tapi pemandangan komentator yang mengoceh mengomentari ketidakbecusan sang kiper belum juga menghilang. Ini artinya bola belum berlanjut. Ia menginjak kaki Azka. “Kau tahu dimana dia? Aku ingin bertemu gadis itu.” Katanya serius.
Azka meringis kesakitan.“Sudahlah. Dia itu musuhmu. Kau yang sering mengatakannya padaku. Dia telah melupakanmu sejak selangkah kau meninggalkan desa tercinta kita. Kau tahu, dia tumbuh menjadi wanita yang jelek dan galak. Aku yakin kau akan menyesal bertemu dengan gadis kecilmu itu.” Azka membesarkan volume tv, sengaja betul menghindari topik pembicaraan.
Dewa bersungut-sungut kesal. Sialan, bukannya memberikan kabar yang sedap didengar tentang kawan kecilnya, Azka justru menjelek-jelekkan Anggun. Gara-gara Azka membuka album lama, ia jadi tidak konsentrasi menonton bola, cenderung sibuk memikirkan sosok Anggun. Apakah benar wajah gadis kecil yang tersenyum di foto itu tak seanggun namanya? Tiba-tiba hatinya tertantang untuk membenarkan ucapan Azka, kalau Anggun hanyalah sebuah nama, aslinya sama sekali tidak anggun, alias jelek, lebih tepatnya buruk rupa, ia harus membuktikannya.
Kapan menikah?
Pertanyaan itu. Entah sejak kapan ia membencinya. Memangnya jodoh dijual di pasar? Enak sekali kalau begitu ceritanya, bisa memilih yang terbaik untuk pasangan hidup, meski harganya berlipat-lipat lebih mahal. Omong kosong cinta membawa bahagia. Omong kosong! Jeritnya pilu.
Kata orang cinta itu aneh, ajaib, penuh misteri, seperti teka-teki. Semua makhluk hidup di muka bumi ini lahir atas nama cinta, tumbuh karena cinta, dan bernapas saja perlu cinta. Ada yang bilang cinta adalah perasaan bahagia yang membuat jantung berdebar dan perlahan tumbuh harapan. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta merupakan misteri yang tak bisa dipecahkan. Sebagian orang ada yang setuju kalau cinta ialah merelakan dan melepaskan sesuatu walau menyakitkan.
Apalah itu semua penjelasan tentang cinta, setiap insan bebas mengemukakan dengan definisi dan cara berpikir yang berbeda. Yang jelas, bagi Jingga, cinta adalah sumber bencana yang selalu menyiksa.
Diliriknya tujuh deretan nama mantan dan teman sekolah. 97% di antara mereka sudah berkomitmen membina rumah tangga. Kata ‘menikah’ adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari pemikiran Jingga, gadis penikmat purnama dan hujan yang kesehariannya berkutat sebagai leader keuangan di salah satu perusahaan swasta di kota metropolitan.
Perjalanan perempuan pengagum langit senja, yang merindukan bisa pulang kantor tepat sebelum matahari tenggelam namun tak pernah kesampaian, tidak semulus cerita di dalam dongeng sebelum tidur yang berujung bahagia. Pengalaman makan asam garam sudah dilaluinya dengan tawa dan tangis. Disamping belum siap seratus persen, Jingga belum menemukan jodoh yang tepat, yang digadang-gadangkan sebagai kepala keluarga kecilnya nanti.
“Buktinya, tanpa cinta aku masih bisa bertahan kan sampai hari ini?”
Jingga membatin, nada suaranya meninggi. Bantal yang baru saja ia remas, dilemparkannya kencang ke tembok. Jiwa dan pikirannya sedang bertengkar hebat memperdebatkan realita hidupnya yang pilu. Selama ini dia justru menikmati kesendiriannya yang mungkin lebih terasa bahagia dibandingkan memiliki kekasih yang selalu menyakiti. Rasa sakit karena patah hati oleh calon tunangannya – Dika, membuat ia dibayang-banyangi masa kelam yang tak berkesudahan.
Meski sudah rebah pijah di kasur empuk dengan lampu gelap, Jingga belum jua memejamkan mata. Padahal sejak tadi siang, perempuan berambut panjang agak ikal di atas pinggang itu, sama sekali tidak meminum zat yang mengandung kafein. Pikirannya teramat kusut, menerawang jauh ke masa depan yang hingga detik ini belum bisa diramal oleh paranormal terhebat manapun di belahan dunia. Tiba-tiba ia terngiang obrolan beberapa hari yang lalu di sebuah kafe tak terlalu ramai pengunjung, bersama Livi –sahabat dekatnya.
“Lihat ke meja seberang, Jingga! Kau tidak mungkin merantai hatimu seperti wanita itu, kan?” Livi berbisik di dekat telinga Jingga, menunjuk pada perempuan yang mengenakan behel tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau utarakan, Livi.” Jingga mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
“Aku dengar merantai gigi sakitnya bukan main, Jingga. Bagaimana dengan merantai hati?”
“Ini beda kasus, Livi. Astaga, jangan kau samakan fisik dengan batin, jelas berbeda.” Jingga menyeringai sebal, paham maksud Livi. Apalagi kalau bukan berniat menyindir dirinya yang masih betah sendiri.
“Sama saja. Aku hanya ingin memberikan gambaran melalui perempuan berbehel itu. Tidak baik berlama-lama merantai hati dan pikiranmu, Jingga. Orang pakai behel, semakin lama semakin rapi, tapi tentunya perlu melakukan kontrol rutin seperti mengganti karet, mengencangkan kunci, per, serta perawatan lainnya. Kalau tidak melakukan pengontrolan dan perawatan rutin, lama-lama kawat akan berkarat. Sama seperti hatimu saat ini.” Livi menandaskan kopi vanilla latenya.
Jingga mengangkat alis, menyendok es krim yang hampir habis.
“Jangan kau pikir karat yang kumaksud adalah senyawa yang ada pada emas. Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku besi karatan. Nah, kau tahu kan bagaimana rupa besi dan kawat yang karatan? Contoh sederhana, kenapa manusia bisa meninggal hanya karena tertusuk paku atau besi di jalan? Besi, paku, kawat yang karatan itu akan menyebabkan tetanus, infeksi, dan menimbulkan racun pada tubuh manusia. Sehingga manusia tidak dapat bertahan lebih lama. Coba kau renungkan.”
“Akan kucoba renungkan.” Jingga menelan suapan es krim terakhirnya dengan perasaan tertampar. Ucapan Livi masuk akal. Tapi ia belum mau membuka rantai itu. Memangnya semudah itu menambal hati yang berlubang? Livi ini selalu saja sibuk memberikan gambaran yang tidak-tidak perihal hatinya yang lama tak terisi oleh laki-laki.
Jarum jam terus berputar, merangkak ke arah 02.37 WIB. Hey, bukankah ini hampir pagi? Entahlah. Jingga tidak tahu apa yang harus diperbuat selain menangisi kemalangan kisah asmaranya. Meski ia sadar betul bahwa lima jam lagi harus beranjak ke meja kerja seperti biasa. Usianya kini mendekati kepala tiga, namun ia masih saja mengeles akan hal berbau cinta. Ia memanfaatkan kesibukannya sebagai wanita karir yang mempunyai jadwal lebih dari normal sebagai obat untuk meredam kekalutan hatinya, meski itu sama sekali tidak manjur. Menurutnya cinta adalah sumber malapetaka dan nestapa.
Di ruangan gelap gulita yang hening, isakan tangis Jingga berbaur dengan irama detak jantungnya yang seolah menyatu bersama iringan suara jarum jam dinding. Jingga, wanita yang terkenal ceria dan tegar, sedang tersedu di pojokan kamar apartemen, memeluk lutut, dan memikirkan hal rumit yang membuat hidupnya seperti tercekik.
“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta sekali lagi? Jatuh cinta pada orang yang tepat? Jatuh cinta pada orang yang tulus? Aku lelah, kenapa cinta itu selalu menyakitkan? Kenapa aku selalu gagal? Siapa yang salah? Aku tak pernah menyakiti, justru merekalah yang melukaiku, meninggalkan rasa trauma dan jejak luka yang membuatku benci setengah mati. Benci dengan kata CINTA..."
Jingga menjerit merintih. Air matanya bak hujan yang mengguyur hutan lebat. Tatapan matanya kosong. Balutan luka yang selama ini rapi, tiba-tiba merobek lagi. Basah. Luka itu kembali basah. Kenangan akan masa lalu bagai bayangan mejik yang sesuka hati muncul. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah bersamanya, Jingga tak pernah beruntung. Ia selalu saja tertipu. Ingatannya begitu kelam. Baginya hidup ini ibarat jeruji besi yang mengukung kebebasannya untuk mencicipi rasa bahagia.
Sesungguhnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi. Terlalu sakit, sungguh! Rasanya bagai dicincang, menyayat hingga ke rusuk tulang belulang. Jingga berceloteh pada selimut tebal sambil mengusap ingus, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoret-coret dinding dengan cakaran kukunya yang belum sempat digunting. Ia tidak ingin air matanya terbuang sia-sia hanya untuk mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
Tidak. Kali ini Jingga tidak menangis karena rasa kecewa pada masa lalunya, melainkan karena rindu teramat dalam. Rindu yang kerap membuatnya terisak. Rindu yang tak kunjung terbalas. Rindu yang hanya bisa dirasakan seorang diri. Rindu yang terus menghujam dadanya yang semakin sesak, yang bahkan belum juga mampu menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan yang datang dari sang ibunda, saudara, kerabat, handai-taulan, dan sahabat-sahabatnya perkara jodoh.
Jodoh?
Dahi Jingga berkerut. Kepalanya mendadak berat. Dadanya sesak. Wajahnya berubah pucat. Tahu apa ia tentang jodoh? Bahkan tak akan ada yang menjamin pemahaman tentang perkara itu.
“Kenapa sih mesti ada perasaan? Kenapa pula harus ada cinta? Kenapa manusia harus menikah, punya suami, anak, cucu, dan ini-itu? Memangnya keluarga bisa membuat manusia bahagia? Haruskah seperti itu?” tukasnya sendu. Ia sudah berhenti menangis. Namun emosinya masih meluap laiknya Sungai Katulampa pada saat musim penghujan. Sesekali ia tertawa kecut, menertawai kemalangan nasibnya. Saat ia kecil, ayahnya pergi entah kemana. Meninggalkan ibu dan adiknya yang masih balita. Kenapa laki-laki selalu serakah? Kenapa di dunia harus ada cinta? Memangnya dunia mau bertanggungjawab atas hilangnya sang ayah? Jingga mengacak-acak rambutnya yang panjang. Gadis itu benar-benar frustasi.
***
Di belahan bumi bagian tengah, pada jam yang sama namun tempat berbeda, Azka dan Dewa sedang serius menonton pertandingan duel maut El-Clasico. Di kamar yang tidak terlalu terang cahaya lampu dan berukuran tidak begitu besar itu, mata Azka dan Dewa hampir tidak berkedip memandang layar televisi slim yang tertempel di tembok. Tangan kanan Azka sibuk mencomot cemilan kacang kulit yang disuguhi oleh ibunda Dewa, sementara Dewa asyik dengan secangkir kopi hitam sambil berseru-seru sebal lantaran tim kesayangannya kalah 1-0 di menit ke-40.
Kadangkala keduanya berteriak histeris jika striker gagal mencetak gol, atau salah satu menepuk dahi berkali-kali bila tidak jadi pinalti ketika ketahuan lawan bermain curang. Tak tanggung-tanggung, Azka yang memegang bendera berwarna biru-kuning, berlompat-lompat girang sembari teriak ala Tarzan menirukan gaya orang utan mendapatkan pisang tatkala tim jagoannya menjebol gawang. Sedangkan Dewa mengutuk tawa Azka dengan melempar bantal. Dua sahabat itu masih saja bertingkah laiknya anak kecil. Padahal boleh jadi usia mereka sudah tua.
Azka yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, sengaja menginap di rumah Dewa yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kesibukan masing-masing menjadi alasan kuat mengapa mereka sulit sekali menyatukan waktu. Demi menghormati tamu dari jauh yang juga merupakan sahabat karib, Dewa mempersilakan Azka berbuat onar di kamarnya, termasuk mengacak-acak benda milik pribadi yang hukumnya privasi dan konfidensial disela-sela waktu jeda.
“Kau masih menyimpan foto ini?” Azka menatap lamat-lamat foto usang yang tersimpan rapi di album biru berdebu milik Dewa sewaktu dirinya kecil.
“Ya, tentu saja aku masih menyimpannya. Bagiku foto adalah sebuah kenangan yang tak akan mampu dibeli dan kembali. Kita hanya tertawa atau menangis saat menatap wajah-wajah yang ada di album itu. Tergantung kenangannya, manis atau pahit.” Dewa ikut menatap foto hitam-putih ukuran 4R yang sedang dipegang Azka.
Di dalam foto itu, dia, Azka, dan Anggun sedang adu kelereng di bawah pohon nangka yang rindang. Bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang riang. Sungguh masa-masa kecil yang indah dan tak terlupakan. Tiga sekawan itu selalu bersama kemanapun pergi. Meski kadang Dewa melarang Anggun ikut bila hendak mencuri pepaya di kebun milik orang. Namun pertemanan itu tak lama. Dewa meninggalkan Azka dan Anggun saat dirinya lulus sekolah dasar, mengikuti ayah dan ibunya yang sudah selesai dinas di desa kelahiran Azka dan Anggun.
“Aku ingin bertemu gadis kecil itu.” Dewa menempelkan kepalan tangannya ke mulutnya berkali-kali. “Dia yang dulu sering kujahili. Dia yang memiliki senyum paling manis di antara gadis-gadis kecil yang lain. Dia yang selalu ingin menang sendiri. Batu. Tidak mau kalah. Lantas dia menangis bilang aku yang salah. Ah, pokoknya dia…”
Azka menepuk keras paha Dewa, “Bolanya sudah mulai, Kawan. Ayo kita nonton lagi. Coba kau tebak, jagoan siapa yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Pasti jagoanku.” Azka mencoba berkelakar.
Dewa tidak ikut tertawa. Dia merasa Azka mencoba mengalihkan topik pembicaraan mengenai masa kecil mereka. Waktu break memang telah berakhir, tapi pemandangan komentator yang mengoceh mengomentari ketidakbecusan sang kiper belum juga menghilang. Ini artinya bola belum berlanjut. Ia menginjak kaki Azka. “Kau tahu dimana dia? Aku ingin bertemu gadis itu.” Katanya serius.
Azka meringis kesakitan.“Sudahlah. Dia itu musuhmu. Kau yang sering mengatakannya padaku. Dia telah melupakanmu sejak selangkah kau meninggalkan desa tercinta kita. Kau tahu, dia tumbuh menjadi wanita yang jelek dan galak. Aku yakin kau akan menyesal bertemu dengan gadis kecilmu itu.” Azka membesarkan volume tv, sengaja betul menghindari topik pembicaraan.
Dewa bersungut-sungut kesal. Sialan, bukannya memberikan kabar yang sedap didengar tentang kawan kecilnya, Azka justru menjelek-jelekkan Anggun. Gara-gara Azka membuka album lama, ia jadi tidak konsentrasi menonton bola, cenderung sibuk memikirkan sosok Anggun. Apakah benar wajah gadis kecil yang tersenyum di foto itu tak seanggun namanya? Tiba-tiba hatinya tertantang untuk membenarkan ucapan Azka, kalau Anggun hanyalah sebuah nama, aslinya sama sekali tidak anggun, alias jelek, lebih tepatnya buruk rupa, ia harus membuktikannya.
Puing 3 #Jingga #NovelSeries
Dering telepon membuat Livi kaget. Sepagi ini ia sudah di kantor, repot mengurus keperluan meeting, mengebut deadline laporan mingguan. Seusai adzan Subuh, Jingga mengirimkan pesan singkat bahwa dirinya berhalangan hadir karena demam tinggi. Oleh sebab itu, Livi harus datang lebih awal menggantikan posisi atasannya hari ini. Pasca insiden kakinya terkilir kemarin siang, ia izin pulang cepat lantaran kakinya ngilu dan bengkak. Alhasil, sejumlah notes tentang pekerjaannya menumpuk di dekstop.
Di hari yang sama, Jingga tetap melanjutkan pekerjaan seperti biasa hingga larut mala. Berteman dengan komputer, telepon, dan berkas-berkas dokumen yang memabukan kepala. Ia harus merampungkan laporan keuangan cabang dalam waktu dekat. Ia bahkan sengaja membawa pulang setumpukan ordner dan berkas-berkas dokumen pendukung lainnya ke apartemen karena tak sempat diselesaikan berhubung waktu sudah teramat larut.
Dering telepon yang berbunyi semenit lalu, kembali berdering. Livi mendesis malas, meninggalkan sejenak perhatiannya pada angka milyaran rupiah di layar komputer.
“Halo, Livi! Kau dari mana saja? Jangan bilang kau terlambat ke kantor dengan alasan tukang urutnya tidak manjur menyembuhkan kakimu yang bengkak?”
Livi menarik napas. Dimana-mana atasan selalu bawel pada bawahannya. “Ya ampun, Jingga, kupikir siapa? Aku tak sempat mengangkat telepon. Kau tahu kan, betapa sibuknya aku menjalankan mandat darimu? Presiden saja kalah dengan kesibukanku.” Livi menyeringai, melirik jam dinding. Setengah jam lagi ia harus meeting bersama kepala cabang seluruh Indonesia dan jajaran petinggi lainnya untuk membahas omset penjualan yang menurun, serta membicarakan penyeragaman sistem pembukuan.
“Seharusnya kau yang menghadiri meeting ini, Jingga. Aku sungguh malas,” Livi memainkan pulpen di tangannya. “Kini aku baru tahu apa yang kau rasakan, Jingga. Pantas saja kau jadi manusia paling galak sekantor ini. Tanggung jawabmu sungguh luar biasa. Aku tidak sanggup mengemban tugas berat ini. Dan aku tidak ingin menjadi kau.” Celoteh Livi sambil mengapit gagang telepon di antara bahu dan telinganya yang bersentuhan dengan pipi. Matanya kembali pada layar komputer. Sedangkan kedua tangannya menggerakkan keyboard dan mouse. Hal serupa yang sering dilakukan Jingga jika sedang menghadapi seribu tugas yang meluber.
“Jadi kau keberatan menggantikanku, Liv? Sudahlah, jangan keseringan mengeluh. Anggap saja kau seorang leader yang mau tidak mau punya tanggung jawab itu. Oh iya, nanti kalau Pak Steven tanya dokumen perubahan aset lancar, katakan padanya kalau dokumen itu ada padaku. Kemarin sore dia minta dibuatkan updatenya. Tapi karena tidak sempat mengerjakannya, maka aku bawa pulang ke apartemen,”
“Hah, apa kau bilang? Pak Steven? Eh, bukannya tak mau menggantikan tugasmu,” Livi merasa salah bicara. Mendengar nama pemilik perusahaan yang terkenal angker itu, lehernya tiba-tiba bagai tercekik.
Jarum jam terus berputar. Waktu meeting tinggal 27 menit lagi. Bagaimana mungkin dia harus mengambil dokumen itu ke apartemen Jingga? Mengingat jalanan ibukota sudah bagai lautan kendaraan, tidak ada spasi untuk berenang. Livi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hei, kau tidak akan membahas aset lancar, Livi, hanya membahas omset penjulan sampai minggu ke-2. Berkas yang kubawa tidak ada hubungannya dengan meeting bersama kepala cabang,” ujar Jingga santai. Nada bicaranya tidak setinggi biasanya.
“Lalu untuk apa kau memberitahuku tentang dokumen itu?” Livi menarik napas lega.
“Untuk jaga-jaga kalau Pak Steven menanyakannya. Sebenarnya sudah selesai dan telah kuemail ke beliau.” Jelas Jingga di seberang telepon.
“Oh, syukurlah kalau begitu. Jadi intinya, jika mereka bertanya di luar omset, aku bisa membela diri. Begitu kan?” Livi mengernyitkan dahi. Tidak mengerti.
“Memangnya siapa pula yang akan mengajakmu berkelahi, pakai acara membela diri segala?” Jingga tertawa.
Livi tersenyum mendengar candaan Jingga yang sudah hampir seminggu menghilang dari pendengarannya.
“Eh, bagaimana kabarmu? Kau sudah ke dokter? Sudah makan buburnya? Obatnya sudah diminum?”
“Sudah. Terimakasih untuk semuanya.”
“Syukurlah, sekarang kau istirahat saja. Tapi ponselmu jangan sampai silent dan lowbat ya, aku takut terjadi apa-apa,” katanya serius.
“Ah, kau ini selalu berlebihan. Selamat bertemu kangen dengan Pak Steven ya, Liv. Tenang saja, dia tak seangker yang kau bayangkan. Cuma ya begitu, sedikit menyeramkan,” pungkas Jingga sembari tertawa kecil.
Livi menelan ludah. Ia paling anti berhadapan langsung dengan big bos. Ingin rasanya ia kabur, pura-pura mati suri atau tenggelam di dalam WC karena di sini tidak ada sumur. Tapi itu tak mungkin dilakukannya, karena Delima – sekretaris Pak Steven, sudah mewanti-wanti dirinya agar hadir sebagai inti dari segala penjelasan seluruh cabang, mewakili Jingga.
Setelah menelepon Livi, Jingga terkulai lemah tak berdaya. Semalaman demamnya cukup tinggi. Ia menggigil seorang diri. Tak ada satupun keluarga yang ia hubungi, termasuk Pak Eki, supir pribadinya. Ia tidak ingin merepotkan banyak orang. Meski di pagi buta, ia terpaksa menelepon Livi menginformasikan tidak dapat masuk kerja. Matanya sayu efek kurang tidur.
Dan Livilah yang meminta Pak Eki untuk menjemput Jingga di apartemen, mengantarkan ke dokter, serta membelikannya sarapan agar perutnya terisi. Meski menyebalkan, Jingga merupakan satu-satunya sahabat terdekat Livi. Mereka sempat berpisah tiga tahun bekerja di kantor orang. Lalu Jingga menariknya menjadi tangan kanan sekaligus asistennya selama empat musim terakhir.
Siapa bilang Jingga mirip singa, angkuh dan galak menerkam seluruh mangsa? Jingga seorang yang hangat, humble, setia kawan, loyal, dan segalanya bagi Livi. Saat Livi ada masalah, Jingga selalu berada paling depan. Saat Livi menyerah, Jingga yang mendorong kuat dari belakang. Saat Livi terpuruk lima tahun silam pada peristiwa kebakaran tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya, Jinggalah yang menjadi penyelamatnya.
Jingga menampung Livi di kosan sempit, karena waktu itu ia masih menjabat sebagai staf akunting biasa. Jingga tidak tega membiarkan Livi hidup sebatang kara di Jakarta. Ia tak pernah bosan menjadi motivator bijaknya setiap hari, tidak putus asa meskipun Livi beringas menolak mentah-mentah petuah bijaknya. Jingga pula yang berhasil megeluarkan Livi dari karantina psikis.
Atas dorongan dan semangat Jinggalah, Livi akhirnya bisa keluar dari masa suram itu. Kini ia sudah bisa menerima kenyataan. Sebagai ganti kehilangan, pasti akan ada yang datang. Rumus kehidupan memang seperti itu. Dua tahun berikutnya, ada arjuna yang bersedia menikahinya, meski sampai saat ini mereka belum dikaruniai momongan. Wajar bila Livi merasa berhutang budi pada Jingga. Bagi Livi, Jingga merupakan pahlawan. Ia ingin membalas semua kebaikan sahabatnya itu.
**
Pukul 12.01 WIB
Telepon di meja Jingga berdering. Livi malas menarik nomor extentionnya. Paling juga itu telepon dari Pak Steven.
Perempuan yang gemar memakai kemeja berkerah itu sedang sibuk merapikan kertas dan file yang berantakan di meja kerjanya. Sepuluh menit yang lalu meetingnya sukses dan lancar. Pak Steven tidak terlalu rewel bertanya macam-macam. Mungkin bisa jadi beliau mengerti posisi Livi yang hanya menggantikan Jingga. Ia hanya minta dokumen pendukung dari perubahan aset lancar yang sempat dikemukakan Jingga melalui telepon tadi pagi.
Dering telepon yang semula di meja Jingga, kini berpindah ke meja kerjanya.
Duh, siapa sih jam makan siang begini telepon? Tidak tahu sedang buru-buru, apa? Livi mengoceh sendiri. Tangannya mengunci laci meja, mematikan komputer.
“Halo?”
“Halo, Bu Livi ya? Ada tamu Ibu Jingga di bawah,” tuturnya dengan suara berat. Itu pak Ali, security lobby.
“Bu Jingga tidak masuk hari ini. Itu bukan tamu saya. Mintalah ia kembali lagi besok siang.” Jawab Livi tergesa-gesa.
“…”
Suara Pak Ali menjauh. Nampaknya ia sedang berbicara dengan tamu yang dimaksud.
“Maaf, Bu Livi, tapi pemuda ini mau bertemu dengan Ibu,”
“Memangnya dia siapa? Apa saya mengenalnya? Kalau begitu saya akan turun lima menit lagi.” Livi memutuskan sambungan telepon.
Siang ini, ia harus bergegas menemui Jingga di apartemennya untuk mengambil berkas dokumen yang diminta Pak Steven. Sekaligus memastikan kondisi terkini sahabatnya. Ia berlari mengejar lift yang terbuka, meminta maaf karena menyenggol karyawan lain dari divisi lain. Ia berkali-kali melirik jarum jam di tangannya, kemudian asyik memainkan layar tab.
“Eh…” Livi menghantam tembok di depannya saat keluar dari lift. Bukan tembok, tapi manusia berkulit sawo matang yang tinggi dan tegap.
“Kau lagi?” Livi terkejut. Belum 23 jamia nyaris tertabrak mobil pemuda itu, sekarang justru bertabrakan dengan pemiliknya.
“Hai, Liv. Aku menunggumu.” Laki-laki itu tersenyum manis.
“Loh, sedang apa di sini?” tanya Livi heran.
“Eh, aku…” Pemuda itu mengusap hidungnya yang bagai paruh burung rajawali. “Aku ingin bertemu denganmu, serta Jingga.” Ucapnya malu-malu.
“Jingga sakit. Aku mau ke apartemennya sekarang. Kau mau ikut?” Livi berjalan terburu-buru.
Pemuda itu tidak menjawab. Namun kedua kakinya mengikuti langkah perempuan yang sedikit berlari memanggil Taksi. Langkahnya yang cepat, bagaikan hendak pergi jauh mengejar pesawat. Livi tidak ada waktu menghubungi Pak Eki untuk menjemputnya.
“Naik mobilku saja,” Pemuda itu menahan lagkah Livi ke basement, menghampiri mobil gagah berwarna putih yang terpakir di barisan paling depan, dekat pintu keluar.
Livi mengangguk, tak banyak komentar. Baru setengah hari ditinggal Jingga, ia amat kelabakan. Apalagi jika menggantikan selama berminggu-minggu dan bulan. Seumpama Jingga resign, ia pun akan resign. Ucapnya dalam hati.
“Kita mampir dulu ke rumah makan. Aku ingin membeli bubur hangat untuk Jingga. Dan kita makan siang di apartemen Jingga saja. Kau belum makan juga, kan?” Livi memasuki mobil, mengarahkan jalan menuju rumah makan. Ia bahkan lupa menanyakan nama si pemuda yang kini berada di sampingnya.
“Kalau boleh tahu, memangnya Jingga sakit apa?” pemuda itu menoleh ke arah Livi. Wajahnya amat penasaran.
“Demam. Kemarin dia lembur hingga larut malam. Ditambah lagi begadang membawa sisa-sisa pekerjaannya yang belum tuntas. Semuda itu dia sudah menjadi leader keuangan. Mengontrol seluruh biaya, membuat anggaran setahun ke depan, mengatur masuk dan keluarnya uang, dan menyajikan laporan konsolidasi. Harus kuakui kerja keras dan keuletannya selama ini sungguhlah berat.” Livi melirik jam tangannya, gelisah.
“Leader?” Pemuda itu menatap Livi sekilas, yang dilirik menjawab dengan anggukan. Selebihnya, tidak ada lagi percakapan di mobil, selain Livi berkata belok kanan, kiri, berhenti, ayo jalan laksana pasukan paskibraka.
Setelah memesan makanan dari rumah makan yang tak jauh dari apartemen Jingga, Livi dan pemuda tak dikenal itu langsung menemui Jingga. Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam terlebih dulu, Livi membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang sengaja diberikan Jingga semasih dirinya single dulu. Katanya itu merupakan rumah Livi juga. Maka, Livi bebas bertandang kapanpun ia mau.
“Jingga…” Livi memanggil nama sahabatnya yang terbungkus selimut super tebal yang berbaring di tempat tidur.
Hening. Tidak ada sahutan. Livi sangat panik. Takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Tubuh Jingga semakin menggigil. Padahal sejak kemarin, ia tidak menyalakan air conditioner. Kaos kaki, sarung tangan, dan selimut tebal, masih menempel di tubuhnya yang lemas. Ruangan 7 x 10 meter tersebut begitu sunyi, menyisakan dentang jarum dan suara pendingin makanan. Jendela yang biasanya terbuka sedikit di siang hari, masih tertutup rapat. Bisa jadi Jingga belum bergerak semester pun.
Kamar apartemen Jingga mayoritas dipenuhi oleh warna putih. Seperti dinding, korden, asbes, lantai, spray, jam, dinding, laptop, dan rak buku. Warna selingan hanya cokelat di lemari baju yang memisahkan dapur, krem sofa dan meja, serta hijau pemandangan alam dalam kalender kecil di meja kerjanya.
Ruangan tak bersekat (kecuali kamar mandi) ini , tak terlihat satupun benda menggantung di tembok. Pemuda itu sejenak berpikir heran, bukankah perempuan paling suka memajang foto di dinding? Entah itu fotonya sendiri, sahabat, pasangan, atau keluarga. Tapi Jingga sama sekali tidak memajangnya. Hanya berdiri pas bunga dari kaca bening, yang di dalamnya terdapat dua bunga mawar merah muda yang merekah, serta satu yang masih kuncup, lengkap dengan batang berduri dan daun yang diletakkan di sudut meja ruang tamu yang bisa dikatakan tidak mirip dengan ruang tamu.
Ruang kerja Jingga menghadap ke balkon. Sehingga pemuda itu bisa berpikir Jingga akan membuka tirai tipis di balik beningnya kaca, yang langsung disuguhi pemandangan tumbuh-tumbuhan hijau di dalam pot yang disusun serapi mungkin oleh pemiliknya, serta tata letak bangku dan meja mini di samping sebelah kiri. Meski awalnya ia merasa tak ada yang spesial di ruangan Jingga, tapi setelah menjelajahi seluruh isi kamar, ia paham bahwa Jingga adalah gadis yang simpel dan tidak suka berlebihan.
Jujur saja, ia merasa damai berada di apartemen Jingga. Walau AC tidak menyala, namun sepoi-sepoi angin yang masuk melalui pentilasi, membuatnya ingin terlelap. Dengan tidak adanya sekat dan banyak warna, ruangan ini nampak luas dan teduh.
“Ayo, Jingga… Bangunlah... Coba lihat, aku bawakan bubur hangat untukmu. Lekas disantap, nanti keburu dingin dan rasanya tidak enak.” Livi menyibak selimut tebal yang mengatup wajah dan kepala Jingga. “Hey, memangnya kau tidak engap ditutup seperti ini, hah? Nanti kau kehabisan napas.”
Jingga membuka matanya. Mencoba tersenyum saat tahu sahabatnya datang menjenguk. Suara Livi berisik sekali, membuat kepalanya semakin pusing, ujarnya dalam hati.
“Aku malas makan, Liv,” tutur Jingga dengan nada lemah.
“Tapi kau harus makan, Jingga. Perutmu tidak boleh kosong. Aku ke sini mau mengambil berkas yang kau bilang tadi via telepon,” Livi menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga. Astaga! Panasnya tinggi sekali. Mata Livi terbelalak melihat bubur tadi pagi yang dibelikan oleh Pak Eki yang katanya sudah dihabiskan. Bubur itu belum disentuh Jingga sama sekali. Livi mengomel ke sana, ke mari.
“Kau harus dirawat sekarang juga,” Livi menggapai ponselnya di dalam tas. Hendak menghubungi keluarga Jingga.
“Tidak, Liv. Aku sudah sembuh. Aku hanya ingin istirahat total. Dokumennya ada di meja kerjaku, di dalam amplop cokelat. Ambilah.” Jingga menyergah tangan Livi yang hendak menekan kontak telepon ibundanya.
“Sembuh dari Hongkong? Demammu tinggi begini. Kau harus segera ditangani dokter.” Cibir Livi yang mendadak teringat sesuatu. Sekelebat ia mengambil panvi yang tergantung tak jauh dari kompor, mengisinya dengan air dari washtaffel, kemudian meletakannya di atas kompor gas dengan api yang menyala maksimal. Sambil menunggu air panas, Livi mencari handuk kecil di lemari pakaian.
Dan pemuda itu? Dia sedang duduk manis di sofa sambil membolak-balikan majalah di tangannya. Sejak tadi ia menjadi penonton dan penyimak dalam tayangan tentang dua sahabat yang saling merajuk, enggan ikut campur. Kedatangannya hari ini sebenarnya untuk mencari tahu kabar keduanya dan meminta maaf. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian siang itu. Ia amat ketakutan. Hatinya merasa tidak enak. Benar saja, salah satu dari dua perempuan yang ditemuinya kemarin siang, terjatuh sakit.
Dan semua ini ada hubungan yang melibatkan dirinya. Dia mengusap wajah.
Pemuda berkemeja biru polos itu mengusap wajah. Ini merupakan pemandangan yang mengharukan. Ia berjalan ke luar mencari angin, tidak bisa berlama-lama menonton adegan di dalam ruangan tanpa sekat ini.
“Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit, Liv. Kumohon…” Jingga memelas memohon.
“Aku ingin kau cepat sembuh, Jingga. Sampai kapan kau keras kepala?” Livi memeras handuk kecil ke dalam air panas dan menempelkannya ke dahi Jingga berulang-ulang. Ia menatap sendu sahabatnya yang kini bagai mayat hidup. Wajah Jingga teramat pias, sorot matanya meredup.
“Sudah kubilang, tunggu hingga hujan reda. Tapi kau tidak mau mendengar. Kau tahu, waktu itu perutku terasa penuh oleh santapan makan siang, tapi kau memaksa berlari di bawah hujan. Dan sekarang, kau sakit, kan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa belakangan ini kau amat tertutup padaku? Katakan, Jingga…” Livi membuka kantung plastik bening berisikan bubur ayam hangat, memaksa Jingga memakannya, sembari terus menginterogasi bak polisi gadungan.
“Aku tidak pernah membenci hujan,” ungkap Jingga datar. Sudah seminggu terakhir ia tidak nafsu makan. Pikirannya kacau. Hujan kemarin siang bukan kesialan, melainkan satu-satunya hiburan.
“Kenapa kau tidak meneleponku kalau keadaanmu seperti ini? Kukira kau sakit biasa yang hanya membutuhkan istirahat saja,” Livi cekatan mengganti kompres, memeras handuk yang sudah dingin, memasangkannya kembali ke dahi Jingga.
“Aku tidak ingin mengganggu meetingmu, Liv.” Jingga mencoba tersenyum. Senyum yang getir.
“Apakah keluargamu belum tahu?"
Jingga menggeleng.
Livi menyeringai, “Biar aku telepon,”
“Jangan,” pinta Jingga memohon.
Livi menghela napas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jingga? Selama ini mereka sangat dekat. Teramat dekat. Tetapi baru kali ini Jingga begitu tertutup, seolah semua baik-baik saja.
Apalah gunanya sahabat jika tak ada lagi kata transparan? Bukankah sahabat tempat untuk berbagi keluh kesah dan gundah? Meluapkan seluruh suka dan duka? “Tapi kenapa? Kenapa Jingga merahasiakan sesuatu? Bukankah selama ini dia selalu ingin tahu masalahku? Membantuku keluar dari masalah itu? Apa dia tidak memercayaiku?” Livi berkata-kata dalam hati. Merasakan ada yang ganjil terjadi pada Jingga.
Jingga terdiam. Bingung harus memulai cerita dari mana. Terlalu banyak penjelasan asal muasal cerita itu dimulai. Tubuhnya yang bersandar di tumpukan bantal semakin melemah. Singa yang galak itu kini bagai seekor ikan yang kehabisan air. Terdampar di ranjang.
Di hari yang sama, Jingga tetap melanjutkan pekerjaan seperti biasa hingga larut mala. Berteman dengan komputer, telepon, dan berkas-berkas dokumen yang memabukan kepala. Ia harus merampungkan laporan keuangan cabang dalam waktu dekat. Ia bahkan sengaja membawa pulang setumpukan ordner dan berkas-berkas dokumen pendukung lainnya ke apartemen karena tak sempat diselesaikan berhubung waktu sudah teramat larut.
Dering telepon yang berbunyi semenit lalu, kembali berdering. Livi mendesis malas, meninggalkan sejenak perhatiannya pada angka milyaran rupiah di layar komputer.
“Halo, Livi! Kau dari mana saja? Jangan bilang kau terlambat ke kantor dengan alasan tukang urutnya tidak manjur menyembuhkan kakimu yang bengkak?”
Livi menarik napas. Dimana-mana atasan selalu bawel pada bawahannya. “Ya ampun, Jingga, kupikir siapa? Aku tak sempat mengangkat telepon. Kau tahu kan, betapa sibuknya aku menjalankan mandat darimu? Presiden saja kalah dengan kesibukanku.” Livi menyeringai, melirik jam dinding. Setengah jam lagi ia harus meeting bersama kepala cabang seluruh Indonesia dan jajaran petinggi lainnya untuk membahas omset penjualan yang menurun, serta membicarakan penyeragaman sistem pembukuan.
“Seharusnya kau yang menghadiri meeting ini, Jingga. Aku sungguh malas,” Livi memainkan pulpen di tangannya. “Kini aku baru tahu apa yang kau rasakan, Jingga. Pantas saja kau jadi manusia paling galak sekantor ini. Tanggung jawabmu sungguh luar biasa. Aku tidak sanggup mengemban tugas berat ini. Dan aku tidak ingin menjadi kau.” Celoteh Livi sambil mengapit gagang telepon di antara bahu dan telinganya yang bersentuhan dengan pipi. Matanya kembali pada layar komputer. Sedangkan kedua tangannya menggerakkan keyboard dan mouse. Hal serupa yang sering dilakukan Jingga jika sedang menghadapi seribu tugas yang meluber.
“Jadi kau keberatan menggantikanku, Liv? Sudahlah, jangan keseringan mengeluh. Anggap saja kau seorang leader yang mau tidak mau punya tanggung jawab itu. Oh iya, nanti kalau Pak Steven tanya dokumen perubahan aset lancar, katakan padanya kalau dokumen itu ada padaku. Kemarin sore dia minta dibuatkan updatenya. Tapi karena tidak sempat mengerjakannya, maka aku bawa pulang ke apartemen,”
“Hah, apa kau bilang? Pak Steven? Eh, bukannya tak mau menggantikan tugasmu,” Livi merasa salah bicara. Mendengar nama pemilik perusahaan yang terkenal angker itu, lehernya tiba-tiba bagai tercekik.
Jarum jam terus berputar. Waktu meeting tinggal 27 menit lagi. Bagaimana mungkin dia harus mengambil dokumen itu ke apartemen Jingga? Mengingat jalanan ibukota sudah bagai lautan kendaraan, tidak ada spasi untuk berenang. Livi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hei, kau tidak akan membahas aset lancar, Livi, hanya membahas omset penjulan sampai minggu ke-2. Berkas yang kubawa tidak ada hubungannya dengan meeting bersama kepala cabang,” ujar Jingga santai. Nada bicaranya tidak setinggi biasanya.
“Lalu untuk apa kau memberitahuku tentang dokumen itu?” Livi menarik napas lega.
“Untuk jaga-jaga kalau Pak Steven menanyakannya. Sebenarnya sudah selesai dan telah kuemail ke beliau.” Jelas Jingga di seberang telepon.
“Oh, syukurlah kalau begitu. Jadi intinya, jika mereka bertanya di luar omset, aku bisa membela diri. Begitu kan?” Livi mengernyitkan dahi. Tidak mengerti.
“Memangnya siapa pula yang akan mengajakmu berkelahi, pakai acara membela diri segala?” Jingga tertawa.
Livi tersenyum mendengar candaan Jingga yang sudah hampir seminggu menghilang dari pendengarannya.
“Eh, bagaimana kabarmu? Kau sudah ke dokter? Sudah makan buburnya? Obatnya sudah diminum?”
“Sudah. Terimakasih untuk semuanya.”
“Syukurlah, sekarang kau istirahat saja. Tapi ponselmu jangan sampai silent dan lowbat ya, aku takut terjadi apa-apa,” katanya serius.
“Ah, kau ini selalu berlebihan. Selamat bertemu kangen dengan Pak Steven ya, Liv. Tenang saja, dia tak seangker yang kau bayangkan. Cuma ya begitu, sedikit menyeramkan,” pungkas Jingga sembari tertawa kecil.
Livi menelan ludah. Ia paling anti berhadapan langsung dengan big bos. Ingin rasanya ia kabur, pura-pura mati suri atau tenggelam di dalam WC karena di sini tidak ada sumur. Tapi itu tak mungkin dilakukannya, karena Delima – sekretaris Pak Steven, sudah mewanti-wanti dirinya agar hadir sebagai inti dari segala penjelasan seluruh cabang, mewakili Jingga.
Setelah menelepon Livi, Jingga terkulai lemah tak berdaya. Semalaman demamnya cukup tinggi. Ia menggigil seorang diri. Tak ada satupun keluarga yang ia hubungi, termasuk Pak Eki, supir pribadinya. Ia tidak ingin merepotkan banyak orang. Meski di pagi buta, ia terpaksa menelepon Livi menginformasikan tidak dapat masuk kerja. Matanya sayu efek kurang tidur.
Dan Livilah yang meminta Pak Eki untuk menjemput Jingga di apartemen, mengantarkan ke dokter, serta membelikannya sarapan agar perutnya terisi. Meski menyebalkan, Jingga merupakan satu-satunya sahabat terdekat Livi. Mereka sempat berpisah tiga tahun bekerja di kantor orang. Lalu Jingga menariknya menjadi tangan kanan sekaligus asistennya selama empat musim terakhir.
Siapa bilang Jingga mirip singa, angkuh dan galak menerkam seluruh mangsa? Jingga seorang yang hangat, humble, setia kawan, loyal, dan segalanya bagi Livi. Saat Livi ada masalah, Jingga selalu berada paling depan. Saat Livi menyerah, Jingga yang mendorong kuat dari belakang. Saat Livi terpuruk lima tahun silam pada peristiwa kebakaran tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya, Jinggalah yang menjadi penyelamatnya.
Jingga menampung Livi di kosan sempit, karena waktu itu ia masih menjabat sebagai staf akunting biasa. Jingga tidak tega membiarkan Livi hidup sebatang kara di Jakarta. Ia tak pernah bosan menjadi motivator bijaknya setiap hari, tidak putus asa meskipun Livi beringas menolak mentah-mentah petuah bijaknya. Jingga pula yang berhasil megeluarkan Livi dari karantina psikis.
Atas dorongan dan semangat Jinggalah, Livi akhirnya bisa keluar dari masa suram itu. Kini ia sudah bisa menerima kenyataan. Sebagai ganti kehilangan, pasti akan ada yang datang. Rumus kehidupan memang seperti itu. Dua tahun berikutnya, ada arjuna yang bersedia menikahinya, meski sampai saat ini mereka belum dikaruniai momongan. Wajar bila Livi merasa berhutang budi pada Jingga. Bagi Livi, Jingga merupakan pahlawan. Ia ingin membalas semua kebaikan sahabatnya itu.
**
Pukul 12.01 WIB
Telepon di meja Jingga berdering. Livi malas menarik nomor extentionnya. Paling juga itu telepon dari Pak Steven.
Perempuan yang gemar memakai kemeja berkerah itu sedang sibuk merapikan kertas dan file yang berantakan di meja kerjanya. Sepuluh menit yang lalu meetingnya sukses dan lancar. Pak Steven tidak terlalu rewel bertanya macam-macam. Mungkin bisa jadi beliau mengerti posisi Livi yang hanya menggantikan Jingga. Ia hanya minta dokumen pendukung dari perubahan aset lancar yang sempat dikemukakan Jingga melalui telepon tadi pagi.
Dering telepon yang semula di meja Jingga, kini berpindah ke meja kerjanya.
Duh, siapa sih jam makan siang begini telepon? Tidak tahu sedang buru-buru, apa? Livi mengoceh sendiri. Tangannya mengunci laci meja, mematikan komputer.
“Halo?”
“Halo, Bu Livi ya? Ada tamu Ibu Jingga di bawah,” tuturnya dengan suara berat. Itu pak Ali, security lobby.
“Bu Jingga tidak masuk hari ini. Itu bukan tamu saya. Mintalah ia kembali lagi besok siang.” Jawab Livi tergesa-gesa.
“…”
Suara Pak Ali menjauh. Nampaknya ia sedang berbicara dengan tamu yang dimaksud.
“Maaf, Bu Livi, tapi pemuda ini mau bertemu dengan Ibu,”
“Memangnya dia siapa? Apa saya mengenalnya? Kalau begitu saya akan turun lima menit lagi.” Livi memutuskan sambungan telepon.
Siang ini, ia harus bergegas menemui Jingga di apartemennya untuk mengambil berkas dokumen yang diminta Pak Steven. Sekaligus memastikan kondisi terkini sahabatnya. Ia berlari mengejar lift yang terbuka, meminta maaf karena menyenggol karyawan lain dari divisi lain. Ia berkali-kali melirik jarum jam di tangannya, kemudian asyik memainkan layar tab.
“Eh…” Livi menghantam tembok di depannya saat keluar dari lift. Bukan tembok, tapi manusia berkulit sawo matang yang tinggi dan tegap.
“Kau lagi?” Livi terkejut. Belum 23 jamia nyaris tertabrak mobil pemuda itu, sekarang justru bertabrakan dengan pemiliknya.
“Hai, Liv. Aku menunggumu.” Laki-laki itu tersenyum manis.
“Loh, sedang apa di sini?” tanya Livi heran.
“Eh, aku…” Pemuda itu mengusap hidungnya yang bagai paruh burung rajawali. “Aku ingin bertemu denganmu, serta Jingga.” Ucapnya malu-malu.
“Jingga sakit. Aku mau ke apartemennya sekarang. Kau mau ikut?” Livi berjalan terburu-buru.
Pemuda itu tidak menjawab. Namun kedua kakinya mengikuti langkah perempuan yang sedikit berlari memanggil Taksi. Langkahnya yang cepat, bagaikan hendak pergi jauh mengejar pesawat. Livi tidak ada waktu menghubungi Pak Eki untuk menjemputnya.
“Naik mobilku saja,” Pemuda itu menahan lagkah Livi ke basement, menghampiri mobil gagah berwarna putih yang terpakir di barisan paling depan, dekat pintu keluar.
Livi mengangguk, tak banyak komentar. Baru setengah hari ditinggal Jingga, ia amat kelabakan. Apalagi jika menggantikan selama berminggu-minggu dan bulan. Seumpama Jingga resign, ia pun akan resign. Ucapnya dalam hati.
“Kita mampir dulu ke rumah makan. Aku ingin membeli bubur hangat untuk Jingga. Dan kita makan siang di apartemen Jingga saja. Kau belum makan juga, kan?” Livi memasuki mobil, mengarahkan jalan menuju rumah makan. Ia bahkan lupa menanyakan nama si pemuda yang kini berada di sampingnya.
“Kalau boleh tahu, memangnya Jingga sakit apa?” pemuda itu menoleh ke arah Livi. Wajahnya amat penasaran.
“Demam. Kemarin dia lembur hingga larut malam. Ditambah lagi begadang membawa sisa-sisa pekerjaannya yang belum tuntas. Semuda itu dia sudah menjadi leader keuangan. Mengontrol seluruh biaya, membuat anggaran setahun ke depan, mengatur masuk dan keluarnya uang, dan menyajikan laporan konsolidasi. Harus kuakui kerja keras dan keuletannya selama ini sungguhlah berat.” Livi melirik jam tangannya, gelisah.
“Leader?” Pemuda itu menatap Livi sekilas, yang dilirik menjawab dengan anggukan. Selebihnya, tidak ada lagi percakapan di mobil, selain Livi berkata belok kanan, kiri, berhenti, ayo jalan laksana pasukan paskibraka.
Setelah memesan makanan dari rumah makan yang tak jauh dari apartemen Jingga, Livi dan pemuda tak dikenal itu langsung menemui Jingga. Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam terlebih dulu, Livi membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang sengaja diberikan Jingga semasih dirinya single dulu. Katanya itu merupakan rumah Livi juga. Maka, Livi bebas bertandang kapanpun ia mau.
“Jingga…” Livi memanggil nama sahabatnya yang terbungkus selimut super tebal yang berbaring di tempat tidur.
Hening. Tidak ada sahutan. Livi sangat panik. Takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Tubuh Jingga semakin menggigil. Padahal sejak kemarin, ia tidak menyalakan air conditioner. Kaos kaki, sarung tangan, dan selimut tebal, masih menempel di tubuhnya yang lemas. Ruangan 7 x 10 meter tersebut begitu sunyi, menyisakan dentang jarum dan suara pendingin makanan. Jendela yang biasanya terbuka sedikit di siang hari, masih tertutup rapat. Bisa jadi Jingga belum bergerak semester pun.
Kamar apartemen Jingga mayoritas dipenuhi oleh warna putih. Seperti dinding, korden, asbes, lantai, spray, jam, dinding, laptop, dan rak buku. Warna selingan hanya cokelat di lemari baju yang memisahkan dapur, krem sofa dan meja, serta hijau pemandangan alam dalam kalender kecil di meja kerjanya.
Ruangan tak bersekat (kecuali kamar mandi) ini , tak terlihat satupun benda menggantung di tembok. Pemuda itu sejenak berpikir heran, bukankah perempuan paling suka memajang foto di dinding? Entah itu fotonya sendiri, sahabat, pasangan, atau keluarga. Tapi Jingga sama sekali tidak memajangnya. Hanya berdiri pas bunga dari kaca bening, yang di dalamnya terdapat dua bunga mawar merah muda yang merekah, serta satu yang masih kuncup, lengkap dengan batang berduri dan daun yang diletakkan di sudut meja ruang tamu yang bisa dikatakan tidak mirip dengan ruang tamu.
Ruang kerja Jingga menghadap ke balkon. Sehingga pemuda itu bisa berpikir Jingga akan membuka tirai tipis di balik beningnya kaca, yang langsung disuguhi pemandangan tumbuh-tumbuhan hijau di dalam pot yang disusun serapi mungkin oleh pemiliknya, serta tata letak bangku dan meja mini di samping sebelah kiri. Meski awalnya ia merasa tak ada yang spesial di ruangan Jingga, tapi setelah menjelajahi seluruh isi kamar, ia paham bahwa Jingga adalah gadis yang simpel dan tidak suka berlebihan.
Jujur saja, ia merasa damai berada di apartemen Jingga. Walau AC tidak menyala, namun sepoi-sepoi angin yang masuk melalui pentilasi, membuatnya ingin terlelap. Dengan tidak adanya sekat dan banyak warna, ruangan ini nampak luas dan teduh.
“Ayo, Jingga… Bangunlah... Coba lihat, aku bawakan bubur hangat untukmu. Lekas disantap, nanti keburu dingin dan rasanya tidak enak.” Livi menyibak selimut tebal yang mengatup wajah dan kepala Jingga. “Hey, memangnya kau tidak engap ditutup seperti ini, hah? Nanti kau kehabisan napas.”
Jingga membuka matanya. Mencoba tersenyum saat tahu sahabatnya datang menjenguk. Suara Livi berisik sekali, membuat kepalanya semakin pusing, ujarnya dalam hati.
“Aku malas makan, Liv,” tutur Jingga dengan nada lemah.
“Tapi kau harus makan, Jingga. Perutmu tidak boleh kosong. Aku ke sini mau mengambil berkas yang kau bilang tadi via telepon,” Livi menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga. Astaga! Panasnya tinggi sekali. Mata Livi terbelalak melihat bubur tadi pagi yang dibelikan oleh Pak Eki yang katanya sudah dihabiskan. Bubur itu belum disentuh Jingga sama sekali. Livi mengomel ke sana, ke mari.
“Kau harus dirawat sekarang juga,” Livi menggapai ponselnya di dalam tas. Hendak menghubungi keluarga Jingga.
“Tidak, Liv. Aku sudah sembuh. Aku hanya ingin istirahat total. Dokumennya ada di meja kerjaku, di dalam amplop cokelat. Ambilah.” Jingga menyergah tangan Livi yang hendak menekan kontak telepon ibundanya.
“Sembuh dari Hongkong? Demammu tinggi begini. Kau harus segera ditangani dokter.” Cibir Livi yang mendadak teringat sesuatu. Sekelebat ia mengambil panvi yang tergantung tak jauh dari kompor, mengisinya dengan air dari washtaffel, kemudian meletakannya di atas kompor gas dengan api yang menyala maksimal. Sambil menunggu air panas, Livi mencari handuk kecil di lemari pakaian.
Dan pemuda itu? Dia sedang duduk manis di sofa sambil membolak-balikan majalah di tangannya. Sejak tadi ia menjadi penonton dan penyimak dalam tayangan tentang dua sahabat yang saling merajuk, enggan ikut campur. Kedatangannya hari ini sebenarnya untuk mencari tahu kabar keduanya dan meminta maaf. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian siang itu. Ia amat ketakutan. Hatinya merasa tidak enak. Benar saja, salah satu dari dua perempuan yang ditemuinya kemarin siang, terjatuh sakit.
Dan semua ini ada hubungan yang melibatkan dirinya. Dia mengusap wajah.
Pemuda berkemeja biru polos itu mengusap wajah. Ini merupakan pemandangan yang mengharukan. Ia berjalan ke luar mencari angin, tidak bisa berlama-lama menonton adegan di dalam ruangan tanpa sekat ini.
“Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit, Liv. Kumohon…” Jingga memelas memohon.
“Aku ingin kau cepat sembuh, Jingga. Sampai kapan kau keras kepala?” Livi memeras handuk kecil ke dalam air panas dan menempelkannya ke dahi Jingga berulang-ulang. Ia menatap sendu sahabatnya yang kini bagai mayat hidup. Wajah Jingga teramat pias, sorot matanya meredup.
“Sudah kubilang, tunggu hingga hujan reda. Tapi kau tidak mau mendengar. Kau tahu, waktu itu perutku terasa penuh oleh santapan makan siang, tapi kau memaksa berlari di bawah hujan. Dan sekarang, kau sakit, kan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa belakangan ini kau amat tertutup padaku? Katakan, Jingga…” Livi membuka kantung plastik bening berisikan bubur ayam hangat, memaksa Jingga memakannya, sembari terus menginterogasi bak polisi gadungan.
“Aku tidak pernah membenci hujan,” ungkap Jingga datar. Sudah seminggu terakhir ia tidak nafsu makan. Pikirannya kacau. Hujan kemarin siang bukan kesialan, melainkan satu-satunya hiburan.
“Kenapa kau tidak meneleponku kalau keadaanmu seperti ini? Kukira kau sakit biasa yang hanya membutuhkan istirahat saja,” Livi cekatan mengganti kompres, memeras handuk yang sudah dingin, memasangkannya kembali ke dahi Jingga.
“Aku tidak ingin mengganggu meetingmu, Liv.” Jingga mencoba tersenyum. Senyum yang getir.
“Apakah keluargamu belum tahu?"
Jingga menggeleng.
Livi menyeringai, “Biar aku telepon,”
“Jangan,” pinta Jingga memohon.
Livi menghela napas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jingga? Selama ini mereka sangat dekat. Teramat dekat. Tetapi baru kali ini Jingga begitu tertutup, seolah semua baik-baik saja.
Apalah gunanya sahabat jika tak ada lagi kata transparan? Bukankah sahabat tempat untuk berbagi keluh kesah dan gundah? Meluapkan seluruh suka dan duka? “Tapi kenapa? Kenapa Jingga merahasiakan sesuatu? Bukankah selama ini dia selalu ingin tahu masalahku? Membantuku keluar dari masalah itu? Apa dia tidak memercayaiku?” Livi berkata-kata dalam hati. Merasakan ada yang ganjil terjadi pada Jingga.
Jingga terdiam. Bingung harus memulai cerita dari mana. Terlalu banyak penjelasan asal muasal cerita itu dimulai. Tubuhnya yang bersandar di tumpukan bantal semakin melemah. Singa yang galak itu kini bagai seekor ikan yang kehabisan air. Terdampar di ranjang.
Puing 4 #Jingga #NovelSeries
Livi berjalan terpogoh-pogoh mengimbangi langkah kaki pemuda yang saat ini membopong tubuh sahabatnya menuju lobby rumah sakit. Seketika bau khas obat-obatan menyengat menusuk hidung. Lalu-lalang manusia berseliweran keluar masuk. Ada yang wajahnya kusut, ada yang bersikap datar, ada yang terburu-buru seperti dirinya saat ini mengurus keperluan rumah sakit. Tak lama ia disambut empat perempuan berpakaian serba hijau dengan topi mirip perahu terbalik berwarna putih yang dijepitkan di kepala. Kereta dorong siap mengantar Jingga ke kamar rawat inap.
Suster-suster itu sibuk menyolokkan selang infus ke pergelangan tangan Jingga yang terkulai lemah. Sesekali memeriksa denyut nadi yang semakin pelan. Kata suster, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jingga hanya pingsan karena tidak sanggup menopang tubuhnya yang kehabisan tenaga. Denyut nadi yang pelan bukan berarti napasnya tinggal beberapa jam lagi, melainkan aktivitas yang menurun drastis.
Enggan melihat jarum suntik melukai lengan sahabatnya, Livi memutuskan keluar dari ruangan. Setelah dokter selesai menangani sahabat sekaligus atasannya itu, ia baru mau kembali ke kamar rawat inap, menyaksikan Jingga yang belum juga bangun dari tidur lelapnya. Ia berkali-kali menggoyang-goyangkan lengan kiri Jingga yang tak dililit selang infus, berbisik merayunya lekas membuka mata.
Sudah sembilan kali Livi melirik jam tangan, melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar VVIP lalu masuk lagi ke dalam. Pikirannya serba salah, antara tetap bersama Jingga, ataukah menghandle pekerjaan yang menggunung. Ia harus segera kembali ke kantor, gertaknya dalam hati. Tetapi disaat kritis seperti ini, ia urung meninggalkan Jingga seorang diri yang terbaring terlilit selang infus. Saat ini Jingga merupakan tanggungjawabnya juga.
Livi menekan kontak Pak Steven, meminta maaf karena berkas dokumen mengenai aset lancar dan cadangan kerugian piutang tertunda. Sekaligus menginformasikan bahwa Jingga masuk UGD.
Pemuda berkemeja panjang itu memperhatikan gerak-gerik Livi yang gelisah. Ia memberanikan diri mendekat. “Biar aku saja yang menunggu Jingga. Aku sedang tidak banyak pekerjaan hari ini,” bebernya menawarkan jasa.
Livi tidak menjawab. Siapa dia? Kenal saja baru kemarin siang, gumamnya dalam hati. Sebelum keluarga Jingga datang, ia tidak mau meninggalkan atasannya sendirian. Bisa-bisa Jingga diculik ke bulan.
Jingga memang keras kepala, sudah tahu demamnya tinggi, bilang baik-baik saja. Sekarang ia harus mengakui kalau tubuhnya butuh perawatan intens. Pening di kepalanya membuat ia tumbang ketika hendak menuju toilet di kamar apartemennya. Dan pemuda itulah yang membawanya ke rumah sakit ini. Hampir dua jam lebih Jingga belum sadarkan diri. Demamnya semakin tinggi. Livi sudah mengabari ibu dan adik Jingga yang berada di Kota Kembang. Dalam panggilan telepon yang singkat, ibu Jingga nampak panik dan berkata akan langsung menuju Jakarta detik itu juga.
Ruangan serba putih dan sunyi ini membuat Livi merinding. Lima tahun silam ia harus menyaksikan kedua orangtuanya menjemput ajal. Dada Livi terasa sesak. Ia berusaha mengenyahkan bayangan akan masa lalunya yang tragis. Berselang satu jam, Pak Steven, Pak Heri, dan beberapa pejabat tinggi lainnya berkunjung ke rumah sakit membesuk Jingga. Mereka menyampaikan ungkapan prihatin dan membawakan sekantong buah-buahan. Tiga jam berlalu, Jingga belum juga siuman.
Usai kunjungan direksi, Ibu dan adik Jingga datang menjenguk. Livi izin ke kantin untuk makan siang. Tentu saja dengan pemuda yang tak dikenalnya. Perut Livi sudah bernyanyi lagu aerobik sejak tadi. Makanan yang dibeli dari rumah makan, ketinggalan di apartemen Jingga. Suasana di kantin tak jauh berbeda dengan di ruang rawat inap. Sunyi dan senyap. Hanya suara piring, garpu, dan sendok yang terdengar. Sesekali suara dari pengunjung yang baru masuk. Meski terkenal cerewet dan bawel, kali ini Livi tidak berselera bicara terlalu banyak. Ia hanya menjawab seperlunya jika pemuda asing itu bertanya. Setelah menandaskan makan siang, ia kembali ke kamar rawat inap. Jingga belum jua sadar.
**
Siang itu langit Jakarta mendung mengundang. Jalanan masih becek bekas hujan tadi pagi. Bunyi klakson yang saling bersahutan serta ulah para pengendara roda dua dan empat yang tidak mau mengalah, membuat siang ini terasa buruk. Para pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya di lampu merah, pengamen-pengamen berkeliaran dari mobil satu ke mobil lain, meminta uang paksa pada penumpang. Jika tidak diberi, mereka akan melakukan tindak kriminal, memakan silet, dan berorasi panjang lebar, bilang belum lama keluar dari penjara dan sekarang akan mencari korban baru. Namun tidak dalam ruangan kecil yang sunyi senyap, seorang gadis malang sedang menjalani masa gawat darurat. Matanya terpejam rapat.
“Kau kan tahu, Nak, Jingga memang keras wataknya. Mohon bersabar menanggapinya,” ucap ibu Jingga pada Livi.
“Iya, Bu, aku akan berusaha sabar mengikuti kemauannya. Andai saja dia tidak nekat menerjang hujan, pastilah tidak seperti ini keadaannya.” Livi memandang wajah Jingga yang pucat, sedikit kesal jika harus mengingat tragedi kemarin siang.
“Sebenarnya, Jingga sakit bukan karena kehujanan. Sejak kecil tubuhnya kebal oleh air hujan. Jingga adalah gadis penikmat hujan.” Ibu Jingga menatap Livi. “Ada sesuatu yang ia pikirkan. Dia terus bertanya di mana keberadaan ayahnya. Ibu tak bisa menjelaskan. Laki-laki pengecut itu mungkin sudah ditelan paus. Sebulan lalu, Jingga pulang ke Bandung, wajahnya ceria. Ia langsung memanggil adiknya - Ninda, berkata tentang kesuksesannya di Jakarta. Berharap apa yang dilakukannya menular pada Ninda. Tapi mendadak wajahnya terlipat, katanya kebahagiaannya belum lengkap tanpa kehadiran ayah yang telah meninggalkannya semasih dia berusia sebelas tahun. Untuk mengalihkan topik, Ibu bertanya tentang calon menantu. Wajah Jingga semakin terlipat.”
Livi duduk takzim, mendengarkan ibu dengan seksama tanpa memotong sepatah kalimatpun, kemudian menatap Ninda sekilas. Ninda menghela napas.
“Kesuksesan bukan hanya diukur berdasarkan pangkat seseorang, tapi juga status sosial. Bagaimana mungkin dikatakan sukses bila tidak punya keluarga lengkap, demikian ucap Jingga. Nampaknya Jingga memendam sakit hatinya sendirian. Ia teramat sangat membenci ayahnya, mendendam pada hampir semua laki-laki yang kerap membuatnya menangis. Menurut Jingga, semua laki-laki di muka bumi ini tak ada bedanya, pecundang.” Ibu menarik napas, lalu melanjutkan, “Setelah bersalaman dan memberikan oleh-oleh pada kami, lantas dia langsung pamit kembali ke Jakarta.” Ibu menarik napas lagi, menatap nanar putri sulungnya.
Livi ikut menatap Jingga. “Oo, jadi karena itu?” Ia memperhatikan kelopak mata Jingga yang sembab, di matanya yang terpejam, terlihat rona kesedihan yang selama ini tak terbaca olehnya. Pantas saja, sebulan ini tingkah Jingga aneh. Livi berkata-kata dalam hati.
“Bukan pertama kalinya Kak Jingga seperti ini, Kak Livi. Dulu setiap kali pulang, Kak Jingga selalu curhat padaku, bahwa dia pun ingin menjadi wanita normal yang memiliki keluarga lengkap, tapi ia selalu gagal, mengelak bahwa ini bukan kemauannya untuk terus hidup melajang. Berumahtangga bukan hanya menyatukan kedua belah pihak. Tapi juga butuh kecocokan antara pihak satu dengan pihak lainnya. Katanya, jodoh itu adalah kecocokan antara dua hati, bila tidak cocok, namanya bukan jodoh. Demikian yang ia ucapkan pada ibu. Ninda tak sengaja mendengarnya,” tutur Ninda menambahkan penjelasan.
Ibu mengelus putri bungsunya, mahasiswi ITB semester empat. “Ibu kadang sedih, kenapa anak ibu yang cantik dan pintar ini selalu saja dibodohi oleh laki-laki? Ibu tidak ingin kisah anak-anak ibu sama mirisnya dengan kisah ibu.” Ibu menahan air matanya yang hampir tumpah.
“Semoga saja tidak, Bu. Jangan berkata begitu, Bu. Jingga selalu bilang padaku kalau ucapan itu suatu doa. Berbicaralah yang baik-baik.” Livi berusaha menenangkan hati ibu Jingga.
Pemuda itu berdiri di ambang pintu, mengusap wajah, merasa tersinggung. Berarti di mata Jingga semua laki-laki sama saja. Dan menurutnya semua wanita juga sama saja, selalu menyalahkan laki-laki. Egois. Rama ingin menyingkir, tapi itu bukanlah pilihan tepat. Bagaimanapun, ia sudah terperangkap dalam urusan mengenai Jingga sejak kejadian di bawah hujan kemarin siang.
**
Jingga mendengar samar-samar perbincangan antara ibundanya dengan Livi. Matanya bagai dilem aibon. Lengket. Usianya kini sudah 29 tahun jalan, tapi belum ada satupun tanda-tanda bahwa dirinya akan segera menyudahi masa lajang. Tangannya terasa sakit dan pegal. Ia tidak menyadari kalau selang infus merajam kulitnya hingga ke pangkal nadi.
Jingga masih terpejam, namun tidak dengan pikirannya yang terus berputar-putar. Kepalanya pusing setiap kali mengingat percakapan dengan sahabat, sanak saudara, dan handai taulan lainnya jika pulang ke kampung halaman. Semua orang bertanya hal yang sama; “Kapan menikah, Jingga? Masa belum punya calon? Kamu kan cantik, pintar, sukses lagi.” Salah satu saudaranya iseng menggoda
“Jingga, si Surya anaknya sudah sekolah, yang kedua sedang belajar berjalan. Malahan kalau tidak salah, istrinya sudah hamil tua. Anaknya hampir tiga. Nah, kamu kapan?” Salah satu tetangganya meledek.
“Teman-teman sekolahmu sudah menikah semua, Jingga. Kamu kenapa belum? Jangan terlalu banyak memilih, loh. Tidak baik. Hanya laki-laki yang pantas memilih.” Bibinya iseng menggoda.
“Anakku sudah dua, Jingga. Anakku yang besar sudah mau kelas tiga SD, sebentar lagi naik kelas empat dan yang kecil sudah lulus TK. Aku ingin anak-anak kita bersahabat seperti kita dulu. Kau jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jingga. Pikirkan pula keluarga,” Ayumi, sahabat masa sekolah SD dan SMP berkali-kali mengingatkan.
“Tinggal kamu mantanku yang belum menikah, Jingga. Ayolah lekas menyusul. Sampai kapan kamu menjomblo seperti ini terus? Aku ikut prihatin. Mana usahamu?” Surya, mantan cinta dan pacar pertamanya ikut berkomentar.
“Ya, kapan-kapan. Minta doanya saja,” selalu begitu bila menjawab pertanyaan yang membuatnya kenyang.
“Kapan-kapan? Aku sudah mendoakan, tinggal usaha kamu yang belum maksimal. Kamu ini perempuan, Jingga, ingat umur kamu yang semakin hari semakin bertambah.”
Jingga menarik napas mendengar celotehan Surya. Bilang saja aku makin tua, batinnya mendesis sebal.
“Jingga, kau tahu David? Ah, iya, sahabat SMA kita. Dia menikah saat sedang kuliah semester dua. Masa kamu kalah.” Dian, sahabat SMAnya yang juga sudah memiliki tiga putri besar, iseng membanding-bandingkan.
Jingga susah payah menelan ludah. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ia benar-benar tidak suka mendapat pertanyaan itu. Adakah pertanyaan lain yang lebih menyenangkan dan lebih berbobot selain ditanya kapan menikah? Memangnya dengan menikah urusan kelar? Hei, bahkan setelah enikah urusan semakin runyam. Dada Jingga makin sesak, kerongkongannya terasa kering, tangan kananya ngilu.
Selarik pertanyaanpun selesai. Jingga membuka matanya perlahan, silau dan bergidik ngeri setelah menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan tangan terbelit selang. Rupanya barusan buruk. Mimpi yang tak diinginkan.
“Air… Aku haus…” Jingga menjerit parau, suaranya amat pelan. Ia bagai putri duyung yang terlalu lama terdampar di daratan.
Pemuda berkemeja panjang yang mendengar rintihan Jingga, segera bergegas menghampirinya, membantu gadis itu duduk bersandarkan bantal, menyodorkan segelas air mineral ke mulutnya, kemudian mengembalikan posisi Jingga ke semula, tidur terlentang.
“Jingga, Kamu sudah sadar, Nak?” Ibu terkejut menyaksikan pria asing menopang tubuh Jingga dan membantunya memberikan air mineral. Livi juga tertegun, lalai menjaga Jingga. Beliau bangkit dari sofa coklat dan menghampiri putrinya yang masih pucat.
Jingga yang mengira mimpi mendengar percakapan antara ibundanya dengan Livi, lebih terkejut, “Loh, ibu ada di sini? Kenapa kamar apartemenku berubah?” tanyanya bingung.
“Kamu pingsan, Jingga. Tubuhmu menggigil, wajahmu pias. Aku yang panik langsung membawamu ke sini. Dan dia yang membopongmu hingga berada di ruangan ini.” Livi berdiri di samping ibu, menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga.
“Syukurlah, Jingga, demammu sedikit berkurang.” Livi membantu Jingga merapatkan selimut hingga ke dada. Jingga mengucapkan terimakasih.
Dipandangnya wajah sang ibunda yang mulai muncul bintik-bintik hitam. Jingga tersenyum hambar. Siapa sih yang tidak ingin menjadi wanita normal? Hidup bahagia bersama suami, anak, orangtua, sahabat, dan rekan sejawat? Semua orang juga pasti menginginkannya, gumamnya dalam hati.
“Ibu, katakan padaku dimana ayah? Aku ingin memarahinya, membalaskan rasa sakit ibu padanya. Orang tua tak bertanggung jawab macam dia mesti diberi pelajaran.”
Bukannya menjawab, ibu malah menangis. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak tahu. Saat kau naik ke kelas enam, ayahmu pergi entah kemana. Meninggalkan ibu, meninggalkan kamu dan adikmu-Ninda. Ibu sudah mencarinya ke segala penjuru kota, namun ia tidak ada. Sudahlah, relakan dia.”
Jingga meneteskan air mata kecewa. Laki-laki biadab itu tak bisa seenak jidat lari dari tanggung jawab. Apa salah ibu sehingga ia pergi bersama wanita lain? Memangnya anak kecil berusia sebelas tahun tidak paham dengan apa yang dialami orang dewasa?
Livi enggan berkomentar. Ia kini tahu kenapa akhir-akhir ini Jingga berubah drastis. Sikapnya yang aneh belakangan ini sudah terjawab. Ia permisi bergegas kembali ke kantor. Berjanji akan datang lagi sepulang kerja.
**
Karena tak tega membiarkan ibu dan adiknya berjaga di rumah sakit, Jingga meminta Pak Eki menjemput mereka ke apartemen. Meski ibu dan Ninda bersikeras tetap tinggal, tapi dengan tegas ia melarang, “Ada banyak malaikat dan suster yang menjagaku, Bu. Pulanglah…”
Ibu dan adik Jingga menyerah pulang ke apartemen, bilang pada suster titip anak saya. Namun ia tak berhasil mengusir pemuda itu. Jingga kalah argumen. Seketika ruangan senyap. Hanya detak jam dinding dan tetesan air dari tabung infusan yang menjadi latar suara. Gejolak jiwa yang berkecamuk, membuat darahnya panas, menghantarkan hingga ke permukaan kulitnya yang mulai berkeringat.
Kini di ruangan serba putih itu, tinggalah Jinga dan pemuda berkemeja panjang yang menghuninya. Kebisuan membuat suasana berubah canggung. Jingga pura-pura memejamkan mata.
“Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Jangan segan.” Pemuda itu menatap wajah sendu Jingga.
“Terimakasih…” jawab Jingga dengan ekspresi datar.
“Sama-sama. Anggap saja aku suster di sini. Aku akan siap melayanimu kapanpun.”
Jingga tersenyum. “Baiknya kau pulang saja. Kita baru bertemu, belum saling mengenal. Aku hanya akan merepotkanmu. Pulanglah, Tuan, biarkan suster yang menjagaku di sini.”
“Tapi bagaimanapun juga, aku ikut terlibat atas kejadian kemarin siang yang membuatmu sakit seperti sekarang ini. Jangan berpikir macam-macam tentangku, Jingga, dan jangan menolak maksud baikku. Aku sama sekali tidak ada niat jahat sedikitpun padamu. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas kelalaianku, itu saja. Mohon terimalah iktikad baikku.” Pemuda itu seperti tahu jalan pikiran Jingga.
“Baiklah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Jika kau berani macam-macam padaku, biarkan Tuhan dan para malaikat yang turun tangan menghajarmu. Aku baru kemarin dan hari ini melihatmu. Namamu saja aku tidak tahu. Bisa-bisanya kau ingin menemaniku. Jangan-jangan Livi benar, kau hendak menculikku ke bulan. Kau jelmaan alien, bukan?”
Pemuda itu tertawa mendengar tuduhan asal Jingga. “Kata teman-teman, aku ini alien yang baik hati, jadi tidak perlu takut. Oh iya, namaku Rama. Kamu Jingga, kan?” Pemuda itu mengangkat alis, tersenyum manis.
“Jelas kau sudah tahu namaku melalui teriakan Livi kemarin siang. Sudah, pulang saja! Aku sungguh merasa tidak enak merepotkanmu, Manusia Alien jadi-jadian…”
Pemuda itu tersenyum mendengar kalimat cibiran Jingga. “Sama sekali tidak merepotkan. Justru aku senang bisa membantumu.” Ia memandang sayu mata gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Jingga seorang diri di sini, hatinya sungguh tidak tega. Seperti ada bisikan halus kalau ia harus menemaninya, tidak boleh tidak, begitu perintah hatinya.
Mata Jingga terpejam, tak meneruskan pembicaraan. Nampaknya ia terangsang obat tidur yang belum lama diminumnya.
Suster-suster itu sibuk menyolokkan selang infus ke pergelangan tangan Jingga yang terkulai lemah. Sesekali memeriksa denyut nadi yang semakin pelan. Kata suster, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jingga hanya pingsan karena tidak sanggup menopang tubuhnya yang kehabisan tenaga. Denyut nadi yang pelan bukan berarti napasnya tinggal beberapa jam lagi, melainkan aktivitas yang menurun drastis.
Enggan melihat jarum suntik melukai lengan sahabatnya, Livi memutuskan keluar dari ruangan. Setelah dokter selesai menangani sahabat sekaligus atasannya itu, ia baru mau kembali ke kamar rawat inap, menyaksikan Jingga yang belum juga bangun dari tidur lelapnya. Ia berkali-kali menggoyang-goyangkan lengan kiri Jingga yang tak dililit selang infus, berbisik merayunya lekas membuka mata.
Sudah sembilan kali Livi melirik jam tangan, melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar VVIP lalu masuk lagi ke dalam. Pikirannya serba salah, antara tetap bersama Jingga, ataukah menghandle pekerjaan yang menggunung. Ia harus segera kembali ke kantor, gertaknya dalam hati. Tetapi disaat kritis seperti ini, ia urung meninggalkan Jingga seorang diri yang terbaring terlilit selang infus. Saat ini Jingga merupakan tanggungjawabnya juga.
Livi menekan kontak Pak Steven, meminta maaf karena berkas dokumen mengenai aset lancar dan cadangan kerugian piutang tertunda. Sekaligus menginformasikan bahwa Jingga masuk UGD.
Pemuda berkemeja panjang itu memperhatikan gerak-gerik Livi yang gelisah. Ia memberanikan diri mendekat. “Biar aku saja yang menunggu Jingga. Aku sedang tidak banyak pekerjaan hari ini,” bebernya menawarkan jasa.
Livi tidak menjawab. Siapa dia? Kenal saja baru kemarin siang, gumamnya dalam hati. Sebelum keluarga Jingga datang, ia tidak mau meninggalkan atasannya sendirian. Bisa-bisa Jingga diculik ke bulan.
Jingga memang keras kepala, sudah tahu demamnya tinggi, bilang baik-baik saja. Sekarang ia harus mengakui kalau tubuhnya butuh perawatan intens. Pening di kepalanya membuat ia tumbang ketika hendak menuju toilet di kamar apartemennya. Dan pemuda itulah yang membawanya ke rumah sakit ini. Hampir dua jam lebih Jingga belum sadarkan diri. Demamnya semakin tinggi. Livi sudah mengabari ibu dan adik Jingga yang berada di Kota Kembang. Dalam panggilan telepon yang singkat, ibu Jingga nampak panik dan berkata akan langsung menuju Jakarta detik itu juga.
Ruangan serba putih dan sunyi ini membuat Livi merinding. Lima tahun silam ia harus menyaksikan kedua orangtuanya menjemput ajal. Dada Livi terasa sesak. Ia berusaha mengenyahkan bayangan akan masa lalunya yang tragis. Berselang satu jam, Pak Steven, Pak Heri, dan beberapa pejabat tinggi lainnya berkunjung ke rumah sakit membesuk Jingga. Mereka menyampaikan ungkapan prihatin dan membawakan sekantong buah-buahan. Tiga jam berlalu, Jingga belum juga siuman.
Usai kunjungan direksi, Ibu dan adik Jingga datang menjenguk. Livi izin ke kantin untuk makan siang. Tentu saja dengan pemuda yang tak dikenalnya. Perut Livi sudah bernyanyi lagu aerobik sejak tadi. Makanan yang dibeli dari rumah makan, ketinggalan di apartemen Jingga. Suasana di kantin tak jauh berbeda dengan di ruang rawat inap. Sunyi dan senyap. Hanya suara piring, garpu, dan sendok yang terdengar. Sesekali suara dari pengunjung yang baru masuk. Meski terkenal cerewet dan bawel, kali ini Livi tidak berselera bicara terlalu banyak. Ia hanya menjawab seperlunya jika pemuda asing itu bertanya. Setelah menandaskan makan siang, ia kembali ke kamar rawat inap. Jingga belum jua sadar.
**
Siang itu langit Jakarta mendung mengundang. Jalanan masih becek bekas hujan tadi pagi. Bunyi klakson yang saling bersahutan serta ulah para pengendara roda dua dan empat yang tidak mau mengalah, membuat siang ini terasa buruk. Para pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya di lampu merah, pengamen-pengamen berkeliaran dari mobil satu ke mobil lain, meminta uang paksa pada penumpang. Jika tidak diberi, mereka akan melakukan tindak kriminal, memakan silet, dan berorasi panjang lebar, bilang belum lama keluar dari penjara dan sekarang akan mencari korban baru. Namun tidak dalam ruangan kecil yang sunyi senyap, seorang gadis malang sedang menjalani masa gawat darurat. Matanya terpejam rapat.
“Kau kan tahu, Nak, Jingga memang keras wataknya. Mohon bersabar menanggapinya,” ucap ibu Jingga pada Livi.
“Iya, Bu, aku akan berusaha sabar mengikuti kemauannya. Andai saja dia tidak nekat menerjang hujan, pastilah tidak seperti ini keadaannya.” Livi memandang wajah Jingga yang pucat, sedikit kesal jika harus mengingat tragedi kemarin siang.
“Sebenarnya, Jingga sakit bukan karena kehujanan. Sejak kecil tubuhnya kebal oleh air hujan. Jingga adalah gadis penikmat hujan.” Ibu Jingga menatap Livi. “Ada sesuatu yang ia pikirkan. Dia terus bertanya di mana keberadaan ayahnya. Ibu tak bisa menjelaskan. Laki-laki pengecut itu mungkin sudah ditelan paus. Sebulan lalu, Jingga pulang ke Bandung, wajahnya ceria. Ia langsung memanggil adiknya - Ninda, berkata tentang kesuksesannya di Jakarta. Berharap apa yang dilakukannya menular pada Ninda. Tapi mendadak wajahnya terlipat, katanya kebahagiaannya belum lengkap tanpa kehadiran ayah yang telah meninggalkannya semasih dia berusia sebelas tahun. Untuk mengalihkan topik, Ibu bertanya tentang calon menantu. Wajah Jingga semakin terlipat.”
Livi duduk takzim, mendengarkan ibu dengan seksama tanpa memotong sepatah kalimatpun, kemudian menatap Ninda sekilas. Ninda menghela napas.
“Kesuksesan bukan hanya diukur berdasarkan pangkat seseorang, tapi juga status sosial. Bagaimana mungkin dikatakan sukses bila tidak punya keluarga lengkap, demikian ucap Jingga. Nampaknya Jingga memendam sakit hatinya sendirian. Ia teramat sangat membenci ayahnya, mendendam pada hampir semua laki-laki yang kerap membuatnya menangis. Menurut Jingga, semua laki-laki di muka bumi ini tak ada bedanya, pecundang.” Ibu menarik napas, lalu melanjutkan, “Setelah bersalaman dan memberikan oleh-oleh pada kami, lantas dia langsung pamit kembali ke Jakarta.” Ibu menarik napas lagi, menatap nanar putri sulungnya.
Livi ikut menatap Jingga. “Oo, jadi karena itu?” Ia memperhatikan kelopak mata Jingga yang sembab, di matanya yang terpejam, terlihat rona kesedihan yang selama ini tak terbaca olehnya. Pantas saja, sebulan ini tingkah Jingga aneh. Livi berkata-kata dalam hati.
“Bukan pertama kalinya Kak Jingga seperti ini, Kak Livi. Dulu setiap kali pulang, Kak Jingga selalu curhat padaku, bahwa dia pun ingin menjadi wanita normal yang memiliki keluarga lengkap, tapi ia selalu gagal, mengelak bahwa ini bukan kemauannya untuk terus hidup melajang. Berumahtangga bukan hanya menyatukan kedua belah pihak. Tapi juga butuh kecocokan antara pihak satu dengan pihak lainnya. Katanya, jodoh itu adalah kecocokan antara dua hati, bila tidak cocok, namanya bukan jodoh. Demikian yang ia ucapkan pada ibu. Ninda tak sengaja mendengarnya,” tutur Ninda menambahkan penjelasan.
Ibu mengelus putri bungsunya, mahasiswi ITB semester empat. “Ibu kadang sedih, kenapa anak ibu yang cantik dan pintar ini selalu saja dibodohi oleh laki-laki? Ibu tidak ingin kisah anak-anak ibu sama mirisnya dengan kisah ibu.” Ibu menahan air matanya yang hampir tumpah.
“Semoga saja tidak, Bu. Jangan berkata begitu, Bu. Jingga selalu bilang padaku kalau ucapan itu suatu doa. Berbicaralah yang baik-baik.” Livi berusaha menenangkan hati ibu Jingga.
Pemuda itu berdiri di ambang pintu, mengusap wajah, merasa tersinggung. Berarti di mata Jingga semua laki-laki sama saja. Dan menurutnya semua wanita juga sama saja, selalu menyalahkan laki-laki. Egois. Rama ingin menyingkir, tapi itu bukanlah pilihan tepat. Bagaimanapun, ia sudah terperangkap dalam urusan mengenai Jingga sejak kejadian di bawah hujan kemarin siang.
**
Jingga mendengar samar-samar perbincangan antara ibundanya dengan Livi. Matanya bagai dilem aibon. Lengket. Usianya kini sudah 29 tahun jalan, tapi belum ada satupun tanda-tanda bahwa dirinya akan segera menyudahi masa lajang. Tangannya terasa sakit dan pegal. Ia tidak menyadari kalau selang infus merajam kulitnya hingga ke pangkal nadi.
Jingga masih terpejam, namun tidak dengan pikirannya yang terus berputar-putar. Kepalanya pusing setiap kali mengingat percakapan dengan sahabat, sanak saudara, dan handai taulan lainnya jika pulang ke kampung halaman. Semua orang bertanya hal yang sama; “Kapan menikah, Jingga? Masa belum punya calon? Kamu kan cantik, pintar, sukses lagi.” Salah satu saudaranya iseng menggoda
“Jingga, si Surya anaknya sudah sekolah, yang kedua sedang belajar berjalan. Malahan kalau tidak salah, istrinya sudah hamil tua. Anaknya hampir tiga. Nah, kamu kapan?” Salah satu tetangganya meledek.
“Teman-teman sekolahmu sudah menikah semua, Jingga. Kamu kenapa belum? Jangan terlalu banyak memilih, loh. Tidak baik. Hanya laki-laki yang pantas memilih.” Bibinya iseng menggoda.
“Anakku sudah dua, Jingga. Anakku yang besar sudah mau kelas tiga SD, sebentar lagi naik kelas empat dan yang kecil sudah lulus TK. Aku ingin anak-anak kita bersahabat seperti kita dulu. Kau jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jingga. Pikirkan pula keluarga,” Ayumi, sahabat masa sekolah SD dan SMP berkali-kali mengingatkan.
“Tinggal kamu mantanku yang belum menikah, Jingga. Ayolah lekas menyusul. Sampai kapan kamu menjomblo seperti ini terus? Aku ikut prihatin. Mana usahamu?” Surya, mantan cinta dan pacar pertamanya ikut berkomentar.
“Ya, kapan-kapan. Minta doanya saja,” selalu begitu bila menjawab pertanyaan yang membuatnya kenyang.
“Kapan-kapan? Aku sudah mendoakan, tinggal usaha kamu yang belum maksimal. Kamu ini perempuan, Jingga, ingat umur kamu yang semakin hari semakin bertambah.”
Jingga menarik napas mendengar celotehan Surya. Bilang saja aku makin tua, batinnya mendesis sebal.
“Jingga, kau tahu David? Ah, iya, sahabat SMA kita. Dia menikah saat sedang kuliah semester dua. Masa kamu kalah.” Dian, sahabat SMAnya yang juga sudah memiliki tiga putri besar, iseng membanding-bandingkan.
Jingga susah payah menelan ludah. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ia benar-benar tidak suka mendapat pertanyaan itu. Adakah pertanyaan lain yang lebih menyenangkan dan lebih berbobot selain ditanya kapan menikah? Memangnya dengan menikah urusan kelar? Hei, bahkan setelah enikah urusan semakin runyam. Dada Jingga makin sesak, kerongkongannya terasa kering, tangan kananya ngilu.
Selarik pertanyaanpun selesai. Jingga membuka matanya perlahan, silau dan bergidik ngeri setelah menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan tangan terbelit selang. Rupanya barusan buruk. Mimpi yang tak diinginkan.
“Air… Aku haus…” Jingga menjerit parau, suaranya amat pelan. Ia bagai putri duyung yang terlalu lama terdampar di daratan.
Pemuda berkemeja panjang yang mendengar rintihan Jingga, segera bergegas menghampirinya, membantu gadis itu duduk bersandarkan bantal, menyodorkan segelas air mineral ke mulutnya, kemudian mengembalikan posisi Jingga ke semula, tidur terlentang.
“Jingga, Kamu sudah sadar, Nak?” Ibu terkejut menyaksikan pria asing menopang tubuh Jingga dan membantunya memberikan air mineral. Livi juga tertegun, lalai menjaga Jingga. Beliau bangkit dari sofa coklat dan menghampiri putrinya yang masih pucat.
Jingga yang mengira mimpi mendengar percakapan antara ibundanya dengan Livi, lebih terkejut, “Loh, ibu ada di sini? Kenapa kamar apartemenku berubah?” tanyanya bingung.
“Kamu pingsan, Jingga. Tubuhmu menggigil, wajahmu pias. Aku yang panik langsung membawamu ke sini. Dan dia yang membopongmu hingga berada di ruangan ini.” Livi berdiri di samping ibu, menempelkan punggung tangannya ke dahi Jingga.
“Syukurlah, Jingga, demammu sedikit berkurang.” Livi membantu Jingga merapatkan selimut hingga ke dada. Jingga mengucapkan terimakasih.
Dipandangnya wajah sang ibunda yang mulai muncul bintik-bintik hitam. Jingga tersenyum hambar. Siapa sih yang tidak ingin menjadi wanita normal? Hidup bahagia bersama suami, anak, orangtua, sahabat, dan rekan sejawat? Semua orang juga pasti menginginkannya, gumamnya dalam hati.
“Ibu, katakan padaku dimana ayah? Aku ingin memarahinya, membalaskan rasa sakit ibu padanya. Orang tua tak bertanggung jawab macam dia mesti diberi pelajaran.”
Bukannya menjawab, ibu malah menangis. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak tahu. Saat kau naik ke kelas enam, ayahmu pergi entah kemana. Meninggalkan ibu, meninggalkan kamu dan adikmu-Ninda. Ibu sudah mencarinya ke segala penjuru kota, namun ia tidak ada. Sudahlah, relakan dia.”
Jingga meneteskan air mata kecewa. Laki-laki biadab itu tak bisa seenak jidat lari dari tanggung jawab. Apa salah ibu sehingga ia pergi bersama wanita lain? Memangnya anak kecil berusia sebelas tahun tidak paham dengan apa yang dialami orang dewasa?
Livi enggan berkomentar. Ia kini tahu kenapa akhir-akhir ini Jingga berubah drastis. Sikapnya yang aneh belakangan ini sudah terjawab. Ia permisi bergegas kembali ke kantor. Berjanji akan datang lagi sepulang kerja.
**
Karena tak tega membiarkan ibu dan adiknya berjaga di rumah sakit, Jingga meminta Pak Eki menjemput mereka ke apartemen. Meski ibu dan Ninda bersikeras tetap tinggal, tapi dengan tegas ia melarang, “Ada banyak malaikat dan suster yang menjagaku, Bu. Pulanglah…”
Ibu dan adik Jingga menyerah pulang ke apartemen, bilang pada suster titip anak saya. Namun ia tak berhasil mengusir pemuda itu. Jingga kalah argumen. Seketika ruangan senyap. Hanya detak jam dinding dan tetesan air dari tabung infusan yang menjadi latar suara. Gejolak jiwa yang berkecamuk, membuat darahnya panas, menghantarkan hingga ke permukaan kulitnya yang mulai berkeringat.
Kini di ruangan serba putih itu, tinggalah Jinga dan pemuda berkemeja panjang yang menghuninya. Kebisuan membuat suasana berubah canggung. Jingga pura-pura memejamkan mata.
“Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Jangan segan.” Pemuda itu menatap wajah sendu Jingga.
“Terimakasih…” jawab Jingga dengan ekspresi datar.
“Sama-sama. Anggap saja aku suster di sini. Aku akan siap melayanimu kapanpun.”
Jingga tersenyum. “Baiknya kau pulang saja. Kita baru bertemu, belum saling mengenal. Aku hanya akan merepotkanmu. Pulanglah, Tuan, biarkan suster yang menjagaku di sini.”
“Tapi bagaimanapun juga, aku ikut terlibat atas kejadian kemarin siang yang membuatmu sakit seperti sekarang ini. Jangan berpikir macam-macam tentangku, Jingga, dan jangan menolak maksud baikku. Aku sama sekali tidak ada niat jahat sedikitpun padamu. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas kelalaianku, itu saja. Mohon terimalah iktikad baikku.” Pemuda itu seperti tahu jalan pikiran Jingga.
“Baiklah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Jika kau berani macam-macam padaku, biarkan Tuhan dan para malaikat yang turun tangan menghajarmu. Aku baru kemarin dan hari ini melihatmu. Namamu saja aku tidak tahu. Bisa-bisanya kau ingin menemaniku. Jangan-jangan Livi benar, kau hendak menculikku ke bulan. Kau jelmaan alien, bukan?”
Pemuda itu tertawa mendengar tuduhan asal Jingga. “Kata teman-teman, aku ini alien yang baik hati, jadi tidak perlu takut. Oh iya, namaku Rama. Kamu Jingga, kan?” Pemuda itu mengangkat alis, tersenyum manis.
“Jelas kau sudah tahu namaku melalui teriakan Livi kemarin siang. Sudah, pulang saja! Aku sungguh merasa tidak enak merepotkanmu, Manusia Alien jadi-jadian…”
Pemuda itu tersenyum mendengar kalimat cibiran Jingga. “Sama sekali tidak merepotkan. Justru aku senang bisa membantumu.” Ia memandang sayu mata gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Jingga seorang diri di sini, hatinya sungguh tidak tega. Seperti ada bisikan halus kalau ia harus menemaninya, tidak boleh tidak, begitu perintah hatinya.
Mata Jingga terpejam, tak meneruskan pembicaraan. Nampaknya ia terangsang obat tidur yang belum lama diminumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)