Kamis, 04 Agustus 2016

Ayahku Bukan Pembunuh #SebuahKisahNyata #Cerpen

Saat itu aku masih berusia lima tahun. Aku masih ingat ayah bersemangat membawa kami ke Pantai Skip. Pantai yang berjarak delapan kilometer dari rumahku. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan seharian waktuku bersamanya, bersama ibu, juga adikku – Ajeng. Sayangnya, kebahagiaan itu teramat singkat.

Ketika aku dan Ajeng sedang asyik bermain pasir bersama ayah, aku mendengar ibu berteriak meminta tolong. Suaranya agak samar karena bercampur desau angin muson barat dan deburan ombak yang membuat nyaliku menciut.

Aku melihat dengan mataku sendiri ibu tergulung ombak setinggi empat meter lebih. Tangannya terjulur ke udara, seluruh tubuhnya terendam air, menyisakan uraian rambut panjangnya di tengah riakan busa. Ayah pontang-panting berusaha menyelamatkan ibu, dibantu beberapa lelaki dewasa yang bahu-membahu menolong ayah. Sia-sia, ayah justru ikut terseret amukan ombak yang tak henti-hentinya datang ke daratan.

Ternyata bukan hanya ibu dan ayah yang menjadi korban, tetapi ada dua remaja tanggung, sepasang muda-mudi, dua orang dewasa, dan dua lansia. Saat itu aku ketakutan bukan kepalang. Ajeng sampai menjerit-jerit memanggil nama ayah dan ibu sambil tersedu-sedan. Untung saja Paman Muklis dan Bibi Dian cepat datang ke lokasi, maka aku dan Ajeng tidak merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya lagi. Mereka berdua memeluk kami, berkata ibu dan ayah akan baik-baik saja.

Bibi Dian dan Paman Muklis bohong. Ibu dan ayah tidak baik-baik saja. Tubuh mereka membiru dan pucat. Terutama ibu yang lebih lama terendam di air laut. Keduanya dibawa ambulans, bersamaan dengan korban lainnya yang ditemukan beberapa jam kemudian. Aku dan Ajeng sempat menemani di mobil hingga rumah sakit. Sayangnya nyawa ibu tidak dapat tertolong lagi.

“Ibu bangun… Jangan tidur terus. Bangun, Bu,” kataku sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Ayah, kenapa ibu mendadak tuli? Ibu pura-pura tidur terus dari tadi,” aku meminta pembelaan pada Ayah. Namun ayah menjawabnya dengan senyum hambar. Senyum yang bisa kuartikan sebagai kegetiran paling menyesakkan. Waktu itu aku belum mengerti kata kematian.

Bulir air mata ayah menetes menjatuhi pipi saat pemakaman ibu. Di sana juga ada nenek, Paman Muklis, dan Bibi Dian. Semuanya menangis. Ada apa?

“Kenapa ibu dimasukkan ke dalam tanah, Yah? Nanti ibu susah bernapas? Ambil lagi ibunya, Yah, nanti ibu kegelapan” kata Ajeng sambil mengguncang-guncangkan lengan ayah. Ayah tidak menjawab, matanya merah berair.

Berselang detik, nenek menampar ayah, mengatakan bahwa ayah pembunuh. Bibi Dian beringsut memelukku dan Ajeng. Aku ingat sekali momen menyedihkan itu. Saat isak tangis tak mampu membawa ibu kembali, saat itu ayahku dibawa paksa manusia bertubuh besar yang memborgol tangannya di belakang pinggang. Ayah mau dikemanakan?

***

Sebelas tahun berlalu, aku belum jua bertemu dengan ayah semenjak pemakaman ibu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas satu SMA, menjadi remaja cantik yang dibesarkan tanpa ayah dan bunda, tanpa kasih sayang mereka. Kenapa ayah jahat padaku dan Ajeng? Kenapa dia tidak berniat sama sekali menjengukku? Kasihan nenek. Beliau terlihat letih mengurus kami berdua sedari kecil hingga sekarang ini. Wajahnya yang dulu segar kini keriput. Rupanya nenek sudah tua.

Ayah dimana? Cacha benci ayah, tapi Cacha juga rindu. Ajeng sering bertanya padaku kenapa Ayah tidak pernah berkunjung? Sebenarnya salah kami apa? Apakah perkataan nenek benar, bahwa ayah tidak sayang lagi kepada kami berdua? Ayah jahat! Apakah benar Ayah yang membunuh ibu? Sehingga Ayah malu kepada kami sekadar untuk bertemu denganku?

Tidak terasa air mataku berlinang dengan derasnya. Setiap pembagian raport di sekolah, teman-temanku mengolok-olok kalau aku adalah anak haram yang ditinggalkan ayahnya. Para tetangga kanan dan kiri mencemooh kalau aku hanyalah anak buangan yang tidak diinginkan ayah.

Entahlah. Semua cacian dan hinaan yang masuk ke telingaku membuatku pusing. Dan akhirnya semuanya menjadi jelas ketika aku bertemu dengan Paman Muklis di Bandara Soekarno Hatta Sabtu siang ini.

“Paman mencarimu kemana-mana, Nak. Pulanglah ke Mataram. Tengok ayahmu yang semakin kurus di dalam kerangkeng besi. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Setiap malam ia menangis menyebut nama kalian, Cacha dan Ajeng. Ayahmu tidak bersalah, ia bukanlah pembunuh. Ia hanya dituduh telah membunuh ibumu. Padahal kau tahu sendiri, bukan? Ibumu meninggal karena tenggelam terbawa ombak.” Dahi Paman Muklis mengerut sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dia kehilangan ibumu, juga kalian. Dia kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarga dalam waktu bersamaan. Ayahmu tidak bersalah. Percayalah. Tapi mau bagaimana lagi, tuduhan kuat pasal 340 KUHP tentang motif pembunuhan berencana, menguatkan hakim untuk mengurungnya dua puluh tahun penjara. Sembilan tahun lagi dia baru bisa merasakan udara bebas.” Paman Muklis menarik napas. Tampak resah.

Aku masih terduduk mematung di lobi pemberangkatan. Pundakku terasa berat, dadaku mendadak sesak.

“Cacha…” Paman Muklis menatapku. Aku menundukkan wajah, memperhatikan kedua tanganku yang tiba-tiba lemas. “Pulanglah sebentar saja. Paman sudah membelikan tiket untukmu sekali jalan. Hanya kamu yang bisa menghapus tuduhan itu dan membebaskan ayahmu. Ayahmu amat rindu pada kalian berdua. Terusterang, Paman kesulitan mendapatkan kontakmu. Tapi Paman tidak menyerah, Paman terus mencari informasi terkait keberadaan kalian demi ayahmu, sahabat terbaik yang Paman punya.”

Mataku seketika berkaca-kaca dan sembab. Benarkah Ayah merindukan kami? Apakah yang dia alami selama sebelas tahun di dalam penjara tanpa kehadiranku? Mendadak air mata yang menggenang di mataku menetes tak tertahankan. Aku terisak.

“Maukah kamu menjenguk ayahmu yang sedang sekarat, Nak?” Paman Muklis merendahkan nada suaranya.

Suara keramaian di bandara seakan samar saat kalimat itu menancap ke telinga dan jantungku. Aku menoleh ke wajah penuh harap Paman Muklis dengan pipi yang basah. Kata Paman Muklis, nenek benci sekali pada ayah. Sehingga aku harus sembunyi-sembunyi bertemu dengannya di bandara ini usai sekolah.

Demi mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini kuanggap salah, aku menurut. Bahwa ayahku seorang pembunuh berencana yang tidak sesuai logika.

“Baiklah, Paman, Cacha mau pulang. Tapi sekolah Cacha bagaimana? Ajeng bagaimana? Apakah Cacha jemput Ajeng dulu di rumah? Dia pasti cemas mencariku. Begitupun nenek,” kataku.

“Tidak perlu, Nak. Kita hanya sebentar. Setelah vonis tuduhan ayahmu tercabut, kau boleh kembali ke Jakarta, meneruskan cita-cita kalian. Lalu kalian boleh pulang lagi menjenguk ayahmu yang sudah tua itu.”

Aku mengangguk lagi, menyeka air mataku dan mengusap ingus. Dengan tas ransel berisi buku-buku pelajaran dan kartu pelajar, aku memantapkan langkahku menuju tempat check-in, kemudian melewati pemeriksaan dan naik ke pesawat dengan tujuan Bandara Praya.

***

Tembok beton yang berdiri di hadapanku terlihat pengkuh dan angkuh. Seperti tidak mengenal belas kasihan bagi yang menghuninya macam ayah yang jelas tidak bersalah. Selama di pesawat tadi, aku lebih banyak diam, sementara Paman Muklis banyak menjelaskan apa yang selama ini tidak kuketahui.

Kata Paman Muklis, neneklah yang telah menjebloskan ayah ke penjara atas kekuasan Om Fahrul, adik kandung ibu yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Entah kenapa aku lebih percaya pada cerita Paman Muklis ketimbang nenek. Ayahku bukanlah pembunuh seperti yang kalian bayangkan.

Panjangnya lorong penjara yang sunyi dan gelap, membuat bulu kudukku merinding. Ini seperti neraka kehidupan yang sejujurnya aku sendiri belum melihat seperti apa bentuknya. Saat meliuk lagi ke kiri, kulihat dua penjaga berseragam coklat tengah berdiri memegang senjata api di tangan kanannya. Paman Muklis menghampiri mereka dan berkata ingin bertemu dengan ayahku.

Dua sipir itu mencatat nama kami dan menghubungi bagian pembawa kunci melalui HT yang tersampir di ikat pinggangnya. Kami kemudian dipersilakan duduk di bangku besi usang yang hanya bisa diduduki maksimal dua orang. Kudengar derap langkah semakin dekat ke arahku. Hatiku bergetar tidak karuan. Semakin dekat, dan rasanya aku ingin pingsan saja.

“Cacha? Anakku? Ya, Ayah yakin kau adalah anakku,” Namun suara berat itu membuatku menoleh, menguatkan hatiku yang ketakutan karena harus bertemu dengan masalalu. Dia ayahku. Ya, sampai kapanpun dia ayahku.

Sebelum laki-laki kurus berseragam oranye kumal itu duduk di hadapanku, aku segera berdiri dan mencium tangannya. Tentu saja dibubuhi dengan air mataku yang tidak bisa kuajak kompromi agar jangan keluar dulu sebelum percakapan kami selesai. Aku tidak bisa berdusta, kalau aku merindukan laki-laki yang separuh rambutnya sudah beruban ini. Kurasa itu bukan uban faktor usia, melainkan teramat banyaknya ia memikirkan suatu beban yang tak kunjung reda.

“Kamu pulang, sayang?” Dia ayahku, yang sebelas tahun kuanggap sebagai penjahat dan pecundang lantaran tak pernah mau menemuiku, kini mengelus rambut dan mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Sekarang siapa yang jahat? Aku atau dia? Seseorang yang selalu merindukanku siang dan maalam, menyebut namaku dalam setiap helaan napas dan doanya. Akulah yang jahat. Menuduhnya sebagai pembunuh dan ayah yang tidak bertanggungjawab.

Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk ayah, bilang kalau aku minta maaf atas kesalahpahamanku selama ini terhadapnya.

“Ayah sudah memaafkanmu, Nak, Ayah yang bersalah, tidak bisa menjemput kalian ke Jakarta. Dimana Ajeng? Dia tidak ikut?” katanya menatapku dengan bersimbah air mata.

Aku menoleh ke arah Paman Muklis, mencari jawaban. Tak kuduga ia pun menangis. Sesedih itukah pertemuanku dengan ayah? Sehingga para sipir pun ikut mengusap air mata.

“Ajeng akan menyusul, Ta. Setelah ini kalian bisa bersama-sama lagi. Tak ada yang akan bisa memisahkan kalian.” Paman Muklis menjelaskan.

Aku mengangguk setuju, kemudian memeluk ayah sekali lagi. Rasanya kostum yang ayah kenakan tidak sewangi dulu saat aku memeluknya. Kostum ini pasti jarang dicuci. Dan ayah jarang mandi. Tapi aku merasa nyaman berada dalam pelukannya. Aku tidak mau berpisah lagi. TIDAK MAU!

“Berhenti menangis, Nak. Jangan menangis lagi. Kita sudah bertemu. Semestinya kita bahagia,” Ayah mengendurkan pelukannya dan mengusap air mataku.

Namun sebelum aku ingin bicara panjang lebar padanya, para sipir menarik kasar ayahku dan bilang waktu besuknya telah habis. Aku menelan ludah. Kejam sekali mereka memperlakukan ayahku seperti itu. Sebelas tahun yang tak bisa kubayangkan ayah makan apa, tidurnya bagaimana, apakah ia dapat perlakuan yang layak atau tidak?

Ah, pikiran buruk itu membuatku semakin sengsara. Aku tidak tega menyaksikan ayah diboyong kembali ke dalam jeruji besi oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. Beliau menoleh kepadaku, aku mencoba tersenyum tegar, meski sebenarnya tidak.

Ayah, aku berjanji akan membebaskanmu dari sini. Bersabarlah… Aku sayang Ayah...

***

Cerita ini merupakan versi anaknya. Untuk lebih detailnya, saya tulis dalam bentuk novel yang bertajuk 'MARTANORA'
Novelnya bisa didapatkan di Pena Nusantara.
Kontak (WA : 0857-7186-0444)
Harga buku : Rp 44.100



Tidak ada komentar:

Posting Komentar