MAKAN DI KANTIN SEBELAH
GIBRAN HANDAL PRIBADI
Akhir bulan. Gajian. Identik dengan menghabiskan isi ATM. Maksudnya, makan enak di kantin. Kebetulan hari ini Albio ulang tahun, dan dia sudah berjanji akan mentraktir nasi putih. Dasar kere. Jelas-jelas dia menang tender, tapi traktir teman pelit.
“Mau naik haji ya, lo?” Aku menendang kaleng kosong di jalanan, kemudian memungutnya dan membuangnya di tong sampah terdekat. “Buang sampah kok ya sembarangan. Gue doain lo pasangannya bewokan.” Aku menyumpahi si pembuang sampah yang tidak mengenal tong sampah.
“Hahahaha… Bewokan seluruh badan ya, Ban?” Bang Chandra tergelak.
“Gue mau ngumpulin buat beli lamborjini, tau.” Kataku random.
“Pret lah…” Albio menanggapi.
“Eh, kalau teman kita ngucapin yang baik-baik, aminin aja. Kan katanya setiap kata yang terucap dari lidah kita adalah doa. Kali aja gue tiap hari diantar jemput sama Iban.” Bela Faris.
“Amiiiiiinnnn…” Serempak, Bang Chandra, Albio, dan Faris mengamini ucapanku yang hari ini sok bijak.
Di rombongan paling belakang, Lunetta asik berbincang bersama Everist, Bu Imelda, dan Zena, menggosipkan artis janda beranak satu. Kadang aku merasa geli, kenapa cewek-cewek gemar sekali bergosip? Daripada gue ngegosipin elo, mendingan gosipin artis, kata Lunetta tempo hari saat aku protes.
“Gunung, Lilin, Tepung, cepetan jalannya. Gue udah keburu laper.” Aku menoleh ke belakang, memerhatikan gaya empat perempuan yang berjalan amat lambat bagai keong kepanasan. Gila apa ya nih cewek, tidak mengerti perutku keroncongan sejak tadi. Lilin itu sebenarnya panggilan sayangku untuk Lunetta. Sementara ‘tepung’ untuk julukan si Zena yang namanya mirip nama tepung. Kalau ‘gunung’ tahu lah ya buat siapa.
“Iya nih. Lambreta. Gue nggak jadi traktir kalian yee.” Albio menimpali.
“Alaaah, traktir nasi putih doang juga lu, Bio. Gue masih sanggup beli.” Komplain Lunetta.
“Tau tuh, gue mah nggak ngarep ditraktir juga, kalau cuma nasi putih, di rumah gue banyak.” Everist memperbaiki kacamatanya yang merosot.
“Rese ya lo pada, ditraktir beneran baru nyaho.” Iban menarik-narik tangan Everist agar segera sampai ke kantin gedung tetangga.
Ada istilah, rumput tetagga lebih hijau. Sebenarnya bukan masalah hijaunya itu, melainkan karena bosan makan di gedung sendiri setiap hari, dengan menu yang itu-itu saja. Lunetta menggamit lenganku, bilang bergosipnya sudah selesai. Aku selalu suka dia menyentuhku. Membuat jantungku berdetak tidak keruan.
***
LUENETTA VERICA
“Ayo dong cepetan pesen, udah laper banget nih gue” Iban menopang dagu, meminta kami untuk tidak lama-lama memilih menu. Iya, aku juga lapar, Ban. Santailah…
“Gue mau ayam penyet aja. Nasi gratis kan? Hahaha” kataku.
“Duh, Lun, kenapa nggak sekalian iga penyet atau gak bebek penyet sambel ijo. Mumpung ada yang ultah.” Mata Everist melirik Albio.
“Nggak ah, dijanjiinnya kan yang free cuma nasi. Takut kolestrol gue.” Candaku.
“Ayam juga minyaknya banyak loh bikin kolestrol.” Sambung Bu Imelda, ketua regu dari tim ‘Akunting Grup B’ yang sengaja diundang Albio. Ada Zena juga, anak kesayangan Bu Imelda yang ikut diajak maksi siang ini di kantin oleh Albio. Duh, baiknya kebangetan deh Albio ini. Calon suami idaman. Tapi, entah kenapa sejak awal jumpa dengannya, aku tidak memiliki feel yang lebih padanya.
Di kantorku terdiri dari beberapa suku tim accounting service. Antara lain seperti Bu Imelda ini. Tapi, level tertinggi ya level Pak Willy Love You, karena dia sekaligus menjabat sebagai vice president juga di kantor. Tapi, tenang, Bu Imelda dan timnya juga seru kok. Mereka bukan pengintai atau mata-matanya Willy Love You.
Di sebelahku Everist menuliskan menu pesanan Albio, Iban, Bang Chandra, Faris, dan Zena. Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol ke sana ke mari tak beralasan dan tak tahu ujungnya. Obrolan acak, tapi seru.
Lima belas kemudian, pelayan menyuguhkan satu per satu menu makanan yang kami pesan. Wajah Iban yang tadinya lesu terlihat sangat sumringah.
“Mantap dah, gulai kambing gue datang.” Iban langsung mencelupkan sendok berisi nasi ke dalam kuah panas. Aromanya begitu menggoda. Sayang, aku dilarang mamah tercinta untuk tidak mengonsumsi makanan yang menyebabkan kolestrol tinggi.
“Sate ayam gue, Cuy… Mantap.” Faris bertepuk tangan ketika pelayan kantin menyodorkan sekodi tusukan daging ayam. Wajar sih kalau dia bergembira atas kehadiran menu favoritnya, tapi pesan sebanyak itu memangnya dia bisa menghabiskan?
“Bio, minta tolong ambilin tisu dong.” Everist tampak kepedasan melahap seporsi tongseng. Albio yang tangannya paling dekat dengan tisu, menyerahkannya untuk Everist.
Dalam pertemuan makan, tidak afdol rasanya jika tidak bergosip ria. Terutama membicarakan bos yang maunya aneh-aneh seperti Willy Love You. Bos yang tiada duanya.
“Ban, lo masih inget nggak sih waktu si Willy nyariin gelangnya pas meeting di lantai 26?” aku memulai perbincangan.
“Inget, lah.
Sinting banget emang tuh orang. Hahaha.” Iban terbahak, begitu pun dengan Everist,
Albio, Faris, dan Bang Chandra.
“Gelang apaan emang?” tanya Bu Imelda sambil mencolek sambal hijau di piringnya.
“Gelangnya dia. Gelang gaol getoh. Yang suka dipakai ke kantor, warna hitam bulat-bulat kayak biji kedelai. Gila Cuy, nyari sampe lumutan juga gak bakal ketemu. Gak tau deh siapa yang ngambil. Udah dicari di laci, kolong meja, lift, bahkan ampe ke lemari. Ampun deh.” Iban menjelaskan.
"Gue gak tahu deh kalau satu tim sama kalian, bisa senewen kali ya ngadepin Willy Love You. Hahaha." Zena berkomentar.
“Yang lebih lucu lagi mah STNK mobilnya dia. Gue lagi di Grab sampe diteleponin. Di share di grup pula.” Everist terkekeh.
“Eh, nggak tahunya dimainin sama anaknya yang bungsu. Sempet dibuang juga katanya, terus dirawatin sama suster. Awalnya suster mikirnya itu kertas biasa. Terus disimpen lah di tumpukan bajunya Ines. Pas dibuka lagi, ternyata itu STNK mobil, langsung deh dimasukin lagi ke gantungan kunci mobil.” Albio menjelaskan panjang lebar duduk perkara sebenarnya.
“Hahahaha, kalian bisa tahu kalau ternyata yang mainin STNK itu si Ines? Wili cerita gitu?” Everist dan Faris terheran.
“Kagak, lah.. Mau ditaruh dimana mukanya dia. Gue ketemu supir pribadinya di parkiran basement, ya sekalian gibahin dia. Supirnya aja sampe ngakak waktu ceritain itu.” Albio yang sedang menyendok iga penyet, seketika berhenti di ujung mulutnya untuk tertawa sejenak.
Kadang-kadang, membicarakan bobroknya bosman, adalah kewajiban bagi seluruh karyawan. Meski pun itu tidak baik, tapi bisa membuat kami terbahak seperti melihat adegan film komedi tanpa teks dan naskah. Dan yang paling tak tahan, ketika harus tersedak menahan tawa dan mengusap mata karena berair yang ujungnya mata pedih lantaran terkena bekas sambal.
ALBIO VARGASBARA
Lunetta mengelap mulutnya dengan tisu. Lipstik merah mudanya sedikit memudar, namun dia masih terlihat anggun dan seksi. Makhluk indah apa lagi sih dia? Bikin kakiku susah bergerak. Dia senang sekali kalau urusan menggosipi Willy Love You.
“Ada lagi yang lucu. Tau gak? Saat dia pamer bilang mau cuti sehari sebelumnya, eh malah ketinggalan pesawat dan masuk kantor lagi. Padahal sorenya itu dengan percaya dirinya yang selangit, dia chat di grup kan, nanya ada yang mau ditandatangani atau nggak. Sumpah kocak banget kalau ingat itu. Pak Kipli yang baru aja muter balik keluar parkiran bandara, ditelepon lagi suruh jemput.”
Mata Lunetta menyipit saat tertawa, mukanya memerah. Tahi lalat yang terdapat di pinggir dagunya memberi kesan manis. Manis sekali. Apalagi kalau melihat rambutnya yang terurai.
“Oh iya, yang itu ya? Sebenernya dia udah nyampe pintu keberangkatan tapi gak tau gate yang mana, alhasil pas nyampe gate yang dituju, pintunya udah ditutup. Padahal pesawatnya belum terbang. Hahaha.. asli, sakit perut gue.” Everist menimpali cerita Lunetta dengan penuh semangat.
"Lo pada gak tahu aja kalau pas mau jalan meeting, Everist dikunciin ama Willy Love You. Asli gue gak ngeh kalau dia ketinggalan. Gue sama Willy udah nyeberang jalan. Everist telepon gue minta bukain pintu."
"Serius?" Tanyaku tidak percaya.
"Dia pikir gue molor di mobil, padahal gue melek lebar. Pas gue mau buka pintu, si Willy udah kunci duluan. Gue teriakin gak pada denger. Heran." Everist begitu menggebu menceritakan bagian ini.
Dan semua cerita tentang Willy Love You pun harus berakhir mengingat waktu istirahat sudah mau habis. Makanan di meja pun sudah ludes tak bersisa. Iban dan Faris lomba tahak. Sekarang waktunya bayar-bayar. Bonus yang kudapat dari kantor belum lama ini, seperempatnya kusumbangkan kepada mereka biar mereka senang dapat makan siang gratis. Dan, selebihnya akan aku tabung untuk melamar Lunetta. Hehehe.