Rabu, 27 Oktober 2021

PARALEL - BAB 5 #NOVELSERIES

 

MAKAN DI KANTIN SEBELAH

 

GIBRAN HANDAL PRIBADI

Akhir bulan. Gajian. Identik dengan menghabiskan isi ATM. Maksudnya, makan enak di kantin. Kebetulan hari ini Albio ulang tahun, dan dia sudah berjanji akan mentraktir nasi putih. Dasar kere. Jelas-jelas dia menang tender, tapi traktir teman pelit.

“Mau naik haji ya, lo?” Aku menendang kaleng kosong di jalanan, kemudian memungutnya dan membuangnya di tong sampah terdekat. “Buang sampah kok ya sembarangan. Gue doain lo pasangannya bewokan.” Aku menyumpahi si pembuang sampah yang tidak mengenal tong sampah.

“Hahahaha… Bewokan seluruh badan ya, Ban?” Bang Chandra tergelak.

“Gue mau ngumpulin buat beli lamborjini, tau.” Kataku random.

“Pret lah…” Albio menanggapi.

“Eh, kalau teman kita ngucapin yang baik-baik, aminin aja. Kan katanya setiap kata yang terucap dari lidah kita adalah doa. Kali aja gue tiap hari diantar jemput sama Iban.” Bela Faris.

“Amiiiiiinnnn…” Serempak, Bang Chandra, Albio, dan Faris mengamini ucapanku yang hari ini sok bijak.

Di rombongan paling belakang, Lunetta asik berbincang bersama Everist, Bu Imelda, dan Zena, menggosipkan artis janda beranak satu. Kadang aku merasa geli, kenapa cewek-cewek gemar sekali bergosip? Daripada gue ngegosipin elo, mendingan gosipin artis, kata Lunetta tempo hari saat aku protes.

“Gunung, Lilin, Tepung, cepetan jalannya. Gue udah keburu laper.” Aku menoleh ke belakang, memerhatikan gaya empat perempuan yang berjalan amat lambat bagai keong kepanasan. Gila apa ya nih cewek, tidak mengerti perutku keroncongan sejak tadi. Lilin itu sebenarnya panggilan sayangku untuk Lunetta. Sementara ‘tepung’ untuk julukan si Zena yang namanya mirip nama tepung. Kalau ‘gunung’ tahu lah ya buat siapa.

“Iya nih. Lambreta. Gue nggak jadi traktir kalian yee.” Albio menimpali.

“Alaaah, traktir nasi putih doang juga lu, Bio. Gue masih sanggup beli.” Komplain Lunetta.

“Tau tuh, gue mah nggak ngarep ditraktir juga, kalau cuma nasi putih, di rumah gue banyak.” Everist memperbaiki kacamatanya yang merosot.

“Rese ya lo pada, ditraktir beneran baru nyaho.” Iban menarik-narik tangan Everist agar segera sampai ke kantin gedung tetangga.

Ada istilah, rumput tetagga lebih hijau. Sebenarnya bukan masalah hijaunya itu, melainkan karena bosan makan di gedung sendiri setiap hari, dengan menu yang itu-itu saja. Lunetta menggamit lenganku, bilang bergosipnya sudah selesai. Aku selalu suka dia menyentuhku. Membuat jantungku berdetak tidak keruan.

***

LUENETTA VERICA

“Ayo dong cepetan pesen, udah laper banget nih gue” Iban menopang dagu, meminta kami untuk tidak lama-lama memilih menu. Iya, aku juga lapar, Ban. Santailah…

“Gue mau ayam penyet aja. Nasi gratis kan? Hahaha” kataku.

“Duh, Lun, kenapa nggak sekalian iga penyet atau gak bebek penyet sambel ijo. Mumpung ada yang ultah.” Mata Everist melirik Albio.

“Nggak ah, dijanjiinnya kan yang free cuma nasi. Takut kolestrol gue.” Candaku.

“Ayam juga minyaknya banyak loh bikin kolestrol.” Sambung Bu Imelda, ketua regu dari tim ‘Akunting Grup B’ yang sengaja diundang Albio. Ada Zena juga, anak kesayangan Bu Imelda yang ikut diajak maksi siang ini di kantin oleh Albio. Duh, baiknya kebangetan deh Albio ini. Calon suami idaman. Tapi, entah kenapa sejak awal jumpa dengannya, aku tidak memiliki feel yang lebih padanya.

Di kantorku terdiri dari beberapa suku tim accounting service. Antara lain seperti Bu Imelda ini. Tapi, level tertinggi ya level Pak Willy Love You, karena dia sekaligus menjabat sebagai vice president juga di kantor. Tapi, tenang, Bu Imelda dan timnya juga seru kok. Mereka bukan pengintai atau mata-matanya Willy Love You.

Di sebelahku Everist menuliskan menu pesanan Albio, Iban, Bang Chandra, Faris, dan Zena. Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol ke sana ke mari tak beralasan dan tak tahu ujungnya. Obrolan acak, tapi seru.

Lima belas kemudian, pelayan menyuguhkan satu per satu menu makanan yang kami pesan. Wajah Iban yang tadinya lesu terlihat sangat sumringah.

“Mantap dah, gulai kambing gue datang.” Iban langsung mencelupkan sendok berisi nasi ke dalam kuah panas. Aromanya begitu menggoda. Sayang, aku dilarang mamah tercinta untuk tidak mengonsumsi makanan yang menyebabkan kolestrol tinggi.

“Sate ayam gue, Cuy… Mantap.” Faris bertepuk tangan ketika pelayan kantin menyodorkan sekodi tusukan daging ayam. Wajar sih kalau dia bergembira atas kehadiran menu favoritnya, tapi pesan sebanyak itu memangnya dia bisa menghabiskan?

“Bio, minta tolong ambilin tisu dong.” Everist tampak kepedasan melahap seporsi tongseng. Albio yang tangannya paling dekat dengan tisu, menyerahkannya untuk Everist.

Dalam pertemuan makan, tidak afdol rasanya jika tidak bergosip ria. Terutama membicarakan bos yang maunya aneh-aneh seperti Willy Love You. Bos yang tiada duanya.

“Ban, lo masih inget nggak sih waktu si Willy nyariin gelangnya pas meeting di lantai 26?” aku memulai perbincangan.

“Inget, lah. Sinting banget emang tuh orang. Hahaha.” Iban terbahak, begitu pun dengan Everist, Albio, Faris, dan Bang Chandra.

“Gelang apaan emang?” tanya Bu Imelda sambil mencolek sambal hijau di piringnya.

“Gelangnya dia. Gelang gaol getoh. Yang suka dipakai ke kantor, warna hitam bulat-bulat kayak biji kedelai. Gila Cuy, nyari sampe lumutan juga gak bakal ketemu. Gak tau deh siapa yang ngambil. Udah dicari di laci, kolong meja, lift, bahkan ampe ke lemari. Ampun deh.” Iban menjelaskan.

"Gue gak tahu deh kalau satu tim sama kalian, bisa senewen kali ya ngadepin Willy Love You. Hahaha." Zena berkomentar.

“Yang lebih lucu lagi mah STNK mobilnya dia. Gue lagi di Grab sampe diteleponin. Di share di grup pula.” Everist terkekeh.

“Eh, nggak tahunya dimainin sama anaknya yang bungsu. Sempet dibuang juga katanya, terus dirawatin sama suster. Awalnya suster mikirnya itu kertas biasa. Terus disimpen lah di tumpukan bajunya Ines. Pas dibuka lagi, ternyata itu STNK mobil, langsung deh dimasukin lagi ke gantungan kunci mobil.” Albio menjelaskan panjang lebar duduk perkara sebenarnya.

“Hahahaha, kalian bisa tahu kalau ternyata yang mainin STNK itu si Ines? Wili cerita gitu?” Everist dan Faris terheran.

“Kagak, lah.. Mau ditaruh dimana mukanya dia. Gue ketemu supir pribadinya di parkiran basement, ya sekalian gibahin dia. Supirnya aja sampe ngakak waktu ceritain itu.” Albio yang sedang menyendok iga penyet, seketika berhenti di ujung mulutnya untuk tertawa sejenak.

Kadang-kadang, membicarakan bobroknya bosman, adalah kewajiban bagi seluruh karyawan. Meski pun itu tidak baik, tapi bisa membuat kami terbahak seperti melihat adegan film komedi tanpa teks dan naskah. Dan yang paling tak tahan, ketika harus tersedak menahan tawa dan mengusap mata karena berair yang ujungnya mata pedih lantaran terkena bekas sambal.

 

ALBIO VARGASBARA

Lunetta mengelap mulutnya dengan tisu. Lipstik merah mudanya sedikit memudar, namun dia masih terlihat anggun dan seksi. Makhluk indah apa lagi sih dia? Bikin kakiku susah bergerak. Dia senang sekali kalau urusan menggosipi Willy Love You.

“Ada lagi yang lucu. Tau gak? Saat dia pamer bilang mau cuti sehari sebelumnya, eh malah ketinggalan pesawat dan masuk kantor lagi. Padahal sorenya itu dengan percaya dirinya yang selangit, dia chat di grup kan, nanya ada yang mau ditandatangani atau nggak. Sumpah kocak banget kalau ingat itu. Pak Kipli yang baru aja muter balik keluar parkiran bandara, ditelepon lagi suruh jemput.”

Mata Lunetta menyipit saat tertawa, mukanya memerah. Tahi lalat yang terdapat di pinggir dagunya memberi kesan manis. Manis sekali. Apalagi kalau melihat rambutnya yang terurai.

“Oh iya, yang itu ya? Sebenernya dia udah nyampe pintu keberangkatan tapi gak tau gate yang mana, alhasil pas nyampe gate yang dituju, pintunya udah ditutup. Padahal pesawatnya belum terbang. Hahaha.. asli, sakit perut gue.” Everist menimpali cerita Lunetta dengan penuh semangat.

"Lo pada gak tahu aja kalau pas mau jalan meeting, Everist dikunciin ama Willy Love You. Asli gue gak ngeh kalau dia ketinggalan. Gue sama Willy udah nyeberang jalan. Everist telepon gue minta bukain pintu."

"Serius?" Tanyaku tidak percaya.

"Dia pikir gue molor di mobil, padahal gue melek lebar. Pas gue mau buka pintu, si Willy udah kunci duluan. Gue teriakin gak pada denger. Heran." Everist begitu menggebu menceritakan bagian ini.

Dan semua cerita tentang Willy Love You pun harus berakhir mengingat waktu istirahat sudah mau habis. Makanan di meja pun sudah ludes tak bersisa. Iban dan Faris lomba tahak. Sekarang waktunya bayar-bayar. Bonus yang kudapat dari kantor belum lama ini, seperempatnya kusumbangkan kepada mereka biar mereka senang dapat makan siang gratis. Dan, selebihnya akan aku tabung untuk melamar Lunetta. Hehehe.

 

 

 

Sabtu, 23 Oktober 2021

PARALEL - BAB 4 #NOVELSERIES

 Kehujanan Bareng Albio

 

EVERIST FIRSTA

Tiba-tiba ponsel yang sedang kupegang bergetar. Ternyata ada chat masuk dari grup ‘Akun Ting2 100%’

Luca              : Barusan kita disidang sama ibu tiri dan Willy Love You. Lo juga kena, Ev.

Albio V.          : Ini ide gilanya si Iban nih. Gue kena juga deh.

Faris De Ril   : Iban Kodok emang, mau2nya gue ikutan bikin surat cinta buat Willy Love You

Iban Ganteng : Tenang, Beps, baru SP 1, habis ini Willy love You, love us again.

Luca               : Pret…

Iban Ganteg : Buktinya dia rela ninggalin meeting-nya karena takut kehilangan kita.

Faris De Ril   : Bego, lu Ban. Pencemaran nama buruk lo mah. Kampret emang.

Chandra Cool : Ngehe semua lu pada. Mang enak dapet doorprize hahahah.

Everist Firsta  : Lah, gimana ceritanya? Kepo bet gue.

Luca                : Nanti gue ceritain deh pas lo masuk. Males ngetik gue.

Iban                : Nggak usah diceritain. Gak penting juga. Lu lagi di mana sih Gunung? Gak ada

 angin gak ada  hujan, gak ada kabar.

Everist Firsta : Napa lu Ban? Kangen ya sama gue? Sayangnya, gue gak kangen sama lu. Wee.

Albio              : Rugi pokoknya lo gak masuk hari ini, Rist.

Iban               : Kalo deket, lu gue unyeng2, Nung.

Everist Fisrta : Udah dulu ya, gue masih rempong nih.

Faris                : Sok sibuk

Iban                 : Paling lagi benerin kancing baju. Makanya gak masuk kerja.

Chandra Cool : Bukan kancing baju, tapi benerin genteng bocor kayaknya.

 

Dan, semuanya terbahak di dalam chat grup ‘Akun Ting2 100%’ tersebut. Aku pun ikut cengar-cengir sendirian sambil menahan malu karena dilihat pengunjung lain di kanan dan kiriku.

Sebenarnya, hari ini aku ada keperluan mengurus surat izin mengemudi yang hampir saja habis masanya. Dari pada aku telat mengurus dan buat baru lagi, lebih baik aku izin cuti saja. Lagi pula sisa cutiku masih banyak, dan kebetulan juga Willy Love You sedang ke luar negeri. Sudah setengah hari aku berada di kantor samsat Jakarta Barat. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, rebahan di kasur -  bobo siang. Jarang-jarang kan? Hehehe.

***

 

ALBIO VARGASBARA

“Bio, lo mau kemana?” Everist tampak panik ketika aku meninggalkan kubikelku.

“Pulang lah. Mau kemana lagi.” Aku berhenti sejenak, lantas melanjutkan langkahku yang terhenti oleh cewek bawel dan penakut itu.

“Jangan dulu, dong. Tungguin gue. Belum selesai nih kerjaannya.”

Terus, lo mau apa, Everist? Emangnya gue peduli?

Everist menarik ranselku kuat-kuat ketika aku di ambang pintu dengan kaki dan tangannya. “Please, Bio… Temenin gue bangsa lima belas menit lagi deh ya.. Help dong… Lo nggak kasihan sama gue?” Everist memaksa.

“NGGAK.” Jawabku galak. “Lo kan udah ada yang nemenin, tuh si Leon.” Aku menunjuk ikan cupang piaraan Everist dengan daguku.

“Dia nggak bisa jagain gue kalo gue ketakutan. Kalo elo, kan bisa.”

“Dasar cewek penakut. Makanya lain kali lo temenan sama dedemit biar gak takutan lagi.”

“Iss… Gitu banget.” Everist cemberut, berhenti memegangi ranselku dan membalik badan menuju kubikelnya. Aku tahu, dia akan beringsut menarikku lagi dalam sepuluh langkah.

“Makasih, Bio. Biar pun lo galak, tapi gue suka. Upss.” Everist menutup mulut dengan sepuluh jarinya.”Maksudnya gue suka gaya lo nemenin gue. Laper gak? Gue ada indomie.”

Everist menyodorkan sebungkus indomie instan padaku. Lumayan deh buat mengganjal perutku yang kerocongan. Aku menerima sebungkus mie instan dari tangan Everist. Menaruh tas ranselku di meja

“Tapi, lo jangan lama2 di pantri. Lo makannya di meja lo aja biar gue ada temennya.”

Aneh deh, memangnya apa yang perlu ditakutkan di sini? Tidak ada apa-apa. Palingan Cuma kuntilanak, tuyul, dan butoijo. Pengakuan itu datang dari bibir Lunetta, dan kalau dia yang bilang, aku percaya. Hal itu kubuktikan waktu Mba Imelda kesurupan di toilet, ketika kami sama-sama lembur hingga pukul 12 malam. Tapi, hantu, setan, jin, dan dedemit juga takut kali sama Everist, gak bakal mau gangguin dia.

“Ok, gue temenin. Tapi, jangan lama-lama ya. Bentar lagi mau hujan. Barusan Parman whatsapp gue, petirnya gede-gede. Dan, gue lagi nggak bawa mobil. Males kalo harus pakai jas hujan.” Aku berjalan gontai menuju pantri. Kuperhatikan wajah Everist menatap punggungku diam-diam. Dasar cewek merepotkan.

Lima belas menit kemudian. Mie sudah habis kulahap. Aku sampai lupa menawari Everist yang sedang serius mengetik biaya operasional di komputernya. Aku tahu betul watak Willy Love You, kalau sudah minta maunya cepat. Dan Everist sedang berjuang mengerjakan deadlinenya secepat kilat berhubung hari sudah larut malam. Hal yang sama terjadi padakau beberapa menit sebelum Everist memaksa minta ditemani lembur. Tadi siang, Willy minta laporan PPN PT Murah Senyum. Aku pun mau tak mau merekonsiliasinya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Cepetan! Udah lebih dari 15 menit nih.” Aku melirik jam tanganku ketika Everist selesai mematikan komputernya.

Aku bergegas dengan langkah cepat. Everist tertinggal jauh di belakang.

“Pelan-pelan dong, Bio. Lo kira kaki gue sepatu roda.” Everist mendumel, mulutnya manyun. Sudah beruntung kutemani, dia malah tidak tahu cara berterimakasih dengan baik. Setiba di lobby, Parman menyapaku, mengucapkan hati-hati di jalan. Dia adalah security yang bertugas jaga kandang malam ini. Orangnya baik nan ramah.

Dan, sekarang dia mengintiliku hingga ke parkiran. Sejak di dalam lift, dia merengek minta pulang bareng.

“Lo naik bajaj aja sih. Kalo nggak Grab Car, kalo nggak Uber, Go Car, atau apa lah kendaraan berbasis online yang lo suka.” Aku mulai mencoba memberi alternatif, karena suara petir terdengar menggelegar. “Lagian gue cuma punya satu mantel.”

“Gue yakin paling cuma gerimis. Mendung tak berarti hujan kan?” Everist tersenyum penuh drama. Ngomong sama Everist, sama dengan ngobrol sama piaraannya – si cupang Leon. Menyebalkan. Dia bersikukuh mau bonceng denganku. Meski pun aku hanya punya satu jas hujan dan helm.

Baiklah, kau boleh ikut, Everist. Tapi, nanti kalau polisi mencegatku lantaran membawa satu helm, kau akan kuturunkan di jalan. Malas juga kalau mesti berdebat dengan cewek kepala batu. Dia tidak akan pernah mau mengalah.

“Tuh kan, hujan. Lo mending turun deh, terus setopin Taksi. Gue nggak punya mantel dua.”

Baru beberapa menit keluar dari parkiran, gerimis merincik-rincik.

“Ogah, ah, macet. Udah kepalang juga ngejogrok di atas jok motor lo. Mendingan gue nebeng sama lu. Lagian kalo cuma gerimis gini sih, gue kebal. Tenang, nanti gue bayar.”

Hah bayar? Memangnya aku tukang ojek. Oke, kalau dia bersikeras. Aku menutup kaca helmku, menancap gas kembali, menembus gerimis di gelapnya malam jalanan ibukota. Malas berdebat lama-lama dengan cewek keras kepala macam Everist. Yang ada hujannya semakin deras.

Benar saja, 20 meter kemudian, gerimis menderas. Aku kalang-kabut mencari tempat berteduh. Tapi, tidak kutemui tempat yang pas untuk kusinggahi. Tak tahan rasanya mendengar teriakan Everist di dekat kupingku.

“Bio, neduh dulu sih. Lo nggak menghargai gue banget sebagai penumpang lo. Mata gue perih nih kena air hujan. Kacamata gue berembun. Kepala gue sakit ditimpukin air hujan. Lo juga bawa laptop kan? Ntar kalo data-datanya pada hilang, gimana?”

Syukurin. Suruh siapa mau bonceng denganku. Kalau masalah laptopku sih aman terkendali. Tas parasutku anti air, jadi aku tidak was-was sama sekali. Justru aku yang mencemaskan laptop Everist. Kalau sampai rusak, bisa-bisa aku diadukan ke ibu tiri. Laptopnya rusak. Ini semua gara-gara Albio yang tidak mau menurut, Bu… Duh, bisa panjang urusannya.

“Lo pikir gue nggak basah?” kataku kesal.

“Ya makanya neduh dulu. Dimana kek.” Everist tetap merasa benar. Dan aku ingin rasanya menceburkannya ke comberan.

***

 

EVERIST FIRSTA

Duh, seandainya motorku tidak mogok, aku tidak perlu menebeng Albio pulang. Aku bisa saja pesan taksi daring, tapi entah kenapa aku ingin pulang bareng dia. Lumayan kan searah, ngirit ongkos.

Tadi menjelang jam pulang, Willy Love You meneleponku dan meminta laporan laba rugi PT Kenangan Hati. Memangnya di negara tetangga kerjanya hingga malam ya? Apa tidak ada hari esok saja untuk mengerjakannya. Kalau begini ceritanya, aku mesti menginput seluruh biaya dulu ke sistem Accurate. Banyak pula datanya.  Datanya saja baru aku terima komplit pukul 15:00, dan harus selesai sebelum pukul 20:00. Huh, gemes deh…

Tapi, untung saja Albio juga lembur hari ini, jadi aku tidak merasa seperti peserta uka-uka yang sedang uji nyali. Serem kan kalau aku tiba-tiba melihat sosok baju putih rambut panjang terbang melayang-layang di ruangan. Bulu kudukku langsung bergidik ngeri membayanginnya.

Albio berhenti persis di bawah pohon akasia. Tidak terlalu rindang, tapi berhasil melindungi kami berdua dari derasnya air hujan yang membuat rambutku lepek dan bajuku kuyup. Sejak tadi mulutku berbusa menyuruhnya berhenti. Dia sama sekali tidak menghiraukan seruanku.

“Lo pake atasannya.” Albio menyerahkan jas hujan untukku.

“Nah, terus elo nanti kebasahan dong?” aku menolak memakainya.

“Yang penting laptop lo aman. Tas gue tahan air.” Katanya sembari memakai celana jas hujannya.

“Nggak ah, lo aja yang pake. Gue pake jaket lo aja. Sini buka!” Aku berusaha membuka resleting jaketnya yang basah. Lumayan, setidaknya tas ranselku terlindungi kain sebelum benar-benar basah. Tapi, Albio balik badan dan menyerahkan lagi atasan jas hujannya kepadaku.

“Lo pake ini. Cepetan! Keburu laptop lo basah.” Albio bersikeras memerintahku memakai jas hujannya, dan aku kekeuh bilang tidak mau.

“Lo aja. Gue biar pake jaket lo aja. Parasut juga kan? Ya udah, laptop gue aman.” Kataku dengan gigi yang bersentuhan karena dingin.

Albio pasrah menurut. Ia melepas jaketnya kemudian menyerahkannya padaku. Lalu, dia mengenakan atasan jas hujan hingga kepala, sedangkan aku memakai jaketnya untuk melindungi ranselku yang basah.

“Lo naik Taksi aja sih.” Kata Albio dengan nada memaksa. Aku masih menjawab sama, tidak mau. Sudah kepalang basah juga. Mana mau Taksi menerima penumpang yang basah kuyup sepertiku.

“Kenapa sih nggak mau? Nggak punya duit? Ni gue kasih.” Albio hendak membuka dompet dari saku celananya.

“Eh, gue punya kok. Udah terlanjur basah, gue ikut sama lo sampe lampu merah depan aja.” Kataku menjelaskan.

“Kalo gitu lo pake mantel gue. Buka jaket gue! Cepetan!”

Kali ini aku setengah takut meladeni ucapan Albio. Ternyata kalau Albio lagi marah, wajahnya jadi menyeramkan. Aku manut saja membuka kembali jaketnya dan memakai atasan jas hujan milik Albio.

“Bandel.” Selidiknya kesal. Aku tertawa. Lucu juga ya bertengkar dengan Albio. Ngeselin tapi seru. Ketika urusan jas hujan selesai, aku memeluk Albio dengan perasaan senang, meskipun Albio melarangnya dan berdalih bukan muhrim. Rasanya bahagia sekali membuat orang kesal. Dan hujan ini, membuatku semakin menggigil.

 

 

 

 

 

Rabu, 13 Oktober 2021

PARALEL - BAB 3 #NOVELSERIES

 

RESIGN BERJAMAAH

 

LUNETTA VERICA

Meeting seharian kemarin cukup membuatku jenuh. Aku berjalan gontai menuju kubikelku. Tidak perlu tergesa-gesa, mengingat waktu masih jauh dari pukul delapan. Dan sesuatu yang amat membahagiakan pagi ini adalah Willy Love You tidak ke kantor. Katanya sih ada urusan di negeri Jiran.

Saat memasuki ruangan tim accounting service, aku melihat Iban, Albio, dan Faris duduk bergerombol. Mereka seperti tampak serius mengetik sesuatu. Para cucunguk itu lagi pada ngapain ya?

Ah, daripada penasaran, lebih baik aku intip. Aku berusaha memelankan langkah sepatuku sepelan mungkin agar mereka tidak kaget. Aku melongok di antara kepala Iban dan Albio.

Ternyata begini isi layar laptopnya:

 

To: wiliam@atmosfirsejuksekali.com

Cc: gibran@atmosfirsejuksekali.com; albio@atmosfirsejuksekali.com ; lunetta@atmosfirsejuksekali.com; everist@atmosfirsejuksekali.com, Faris@atmosfirsejuksekali.com

Subject : Pengajuan Pengunduran Diri

 

Dear Bapak Wiliam,

Dengan ini saya memohon maaf karena tidak dapat lagi join di perusahaan yang Bapak pimpin. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kesempatan yang Bapak berikan kepada saya selama ini. Bila saya resign, kemungkinan Albio juga ikut resign. Bila Albio resign, kemungkinan Everist juga ikut  resign. Bila Everist resign, kemungkinan Lunetta juga resign. Bila Lunetta resign, sudah pasti Faris juga ikut resign.

Besar harapan saya, PT ATMOSFIR SEJUK SEKALI bisa terus maju dan berkembang. Sukses dan jaya selalu, saya doakan.

Sekian surat pengunduran ini saya buat. Kiranya Bapak bisa mempertimbangkan keputusan saya.

Best regards,

Gibran Handal Pribadi dkk

 

    Konyol. Ini apa-apaan? Iban mau resign? Albio juga? Everist juga? Faris juga? Terus kenapa harus membawa-bawa namaku? Lantas nanti yang tersisa di dunia tukang hitung siapa dong? Bang Chandra seorang? Iban betul-betul keterlaluan!

    “Eh kampret, kalian beneran mau re…?”

    “Hstt!!! Jangan keras-keras, Lune.”

    Belum selesai bicara, Iban menyekap mulutku. Aku berusaha memberontak, namun kenyataannya tenaga laki-laki selalu lebih unggul dibanding wanita.

    “Ini cuma dagelan, tahu. Lo lihat dong alamat emailnya.” Iban melepaskan sekapannya sambil menaikan kedua alisnya bergantian, mirip seperti Spongebob Squarepants. Uh, akhirnya aku bisa bernapas lega.

Iban meminta aku membaca sekali lagi alamat surel yang ada di layar laptopnya.

    “Pak William kan? Si Willy Love You? Atasan kita, sekaligus vice president di kantor ini?” Aku yakin tidak salah baca, tapi Iban masih saja protes.

    “Lun, coba deh lo pakai kacamata. Kayaknya mata lo mulai minus deh, atau bisa jadi silinder rangkap plus.” Iban berdiri, mengacak-acak rambutku. Kebiasaan, dia membuatku harus rajin menyisir. Rambut panjang yang kucatok dengan penuh kesabaran, jadi berantakan lagi.

    “William or Wiliam? Single ‘L’ orDouble ‘L’ Do you understand? Iban memberikan penekanan pada ucapannya.

    Aku menggeleng, “maksudnya?” jujur, aku masih belum mengerti apa yang Iban utarakan.

    “Lunetta yang cantik dan memiliki wajah mirip chery… Lo baca sekali lagi. Pengen cium deh rasanya. Ih.. emesss.” Iban menyuruhku duduk di bangkunya. Aku menuruti permintaannya, membaca dengan teliti.

    “Jelas-jelas buat Pak William, Iban…” Aku geregetan. “Bio, Faris, coba bilang apa yang salah dengan mata gue?” Aku membuka lebar-labar pupil mataku dan menunjukkannya pada para cucunguk yang justru mendekatkan mulutnya ke wajahku. Aku langsung menutup muka dengan kedua tanganku.

    “Ya, jelas salah lah, Lunetta… Jelas-jelas huruf ‘L’nya cuma satu. Dan, alamat emailnya nggak pakai strip. Ah, gimana sih lo.” Kali ini Albio yang gemes padaku. Telunjuknya ditempelkan pada layar monitor. Aku mencoba membaca sekali lagi. Bio benar, nama William diketik dengan satu ‘L’, yakni Wiliam.

    “Emang Pak William punya alamat email lain?” tanyaku dengan wajah polos.

    “Ya nggak lah. Orang kita becandaan.” Albio tergelak. Begitupun dengan Iban dan Faris.

    Hah, mereka bilang bercanda? Aku menjitak mereka satu per satu. Sialan! Aku tertipu. Rupanya mereka hanya pura-pura, aku memasang wajah sebal. Kuperhatikan lagi alamat surel di layar monitor Iban dengan tatapan curiga. “Lo udah kirim emailnya, Ban?”

    “Udah. Tenang aja, emailnya bakalan nyangkut di pohon kedelai. Kan alamatnya salah. Hahaha.” Albio, Iban, dan Faris beradu tos. Dasar, kurang kerjaan.

    Begini deh kalau atasan ke luar kota atau tidak masuk kantor, pasti mereka bahagia. Termasuk aku yang setidaknya merasakan sedikit kedamaian, karena tidak harus mengangkat panggilan telepon atau meeting dengannya selama beberapa hari ke depan dengan sang Bossman.

    Aku bangkit dari kursi Iban menuju kubikelku yang berada di paling pinggir. Mengusir para cucunguk yang betah menggerumuniku “Awas, ah, gue mau dandan. Gue pikir serius. Nggak tahunya boongan. Gak seru.”

    “Manfaatkan waktu senggang, Ta. Hahaha. Btw, tumben banget lo berangkat pagi, Ta. Biasanya jam segini masih luluran.” Albio menyenggol lenganku, iseng menggoda.

    “Tau Lun, biasanya lo masih nungging di kasur.” Faris angkang kaki di kursinya, bergaya ala bos.

    “Gue mau merayakan kebebasan hari ini. Emang kalian doang.” Kataku bohong.

    Sebenarnya, aku diminta mamah untuk mengantarkan blender ke rumah tante di daerah Slipi. Sejak semalam mamah bawel mengingatkanku untuk lekas tidur. Jangan begadang, Lunetta, tantemu bertanya terus kapan mau diantarkan. Mau dipakai katanya, begitu katanya.

    “Kalau merayakan kebebasan tuh ya harusnya hari ini lo bolos aja. nGapain coba kerajinan. Kayak Everist aja datang pagi buta. Bahkan gue rasa sebelum ayam jago kukuruyuk dia udah jalan.” Iban memainkan pondasionku, mengoleskannya di tangan. Kebiasaan, sudah kukatakan berapa kali kalau itu bukan hand body lotion.

    “Eh iya, btw, si pemilik ikan cupang kemana nih? Tumben dia belum datang.” Albio menatap kubikel Everist yang kosong melompong.

    “Eh, iya, si Gunung kok belum datang. Tumben bener.” Iban ikut-ikutan mencari Everist .

    “Kenapa kalian? Kangen ya? Nanti gue sampein salam kangennya ke Everist.” Kataku meledek.

    “Ih, siapa juga yang kangen. Tumben aja kan dia biasanya datang super pagi.” Iban membela diri.

    “Jujur sih kalau dia beneran gak masuk hari ini, berasa plong aja depan gue.” Sambung Albio.

    “Ecieeee… Gak ada yang bisa digodain lagi ya? ”Aku senang meledek Albio. Dia salah tingkah. Wajahnya bersemu merah.

    “Apaan sih. Enek yang ada gue hadap-hadapan sama dia.” Sangkal Albio.

    “Dia kemana sih emangnya Lun? Ini beneran gue nanya.” Faris sepertinya benar-benar ingin tahu.

    “Katanya sih dia ada urusan hari ini. Gak bilang sih urusan apa.”

    “Jangan-jangan Everist mau fitting baju nikah.” Faris yang baru saja datang dari toilet ikut menimbrung obrolan.

    “Nikah sama siapa? Pacar aja gak ada.” Albio terkekeh.

    “Sama ikan cupang. Kali yang menjelma jadi pangeran tampan. Kayak di dongeng-dongeng gitu. Soalnya gue pernah mergokin dia ngomong sama ikan cupang.” Iban sok serius.

    Elaaah, lo juga pernah gue lihat ngomong sama meja.” Kataku sambil terbahak.

***

 

Pukul 10:32

    Kini setiap meja sudah terisi oleh Tuannya. Tidak ada pekerjaan penting hari ini. Rasanya damai sekali bila atasanku – Pak Willy Love You sedang di luar negeri.

    Albio tampak bahagia menonton film kesayangannya, apalagi kalau bukan Tuyul dan Mbak Yul. Sedangkan Iban asyik menonton film India. Kali ini dia menonton dengan seksama film Mohabbatein. Faris sedang cekikikan mendengarkan siaran radio. Sementara aku, sedang sibuk mencatok ulang rambut yang telah diacak-acak Iban barusan.

    Hmm… Jarang-jarang banget loh kita semua bisa free kayak gini.

    “Lun, lo nggak ada permen apa? Mulut gue asem banget nih.” Iban mengusik ketenanganku.

    “Habis. Belum sempet mampir ke swalayan gue.” Jawabku seperlunya.

    “Yah, kalo gitu minta hatinya aja deh. Abang rela punya bini dua.” Bang Chandra cengengesan.

    “Heh, ngegombalin cewek gue. Hatinya Lunetta Cuma buat Iban seorang. Ya kan Lun?” Faris mengerdipkan matanya. Sepertinya penyakit cacingannya kumat.

    “Kalian jangan berisik napa, gue lagi fokus sama si Kiran nih. Cantik banget. Lunetta kalah deh sama dia.” Iban menimpuk Faris dengan pulpen.

    “Sialan lo, Kodok. Sakit bego.” Faris mengaduh sambil mengusap kepalanya.

    “Tau lo Ban, kayak nenek gue aja nontonnya begituan. Nonton mah film blue.”

    “Anjrit Bang Chandra omongannya. Gue setubuh banget!” Iban membuka headsetnya, meneguk air mineral di mug pemberianku kala itu waktu dia ulang tahun. Baru tahu, kalau mendengarkan nonton film India bikin dahaga.

    “Lun, nanti siang makan sama gue ya..” Iban mendekatiku, berniat membantu apa yang kususun, tapi justru malah membuatnya berantakan.

“Iban, jauh-jauh deh lo. Mending lo beliin gue coklat, baru gangguin gue.” Aku mengibaskan tangannya dari jangkauan dokumen-dokumen yang tengah kurapikan.

    “Ya  udah, tapi nanti siang makan bareng gue ya.. Okeh okeh!”

    “Nggak mau. Males.”

    “HAHAHAHA. MAMPUS!” Albio mencibir Iban, tampak bahagia ketika mendengar penolakanku barusan. “Gue dong, sering makan sama Lunetta.” Ucapnya penuh bangga.

    “Heee biasa aja dong, Bio. Tunggu aja, nanti Lunetta gue pelet biar berubah pikiran.” Iban menjawil lenganku. Para cucunguk ini selalu saja memperebutkanku, tapi giliran Veronica lewat, kalah deh aku. Tersaingi.

    Dan faktanya, kebahagiaan yang kami alami tidak berlangsung lama. Bu Tira tiba-tiba datang ke kubikelku. Mengobrak-abrik istana yang tenteram nan damai beberapa jam terakhir. Matanya yang merah menatap kami tajam. Terutama saat mengegep ulah nakal Iban yang menonon serial india di youtube.

    “Kalian semua, kecuali Chandra, ikut saya sekarang!”

    “Saya juga, Bu?” tanyaku sambil menunjuk dadaku sendiri.               

    “Lunetta, kamu belum tuli kan? Saya bilang semuanya, KECUALI CHANDRA. Masih belum jelas?” Bu Tira memelotot, aku melemaskan otot, memasang kuda-kuda. Kalau sudah begini, aku pasrah saja. Beliau memaksa kami berdiri dan mengekornya menuju ruangan angker.

    Kami yang bagai kerbau dicocok hidungnya, manut. Divisi lain memandang kami dengan oenuh rasa penasaran. Bu Imelda bertanya lewat Bahasa isyarat, dan aku membalas dengan mengangkat bahu. Sepanjang perjalanan ke ruangannya, Bu Tira diam seribu bahasa. Aneh. Biasanya kan dia nyerocos terus kalau mendapati anak buahnya salah. Kira-kira ada apa ya? Apa kami mau diberi bonus satu milyar? Dan Bu Tira akan bilang, ‘SUREPRISE…’

***

 

    Pak William menatap kami bergantian. Wajahnya sungguh merah. Aku tidak menyangka ini menjadi masalah yang sangat amat serius. Surel mengenai permohonan pengunduran diri tadi pagi sampai kepadanya. Saat itu juga dia langsung memesan tiket pulang ke Indonesia. Tidak peduli rapat penting dengan klien sedang berlangsung, demikian penjelasan Bu Tira.

    “Coba jelaskan pada saya, Gibran. Apa maksud kamu mengirimkan email resign secara berjamaah seperti itu? Kalian membuat saya jantungan.”

    Iban terlihat gugup, tak berkutik. Seketika wajahnya berubah pucat. Mampus lah kau Iban. Willy Love You tidak sebodoh yang dia kira. Beliau mampu menyadap semua surel masuk dan keluar melalui ponsel canggihnya.

    Dengan memangku kedua tangannya, Iban, Albio, dan Faris saling lirik. Kurasa mereka mau menangis, jika tidak ingat bahwa mereka adalah lelaki tangguh.

    “Maaf, Pak, kami hanya main-main. Sungguh.” Setelah hening sekian lama, Iban angkat bicara. Bu Tira memandang Iban dengan tatapan sinis. Bibirnya yang merah membahana bagai habis makan orok, seperti ingin menelan cowok berambut gondrong itu bulat-bulat.

    “Benar, Pak, Bu, kami bercanda.” Sambung Albio dengan wajah memelas. Bila ruangan Bu Tira terkenal dengan dingin yang luar biasa bagai di kutub selatan, siang ini tidak berlaku bagi tiga cucunguk nakal itu. Bulir keringat membasahi dahi mereka. Semoga mereka tidak pingsan. Begitu pun dengan aku

    “Lunetta.”

    Deg. 

    Jantungku langsung bereaksi ketika Bu Tira menyebut namaku. Albio, Iban, dan Faris ikut menoleh.

    “Kamu juga mau resign seperti mereka? Atau main-main juga? Mana Everist? Dia bukannya hari ini izin tidak masuk? Apa dia sedang wawancara di kantor lain?”

    Nah loh, aku kan tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Setiba di kantor, Iban sudah mengirimkan surelnya, menandaiku dan Everist di email tersebut. Aku hanya korban si Iban sialan.

    “Em.. tidak, Bu.” Jawabku gelagapan. Walaupun aku bukan pelakunya, tetap saja aku merasa takut bila mesti berhubungan dengan ibu tiri. Sungguh, aku tidak mengerti apa-apa.

    “Bercandaan kalian itu benar-benar kelewatan, Albio, Iban, Faris, Lunetta.” Bu Tira mondar-mandir di depan kami. Tangannya bersedekap. “Kalian bikin Pak William panik. Coba kalian bayangkan. Gara-gara kalian, agenda meeting penting dengan klien Singapura gagal total. Karena Pak William terbang ke Jakarta dadakan. Saya tuh nggak ngerti dengan otak kalian. APA SIH YANG ADA DI OTAK KALIAN?”

    Albio menunduk, begitu halnya dengan Iban, dan Faris. Jujur, rasanya aku ingin tertawa lepas sebagaimana yang sering dilakukan Everist. Tapi kurasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menertawakan mereka. Tanganku gemetaran, rasanya tiba-tiba ingin pipis.

    Di kursi panasnya, Pak William menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya yang mulai menipis, seolah mengatakan bahwa beliau menyerah dengan kenakalan anak buahnya yang selama ini ia bangga-banggakan. Iban, Albio, dan Faris masih diam. Sedangkan aku hanya melongo macam kambing bego.

    Hingga pukul 12 siang, kami terus-terusan diceramahi ibu tiri. Diberikan wejangan panjang lebar, diperingati ini-itu, dan tentunya diomeli habis-habisan. Kami bagaikan anak murid yang kena hukuman karena bolos nonton bioskop. Kupingku sampai ngebul kalau begini ceritanya. Tidak tanggung-tanggung, kami juga diberikan hadiah dari ibu tiri.

    SELAMAT, kita semua diberikan Surat Peringatan Satu (SP 1) oleh Bu Tira

    Ini semua gara-gara Gibran Kampretos.