Kamis, 04 Agustus 2016

Ayahku Bukan Pembunuh #SebuahKisahNyata #Cerpen

Saat itu aku masih berusia lima tahun. Aku masih ingat ayah bersemangat membawa kami ke Pantai Skip. Pantai yang berjarak delapan kilometer dari rumahku. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan seharian waktuku bersamanya, bersama ibu, juga adikku – Ajeng. Sayangnya, kebahagiaan itu teramat singkat.

Ketika aku dan Ajeng sedang asyik bermain pasir bersama ayah, aku mendengar ibu berteriak meminta tolong. Suaranya agak samar karena bercampur desau angin muson barat dan deburan ombak yang membuat nyaliku menciut.

Aku melihat dengan mataku sendiri ibu tergulung ombak setinggi empat meter lebih. Tangannya terjulur ke udara, seluruh tubuhnya terendam air, menyisakan uraian rambut panjangnya di tengah riakan busa. Ayah pontang-panting berusaha menyelamatkan ibu, dibantu beberapa lelaki dewasa yang bahu-membahu menolong ayah. Sia-sia, ayah justru ikut terseret amukan ombak yang tak henti-hentinya datang ke daratan.

Ternyata bukan hanya ibu dan ayah yang menjadi korban, tetapi ada dua remaja tanggung, sepasang muda-mudi, dua orang dewasa, dan dua lansia. Saat itu aku ketakutan bukan kepalang. Ajeng sampai menjerit-jerit memanggil nama ayah dan ibu sambil tersedu-sedan. Untung saja Paman Muklis dan Bibi Dian cepat datang ke lokasi, maka aku dan Ajeng tidak merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya lagi. Mereka berdua memeluk kami, berkata ibu dan ayah akan baik-baik saja.

Bibi Dian dan Paman Muklis bohong. Ibu dan ayah tidak baik-baik saja. Tubuh mereka membiru dan pucat. Terutama ibu yang lebih lama terendam di air laut. Keduanya dibawa ambulans, bersamaan dengan korban lainnya yang ditemukan beberapa jam kemudian. Aku dan Ajeng sempat menemani di mobil hingga rumah sakit. Sayangnya nyawa ibu tidak dapat tertolong lagi.

“Ibu bangun… Jangan tidur terus. Bangun, Bu,” kataku sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Ayah, kenapa ibu mendadak tuli? Ibu pura-pura tidur terus dari tadi,” aku meminta pembelaan pada Ayah. Namun ayah menjawabnya dengan senyum hambar. Senyum yang bisa kuartikan sebagai kegetiran paling menyesakkan. Waktu itu aku belum mengerti kata kematian.

Bulir air mata ayah menetes menjatuhi pipi saat pemakaman ibu. Di sana juga ada nenek, Paman Muklis, dan Bibi Dian. Semuanya menangis. Ada apa?

“Kenapa ibu dimasukkan ke dalam tanah, Yah? Nanti ibu susah bernapas? Ambil lagi ibunya, Yah, nanti ibu kegelapan” kata Ajeng sambil mengguncang-guncangkan lengan ayah. Ayah tidak menjawab, matanya merah berair.

Berselang detik, nenek menampar ayah, mengatakan bahwa ayah pembunuh. Bibi Dian beringsut memelukku dan Ajeng. Aku ingat sekali momen menyedihkan itu. Saat isak tangis tak mampu membawa ibu kembali, saat itu ayahku dibawa paksa manusia bertubuh besar yang memborgol tangannya di belakang pinggang. Ayah mau dikemanakan?

***

Sebelas tahun berlalu, aku belum jua bertemu dengan ayah semenjak pemakaman ibu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas satu SMA, menjadi remaja cantik yang dibesarkan tanpa ayah dan bunda, tanpa kasih sayang mereka. Kenapa ayah jahat padaku dan Ajeng? Kenapa dia tidak berniat sama sekali menjengukku? Kasihan nenek. Beliau terlihat letih mengurus kami berdua sedari kecil hingga sekarang ini. Wajahnya yang dulu segar kini keriput. Rupanya nenek sudah tua.

Ayah dimana? Cacha benci ayah, tapi Cacha juga rindu. Ajeng sering bertanya padaku kenapa Ayah tidak pernah berkunjung? Sebenarnya salah kami apa? Apakah perkataan nenek benar, bahwa ayah tidak sayang lagi kepada kami berdua? Ayah jahat! Apakah benar Ayah yang membunuh ibu? Sehingga Ayah malu kepada kami sekadar untuk bertemu denganku?

Tidak terasa air mataku berlinang dengan derasnya. Setiap pembagian raport di sekolah, teman-temanku mengolok-olok kalau aku adalah anak haram yang ditinggalkan ayahnya. Para tetangga kanan dan kiri mencemooh kalau aku hanyalah anak buangan yang tidak diinginkan ayah.

Entahlah. Semua cacian dan hinaan yang masuk ke telingaku membuatku pusing. Dan akhirnya semuanya menjadi jelas ketika aku bertemu dengan Paman Muklis di Bandara Soekarno Hatta Sabtu siang ini.

“Paman mencarimu kemana-mana, Nak. Pulanglah ke Mataram. Tengok ayahmu yang semakin kurus di dalam kerangkeng besi. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Setiap malam ia menangis menyebut nama kalian, Cacha dan Ajeng. Ayahmu tidak bersalah, ia bukanlah pembunuh. Ia hanya dituduh telah membunuh ibumu. Padahal kau tahu sendiri, bukan? Ibumu meninggal karena tenggelam terbawa ombak.” Dahi Paman Muklis mengerut sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dia kehilangan ibumu, juga kalian. Dia kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarga dalam waktu bersamaan. Ayahmu tidak bersalah. Percayalah. Tapi mau bagaimana lagi, tuduhan kuat pasal 340 KUHP tentang motif pembunuhan berencana, menguatkan hakim untuk mengurungnya dua puluh tahun penjara. Sembilan tahun lagi dia baru bisa merasakan udara bebas.” Paman Muklis menarik napas. Tampak resah.

Aku masih terduduk mematung di lobi pemberangkatan. Pundakku terasa berat, dadaku mendadak sesak.

“Cacha…” Paman Muklis menatapku. Aku menundukkan wajah, memperhatikan kedua tanganku yang tiba-tiba lemas. “Pulanglah sebentar saja. Paman sudah membelikan tiket untukmu sekali jalan. Hanya kamu yang bisa menghapus tuduhan itu dan membebaskan ayahmu. Ayahmu amat rindu pada kalian berdua. Terusterang, Paman kesulitan mendapatkan kontakmu. Tapi Paman tidak menyerah, Paman terus mencari informasi terkait keberadaan kalian demi ayahmu, sahabat terbaik yang Paman punya.”

Mataku seketika berkaca-kaca dan sembab. Benarkah Ayah merindukan kami? Apakah yang dia alami selama sebelas tahun di dalam penjara tanpa kehadiranku? Mendadak air mata yang menggenang di mataku menetes tak tertahankan. Aku terisak.

“Maukah kamu menjenguk ayahmu yang sedang sekarat, Nak?” Paman Muklis merendahkan nada suaranya.

Suara keramaian di bandara seakan samar saat kalimat itu menancap ke telinga dan jantungku. Aku menoleh ke wajah penuh harap Paman Muklis dengan pipi yang basah. Kata Paman Muklis, nenek benci sekali pada ayah. Sehingga aku harus sembunyi-sembunyi bertemu dengannya di bandara ini usai sekolah.

Demi mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini kuanggap salah, aku menurut. Bahwa ayahku seorang pembunuh berencana yang tidak sesuai logika.

“Baiklah, Paman, Cacha mau pulang. Tapi sekolah Cacha bagaimana? Ajeng bagaimana? Apakah Cacha jemput Ajeng dulu di rumah? Dia pasti cemas mencariku. Begitupun nenek,” kataku.

“Tidak perlu, Nak. Kita hanya sebentar. Setelah vonis tuduhan ayahmu tercabut, kau boleh kembali ke Jakarta, meneruskan cita-cita kalian. Lalu kalian boleh pulang lagi menjenguk ayahmu yang sudah tua itu.”

Aku mengangguk lagi, menyeka air mataku dan mengusap ingus. Dengan tas ransel berisi buku-buku pelajaran dan kartu pelajar, aku memantapkan langkahku menuju tempat check-in, kemudian melewati pemeriksaan dan naik ke pesawat dengan tujuan Bandara Praya.

***

Tembok beton yang berdiri di hadapanku terlihat pengkuh dan angkuh. Seperti tidak mengenal belas kasihan bagi yang menghuninya macam ayah yang jelas tidak bersalah. Selama di pesawat tadi, aku lebih banyak diam, sementara Paman Muklis banyak menjelaskan apa yang selama ini tidak kuketahui.

Kata Paman Muklis, neneklah yang telah menjebloskan ayah ke penjara atas kekuasan Om Fahrul, adik kandung ibu yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Entah kenapa aku lebih percaya pada cerita Paman Muklis ketimbang nenek. Ayahku bukanlah pembunuh seperti yang kalian bayangkan.

Panjangnya lorong penjara yang sunyi dan gelap, membuat bulu kudukku merinding. Ini seperti neraka kehidupan yang sejujurnya aku sendiri belum melihat seperti apa bentuknya. Saat meliuk lagi ke kiri, kulihat dua penjaga berseragam coklat tengah berdiri memegang senjata api di tangan kanannya. Paman Muklis menghampiri mereka dan berkata ingin bertemu dengan ayahku.

Dua sipir itu mencatat nama kami dan menghubungi bagian pembawa kunci melalui HT yang tersampir di ikat pinggangnya. Kami kemudian dipersilakan duduk di bangku besi usang yang hanya bisa diduduki maksimal dua orang. Kudengar derap langkah semakin dekat ke arahku. Hatiku bergetar tidak karuan. Semakin dekat, dan rasanya aku ingin pingsan saja.

“Cacha? Anakku? Ya, Ayah yakin kau adalah anakku,” Namun suara berat itu membuatku menoleh, menguatkan hatiku yang ketakutan karena harus bertemu dengan masalalu. Dia ayahku. Ya, sampai kapanpun dia ayahku.

Sebelum laki-laki kurus berseragam oranye kumal itu duduk di hadapanku, aku segera berdiri dan mencium tangannya. Tentu saja dibubuhi dengan air mataku yang tidak bisa kuajak kompromi agar jangan keluar dulu sebelum percakapan kami selesai. Aku tidak bisa berdusta, kalau aku merindukan laki-laki yang separuh rambutnya sudah beruban ini. Kurasa itu bukan uban faktor usia, melainkan teramat banyaknya ia memikirkan suatu beban yang tak kunjung reda.

“Kamu pulang, sayang?” Dia ayahku, yang sebelas tahun kuanggap sebagai penjahat dan pecundang lantaran tak pernah mau menemuiku, kini mengelus rambut dan mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Sekarang siapa yang jahat? Aku atau dia? Seseorang yang selalu merindukanku siang dan maalam, menyebut namaku dalam setiap helaan napas dan doanya. Akulah yang jahat. Menuduhnya sebagai pembunuh dan ayah yang tidak bertanggungjawab.

Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk ayah, bilang kalau aku minta maaf atas kesalahpahamanku selama ini terhadapnya.

“Ayah sudah memaafkanmu, Nak, Ayah yang bersalah, tidak bisa menjemput kalian ke Jakarta. Dimana Ajeng? Dia tidak ikut?” katanya menatapku dengan bersimbah air mata.

Aku menoleh ke arah Paman Muklis, mencari jawaban. Tak kuduga ia pun menangis. Sesedih itukah pertemuanku dengan ayah? Sehingga para sipir pun ikut mengusap air mata.

“Ajeng akan menyusul, Ta. Setelah ini kalian bisa bersama-sama lagi. Tak ada yang akan bisa memisahkan kalian.” Paman Muklis menjelaskan.

Aku mengangguk setuju, kemudian memeluk ayah sekali lagi. Rasanya kostum yang ayah kenakan tidak sewangi dulu saat aku memeluknya. Kostum ini pasti jarang dicuci. Dan ayah jarang mandi. Tapi aku merasa nyaman berada dalam pelukannya. Aku tidak mau berpisah lagi. TIDAK MAU!

“Berhenti menangis, Nak. Jangan menangis lagi. Kita sudah bertemu. Semestinya kita bahagia,” Ayah mengendurkan pelukannya dan mengusap air mataku.

Namun sebelum aku ingin bicara panjang lebar padanya, para sipir menarik kasar ayahku dan bilang waktu besuknya telah habis. Aku menelan ludah. Kejam sekali mereka memperlakukan ayahku seperti itu. Sebelas tahun yang tak bisa kubayangkan ayah makan apa, tidurnya bagaimana, apakah ia dapat perlakuan yang layak atau tidak?

Ah, pikiran buruk itu membuatku semakin sengsara. Aku tidak tega menyaksikan ayah diboyong kembali ke dalam jeruji besi oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. Beliau menoleh kepadaku, aku mencoba tersenyum tegar, meski sebenarnya tidak.

Ayah, aku berjanji akan membebaskanmu dari sini. Bersabarlah… Aku sayang Ayah...

***

Cerita ini merupakan versi anaknya. Untuk lebih detailnya, saya tulis dalam bentuk novel yang bertajuk 'MARTANORA'
Novelnya bisa didapatkan di Pena Nusantara.
Kontak (WA : 0857-7186-0444)
Harga buku : Rp 44.100



Merayakan Kebebasan #Cerpen

Ada banyak serentetan kisah pilu yang berputar-putar di kepalaku. Lucu. Kadang aku suka tertawa sendiri mengingatnya. Laki-laki itu bernama Bombom. Panggilan sayang yang kulayangkan padanya. Karena bertubuh tambun dan tinggi besar, aku kadang memanggilnya si kasur empuk. Perkenalan yang tidak sengaja di sebuah bengkel motor, membuahkan benih-benih cinta antara aku dengan dia.

Dia tidak tampan, tapi aku menyukainya. Katanya orang gemuk seperti dia tidak akan kuat berjalan kaki sejauh satu kilometer. Jangankan 1 km, kuajak mengejar bus tujuh meter saja dia sudah melambaikan tangan. Tapi aku menyukainya.

Bombom tipikal cowok romantis. Bagaimana tidak, dia tak pernah absen membawakanku kejutan. Awal tahun 2012, dia memberikan boneka Modo–simbol Seagames yang kebetulan saat itu diadakan di Indonesia. Aku memang ingin sekali boneka itu sejak dulu, namun sayang tidak diperjual-belikan di tempat umum. Hingga akhirnya aku mendapatkannya dari Bombom.

“Kamu selalu tahu apa yang kumau,” kataku.

“Karena aku sayang kamu, Jesie. Semua pikiranmu terbaca olehku,” ujarnya gombal. Oh iya, Bombom juga pernah memberikanku sekuntum bunga mawar. Aduh, romantis, bukan?

Sebulan berikutnya, ia mengenalkanku pada kedua orangtuanya di daerah Bekasi. Saat itu ibunya sedang terkapar di rumah sakit karena penyakit diabetes. Kesan pertama yang kudapat saat bertemu dengan orangtuanya, aku merasa gemetar. Ayahnya yang seorang HRD di perusahaan TBK, wajahnya cukup sangar. Namun Bombom bilang, aku pasti bisa meluluhkannya.

Apakah kedua orangtuaku setuju seorang plankton berjalan dengan Tinky Winky? Jangan ditanya. Mereka selalu tersenyum bila Bombom bertandang ke rumahku, menenteng dua kotak martabak dan buah durian montong berukuran jumbo. Barangkali itulah siasatnya untuk menakhlukan hati keluargaku.

Tiga bulan pertama, hubungan kami sangat baik. Di tengah kesibukanku sebagai wanita kantoran, aku selalu menyempatkan diri bercakap-cakap dengannya melalui telepon. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang terjadi. Saat pulang kerja pun, aku dan Bombom masih bertukar cerita di kawat selular tanpa kabel. Bercerita ngaler-ngidul dan berakhir saat mata butuh dipejamkan. Serta memulai kembali perbincangan saat mata terbuka di pagi buta.

Selalu ada cerita seru yang kami lontarkan satu sama lain. Rasanya aku teramat sangat bahagia memiliki kekasih seperti dia. Selain perhatian, Bombom mudah sekali membuatku tertawa.

Semua masih baik-baik saja, sampai masalah pertama di bulan keempat pun muncul. Di mana kami bertukar ponsel sebagai wujud kepercayaan. Awalnya dia menolak, karena untuk apa saling percaya kalau harus membuat peraturan yang rumit. Hal itu malah membuatku curiga. Agar dia mau memberikan ponselnya, aku mengancamnya putus. Kata putus pertama yang kuajukan padanya.

"Papah, bagaimana keadaan Mamah? Bunda khawatir. Bolehkah Bunda menjenguk?" - From Indah.

Deg.

Jantungku remuk seketika membaca pesan yang tersangkut di trash ponsel Bombom.

"Sayang, nanti sore kamu mampir ke rumahku, kan? Kamu sudah janji lho, jangan pura-pura lupa lagi. Aku kangen banget sama kamu."

Perempuan bernama Dian merengek ingin bertemu.

Aku menarik napas. Siapa lagi wanita ini? Pikirku jengkel. Untuk membahas masalah ini, aku harus bertemu Bombom sesegera mungkin. Titik.

Minggu pukul sepuluh pagi, Bombom menjemputku di rumah. Aku sudah bersiap sejam yang lalu menunggu kedatangannya. Hari ini adalah awal pertengkaranku dengan Bombom. Aku tak banyak bicara dan menjaga jarak dudukku dengan dia yang sengaja kuganjal dengan tas selempang di tengahnya.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget. Pegangan ke pinggangku, nanti jatuh,” ucapnya dengan nada bingung.

Aku diam saja, malas menjawab. Nama Indah dan Dian terus menggelayut dan berputar-putar di otakku laksana angin puting beliung. Aku benci nama perempuan-perempuan itu. Sesak hati, aku memberanikan diri memulai pembicaraan. “Tolong jelaskan padaku siapa Indah dan Dian?”

Bombom menoleh dan memelankan laju motornya. “Siapa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, jangan mengeles macam bajaj. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku.”

Bombom menepikan motornya di depan mini market. “Kamu tidak membawa jamuan untuk keluargaku, Jesie?” Bombom malah mengalihkan pembicaraan.

Aku terdiam, malas menjawab. Hatiku sedang dilanda kebakaran, kenapa pula dia mencoba memberikan angin. Aku butuh air untuk memadamkannya, bodoh sekali kau ini. Makiku kesal dalam hati.

“Bombom, kalau kau tidak mau menjelaskan, biar aku pulang. Aku tidak jadi menemui orangtuamu. Sini, kembalikan ponselku! Aku juga bisa berselingkuh dengan laki-laki lain. Memangnya kamu saja. Dan kita PUTUS!”

Bombom memicingkan matanya padaku. Ini adalah pernyataan pembubaran barisan kedua yang kugugat untuknya. Seandainya di sana ada benda pecah beling, mungkin sudah kulempar benda itu ke jalanan. Deras hujan yang mengguyur ibu kota, menyibak rasa sakitku akan cinta yang terkhianati. Bukankah Bombom hanya mencintaiku? Hanya menyayangiku seorang? Bohong! Di belakangku, dia menggandakan cintanya pada dua perempuan sekaligus. Dasar buaya darat.

Dua hari dua malam aku tak menggubris pesan singkat dan telepon dari Bombom. Dia mengatakan bahwa ibunya masuk kembali ke rumah sakit karena penyakit diabetesnya kambuh. Aku tidak membalas pesannya. Malas. Hatiku sedang terselimuti kabut cemburu. Aku amat membencinya. Di dalam angkutan umum, aku menyeka air mataku, tidak peduli penumpang lain memperhatikan. Di perjalanan sepulang bekerja, Bombom lagi-lagi meneleponku. Ini panggilannya yang ke-23. Aku tidak jua menjawab. Tubuhku yang lelah, kusandarkan pada punggung jok metro mini yang keras dan karatan.

Tetapi mataku terlonjak saat menatap layar ponsel bertuliskan nama ayah Bombom. Mau tidak mau, aku terpaksa mengangkat. Dengan berlinang air mata dan dada yang amat sesak, aku mencoba menyamarkan tangisanku. “Halo, Om.”

“Halo, Jesie. Aldo bilang kau tidak mau mengangkat teleponnya. Kalian bertengkar? Ah, masa muda seperti kalian masih rentan cemburu buta. Aldo sudah bercerita panjang lebar tentang masalah kalian. Kami sedang berada di RS Citra. Mamah Aldo kumat lagi penyakitnya. Sebentar, ini Izmi ingin bicara denganmu.”

Aku menyeringai. Susah payah mengumpulkan kalimat.

“Kak Jesie, Kak Indah itu mantannya Mas Aldo, sudah putus setahun lalu. Jangan bertengkar lagi ya, kasihan Mas Aldo. Dia demam memikirkan Kak Jesie. Mamah juga sedang diinfus lagi. Izmi hanya minta Kak Jesie percaya pada Mas Aldo. Itu saja,” pinta Izmi memelas. Sebenarnya aku tidak peduli.

Hubunganku dengan Izmi bisa dibilang seperti sahabat. Dia kerap curhat tentang kisah remajanya padaku. Dan aku selalu senang menanggapinya. Kedekatan itu pun semakin akrab tatkala kami mancing bersama ke Bogor, merayakan kepulangan Ibu Bombom dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Namun sekarang situasinya berbeda. Aku sudah tak percaya Bombom lagi. Bilapun dia berucap ini itu, berjanji untuk mengajakku pergi ke luar kota, aku menganggapnya tipuan halus agar aku memercayainya.

Tiga puluh jam lebih diam-diaman, aku mengalah berbaikan. Walau sebenarnya aku masih kesal pada penghianatan Bombom. Hubungan kami normal seperti sediakala. Namun Bombom kembali berulah setelah aku luluh dengan semua rayuannya.

“Ayangku, Jesie, aku tidak bisa ke rumahmu siang ini. Motorku mendadak ngambek. Bila dipaksakan, bisa fatal. Aku butuh uang untuk memperbaikinya,” jelasnya di ujung telepon.

“Berapa?” tanyaku langsung tembak.

Bombom menyebutkan nominal. Aku langsung mentransferkannya via e-banking. Tak apalah merogoh sedikit uang demi bisa bertemu sang pujaan hati. Mungkin untuk memusnahkan rindu mesti harus berkorban, baik hati maupun materi. Namun setelah dikasih hati ayam, dia malah minta jantung pisang. Perangai buruk Bombom semakin menjadi-jadi. Perihal alasannya resign dari pekerjaannya, dia terus memoroti uang hasil tabunganku selama bertahun-tahun. Dan aku selalu saja tak tega membiarkannya nelangsa.

Hingga pada suatu titik, cincin hasil jerih payahku selama ini disitanya lantaran dia terlalu lama menjadi pengangguran. Kata Bombom, “Uangku adalah uangmu, dan uangmu adalah uangku.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya akibat rasa trauma kandasnya hubungan dia dengan Indah dulu. Maka ia tak mau hal serupa terjadi lagi ketika menjalin hubungan serius denganku. Lantas apa hubungannya denganku?

Entah terhipnotis atau apa, aku pun memberikan cincin itu pada Bombom. Tiga bulan kemudian, hubungan kami seperti benang kusut. Perlahan aku mulai sadar kalau uang tabunganku habis tak bersisa gara-gara Bombom. Cincinku yang dulu disitanya tidak kembali. Aku semakin curiga kalau benda bulat berwarna emas yang kubeli dari hasil keringatku, diberikannya pada wanita lain. Entah itu Indah ataupun Dian. Brengsek. Umpatku kesal dalam hati. Semua janji manis yang ia ucapkan, tak satu pun ditepati. Seperti saat dia berjanji mengajakku ke bulan. Bukan ke bulan, melainkan berkeliling dunia menggunakan sepeda ontel.

Hingga aku pun harus melontarkan kata putus untuk ke sekian kalinya saat Bombom berpura-pura tidak dapat menemaniku di malam pergantian tahun 2013 dengan alasan pembagian warisan keluarga. Bohong. Aku tahu Bombom mengarang cerita palsu.

Beberapa detik setelah pergantian tahun, hujan deras mengguyur atap dan beranda rumah. Rumput dan pohon jarak bergoyang tertiup angin. Pagi pertama di tahun 2013, kulalui dengan suasana duka yang menyelimuti kekalutan hatiku. Aku menatap debit air yang semakin deras.

Bombom, kenapa kau belum mengabariku? Desisku dalam hati. Sampai malam kembali tiba, aku gelisah menanti kabar dari Bombom tercinta. Ia tak juga menghubungiku. Aku gengsi menghubunginya lebih dulu, dan lebih memilih meringkuk di kamar, berharap ia mau berbicara denganku besok pagi.

Sedetik, dua detik, berganti menit, jam, dan hari, ia tak pernah merespon telepon dan SMS dariku. Rasanya jemariku tak tahan untuk mengetikkan nomor ponselnya, mencoba menguhubunginya untuk ke sekian kalinya. Dering pertama, tak ada jawaban. Dering kedua membisu, tidak ada jawaban juga. Dering ketiga, suara laki-laki yang kukenal menjawab malas. “Halo.”

“Bombom... aku minta maaf. Tempo hari aku kesal padamu.”

“Jesie, ini sudah berapa kali kamu mengucapkan kata ‘putus’? Baiklah, kita SELESAI!” telepon terputus.

Aku menggigit bibir. Kaget bagai tersambar petir. Tanpa sadar, air mataku jatuh berderai mencari anak sungai.

“Bombom, kenapa kau setega itu? Aku tidak serius mengatakannya.” Aku berbicara dengan tembok. Niat menenangkan hati mendengarkan radio, yang ada hatiku semakin berkabut. Lagu ‘Kesedihanku’ milik Sammy Simorangkir, mengiringi air mataku yang terus berjatuhan laksana hujan. Menurutku, lagu itu merupakan lagu paling spektakuler yang pernah ada dalam kisah kandasnya sebuah cerita cinta.

Meskipun aku sering patah hati oleh cinta-cinta yang lain, harus kuakui, aku sangat terpukul kehilangan Bombom. Eh, tapi kenapa lirik lagunya ada kata ‘indah’? Padahal yang kini tersisa hanyalah kenangan terindah dan kesedihanku tentang dia.

Aku sering melamun bila berangkat dan pulang kerja. Di mobil, di toilet, di kamar, di mal, saat menyebrang jalan, menghentikan bus, dan sampai nyasar ke tempat antah barantah lantaran tidak fokus pada nomor jurusanKopaja yang kutumpangi.

Kok banyak pesawat terbang ya? Kok banyak lapangan bola sih? tanyaku dalam hati. Pantas saja, rupanya aku melewati jalan belakang bandara.

“Pak, saya tersesat lupa jalan pulang. Tolong antarkan saya ke Terminal Kali Deres ya,” aku menepuk seorang tukang ojek yang sedang mangkal. Entahlah, saat itu aku tidak sadar kalau ternyata lapangan bola yang super luas dan di atasnya terdapat banyak beterbangan pesawat merupakan sebuah bandara. Aku sungguh merasa asing berada di tempat itu. Kopaja yang terakhir kunaiki rupanya berhenti di persinggahan pamungkas di daerah Rawa Bokor.

“Memangnya si Neng mau pulang ke mana? Lumayan jauh loh ke Terminal Kali Deres”

“Ke rumah lah, masa ke gua,” jawabku sekenanya dan langsung naik di jok belakang motor.

“Pundaknya berat tidak, Neng?”

“Beberapa hari terakhir, saya memang sedang kurang enak badan, Pak,”

“Si Neng ketempelan, makanya pundaknya berat. Biar saya antar ke orang pintar ya, Neng,” kata si bapak tukang ojek.

Apa? Aku ketempelan? Ketempelan makhluk halus? Siluman? Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Ternyata problema putus cinta bisa mengakibatkan manusia bergaul dengan bangsa jin. Canggih sekali.

Biar kujelaskan padamu, bahwa pada saat hatiku runtuh ke jurang terdalam, pada saat air mataku bercucuran bak hujan yang terus mengguyur jalanan, hati ini semakin pedih tatkala aku menghampiri Bombom ke rumahnya dalam keadaan sakit. Dengan napas yang kurasa tinggal satu tabung lagi, dan dada sesak yang tak bisa kujelaskan, aku melihat ia turun dari mobil dan memasuki garasi bersama ayahnya entah dari mana. Anehnya, ketika aku bertanya apakah ada Bombom di dalam, keluarganya mendadak dingin dan bilang tidak ada.

“Baru saja keluar,” kata ibunya dengan nada ketus. Kebohongan apa lagi ini? Jauh-jauh aku datang untuk menyelesaikan perkara, tapi yang kudapat hanya kesakitan hati yang semakin parah. Di bawah mendungnya langit, aku mencari tukang ojek dan menunggu bus jurusan Jakarta. Mungkin hanya tukang ojek yang setia mengantarkanku ke mana pun aku butuh.

Ketika telah mendapatkan bus, aku memilih duduk di barisan samping jendela. Hujan pun mulai turun. Menggenangkan seluruh kenangan tentang Bombom. Tentang manis pahitnya perjalanan kami selama dua belas bulan. Dan di sepanjang perjalanan pulang, aku mengenang banyak hal yang tak akan pernah terulang. Ingin menjerit, namun pita suara hanya sampai di tenggorokan.

Di luar hujan semakin menderas. Membawaku pergi dari semua luka menyedihkan ini. Hingga akhirnya air mataku tak kuasa lagi meluber di jalanan ibukota yang selama seminggu terakhir membuat dadaku membuncah sesak. Kala itu Jakarta mengalami banjir besar-besaran yang melumpuhkan seluruh akses jalan dan aktivitas. Barangkali langit turut menangisi kepedihan hatiku. Barangkali langit berusaha menumpahkan seluruh isinya untuk mengucapkan belasungkawa.

Enam bulan kemudian, aku berhasil mengeringkan air mataku, membalut hatiku dengan perban, mengeringkan lukanya hingga normal. Susah payah aku melakukan semuanya. Dan dia datang menyapaku. Seolah merasa tidak ada apa-apa antara kami berdua. Hey, kau kira aku masih mencintaimu? Setelah apa yang kau perbuat selama ini padaku? Enak saja memintaku kembali dan berceloteh tentang cinta. Memangnya aku punya banyak hati untuk menerima semua rasa sakitku selama ini? Mungkin aku terlalu bodoh untuk mencintai. Tetapi aku tidak rela jika harus tertipu lagi. Aku tidak cantik, tidak juga pintar. Tapi aku tidak bodoh untuk terus dipermainkan.

Tepat 35 bulan atau hampir tiga tahun pasca putusnya hubunganku dengan Bombom, aku merogoh isi dompetku yang pernah terselipkan fotonya di sana. Di selembaran foto berukuran dompet itu, ia yang mengenakan kaus polos berwarna hijau, celana kolor di bawah lutut, sandal jepit, sedang tersenyum menyusuri pohon bambu. Aku merobeknya hingga menjadi sepuluh bagian, lalu kuremas dan kuhamburkan ke halaman. Aku berhak merayakan hari kebebasanku tanpa diiming-imingi masa lalu yang suram dan penuh penyesalan.

Cinta memang butuh pengorbanan, tapi tak selamanya membuatmu miskin secara materi. Cinta memang perlu memaafkan, namun tak selayaknya kau berikan hati dan ragamu secara cuma-cuma pada orang yang salah sasaran. Kini semuanya sudah terungkap, bahwa kekasihku yang paling kucintai dulu, tidak lain dan tidak bukan adalah psikopat. Sungguh, aku tak bermaksud menjelek-jelekannya. Memang seperti itulah kenyataannya. Aku percaya, masih banyak ikan yang lebih berkualitas di laut (itupun kalau lautnya tidak surut). Nah, apakah laki-laki seperti itu pantas dicintai? Kurasa kalian bisa menjawabnya sendiri.

Kondangan dan Taksi Ajaib ala Flowers #TrueStories #Flowers #Cerpen

“Kalian sudah di mana? Gue hampir lumutan nunggu di sini.” Aku membenarkan posisi dudukku, memperhatikan dua laki-laki yang gerak-geriknya mencurigakan sedari tadi.

Siang ini cuaca amat terik. Menimbulkan buih-buih keringat di pelipis dan leherku. Rencananya aku dan keenam sahabatku akan kondangan ke tempat Yuni, teman satu kampus kami. Seperti yang sudah-sudah, setiap acara kondangan ke teman satu kampus, kami bertujuh patungan uang untuk membeli kado. Biarlah Vitri, Nia, dan Zaky yang mengurus. Aku hanya mendukung saja.

“Sebentar lagi, Ei. Kita lagi on the way ke sana. Naik Taksi.” Nia membalas chatku.

“Plat Taksinya nomor berapa?”

“Aduh, mana sempat gue lihat. Posisi lo dimana? Biar kita yang samperin.”

Aku menjelaskan panjang lebar sesuai posisiku saat ini. Kedua tanganku mendekap tas, takut-takut ada rampok, mengingat kolong Bunderan Slipi rentan dengan tindak kejahatan. Sebelum memutuskan untuk menunggu di tempat ini, kami sempat bersitegang di grup chatting. Susah sekali mengumpulkan tujuh kepala yang berbeda pendapatnya. Alhasil, lebih baik aku mengalah menunggu di persimpangan jalan.

Satu Taksi biru merapat ke arahku. Aku melongok melihat isinya. Siapa tau itu rombonganku. Nia dari dalam melambai-lambaikan tangan. Membuka pintu menyuruhku masuk. Aku celingak-celinguk ke belakang, mencari satu Taksi lagi.

“Kita cuma nyewa satu taksi, Ei. Ayo cepetan masuk. Nanti keburu ada polisi,” Nia menggeser duduknya agak ke tengah. Lebih tepatnya dipangku Zaky. Aku menganga lebar, “Apa? Satu Taksi?”

“Ini muat nggak? Bukannya kesepakatannya mau nyewa dua Taksi?”

“Muat-muatin ajalah, Ei. Lagipula kalau pakai dua Taksi takutnya malah berpencar.”

Aku mendengus tak berkomentar. Berimpitan dengan Nia, Zaky, Vitri, Tiur, dan Tya, semakin membuatku gerah. Sementara Puji duduk di depan menemani pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya. Sebenarnya dia mau menyilakanku duduk bersamanya, agar Nia tidak perlu dipangku Zaky segala. Tapi pak supir bilang, nanti takut kena sanksi polisi kalau di depan penumpangnya lebih dari dua orang.

Nah loh! Aku mendesis untuk ke sekian kalinya. Tubuhku terjepit tidak keruan. Mirip pepes pindang yang siap diobral di pasar.

“Aduh, dandanan gue luntur nih kena Indriani.” Zaky komplain karena mascaranya menipis. Nia tertawa saja menanggapinya. “Lu kecil-kecil berat juga, Indriani. Turun-turun dari taksi, gue langsung langsing.”

“Bagus donk, Jek, jadi gak usah diet-dietan. Hahaha” Nia memanfaatkan keadaan duduk sepuasnya di paha Zaky dan Tya. Tya pasrah menerima keadaan.

Tiur hanya membalas dengan tawa meledak-ledak. Dres anggunnya seketika tidak beraturan. AC sudah tidak ada rasanya. Vitri yang posisinya paling pinggir, jauh lebih kasihan tergencit. Ia tidak bisa berkutik lagi. Meskipun dongkol, aku juga ikut terbahak, menertawai kekonyolan sahabat-sahabatku ini.

“Lo udah lama nunggu, Ei?” Vitri membuka obrolan.

“Dari jam 10 gue udah nangkring di situ. Pegel tau nunggu kalian sejam lebih. Mana panas banget.” Seruku kesal.

“Nih, Tante Tya ngaret, Ei. Kita nungguin dia lama.” Zaky mengomel lagi.

“Maaf, ya, semuanya. Aduh, ini gue dari Depok, tempat kakak gue, Tadi mampir sebentar ke kosan ambil tas. Sorry ya Jeng-Jeng…” Tya mengelus satu per satu lengan manusia di dalam taksi ini.

“Nggak bisa gitu, Tante. Pokoknya nanti kena denda. Dandanan kita luntur nih gara-gara nungguin lo doang.” Nia memasang wajah super galak.

Tya mengusap hidungnya yang berkeringat, wajahnya pura-pura memelas.

Semua tertawa lagi. Pak supir yang mendengar keributan, hanya mengintip dari spion. Puji ikut menoleh, tertawa. Biasanya supir taksi tidak mau menerima jumlah manusia sebanyak ini ke dalam mobil argonya. Tujuh orang adalah jumlah yang banyak sekali. Tapi berhubung bapak supir orangnya baik hati dan tidak sombong, maka kami diberikan kesempatan menumpanginya secara beramai-ramai.

**

“Ei sama Tya gak ikut belanja nih, bawain kadonya! Berat tahu.” Vitri mengeluarkan plastik extra large dari dalam bagasi, mengikuti perangai Zaky. Nia membayar upah Taksi, sedangkan Tiur dan Puji menutup mata dengan tangan. Tampaknya mereka silau kena pantulan sinar matahari. Atau, takut mendadak hitam legam terbakar teriknya.

“Ini apa? Bed Cover?” Aku menerima plastik bersisi kado kotak tidak kalah besar untuk mempelai pengantin.

Sudah menjadi kebiasaan lumrah bagi kami membagi tugas. Aku tidak ikut berbelanja karena sedang ada urusan di rumah. Begitupun dengan Tya yang sedang berkunjung ke rumah kakaknya di kawasan Depok. Ini adalah isi kado yang sama untuk ke tiga kalinya, setelah kondangan ke Yana dan Siti.

Udara siang terasa semakin terik. Kaki kami sudah menginjak gedung pernikahan Yuni, mengisi buku tamu, lantas menyerahkan kado besar pada petugas pencatat tamu. Zaky yang mewakilkan menulis nama kami bertujuh.

“Suvenirnya mau gelas permen atau foto?” Pencatat tamu itu bertanya.

“Kalau dua-duanya tidak bisa ya?” Aku balik bertanya.

“Bisa. Hanya fotonya satu beramai-ramai.”

Aku berembuk sebentar dengan enam sahabatku. “Gimana?” Kami saling mengangguk dengan bahasa tubuh. Hanya aku dan enam sahabatku yang mengenali bahasa tubuh tersebut.

“Ya udah deh, Mba, kita pilih dua-duanya saja,”

“Kalau begitu, ini kupon untuk fotonya. Dan ini gelas permennya masing-masing orang kebagian satu, ya,” Mba Penerima tamu memberikan satu kupon foto untuk Nia dan tujuh gelas permen pada kami.

Gedung pernikahan semarak dengan tamu-tamu undangan. Musik melantun merdu memenuhi ruangan. Bunga berwarna-warni terpampang indah di setiap penjuru pintu. Eksotis. Mempelai wanita cantik sekali. Kamipun mendekat bersalaman, mengucapkan selamat dan cium pipi kiri-pipi kanan.

“Makasih ya udah datang. Komplit lagi, bertujuh.”

“Iya, Mbak Yun. Rasanya senang bisa berkesempatan datang ke tempat bersejarah ini. Cantik sekali dirimu.”

“Ah, Ei bisa saja. Kalian langsung makan saja di paresmenan. Nah, di sebelah kanan ya.” Yuni menunjuk meja makan panjang dengan tersenyum sumringah. Aku tidak bohong mengatakan bahwa dia hari ini terlihat jauh lebih cantik.

Setelah bersalaman, kami bertujuh langsung menyerbu makanan. Tepat sekali tiba gedung pukul 12 siang. Perutku sudah keroncongan.

“Kalian mau makan apa?” Mataku mencari-cari es krim. Tidak ada.

“Makan nasi aja biar kenyang.” Nia mencomot piring, sendok, garpu, dan isinya. Disusul Zaky, Vitri, Puji, Tya, dan Tiur. Aku mengekor paling belakang.

“Di sini gak ada es krim, Ei.” Vitri yang hafal betul gelagatku menyergah bangku kosong. Kami duduk berpencar, sibuk dengan makanan masing-masing yang kini ada di pangkuan kami. Hanya aku dan Vitri yang duduk bersisian.

Dimana pun berada, es krim adalah sasaran favoritku. Teringat setahun yang lalu saat menghadiri wedding party Lina, teman kampus kami juga. Saat makanan tandas di piring, kami bertujuh langsung menyerbu es krim yang sejak kami datang sudah menggiurkan lidah untuk menyecapnya.

“Kayaknya cuma nyampe kerongkongan ini mah.” Zaky menyeletuk asal, tangannya menjilati sendok es krim yang sudah tidak berasa.

“Gue gak puas nih, sumpah.” Nia meletakkan tempat es krim yang berukuran mini itu ke bawah bangku.

Tanpa basa-basi, aku mengompori enam sahabatku untuk nambah lagi. Dan di sana kami berjejer mengantri es krim untuk kedua kalinya. Tidak peduli semua mata memandang risih. Pelayan es krim hanya manut menuangkan krim ke tempat mini itu. Membuatku tidak sabar untuk menghabiskannya satu loyang penuh.

“Dulu kita pernah malu-maluin di acara nikahannya Lina. Gue sebenernya bingung mau taruh dimana lagi muka gue saat itu. Tapi jujur gue juga gak bisa ngelewatin es krim di depan mata. Meski hanya sesendok tok.” Vitri tergelak mengenang masa itu.

Aku juga sudah sedari tadi senyum-senyum sendiri mengingatnya. Kami laiknya anak kecil yang tidak bisa kehilangan momen es krim gratisan.

Ruangan makan semakin ramai dengan suara sendok dan garpu yang mengenai piring. Juga tawa dan bincang-bincang tamu lainnya. Aku dan Vitri sudah mengenyahkan seluruh makanan di piring ke dalam lambung. Saatnya untuk cuci mulut.

“Mau ke buah, kan? Gue ikut.” Zaky beranjak dari duduknya, menarik lenganku merengek minta diajak. “Sayangnya gak ada es krim di sini. Gue sudah mendamba-dambakan dari sebelum berangkat.”

“Gue sama Ei juga udah ngebayangin pesta es krim di sini. Tapi emang gak ada, mau gimana lagi. Nanti beli sendiri ajalah di rumah masing-masing. Hehe…” celetuk Vitri.

Saat aku, Vitri, dan Zaky mengerubungi ruang cuci mulut, Nia, Puji, Tiur, dan Tya sudah berbaris di belakang. Amboi, makanannya banyak sekali. Ada puding coklat, puding peach, kue bolu, aneka buah-buahan, dan minuman ringan lainnya. Seketika mataku mengerjap-ngerjap ingin mengambil semuanya.

Zaky dan Nia berebut garpu, tertawa mengambil makanan kesukaan mereka, yakni puding coklat. Tiur, Puji, dan Tya terlihat kerepotan menggenggam segelas sirup di tangan kiri mereka, dan piring kecil di tangan kanan berupa potongan buah melon dan semangka. Sedangkan aku dan Vitri sudah hinggap ke beberapa tempat mencicipi kue cubit.

“Eh, Nia, bantuin gue dong… Kenyang banget nih gue.” Zaky bekerja keras menghabiskan setengah potongan puding di piringnya. Nia melotot, suruh siapa ambil banyak-banyak, demikian maksudnya. Aku sendiri rasanya ingin muntah karena saking penuhnya perut oleh makanan.

“Habis ini kita foto-foto.” Vitri mengambil selembar tisu dari meja paresmenan, mengelap mulutnya yang belepotan.

Kami bertujuh menghampiri sesi pemotretan. Zaky merogoh tas selempangnya, mengeluarkan bedak dan lipstik. Warna merah di bibirnya memudar. Begitupun dengan bedaknya yang sudah luntur. Nia tidak mau kalah, meski ia cewek cuek yang tidak mementingkan makeup, namun kali ini dia berusaha sefeminin mungkin di depan kamera.

“Gue pinjem sisirnya dong, Ei…” Vitri menungguku yang sedang asyik menata rambutku helai demi helai.

Setelah memastikan sudah tampil cantik, kami bertujuh antri untuk seksi pemotretan. Dengan tingkah yang terus pecicilan tidak mau diam, akhirnya tibalah kami menjadi model terkenal. Nia menyerahkan kupon pada fotograper. Kamipun beraksi di atas panggung dengan gaya yang jauh dari pantas sebagai artis dadakan.

“Lah, koq tiga, Bang? Bukannya kami hanya mendapat satu kupon?” Aku kaget saat tukang foto memberikan tiga lembar hasil jepretan, katanya bonus. “Kalau begini caranya pasti ada yang iri, Bang.” Aku melipat dahi.

Aku dan keenam sahabatku turun panggung dengan nada kecewa. Kalau hanya tiga foto, lantas empat yang lainnya harus rela gigit jari.

“Ei, coba lo ngomong sama abangnya bisa diprinin lagi gak? Kan lo jago ngomong tuh!” Nia memberikan usul.

Ada benarnya membujuk sang fotograper, siapa tau kami bisa bawa pulang satu-satu. Dan akupun melangkah mendekati payung yang disorotkan lampu kamera. “Bang, apakah kami bisa cetak empat foto lagi? Kami kan ada tujuh orang, sedangkan tadi Abang memberikan tiga lembar jepretan. Kasihan yang gak dapet.”

Sang Fotographer berpikir sejenak. Tumpukan antrian sesi pemotretan bertambah panjang. “Kalau mau, si Neng baris lagi di belakang.” Mas fotograper kembali sibuk memberi aba-aba pada artis dadakan di panggung.

Aku melangkah antusias memberikan kabar baik pada sahabat-sahabatku, “Kita baris lagi di belakang.”

“Boleh, Ei?” Nia tertawa penuh kemenangan.

Kami berbaris lagi di belakang antrian. Bedanya tidak seperti antrian pertama. Kali ini tidak ada yang mengeluarkan cermin, bedak, lipstik, dan sisir. Kejadian ini mengingatkanku pada saat mengantri es krim kedua kalinya di acara kondangan Lina. Aku menggeleng-geleng. Sungguh memalukan. Aku dan keenam sahabatku laiknya orang ndeso yang haus akan jepretan kamera.

Semua mata memandang heran. Kami tidak peduli. Kameramen berbaik hati memberikan empat jatah foto lagi. Dengan gayanya yang khas, ia memberikan aba-aba, dan kami pun tersenyum lebar. Tujuh anak manusia ini selalu membuat rusuh di manapun berada.

Chees…

Empat jeperetan keluar dari mesin otomatis itu. Aku tersenyum lebar.

Akhirnya kami memegang hasil jepretan satu-satu, melambai-lambaikan membiarkannya kering. Setelah pamitan pada kedua mempelai dan keluarga pengantin, kami bertujuh berlenggak-lenggok keluar gedung, melewati penjaga buku tamu. Lihatlah, penjaga buku tamu itu terbengong-bengong melihat kami memegang foto di tangan kami. Bukankah jatahnya satu untuk beramai-ramai? Suka-suka kita, dong, syirik aja!

Tanpa rasa berdosa sedikitpun, kami terus tertawa hingga di luar gedung pernikahan, menertawai sikap kami yang tidak tahu malu. Kadang kebahagiaan tak dapat diukur hanya dari tingkat usia dan kedewasaan. Inilah rasa bahagia sejati sesungguhnya. Tertawa-tawa tanpa memikirkan hal apapun kecuali kekonyolan kita.

Selepas kondangan, kami duduk beralaskan rumput di bawah pohon rimbun, kemudian menyetop taksi yang sudi menampung kami bertujuh dalam satu angkutan. Ajaib, kan?