Rabu, 20 Juli 2016

Puing 18 #Jingga #NovelSeries

Honda Jazz diparkirkanya di basemant dekat lift. Usai melakukan penerbangan Lombok-Jakarta selama tiga hari, Jingga merasa sedikit lelah. Ia ingin buru-buru tiba di tempat tidur. Namun saat hendak berbelok menuju lift, kedua matanya terpatri pada plat mobil Rama yang bersisian dengan mobilnya. Jingga menggelengkan kepala. Mungkin itu hanya halusinasi saja karena terlalu sering memikirkan mantan kekasihnya.
Setibanya di apartemen, Jingga langsung merebahkan tubuhnya ke springbed. Beberapa hari terakhir, ia susah tidur. Tanpa membuka jaket dan syal yang membungkus tubuh langsingnya, Jingga terpejam hingga langit menutup tirai siang. Ini merupakan tidur terlelapnya pasca tiga bulan berpisah dengan Rama.
Di kamar nomor 75, Rama terbangun mendengar sms yang masuk dari operator seluler. Rajin sekali pihak operator mengirimkannya pesan. Ia membuka matanya menatap langit-langit kamar. Nyawanya belum sepenuhya kumpul. Ia menguap, tidurnya lumayan lelap. Ia kegerahan karena lupa tidak menyalakan AC. Di kamar mandi itu, ia menyalakan shower, membiarkan dingin air membasuh hatinya yang bergejolak. Ingatannya terus melayang memikirkan dimana gadis bunglonnya berada. Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana kolor pendek, Rama duduk di balkon.
Di luar langit sudah gelap. Purnama hari ke tiga di bulan Agustus sedang berbincang dengan bintang di bawahnya. Jingga suka sekali menyaksikan bulan dan gemintang. Ia berharap gadis itu akan melakukan hal yang sama, di bawah langit yang sama, saling mengenang. Ia melirik ke kanan, menghayal Jingga melakukan hal serupa, yakni memegang pagar besi, menengadahkan wajahnya ke langit lepas. Tersenyum. Lalu Rama kembali menatap purnama, melihat senyum Jingga yang manis tergambar jelas di sana. Matanya yang sayu membuat dada Rama sesak. Purnama dan gemintang lalu kompak menertawai kekalutan hatinya yang tercabik-cabik. Rama menarik napas.
Diluar dugaan, pintu balkon tetangga sebelah kanan apartemennya terbuka. Keluarlah seorang perempuan yang sibuk menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Dia hanya mengenakan tanktop putih yang dibalut jubah hitam panjang dan celana pendek berwarna gelap. Betapa terkejutnya Rama saat menyadari gadis itu adalah seseorang yang beberapa hari terakhir membuatnya kelimpungan. Gadis yang menghilang dua puluh tiga tahun tiga bulan dalam kehidupannya.
Gadis itu memegangi pagar dan menengadahkan wajahnya ke atas. Persis apa yang dilakukannya saat ini. Rama tersenyum memperhatikan tingkah Jingga dalam kegelapan. Ia ingin sekali menyapanya, namun bingung harus berbuat apa. Rasanya gugup dan gemetar.
Jingga kesulitan menguncir rambutnya akibat malas menyisir. Ia baru saja menuntaskan bermain busa di bath tub setelah tertidur dua jam di kasur empuk. Dua jam yang menurutnya sangat membantu memulihkan tenga dan pikirannya. Ia mengedipkan mata saat melihat bayangan laki-laki yang mirip dengan Rama memegangi pagar. Sama seperti gayanya saat ini. Lagi-lagi pikiranya kacau. Semilir angin malam mengucapkan selamat malam. Bayangan Rama yang berdiri memegangi pagar, kini memandang dirinya dan tersenyum. Jingga bergidik dan langsung masuk ke apartemennya. Kenapa jadi horror begini, pikirnya.
Rama memandangi punggung Jingga memasuki kamar. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia diam tak berekspresi? Apakah dia membenci kehadirannya? Atau sengaja menjaga jarak karena lusa akan melangsungkan pernikahan dengan orang lain? Gumamnya dalam hati.
Pintu balkon Jingga tertutup kembali. Rama ingin sekali menyapa gadis itu untuk yang terakhir kalinya. Namun sekujur tubuhnya gemetar. Rasa bersalah terus menghantuinya. Ia merasa menjadi laki-laki pecundang dan pengecut.
Jarum jam terus berputar. Tiga puluh satu menit tiduran di kamar, Jingga gelisah memikirkan bayangan Rama yang terus menjelma seperti hantu. Ia menyalakan TV LED. Lagi-lagi tayangan tentang dunia politik. Ia suka pusing menonton tayangan tersebut. Digantinya channel yang lebih menarik. Sepasang kekasih sedang berjalan bersisian di taman serba hijau. Sang pria menyuapi es krim ke mulut wanitanya dengan candaan yang membuat hidung wanita itu belepotan. Kenapa melihat pasangan lain bahagia sekali hidupnya? Kenapa dia sendiri tidak? Seketika hati Jingga tersayat perih. Dimatikannya TV LED tersebut. Ia mengambil kunci mobil untuk menikmati suasana malam dari kepiluan hatinya.
**
Rama memandangi lukisan wajah Jingga yang penuh dengan solasi bening. Robekan kertas membuat bagian itu semakin rumit. Ia sungguh merindukan gadis yang ada dalam lukisan itu, mendekap tubuhnya yang hangat. Dadanya panas mengingat sebentar lagi ia akan kehilangan gadisnya untuk selama-lamanya. Bagaimanapun juga, ia harus menemui Jingga sebelum pernikahan itu berlangsung. Ia hanya ingin meminta maaf atas kebodohannya menerima tantangan konyol Jingga, menikahi Kilka. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Rama bergegas keluar apartemen untuk mencari angin.
Sandal teplek kesayangan sudah menempel di kaki mungil Jingga. Siap menemani sejauh apapun gadis itu pergi. Kedua kakinya gemetar saat melihat halusinasi mantan kekasihnya berdiri di sampingnya. Jingga melawan rasa takutnya dengan menyentuh wajah Rama yang berdiri di hadapannya. Betapa ia terkejut saat jemarinya berhasil mendarat di pipi itu.
“Akhirnya kamu pulang juga. Aku mencarimu kemana-mana,” Rama mendekati gadis yang mencepol sembarang rambutnya ketika sedang mengunci pintu.
“Benarkah ini kamu, Rama? Kupikir kaulah yang tidak akan pernah pulang,” Jingga mematung tidak percaya.
Suasana menjadi kikuk. Rama serba salah harus berbuat apa. Jingga menggigit bibir bawahnya, bingung. Ternyata mobil yang terparkir di sebelah Jazznya benar milik Rama. Juga bayangan hitam laki-laki bertubuh tinggi tegap yang memegangi pagar di balkon, menengadahkan wajah ke langit dan memandangnya dalam kegelapan adalah sungguhan Rama.
“Aku tidak bisa tidur. Maukah kau menemaniku jalan-jalan?” Patah-patah, Rama mencoba mengawali percakapan.
Tanpa menjawab dan memperlihatkan bahasa tubuh, Jingga mengikuti langkah Rama dari belakang. Keduanya sama-sama diam. Jingga tidak menyangka pertemuannya dengan Rama terjadi lagi. Hatinya bertanya-tanya; apakah Rama ke Jakarta dalam rangka menghadiri seminar lukisan? Atau berbulan madu bersama Kilka? Namun lidahnya terasa kelu untuk bertanya banyak hal. Rasanya dia sudah tidak punya hak apapun tentang laki-laki yang kini sah menjadi milik suami orang, baik menurut hukum maupun agama.
Jantung Rama berdegup cepat. Perasaan senang sekaligus sedih meliputi segenap perasaannya. Ia ingin sekali menggenggam tangan Jingga yang halus, tapi apakah dia masih boleh menyentuh calon pengantin yang dua hari lagi menikah? Dadanya benar-benar sesak.
Jingga memasang sabuk pengaman di bahunya. Ia masih belum bersuara bertanya apapun. Ia melirik sekali lagi wajah Rama yang serba salah. Sama seperti dirinya yang serba salah.
“Bagaimana kabarmu?”
Keduanya justru melontarkan kalimat yang sama. Meski intonasinya berbeda. Untuk mengurangi rasa groginya, Rama melajukan mobil keluar dari basemant. Seemntara Jingga menatap ke luar jendela. Jalanan ibukota tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi juga. Cukup lengang. Mengingat malam ini adalah malam minggu pukul sebelas.
Rama melajukan mobilnya sangat pelan. Ia tidak tahu mau kemana. Namun berada di dekat Jingga seakan waktu berhenti berputar. Ia ingin menghabiskan waktunya hanya bersama gadis itu.
Deru mobil dan kibasan angin mengusir senyap. Lampu-lampu jalanan memberikan efek tenteram. Keduanya masih diam. Rasanya kaku sekali untuk memulai percakapan.
“Bagaimana kabar Kilka?”
“Kamu tidak menanyakan kabarku?”
Jingga menggeleng. “Kamu terlihat baik-baik saja, jadi aku tak perlu bertanya,” umpatnya dalam hati.
“Aku sudah bercerai dengannya sebulan yang lalu.” Rama melirik Jingga yang menatapnya penasaran.
“…”
“Dari awal aku katakan padamu bahwa aku tidak mencintai dia, Jingga. Tapi kau memaksaku. Dan kamulah yang menang karena aku tidak berhasil mencintai dia seperti yang kamu inginkan.”
“Kita tidak mungkin bersatu. Dunia kita berbeda, Rama.” Jingga merasa senang mendengar perceraian Rama, sekaligus sedih karena tak bisa melawan takdir untuk hidup bersama laki-laki itu.
“Di dunia ini tidak ada yang mustahil, Jingga.”
Jingga memandang ke luar jendela. Daun-daun yang gugur tergilis roda menimbulkan suara gemeretas. Sesungguhnya ia mulai terbiasa tanpa Rama. Tapi kenapa laki-laki itu harus muncul kembali dalam kehidupannya? Hatinya sungguh rapuh menghadapi semua ini.
Rama memperhatikan sikap Jingga yang berubah dingin. Sifat bunglonnya kembali diperlihatkan. Mungkin dia sedang menjaga jarak atas pernihakannya minggu depan, pikirnya. Langit ibukota tampak redup oleh cahaya lampu yang temeram. Gedung-gedung tinggi menjulang laksana robot persegi panjang yang mengeluarkan cahaya warna-warni. Rama menepikan mobilnya di seputaran Bundaran Hotel Indonesia. Dadanya terasa semakin sesak. Ia butuh oksigen tambahan untuk melancarkan pernapasannya yang tersumbat. Di sepanjang trotoar, sepasang muda-mudi berceloteh heboh. Tidak banyak. Hanya satu-dua.
Merasakan ada yang ganjil, Jingga menoleh ke arah Rama, bertanya apakah mesin mobilnya bermasalah? Atau bannya bocor? Rama menggeleng. Ia mematikan mesinnya tanpa berkata apapun.
“Lantas kenapa kita berhenti di sini?” Jingga masih menatap mata Rama yang terlihat lelah. “Kamu mengantuk, Ram? Sini, biar aku yang menggantikan menyetir mobilnya.” Ia berusaha menggeser duduknya.
Rama menggeleng. Menolak Jingga menggantikan dirinya menyetir. Ia membuka jendela mobil, membiarkan semilir angin menyusup masuk. Menggantikan udara pengap dalam jiwanya yang gelap.
“Seminggu yang lalu, bapak masuk ICU. Saat yang bersamaan, aku bertemu dengan Azka. Dia memberikanku foto ini,” Rama mengubek-ubek laci mobil dan menyalakan lampu.
Jingga bengong tidak mengerti. Dahinya berkerut.
“Bila kau bertemu dengan gadis imut ini, katakan padanya bahwa aku amat sangat menyesal. Berpisah dengannya berpuluh-puluh tahun, membuatku rindu. Dan saat mengetahui ia akan menikah dengan orang lain, hatiku bertambah pilu. Aku teramat sangat merindukannya.” Rama menahan air matanya agar tidak tumpah.
Mata Jingga berkaca-kaca.
“Aku pernah hampir gila ditinggal menikah oleh tunanganku tiga tahun silam, dan aku jahat sekali meninggalkanmu menikah dengan orang lain. Sekarang aku harus merasakan lagi rasanya kehilangan ditinggal pergi olehmu. Aku berhak mendapatkan balasan setimpal,” ucap Rama sambil mengusap wajah.
Napas Jingga seperti tersumbat. Mengapa dunia ini sempit sekali, pikirnya dalam hati. Ia spontan menggenggam tangan Rama dan berkata, “Aku tidak jadi menikah,” katanya Lirih.
Mata Rama memicing. Apa dia tidak salah dengar?
“Saat aku dan Heri sedang memilih gaun pengantin, mantan istri Heri meneleponya untuk meminta rujuk. Aku tidak tega. Perempuan itu lebih membutuhkan Heri sebagai sosok ayah dari anakya. Lagipula aku tidak punya perasaan apapun pada dia. Aku hanya sedang belajar mencintainya, mengingat umurku yang semakin tua.”
Jingga membuka pintu mobil dan berjalan mengitari Bundaran HI. Ia tak peduli jika Rama meninggalkannya seorang diri di sana. Banyak Taksi yang berkeliaran di sini. Ia hanya tidak kuat menahan bendungan air matanya yang meluber. Ia benar-benar menangis malam ini. Menangisi kepiluan nasibnya.
Rama membiarkan Jingga berjalan di seputaran air mancur. Namun kaki gadis itu melangkah terlalu jauh dan tak kembali. Guratan mata sayu dan wajah sendu Jingga membuat hatinya menjerit. Gadis itu selalu punya cara sendiri untuk menutupi kesedihannya.
Rama berlari menyusul langkah kaki Jingga yang semakin jauh. Dia tak mau kehilangan gadis itu lagi. Tidak mau. Dengan napas yang tersengal, ia menarik lengan Jingga secara paksa, “Kau hendak kemana, Jingga? Kenapa kau meninggalkanku?”
“Aku sedang jalan-jalan malam, bukankah tadi kau yang mengajakku? Kukira kau mengikuti di belakang, dan kupikir kau yang justru meninggalkanku,” Jingga mengangkat bahu, matanya sembab. Tatapannya datar tak berekspresi. Wajahnya kian sendu. Rama yang merasa bersalah, menarik kencang tangan Jingga, menyebabkan tubuh mungil gadis itu jatuh ke pelukannya.
“Jangan pergi lagi, kumohon…” Rama menangkap tubuh Jingga yang terjatuh ke pelukannya. Mencium aroma wangi tubuh Jingga, seperti mencium sehektar taman bunga. Wangi harum yang menenangkan.
Dada Jingga bagaikan terjepit saat Rama menariknya kencang. Ia bisa mencium kembali aroma maskulin dan hangatnya tubuh Rama. Rasanya damai berada dalam pelukan laki-laki itu. Jingga semakin pilu. Air matanya kembali basah. Ia tak bisa menutupi kesedihannya lagi. Hanya balas pelukan yang bisa ia lakukan.
“Aku tak akan membiarkanmu berjalan sendirian. Aku akan selalu di sampingmu, memelukmu, menghangatkan saat kau kedinginan, dan mendinginkan saat kau merasa panas. Jingga Anggunella, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Tak peduli dengan semua perbedaan kita. Aku akan selalu bersamamu,”
Jingga tersedu sedan mendengar ucapan Rama. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Rama yang bidang, memukulnya kencang-kencang.
“Dan aku… Aku tak akan berpura-pura lagi tidak membutuhkanmu, Dewa Gede Ramayoga…”
Rama menangkup wajah Jingga yang sendu. Disaksikan purnama, gemintang, dan terang lampu-lampu kota. Dua manusia itu tampak kecil karena dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi di sekitarnya. Keduanya saling menertawakan kegetiran masing-masing sambil berderai air mata.
Sejauh ini, hanya Rama yang berhasil meluluhkan keras hatinya, mencairkan ego dan membuatnya tertawa. Akankah ia harus membuka lagi hatinya untuk laki-laki yang saat ini sedang terisak memeluknya? Rupanya laki-laki juga bisa menangis, pikirnya.
Jingga memegang lengan atas Rama yang berotot. Ia menahan rasa harunya yang terbendung di pelupuk mata. Lucu sekali hidup ini. Selama ini hatinya mengambang di lautan lepas. Terombang-ambing ombak tapi tak jua tenggelam. Barangkali hidup ini ibarat pasir di pesisir laut. Meski berkali-kali terhantam derasnya arus dan terinjak, mereka tetap menerima. Walau kadang hantamannya keras dan menyisakan luka. Gadis bunglon itu masih berlinang air mata.
Kalau cinta itu misterius, Jingga percaya. Karena cinta bisa merasuki siapa saja yang dikehendakinya. Sifatnya bisa lembut, bisa juga kejam. Ada manusia yang hidup dengan banyak cinta. Ada juga yang miskin cinta. Di pelukan Rama, Jingga mengakui bahwa dirinya membutuhkan Rama lebih dari apapun.
Dan dibalik kisah memilukan ini, selalu ada tangan-tangan lain yang berperan. Dan Azka lah orang dibalik semua ini. Azka yang mengumpulkan puing-puing masa lalu Jingga dan Rama laksana puzzle yang terpisah dan menyambungkannya kembali. Bertahun-tahun lamanya Azka menyembunyikan Anggun dari Rama, menyamarkan Dewa dari Jingga, dan bertahun-tahun itulah ia menjaga rahasia dua sahabatnya, lalu mempersatukannya.
***
Tiga tahun yang lalu, saat Rama terpuruk, Azka mereferensikan kamar apartemen nomor 75 sebagai tempat persembunyiannya dari sakitnya kata ‘patah hati’. Satu nomor yang terhalang nomor 76 dengan kamar Jingga. Mungkin semua ini kebetulan, atau bisa jadi disengaja.
Yang jelas, Azka mengetahui nomor itu dari Jingga. Tanpa sedikitpun Jingga curiga bahwa Azka berniat menyelamatkan jiwa sahabatnya yang saat itu gundah gulana karena putus cinta dan gagalnya membina rumahtangga. Jingga dan Rama pernah mengalami pahitnya mengenyam pendidikan tentang cinta. Walaupun jika kau berani bertaruh, taka da dunia pendidikan tentang sesuatu kasat mata yang membuat manusia buta hati, buta mata.

Senin, 18 April 2016

Seperti Lagu yang Sering Kudengar #SebuahPuisi

Awalnya biasa saja. Lalu tumbuh benih cinta. Kemudian cinta mati lantas patah hati. Dan selanjutnya cinta itu berubah jadi benci. Moveonnya setengah mati, menguras seluruh energi.
Saat cinta itu benar-benar pergi dan telah jauh berlari, entah kenapa dia kembali lagi.
"Sumpah deh, gak sudi balikan lagi... Pokoknya aku udah punya pengganti, jangan ganggu lagi, ya . PLEASE!!!"
Beribu alasan yang terlontar untuk menolaknya, tak mematahkan niatnya untuk memperbaiki masa lalu yang menyakitkan itu.
Eh, benar saja balikan lagi, kasih kesempatan ketiga, yang katanya kesempatan kedua itu telah habis. Bukan karena tak tega ataupun masih cinta, tapi terlebih ingin membuktikan keseriusannya untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Rupanya tanda titik bisa berubah jadi koma. Ajaib memang.
Meski kadang, di pertengahan jalan selalu hadir yang namanya kecewa, kesal, menyesal, hampir menyerah, dan ragu. Serta di persimpangan, ada banyak pertemuan dengan orang yang lebih baik yang membuat bimbang memilihnya. Masa lalu, maupun orang baru dikenal, yang menjadi godaan terhebat untuk tetap memilih tinggal ataupun pergi selamanya.
Tapi, ya begitulah kadang hati manusia terbolak-balik. Pasang surutnya ibarat salju di Gunung Everest. Yang kadang membeku, menipis, bahkan mencair dan kering. Rasa benci yang membara, rasa cinta yang sempat hambar, kini muncul lagi begitu saja. Kemudian berubah ragu lagi, hambar, dan ingin mengakhirinya sekarang juga. Membuat semuanya bertolak belakang dengan kenyataan.
Seperti lagu yang sering kudengar.

Minggu, 07 Februari 2016

Legenda Citarik #Cerpem

10 Juli, 2010 - Citarik, Sukabumi

Pagi itu di sebuah ruang kerja.

“Boleh minta air minumnya?” tanyaku pada seorang perempuan berambut panjang yang sedang duduk menatap layar komputer.

Ia memandangku, bertanya siapa. Waktu hari pertama bergabung kerja di kantor ini, aku memang tidak sempat berkenalan dengannya. Menurut rekan kerja yang lain, kemarin dia tidak masuk karena penyakit asmanya kambuh.

“Ambil aja sih, ke atas. Manja banget. Gue juga buat minum obat, nih,” jawabnya ketus.

Aku langsung menciut. Dengan nafas yang masih tersengal lantaran mengejar beberapa angkot, aku melangkahkan kaki ke lantai dua. Sial, pelit sekali itu cewek, aku kan minta seteguk, bukan sebotol. Lumayan, kan untuk membasahi tenggorokanku yang kering sebelum menuju pantri. Aku menelan ludah. Sebal.

Kalian tahu dia siapa? Dia itu Mak Lampir. Admin gudang yang terkenal amat jutek dan galak sejagad-raya. Aku tak sudi hati jika harus berteman dengannya. Usianya terpaut tujuh tahun dariku. Saat itu aku masih fresh graduate, masih unyu-unyu. Sementara dia sedang menunggu kekasihnya yang menjadi TKI di Korea. Desas-desusnya sih, bila calon suaminya sudah sukses menjadi boyband, mereka akan segera menikah.

Namun kadang sesuatu yang dibenci justru sebaliknya. Sebulan kemudian aku malah akrab dengannya. Mungkin karena aku satu-satunya perempuan penghuni lantai satu selain dia. Dan dia lebih suka ribut dengan kutu kupret yang bernama Nata dan Sindoro. Maka sejak itulah aku resmi berbaikan.

Nata itu orang yang mengaku dirinya paling ganteng se-Planet Pluto. Sikapnya menyebalkan. Aku selalu sakit kepala jika harus meladeninya. Pantas saja Jenny sering bertengkar dengannya. Sedangkan Sindoro adalah nama gunung keturunan Tionghoa yang merupakan partner sejati Nata dalam mengubrak-abrik istana Mak Lampir.

Setiap hari peperangan di dalam gudang terjadi. Lagi-lagi Nata membuat ulah. Memancing amarah Jenny dengan hal sepele. Aku dan Pak Deka tak terhitung ribuan kali membantu memisahkan. Mereka ini seperti Tom and Jerry. Tak pernah seharipun akur.

Oh, ya, Pak Deka itu seorang messenger bagian penagih piutang dan surat menyurat. Aku sendiri menjabat sebagai kasir yang menangani pembayaran seluruh hutang dan piutang kantor pada pihak ketiga. Dari sinilah cerita itu dimulai.

Jenny Tarigan. Itulah namanya. Bila kalian tebak, dia pasti keturunan batak. Benar, tapi salah. Jenny adalah perempuan berwajah sunda. Bahasanya alus, tidak tinggi seperti negeri asalnya. Sejak lahir, dia memang sudah tinggal di Jakarta, sebelum akhirnya menetap di Depok. Jadilah Jenny tak bermarga, nama aslinya sejak lahir ialah Yenny Evelin.

Tapi bagiku, Yenny Evelin tidak cocok dengan kepribadiannya yang pemarah dan cerewet. Sehingga aku, Nata, Sindoro, dan Pak Deka menolak memanggil nama aslinya. Jenny melotot sebal. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sumpah serapah, “Akan gue kutuk lo semua jadi batu akik!”

Kala itu langit seketika menggelegar dan ruangan mendadak gelap. Ternyata hujan bercampur petir telah menyambar gardu listrik.

Juli, 2010, tepatnya tanggal 10, kantorku yang bergerak di bidang retail penjualan ponsel lokal, merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Masih balita sekali ya umur perusahaanku. Upss… maksudnya perusahaan my Big Bos.

Bu Nena selaku HRD, dan Pak Ilan selaku GA, belakangan ini sibuk menyiapkan ini-itu. Mulai dari tempat, catering makanan, bus, acara isi, dan tetek bengek lainnya. Maka seharian itu kami loncat kegirangan mendengar kabar bahwa kantor akan mengadakan outing ke Sukabumi (tetangganya Sukalangit).
***

“Loh, koq bus kita bablas sih, Pak? Bus 1 dan 2 mana?,” tanya Nata celingukan mencari jejak dua bus di depan kami. Setelah puas memetik gitar butut dan mengeluarkan suara falesnya, perutnya mulai kerucukan.

“Aduh, iya nih, Mas. Saya lupa belok. Kita harus muter dulu,” ungkap pak supir merasa bersalah.

“Yah, gimana sih, Pak. Nanti kita telat dong. Udah laper banget nih.” Pak Deka mengelus-elus perut, gayanya menyerupai ibu hamil yang tidak makan dua hari, dua malam.

“Sama nih, gue juga laper.” Sindoro memasang wajah super melas.

“Gue juga. Nanti yang lain udah selesai makan siang, kita baru nyampe,”

“Waduh, nanti gue langsung kurus dong,”

Beberapa peserta yang lain ikut mengeluh. Aku sendiripun lapar. Ini sudah pukul 12 siang. Seharusnya tiga puluh menit lagi sampai. Aku menepuk dahi, kecewa bukan kepalang.

“Kita makan di sini aja, kalau begitu. Tolong calling panitia bus 1 dan bus 2!” Pak Deka sok sibuk. Ia membuka kardus besar dan membagi-bagikan bungkusan catering ke seluruh penumpang.

“Heh, Nata, bantuin gue dong bagiin kotak nasi!” Pak Deka memelototi Nata yang asyik melantunkan lagu bujang lapuk.

“Ogah ah, males. Sini, gue bantuin makan aja,” Nata menjawab cuek.

“Lo tuh ya, nggak bisa sebentar aja bersikap jadi cowok bener,” Pak Deka menjitak Nata. Melempar kotak nasi catering ke pangkuannya.

“Aww… Sakit tahu…” Nata menangkap sekotak nasi catering. Cengengesan. Ia memang laki-laki yang selalu menyebalkan sepanjang masa.

Aku merogoh ponselku di kantong ransel hitam. Mencari kontak Pak Ilan. Biar aku yang berinisiatif menghubunginya.

"Halo, Pak Ilan. Aduh, gimana ini, kita kebablasan. Supirnya lupa belok. Disangkanya belokan di lampu merah depan. Ini harus muter balik jauh banget,”

“Ye, gimana sih. Ya udah, kira-kira kalian berapa lama lagi nyampe lokasi? Kita udah nyampe nih. Mau siap-siap lunch.”

“Yah, sebentar, Pak, gue nanya sama supirnya dulu,” Aku berdiri dari tempat dudukku yang terletak di sisi kanan pertengahan, berjalan berpegangan pada jok mendekati pak supir.

“Pak, kira-kira kita sampai jam berapa?”

“Saya kurang tau, Neng. Semoga di pasar perempatan tidak terhalang macet. Kalau lancar, 1 jam sampai,” jawab Pak supir seraya melirik spion kanan dan kiri.

Aku menjelaskan apa yang diucapkan pak supir barusan pada Pak Ilan. Kemudian kembali duduk ke bangku semula.

“Maaf ya, Pak, Bu, saya supir baru belum terlalu hafal jalan.” pak supir menengok ke belakang saat kemacetan terjadi. Wajahnya merasa bersalah.

“Oww…..” Peserta bus 3 kompak membentuk huruf ‘o’.

Pantas saja, pikirku. Aku menepuk jidad untuk kedua kalinya.

“Sudah-sudah, mungkin ini takdir kita harus nyasar. Lebih baik kita makan.” Aku mencoba mendamaikan keributan.

“Bener kata Vicka, yang penting perut kenyang. Nyam-nyam-nyam..” Pak Deka semangat sekali menyantap paha ayam.

“Ya udah sih, pada berisik aja. Nanti juga kalo udah kenyang pada diem semua,” Jenny membukakan sayur untukku, ikut buka suara.

Jenny menatapku galak karena terlalu lambat mengunyah. Aku buru-buru melahap tumis kacang panjang, menyendok nasi beserta rendang, dan memasukkan lagi capcay secepat mungkin ke dalam mulutku yang penuh agar Jenny tidak berubah menjadi mak lampir. Jenny sangat tidak suka melihat gaya makanku yang lelet. Kalau diperhatikan, lauknya banyak sekali. Aku dan Jenny larut dalam santapan.

Makan besar di sebuah bus dalam keadaan menanjak dan berliku ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Juga bagi Jenny, Nata, Sindoro, Pak Deka, dan seluruh penumpang bus 3. Rasanya seperti menaiki roler coaster. Saat mobil belok ke kiri, aku harus menahan dengan kaki dan tangan agar tidak jatuh ke samping. Begitu sebaliknya. Pada saat menanjak, menurun, dan mobil ngerem mendadak, perutku bagai di acak-acak.

Kalau bukan karena lapar, aku malas makan. Tapi ketika melihat ke jendela, aku lupa dengan perutku yang digonjang-ganjing. Lupa kalau aku sedang makan besar di dalam bus. Pemandangan di luar sungguh aduhai. Hijau sejauh mata memandang. Sebelah kiri berbaris pepohonan yang menjulang dan bukit-bukit kecoklatan, kanannya jurang yang membentuk bukit-bukit indah.

Sebelumnya, kami harus meliuk-liuk di medan yang sempit dan menanjak tajam, menerobos gelapnya hutan. Di tanjakan curam dan berbelok, aku melihat ada bus sejenis yang kami tumpangi terjatuh di sisi jurang. Persis di persimpangan jalan menanjak.

“Itu kenapa?” Aku terbelalak melihat bangkai bus yang naas terguling di sisi kiri jalan.

“Jatuh, mungkin.” Jenny asal tebak.

“Ngeri ya… Hutan ini angker, sama kayak lu, Jen.” Aku bergidik.

“Enak aja. Jangan bilang gue mak lampir,” Jenny meneguk air botol kemasan. Tak lama ia terbatuk-batuk. Wajahnya pucat pasi. Ia minum saat mobil sedang berguncang, membuatnya tersedak. Asmanya kumat.

"Eh, lo kenapa, Jen? Asma lo kambuh? Bawa obat?” Aku meletakkan kotak makanku dan mengecek tasnya.

“Gue lupa Vick. Obatnya ketinggalan di kosan,” jawab Jenny patah-patah. Ia terbatuk lagi. Ia seperti baru saja menelan kodok.

Aku langsung mengomelinya karena ceroboh lupa membawa obat pribadi. Perjalanan ini jauh dari apotek, klinik, dan rumah sakit. Bagaimana kalau dia sekarat? Bagaimana kalau dia lewat? Pikiranku bercabang kemana-mana. Aku mencoba mengelus-elus punggungnya. Menyuruhnya minum air yang banyak pada saat mobil berhenti.

Biarpun kadang dia galak, tapi Jenny sudah seperti kakaku sendiri. Kami terbilang dekat. Aku bahkan sering menginap di kosnya karena kemalaman nonton bioskop ataupun belanja ke mal. Jenny juga selalu menyediakanku makanan dan baju ganti. Jenny orang yang bawel tapi perhatian. Dia juga kadang berkunjung ke rumahku jika malas pulang ke Depok.

“Eh, lihat, Jen, ada gubuk di tengah hutan,” Aku tak bisa mengedipkan mata. Berharap apa yang kulihat hanyalah halusinasi semata.

“Lo kebanyakan nonton film horor kali, makannya di otak lu cuma ada sosok mak lampir beserta teman dan aksesorisnya.” Wajah Jenny sudah kembali normal. Asmanya sudah menghilang. Ia baik-baik saja.

“Lo mah nggak percayaan sih orangnya. Coba lihat tu!” Aku menunjuk ke belakang. Sayang, mobil sudah meliuk lagi ke atas.

“Mana? Orang nggak ada,” Jenny telat. Aku ingin sekali menjambak rambutnya.

***

Setelah satu jam membuat rusuh di dalam bus, akhirnya kami tiba di lokasi. Rekan kerja yang berada di bus 1 dan 2 menyambut kami dengan ejekan. Mereka baru selesai makan.
Seseorang berseragam memberikan instruksi menggunakan toa. Menyuruh kami berbaris di pinggiran sungai berbatu.

“Ini kekecilan, Neng. Ntar lu engap,” Jenny membantuku memasangkan tali pelampung ke depan dada.

“Ini udah pas, Jenny,” Aku bersikekeuh. “Tolong bantuin gue cari dayung yang warnanya abu-abu juga,” tukasku sembari mengencangkan tali helm yang berwarna biru telur asin. Helm yang lebih mirip dengan peralatan orang kontraktor.

“Rewel banget sih lu, Vick. Iya kalo ada, kalo nggak ada lo mesti ngecat dulu tuh dayung,” Jenny celingukan ke mobil bak. Tidak ada apa-apa lagi di sana. Ia merebut dayung dari tangan Nata yang diselipkan di pahanya.

“Ih, apa-apaan sih lo, Mak Lampir. Ngerampok barang gue,” Nata melotot.

“Lo cowok, harus ngalah sama cewek,” Jenny balas melotot.
Keduanya main tarik-tarikan. Tidak ada yang mau mengalah. Aku menggeleng-gelengkan kepala.

Guide yang melihat pertengkaran antara Jeny dan Nata segera melerai, “Jangan berebut, masih ada lagi.” Laki-laki yang membawa toa itu terbahak menyaksikan dua makhluk yang sama-sama ngotot.

“Nah itu mobilnya sudah datang,” Pak pemandu menunjuk mobil bak yang berisi dayung, pelampung, dan helm, bekas peserta dari rombongan lain yang telah selesai menuntaskan keseruannya.

Nata dan Jenny saling berkejaran. Lagi-lagi berebut dayung. Padahal jelas-jelas Nata sudah memegang satu dayung. Akupun tidak mau kalah, ikut berebut dengan mereka dan peserta lainnya. “Yah, kok warnanya ungu sih, kan gue nggak suka. Nggak mau ah,” Aku memanyunkan bibir.

“Ah, lu mah ribet bener hidupnya, Vick. Nih tukeran sama gue,” Jenny menyodorkan dayungnya yang berwarna hitam.

Aku menukar dayungku. Meski tidak terlalu suka hitam, tapi setidaknya bukan terong-terongan. Jenny gantian memanyunkan bibirnya. Sebal.

Nata memutar-mutar dua dayung di tangan kanan dan kirinya berlaga menjadi pendekar abal-abal. “Dasar stres,” Jenny sengaja menyenggol bahunya. Yang disenggol melotot, menipu mau memukul dengan dayung.

“Kalau mau geser ke kanan, maka awak bagian kanan mendayung ambil dan awak sebelah kiri mendayung buang. Posisi sebelah kiri pindah ke tengah. Begitu sebaliknya. Jika aba-aba mundur, maka semuanya harus mendayung ke belakang. Seperti ini…” Guide mempraktikan dengan dayung.

“Oh ya, ujung dayung jangan sampai menyentuh temannya di belakang. Khawatir akan mengenai rahang. Nanti giginya rontok, kasihan.”

Pak Pemandu menjelaskan panjang lebar aturan main dalam rafting. Dari mulai aba-aba geser kanan, kiri, balik kanan, balik kiri, maju, mundur, mendayung saat sungai dangkal dan aliran deras, saat aliran tenang, bila perahu terbalik atau tersangkut di batu besar, dan sebagainya. Semuanya bertujuan untuk keselamatan peserta.

Usai pengarahan, kami yang memakai perlengkapan macam banteng takeshi berhamburan menaiki mobil pick up yang sudah disiapkan panitia. Aku, Jenny, dan Pak Deka duduk di pinggiran mobil bak. Suasana ketika menjadi tegang saat mobil kecil itu menanjak dengan kemiringan 45 derajat di atas jalanan berkerikil tajam. Kalau mobil ini oleng sedikit saja, mungkin tubuh kami akan lebam oleh tajamnya bebatuan yang dibiarkan tanpa aspal.

Bukannya takut, Nata malah berdiri, berteriak-teriak pada pepohonan yang berbaris di sisi kanan dan kiri jalan. Sindoro meniru gaya Nata yang tidak bisa diam. Aku dan Jenny berpegangan kuat. Mobil ini sepertinya sudah teruji tahan banting. Bannya bebal, meski menginjak batu-batu yang tajamnya bagai pisau. Meski akhirnya aku terbuai dengan eloknya pemandangan. Pak Deka usil menyodok pantat Nata dan Sindoro dengan dayung.

Jalanan menuju hulu lumayan jauh. Adalah sekitar dua puluh menit kami berteriak mengusir tegang. Kami harus berjalan kaki sekitar 100 meter untuk sampai di sungai. Astaga, Nata dan Sindoro norak sekali. Mereka berdua main ciprat-cipratan. Tertawa macam anak kecil yang baru saja melihat air. Aku menggelengkan kepala.

“Ayo Vicka, Jenny, Nata, Sindoro, bergegas naik ke perahu!” Pak Deka begitu semangat. Ia orang pertama yang menemui Pak Edo selaku guide yang ditunjuk panitia untuk menyaksikan ulah kami berlima.

Kalian tahu ini di mana? Ya, benar sekali, ini di Citarik, sungai beraliran deras yang terkenal dengan petualangan raftingnya. Ide ini adalah hasil voting sebagian karyawan PT DUNIA HARUS TAHU dalam rangka merayakan ulang tahunnya kali ini.

Aku setengah takut saat hendak naik ke perahu karet yang diikat tali tambang agar tidak hanyut terbawa aliran sungai. Arusnya yang kencang, membuatku susah menaikinya. “Gue nggak ikut ah,” Aku mundur satu langkah, ragu.

“Apa-apaan lu, Vicka, jauh-jauh ke sini nggak ikut. Nggak bakal ada kenang-kenangan yang lo bawa pulang,” Jenny menarik tanganku, gemas.

Nata dan Sindoro meledekku si penakut, “Jenny aja yang penyakitan berani, masa lo takut?”
Aku tidak terima dengan ledekan mereka.

Maka dengan perasaan takut yang luar biasa, aku naik ke perahu. Pak Deka dan Jenny menyemangatiku. “Ayo, Vicka, takhlukan ketakutanmu!”

“Apa di sini pernah ada korban meninggal dunia, Pak Edo?” Tanyaku mengintrogasi. Di depanku batu-batu besar terpampang tak beraturan. Airnya yang deras membuat jantungku ingin copot.

“Semuanya akan baik-baik saja, asal kalian ikuti instruksi saya,” jelasnya menenangkan.

“Sejauh ini belum ada korban, Mbak. Nikmati saja arusnya, sebagaimana kita mengikuti arus kehidupan yang berliku, terjal, dan penuh drama ini,” Pak Edo melebarkan senyum ke arahku, mengingatkan semuanya sudah ada yang mengatur.

Entahlah, aku tidak tahu apakah Pak Edo hanya berusaha menenangkan hatiku, seolah semua pemain di sungai deras ini tak ada yang hanyut ataupun meninggal.

Aku dan Jenny duduk di depan Pak Edo, di deret belakang. Sementara Nata dan Sindoro di deret depan, membiarkan Pak Deka menjadi penyeimbang di ujung depan.

“Siap?” Pak Edo memberi aba-aba. Tali perahu yang terikat di batu segera dilepas. “Ikuti perintah saya, dan ingat-ingat penyuluhan di bawah tadi,” Pak Edo mulai mengayuh dayungnya ke depan, membuat posisi kami memutar.

Aku dan Jenny berteriak saat perahu karet dengan lincahnya bergerak maju. Nata dan Sindoro ikut-ikutan berteriak dengan suara yang membuatku pusing.

“Geser kanan!” Pak Edo memberikan instruksi. Baru jalan setengah menit, perahu kami terjepit di batu besar. Aku yang berada di sebelah kiri segera menggeser posisi duduk pindah ke tengah. Nata yang berada di depanku lupa, sehingga posisi perahu tidak mau bergerak.

“Nata, geser duduknya ke tengah!” Tegasku berteriak.
Nata menoleh dan segera memindah posisi duduknya.

“Dayung ke kanan!” Pak Edo berusaha kuat menghentakan dayung ke batu, mengayunkannya dengan teknik membuang, agar perahu lekas keluar dari himpitan.

Aku, Jenny, Sindoro dan Pak Deka mengikuti instruksi. Namun Nata masih saja keder dengan aba-aba dari pak pemandu.

“Nata, please deh ayun dayungnya ke kanan, kalo lo nggak mau perahu kita stag di tempat.” Aku berteriak ke kupingnya. Geregetan.

“Eh?” Nata menoleh bingung. Ia lupa apa yang harus dilakukan. Atau memang kupingnya sengaja disumpal kain super tebal sehingga ia tidak jeli mendengarkan bahan penyuluhan yang diwejangkan oleh pak pemandu saat briefing tadi.

Peserta lain yang lewat bersorak-sorai memberikan semangat. Merekapun berteriak histeris saat pelampung itu menabrak batu besar di hadapannya dan melesat kencang di aliran yang deras. Berseru saat berhasil melewati tantangan.

Sungai ini lebar dan liar. Kanan dan kirinya dipenuhi pohon nyiur yang melambai. Rumput-rumput ilalang tinggi menjulang. Langit biru berawan menjadi atap yang menyenangkan. Air semi coklat yang beriak tak lagi membuatku geram.

“AWAASSSS!!!!” Aku berteriak spontan. Membuat perahu oleng ke kiri. Sindoro kehilangan kendali. Dayungnya terpental. Tubuhnya terjerembab ke luar perahu. Mirip papan triplek mengapung dalam air. Megap-megap.

Bukan membantu menolong, aku, Jenny, Nata, dan Pak Deka terbahak. Pak Edo mengatur posisi perahu agar tidak bergerak. Segera menyodorkan dayung untuk menarik Sindoro ke dalam perahu. Pak Deka yang kasihan ikut membantu.

“Ngapain dibantu sih, Pak, biarin aja dia nyium batu. Gakgakgakgak…” Nata menirukan suara burung Gagak. Cengengesan merasa tidak berdosa. Padahal selama ini ia juga bandel. Disuruh kayuh dayungnya, diam saja. Diminta geser tengah, juga diam saja. Giliran jatuh, baru deh minta ampun.

“Lu jangan bahagia dulu, Nata de coco. Nanti pas lu jatuh kita nggak mau nolongin lu,” Jenny tergelak dengan ucapannya.

“Sial! Lumayan juga nyium batu,” Sindoro mengusap lututnya yang lebam. “Ini semua gara-gara Vicka sama Jenny,” Sindoro bersungut-sungut kesal sambil terkeukeuh.

“Enak aja gara-gara kita. Lo sendiri bandel nggak mau pegangan. Merasa udah lihai,” kataku membela diri.

“Iya, tapi kan gara-gara teriakan kalian gue lupa pegangan.” Sindoro masih berbelit.

“Udah-udah, bosen gue denger kalian nggak pernah akur,” Pak Deka mencoba melerai.

“Syukurin… Hahahaha,” Nata meleletkan lidah ke Sindoro yang meringis kesakitan. Teman macam apa dia, tertawa di atas penderitaan sahabatnya sendiri.

“Elu juga, Ta. Mau ikut jatuh kayak Sindoro?” Pak Deka melotot galak.

“Nggak mau lah gue. Lu aja, Pak! Gue belum kawin.” celotehnya menyebalkan.

“Lanjut lagi ya.. Masih semangat kan? Sebentar lagi di kilometer 4,5 kita istirahat. Di sana ada kelapa segar yang siap menyambut.” Beber Pak Edo menengahi perkelahian kami yang membuatnya gagal konsen mengemudikan perahu karet.

“Di tikungan depan, sebelah kiri, ada photographer. Siapin gaya kalian yang paling gokil,” beber Pak Edo sambil menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik karena tingkah kami yang tidak bisa diam.

Tanpa disuruh dua kali, Nata menunjukkan gaya super alaynya. Menempelkan kedua jarinya ke pipinya yang tirus. Sindoro tidak mau kalah, memamerkan giginya seperti kuda. Pak Deka memperagakan gaya mengepal senapan ke udara dengan tampangnya yang serius.

Aku dan Jenny bingung harus berpose seperti apa.

“Neng, gaya Patung Liberty aja, kayak gue,” Jenny dengan PD menirukan patung yang dilihat melalui majalah, belum pernah ke sana. Sedangkan aku menirukan patung pancoran yang tidak mandi selama bertahun-tahun.

Pak Edo menepikan perahu karetnya. Beberapa rombongan lain yang juga mengenakan kaos putih senada melambaikan tangan. Menyuruh kami ikut meneguk buah kelapa yang langsung dari pohonnya.

Meski hanya duduk di perahu karet, mendayung asal-asalan, nafasku tersengal. Rasa haus dan lelah mengantarkanku pada bulir buah nyiur tanpa tambahan pemanis yang membuatku segar kembali. Perjalanan kami masih setengah jalan. Artinya masih 4,5 kilometer lagi untuk mengarungi derasnya Sungai Citarik. Seperti biasa, Jenny dan Nata kembali bertengkar berebut buah kelapa.

“Gue duluan,” Nata tidak mau mengalah.

“Lo tuh emang bikin gue darah tinggi, Ta. Sebel gue liat lo,” Jenny berlalu pergi, mengahimpiriku yang asik menyedot air kelapa.

Jenny terus mendumel karena kelakuan Nata yang tidak pernah mau mengalah. Aku menyerahkan sisa air kelapa dan menunggu giliran ke belakang.

“Si Jenny berantem lagi sama Nata?” Pak Deka membawa dua kelapa di tangannya.
Aku mengangguk.

“Ini buat Jenny…” Ia menyerahkan satu kelapa di tangan kanannnya.

Aku menerima buah kelapa dari tangan Pak Deka dan langsung balik kanan. Sekilas memperhatikan Sindoro sedang meluruskan kakinya yang mulai membiru akibat jatuh beberapa menit lalu.

“Woy, Vicka… Kakak lu berantem lagi sama si Kutu Kupret?” Sindoro berteriak, kepalanya mengangguk-angguk macam golek.

Aku menoleh, menjawabnya dengan senyum terpaksa. Bukankah selama ini Jenny dan Nata terkenal dengan julukan Tom & Jerry? Kalau begitu, kenapa harus diperjelas lagi, pikirku malas.

Thanks, Neng. Lo nggak mau lagi?” Jenny sumringah melihatku membawa satu butir kelapa utuh untuknya.

“Nggak, ah, udah kenyang. Gue mau makan kelapanya aja. Sini!” Aku merebut kelapa milikku dari tangan Jenny.

Perempuan bertubuh tinggi dan berambut panjang itu langsung menyedot air kelapa dengan ekspresi haus bandel. Aku tertawa. Mengingat umurnya yang berjarak 7 tahun, Jenny terlihat sepantaran denganku.

Perjalanan ronde dua dilanjutkan. Masih dengan posisi awal. Pak Edo sibuk menginstruksi kami untuk segera naik ke perahu karet. Aku dan Jenny sudah penuh baterai. Kami bisa berteriak lantang melawan derasnya arus kehidupan. Sindoro sudah membaik, meski lututnya lebam. Pak Deka sejam lebih muda dari sebelumnya karena meneguk bulir kelapa hasil panjatan dari pohonnya langsung yang dikupas secara mendadak oleh panitia rafting.
Sementara Nata masih saja jelek. Tidak ada tampang ganteng-gantengnya dari dulu. Dan selalu menyebalkan.

Aliran Sungai Citarik memang tiada duanya. Pantas saja disebut Citarik. Menurut arti bahasa Sunda, ci itu artinya cai = air, dan tarik = kencang atau deras. Maka Citarik merupakan air yang mengalir kencang nan deras.

Rafting ini sungguh menegangkan. Karena kalau tidak bisa mengendalikan perahu secara benar, maka bisa saja kami terjatuh seperti Sindoro dengan oleh-oleh lebam. Jika jatuhnya pas dialiran yang tidak terhalang batu, tubuh kita bisa terbawa arus kencangnya, hanyut. Belum lagi jika harus terbentur batu-batu besar dan alat keselamatannya bermasalah, maka nyawalah taruhannya.

Kami hanyut dalam derasnya air Sungai Citarik. Berseru jika tersangkut di batu besar. Menghanyutkan segala beban yang selama ini terus mengganjal. Melupakan semua hutang, juga mantan. Tertawa lepas memarahi Nata yang susah diatur. Meneriaki Sindoro dan Pak Deka agar berpegangan.

Air sungai yang dingin ini mampu membius kulitku dari sengatan teriknya matahari. Meski petualangan ini membutuhkan banyak tenaga, namun tak setetespun keringat keluar dari tubuhku. Mungkin karena aku terlalu asyik bermain dalam seluncuran air, tidak menyadari kaosku basah oleh cipratannya yang menyatukan keringatku dengan air sungai.

Bila posisi sungai datar, maka kami akan kerja keras mendayungkan perahu agar melaju. Air yang tenang menandakan kedalaman sungai yang lumayan. Disitulah kami bisa bersantai barang sejenak untuk menghemat tenaga atas teriakan, tapi tidak untuk tangan kami yang terus mendayung agar perahu maju ke depan.

“Lu mandi sama gue, Vicka. Semua kamar mandi penuh,” Jenny menenteng handuk ekstra mini di tangannya, disertai sekotak plastik sabun dan sampo.

Kamar mandi ini penuh sesak oleh peserta lain. Pilihan mandi bareng adalah pilihan yang paling tepat agar kami tidak kemalaman berada di basecamp pinggir sungai. Tidak ada kamar untuk bersolek ria ataupun untuk rebahan. Karena memang Bu Nena dan Pak Ilan tidak menyediakannya. Ganti bajupun di kamar mandi. Mengenaskan, bukan? Kata Pak Ilan, biar kita menghargai alam. Jangan mentang-mentang hidup di kota, maunya serba mewah.

Para bos dan jajaran petinggi lainnya pun mendapatkan perlakuan yang sama. Mereka sedang berbincang seru di saung dekat kamar mandi dengan anak buahnya. Tertawa. Kegiatan outing ini sungguh membantu merukunkan suasana. Tidak ada lagi jabatan manager dan anak buah. Tidak ada lagi posisi tinggi dan rendah. Semuanya membaur menjadi satu.

Selepas mandi, kami bersiap-siap menuju rumah makan yang sudah dipesan Bu Nena. Letaknya cukup jauh dari sini, sehingga kami harus naik bus. Aku dan Jenny tidak sempat berdandan. Menyisir rambut saja sambil jalan.

“Pak Deka, ayo! Lu mau ditinggal sendirian di sini?” Jenny melambaikan tangannya di samping pintu.

Pak Deka tersadar bus sudah siap berangkat. “Eh, tungguin gue dong, jangan ditinggal.” Ia menaiki anak tangga dan mencari bangku yang masih kosong.

Nata dan Sindoro kembali membuat ulah dengan memainkan gitar butut dan suara falesnya. Aku dan Jenny iseng melemparnya dengan kulit kacang. Semburat jingga di ufuk barat menandakan pergantian tirai dari siang ke malam. Udara dingin pegunungan membuatku menggigil. Pepohonan tinggi yang menjulang di sisi kiri dan kanan seakan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan.

Jenny terus menyuruhku makan. Entah itu roti, snack, buah, permen, dan apa saja yang bisa dimakan. Katanya untuk mengganjal perut karena seharian dikuras untuk mendayung dan berteriak. Mulutnya terus-terusan mengunyah. Kadang bila sebal oleh celotehan Nata dan Sindoro, Jenny berkacak pinggang, menjitak mereka satu per satu. Aku terbahak menjadi penonton. Pak Deka sibuk memisahkan.

Baru setengah jam duduk, bus mengalami hambatan. Bau kopling menyengat ke hidung. Pak supir menyuruh kami semua turun. Kemungkinan bus tidak kuat menanjak. Aku dan Jenny tanpa disuruh dua kali, langsung loncat. Mencari aman. Tas dan barang bawaan lainnya kami tinggalkan di jok.

“Aneh, padahal tadi nggak kenapa-napa, kan Vick?” Jenny mengibas-ngibaskan tangannya menghilangkan asap.

“Iya nih, aneh banget. Mungkin mak lampir ngikutin kita, Jen,” Aku mulai mengaco. Terbatuk dengan bau yang menyengat.

Jenny melotot sebal jika mendengar kalimat itu.

“Ayo, naik lagi, busnya sudah bisa.” Pak supir menyuruh kami semua masuk kembali ke dalam bus.

Syukurlah, aku menarik nafas lega.

Jika perjalanan lancar, kami diperkirakan sampai kantor pukul 10 malam. Namun hanya bertahan setengah jam sejak bus mogok, untuk kedua kalinya kami dipaksa turun. Bau kopling kembali menyengat. Membuat aku, Jenny, dan penumpang lainnya terbatuk. Bunyi mesin meraung kencang. Aku bagai terguncang.

“Kenapa lagi sih, nih? Heran gue.” Jenny menuntaskan batuk terakhirnya.

“Nggak ngerti, mungkin karena…”

“Jangan bilang yang nggak-nggak lagi deh, Vicka. Cukup!” Jenny melotot mengancamku.

Aku menutup mulut. Urung bercanda meledeknya. Kami berhenti di tepian hutan menunggu bus merangkak menjemput. Tak lama bus melaju lagi. Kami semua masuk kembali ke dalam bus tersebut. Kali ini lebih apes, setiap tanjakan, kami harus turun. Aku dan Jenny memilih untuk berjalan kaki saja. Tas dan ransel kami tinggalkan di dalam jok.

Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 19:00 WIB. Namun suasana hutan ini seperti sudah larut. Angin sepoi-sepoi mengibas anak poniku. Derik jangkrik dan kodok mengalun bersautan menjadi orkestranya. Aku menelan ludah. Jalanan menanjak dan menurun ini sungguh membuat bulu kudukku merinding. Di sini jauh dari perkampungan. Tidak ada lampu sama sekali. Hanya hutan yang gelap. Beruntung, bulan sedang purnama, jadi jalanan tidak hitam pekat.

Sudah hampir setengah jam kami berjalan menyusuri hutan. Bus yang kami tumpangi tertinggal jauh di belakang. Aku memperhatikan Jenny yang berjalan di sampingku, “Lo nggak nyesek kan dadanya?” tanyaku sembari memegang tangan Jenny. Semoga dia kuat dan penyakit asmanya tidak kumat.

“Nggak apa-apa koq, Vicka. Gue sehat walafiat,” Jenny tersenyum, menyembunyikan wajah lelahnya dariku.

“Kalo lo ngerasa sesek, kasih tau gue, kita berhenti dulu,” pintaku serius. Aku khawatir jika terjadi apa-apa padanya. Mengingat ini di tengah hutan yang jauh dari manapun. Susah sinyal, apalagi warung yang menjual minum.

Jenny mengangguk. Sekali lagu berkata baik-baik saja.

Nata yang berjalan di belakangku berkomentar, “Iya lu Jen, bilang. Gue nggak mau gendong lu, nyusahin tau,” Nata memanyunkan bibirnya.

“Siapa juga yang mau digendong sama lu, Ta. Ogah gue,” Jenny menoleh sebentar, enggan menanggapi ledekan Nata yang kian menjadi.

Aku berusaha melerai keributan. Percuma, mereka berdua memang ditakdirkan untuk saling bertengkar. Aku harus menggelengkan kepala berkali-kali, mengelus dada. Sabar Vicka, kataku dalam hati.

Sindoro berjalan tersuruk-suruk di samping Nata. Ia hanya tertawa mengomentari keributan dua sahabatnya, sesekali ikut meledek Jenny. Sementara Pak Deka menimbrung percakapan dengan karyawan lain. Malas meladeni Nata.

Desir angin yang lewat menyebabkan ranting dan daun bergesekan. Menimbulkan suara mencekam. Malam ini aku benar-benar nelangsa. Seharusnya aku sudah tiba di rumah makan. Ini malah olahraga malam. Keringat satu per satu bercucuran. Aku lapar.

Kadang tak selamanya duka itu menyedihkan. Tak berapa lama, mobil pick up yang kami tumpangi tadi siang berhenti menawarkan jasa. Aku dan Jenny antusias dan segera loncat ke dalam tumpukan perahu karet yang sudah dikempeskan udaranya itu.

“Eh, tapi tas kita gimana?” Aku baru ingat kalau barang bawaan kami tertinggal di bus.

“Nanti ada tim yang membawa tas kalian,” salah satu panitia rafting menjawab.

“Tapi nggak ada yang hilang kan, Pak?” Jenny memastikan.

“Semoga tidak ada. Bus yang kalian tumpangi masih berhenti dan tidak mau jalan. Supirnya menyuruh kami untuk membawa kalian hingga ke rumah makan. Pasti kalian lapar, bukan?”

“Bukan lapar lagi, udah hampir pingsan, tau nggak?” Jenny berceloteh jutek, nafasnya terengah-engah.

“Heh, kutu kupret, lu mau jalan kaki sampe besok pagi? Cepetan naik,” Jenny menimpuk Nata dengan sandal.

Nata menangkap sandal jepit Jenny, “Ih, Mak Lampir sialan, lu jangan berisik kek, kuping gue sakit,” timpal Nata sambil loncat ke tumpukan belakang. Disusul Sindoro, Pak Deka, dan karyawan lainnya.

Jadilah kami naik mobil bak beralaskan pelampung basah. Mau tidak mau. Bersyukur masih ada yang mau menolong di tengah hutan nan gelap gulita ini. Tanpa jaket dan syal, judulnya harus siap masuk angin. Aku, Jenny, dan rekan kerja lainnya menertawai nasib malang kami.

Laju mobil membuat tanganku harus mencengkeram kuat. Aku dan Jenny sudah tidak dapat berteriak lagi. Kami sibuk dalam diam. Begitu pula dengan Sindoro, Nata, dan Pak Deka. Purnama yang bulat terang, tersenyum menemani kami. Hanya deru mobil yang memenuhi gendang telinga. Selebihnya dingin oleh tiupan angin.

Dua puluh menit kemudian, kami tiba di rumah makan dengan tampang kusut acak-acakan. Pemilik perusahaan menyambut kehadiran kami dengan perasaan iba, “Ayo, langsung ke meja makan. Pasti kalian lelah ya?” Tangannya menunjuk ke meja parasmanan.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Bukan lelah lagi, tapi gempor. Nata langsung menyerbu makanan memba-bi-bu. Kalap. Semua makanan yang tersaji di atas meja dituang ke dalam piring super besar. Jenny seketika langsung memukul tangan Nata yang masih saja menyendok lauk ke dalam piringnya.Pak Deka dan Sindoro tidak mau kalah dengan Nata. Mereka meraih semuncung nasi putih, ikan bakar, dan lauk lainnya ke piring masing-masing.

Aku dan Jenny duduk semeja, menyendok dengan cantik bulir nasi ke dalam mulut. Tertawa.

“Lo nggak lihat kelakuan mereka? Kayak orang kesurupan ih, semuanya di masukin ke piring. Bikin malu aja,” Jenny mengunyah daging ayam dan sayur mayur. Menatap sirik Nata, Sindoro, dan Pak Deka.

“Mereka dari dulu emang udah malu-maluin. Biarin ajalah, laper mungkin,” kataku sembari menahan tawa.

“Kalian ngomongin gue ya? Nggak boleh ngomongin orang tahu, dosa.” Nata menimbrung ke meja makan. Diikuti Pak Deka dan Sindoro.

Seketika meja makan ramai oleh suara sendok, garpu, piring, dan keributan.
Setelah pengumuman karyawan terbaik, terajin, dan terimut selesai, waktunya menunggu doorprize yang sayang lagi-lagi aku belum beruntung. Kami pulang menaiki bus 2.
Sebagian ada yang ikut dengan rombongan para bos di bus 1. Mengingat kapasitas bus terbatas, maka dibuat aturan bahwa laki-laki harus berdiri.

Aku dan Jenny dipersilakan duduk oleh peserta laki-laki di bus dua. Nata membuat ulah. Merengek minta diberikan tempat duduk, “Please… kan gue capek, abis jalan jauh banget. Nanti gantian. Janji.” Dia merayu Pak Ilan.

Hari itupun menjadi legenda yang terlupakan. Kami tiba di kantor pukul satu dini hari akibat bus melaju sangat pelan menghindari jurang. Juga sempat terjebak kemacetan panjang. Sampai detik ini, aku tidak tahu nasib supir bus 3 yang berusaha menjalankan mesin di tengah gelapnya hutan. Sendirian.

Kamis, 14 Januari 2016

#DiaryNalla - Kesal yang Beralasan

Jakarta, 14 Januari 2016

Pukul 10 WIB (aku sendiri tidak memperhatikan tepat di angka berapa jarum panjang jam bergeser), ibukota digemparkan berita dahsyat. Pos polisi di seberang Gedung Sarinah, Thamrin, porak poranda oleh bom sejenis granat yang sengaja dilemparkan oleh pihak tak bertanggungjawab, entah ada modus apa di balik peristiwa itu. Desas-desus yang beredar di media mengatakan, tragedi berdarah itu merupakan bom bunuh diri. Sebagian ada yang berpendapat kalau insiden yang menewaskan tujuh orang itu semata-mata karena motif balas dendam, kepentingan politik. Ada juga yang berkomentar sebagai pengalihan isu penyerahan saham Freeport Indonesia pada pemerintah yang semestinya dilakukan besok.

Jauh sebelum berita ini tersebar di jejaring sosial, ramai-ramai orang membicarakannya, aku boleh bangga diri sudah mendengarnya lebih dulu melalui siaran radio, langsung di tempat kejadian peristiwa. Menurutku informasi dari siaran radio lebih akurat dan terpercaya ketimbang media lainnya. Aku yang sedang duduk anteng di ruangan kerja memandang layar komputer berjubel angka-angka, lebih tertarik menyimak pembicaraan rekan kerjaku yang membahas tentang terorisme. Mereka menambahkan buih-buih karangan bahwa bom masih akan meledak di beberapa titik, terutama mal-mal besar.

Jujur saja aku bergidik ngeri membayangkan jaringan teroris yang sudah menyebar luas dan siap meluluh-lantahkan Jakarta, melancarkan misinya di tanah air. Siapapun mereka, apapun namanya, aku tidak akan pernah setuju dengan tindakan anarki tersebut. Setelah dipenuhi cerita ngaler-ngidul di mana saja yang menjadi sasaran keganasan teroris, spontan aku memekik dengan kerasnya, memasang wajah pucat pasi mendengar kata Slipi dan Palmerah.

Oh, Tuhan, aku lupa, benar-benar tidak ingat, kalau seseorang itu, orang yang belakangan ini ingin memperbaiki masa lalunya, bekerja di kawasan Slipi, dan tinggal di daerah Palmerah. Betapa cemas dan khawatirnya perasaanku saat itu. Aku langsung merogoh ponselku, mengirimkan pesan bertanya kabar, berkali-kali menekan nomor teleponnya, menunggu nada sambung terputus oleh sambutan suara cueknya. Namun setengah jam tak ada jua jawaban. Aku benar-benar nyaris putus asa, tak ingin sesuatu buruk menimpanya.

Jantungku serasa ingin copot di tempat, pikiranku mendadak kusut terus terpikirkan dia. “Bagaimana keadaannya saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia selamat? Atau…?” Aku benar-benar mencemaskannya. Aku sungguh tidak mampu menghadapi kenyataan terpahit oleh pertanyaan terakhirku yang terpotong di tengah kalimat. Tidak! Aku tidak ingin kehilangannya lagi, kehilangan dia secepat ini.

Satu jam menunggu, dia masih bisu. Dua jam hatiku gelisah, dia sama sekali tidak ada tanda kehidupan. Tiga jam berlalu, oh, Tuhan, aku bahkan tidak dapat bernafas dengan hikmad, selera makanku mendadak hilang. Bukan karena melihat foto korban yang tergeletak naas dengan luka parah di jalan, melainkan terlalu sibuk memikirkan dia seorang. Hingga jam istirahat berakhir, dia belum juga merespon pesan singkat dan panggilan teleponku yang sembilan kali kuulang demi mendengar suaranya.

Di saat aku sudah pasrah menanti jawabannya, dia hanya membalas dengan dua huruf; “Gk,” – maksudnya ‘tidak’. Astaga, aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku mendapatkan pasangan sedingin dan secuek dia? Sejak tiga jam lalu aku tidak dapat konsentrasi menyusun laporan keuangan, lebih sibuk menerka tentang keadannya, dia hanya membalas malas. Betapa jengkelnya perasaanku mendapat perlakuan itu. Tapi setidaknya aku lega karena dia baik-baik saja. Sebenarnya aku tidak heran dengan sikapnya. Dia memang seperti itu; menyebalkan. Aku sering mengelus dadaku menghadapi sikap dinginnya yang kerap membuatku salah persepsi menanggapinya.

#DiaryNalla - DI KERETA MENUJU DEPOK

Jakarta, 25 Desember 2015

Meski hanya berkeliling seputar Jakarta menggunakan fasilitas angkutan umum seperti angkot, ojek, dan kereta, namun liburan panjang akhir pekan ini bagiku selalu menyenangkan. Siang itu cuaca ibukota sedang labil. Kadang mendung, kadang cerah, kadang hujan lebat. Aku yang sudah merencanakan menghabiskan tanggal merah selama empat hari ke Garut bersama sahabatku - Citra, mendadak gagal lantaran sesuatu. Alhasil setelah seharian muterin Blok M di tanggal 24 Desember bersama temanku yang lain, yakni si Mpok Yuli, maka tanggal 25 ini kusibukan diri dengan berkunjung ke rumah dokter gigi spesialis ortho di kawasan Depok.

Citra begitu sebal denganku. Sepanjang perjalanan ke Garut, ia terus menghubungiku melalui chat whatsap, bilang kalau aku manusia paling menyebalkan di seluruh muka bumi ini. Kamu yang mengajak, kamu pula yang tidak ikut, demikian celotehan sebalnya padaku. Lantas bukan itu yang ingin kuceritakan. Di sepanjang Perjalanan menuju Depok, aku bertemu dengan rombongan keluarga besar dan amat bahagia. Kenapa aku berpendapat begitu? karena hampir satu gerbong terdiri dari anak, cucu, menantu, kakek, nenek, cicit, dan buyut. Dan aku berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Emm aku sungguh merasa tersanjung sekaligus kesal.

Bagaimana tidak kesal, selama dua jam perjalanan mereka amat berisik. Anak perempuan yang berkuncir dua sibuk lompat-lompatan di samping tempat dudukku, kakaknya yang badannya gendut menyalakan games dengan suara sangat kencang. Nenek dan ibu mereka sibuk berceloteh tentang kenaikan harga sembako. Yang laki-laki terbahak karena bapak yang menggendong cucu balita di sebelah kiriku kejedot tiang pintu kereta.

Kala itu, ingin rasanya aku berteriak, menyuruh mereka diam. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Di gerbong lima ini hanya akulah orang asing. Anak-anak mereka berkejaran mondar-mandir, sementara orangtuanya cuek saja. Mereka juga bayar tiket, kan? Baiklah, aku mengalah, pikirku teramat jengkel.

Selasa, 27 Oktober 2015

Penyesalan Adya #SebuahCerpen #CerpenMotivasi

Perkenalkan, ini Kota Jakarta. Kota yang super sibuk, tidak pernah tidur, bising, dan sarat polusi udara. Di ibukota, tiada hari tanpa mengenal yang namanya macet. Padahal tidak ada si Komo lewat. Untuk mempersingkat waktu dan biaya akomodasi, kemanapun aku pergi, selalu mengendarai roda dua. Trotoar yang berfungsi sebagai media pejalan kaki, kerap menjadi sasaran empuk bagi pengendara motor. Dan akulah salah satu pengemudi nakal yang menikmati hak pejalan kaki tersebut dikala Jakarta tidak bergerak. Bagiku, keefisienan waktu di kota metropolitan amatlah penting. Time is money. Aku setuju dengan kalimat tersebut.

Orang bilang, aku mirip setan bila di jalan raya. Tetangga yang sempat kubonceng untuk membeli handphone baru, memilih turun di perempatan jalan karena katanya naik motor denganku, bagaikan naik wahana adrenalin. Ibuku sering berujar, “Nyawa kamu hanya satu, Adya… Bukan seribu.” Aku hanya mengangguk.

“Pulangnya jangan malam-malam, Adya… Jangan ngebut-ngebut di jalannya. Ibu pusing mendengar kamu mengeluh kesakitan acapkali jatuh dari motor.” Ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mulutnya juga ikut-ikutan sibuk menceramahiku.

Aku tertawa saja mendengar segala celotehan ibu yang hampir setiap hari mengingatkanku laiknya anak kecil. “Iya, Bu, aku lekas pulang.” Kucium tangan beliau setelah menandaskan sepotong roti bakar dan melesat pergi menggunakan kendaraan roda dua berwarna hitam.

Di pertengahan jalan, dua pengendara motor lain memancing amarahku. Pagi ini Jakarta tidak terlalu macet, tidak juga lengang. Aku yang jengkel oleh dua pengendara itu, langsung menarik pedal gas tiga kali lebih kencang. Adu balap pun terjadi. Aku meliuk ke kanan dan ke kiri, menyelip di antara kendaraan lain yang menghalangi laju kecepatan motorku.

“Woy, BRENGSEK!!! Gak punya mata ya?” Salah satu pengendara berseru sebal ketika stangnya tersenggol olehku. Aku tertawa. Suruh siapa jalannya pelan macam keong. Menghambat adegan balapanku saja.

Laki-laki berjaket kulit coklat yang sejajar denganku, melayangkan jempol tangannya mengarah ke bawah. Sial, dia meledekku. Dia pikir aku takut dengan tantangannya? Dengar, ya, Adya tidak pernah takut dengan siapapun. Camkan itu!

Dua pengendara ninja itu memainkan gasnya, meledekku. Menimbulkan efek suara mengerang-erang pertanda perang masih berjalan. Motor belalangku ini tidak akan tinggal diam atas tawa meremehkan mereka. Maka, kutambah lagi kecepatanku menjadi 99 km/jam. Mustahil memang, mengendarai kendaraan secepat itu di jam berangkat kerja. Namun aku bisa mempraktekannya. Dan seperti biasa pula, pengendara lain yang kudahului selalu berseru sebal sambil membunyikan klakson kencang-kencang, menganggapku sudah gila.

Balapanku dengan dua laki-laki asing itu menjadi semakin panas tatkala kemacetan panjang menghadang. Emosiku yang meluap-luap, semakin meluber menahan amarah. Tak sabar mengantri di belakang, aku menyerobot jalur busway. Polisi yang melihatku, berteriak menyuruhku berhenti. Aku tak merisaukannya. Kuperkencang pedal gasku. Dua pemuda itu pun mempercepat laju motornya menyusulku dari belakang. Adegan track semakin panas.

“Kau tak akan bisa mengalahkan kami, Cewek Jelek. Mesin motormu KW, tak akan bisa menandingi mesinku,” Salah satu laki-laki yang menantangku mencibir.

Aku bersungut-sungut kesal, “Jangan menghinaku, Bujang Tengik! Kau akan bertekuk lutut di hadapanku bila aku menang. Curang sekali dua lawan satu. Lawan perempuan pula,” teriakku geram.

Dua laki-laki itu menyeringai, menambah laju kecepatan motornya, meninggalkanku lima meter di belakangnya. Aku tak mau kalah, kukejar dia dengan muka merah. Dia tertinggal satu meter di belakangku. Dua meter, tiga meter, dan aku menang.

Laki-laki satunya, berusaha menyejajarkan motornya. Sambil tersipu dengan senyum garang, “Kau boleh juga, Lady,”

Aku balik menyeringai. “Sudah kukatakan, kalian jangan sombong dulu. Karena aku yang akan memenangkan track ini,” ucapku puas. Itu sama saja mengajakku berkelahi secara jantan, meski aku seorang perempuan.

Namun ternyata mereka berdua licik. Peperangan belum kelar. Acara kejar-kejaran di jalur busway masih berlanjut tegang. Hingga akhirnya pihak polisi mengamankan pertengkaran tiga anak manusia yang berkelahi di jalan.

Hal seperti itu sudah biasa bagiku. Jujur, aku paling benci jalanan ibukota ketika jam berangkat dan pulang kerja. Macet dimana-mana membuat lelah. Semua pengendara tidak ada yang mau mengalah. Serobot sini, serobot sana. Dimana hampir semua spasi jalan penuh oleh kendaraan, khususnya roda dua dan empat. Dari jembatan penyeberangan, kepadatan kendaraan terlihat bagai kodok di musim kawin. Berisik, bikin gerah. Aku muak dengan bunyi klakson bersahutan. Aku juga harus ikhlas mengorbankan gajiku habis dipotong tiap hari gara-gara telat tiba di kantor.

Andai aku punya sayap, aku akan memilih terbang ketimbang bermacet ria selama berjam-jam. Atau bila Tuhan berbaik hati, aku ingin memiliki teman seperti Doraemon, yang bisa meminjamkan baling-baling bambunya agar terhindar dari kesemrawutan daratan.

Bila kau menjulukiku sebagai wonder woman, itu memang benar adanya. Tapi jika kamu menganggapku tidak pernah jatuh karena ketangguhanku, itu salah. Sini kuberitahu, tak terhitung sudah berapa kali kakiku lecet dan baret, wajah memar, tangan sobek, mulut berdarah, serta gegar otak. Dari semua kecelakaan naas yang pernah kualami, hanya ada satu yang kusesali seumur hidupku, yakni pada saat aku kesiangan menuju kantor klien untuk mengikuti meeting tidak penting. Saking terburu-buru, aku memotong jalan dengan cara melawan arah dengan amat tergesa-gesa. Saat itulah kejadian buruk menimpaku.

Siang itu, tabrakan beruntun pun tak dapat kuhindari. Selepas hujan mengguyur jalanan ibukota di bulan Januari, seusai aku bertengkar hebat dengan ayah lantaran membela hak ibu, aku tak sempat menguasai rem dan kopling motor belalangku. Alhasil aku menghantam truk besar yang melintas tepat di hadapanku dengan kecepatan maksimal.

Aku tidak tahu persis apa yang terjadi saat klakson kencang bergemuruh di kedua kupingku. Yang kutahu, aku terkapar di ruang ICU dalam keadaan menyedihkan. Ibu dan kakak perempuanku menangis tersedu-sedan, ayah bersedekap dada menatapku iba, dan Vian - tunanganku, takut-takut melihat kondisiku yang seluruhnya dibalut perban kecuali mata dan lubang hidung.

“Adya, kamu koma selama delapan hari, tujuh malam. Ibu kira, kamu akan pergi selamanya meninggalkan Ibu, Nak... Sudah Ibu bilang, kalau naik motor itu pelan-pelan.” Ibu menyeka air matanya dengan handuk kecil. Kak Dina yang berdiri di sampingnya tak mengucapkan apa-apa. Dia terlihat sama sedihnya dengan ibu, ikut sesegukan meratapi kemalangan nasibku. Sedangkan ayah, dia mengusap wajahnya yang sayu. Tampaknya tidak tega membiarkan anak bungsunya terbaring bagai mummy.

Dua hari setelah aku siuman, suster membantuku membukakan perban. Aku meringis kesakitan saat helai demi helai kain putih itu terkelupas dari kulitku. Perih. Rasanya bagai mengelupaskan kulit dari dagingku.

Dokter spesialis dibantu susternya, mengecek seluruh anggota tubuhku dan memperlihatkannya dengan kaca besar. Aku tercengang waktu menatap wajahku yang hancur. Lebih mirip hantu buruk rupa. Jeleeeek sekaliiii. Rambutku yang sebelumnya panjang, dipangkas habis-habisan. Kepalaku penuh dengan jahitan. Daun telingaku miring sebelah, lebih tepatnya sompel. Tulang hidungku penyok, serta gigiku rontok.

“Semuanya normal, kecuali kaki kanannya,” ucap dokter pada ibu, kak Dina, dan ayah.

Aku tidak mengerti apa yang diutarakan oleh dokter. Namun otakku memerintahkan syaraf untuk menggerakannya. Terasa berat. Aku mencobanya sekali lagi, tetap tidak bisa. Jari kelingking dan tengahnya putus, telapaknya remuk. Aku menangis merintih melihat keadaanku yang bagai mayat hidup ini. Semuanya terasa amat ngilu dan perih. Terutama pada sobekan kulit wajahku dan kaki kanan. Kalau begini, mana ada laki-laki yang sudi menerima kondisi fisikku? Mana ada yang mau berteman denganku nanti?

Buktinya, pasca kecelakaan, Vian hanya tiga kali datang menjenguk. Katanya dia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai tukang cukur. Entahlah, mungkin itu alasan dia mencampakkanku. Teman-teman serta kerabat tak henti-hentinya berkunjung menyampaikan ucapan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Aku tidak tahu apakah mereka tulus atau berpura-pura. Terustetang aku malu dengan keadaanku yang mengerikan ini. Akankah aku masih bisa bertahan dalam keadaan yang cukup lama? Entahlah, aku tidak tahu.

Pak dokter meminta persetujuan ibu untuk mengamputasi kaki kananku. Lagi-lagi aku berteriak kencang tidak setuju. “Jangan dokter, jangan potong kaki saya. Kumohon... Saya tidak ingin menjadi gadis buntung,” pintaku lirih sambil terisak.

“Adya, kakimu sudah busuk. Perlu dibuang. Daripada menjalar kemana-mana. Ibu tidak akan rela." Ibu terlihat menahan air matanya yang hampir tumpah.

"Ibumu benar, Adya, kakimu harus dieksekusi sekarang juga,"

Dadaku sesak mendengar vonis mengerikan itu. Aku tidak mau. Sungguh tidak mau! Kakiku pasti akan sembuh seperti sediakala. Dasar dokter bodoh! Mestinya dia punya obat dan peralatan medis super canggih untuk menyelamatkan kaki kananku. Bukannya malah memaksa untuk memotongnya.

“Tapi aku tidak mau kehilangan satupun bagian tubuhku, Ibu. Kembalikan rambut panjangku, kembalikan gigi-gigiku, kembalikan jari-jari kakiku, kembalikan telinga dan hidungku, kembalikan semuanya seperti dulu……” Aku sungguh tak berdaya meratapi kondisiku yang begitu memilukan.

Seminggu berlalu, aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Katanya aku bisa berobat jalan. Dengan begitu, ibu, Kak Dina, dan ayah, tidak perlu repot bolak-balik rumah-rumah sakit untuk merawatku.

Kak Dina mendorongku menggunakan kursi roda menuju mobil yang disewa ayah. Kini aku pulang ke rumah dengan kaki pincang dan raga yang tiada berguna. Di dalam mobil, Kak Dina banyak berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku di siang itu.

“Kamu masuk ke dalam kolong truk, Adya. Rambutmu terlilit di jari-jari, wajahmu mencium aspal. Saat kamu terpental, kaki kananmu terlindas ban depan. Kamu bandel banget sih jadi anak. Palai helm aja susahnya minya ampun. Mengetahui kabar buruk dari rumah sakit, kami sempat pingsan berkali-kali, Adya,” Kak Dina melirik kakiku yang lumpuh tak mampu bergerak.

Kulihat ibu menarik napas, lalu mengelus rambutku yang dipotong sembarang oleh suster hingga botak. “Untungnya otakmu masih bisa diselamatkan, Adya. Kalau tidak, mungkin kamu sudah lewat.”

“Lebih baik aku tewas di tempat, Bu, daripada hidup menanggung semua kesakitan ini. Aku ingin mati saja. Ayah, bunuhlah aku sekarang juga…” kataku berteriak.

Ayah yang duduk bersama supir di jok depan, menoleh dari kaca spion tengah. Beliau tidak menjawab. Barangkali dia masih membenciku.

“Semenjak pertengkaran itu, ayahmu tak banyak bicara, Adya. Ia menyesal telah membuatmu kesal. Maafkanlah ayahmu...” Bisik ibu sambil menciumi keningku yang penuh dengan luka.

Untuk beberapa bulan bahkan tahun ke depan, tampaknya aku mesti setia bertumpu dengan kursi roda dan tongkat seumur hidupku. Mau buang air kecil, aku digendong ayah. Mau salin baju dan makan, dibantu ibu. Mau melakukan apapun, aku butuh bantuan orang lain. Rasanya sangat tersiksa. Kedua orangtuaku sukarela menjadi perawatku di rumah. Bila jadwal kontrol tiba, mereka mengantarkanku ke rumah sakit. Aku selalu menentang jika dokter berniat mengambil kaki kananku.

“Adya, biarkan dokter menggantikan kaki barumu agar kamu tidak merasa tersiksa setiap detik. Ibu tidak tega menyaksikannya, Nak..” ucap ibu berusaha meluluhkan hatiku.

Apa? Kaki baru? Kaki manusia sudah mati atau kaki palsu buatan manusia? Enak saja. Aku tidak akan pernah mau menjual kakiku berapapun jua harga yang ditawarkan. Meski kata dokter kakiku sudah hancur dan tak berfungsi normal.

***


Setiap malam tiba, aku terbangun dari tidur lelapku karena rasa sakit yang bertubi-tubi. Sebenarnya aku tidak pernah bisa tidur lelap, mengingat seluruh tulangku rasanya patah, kulit wajahku pedih, kepala nyut-nyutan, dan rasanya serba salah. Meringkuk ke kiri salah, ke kanan juga salah. Apalagi disuruh tengkurap, terlentang saja rasanya aku menyerah.

Kalau sekadar rasa perih di wajah dan seluruh anggota tubuhku, mungkin bisa kutahan, meski air mata terus bercucuran menahan rasa perihnya. Namun sakit pada hatiku karena ditinggal calon suami, serta ngilu di kaki kananku yang remuk, rasanya bagai dicabut nyawa. Ya, Tuhan, mengapa Engkau membiarkanku hidup? Aku sudah tak berguna lagi, tak akan mampu membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Hanya bisa merepotkan. Jadi untuk apa? Biarkanlah aku mati!

Hukuman ini memang pantas kuterima. Aku tahu Tuhan sengaja membiarkanku hidup untuk menyesali tabiat burukku semasa sehat. Bila mungkin aku kembali pulih seperti semula, aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Bagi siapapun yang membaca kisah naasku, kuharap kalian bisa lebih menghormati tata tertib lalu lintas, tidak mengaku-ngaku jalan raya sebagai jalan milik kakek moyangmu. Gunakanlah selalu perlengkapan standard yang sudah dicanangkan dalam undang-undang berkendaraan, serta ingat selalu pesan orang-orang yang menyayangimu meski membosankan. Nyawamu bukan kacang yang dijual dengan harga murah, kamu juga bukan barang loak yang bisa diperdagangkan di jalanan.

Barangkali Tuhan menyuruhku untuk merenungi kesalahan fatal yang pernah kubuat dan menyebarkannya pada kalian. Barangkali, napasku tidak akan lama lagi berhembus menghirup udara dunia. Di ruang serba putih ini, aku mengenang jasadku yang hancur tak berbentuk.

Terimakasih untuk Kak Dina yang sudah mau merekam semua pembicaraanku, dan dengan ringan tangannya merampungkan kisah tentang penyesalan yang teramat dalam ini. Pun terimakasih teruntuk kamu yang berkenan membaca tulisan kakakku, yang mana mewakiliku dalam menceritakannya secara tidak langsung karena jemariku tak sanggup lagi menulis walau satu huruf.

Adya yang malang, telah lama berpulang. Setelah setengah bulan syarafnya bekerja keras mendorong fungsi hati dan otak yang ternyata tak kuat lagi menopang detak jantungnya yang semakin hari semakin melemah.

Aku Dina, kakak dari seorang Adya yang kini sudah bersatu dengan tanah merah. Semoga kalian bisa menjadikannya pelajaran, bahwa kecelakaan lalulintas merupakan momok paling menakutkan bagi siapapun yang tidak taat pada peraturan. Kadang yang patuh saja celaka, apa lagi yang brandalan macam Adya.

Takdir manusia memang sudah ada yang menentukan, tapi tidak ada salahnya kita menghindari kesalahan fatal yang membuat kita menyesal. Semoga penyesalan Adya bisa membuat mata kalian terbuka, untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkendaraan.


***The End***

Kamis, 12 Februari 2015

Dewi Awan #FlashFiction

Apakah kamu menyukai langit biru yang tak tersaput awan? Apakah kamu lebih tertarik melihat gumpalan awan mengotori birunya langit? Apakah hujan itu menyebalkan? Apakah kau takut melihat kilauan halilintar memenuhi angkasa? Apakah kehadiran pelangi bisa memberikan senyum terindah?

Bagiku semua itu adalah tontonan luar biasa yang diciptakan Tuhan. Lihatlah, awan-awan itu berarak tertiup angin. Kemudian membeku dan menggelap. Tak lama gumpalannya bertabrakan mengeluarkan suara halilintar dan kilat yang menyambar-nyambar. Hujan pun turun menciptakan suasana sejuk di muka bumi ini.

Oh, tidak! Sesuatu yang selalu kutunggu kehadirannya adalah pelangi. Pembiasan cahaya oleh rinai hujan itu mampu menciptakan warna yang menakjubkan.

Aku Dewi, gadis berusia 24 tahun yang sedang mencari jati diri. Tinggi badanku semampai. Alias 150 cm pun tak sampai. Sampai sih, aku hanya bergurau. Lebih malah, lima centi. Dan artinya tinggiku 155 cm. Berat badanku hanya 43 kg. Rambutku ikal, tidak hitam, tidak pirang. Biasa saja. Hidungku juga tidak mancung, tidak juga pesek, biasa saja. Daguku tidak lonjong tidak juga bulat. Biasa saja. Mataku pun tidak sipit, tidak juga belo. Biasa saja.

Kecantikanku juga biasa saja. Aku sungguh biasa saja. Tapi aku bersyukur menjadi makhluk Tuhan yang sempurna memiliki panca indera lengkap, organ tubuh komplit, dan otak yang cukup cerdas.

Hobiku memandang awan bergerombol di langit biru. Menyaksikan percikan airnya dari atas sana. Mengagumkan. Sama halnya aku mengagumi sosok Awan. Laki-laki berusia dua tahun di atasku yang kukenal melalui sahabat baikku, Tita. Awalnya aku menolak perkenalan itu mentah-mentah. Tetapi Tita memaksaku.

“Ayolah, Dew… sampai kapan kamu menjomblo seperti ini?”

Aku memang masih menikmati kesendirianku. Tiga tahun adalah rekor muri dalam sejarah hidupku memilih status single. Rasa trauma atas kegagalan berkali-kali di masa lalu membuatku enggan memulai komitmen dengan seorang lelaki. Tetapi apa salahnya mencoba membuka pintu hati yang kuncinya sudah tertimbun dalam-dalam.

“Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun saat ini, Tita. Maaf…”
“Ayolah! Apa salahnya berkenalan. Dia anaknya baik.”

Tita terus merayuku. Dengan berat hati aku pun menerima tawaran konyol sahabatku, berkenalan. Pria bertubuh tinggi, kurus, putih, dan tampan itu sepertinya orang baik-baik. Dan kamipun akhirnya berteman cukup dekat, sangat dekat.

Wahai, Ibu, es di kutub utara dan selatan tiba-tiba mencair. Aku mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Saat Tita memperlihatkan foto Awan pertama kalinya padaku. Dan saat pertemuan itu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya.

Kehadirannya bak hujan di tengah kemarau panjang, seperti pelangi pasca badai. Secepat itukah aku jatuh cinta padanya yang baru saja kukenal kemarin sore? Setelah bertahun lamanya aku sendiri dalam kesibukan tanpa seseorang.

Kami terjebak dalam keadaan ini. Perasaan yang hadir tanpa bisa ditawar. Serta pilihan yang tidak dapat ditolak. Awan memilih menjalani hubungan ini karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk merasa menjadi seorang yang sangat dicintai. Sedangkan aku harus bertanggung jawab pada hatiku yang terlanjur mencintainya.

“Kita sudah terlalu dekat, Awan. Aku tidak ingin perasaan ini semakin jauh. Apakah? Apa kau mencintaiku?”
“Jangan suguhkan aku dengan kalimat itu.”

Tuhan, maafkan aku yang selalu berdoa agar dia menjadi teman hidupku kelak. Memohon agar ia menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku. Aku terlalu memaksa. Awan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan untukku. Rasanya sakit. Awan masih belum siap menjalani hubungan yang lebih serius. Hatiku menggigil mendengar pengakuannya.

“Kita jalani saja dulu”
“Sampai kapan? Kita sudah menjalani hubungan ini. Aku tahu kamu sedang belajar mencintaiku.”
“Dengarkan aku, Awan…”
“Tengoklah ke langit siang, betapa indahnya gumpalan awan putih bergerak tertiup angin. Lambat laun warnanya menjadi gelap pekat menutupi sinar sang surya. Hatiku seperti itu. Membendung hasrat di pelupuk mata.”

Mungkin hujan dapat menghapus jejaknya. Mungkin pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Ternyata dia bukan hujan di tengah kemarau panjang. Dia juga bukan pelangi pasca badai.

Malam-malam ini menyesakkan dada. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang sudah. Oh, Awan… kau sungguh elok bersanding di birunya langit yang tak berbatas. Tapi aku tak dapat menyentuhmu. Aku tidak pernah punya kesempatan itu. Kini aku kembali pada kesibukanku semula. Menikmati kesendirianku.Bersabar menunggu seseorang berhati Malaikat datang menemuiku.

Tugasku adalah memupuk tanaman itu agar ia tumbuh subur. Namun jika ia tetap layu atau justru mati, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah berusaha. Berusaha mempertahankan hubungan ini semampuku.

Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, seorang Dewi yang mengagumi setitik awan lepas menari di birunya langit. Memesona sejauh mata memandang, namun tak bisa dimiliki. Ini hanya sebatas mimpi untukku. Tak akan pernah menjadi nyata. Awan semakin dingin, mengucurkan derasnya titik-titik air mata membanjiri pipi tirusku.

Perasaan tetaplah perasaan. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, pasti aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayang, hanya waktu yang mampu memulihkan semua ini. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seribu tahun lagi.
◊◊◊

Flash Fiction ini merupakan kontributor dari Hujan Bercerita yang sengaja saya publish di Blog.
Terimakasih sudah membaca.

Salam hangat,


Nalla Dewi