“Selamat pagi…”
Begitulah sapaan yang selalu kudengar dan kuucapkan setiap tiba di kantor. Aku berjalan setengah berlari, terpogoh-pogoh menuju lantai dua dengan langkah kaki seribu. Mengingat lima menit lagi akan dilakukan briefing pagi. Celaka dua belas jika aku terlambat. Bisa-bisa si kepala botak menceramahiku seharian. Pak Dito, kepala Divisi Operasional Back Office yang paling galak se-jagad-raya yang akan memimpin briefing.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku berkali-kali. Setengah berlari ke ruangan briefing. Tiba-tiba kakiku membentur ember yang berisi air. Tubuhku terlentang bersimbah air kotor. Pakaianku basah kuyup. Mana tidak ada persediaan baju ganti di loker.
Semua orang memperhatikanku. Mukaku seketika merah padam. Ini tontonan yang sangat memalukan sepanjang peradaban dunia. Terperanga duduk di lantai dan terbasuh air bekas mengepel. Kotor, bau, dan ihhh… sebentar lagi aku akan gatal-gatal oleh sejuta kuman yang bersorak riang menyambutku.
Beberapa detik kemudian, seseorang dengan garis wajah menyenangkan, tinggi 180 cm, bobot 70 kg, hidung mancung, alis yang tebal, bibir berwarna merah, seperti dipoles lipstik tipis, dan dada yang membusung ke depan, terlihat berlari ke arahku. Dialah Aji. Pembantu dibagian bersih-bersih. Usianya setahun di atasku.
Aji segera membereskan letak ember dengan wajah sangat bersalah. Tangannya dijulurkan ke hadapanku. Mengajakku berdiri. Namun aku mengibaskan jemariku ke wajah kirinya dengan kencang setelah aku berhasil menapakkan kedua kakiku lagi dengan sempurna.
“Maksud kamu apa? Menaruh ember bekas pel di dekat tangga?” Tanganku mendorong ember hitam yang tergeletak didekat kakiku itu. Aku memarahinya tragis. Tak peduli tontonan menjadi heboh. Pak Dito yang terlihat batang hidungnya berdiri tegap di hadapanku, kedua tangannya terlipat. Beliau ikut menyimak tontonan layar terbuka antara aku dan Aji, si OB yang patuh dan taat pada semua karyawan salah satu Bank swasta tempatku bernaung mengais rezki.
“Maaf Mba, saya tidak sengaja. Karena saya pikir semua karyawan sudah tidak ada yang lewat sini lagi. Berhubung waktu sudah mendekati jam kerja.” Aji menundukkan wajahnya yang mendadak pucat.
“Kamu pikir dugaan kamu benar? Dugaan kamu meleset, Aji. Saya terpeleset. Dan lihat! Baju dan rokku basah. Memang kamu punya gantinya? Dan lihat! Wajahku!” aku menunjuk wajahku. Mirip sekali dengan anak pramuka yang sedang menjalani halang rintang, merayap di sebuah sungai kotor.
Aji hanya terdiam dan menunduk. Sebenarnya dia laki-laki yang dewasa. Selama aku lembur hingga larut malam, Aji tak pernah lupa membelikan makanan kesukaanku. Dan itu free. Padahal aku tahu, gajinya jauh lebih rendah dari gajiku. Aji juga teman yang pengertian. Dia selalu berhasil menebak hatiku yang kadang-kadang kusut seperti kaset tape recorder jaman dahulu kala. Tapi hari ini, kebaikannya berubah menjadi sosok yang sangat kubenci. Aku bermurka durjana padanya.
Suasana hening. Suara sepasang sepatu dari jarak lumayan jauh, lama-lama terdengar mendekat. Pak Kusdi, security yang berjaga di pintu masuk lantai dua mengingatkan Pak Dito bahwa waktu briefing sudah harus dimulai. Aku menelan ludah. Entah harus ikut dalam pengarahan pagi ini atau aku pulang ke rumah mengganti pakaianku yang tak sedap dipandang.
“Elinn, pagi ini saya kasih kamu kelonggaran untuk tidak mengikuti briefing. Cepat kamu ganti bajumu dan bersihkan badanmu! Para nasabah akan kabur jika melihat ada karyawannya yang kotor sepertimu.” Dengan nada sadis, Pak Dito meninggalkan tontonan murahan ini.
“Tapi Pak, saya tidak punya baju cadangan di loker. Apa saya diizinkan untuk pulang sebentar?” Aku menatap punggung Pak Dito penuh harap. Beliau menoleh.
“Terserah kamu saja. Urus secepatnya. Setelah itu, kamu ke ruangan saya!” Pak Dito berlalu dengan wajah sangat judes.
Ini semua gara-gara Aji. Tak perlu berkata-kata lagi, aku segera berlari ke pintu keluar untuk secepat mungkin mengganti pakaianku dan membersihkan tubuhku. Namun Aji menahan tanganku. Aku berontak. Tetapi apa yang ia ucapkan?
“Boleh saya mengantar Mba? Saya ikut bertanggungjawab atas kelalaian saya pagi ini. Jalanan Ibu Kota pasti macet parah. Kalau menggunakan mobil, kapan sampai? Bisa-bisa tengah hari baru kembali di sini.”
Penjelasan Aji cukup masuk akal. Kali ini aku tidak memarahinya. Melainkan menuruti saran apiknya itu. Aji mengantarku pulang menggunakan motor bebek warna biru, miliknya sendiri. Ia menstarter gas dan menyelap-nyelip setiap jarak yang tersisa antara sekian banyak kendaraan roda empat dan roda dua yang memadati jalanan Kota Metropolitan.
Aku bersungut-sunggut dalam hati “Ada benarnya ucapan Aji barusan. Bahkan aku bisa kembali ke kantor sore hari kalau tahu macetnya seperti ini. Stuck, tidak bergerak. Hanya kendaraan yang langsing saja seperti motor yang bisa leluasa keluar masuk mencari jalan tikus.”
Sebagai pengendara yang baik, Aji menyuruhku untuk memakai helm. Ia meminjamnya dari Pak Kusdi. Disepanjang perjalanan ke rumah, kami sibuk dalam kebisingan bunyi klakson dari para pengendara yang tidak sabaran melintas. Dikedua arahnya terlihat padat. Sesekali Aji menolehku untuk sekadar menanyakan arah jalan. Dan aku menjadi navigator dadakan. Kedua tanganku kurapatkan di depan dada. Takut kalau sewaktu-waktu Aji mengerem secara spontan tanpa pemberitahuan.
“Sudah sampai Mba.” Aji mengerem gasnya dengan sangat halus. Butuh 45 menit untuk sampai ke rumahku. Jika aku naik mobil, mungkin bisa dua kali lipatnya. Tanpa berkata panjang lebar, aku langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Aji menunggu di atas motor bebeknya. Sama sekali aku tidak basa-basi menawarinya menunggu di ruang tamu. Berselang sepuluh menit, aku keluar dan segera memerintahkan Aji untuk segera kembali ke kantor.
“Tidak makeup-an dulu Mba?” Aji menyodorkan helm warna merah milik Pak Kusdi.
“Saya buru-buru. Sudah, kamu menurut saja. Tidak perlu banyak tanya.” Perintahku dengan nada judes dan tergesa-gesa.
Aji mengangguk. Melajukan motor bebeknya dengan kecepatan lebih kencang, karena jalur tikus sudah mulai terlihat lancar, walau pada titik tertentu harus tertahan beberapa menit. Lagi-lagi kami hanya terdiam. Hilir mudik kendaraan menjadi pemandangan yang membosankan. Hanya setengah jam aku tiba di parkiran kantor. Kulepaskan helm dari kepalaku dan kuserahkan pada Aji. Aku turun dari motor merahnya dan berlari secepat kilat untuk memenuhi panggilan Pak Dito.
Tok..tok..tok..
Aku mencoba memberanikan diri mengetuk pintu yang membatasi ruangan kerja Pak Dito.
“Masuk!”
Terdengar suara berat beliau dari dalam mempersilakanku masuk. Terjadilah proses interogasi cukup panjang. Persis seperti disidang saat Skripsi dulu.
“Jadi seperti itu ceritanya?” Pak Dito menatapku dalam-dalam. Sedalam sumur lubang buaya. Tangannya mengelus dagu yang tak berjenggot. Aku menunduk takut. Takut jika di sumur itu memang benar ada buaya ganas yang siap menerkam mangsa. Wajahnya memerah, kumisnya bergerak naik-turun. Ini kesekian kalinya aku dimarahi Pak Botak habis-habisan.
Sungguh aku sangat apes sekali hari ini. Gara-gara terpeleset ember, aku kena denda dan hukuman. Sia-sia kembali lagi ke sini, kalau uang gaji sehariku hangus. Tahu begitu tadi aku tinggal di rumah saja. Tidak perlu balik lagi. Dan yang lebih parahnya lagi, aku harus menjadi asisten pribadi beliau untuk sementara waktu. Aku menggerutu dalam hati.
Pernah tidak, Anda merasa bekerja setengah hati ketika situasi sedang kacau balau? Aku pernah. Dan baru tadi pagi mengalaminya. Untung saja partner kerjaku, Dika, tidak membahas hal ini. Ketika kliring Bank note dari teller sedang banyak-banyaknya, serta kiriman uang yang tak kalah membludak, Dika hanya melirikku beberapa detik. Aku memberikan isyarat dengan mengangkat kedua alisku tinggi-tinggi. Kuharap Dika mengerti maksudku. Maksud yang tak bermakna. Hanya memberikan tanda bisu yang tak berarti. Aku menghela nafas. Memperlancar peredaran darahku yang membeku.
Tepat pukul 12.00 WIB, aku bergegas meninggalkan ruangan akunting itu. Dengan langkah seperti siput, aku menatap kosong ke lingkungan sekitar. Tak ada senyum ramahku. Tak jua semangat dalam hatiku. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari samping. Dika! Aku sangat terkejut dia mengikutiku. Dia memberikan senyum termanisnya. Tapi hari ini aku sedang malas untuk tersenyum.
“Hey, kamu masih bete? Sudahlah lupakan saja. Lebih baik kamu ikut denganku. Kita makan siang di luar. Bagaimana?”
Oh Dika… terima kasih sudah memberikan tawaran terindah. Dengan begitu aku bisa menghilangkan kejenuhanku hari ini, walau hanya secuil. Dika membawaku ke rumah makan sederhana dekat kantor.
Meski dekat, kami menggunakan mobil silvernya. Karena dekat yang dimaksud, adalah sekitar empat ratus meter dari kantor. Lumayan jika berniat menurunkan lemak disiang bolong begini. Maka terjadilah perbincangan kecil antara aku dan Dika, partner kerjaku yang sudah bertahun-tahun ini. Dika tak pernah mengguruiku. Justru sebaliknya, Dika selalu menjadi pendengar setia dan tak pernah lupa memberikan senyum termanisnya.
“Tadi aku menyaksikan semuanya Linn… Ah, aku pikir, kamu harus pakai sepatu yang ada matanya,” celoteh Dika membuat humor yang tidak lucu.
“Iya, mata kamu dicopot dulu buat sepatu ya?” aku mencibirnya. Lantas kami sama-sama terbahak dan aku hampir tersedak. Hanya 45 menit kami berada di rumah makan sederhana itu. Kemudian kembali ke jobdesk yang sangat membosankan. Menghitung. Menghitung uang milik orang. Dan kalau ada selisih, ya mau tidak mau harus menombok. Itu yang menjadi dongkol. Kalau nominalnya tidak berapa, ayolah! Tapi kalau nominalnya material, merogok kantong, oh… its no!!!
Karena kejadian Senin lalu, setiap hari selama seminggu, aku harus pulang larut malam. Pak Dito menghukumku dengan menghandel pekerjaan Ibu Berti, asisten pribadinya yang selama satu minggu ini cuti ke luar negeri. Hanya aku dan Divisi Call Center yang menghuni ruangan luas lantai tiga. Dan, Aji…. Entah mengapa selama seminggu ini dia selalu pulang pada jam yang sama denganku. Perhatiannya membuatku menyesal telah memarahinya dengan sadis kala itu. Aku tahu, dia tidak sengaja meletakkan ember bekas mengepel di dekat tangga.
“Mba, butuh yang hangat-hangat?” atau “Mba, mau makan apa malam ini?” atau “Mba, boleh saya ikut membantu?” dan “Mba, biar saya antar pulang ya!” Kira-kira seperti itulah perhatian-perhatian kecil yang selalu ia berikan padaku. Hingga aku dan Aji menjadi akrab. Dia adalah teman yang asyik. Aji selalu mengerti isi hatiku. Berada paling depan saat aku mengalami kegelisahan. Namun yang tak kumengerti, mengapa dia mengutarakan cinta padaku. Aku sungguh tidak menduga. Kedekatannya selama ini menyimpan rasa lebih. Rasa yang sulit aku jamak dan kutaksir dengan logika.
“Maaf Aji, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih.” Begitulah jawabanku. Padahal di dalam hati ingin rasanya mengeluarkan kata-kata seperti ini; “Aji, kamu tahu tidak? Kamu hanya seorang pembantu kantor yang pekerjaannya tidak selevel denganku. Pendidikanmu hanya SMA. Sementara aku Sarjana Ekonomi dengan IPK di atas rata-rata. Hey Aji, harusnya kamu sadar diri. Kita sangat jauh berbeda. Mana mungkin kita akan bisa bersama-sama didalam perbedaan yang sangat terlihat jelas itu. Meski kamu tampan, mirip seperti Lionel Messi, pemain bola favoritku, atau kamu yang hatinya menyetarai para malaikat, tetap saja, kamu bukan tipeku,” aku bergumam didalam hati, enggan mengucapkannya langsung. Lidahku terasa kelu.
“Maaf Mba, saya tidak bermaksud mempermalukan Mba dengan ungkapan hati saya. Jika memang Mba merasa keberatan, saya mengerti.” Aji memasang wajah memelas. Aku tidak berkomentar lagi. Hatiku menjerit kencang. Oh Tuhan, benarkah ini? Engkau mengirimkan makhluk tampan dan baik hati ini hanya sebagai kacung. Sebagai suruhan orang-orang. Atau lebih kasarnya budak. Budak yang kedudukannya paling rendah. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berlalu.
Beberapa hari pasca Aji mengungkapkan isi hatinya, dia tetap bersikap ramah padaku meski aku menolaknya. Tetapi sikapku menjadi lain. Aku tak lagi memperlakukannya sebagai teman. Aku seperti orang yang tak pernah mengenalnya. Bersikap acuh dan tak peduli. Aji hanyalah patung yang dapat berbicara. Aku benci kenapa dia harus mengungkapkan perasaannya. Andai saja kamu bukan OB, andai saja kamu bukan kacung, Aji, Mungkin aku akan berpikir ulang.
Beberapa minggu kemudian, aku mengajukan cuti kepada Pak Dito. Awalnya beliau sangat keberatan, tetapi aku meyakinkannya dengan strategi yang tak kalah jitu. Pak Dito ketakutan dan akhirnya bilang “OK”.
“Semua karyawan punya hak cuti kan Pak? Bapak mau membayar uang cuti saya? Atau Bapak mau kena sanksi dari pemerintah karena melarang anak buahnya mengambil kebijakan free work?”
Ucapanku terdengar mengancam. Padahal maksudku, hanya menggeretak Pak Dito agar menyetujui ajuanku. Mataku berbinar saat aku diizinkan tidak masuk kerja selama empat hari lamanya. Ini bahkan seperti libur lebaran pikirku. Aku bersorak dalam hati. Otak kananku bekerja memainkan dunia khayalan. Aku ingin pergi menemui nenek di luar kota.
“Ciyee… dapat restu dari Pak Dito, atasan tercinta...” Dika mengacak-ngacak rambutku dan mengajak bercanda. Aku memelototinya. Tak terima dibilang mendapat restu. Memangnya orang menikah pakai restu-restu segala. Aku hanya melempar senyum nakal kepada Dika. Melayangkan kalimat syirik lantaran cutinya belum juga di acc oleh Pak Botak.
Selama aku cuti, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Aji. Aku memang sengaja men-silent-kan hpku. Dan aku juga sengaja tak bilang padanya kalau aku akan cuti beberapa hari. Untuk apa juga aku harus bilang padanya. Dia bukan siapa-siapaku. Hmm.. aku mendesah panjang. Mengapa dunia ini tidak adil? Kenapa seorang Aji yang berani menyatakan dirinya bersedia menjadi pasanganku. Kenapa bukan orang lain? Hatiku lusuh. Aku menyeka hidungku. Menatap kosong ke jam dinding ruang tamu.
Sekembalinya aku dari cuti panjang, aku masih belum ingin bertemu Aji. Namun seharian ini aku tidak melihat batang hidungnya. Mungkin dia tidak masuk kerja, ada urusan pribadi atau mungkin dia sakit. Lagi-lagi aku menerka dalam hati. Keesokan harinya, Aji belum juga terlihat. Aku melongok penasaran.
Tak perlu dicemaskan. Bukankah aku senang kalau Aji benar-benar tidak ada? Tidak! Aku benar-benar kehilangannya. Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya.Berkunjung ke rumahnya pun rasanya tidak mungkin. Aku pun tak tahu dimana dia tinggal. Aku hanya khawatir dia sakit keras. Akupun memberanikan diri mencari alamatnya. Aku ingat saat dia bilang tinggal di kontrakan kecil bersama kakaknya, tidak jauh dari kantor. Beberapa rumah aku kunjungi dan melontarkan pertanyaan yang sama “Apakah benar ini rumah Aji?”
Seseorang di dalam menyahut “Bukan.”
Bukan dan bukan. Aku hampir menyerah. Namun perempuan berkerudung hijau itu mendekat dan berkata;
“Mba mencari adik saya, Aji?” perempuan itu mengajakku ke rumahnya. Aku senang saat aku akan bertemu dengan Aji, walau sesungguhnya aku merasa engan menemuinya. Namun apa kenyataanya? Aji sudah tidak tinggal disini lagi. Aji pindah kerja entah kemana. Hatiku merasa terpukul mendengarnya. Hatiku terasa pilu.
Aku mencoba menghubungi nomor HP Aji. Tidak ada respon, atau lebih tepatnya nomor tidak aktif. Aku menelan ludah. Mungkin ini yang terbaik. Perpisahan. Bukankah itu yang aku inginkan. Menjadi orang yang tak pernah mengenal Aji. Tapi sejujurnya, hatiku meringis sepi. Hanya dia yang membuatku tertawa lepas. Hanya Aji yang selalu membuatku tersenyum tanpa henti. Dan sekarang, senyumku memudar. Layu seperti bunga yang kehilangan pesonanya.
“Elinn, besok kamu datang sama siapa ke kondangan anaknya Pak Dito?”
Dika memutus lamunanku tentang Aji yang sudah pergi selama tiga tahun terakhir. Jelas aku akan pergi sendiri, mengingat Dika sudah beristeri. Dan aku yakin dengan keputusanku. Aku akan pergi sendiri ke acara itu.
“Hey.. kenapa menangis?” seorang anak kecil berambut ikal sebahu merengek mencari ibunya. Aku merangkulnya dengan hati iba. Menanyakan kemana ibunya? Harusnya aku tidak menanyakan hal ini pada anak kecil yang baru berumur satu tahun setengah. Dia belum mengerti apa-apa. Aku menggendongnya dan menunjuk satu persatu wanita dan laki-laki yang mungkin ia kenali. Anak itu tetap menangis. Mereka bukan orangtua anak ini.
Tak jauh aku melangkah, seorang laki-laki bersua memanggil nama anak itu, “Sheina…”
Siapa itu Sheina? Aku tidak menoleh. Tak terpikirkan anak itu bernama Sheina. Lalu aku kembali berjalan mencari sosok orangtua anak kecil yang ada dalam gendonganku. Laki-laki tinggi itu mengahadangku. Isterinya menyusul dari belakang. Ia terlihat mengatur nafas dan mengusap air matanya.
“Sheina sayang, kemarilah, Nak. Ini Ayah,” laki-laki berjas abu-abu itu membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Matanya berkaca-kaca.
“Apa benar kamu bapak dari anak ini?” aku bertanya tak percaya.
“Benar Mba, kami orang tuanya. Sedari tadi kami berputar-putar di tempat ini untuk mencarinya. Sheina tertinggal saat kami asyik berbincang dengan Pak Dito,” wanita cantik bergaun anggun putih itu meyakinkanku. Aku memberikan bocah kecil itu padanya. Wanita itu meraihnya dan langsung menciuminya berkali-kali.
“Maafkan Mamah, Nak! Mamah sayang kamu!” wanita itu mencoba mengusap air mata yang membanjiri telaga pipinya. Aku menyeringai ke arah laki-laki yang disebut sebagai suaminya itu. Ayah dari anak ini? Wajahnya tak asing. Aku seperti mengenalinya. Tapi entah dimana. Dia seperti Aji. Mirip sekali. Tapi aku takut salah orang. Dan perkenalan pun berlangsung, kami bertiga saling bergantian menyebutkan nama masing-masing.
Aji! Ya, benar sekali. Ini kamu? Benarkah? Kamu sudah memiliki isteri yang amat cantik dan satu anak yang sangat jelita. Sedangkan aku, masih dalam kesendirian panjangku. Belum menemukan kandidat yang cocok untuk kujadikan suami, ayah dari anak-anakku kelak. Mataku memerah. Aku menghela nafas dalam-dalam, kemudian berpamitan pada keluarga kecil itu. Baru beberapa langkah aku berlalu, laki-laki itu menarik tanganku.
“Mba, apa kabar? Saya sangat rindu padamu. Maafkan saya yang tak berani mengucapkan salam perpisahan atas kepindahan saya ke tempat kerja yang baru. Saya juga tidak mengundang Mba ke acara pernikahan kami,” Aji memandangku dengan sorotan mata yang tajam. Kerinduan yang tak mungkin dapat terjamak. Aku menyentuh pipinya lembut, seolah ini adalah salam perpisahan selamanya untuk orang yang pernah kusia-siakan dulu.
Ingin memeluk namun rasanya tak mungkin. Sesosok wanita cantik berdiri di belakangnya. Tersenyum padaku. Wanita itu tak marah ketika aku menyentuh halus pipi suaminya. Bahkan dia menjadi saksi antara dua insan yang tak bisa bersatu. Semua ini begitu hebat, Aji. Kau memiliki isteri yang mungkin kedudukannya jauh lebih tinggi darimu. Serta dia jauh lebih pintar darimu. Namun kegigihanmu, kejujuranmumu, sikap tanggungjawabmu, serta tampang wibawa yang menarik, tak kurang dari apapun. Sehingga tak ada satupun wanita menolakmu menjadi suaminya.
Berbeda denganku, yang hanya bersikeras mengiginkan sosok tinggi di atasku, berdiri di depanku dengan segala yang melebihiku. Sejajar, paling tidak seperti itu. Wanita itu mendekat. Ia memberikan anaknya pada Aji. Aku tak berpikir aneh-aneh. Jika ia menamparku pun tak apa. Aku yang salah telah menyakiti hatinya. Tapi dia, perempuan itu, justru memelukku. Aku tak percaya, Tuhan. Apakah arti dari semua ini? Perempuan itu berbisik padaku.
“Saya tahu semuanya tentang Mba dan suami saya. Maafkan saya yang telah lancang merebut Aji dari Mba.” Tutur katanya menyiramku seperti air es. Sejuk, dan tak menghakimi.
Pelan-pelan aku melepas pelukan wanita itu. Dia menangis syahdu. Begitupun denganku, aku menatap wajahnya dalam. Mana ada wanita sebaik dia? Baru hari ini aku mendengar sendiri ucapan seorang isteri yang sangat bijaksana.
“Kamu tidak salah. Aku yang salah telah menyia-nyiakannya.” Aku tersedu sedan.
Ini semua tak pernah ada dalam pikiranku. Tidak pernah. Aku bertemu dengan orang-orang yang baiknya melebihi malaikat. Apakah aku harus menertawaiku hidupku? Menjaga gengsi hanya karena status kedudukan semata. Menjaga jarak antara hati dan realistis. Aku baru sadar ketika perempuan itu berbisik diujung telingaku. Bahwa cinta tak memandang harta dan jabatan. Cinta adalah perasaan menerima kurang dan lebih seseorang. Cinta tak pernah diukur dari pendidikan, jabatan, dan marga tertentu.
Aku tertunduk lesu. Air mataku tak terasa mengalir dengan sendirinya. Diusiaku yang sudah menginjak 30 tahun, aku belum juga mendapatkan calon suami. Seharusnya aku sudah memiliki seorang anak seumuran Sheina? Aku menelan ludah. Menyesal telah berpura-pura tidak mencintai Aji. Bahwa sesungguhnya hanya dialah yang sepenuhnya ada dalam hatiku. Berkembang, kemudian layu.
Kamis, 11 Desember 2014
Senin, 27 Oktober 2014
Sakit Hati vs Sakit Gigi #INTERMEZO
Saat kita sedang patah hati, hancur lebur berkeping-keping, berserakan di mana-mana, kadang terbesit dalam otak untuk memilih sakit yang lain. Pada kasus yang berbeda ketika kita mengalami ngilunya sakit gigi yang membuat resah bukan kepalang, susah tidur, susah makan, mendengar hal sedikit saja langsung sensitif, tanpa sadar akan terucap, "lebih baik sakit hati daripada sakit gigi."
Menurut gue, gue lebih memilih sakit gigi daripada sakit hati. Kenapa? Sakit gigi bisa ditangani dokter. Kalau sakit hati, langsung ke psikiater, atau parahnya ya rumah sakit jiwa. Memulihkan rasa sakit hati bisa bertahun-tahun lamanya bahkan seumur hidup. Meski hati telah berdamai dan memaafkan, sewaktu-waktu sakit itu masih bisa muncul. Perasaan tetaplah perasaan. Tidak ada obat instan untuk menyembuhkannya kecuali dengan seiring berjalannya waktu. Lambat laun sakitnya mereda. Tapi tidak hilang secara keseluruhan.
Pada seseorang yang menderita sakit gigi luar biasa, mereka seenaknya bilang, "Sakit hati masih bisa dibalas. Kalau sakit gigi, bagaimana membalasnya?"
Hey, untuk apa membalas dendam. Toh perasaan sakit itu tidak akan hilang. Yang ada malah membuat dosa. Biarkan Tuhan saja yang membalasnya.
Nah, menurut kalian, lebih pilih mana? Sakit gigi atau sakit hati?
"Sakitnya tuh di sini!" *nyanyi"
Minggu, 26 Oktober 2014
Perjalanan #Motivasi
Aku bersyukur terlahir dari keluarga yang sederhana. Karena dari situlah aku banyak belajar menakhlukan kerasnya hidup. Dan aku bersyukur memiliki kedua orang tua yang membebaskanku memilih jalan hidupku, berpetualang mengejar mimpi. Serta selalu mengizinkanku melakukan perjalanan jauh demi membuka jendela keberagaman suku, adat istiadat, budaya, serta menikmati hasil karya tangan Tuhan yang maha luar biasa, alam yang sungguh indah. Berteman dengan orang-orang baru, menggali sadalam-dalamnya ilmu untuk bekal bahan inspirasi dan motivasi. Membuka cakrawala seluas-luasnya.
Rasanya amat prihatin pada teman-teman perempuan yang dilarang keras melakukan perjalanan oleh kedua orang tuanya karena alasan kita adalah wanita. Kalau kita hanya mengurung diri di rumah, kapan jiwa mandiri akan terbentuk? Kapan kita menggali hakekat kehidupan di luar sana? Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Perempuan pun bisa berkarya dan menentukan pilihan. Selagi masih dalam ruang lingkup yang positif. Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Jangan mengurung diri dan menutup pintu terlalu rapat. Pelajari setiap watak dan jangan terbawa arus pergaulan. Teruslah berpatokan pada kepribadianmu sendiri. Jangan ikut-ikutan. Kecuali jika itu sesuatu yang layak untuk diikuti.
Perjalanan ini menyenangkan, Kawan! Kita bisa terjun langsung membuktikan bahwa hidup ini berliku, terjal, licin, dan tajam. Maksudnya disetiap langkah ini, kadang kita akan merasa bingung ketika tersesat (galau), sedih saat tak tahu lagi apa yang harus dilakukan (terpuruk), bahagia karena berhasil sampai puncak/ tempat tujuan (solusi). Semuanya menguji adrenalin (kesabaran dan perjuangan). Kadang berkerikil, berbatu, penuh jurang, curam, terjal, dan mulus. Kadang ke hulu, kadang juga ke hilir. Kau akan menemui titik-titik itu. Inilah hidup. Mau tidak mau harus dijalani, dilewati, dan dinikmati.
Kata ayah, meski wanita, kita tidak boleh cengeng, lemah, apalagi manja. Menangis boleh, mengeluh pun boleh. Asal jangan terlalu sering. Cukup diri sendiri saja dan sahabat terdekat yang tahu. Lantas ketika kamu terjatuh, jangan terlalu lama mengaduh sakit. Bangkitlah! Berubahlah menjadi manusia yang lebih baik, bermutu, dan berkualitas. Jadikan kesedihanmu, kegagalanmu, keputus-asaanmu, dan kegundah-gulanaanmu sebagai batu lompatan menuju sukses! Go Girls, Go Passion, Go Dream!
Jumat, 03 Oktober 2014
Aku Lelah #Puisi
Malam-malam ini menyesakan dada. Bayangan wajahmu masih terlintas anggun dalam hati dan pikiranku. Sepenuhnya berkuasa dan enggan menjauh. Tidak dengan diriku. Yang selalu mencoba menjauh dari semua tentangmu. Yang selalu mencoba pergi dari perasaan itu. Aku lelah...
Kesedihan ini teramat larut dan dalam. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang percuma. Aku tetap saja berhenti di tempat yang sama, mengenangmu. Meratapi nasib kisahku yang pilu. Aku teramat lelah...
Beribu kali kukatakan, aku pasti bisa melupakanmu. Membuang jauh kenangan bersamamu. Menghapus nama dan bayanganmu dari hati dan otakku. Aku geram dengan perasaan duka yang menyelimuti keseharianku. Aku juga ingin bahagia meski tanpamu. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, tentu saja aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayangnya, hanya waktu yang mampu memulihkan keadaanku. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seratus tahun lagi. Itu pun jika aku masih hidup.
Aku hanya pasir di pesisir laut. Terhempas ombak dan terinjak. Nikmati saja. Hidup kadang tak seindah yang diinginkan. Jika aku bisa membuat cerita dengan ending yang indah, mungkin itu hanya ada dalam mimpi.
Berharap pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Semoga!
Kesedihan ini teramat larut dan dalam. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang percuma. Aku tetap saja berhenti di tempat yang sama, mengenangmu. Meratapi nasib kisahku yang pilu. Aku teramat lelah...
Beribu kali kukatakan, aku pasti bisa melupakanmu. Membuang jauh kenangan bersamamu. Menghapus nama dan bayanganmu dari hati dan otakku. Aku geram dengan perasaan duka yang menyelimuti keseharianku. Aku juga ingin bahagia meski tanpamu. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, tentu saja aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayangnya, hanya waktu yang mampu memulihkan keadaanku. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seratus tahun lagi. Itu pun jika aku masih hidup.
Aku hanya pasir di pesisir laut. Terhempas ombak dan terinjak. Nikmati saja. Hidup kadang tak seindah yang diinginkan. Jika aku bisa membuat cerita dengan ending yang indah, mungkin itu hanya ada dalam mimpi.
Berharap pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Semoga!
Selasa, 10 Juni 2014
Benahi Diri dengan Moveon #Tips&Trik
Guys, saya tau rasanya putus dari orang terkasih. Putus cinta itu hal lumrah. Bahkan orang yang menikah saja bisa bercerai. Entah karena diselingkuhi, dibohongi, disakiti, dikhianati, dan apa pun itu kondisinya, rasanya sangat menyakitkan. Apa lagi jika sang mantan masih terlihat jelas berlalu-lalang di depan mata. Berkeliaran sendiri, atau dengan pacar/pasangan barunya. Hati bagai teriris pisau tajam. Dan kenangan itu pun selalu teringat, lagi dan lagi. Semua kenangan tentang manis dan pahit saat bersama. Siapa yang bisa menolak kenyataan? Kenyaataan bahkan kamu sekarang bukan lagi miliknya. Kenyataan bahwa dia sudah tidak mencintaimu lagi. Atau lebih sadis saat dia mencintaimu dan kamu pun amat mencintainya, tetapi kalian berdua tidak dapat bersatu karena keadaan. Karena pihak orang tua yang tidak setuju lantaran perbedaan kepercayaan, keyakinan, anutan, level pendidikan, derajat, jabatan, dan tahta. Yang paling pedih, karena dia dijodohkan, kemudian menikah. Atau saat kamu hampir menikah tetapi gagal. Miris banget kan?
Udah ah, jangan galau lagi. Saya Sudah hampir merasakan semuanya. Apa yang kita lalui mengandung pembelajaran. Tuhan punya rencana lain dibalik semuanya. Toh katanya jodoh sudah ada yang mengatur, bukan? Toh kalau jodoh tak akan kemana-mana? Percayalah Sobat, hidup ini indah jika kamu menyadarinya. Jangan lantas kecewa, putus asa, dan berhenti sampai disini. Perjalanan masih panjang. Perjuangan masih keras, serta butuh pengorbanan. Hati yang lapang dan mau menerima kenyataan, itu yang harus kau punya.
Nah ini dia tips melupakan mantan kekasih menurut Nalla Dewi.
Simak ya...
1. Hapus semua kontak yang tersimpan di akun pribadimu.
Seperti handphone, akun media sosialnya, list email, dan tentunya di hati kamu. Benar, kita tidak boleh memutuskan tali silahturahmi. Tapi saat ini, kamu butuh menghindar sementara dari semua belenggu yang membuatmu gagal moveon. Untuk saat ini saja, Kawan... Kamu harus mencoba menghentikan semua yang berbau nama dia. Jangan berhubungan dulu dengannya melalui akun sosmed dan percakapan di telepon, sms, chatting, dsb. Jangan biarkan dirimu terus khawatir memikirkan dia. Dengan menanyakan kabar atau pun mencari tahu tentangnya di akun sosmed, itu sama saja memancing memori tentang doski. Please,,,, jika pun doski yang mencoba menghubungimu terlebih dulu, acuhkan, abaikan. Jangan beri ruang sedikit pun untuknya. Karena jika kamu masih memberinya harapan, kamu akan sakit hati lagi, masuk ke lubang yang sama. Kamu tahu semua baik dan buruknya doski, pertimbagan yang selama ini kamu andalkan, hanya membuatmu menyesal untuk kedua kalinya. Bahkan untuk kesekian kalinya. Memang, manusia bisa berubah kapan saja, tapi apa kamu siap balik lagi ke mantan yang hobinya bikin kamu nangis? Bikin kamu gundah gulana setiap harinya? Please stop dealing with her/him.
2. Jauhkan apapun itu pemberian darinya, atau semua yang mengingatkan kamu tentang dia.
Singkirkan Kawan, singkirkan! Sampai kapan kamu memandangi hadiah pemberiannya sewaktu kamu ulang tahun? Sewaktu kamu menjadi seseorang yang paling bahagia? Dia mengecup keningmu mesra dan romantis. Dia yang memelukmu dengan kasih sayang yag tulus. Oh tidak... Semua ini sudah berakhir. Jangan kau biarkan benda apapun menggelayut di depan matamu. Membuatmu ingat dan selalu ingat tentang dia. Jika benda itu berarti untuk kamu, untuk sementara waktu, tolong simpan dulu di tempat yang tak terlihat oleh matamu. Kalau perlu buang saja. Rasanya cukup jahat ya. Mmm... berikan pada orang yang lebih membutuhkan, mungkin lebih akan bermanfaat. Tapi menurutku, coba titipkan pada sahabat dekatmu. Mintalah dia untuk merawatnya, dan menyimpannya di tempat yang sulit kau jangkau. Jika kamu sudah bisa menerima kenyataan dan menormalkan keadaan hatimu yang kusut, mungkin kamu bisa mengambilnya kembali. Dengan syarat, kamu tidak boleh galau lagi ketika melihat benda itu. Apalagi sampai mengeluarkan air mata.
3. Kongkow dengan Sahabat
Percaya nggak, sahabat itu kadang bisa melakukan hal yang diluar dugaan hanya untuk membuatmu tertawa lepas. Mereka akan melakukan sesuatu yag konyol demi menghibur sahabatnya yang sedang berduka cita. Mereka akan merasa sangat diperlukan ketika sahabat dekatnya sedang mengalami kesusahan. Mereka bersedia meminjamkan bahu mereka ketika kamu ingin menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala getir. Mereka selalu bersedia mendengarkan keluh kesahmu yang mungkin membuat mereka bosan. Dan mereka siap menerkam siapapun orang yang sudah melukai perasaanmu, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Jangan sepelekan makna sahabat. Sahabat adalah orang yang paling menyayangimu sepenuh hati. Dan ketika kamu sibuk dengan pacar barumu, arti sahabat kau lupakan begitu saja. Padahal, mereka orang yang selalu mengirimkan doa untuk kebahagiaan sahabatnya sendiri. Kamu dapat pacar, itu pun karena doa sang sahabat. Jadi, kalau kamu sedang bahagia, tolong jangan lupakan sahabatmu. Ok!
3. Cari kesibukan
Jika kamu seorang wanita/pria karir, fokuskan pikiranmu hanya ke pekerjaan yang menumpuk bak gunung yang siap meletus. Pikiranmu tidak boleh kosong walau hanya sedetik. Artinya, jika pikiranmu berjalan-jalan da melayang-layang, besar kemungkinan otakmu akan berhenti disatu titik; kenangan dan memori masa lalu. Yang artinya lagi, kamu akan terjebak dalam nostalgia masa lalu. Dengan memfokuskan diri pada pekerjaanmu, kamu juga akan mendapat kesempatan promosi naik jabatan. Sesuatu yang menarik, bukan?
Dan jika kamu seorang pelajar/mahasiswa, perbanyaklah kegiatan ektrakurikuler. Memiliki kegiatan baru dan teman-teman baru, pasti akan menyenangkan.
4. Be a Positif Thinking
Perbanyaklah membaca buku motivasi, agar kamu terinspirasi untuk menciptakan karya baru dan membuatmu semakin positif thinking. Karena pikiran positif, bisa mengangkat semua masalahmu ke jalur evakuasi secara sportif. Berpikirlah dengan logika dan akal sehat. Jangan mau diperbudak oleh pikiran negatif. Ayo Kawan, lets me go... Go to Moveon!!!
5. Lakukan apa yang kamu suka, termasuk hobimu yang lama terbengkalai.
Jika kamu pecinta travelling, ajaklah sahabat-sahabatmu untuk menemanimu selama berlibur disana. Kau akan segera melupakan kesedihanmu untuk sementara waktu. Sahabat adalah orang yang paling peduli tentang dirimu. Mereka akan melakukan segala cara agar kamu kembali menjadi dirimu sendiri yang bisa dibanggakan. Bukan sebagai pecundang yang kerjanya cuma dilema setiap hari. Siapa tahu, kamu dapat kenalan baru yang tidak kalah serunya.
Sering-sering juga melakukan kegiatan yang kamu sukai, seperti nonton, main games, senam aerobik, yoga, wisata kuliner, memancing, main futsal, badminton, renang, main layang-layang, shoping, ke salon, dan sebagainya selama itu masih positif. Dijamin kamu akan merasa bahagia dengan memanjakan dirimu sendiri. Asal kesemua itu didalam kontrolmu, alias tidak menghabiskan seluruh tabungan dan waktumu :D
6. Jernihkan dulu hatimu. Jangan terlalu cepat membuka hati untuk kandidat baru.
Hey Dear, kalau hatimu lagi kacau balau, penuh dengan emosi yang meluap-luap, serta dendam kesumat, please don't fill your heart with love at first anyone. Buatlah hatimu nyaman terlebih dahulu. Mencoba membuka hati secepat mungkin, itu bukan solusi terbaik. Separuh hatimu masih bersama dia. Kamu sama saja membohongi dirimu sendiri dengan berpura-pura mencintai kekasih barumu. Dan dia akan merasa menjadi pacar pelarian semata, yang kau buang begitu saja karena kamu tidak pernah mencintainya. Cinta datang karena terbiasa. Tetapi bukan seperti ini caranya. Kamu masih punya tugas untuk merawat luka yang masih basah itu. Rajin membalutnya hingga hatimu utuh kembali. Jika pun tidak utuh 100%, setidaknya kamu telah berhasil menjadi sosok yang baru. Yang siap menerima seseorang pengganti dirinya.
Dan yang terakhir,
7. Mimpikan Idolamu yang selama ini kau puja-puja di dalam hati.
Saya tidak percaya, kalau Anda, Kamu, tidak mempunyai seseorang yang diam-diam membuatmu tersenyum, merasa selalu bahagia. Meski seseorang itu adalah seorang yang sangat mustahil untuk kamu miliki. Tidak mengapa, asal jangan terlalu terobsesi, bisa-bisa kamu jadi penggemar amatir. Contoh, kamu mengagumi artis idolamu, atau teman sekampus kamu yang terkenal dengan kepintarannya, kegantengannya, keseksiannya, dsb. Dengan melakukan cara seperti yang saya tekankan ini, percaya deh, kamu akan punya sedikit hiburan untuk hatimu yang hampa. Paling tidak, kamu bisa melupakan kesedihanmu yang berlarut-larut.
Bolehlah menangis, bersusah hati, galau-baper, tapi jangan lupakan bahagia. Semoga bermanfaat ya, Kawan.... Salam Cinta yang Tak Pernah Membenci Takdir.... Karena cinta adalah anugerah Tuhan yang Mahasuci... :)
Udah ah, jangan galau lagi. Saya Sudah hampir merasakan semuanya. Apa yang kita lalui mengandung pembelajaran. Tuhan punya rencana lain dibalik semuanya. Toh katanya jodoh sudah ada yang mengatur, bukan? Toh kalau jodoh tak akan kemana-mana? Percayalah Sobat, hidup ini indah jika kamu menyadarinya. Jangan lantas kecewa, putus asa, dan berhenti sampai disini. Perjalanan masih panjang. Perjuangan masih keras, serta butuh pengorbanan. Hati yang lapang dan mau menerima kenyataan, itu yang harus kau punya.
Nah ini dia tips melupakan mantan kekasih menurut Nalla Dewi.
Simak ya...
1. Hapus semua kontak yang tersimpan di akun pribadimu.
Seperti handphone, akun media sosialnya, list email, dan tentunya di hati kamu. Benar, kita tidak boleh memutuskan tali silahturahmi. Tapi saat ini, kamu butuh menghindar sementara dari semua belenggu yang membuatmu gagal moveon. Untuk saat ini saja, Kawan... Kamu harus mencoba menghentikan semua yang berbau nama dia. Jangan berhubungan dulu dengannya melalui akun sosmed dan percakapan di telepon, sms, chatting, dsb. Jangan biarkan dirimu terus khawatir memikirkan dia. Dengan menanyakan kabar atau pun mencari tahu tentangnya di akun sosmed, itu sama saja memancing memori tentang doski. Please,,,, jika pun doski yang mencoba menghubungimu terlebih dulu, acuhkan, abaikan. Jangan beri ruang sedikit pun untuknya. Karena jika kamu masih memberinya harapan, kamu akan sakit hati lagi, masuk ke lubang yang sama. Kamu tahu semua baik dan buruknya doski, pertimbagan yang selama ini kamu andalkan, hanya membuatmu menyesal untuk kedua kalinya. Bahkan untuk kesekian kalinya. Memang, manusia bisa berubah kapan saja, tapi apa kamu siap balik lagi ke mantan yang hobinya bikin kamu nangis? Bikin kamu gundah gulana setiap harinya? Please stop dealing with her/him.
2. Jauhkan apapun itu pemberian darinya, atau semua yang mengingatkan kamu tentang dia.
Singkirkan Kawan, singkirkan! Sampai kapan kamu memandangi hadiah pemberiannya sewaktu kamu ulang tahun? Sewaktu kamu menjadi seseorang yang paling bahagia? Dia mengecup keningmu mesra dan romantis. Dia yang memelukmu dengan kasih sayang yag tulus. Oh tidak... Semua ini sudah berakhir. Jangan kau biarkan benda apapun menggelayut di depan matamu. Membuatmu ingat dan selalu ingat tentang dia. Jika benda itu berarti untuk kamu, untuk sementara waktu, tolong simpan dulu di tempat yang tak terlihat oleh matamu. Kalau perlu buang saja. Rasanya cukup jahat ya. Mmm... berikan pada orang yang lebih membutuhkan, mungkin lebih akan bermanfaat. Tapi menurutku, coba titipkan pada sahabat dekatmu. Mintalah dia untuk merawatnya, dan menyimpannya di tempat yang sulit kau jangkau. Jika kamu sudah bisa menerima kenyataan dan menormalkan keadaan hatimu yang kusut, mungkin kamu bisa mengambilnya kembali. Dengan syarat, kamu tidak boleh galau lagi ketika melihat benda itu. Apalagi sampai mengeluarkan air mata.
3. Kongkow dengan Sahabat
Percaya nggak, sahabat itu kadang bisa melakukan hal yang diluar dugaan hanya untuk membuatmu tertawa lepas. Mereka akan melakukan sesuatu yag konyol demi menghibur sahabatnya yang sedang berduka cita. Mereka akan merasa sangat diperlukan ketika sahabat dekatnya sedang mengalami kesusahan. Mereka bersedia meminjamkan bahu mereka ketika kamu ingin menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala getir. Mereka selalu bersedia mendengarkan keluh kesahmu yang mungkin membuat mereka bosan. Dan mereka siap menerkam siapapun orang yang sudah melukai perasaanmu, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Jangan sepelekan makna sahabat. Sahabat adalah orang yang paling menyayangimu sepenuh hati. Dan ketika kamu sibuk dengan pacar barumu, arti sahabat kau lupakan begitu saja. Padahal, mereka orang yang selalu mengirimkan doa untuk kebahagiaan sahabatnya sendiri. Kamu dapat pacar, itu pun karena doa sang sahabat. Jadi, kalau kamu sedang bahagia, tolong jangan lupakan sahabatmu. Ok!
3. Cari kesibukan
Jika kamu seorang wanita/pria karir, fokuskan pikiranmu hanya ke pekerjaan yang menumpuk bak gunung yang siap meletus. Pikiranmu tidak boleh kosong walau hanya sedetik. Artinya, jika pikiranmu berjalan-jalan da melayang-layang, besar kemungkinan otakmu akan berhenti disatu titik; kenangan dan memori masa lalu. Yang artinya lagi, kamu akan terjebak dalam nostalgia masa lalu. Dengan memfokuskan diri pada pekerjaanmu, kamu juga akan mendapat kesempatan promosi naik jabatan. Sesuatu yang menarik, bukan?
Dan jika kamu seorang pelajar/mahasiswa, perbanyaklah kegiatan ektrakurikuler. Memiliki kegiatan baru dan teman-teman baru, pasti akan menyenangkan.
4. Be a Positif Thinking
Perbanyaklah membaca buku motivasi, agar kamu terinspirasi untuk menciptakan karya baru dan membuatmu semakin positif thinking. Karena pikiran positif, bisa mengangkat semua masalahmu ke jalur evakuasi secara sportif. Berpikirlah dengan logika dan akal sehat. Jangan mau diperbudak oleh pikiran negatif. Ayo Kawan, lets me go... Go to Moveon!!!
5. Lakukan apa yang kamu suka, termasuk hobimu yang lama terbengkalai.
Jika kamu pecinta travelling, ajaklah sahabat-sahabatmu untuk menemanimu selama berlibur disana. Kau akan segera melupakan kesedihanmu untuk sementara waktu. Sahabat adalah orang yang paling peduli tentang dirimu. Mereka akan melakukan segala cara agar kamu kembali menjadi dirimu sendiri yang bisa dibanggakan. Bukan sebagai pecundang yang kerjanya cuma dilema setiap hari. Siapa tahu, kamu dapat kenalan baru yang tidak kalah serunya.
Sering-sering juga melakukan kegiatan yang kamu sukai, seperti nonton, main games, senam aerobik, yoga, wisata kuliner, memancing, main futsal, badminton, renang, main layang-layang, shoping, ke salon, dan sebagainya selama itu masih positif. Dijamin kamu akan merasa bahagia dengan memanjakan dirimu sendiri. Asal kesemua itu didalam kontrolmu, alias tidak menghabiskan seluruh tabungan dan waktumu :D
6. Jernihkan dulu hatimu. Jangan terlalu cepat membuka hati untuk kandidat baru.
Hey Dear, kalau hatimu lagi kacau balau, penuh dengan emosi yang meluap-luap, serta dendam kesumat, please don't fill your heart with love at first anyone. Buatlah hatimu nyaman terlebih dahulu. Mencoba membuka hati secepat mungkin, itu bukan solusi terbaik. Separuh hatimu masih bersama dia. Kamu sama saja membohongi dirimu sendiri dengan berpura-pura mencintai kekasih barumu. Dan dia akan merasa menjadi pacar pelarian semata, yang kau buang begitu saja karena kamu tidak pernah mencintainya. Cinta datang karena terbiasa. Tetapi bukan seperti ini caranya. Kamu masih punya tugas untuk merawat luka yang masih basah itu. Rajin membalutnya hingga hatimu utuh kembali. Jika pun tidak utuh 100%, setidaknya kamu telah berhasil menjadi sosok yang baru. Yang siap menerima seseorang pengganti dirinya.
Dan yang terakhir,
7. Mimpikan Idolamu yang selama ini kau puja-puja di dalam hati.
Saya tidak percaya, kalau Anda, Kamu, tidak mempunyai seseorang yang diam-diam membuatmu tersenyum, merasa selalu bahagia. Meski seseorang itu adalah seorang yang sangat mustahil untuk kamu miliki. Tidak mengapa, asal jangan terlalu terobsesi, bisa-bisa kamu jadi penggemar amatir. Contoh, kamu mengagumi artis idolamu, atau teman sekampus kamu yang terkenal dengan kepintarannya, kegantengannya, keseksiannya, dsb. Dengan melakukan cara seperti yang saya tekankan ini, percaya deh, kamu akan punya sedikit hiburan untuk hatimu yang hampa. Paling tidak, kamu bisa melupakan kesedihanmu yang berlarut-larut.
Bolehlah menangis, bersusah hati, galau-baper, tapi jangan lupakan bahagia. Semoga bermanfaat ya, Kawan.... Salam Cinta yang Tak Pernah Membenci Takdir.... Karena cinta adalah anugerah Tuhan yang Mahasuci... :)
Langganan:
Postingan (Atom)