Rabu, 29 September 2021

PARALEL - PROLOG #NOVELSERIES

LUNETTA

"Ev, kenapa sih nama lo Everist?” tanyaku pada cewek berambut sebahu dan tinggi sekitar 160 cm yang sedang menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kalau kata nyokap gue sih ya, karena dulu bokap pengen banget nanjak Everest. Tapi, boro-boro ke sana, naik Gunung Slamet aja cuma halusinasi belaka.” Everist mengangkat bahunya dengan wajah datar.

“Berarti gue bisa manggil lo ‘Gunung’ dong,” Iban yang duduk di samping kubilkelnya menyambar pembicaraan.

“Bodo amat...” Jawab Everist cuek. Tangannya sibuk dengan ikan cupang piaraannya.

“Ya udah, bilangin bapak lo, kita mendaki Everest sekarang. Gue temenin, gitu.” Albio mengikat slayer ke kepalanya, menirukan gaya anak gunung. Sontak aku, Everist, dan Iban menyoraki Albio.
“Ayo, kita bawa tenda dan siapin perlengkapannya.” Iban menarik-narik tangan Everist seperti merengek minta diajak ke pasar.

Tapi, eh tapi...

“IBAN.... Selesaikan dulu laporan keuangan PT Ambigu. Jangan berisik, saya sedang menyiapkan data untuk meeting.”

Suara berat Pak Wily mampu menghentikan kerusuhan kami. Seketika, kami kembali ke layar komputer dan pura-pura sibuk bekerja. Everist mengoceh tanpa suara, seperti protes status karyawan magabutnya terganggu.

1 komentar: