(Bukan Hujan Bulan Juni)
EVERIST FIRSTA
Sudah hampir dua bulan semenjak asam lambungku naik, akhirnya aku kembali dapat meneguk kopi. Sebenarnya kopi bukanlah hobiku, bukan pula cara mengusir rasa kantuk. Karena kalau sudah mengantuk berat, obatnya hanya satu; yakni TIDUR.
Aku cuma iseng, siapa tahu dengan minum kopi, aku bisa menemukan ide cemerlang untuk menghadapi klien menyebalkan. Lumayan lah ya, ada bau-bau kopi di mejaku.
Namun, Albio yang duduk di depan kubikelku, menatap aneh.
"Udah habis kopinya?” selidiknya ngeri.
“Udah. Nih...”aku menunjukkan cangkirku yang kosong tak bersisa.
Kenapa sih dia? Sebegitu anehkah melihatku minum kopi? Padahal ini bukan kali pertama aku ngopi di hadapan Albio.
ALBIO VARGASBARA
“Sudah habis kopinya?” aku menggelengkan kepalaku, heran.
“Sudah.” Everist menunggingkan cangkir kopinya, untuk membuktikan mugnya sudah benar-benar kosong.
Hebat memang, di dunia ini, mungkin hanya Everist satu-satunya makhluk yang bisa melakukan adegan menghabiskan kopi dalam hitungan lima detik. Aku pun sungguh tak percaya.
Yang kutahu, dimana-mana orang minum kopi itu dengan cara meminumnya seteguk demi seteguk untuk menikmati rasa dan aroma khasnya, bukan seperti minum susu.
Sudahlah, daripada memikirkan kelakuan langka Everist, lebih baik aku menonton film favoritku; Tuyul dan Mbak Yul.
GIBRAN HANDAL PRIBADI
Demi Tuhan, mataku rasanya sangat perih. Setiap semenit sekali aku pasti mengucek mataku yang berair. Semua ini akibat kebanyakan nonton film, mulai dari film Thailand hingga film India. Film dari Thailand bertajuk The Teacher's Diary, entah sudah berapa ki kutonton, tapi aku selalu menyukainya.
Tadinya aku mau bolos kerja, akan tetapi, demi tugas negara, hari ini aku mesti berangkat kerja, mengabdikan separuh hidupku pada sejuntai kunjungan klien yang sudah dijadwalkan jauh hari sebelumnya.
Sebenarnya, demi Willy Love You, agar mood dia tidak rusak hari ini. Mengingat dia sangat tidak suka dengan karyawan yang tidak masuk di hari Senin.
Menurut Willy Love You, Senin bukanlah hari yang pantas menjadi tumbal atau kambing hitam, atau segala alasan untuk tidak masuk kerja. Biar pun sedang sakit parah, kaki pincang, stroke, kejang-kejang, SENIN ITU DILARANG IZIN/ BOLOS/ SAKIT. TITIK.
Dengan langkah gontai nan lesu, aku menghampiri meja kubikelku. Di sebelahku, Everist sibuk memainkan gawainya.
“Pagi, fans setiaku.” Aku sengaja betul menyenggol bahu Everist.
“Gila lu, Kutu Kupret, Tomcat kena cat! Kaget gue!” Everist memeluk gawainya yang hampir jatuh dari genggamannya.
“Lagian sih pagi-pagi udah nonton bokep. Nonton tuh Upin-Ipin atau gak drakor. Biasanya kan cewek identik dengan tontonan begituan. Eh, tapi kan lu bukan cewek, tapi makhluk astral. Haha…” Aku terpingkal sendiri.
“Sorry ya, hidup gue udah penuh drama. Malas nonton begituan,” sangkal Everist sambil memberi makan ikan cupang kesayangannya; Leon.
“Dasar Miss Drama.” Celetukku.
“Iyalah, lagian gue bingung kenapa cewek-cewek, terutama Lunetta, demen amat sama drakor. Bikin gue pusing kepala. Gue tuh, lagi nonton cara membudidayakan ikan cupang. Biar si Leon ada temennya. You know?” Everist menyentuh drinking jar yang berisikan ikan cupang di dekat komputernya.
“Bohong, tahu. Orang dia lagi nonton film India, sih. Tadi gue lihat lo joged-joged.” Potong Albio.
“Biooooo................” Everist melempar pulpen ke Albio sambil melotot. Matanya hampir saja copot.
“Eh, siapa yang lagi nonton film India? Ikutan dong...” Sambar Lunetta dan Faris yang baru saja tiba bebarengan.
“Nih si Gunung Everist. Sana gih Lun, lo kejar-kejaran di tiang listrik bareng Everist dan Albio.” Aku terpingkal membayangkan cinta segitiga pada film Kuch-Kuch Hota Hai. Lucu kali ya, kalau mereka berlarian menyanyikan lagu India muterin tiang listrik, kemudian kesetrum. Dan Faris datang menjadi tabibnya.
“Kalian yaa, please sahabat gue jangan diledekin terus.” Lunetta meletakkan tote bag kesayangannya yang berwarna cream muda ke kursinya. Lalu, ia bergoyang heboh sembari menonjolkan dada seksinya menirukan joged India yang vulgar.
Oh, perempuan satu ini sungguh menggoda iman. Seketika rasa kantukku hilang. Ajaib Neng Lunetta bala-bala kesayangan kaum Adam.
EVERIST FIRSTA
Hobi cowok-cowok itu ya kalau bukan main Mobile Legend, ya godain yang bening-bening. Seperti saat Veronica melintas menuju toilet, Iban dan Faris langsung suit-suitan. Mata Iban langsung melek lebar, padahal baru saja dia bilang butuh kopi.
“Aduh, Veronica ganti kuteks warna apa nih hari ini?” Iban mencegat Veronica, sekretaris Pak Willy yang keluar ruangan sambil membentangkan kesepuluh jari-jemarinya yang masih basah akibat kutek.
“Warna merah dong, Bang…” jawab Veronica genit.
“Emm.. Veronica…” Panggil Faris sembari memainkan dasi blasternya. Veronica menoleh ke arah suara.
“Vero, mau gak nikah sama Bang Faris? Nanti Bang Faris beliin pesawat.”
“Yang ada sayapnya sepuluh.” Timpal Iban.
“Sayapnya patah,” sambung Lunetta.
“Abang-abang ini yang jadi pilotnya ya?” Cewek yang rambutnya dikepang itu sungguh kecentilan. Laki-laki model Iban dan Faris jadi makin demen godainnya. Namun, karena Veronica merunduk menahan kebelet, ia mohon pamit untuk cepat-cepat ke toilet, memberikan ciuman udara dari bibirnya yang merah merona.
Iban dan Faris langsung menunjukkan ekspresi lemas. Seperti ikan yang megap-megap butuh air. Dasar begundal!
Terus gimana ya ceboknya? Kan sepuluh jemarinya penuh kuteks? Ah, ngapain juga mikirin. Aku dan Lunetta terpingkal di meja kubikel masing-masing. Sementara Albio kulihat mesem-mesem sambil menahan tawa. Eh, tapi kok Bio gak ikut-ikutan godain Veronica sih? Dia masih normal kan ya?
“Laper banget nih gue, makan di kantin yuk!” Celetuk Lunetta yang wajahnya penuh dengan totol-totol alas bedak. Poninya bertenggerkan rolan kanan dan kiri, persis emak-emak dasteran yang kulihat tiap pagi di komplek rumahku yang sedang belanja sayur-mayur.
“Nih gue ada oatmeal, mau?” kataku sembari membuka isi laci meja.
“Mau deh, tapi gak ada susunya ya?”
“Kan udah punya? Kok masih minta susu lagi?” Iban tiba-tiba menghampiri kubikel Lunetta, lalu loncat duduk di meja Lunetta dan mengoleskan alas bedak yang baru saja ditutup.
“Gue ada stok di kulkas ambil aja.” Kataku lagi, mengingat kemarin aku beli beberapa kotak UHT berukuran sedang dan memasukannya di kulkas kantor.
“Ya udah tar gue ambil deh. Thanks ya, Ev.” Lunetta tampak sumringah. Tapi, tak lama ia teriak panik sambil merebut foundation yang dimainkan Iban. “IBAAAAANNNNN… Ini bukan body lotion……”
Keplak!!!
Lunetta memukul kepala Iban dengan botol air minum. Memang ya, jadi laki-laki itu tidak bisa sedikit saja tak usil sama wanita. Rasakan kau, Iban. Benjol deh tuh kepala.
ALBIO VARGASBARA
Sebenarnya aku sangat senang melihat Lunetta berdandan. Tapi, aku lebih suka dia menampilkan dandanan yang natural dan tidak terkesan seperti badut di acara kondangan. Cewek yang duduk di samping kubikelku ini memang selalu membuat dadaku berdebar. Lihatlah cara Iban duduk di meja Lunetta tanpa izin, rasanya aku ingin seperti itu juga. Namun, rasanya aku segan.
“Lun, lo bisa makeup gini pas umur berapa?” tanyaku tanpa filter. Duh, konyol sekali pertanyaanku barusan. Jelas-jelas semua wanita dari masa puberitas sudah bisa berdandan. Lain halnya dengan Everist yang kuperhatikan begitu cuek dengan penampilan.
“Kenapa gitu? Makeup gue jelek ya?” Lunetta menautkan kedua alisnya dan melekukan bibirnya yang kini sedang dipoles lipstik bernada nude. Duh, jadi makin gak tahan deh sama bidadari ini tiap hari.
“Eh, cakep kok, kata siapa jelek. Jangan baper deh. Kan gue cuma tanya.” Dalihku sudah terlanjur membahas makeup. Everist yang duduk di seberang kubilku terbahak. Kenapa sih cewek aneh itu harus duduk berhadap-hadapan denganku? Jadi malas menatap ke depan.
“Besok kalau ada lomba dandanin cowok, gue mau didandanin sama Lunetta aja. Gak mau sama Everist.” Faris yang sedang menyiapkan bahan untuk meeting ikutan bersuara.
“Haiss, lu gak tau aja gini-gini gue pernah jadi MUA.”
“Masssaaaa?” Ledekku.
“Gini-gini gue pernah dandan loh. Lihat aja besok, pasti kalian pangling banget sama gue. Ya gak Lun?" Aku meminta pembelaan Lunetta
“Heemmm.Tul” Jawab Lunetta singkat karena ribet dengan bulu mata palsunya.
“Sini Lun, gue bantu sisirin.” Iban mengambil sisir dan mulai menyisiri rambut Lunetta helai per helai.
Ah, kalau saja aku tidak gengsian, mungkin aku yang melakukan itu untuk Lunetta, tapi aku tidak berani menyentuhnya. Jangankan menyisiri rambutnya, mengajak makan berduaan di kantin saja aku gugup.
“Aduh, Iban, pelan-pelan. Lo pernah gak sih nyisirin cewek? Kan ade lu cewek, masa gak ngerti cara sisirin cewek.” Wajah Lunetta seperti sedang menahan sakit karena Iban terlalu bersemangat menyisirinya.
“Tuh kan rontok banyak. Udah ah, lo gak ada bakat jadi hairstylist” Lunetta merebut sisir dari tangan Iban. Dan kini ia mulai menyisir.
“Hahahaha… Mampus!” Everist terbahak lagi menertawai Iban yang diomeli Lunetta bak anak kecil yang susah diatur.
“Gue bisa dandan sejak gue suka sama pacar pertama gue. Dari situ gue mulai belajar pakai lipstik, bedak, lambat laun nyobain pake blushon, mascara, eyeliner, dll.” Dan Lunetta pun menjelaskan serentetan merk kosmetik kepadaku yang sejujurnya aku tidak tahu rupa dari satu per satu barang yang ia sebutkan barusan.
“Tenang, Bio, nanti gue kasih tau lewat Mbah Google.” Everist menyambar lagi.
“Emang lo tahu, Everist?” Iban justru bertanya balik pada Everist.
“Tahu lah, kan gue cewek, bukan alien,” jawabnya judes. Kini aku tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Everist yang masam.
Menurut Willy Love You, Senin bukanlah hari yang pantas menjadi tumbal atau kambing hitam, atau segala alasan untuk tidak masuk kerja. Biar pun sedang sakit parah, kaki pincang, stroke, kejang-kejang, SENIN ITU DILARANG IZIN/ BOLOS/ SAKIT. TITIK.
Dengan langkah gontai nan lesu, aku menghampiri meja kubikelku. Di sebelahku, Everist sibuk memainkan gawainya.
“Pagi, fans setiaku.” Aku sengaja betul menyenggol bahu Everist.
“Gila lu, Kutu Kupret, Tomcat kena cat! Kaget gue!” Everist memeluk gawainya yang hampir jatuh dari genggamannya.
“Lagian sih pagi-pagi udah nonton bokep. Nonton tuh Upin-Ipin atau gak drakor. Biasanya kan cewek identik dengan tontonan begituan. Eh, tapi kan lu bukan cewek, tapi makhluk astral. Haha…” Aku terpingkal sendiri.
“Sorry ya, hidup gue udah penuh drama. Malas nonton begituan,” sangkal Everist sambil memberi makan ikan cupang kesayangannya; Leon.
“Dasar Miss Drama.” Celetukku.
“Iyalah, lagian gue bingung kenapa cewek-cewek, terutama Lunetta, demen amat sama drakor. Bikin gue pusing kepala. Gue tuh, lagi nonton cara membudidayakan ikan cupang. Biar si Leon ada temennya. You know?” Everist menyentuh drinking jar yang berisikan ikan cupang di dekat komputernya.
“Bohong, tahu. Orang dia lagi nonton film India, sih. Tadi gue lihat lo joged-joged.” Potong Albio.
“Biooooo................” Everist melempar pulpen ke Albio sambil melotot. Matanya hampir saja copot.
“Eh, siapa yang lagi nonton film India? Ikutan dong...” Sambar Lunetta dan Faris yang baru saja tiba bebarengan.
“Nih si Gunung Everist. Sana gih Lun, lo kejar-kejaran di tiang listrik bareng Everist dan Albio.” Aku terpingkal membayangkan cinta segitiga pada film Kuch-Kuch Hota Hai. Lucu kali ya, kalau mereka berlarian menyanyikan lagu India muterin tiang listrik, kemudian kesetrum. Dan Faris datang menjadi tabibnya.
“Kalian yaa, please sahabat gue jangan diledekin terus.” Lunetta meletakkan tote bag kesayangannya yang berwarna cream muda ke kursinya. Lalu, ia bergoyang heboh sembari menonjolkan dada seksinya menirukan joged India yang vulgar.
Oh, perempuan satu ini sungguh menggoda iman. Seketika rasa kantukku hilang. Ajaib Neng Lunetta bala-bala kesayangan kaum Adam.
EVERIST FIRSTA
Hobi cowok-cowok itu ya kalau bukan main Mobile Legend, ya godain yang bening-bening. Seperti saat Veronica melintas menuju toilet, Iban dan Faris langsung suit-suitan. Mata Iban langsung melek lebar, padahal baru saja dia bilang butuh kopi.
“Aduh, Veronica ganti kuteks warna apa nih hari ini?” Iban mencegat Veronica, sekretaris Pak Willy yang keluar ruangan sambil membentangkan kesepuluh jari-jemarinya yang masih basah akibat kutek.
“Warna merah dong, Bang…” jawab Veronica genit.
“Emm.. Veronica…” Panggil Faris sembari memainkan dasi blasternya. Veronica menoleh ke arah suara.
“Vero, mau gak nikah sama Bang Faris? Nanti Bang Faris beliin pesawat.”
“Yang ada sayapnya sepuluh.” Timpal Iban.
“Sayapnya patah,” sambung Lunetta.
“Abang-abang ini yang jadi pilotnya ya?” Cewek yang rambutnya dikepang itu sungguh kecentilan. Laki-laki model Iban dan Faris jadi makin demen godainnya. Namun, karena Veronica merunduk menahan kebelet, ia mohon pamit untuk cepat-cepat ke toilet, memberikan ciuman udara dari bibirnya yang merah merona.
Iban dan Faris langsung menunjukkan ekspresi lemas. Seperti ikan yang megap-megap butuh air. Dasar begundal!
Terus gimana ya ceboknya? Kan sepuluh jemarinya penuh kuteks? Ah, ngapain juga mikirin. Aku dan Lunetta terpingkal di meja kubikel masing-masing. Sementara Albio kulihat mesem-mesem sambil menahan tawa. Eh, tapi kok Bio gak ikut-ikutan godain Veronica sih? Dia masih normal kan ya?
“Laper banget nih gue, makan di kantin yuk!” Celetuk Lunetta yang wajahnya penuh dengan totol-totol alas bedak. Poninya bertenggerkan rolan kanan dan kiri, persis emak-emak dasteran yang kulihat tiap pagi di komplek rumahku yang sedang belanja sayur-mayur.
“Nih gue ada oatmeal, mau?” kataku sembari membuka isi laci meja.
“Mau deh, tapi gak ada susunya ya?”
“Kan udah punya? Kok masih minta susu lagi?” Iban tiba-tiba menghampiri kubikel Lunetta, lalu loncat duduk di meja Lunetta dan mengoleskan alas bedak yang baru saja ditutup.
“Gue ada stok di kulkas ambil aja.” Kataku lagi, mengingat kemarin aku beli beberapa kotak UHT berukuran sedang dan memasukannya di kulkas kantor.
“Ya udah tar gue ambil deh. Thanks ya, Ev.” Lunetta tampak sumringah. Tapi, tak lama ia teriak panik sambil merebut foundation yang dimainkan Iban. “IBAAAAANNNNN… Ini bukan body lotion……”
Keplak!!!
Lunetta memukul kepala Iban dengan botol air minum. Memang ya, jadi laki-laki itu tidak bisa sedikit saja tak usil sama wanita. Rasakan kau, Iban. Benjol deh tuh kepala.
ALBIO VARGASBARA
Sebenarnya aku sangat senang melihat Lunetta berdandan. Tapi, aku lebih suka dia menampilkan dandanan yang natural dan tidak terkesan seperti badut di acara kondangan. Cewek yang duduk di samping kubikelku ini memang selalu membuat dadaku berdebar. Lihatlah cara Iban duduk di meja Lunetta tanpa izin, rasanya aku ingin seperti itu juga. Namun, rasanya aku segan.
“Lun, lo bisa makeup gini pas umur berapa?” tanyaku tanpa filter. Duh, konyol sekali pertanyaanku barusan. Jelas-jelas semua wanita dari masa puberitas sudah bisa berdandan. Lain halnya dengan Everist yang kuperhatikan begitu cuek dengan penampilan.
“Kenapa gitu? Makeup gue jelek ya?” Lunetta menautkan kedua alisnya dan melekukan bibirnya yang kini sedang dipoles lipstik bernada nude. Duh, jadi makin gak tahan deh sama bidadari ini tiap hari.
“Eh, cakep kok, kata siapa jelek. Jangan baper deh. Kan gue cuma tanya.” Dalihku sudah terlanjur membahas makeup. Everist yang duduk di seberang kubilku terbahak. Kenapa sih cewek aneh itu harus duduk berhadap-hadapan denganku? Jadi malas menatap ke depan.
“Besok kalau ada lomba dandanin cowok, gue mau didandanin sama Lunetta aja. Gak mau sama Everist.” Faris yang sedang menyiapkan bahan untuk meeting ikutan bersuara.
“Haiss, lu gak tau aja gini-gini gue pernah jadi MUA.”
“Masssaaaa?” Ledekku.
“Gini-gini gue pernah dandan loh. Lihat aja besok, pasti kalian pangling banget sama gue. Ya gak Lun?" Aku meminta pembelaan Lunetta
“Heemmm.Tul” Jawab Lunetta singkat karena ribet dengan bulu mata palsunya.
“Sini Lun, gue bantu sisirin.” Iban mengambil sisir dan mulai menyisiri rambut Lunetta helai per helai.
Ah, kalau saja aku tidak gengsian, mungkin aku yang melakukan itu untuk Lunetta, tapi aku tidak berani menyentuhnya. Jangankan menyisiri rambutnya, mengajak makan berduaan di kantin saja aku gugup.
“Aduh, Iban, pelan-pelan. Lo pernah gak sih nyisirin cewek? Kan ade lu cewek, masa gak ngerti cara sisirin cewek.” Wajah Lunetta seperti sedang menahan sakit karena Iban terlalu bersemangat menyisirinya.
“Tuh kan rontok banyak. Udah ah, lo gak ada bakat jadi hairstylist” Lunetta merebut sisir dari tangan Iban. Dan kini ia mulai menyisir.
“Hahahaha… Mampus!” Everist terbahak lagi menertawai Iban yang diomeli Lunetta bak anak kecil yang susah diatur.
“Gue bisa dandan sejak gue suka sama pacar pertama gue. Dari situ gue mulai belajar pakai lipstik, bedak, lambat laun nyobain pake blushon, mascara, eyeliner, dll.” Dan Lunetta pun menjelaskan serentetan merk kosmetik kepadaku yang sejujurnya aku tidak tahu rupa dari satu per satu barang yang ia sebutkan barusan.
“Tenang, Bio, nanti gue kasih tau lewat Mbah Google.” Everist menyambar lagi.
“Emang lo tahu, Everist?” Iban justru bertanya balik pada Everist.
“Tahu lah, kan gue cewek, bukan alien,” jawabnya judes. Kini aku tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Everist yang masam.