Rabu, 06 Oktober 2021

PARALEL - BAB 2 #NOVELSERIES

LUNETTA VERICA

    “Jadi, hari ini lo ada meeting ke PT Merah Merona?” Iban mencoba memoleskan blushon ke pipiku. Semoga hasilnya tidak seperti Jeng Kelin. 

    Sebelum menjawab pertanyaan Iban barusan, aku mengambil cermin dan melihat hasil karya Gibran Handal Pribadi. 

Dan hasilnya….  

    Jeng… jeng… jeng… OMG!!! MENGERIKAN!!!! 

    Ini beneran mirip Jeng Kelin sungguhan. Iban sengaja betul merusak dandananku. 

    “Lun, lo mau meeting sama Willy Love You kan?” Iban bertanya lagi. Aku melotot sebal. 

    “Ban, lo besok gue kursusin MUA aja ya…” Aku mengelus dadaku, mencoba menahan emosi.

    “Emang MUA apaan sih?” Tanyanya lagi. 

    Sabar, Lunetta, sabarrrrr…. Lo kayak gak tahu Iban aja, dalam hatiku ingin menjerit. Albio dan Everist terkekeh melihat ekspresi kesalku. Iban sungguh Kampretos… 

    “MUA itu yang tadi gue bilang, makeup artis, you know?” Everist bantu menjawab pertanyaan Iban yang tidak penting. 

    “Gak perlu kursus-kursus rias lah, kan udah bagus makeupnya, ya kan Lun?” Iban membela diri. 

    “Bagus apanya? Muka gue jadi mirip Jeng Kelin gini.” Aku mengambil tisu di sudut meja, kemudian mengelap lembut pipiku yang ketebalan blushon. Lalu, kutimpali bedak lagi tipis-tipis agar warnanya menjadi natural. 

    “Lun, lo ga jawab pertanyaan gue.” Iban hendak mengambil pensil alis di tas makeupku. 

Aku buru-buru merebut dan memasukannya ke dalam laci. 

    "STOP, IBAN. SUDAH CUKUP!" Aku memeragakan gaya Ani pada Bung Roma.

    “Lun,” 

    “Apaan sih?” jawabku kesal. 

    Iban ini bawelnya melebihi cewek yang lagi PMS. 

    “Tadi gue nanya belum dijawab.” 

    “IYA. Tuh, udah gue jawab.” 

    “Dih, udah apaan?” 

    “Au ah.” Lama-lama aku ingin menyublim saja rasanya. Bertemu Iban tiap hari bikin aku stres. 

    “Berarti seharian dong lo gak balik kantor lagi? Yah, nanti kalau gue kangen gimana dong?” Iban berdiri dengan mimik sedih. 

    Bodo amat, aku tidak peduli. Bahkan aku sama sekali tidak iba melihat wajahnya yang sok melas itu. 

    “Itu sih DL (DERITA LOE)” Faris mewakiliku. 

    Seketika Albio dan Everist terbahak lagi. Everist tertawa renyah sekali dan paling kencang.

    “Data udah siap, Lun. Barusan Willy chat gue udah mau nyampe. Yuk!!” Everist memakai tas backpacker-nya. 

    Aku bercermin sekali lagi, memantaskan dandananku yang hari ini diacak-acak Iban. 

    “Ok, itu artinya gue harus segera pergi. Bye, Iban kampret, bye, Albio, bye Ris…” 

    Bye, Lune, yah sepi dunia ini tanpamu. Huft.” Iban mendesah malas. Aku justru bahagia. Duniaku pasti aman sentausa tanpanya. 

  *** 

 

LUNETTA VERICA

    Aku dan Everist baru saja tiba di lobi, Willy Love You sudah melambaikan tangannya dan menyuruh kami bergegas masuk ke dalam mobilnya. 

    “Lunetta, kamu di depan saja bareng saya.” Aku yang sudah terlanjur membuka pintu belakang, mengurungkan niat duduk bareng Everist. 

    Eits, tapi kenapa Willy malah turun? Perasaanku tidak enak nih.

    “Saya gak hafal jalannya. Kamu saja yan nyetir ya.” Willy masuk ke jok sebelah drive

    Oh Tuhan, ujian apa lagi ini? Pagi-pagi sudah ada dua manusia menyebalkan. Everist senyum-senyum melirikku di spion tengah. 

    “Kamu sudah bawa dokumen perlengkapannya, Everist?” Willy Love You menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah duduk Everist. 

    “Sudah, Pak.” 

    “Neraca 2018-2020, perubahan ekuitas, profit loss, dll?” Willy Love you bertanya lagi. 

    “Sudah, Pak. Saya bawa soft filenya juga di flashdisk.” 

    “Ok. Tapi kamu sudah backup di flashdisk lain?” 

    “Sudah juga.” Everist menjawab singkat. 

    “Ok. Kalau begitu kita jalan sekarang. Lunetta, kamu bawa mobilnya jangan terlalu pelan dan jangan terlalu ngebut. Di depan ada galian lobang, macet banget pasti. Nanti kamu ikutin arahan saya.” 

    “Baik, Pak.” 

    Hello, Pak Willy, lo pikir gue supir lo, ngatur-ngatur. Lagian kalau tahu jalan ngapain nyuruh gue nyetir sih? Aku mendumel dalam hati. Kulirik spion tengah, Everist terlihat menahan tawanya. 

    “Ambil kanan! Motor yang di depan terlalu pelan. Nanti langsung masuk tol Semanggi saja.” 

    Nah kan, nah kan, baru saja melaju 100 meter, dia sudah merintah sana merintah sini. Mana jalanan lagi super padat. Dan butuh waktu satu jam untuk sampai ke tempat tujuan. Sungguh melelahkan. 


EVERIST FIRSTA

    Duh, lucu banget lihat pemandangan di hadapanku. Lunetta jadi supir dadakan bosnya, si Willy Love You. Dari tadi aku menahan tawa, pokoknya jangan sampai aku keceplosan ketawa di depan Willy Love You

    Lagipula, kenapa sih dia tidak mengajak supir untuk perjalanan meeting hari ini. Kan kasihan Lunetta, harus menyetir di atas perintahnya. Pagi ini jalanan ibu kota benar-benar tidak bergerak. Aku hampir saja tertidur di jok belakang. 

    Kalau saja Albio tidak mengirimiku pesan, mungkin aku sudah terlelap. 

    “Everist, gue titip Lunetta ya… Please…” 

    What? Albio minta aku menjaga Lunetta? Apa mereka terikat status? Tapi, kenapa aku tidak tahu? 

    Aku sengaja tidak membalas pesan singkat Albio. Nanti deh aku tanya langsung saja sama Lunetta. 

 

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN... 


    “Lun, kok lo ninggalin gue sih? Gue gak bisa keluar nih. Willy udah ngunci mobilnya. Astaga, engap banget gue.” Aku menelepon Lunetta sambil menggedor-gedor kaca mobil.

     Lunetta dan Willy Love You yang sudah berada di seberang jalan langsung balik kanan. Menghampiriku yang terjebak di dalam mobil pribadi berwarna hitam ini. 

     "Kamu kenapa gak ikut turun?" Tanya Willy polos.

    "Lah, Bapak kunci pintunya gimana saya mau turun." jawabku kesal.

    "Makanya, lain kali jangan suka tidur di mobil. Jadi kekunci kan..." Willy meledekku.

    Sialan, rupanya Willy lupa kalau ada aku di jok belakang. Enak saja dia main pergi dengan Lunetta dan meningalkanku seorang diri. Aku kan gak tidur, tapi merekanya yang melupakanku. Huaaaaa,,,,, pengen nangis deh aku. 

    Lunetta langsung menggandeng tanganku dan meminta maaf. Katanya, dia lupa saking keasyikan ngobrol dengan Willy yang kini memakai jas warna biru dongker dan sepatu pantofel mirip film Jin dan Jun.

**bersambung**

Rabu, 29 September 2021

PARALEL - BAB 1 #NOVELSERIES

Kopi Perdana di Bulan Juni

(Bukan Hujan Bulan Juni)

EVERIST FIRSTA

    Sudah hampir dua bulan semenjak asam lambungku naik, akhirnya aku kembali dapat meneguk kopi. Sebenarnya kopi bukanlah hobiku, bukan pula cara mengusir rasa kantuk. Karena kalau sudah mengantuk berat, obatnya hanya satu; yakni TIDUR.

    Aku cuma iseng, siapa tahu dengan minum kopi, aku bisa menemukan ide cemerlang untuk menghadapi klien menyebalkan. Lumayan lah ya, ada bau-bau kopi di mejaku.

    Namun, Albio yang duduk di depan kubikelku, menatap aneh.

    "Udah habis kopinya?” selidiknya ngeri.

    “Udah. Nih...”aku menunjukkan cangkirku yang kosong tak bersisa.

    Kenapa sih dia? Sebegitu anehkah melihatku minum kopi? Padahal ini bukan kali pertama aku ngopi di hadapan Albio.



ALBIO VARGASBARA

    “Sudah habis kopinya?” aku menggelengkan kepalaku, heran.

    “Sudah.” Everist menunggingkan cangkir kopinya, untuk membuktikan mugnya sudah benar-benar kosong.

    Hebat memang, di dunia ini, mungkin hanya Everist satu-satunya makhluk yang bisa melakukan adegan menghabiskan kopi dalam hitungan lima detik. Aku pun sungguh tak percaya.

    Yang kutahu, dimana-mana orang minum kopi itu dengan cara meminumnya seteguk demi seteguk untuk menikmati rasa dan aroma khasnya, bukan seperti minum susu.

    Sudahlah, daripada memikirkan kelakuan langka Everist, lebih baik aku menonton film favoritku; Tuyul dan Mbak Yul.



GIBRAN HANDAL PRIBADI

    Demi Tuhan, mataku rasanya sangat perih. Setiap semenit sekali aku pasti mengucek mataku yang berair. Semua ini akibat kebanyakan nonton film, mulai dari film Thailand hingga film India. Film dari Thailand bertajuk The Teacher's Diary, entah sudah berapa ki kutonton, tapi aku selalu menyukainya.

    Tadinya aku mau bolos kerja, akan tetapi, demi tugas negara, hari ini aku mesti berangkat kerja, mengabdikan separuh hidupku pada sejuntai kunjungan klien yang sudah dijadwalkan jauh hari sebelumnya. 

    Sebenarnya, demi Willy Love You, agar mood dia tidak rusak hari ini. Mengingat dia sangat tidak suka dengan karyawan yang tidak masuk di hari Senin.

    Menurut Willy Love You, Senin bukanlah hari yang pantas menjadi tumbal atau kambing hitam, atau segala alasan untuk tidak masuk kerja. Biar pun sedang sakit parah, kaki pincang, stroke, kejang-kejang, SENIN ITU DILARANG IZIN/ BOLOS/ SAKIT. TITIK.

    Dengan langkah gontai nan lesu, aku menghampiri meja kubikelku. Di sebelahku, Everist sibuk memainkan gawainya.

    “Pagi, fans setiaku.” Aku sengaja betul menyenggol bahu Everist.

    “Gila lu, Kutu Kupret, Tomcat kena cat! Kaget gue!” Everist memeluk gawainya yang hampir jatuh dari genggamannya.

    “Lagian sih pagi-pagi udah nonton bokep. Nonton tuh Upin-Ipin atau gak drakor. Biasanya kan cewek identik dengan tontonan begituan. Eh, tapi kan lu bukan cewek, tapi makhluk astral. Haha…” Aku terpingkal sendiri.

    Sorry ya, hidup gue udah penuh drama. Malas nonton begituan,” sangkal Everist sambil memberi makan ikan cupang kesayangannya; Leon.

    “Dasar Miss Drama.” Celetukku.

    “Iyalah, lagian gue bingung kenapa cewek-cewek, terutama Lunetta, demen amat sama drakor. Bikin gue pusing kepala. Gue tuh, lagi nonton cara membudidayakan ikan cupang. Biar si Leon ada temennya. You know?” Everist menyentuh drinking jar yang berisikan ikan cupang di dekat komputernya.

    “Bohong, tahu. Orang dia lagi nonton film India, sih. Tadi gue lihat lo joged-joged.” Potong Albio.

    “Biooooo................” Everist melempar pulpen ke Albio sambil melotot. Matanya hampir saja copot.

    “Eh, siapa yang lagi nonton film India? Ikutan dong...” Sambar Lunetta dan Faris yang baru saja tiba bebarengan.

    “Nih si Gunung Everist. Sana gih Lun, lo kejar-kejaran di tiang listrik bareng Everist dan Albio.” Aku terpingkal membayangkan cinta segitiga pada film Kuch-Kuch Hota Hai. Lucu kali ya, kalau mereka berlarian menyanyikan lagu India muterin tiang listrik, kemudian kesetrum. Dan Faris datang menjadi tabibnya.

    “Kalian yaa, please sahabat gue jangan diledekin terus.” Lunetta meletakkan tote bag kesayangannya yang berwarna cream muda ke kursinya. Lalu, ia bergoyang heboh sembari menonjolkan dada seksinya menirukan joged India yang vulgar.

    Oh, perempuan satu ini sungguh menggoda iman. Seketika rasa kantukku hilang. Ajaib Neng Lunetta bala-bala kesayangan kaum Adam.



EVERIST FIRSTA

    Hobi cowok-cowok itu ya kalau bukan main Mobile Legend, ya godain yang bening-bening. Seperti saat Veronica melintas menuju toilet, Iban dan Faris langsung suit-suitan. Mata Iban langsung melek lebar, padahal baru saja dia bilang butuh kopi.

    “Aduh, Veronica ganti kuteks warna apa nih hari ini?” Iban mencegat Veronica, sekretaris Pak Willy yang keluar ruangan sambil membentangkan kesepuluh jari-jemarinya yang masih basah akibat kutek.

    “Warna merah dong, Bang…” jawab Veronica genit.

    “Emm.. Veronica…” Panggil Faris sembari memainkan dasi blasternya. Veronica menoleh ke arah suara.

    “Vero, mau gak nikah sama Bang Faris? Nanti Bang Faris beliin pesawat.”

    “Yang ada sayapnya sepuluh.” Timpal Iban.

    “Sayapnya patah,” sambung Lunetta.

    “Abang-abang ini yang jadi pilotnya ya?” Cewek yang rambutnya dikepang itu sungguh kecentilan. Laki-laki model Iban dan Faris jadi makin demen godainnya. Namun, karena Veronica merunduk menahan kebelet, ia mohon pamit untuk cepat-cepat ke toilet, memberikan ciuman udara dari bibirnya yang merah merona.

    Iban dan Faris langsung menunjukkan ekspresi lemas. Seperti ikan yang megap-megap butuh air. Dasar begundal!

    Terus gimana ya ceboknya? Kan sepuluh jemarinya penuh kuteks? Ah, ngapain juga mikirin. Aku dan Lunetta terpingkal di meja kubikel masing-masing. Sementara Albio kulihat mesem-mesem sambil menahan tawa. Eh, tapi kok Bio gak ikut-ikutan godain Veronica sih? Dia masih normal kan ya?

    “Laper banget nih gue, makan di kantin yuk!” Celetuk Lunetta yang wajahnya penuh dengan totol-totol alas bedak. Poninya bertenggerkan rolan kanan dan kiri, persis emak-emak dasteran yang kulihat tiap pagi di komplek rumahku yang sedang belanja sayur-mayur.

    “Nih gue ada oatmeal, mau?” kataku sembari membuka isi laci meja.

    “Mau deh, tapi gak ada susunya ya?”

    “Kan udah punya? Kok masih minta susu lagi?” Iban tiba-tiba menghampiri kubikel Lunetta, lalu loncat duduk di meja Lunetta dan mengoleskan alas bedak yang baru saja ditutup.

    “Gue ada stok di kulkas ambil aja.” Kataku lagi, mengingat kemarin aku beli beberapa kotak UHT berukuran sedang dan memasukannya di kulkas kantor.

    “Ya udah tar gue ambil deh. Thanks ya, Ev.” Lunetta tampak sumringah. Tapi, tak lama ia teriak panik sambil merebut foundation yang dimainkan Iban. “IBAAAAANNNNN… Ini bukan body lotion……”

Keplak!!!

    Lunetta memukul kepala Iban dengan botol air minum. Memang ya, jadi laki-laki itu tidak bisa sedikit saja tak usil sama wanita. Rasakan kau, Iban. Benjol deh tuh kepala.



ALBIO VARGASBARA

    Sebenarnya aku sangat senang melihat Lunetta berdandan. Tapi, aku lebih suka dia menampilkan dandanan yang natural dan tidak terkesan seperti badut di acara kondangan. Cewek yang duduk di samping kubikelku ini memang selalu membuat dadaku berdebar. Lihatlah cara Iban duduk di meja Lunetta tanpa izin, rasanya aku ingin seperti itu juga. Namun, rasanya aku segan.

    “Lun, lo bisa makeup gini pas umur berapa?” tanyaku tanpa filter. Duh, konyol sekali pertanyaanku barusan. Jelas-jelas semua wanita dari masa puberitas sudah bisa berdandan. Lain halnya dengan Everist yang kuperhatikan begitu cuek dengan penampilan.

    “Kenapa gitu? Makeup gue jelek ya?” Lunetta menautkan kedua alisnya dan melekukan bibirnya yang kini sedang dipoles lipstik bernada nude. Duh, jadi makin gak tahan deh sama bidadari ini tiap hari.

    “Eh, cakep kok, kata siapa jelek. Jangan baper deh. Kan gue cuma tanya.” Dalihku sudah terlanjur membahas makeup. Everist yang duduk di seberang kubilku terbahak. Kenapa sih cewek aneh itu harus duduk berhadap-hadapan denganku? Jadi malas menatap ke depan.

    “Besok kalau ada lomba dandanin cowok, gue mau didandanin sama Lunetta aja. Gak mau sama Everist.” Faris yang sedang menyiapkan bahan untuk meeting ikutan bersuara.

    “Haiss, lu gak tau aja gini-gini gue pernah jadi MUA.”

    “Masssaaaa?” Ledekku.

    “Gini-gini gue pernah dandan loh. Lihat aja besok, pasti kalian pangling banget sama gue. Ya gak Lun?" Aku meminta pembelaan Lunetta

    “Heemmm.Tul” Jawab Lunetta singkat karena ribet dengan bulu mata palsunya.

    “Sini Lun, gue bantu sisirin.” Iban mengambil sisir dan mulai menyisiri rambut Lunetta helai per helai.

    Ah, kalau saja aku tidak gengsian, mungkin aku yang melakukan itu untuk Lunetta, tapi aku tidak berani menyentuhnya. Jangankan menyisiri rambutnya, mengajak makan berduaan di kantin saja aku gugup.

    “Aduh, Iban, pelan-pelan. Lo pernah gak sih nyisirin cewek? Kan ade lu cewek, masa gak ngerti cara sisirin cewek.” Wajah Lunetta seperti sedang menahan sakit karena Iban terlalu bersemangat menyisirinya.

    “Tuh kan rontok banyak. Udah ah, lo gak ada bakat jadi hairstylist” Lunetta merebut sisir dari tangan Iban. Dan kini ia mulai menyisir.

    “Hahahaha… Mampus!” Everist terbahak lagi menertawai Iban yang diomeli Lunetta bak anak kecil yang susah diatur.

    “Gue bisa dandan sejak gue suka sama pacar pertama gue. Dari situ gue mulai belajar pakai lipstik, bedak, lambat laun nyobain pake blushon, mascara, eyeliner, dll.” Dan Lunetta pun menjelaskan serentetan merk kosmetik kepadaku yang sejujurnya aku tidak tahu rupa dari satu per satu barang yang ia sebutkan barusan.

    “Tenang, Bio, nanti gue kasih tau lewat Mbah Google.” Everist menyambar lagi.

    “Emang lo tahu, Everist?” Iban justru bertanya balik pada Everist.

    “Tahu lah, kan gue cewek, bukan alien,” jawabnya judes. Kini aku tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Everist yang masam.

PARALEL - PROLOG #NOVELSERIES

LUNETTA

"Ev, kenapa sih nama lo Everist?” tanyaku pada cewek berambut sebahu dan tinggi sekitar 160 cm yang sedang menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kalau kata nyokap gue sih ya, karena dulu bokap pengen banget nanjak Everest. Tapi, boro-boro ke sana, naik Gunung Slamet aja cuma halusinasi belaka.” Everist mengangkat bahunya dengan wajah datar.

“Berarti gue bisa manggil lo ‘Gunung’ dong,” Iban yang duduk di samping kubilkelnya menyambar pembicaraan.

“Bodo amat...” Jawab Everist cuek. Tangannya sibuk dengan ikan cupang piaraannya.

“Ya udah, bilangin bapak lo, kita mendaki Everest sekarang. Gue temenin, gitu.” Albio mengikat slayer ke kepalanya, menirukan gaya anak gunung. Sontak aku, Everist, dan Iban menyoraki Albio.
“Ayo, kita bawa tenda dan siapin perlengkapannya.” Iban menarik-narik tangan Everist seperti merengek minta diajak ke pasar.

Tapi, eh tapi...

“IBAN.... Selesaikan dulu laporan keuangan PT Ambigu. Jangan berisik, saya sedang menyiapkan data untuk meeting.”

Suara berat Pak Wily mampu menghentikan kerusuhan kami. Seketika, kami kembali ke layar komputer dan pura-pura sibuk bekerja. Everist mengoceh tanpa suara, seperti protes status karyawan magabutnya terganggu.

Kamis, 19 November 2020

Urutan Kematian #DiaryNalla

 KADO TERAKHIR


Jakarta, 29 Agustus 2020.

 

Bulan ini adalah bulan kelahiranku. Aku sangat bahagia karena banyak keajaiban menyapaku. Salah satunya karena lusa aku bisa kembali bekerja di perusahaan baru. Setelah empat bulan lamanya menjadi pengangguran.

Di masa pandemi seperti ini, banyak perusahaan yang pincang, bahkan gulung tikar. Ribuan pekerja di PHK secara sepihak lantaran perusahaan tidak dapat membayar gaji bulanan.

"Kapan Ibu bisa join di tempat kami?", Tanya seorang bagian personalia kepadaku via telepon.

"Senin ya, Bu, tanggal 31 Agustus 2020. Mengingat kedua orangtua saya mau mudik akhir pekan ini." Jawabku tanpa ragu.

Sebenarnya, bisa saja aku bergabung secepatnya di perusahaan baru. Namun, ibu dan bapak ada rencana pulang kampung minggu ini ke Brebes. Ada urusan keluaga, katanya. Nanti siapa yang akan menjaga anakku di rumah kalau aku kerja?

Tetapi, kenyataannya lain. Bapak tiba-tiba sakit. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Bapak semakin hari semakin terpuruk.

Aku ingat betul, bapak memintaku membelikan obat-obatan dan vitamin di apotek, serta buah pir kesukaannya. Bapak juga minta dibelikan susu beruang di minimarket. Aku sendiri yang membukakan kaleng susunya.

Bapak bilang, bapak cuma masuk angin, nanti juga sembuh. Kemudian demamnya naik turun hingga 40 derajat Celcius. Aku sudah menduga kalau bapak terpapar virus yang sedang heboh itu. Apalagi kalau bukan covid 19.

Pada waktu bapak sakit, aku pun sakit. Perutku mual seperti asam lambung kumat. Aku memang punya histori penyakit asam lambung. Selain asam lambung, aku juga merasakan seperti mau flu. Dan aku sangat takut untuk minum obat. Pasalnya, aku takut kalau ternyata aku sakit lantaran sedang hamil muda.

Tak ingin ambil resiko, aku meminta suami mengantarku ke apotek untuk membeli tes kehamilan. Hasilnya garis satu. Lalu, aku pun meminum paracetamol dan obat lambung.

Di hari Sabtu pagi tanggal 29 Agustus 2020, ibu ke rumahku dan bercerita kalau semalam napas bapak tidak beraturan. Beliau juga tidak dapat bangun karena lemas. Mau angkat galon saja tidak kuat. Sehingga ibu meminta suamiku untuk membantu memasangkan galon.

Pukul 09:30, ibu terpaksa mengambil keputusan membawa bapak ke rumah sakit. Padahal ibu tidak ingin bapak ke rumah sakit. Karena takut nanti dibilang covid. Takut diasingkan tetangga, dan lain sebagainya.

Akhirnya suamiku mengantarkan bapak ke rumah sakit, bersama ibu, adik, dan satu tetangga samping rumah ibu. Suamiku kemudian pulang ke rumah, tidak ikut berjaga di rumah sakit, berhubung siang ini dia ada jadwal masuk shift kerja siang. Lagipula, ada ibu dan adikku di sana.

Jam 15:00, adikku Lestari mengabariku, bahwa bapak ternyata benar-benar positif covid. Hasil rapid tes bapak menunjukkan ‘REAKTIF’. Adikku menangis di telepon. Aku pasrah. Ya Tuhan, akhirnya yang kami takutkan benar terjadi. Dokter meminta persetujuan keluarga untuk memasukkan bapak ke ruang isolasi. Kami tidak bisa menolak. Berharap bapak masih bisa sembuh.

Setelah masuk ruang isolasi, hidung bapak dipasang alat seperti plastik yang tersambung dengan selang. Bapak masih bisa cengengesan. Telepon ke sana ke mari dengan menunjukkan foto dan video bahwa dia sedang di rumah sakit. Bapak juga masih bisa membalas pesan WA-ku. Bapak bilang pada bibiku, semestinya hari ini dia pulang ke kampung, memberi kejutan istimewa.

Ba'da Maghrib, aku mencoba menghubungi bapak via panggilan video. Tidak diangkat. Lalu, aku menghubungi adikku Lestari. Rupanya dia sudah di rumah untuk mengambil baju ganti dan obat pribadi milik bapak, seperti obat darah tinggi, kolestrol, asam urat, dan obat lambung. Juga mengantarkan ibu pulang ke rumah. Bapak memang memiliki banyak sekali penyakit bawaan, terutama jantung.

Tak lama, Lestari meneleponku. Ternyata dia sudah kembali ke rumah sakit dan ikut masuk ruang isolasi, menemani bapak. Dia tersedu sedan memberitahuku kalau bapak kritis. Aku melihat sendiri bagaimana dua petugas berpakaian APD memacu jantung bapak menggunakan alat medis seperti yang sering aku lihat di televisi. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. 

Aku segera menghubungi suamiku via telepon. Tetapi, teleponnya tidak diangkat. Akhirnya aku menghubungi telepon kantornya, dan titip pesan ke temannya bahwa bapak sedang berjuang menghadapi ajal. Suamiku langsung beranjak pulang dan menyusul adikku di rumah sakit. Di sana sudah ada Om Mul (adik kandungnya ibu). Sementara Chintia baru saja tiba di rumah, semenit sebelum dikabarkan bapak sudah tiada.

Aku runtuh malam itu. Bersandarkan dinding dapur, tak mampu menangis dan berucap apa pun. Rasanya sungguh tak percaya. Bapak sudah terbiasa masuk rumah sakit. Biasanya bapak akan pulang ke rumah dan sembuh lagi. Bapak juga tidak sakit parah. Sakitnya baru semingguan.

Kenapa kesannya seperti bapak ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan nyawa? Tidak ada firasat bapak akan pergi untuk selama-lamanya. Bapak semestinya hari ini pulang ke kampung, tetapi ia harus pulang ke pangkuan Ilahi. Innalillahi wa Innailaihi Raji'un... 😭

***

Malam itu, beberapa menit setelah adikku, Lestari, memberitahu perihal kematian bapak, ada yang mengetuk rumahku. Ia adalah tetangga sekaligus kerabat dekat bapak yang sehari-hari bersama bapak sewaktu sehat.

"Sudah tahu belum? Bapak udah gak ada."

"Sudah," kataku singkat.

"Terus ibu mau dikasih tahu tidak? Takutnya shock."

"Lebih baik jangan dulu. Nanti saja agak malam sedikit baru dikasih tahu."

"Baiklah. Tapi, tetangga sudah pada tahu." Katanya.

Jadi, tetangga sudah pada tahu? Secepat itu berita beredar. Aku saja masih terduduk dengan lutut lemas. Belum juga ada lima menit, kabar duka sudah sangat cepat merembet ke publik. Media sosial sekarang memang luar biasa! 

Saat itu, para tetangga belum tahu penyebab kematian bapak. Kami masih menyembunyikannya. Bahkan, pak RT sendiri yang menyuruh kami merahasiakannya. Akan tetapi, keponakan bapak malah mengatakan yang sebenarnya. Tetangga yang sudah terlanjur menjenguk ibu, semuanya bubar. Ibu menangis sepanjang malam.

Kalian tahu kan, kalau ada pasien yang meninggal covid, jenazahnya tidak boleh dipulangkan. Jenazah bapak diinapkan di rumah sakit, ditunggui oleh Lestari dan suamiku. Sedangkan omku menemani ibu dan adikku Chintia di rumah.

Aku sendiri tidak dapat menghibur ibu. Rumah kami memang berdekatan, tetapi anakku sudah lelap dari sore. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah ibu, karena di sana pasti banyak virus bekas bapak. Ya Tuhan, semengerikan ini meninggal pada saat musim covid. Untuk memberikan semangat saja kami semua ketakutan. Bagaimana kabar ibu? Aku harap ibu baik-baik saja. Aku sungguh serba salah. Apakah aku harus menemui ibu dan memeluknya? Apakah aku tetap diam di rumah mengutamakan anakku yang masih kecil dan rentan terhadap virus berbahaya? Sungguh, malam itu aku terisak karena tak mampu memilih. Situasi ini sangat sulit.

Pagi-pagi buta, ibu dan adikku Chintia, langsung ke rumah sakit bersama Om Mul. Sementara aku, menemani anakku yang masih 2,5 tahun di rumah. Suamiku tidak mengizinkan aku ikut mengantarkan bapak ke pemakaman. Ngeri terkena virus.

Jenazah bapak katanya akan dimakamkan pukul 7:00 pagi. Tetapi, sampai jam 10:00, ambulans tidak jua datang. Tidak ada petugas yang menyolati bapak. Sehingga om dan suamiku berinisiatif menyolati bapak dengan teks dari ponsel karena tak hafal bacaannya. Miris sekali aku mendengar hal itu. Hanya sahabat dan handai taulan yang mau sukarela memberikan solat gaib dan doa dari jarak jauh. Aku sangat berterima kasih.

Hingga pukul 12:00, ambulans yang mengambil jenazah bapak baru tiba. Katanya, hari ini angka kematian di Jakarta cukup banyak. Bapak dapat antrian ke-20 dari 35 jenazah yang dikuburkan hari ini.

Hari itu, menjadi hari terakhir permintaan bapak semasa hidupnya, yakni minta dimakamkan setelah solat Dzuhur. Aku menyaksikan langsung lewat video call bagaimana proses pemakaman dengan protokol covid. Ada beberapa petugas berseragam putih serba rapat membantu memasukan peti ke dalam liang lahat, lalu menguburkannya menggunakan tali panjang karena tidak boleh tersentuh tangan.

Dan hari itu juga, merupakan kado ulang tahunku yang paling menyesakkan dada. Tak ada ucapan, yang ada tangisan air mata melepas kepergian.

      Bapak, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Tuhan mengampuni segala dosamu. Maafkan aku yang tidak bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.

Selamat jalan bapak, sekarang engkau sudah tidak minum obat setiap hari lagi efek penyakit komplikasimu.

 

 

Dariku, anak pertamamu.

 

*** Bersambung ***

Jumat, 18 September 2020

Positif Covid? Apa Ciri-cirinya??? #Artikel


Banyak yang bertanya, ciri-ciri kena Covid 19 tuh kayak gimana sih?  

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, ini yang gue rasakan:

Awal-awal badan gue lemes. Cepet capek. Dan hampir mirip kayak flu pada umumnya.

Dibilang radang tenggorokan nggak. Demam tinggi juga nggak. Malah gak demam sama sekali loh.

Sesek napas? Nggak juga. Pernah ngerasain dada agak engap, tapi cuma sebentar. Habis diolesin minyak kayu putih dan minum air hangat, alhamdulillah membaik lagi.

Gejala yang gue rasain adalah hilang dan muncul. Pada saat hilang, gue merasakan sudah sehat. Beberapa jam kemudian, gue merasakan pusing lagi, hidung mampet lagi, dan gejala flu lagi.

Anehnya, gue flu tapi gak ada ingusnya. Kalau hidungnya dibersihin pakai jari, ada sedikit upil. Cuma sedikit.

Ada ciri-ciri yang paling mencolok di antara sakit biasa dan terinfeksi covid 19, yakni indra penciuman yang tiba-tiba tumpul. Orang berpikir mungkin karena lagi pilek, atau sinusnya kumat, jadi menganggap wajar. Padahal, saat pilek biasa, kita gak terganggu sama sekali untuk mencium bau menyengat.

Sumpah, bau pup anak gue aja gak kecium. Biasanya gue tutup hidung tiap kali buka diapernya.

Jadi, menurut gue, pemeriksaan cek suhu di mal-mal/ KRL/ atau gedung perkantoran, itu gak bantu banyak buat mendeteksi pasien covid atau bukan. Karena saat ini banyak kasus OTG (orang tanpa gejala) berkeliaran di sekitar kita.

OTG ini biasanya merasa dirinya sehat karena rajin minum vitamin, melakukan protokol kesehatan sesuai WHO, tapi faktanya dia terpapar virus entah dari mana. Karena saat ini penularan virus Covid19 bukan hanya lewat kontak fisik, tapi bisa juga dari udara yang kita hirup, air, makanan, uang, dan benda-benda lainnya.

Secara gak sadar, kita beli makanan dari seseorang, yang kita gak tahu orang tersebut beneran sehat atau nggak. Bisa jadi saat dia masak, si penjual lagi batuk-batuk atau bersin. Bukan suudzon, tapi lebih baik mending masak sendiri aja deh. Karena kebanyakan pedagang abai protokol kesehatan.

Contoh kasus yang sering banget gue lihat di lapangan saat membeli makanan  jadi seperti pecel lele, bakso, mie ayam, gado2, bubur ayam, gorengan, dll, para pedagangnya gak ada yang pake masker, sementara yang belinya pakai masker semua.

Para pedagang seenaknya ambil makanan pakai tangan bekas pegang uang, terus mereka ambil uang dari pembeli dan kasih uang kembalian, kemudian pegang makanan lagi. Ya Allah, gemessss banget gue lihatnya. Pengen komplain tapi malas ribut. Karena secara tidak langsung, para pedagang punya andil besar dalam menularkan penyakit pada pembeli.

Seharusnya para pedagang paham akan bahaya pada uang yang mereka pegang. Karena uang barang umum yang bisa dipegang oleh siapa saja. Semestinya para pedangang mengambil makanan pakai sarung tangan khusus, serta sedia hand sanitizer, jadi si pembeli merasa aman.

Tidak hanya uang loh ya, virus juga bisa berasal dari makanan mentah seperti lalapan, buah, dan sebagainya. Maka dari itu, mencuci bersih sayuran menggunakan garam atau cairan antiseptik sebelum dimasak juga penting. Buah-buahan juga harus dicuci terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Kalau yang ada kulitnya, sebaiknya dikupas. Nah, untuk lalapan sebaiknya direbus dulu. Hal ini untuk meminimalis resiko penyebaran virus berbahaya ke dalam tubuh kita.

Percaya gak sih kalau virus beterbangan di udara dalam waktu lama. Dan itu artinya, udara bersih saat ini hanyalah impian semata. Banyak OTG yang bersin/ batuk/ tertawa, tidak pakai masker, lantas si virus melayang-layang di udara dan masuk ke dalam pernapasan orang lain. 

Virus bisa juga tercemar lewat air. Para OTG/ pasien dalam masa isolasi mandiri, pasti membersihkan badan di toilet. Airnya ngalir, bahkan meresap ke tanah. Kemudian masuk ke dalam keran yang kita gunakan untuk mandi dan cuci ini itu. Bisa juga kita konsumsi air tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Hati-hati loh, karena secara gak sadar, kita dalam zona bahaya. Dan mata kita bodoh banget untuk bisa lihat virus secara kasat mata. 

Seandainya virus berwarna kuning, atau berbetuk mirip semut, setidaknya kita bisa menghindari.

Pertanyaannya, siapa yang mau sakit? Sebersih dan serajin kita minum vitamin, kalau sudah wayahnya sakit ya sakit juga toh?

Kasusnya sama kayak kita udah hati-hati banget mengendarai mobil/ motor, kalau sudah waktunya celaka ya pasti celaka. Misal remnya mendadak blong, padahal sudah diservis. 

Karena takdir sehat dan sakit Allah yang menentukan. Siap gak siap ya harus siap.

Jadi, kesimpulan tentang ciri-ciri Lo terpapar covid 19, di antaranya sebagai berikut: 

1. Indra penciuman yang hilang. Hidung seperti sinus, terasa kebas dan tidak sensitif terhadap bau-bauan. Alias gak bisa nyium bau apa pun.

2. Tidak enak badan dalam durasi lebih dari seminggu. Walau pun sudah minum obat dan vitamin, sakitnya sering hilang muncul.

3. Pilek tapi gak ingusan. 

Kalau flu biasa, pasti bersin-bersin dong. Ini bersin jarang banget. Gue malah gak bersin-bersin.

Biasanya gue pilek sembuh dalam waktu 3 hari. Ditidurin juga udah enakan. Nah, kalau covid, gejalanya bisa berminggu-minggu. Gue 1 bulan.

4. Merasa dadanya tiba-tiba engap.

Kasus ini biasanya saat gue kecapean kerja. Atau abis nangis, sedih, banyak pikiran, dan stres. Alangkah baiknya jangan terlalu sendu, karena ngaruh banget ke imun kita.

5. Tenggorokan gatal, suara agak serak,  dan batuk tak berdahak.

Tenggorokan rasanya gatal dan batuk kecil. Pada sebagian kasus orang lain, batuk bisa juga parah. Kalau bicara, tenggorokan seperti kering. Suara agak serak.

6. Terpapar covid gak selamanya demam tinggi. Bisa juga tidak demam sama sekali. Atau bisa juga demam ringan cuma 37' Celcius.

7. Tenggorokan tidak nyaman. 

Rasanya ingin meludah terus. Terdapat lendir yang mengganjal dan harus dikeluarkan. Adanya lendir karena paru-paru memberi sinyal bahwa ada bahaya mengancam. Warna lendir putih, atau hijau dan kuning tergantung tingkat berat ringannya. Kalau putih masih ringan. Nah untuk hijau itu paling berat.

8. Lemas dan napas terasa berat (bukan sesak).

Kalau lemas, mau aktivitas apa pun seperti sulit. Jalan sempoyongan, tensi tiba-tiba menjadi sangat rendah. Bisa 90/60.

9. Pusing

Pusingnya sampai berhari-hari. Kalau diminumin obat, enakan. Tapi, pusingnya gak hilang 100%. Nanti kumat lagi.

10. Badan greges dan keringat dingin.

Kadang kala, badan rasanya campur aduk.

11. Hampir mirip masuk angin.


Berdasarkan pengalaman almarhum bokap, ini yang dia rasakan.

1. Gejalanya mirip masuk angin. Sudah dikerokin tapi kok gak sembuh-sembuh.

2. Demam tinggi sampai 40' C. Di waktu tertentu, bapak merasa enakan lagi badannya dan demamnya turun setelah minum Paracetamol. Sampai berpikir itu typhus. Lalu makan cacing tanah segala, tapi gak sembuh juga.

3. Batuk.

4. Menggigil

5. Napas pendek-pendek tak beraturan saat tidur.

6. Lemas. Sampai bangun saja tidak kuat. Jalan pun sempoyongan.


Gejala Covid 19 ini bisa berat, sedang, ringan, bahkan tanpa gejala sama sekali. Kenali ciri-cirinya, dan segera lakukan tes usap jika merasa perlu.

Demikian ciri-ciri positif covid 19. Ada baiknya untuk lebih pasti, ikut tes usap/ Swab.

Pakai selalu masker, sedia sanitizer, dan jaga jarak, agar sakit kita tidak menular pada anggota keluarga yang lain. 

Safety first, karena SEHAT ITU MAHAL.

Kita berhak kok memilih takdir sehat atau sakit. Walau takdir sehat dan sakit sudah ada yang mengatur, tetapi menjaga kesehatan dan kebersihan adalah salah satu cara ikhtiar kita untuk memilih takdir baik Allah.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Ta'ala. Percayalah, sehat dan sakit datangnya dari Allah. Teruslah berjuang melawan sakitmu, gak usah panik apalagi stres. Karena kalau kita stres, imun tubuh akan menurun, yang dapat menyebabkan kita semakin drop.

Jika kalian positif covid, saran gue, dekatkan diri pada sang Maha SegalaNya, banyak berdoa, beribadah, dan berbahagialah. Karena jika kita bahagia, imun tubuh akan naik. Dan sakit kita akan segera pulih.

Silakan share jika bermanfaat.


Salam,

Nalla Dewi




Kamis, 04 Agustus 2016

Ayahku Bukan Pembunuh #SebuahKisahNyata #Cerpen

Saat itu aku masih berusia lima tahun. Aku masih ingat ayah bersemangat membawa kami ke Pantai Skip. Pantai yang berjarak delapan kilometer dari rumahku. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan seharian waktuku bersamanya, bersama ibu, juga adikku – Ajeng. Sayangnya, kebahagiaan itu teramat singkat.

Ketika aku dan Ajeng sedang asyik bermain pasir bersama ayah, aku mendengar ibu berteriak meminta tolong. Suaranya agak samar karena bercampur desau angin muson barat dan deburan ombak yang membuat nyaliku menciut.

Aku melihat dengan mataku sendiri ibu tergulung ombak setinggi empat meter lebih. Tangannya terjulur ke udara, seluruh tubuhnya terendam air, menyisakan uraian rambut panjangnya di tengah riakan busa. Ayah pontang-panting berusaha menyelamatkan ibu, dibantu beberapa lelaki dewasa yang bahu-membahu menolong ayah. Sia-sia, ayah justru ikut terseret amukan ombak yang tak henti-hentinya datang ke daratan.

Ternyata bukan hanya ibu dan ayah yang menjadi korban, tetapi ada dua remaja tanggung, sepasang muda-mudi, dua orang dewasa, dan dua lansia. Saat itu aku ketakutan bukan kepalang. Ajeng sampai menjerit-jerit memanggil nama ayah dan ibu sambil tersedu-sedan. Untung saja Paman Muklis dan Bibi Dian cepat datang ke lokasi, maka aku dan Ajeng tidak merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya lagi. Mereka berdua memeluk kami, berkata ibu dan ayah akan baik-baik saja.

Bibi Dian dan Paman Muklis bohong. Ibu dan ayah tidak baik-baik saja. Tubuh mereka membiru dan pucat. Terutama ibu yang lebih lama terendam di air laut. Keduanya dibawa ambulans, bersamaan dengan korban lainnya yang ditemukan beberapa jam kemudian. Aku dan Ajeng sempat menemani di mobil hingga rumah sakit. Sayangnya nyawa ibu tidak dapat tertolong lagi.

“Ibu bangun… Jangan tidur terus. Bangun, Bu,” kataku sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Ayah, kenapa ibu mendadak tuli? Ibu pura-pura tidur terus dari tadi,” aku meminta pembelaan pada Ayah. Namun ayah menjawabnya dengan senyum hambar. Senyum yang bisa kuartikan sebagai kegetiran paling menyesakkan. Waktu itu aku belum mengerti kata kematian.

Bulir air mata ayah menetes menjatuhi pipi saat pemakaman ibu. Di sana juga ada nenek, Paman Muklis, dan Bibi Dian. Semuanya menangis. Ada apa?

“Kenapa ibu dimasukkan ke dalam tanah, Yah? Nanti ibu susah bernapas? Ambil lagi ibunya, Yah, nanti ibu kegelapan” kata Ajeng sambil mengguncang-guncangkan lengan ayah. Ayah tidak menjawab, matanya merah berair.

Berselang detik, nenek menampar ayah, mengatakan bahwa ayah pembunuh. Bibi Dian beringsut memelukku dan Ajeng. Aku ingat sekali momen menyedihkan itu. Saat isak tangis tak mampu membawa ibu kembali, saat itu ayahku dibawa paksa manusia bertubuh besar yang memborgol tangannya di belakang pinggang. Ayah mau dikemanakan?

***

Sebelas tahun berlalu, aku belum jua bertemu dengan ayah semenjak pemakaman ibu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas satu SMA, menjadi remaja cantik yang dibesarkan tanpa ayah dan bunda, tanpa kasih sayang mereka. Kenapa ayah jahat padaku dan Ajeng? Kenapa dia tidak berniat sama sekali menjengukku? Kasihan nenek. Beliau terlihat letih mengurus kami berdua sedari kecil hingga sekarang ini. Wajahnya yang dulu segar kini keriput. Rupanya nenek sudah tua.

Ayah dimana? Cacha benci ayah, tapi Cacha juga rindu. Ajeng sering bertanya padaku kenapa Ayah tidak pernah berkunjung? Sebenarnya salah kami apa? Apakah perkataan nenek benar, bahwa ayah tidak sayang lagi kepada kami berdua? Ayah jahat! Apakah benar Ayah yang membunuh ibu? Sehingga Ayah malu kepada kami sekadar untuk bertemu denganku?

Tidak terasa air mataku berlinang dengan derasnya. Setiap pembagian raport di sekolah, teman-temanku mengolok-olok kalau aku adalah anak haram yang ditinggalkan ayahnya. Para tetangga kanan dan kiri mencemooh kalau aku hanyalah anak buangan yang tidak diinginkan ayah.

Entahlah. Semua cacian dan hinaan yang masuk ke telingaku membuatku pusing. Dan akhirnya semuanya menjadi jelas ketika aku bertemu dengan Paman Muklis di Bandara Soekarno Hatta Sabtu siang ini.

“Paman mencarimu kemana-mana, Nak. Pulanglah ke Mataram. Tengok ayahmu yang semakin kurus di dalam kerangkeng besi. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Setiap malam ia menangis menyebut nama kalian, Cacha dan Ajeng. Ayahmu tidak bersalah, ia bukanlah pembunuh. Ia hanya dituduh telah membunuh ibumu. Padahal kau tahu sendiri, bukan? Ibumu meninggal karena tenggelam terbawa ombak.” Dahi Paman Muklis mengerut sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dia kehilangan ibumu, juga kalian. Dia kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarga dalam waktu bersamaan. Ayahmu tidak bersalah. Percayalah. Tapi mau bagaimana lagi, tuduhan kuat pasal 340 KUHP tentang motif pembunuhan berencana, menguatkan hakim untuk mengurungnya dua puluh tahun penjara. Sembilan tahun lagi dia baru bisa merasakan udara bebas.” Paman Muklis menarik napas. Tampak resah.

Aku masih terduduk mematung di lobi pemberangkatan. Pundakku terasa berat, dadaku mendadak sesak.

“Cacha…” Paman Muklis menatapku. Aku menundukkan wajah, memperhatikan kedua tanganku yang tiba-tiba lemas. “Pulanglah sebentar saja. Paman sudah membelikan tiket untukmu sekali jalan. Hanya kamu yang bisa menghapus tuduhan itu dan membebaskan ayahmu. Ayahmu amat rindu pada kalian berdua. Terusterang, Paman kesulitan mendapatkan kontakmu. Tapi Paman tidak menyerah, Paman terus mencari informasi terkait keberadaan kalian demi ayahmu, sahabat terbaik yang Paman punya.”

Mataku seketika berkaca-kaca dan sembab. Benarkah Ayah merindukan kami? Apakah yang dia alami selama sebelas tahun di dalam penjara tanpa kehadiranku? Mendadak air mata yang menggenang di mataku menetes tak tertahankan. Aku terisak.

“Maukah kamu menjenguk ayahmu yang sedang sekarat, Nak?” Paman Muklis merendahkan nada suaranya.

Suara keramaian di bandara seakan samar saat kalimat itu menancap ke telinga dan jantungku. Aku menoleh ke wajah penuh harap Paman Muklis dengan pipi yang basah. Kata Paman Muklis, nenek benci sekali pada ayah. Sehingga aku harus sembunyi-sembunyi bertemu dengannya di bandara ini usai sekolah.

Demi mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini kuanggap salah, aku menurut. Bahwa ayahku seorang pembunuh berencana yang tidak sesuai logika.

“Baiklah, Paman, Cacha mau pulang. Tapi sekolah Cacha bagaimana? Ajeng bagaimana? Apakah Cacha jemput Ajeng dulu di rumah? Dia pasti cemas mencariku. Begitupun nenek,” kataku.

“Tidak perlu, Nak. Kita hanya sebentar. Setelah vonis tuduhan ayahmu tercabut, kau boleh kembali ke Jakarta, meneruskan cita-cita kalian. Lalu kalian boleh pulang lagi menjenguk ayahmu yang sudah tua itu.”

Aku mengangguk lagi, menyeka air mataku dan mengusap ingus. Dengan tas ransel berisi buku-buku pelajaran dan kartu pelajar, aku memantapkan langkahku menuju tempat check-in, kemudian melewati pemeriksaan dan naik ke pesawat dengan tujuan Bandara Praya.

***

Tembok beton yang berdiri di hadapanku terlihat pengkuh dan angkuh. Seperti tidak mengenal belas kasihan bagi yang menghuninya macam ayah yang jelas tidak bersalah. Selama di pesawat tadi, aku lebih banyak diam, sementara Paman Muklis banyak menjelaskan apa yang selama ini tidak kuketahui.

Kata Paman Muklis, neneklah yang telah menjebloskan ayah ke penjara atas kekuasan Om Fahrul, adik kandung ibu yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Entah kenapa aku lebih percaya pada cerita Paman Muklis ketimbang nenek. Ayahku bukanlah pembunuh seperti yang kalian bayangkan.

Panjangnya lorong penjara yang sunyi dan gelap, membuat bulu kudukku merinding. Ini seperti neraka kehidupan yang sejujurnya aku sendiri belum melihat seperti apa bentuknya. Saat meliuk lagi ke kiri, kulihat dua penjaga berseragam coklat tengah berdiri memegang senjata api di tangan kanannya. Paman Muklis menghampiri mereka dan berkata ingin bertemu dengan ayahku.

Dua sipir itu mencatat nama kami dan menghubungi bagian pembawa kunci melalui HT yang tersampir di ikat pinggangnya. Kami kemudian dipersilakan duduk di bangku besi usang yang hanya bisa diduduki maksimal dua orang. Kudengar derap langkah semakin dekat ke arahku. Hatiku bergetar tidak karuan. Semakin dekat, dan rasanya aku ingin pingsan saja.

“Cacha? Anakku? Ya, Ayah yakin kau adalah anakku,” Namun suara berat itu membuatku menoleh, menguatkan hatiku yang ketakutan karena harus bertemu dengan masalalu. Dia ayahku. Ya, sampai kapanpun dia ayahku.

Sebelum laki-laki kurus berseragam oranye kumal itu duduk di hadapanku, aku segera berdiri dan mencium tangannya. Tentu saja dibubuhi dengan air mataku yang tidak bisa kuajak kompromi agar jangan keluar dulu sebelum percakapan kami selesai. Aku tidak bisa berdusta, kalau aku merindukan laki-laki yang separuh rambutnya sudah beruban ini. Kurasa itu bukan uban faktor usia, melainkan teramat banyaknya ia memikirkan suatu beban yang tak kunjung reda.

“Kamu pulang, sayang?” Dia ayahku, yang sebelas tahun kuanggap sebagai penjahat dan pecundang lantaran tak pernah mau menemuiku, kini mengelus rambut dan mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Sekarang siapa yang jahat? Aku atau dia? Seseorang yang selalu merindukanku siang dan maalam, menyebut namaku dalam setiap helaan napas dan doanya. Akulah yang jahat. Menuduhnya sebagai pembunuh dan ayah yang tidak bertanggungjawab.

Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk ayah, bilang kalau aku minta maaf atas kesalahpahamanku selama ini terhadapnya.

“Ayah sudah memaafkanmu, Nak, Ayah yang bersalah, tidak bisa menjemput kalian ke Jakarta. Dimana Ajeng? Dia tidak ikut?” katanya menatapku dengan bersimbah air mata.

Aku menoleh ke arah Paman Muklis, mencari jawaban. Tak kuduga ia pun menangis. Sesedih itukah pertemuanku dengan ayah? Sehingga para sipir pun ikut mengusap air mata.

“Ajeng akan menyusul, Ta. Setelah ini kalian bisa bersama-sama lagi. Tak ada yang akan bisa memisahkan kalian.” Paman Muklis menjelaskan.

Aku mengangguk setuju, kemudian memeluk ayah sekali lagi. Rasanya kostum yang ayah kenakan tidak sewangi dulu saat aku memeluknya. Kostum ini pasti jarang dicuci. Dan ayah jarang mandi. Tapi aku merasa nyaman berada dalam pelukannya. Aku tidak mau berpisah lagi. TIDAK MAU!

“Berhenti menangis, Nak. Jangan menangis lagi. Kita sudah bertemu. Semestinya kita bahagia,” Ayah mengendurkan pelukannya dan mengusap air mataku.

Namun sebelum aku ingin bicara panjang lebar padanya, para sipir menarik kasar ayahku dan bilang waktu besuknya telah habis. Aku menelan ludah. Kejam sekali mereka memperlakukan ayahku seperti itu. Sebelas tahun yang tak bisa kubayangkan ayah makan apa, tidurnya bagaimana, apakah ia dapat perlakuan yang layak atau tidak?

Ah, pikiran buruk itu membuatku semakin sengsara. Aku tidak tega menyaksikan ayah diboyong kembali ke dalam jeruji besi oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. Beliau menoleh kepadaku, aku mencoba tersenyum tegar, meski sebenarnya tidak.

Ayah, aku berjanji akan membebaskanmu dari sini. Bersabarlah… Aku sayang Ayah...

***

Cerita ini merupakan versi anaknya. Untuk lebih detailnya, saya tulis dalam bentuk novel yang bertajuk 'MARTANORA'
Novelnya bisa didapatkan di Pena Nusantara.
Kontak (WA : 0857-7186-0444)
Harga buku : Rp 44.100



Merayakan Kebebasan #Cerpen

Ada banyak serentetan kisah pilu yang berputar-putar di kepalaku. Lucu. Kadang aku suka tertawa sendiri mengingatnya. Laki-laki itu bernama Bombom. Panggilan sayang yang kulayangkan padanya. Karena bertubuh tambun dan tinggi besar, aku kadang memanggilnya si kasur empuk. Perkenalan yang tidak sengaja di sebuah bengkel motor, membuahkan benih-benih cinta antara aku dengan dia.

Dia tidak tampan, tapi aku menyukainya. Katanya orang gemuk seperti dia tidak akan kuat berjalan kaki sejauh satu kilometer. Jangankan 1 km, kuajak mengejar bus tujuh meter saja dia sudah melambaikan tangan. Tapi aku menyukainya.

Bombom tipikal cowok romantis. Bagaimana tidak, dia tak pernah absen membawakanku kejutan. Awal tahun 2012, dia memberikan boneka Modo–simbol Seagames yang kebetulan saat itu diadakan di Indonesia. Aku memang ingin sekali boneka itu sejak dulu, namun sayang tidak diperjual-belikan di tempat umum. Hingga akhirnya aku mendapatkannya dari Bombom.

“Kamu selalu tahu apa yang kumau,” kataku.

“Karena aku sayang kamu, Jesie. Semua pikiranmu terbaca olehku,” ujarnya gombal. Oh iya, Bombom juga pernah memberikanku sekuntum bunga mawar. Aduh, romantis, bukan?

Sebulan berikutnya, ia mengenalkanku pada kedua orangtuanya di daerah Bekasi. Saat itu ibunya sedang terkapar di rumah sakit karena penyakit diabetes. Kesan pertama yang kudapat saat bertemu dengan orangtuanya, aku merasa gemetar. Ayahnya yang seorang HRD di perusahaan TBK, wajahnya cukup sangar. Namun Bombom bilang, aku pasti bisa meluluhkannya.

Apakah kedua orangtuaku setuju seorang plankton berjalan dengan Tinky Winky? Jangan ditanya. Mereka selalu tersenyum bila Bombom bertandang ke rumahku, menenteng dua kotak martabak dan buah durian montong berukuran jumbo. Barangkali itulah siasatnya untuk menakhlukan hati keluargaku.

Tiga bulan pertama, hubungan kami sangat baik. Di tengah kesibukanku sebagai wanita kantoran, aku selalu menyempatkan diri bercakap-cakap dengannya melalui telepon. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang terjadi. Saat pulang kerja pun, aku dan Bombom masih bertukar cerita di kawat selular tanpa kabel. Bercerita ngaler-ngidul dan berakhir saat mata butuh dipejamkan. Serta memulai kembali perbincangan saat mata terbuka di pagi buta.

Selalu ada cerita seru yang kami lontarkan satu sama lain. Rasanya aku teramat sangat bahagia memiliki kekasih seperti dia. Selain perhatian, Bombom mudah sekali membuatku tertawa.

Semua masih baik-baik saja, sampai masalah pertama di bulan keempat pun muncul. Di mana kami bertukar ponsel sebagai wujud kepercayaan. Awalnya dia menolak, karena untuk apa saling percaya kalau harus membuat peraturan yang rumit. Hal itu malah membuatku curiga. Agar dia mau memberikan ponselnya, aku mengancamnya putus. Kata putus pertama yang kuajukan padanya.

"Papah, bagaimana keadaan Mamah? Bunda khawatir. Bolehkah Bunda menjenguk?" - From Indah.

Deg.

Jantungku remuk seketika membaca pesan yang tersangkut di trash ponsel Bombom.

"Sayang, nanti sore kamu mampir ke rumahku, kan? Kamu sudah janji lho, jangan pura-pura lupa lagi. Aku kangen banget sama kamu."

Perempuan bernama Dian merengek ingin bertemu.

Aku menarik napas. Siapa lagi wanita ini? Pikirku jengkel. Untuk membahas masalah ini, aku harus bertemu Bombom sesegera mungkin. Titik.

Minggu pukul sepuluh pagi, Bombom menjemputku di rumah. Aku sudah bersiap sejam yang lalu menunggu kedatangannya. Hari ini adalah awal pertengkaranku dengan Bombom. Aku tak banyak bicara dan menjaga jarak dudukku dengan dia yang sengaja kuganjal dengan tas selempang di tengahnya.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget. Pegangan ke pinggangku, nanti jatuh,” ucapnya dengan nada bingung.

Aku diam saja, malas menjawab. Nama Indah dan Dian terus menggelayut dan berputar-putar di otakku laksana angin puting beliung. Aku benci nama perempuan-perempuan itu. Sesak hati, aku memberanikan diri memulai pembicaraan. “Tolong jelaskan padaku siapa Indah dan Dian?”

Bombom menoleh dan memelankan laju motornya. “Siapa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, jangan mengeles macam bajaj. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku.”

Bombom menepikan motornya di depan mini market. “Kamu tidak membawa jamuan untuk keluargaku, Jesie?” Bombom malah mengalihkan pembicaraan.

Aku terdiam, malas menjawab. Hatiku sedang dilanda kebakaran, kenapa pula dia mencoba memberikan angin. Aku butuh air untuk memadamkannya, bodoh sekali kau ini. Makiku kesal dalam hati.

“Bombom, kalau kau tidak mau menjelaskan, biar aku pulang. Aku tidak jadi menemui orangtuamu. Sini, kembalikan ponselku! Aku juga bisa berselingkuh dengan laki-laki lain. Memangnya kamu saja. Dan kita PUTUS!”

Bombom memicingkan matanya padaku. Ini adalah pernyataan pembubaran barisan kedua yang kugugat untuknya. Seandainya di sana ada benda pecah beling, mungkin sudah kulempar benda itu ke jalanan. Deras hujan yang mengguyur ibu kota, menyibak rasa sakitku akan cinta yang terkhianati. Bukankah Bombom hanya mencintaiku? Hanya menyayangiku seorang? Bohong! Di belakangku, dia menggandakan cintanya pada dua perempuan sekaligus. Dasar buaya darat.

Dua hari dua malam aku tak menggubris pesan singkat dan telepon dari Bombom. Dia mengatakan bahwa ibunya masuk kembali ke rumah sakit karena penyakit diabetesnya kambuh. Aku tidak membalas pesannya. Malas. Hatiku sedang terselimuti kabut cemburu. Aku amat membencinya. Di dalam angkutan umum, aku menyeka air mataku, tidak peduli penumpang lain memperhatikan. Di perjalanan sepulang bekerja, Bombom lagi-lagi meneleponku. Ini panggilannya yang ke-23. Aku tidak jua menjawab. Tubuhku yang lelah, kusandarkan pada punggung jok metro mini yang keras dan karatan.

Tetapi mataku terlonjak saat menatap layar ponsel bertuliskan nama ayah Bombom. Mau tidak mau, aku terpaksa mengangkat. Dengan berlinang air mata dan dada yang amat sesak, aku mencoba menyamarkan tangisanku. “Halo, Om.”

“Halo, Jesie. Aldo bilang kau tidak mau mengangkat teleponnya. Kalian bertengkar? Ah, masa muda seperti kalian masih rentan cemburu buta. Aldo sudah bercerita panjang lebar tentang masalah kalian. Kami sedang berada di RS Citra. Mamah Aldo kumat lagi penyakitnya. Sebentar, ini Izmi ingin bicara denganmu.”

Aku menyeringai. Susah payah mengumpulkan kalimat.

“Kak Jesie, Kak Indah itu mantannya Mas Aldo, sudah putus setahun lalu. Jangan bertengkar lagi ya, kasihan Mas Aldo. Dia demam memikirkan Kak Jesie. Mamah juga sedang diinfus lagi. Izmi hanya minta Kak Jesie percaya pada Mas Aldo. Itu saja,” pinta Izmi memelas. Sebenarnya aku tidak peduli.

Hubunganku dengan Izmi bisa dibilang seperti sahabat. Dia kerap curhat tentang kisah remajanya padaku. Dan aku selalu senang menanggapinya. Kedekatan itu pun semakin akrab tatkala kami mancing bersama ke Bogor, merayakan kepulangan Ibu Bombom dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Namun sekarang situasinya berbeda. Aku sudah tak percaya Bombom lagi. Bilapun dia berucap ini itu, berjanji untuk mengajakku pergi ke luar kota, aku menganggapnya tipuan halus agar aku memercayainya.

Tiga puluh jam lebih diam-diaman, aku mengalah berbaikan. Walau sebenarnya aku masih kesal pada penghianatan Bombom. Hubungan kami normal seperti sediakala. Namun Bombom kembali berulah setelah aku luluh dengan semua rayuannya.

“Ayangku, Jesie, aku tidak bisa ke rumahmu siang ini. Motorku mendadak ngambek. Bila dipaksakan, bisa fatal. Aku butuh uang untuk memperbaikinya,” jelasnya di ujung telepon.

“Berapa?” tanyaku langsung tembak.

Bombom menyebutkan nominal. Aku langsung mentransferkannya via e-banking. Tak apalah merogoh sedikit uang demi bisa bertemu sang pujaan hati. Mungkin untuk memusnahkan rindu mesti harus berkorban, baik hati maupun materi. Namun setelah dikasih hati ayam, dia malah minta jantung pisang. Perangai buruk Bombom semakin menjadi-jadi. Perihal alasannya resign dari pekerjaannya, dia terus memoroti uang hasil tabunganku selama bertahun-tahun. Dan aku selalu saja tak tega membiarkannya nelangsa.

Hingga pada suatu titik, cincin hasil jerih payahku selama ini disitanya lantaran dia terlalu lama menjadi pengangguran. Kata Bombom, “Uangku adalah uangmu, dan uangmu adalah uangku.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya akibat rasa trauma kandasnya hubungan dia dengan Indah dulu. Maka ia tak mau hal serupa terjadi lagi ketika menjalin hubungan serius denganku. Lantas apa hubungannya denganku?

Entah terhipnotis atau apa, aku pun memberikan cincin itu pada Bombom. Tiga bulan kemudian, hubungan kami seperti benang kusut. Perlahan aku mulai sadar kalau uang tabunganku habis tak bersisa gara-gara Bombom. Cincinku yang dulu disitanya tidak kembali. Aku semakin curiga kalau benda bulat berwarna emas yang kubeli dari hasil keringatku, diberikannya pada wanita lain. Entah itu Indah ataupun Dian. Brengsek. Umpatku kesal dalam hati. Semua janji manis yang ia ucapkan, tak satu pun ditepati. Seperti saat dia berjanji mengajakku ke bulan. Bukan ke bulan, melainkan berkeliling dunia menggunakan sepeda ontel.

Hingga aku pun harus melontarkan kata putus untuk ke sekian kalinya saat Bombom berpura-pura tidak dapat menemaniku di malam pergantian tahun 2013 dengan alasan pembagian warisan keluarga. Bohong. Aku tahu Bombom mengarang cerita palsu.

Beberapa detik setelah pergantian tahun, hujan deras mengguyur atap dan beranda rumah. Rumput dan pohon jarak bergoyang tertiup angin. Pagi pertama di tahun 2013, kulalui dengan suasana duka yang menyelimuti kekalutan hatiku. Aku menatap debit air yang semakin deras.

Bombom, kenapa kau belum mengabariku? Desisku dalam hati. Sampai malam kembali tiba, aku gelisah menanti kabar dari Bombom tercinta. Ia tak juga menghubungiku. Aku gengsi menghubunginya lebih dulu, dan lebih memilih meringkuk di kamar, berharap ia mau berbicara denganku besok pagi.

Sedetik, dua detik, berganti menit, jam, dan hari, ia tak pernah merespon telepon dan SMS dariku. Rasanya jemariku tak tahan untuk mengetikkan nomor ponselnya, mencoba menguhubunginya untuk ke sekian kalinya. Dering pertama, tak ada jawaban. Dering kedua membisu, tidak ada jawaban juga. Dering ketiga, suara laki-laki yang kukenal menjawab malas. “Halo.”

“Bombom... aku minta maaf. Tempo hari aku kesal padamu.”

“Jesie, ini sudah berapa kali kamu mengucapkan kata ‘putus’? Baiklah, kita SELESAI!” telepon terputus.

Aku menggigit bibir. Kaget bagai tersambar petir. Tanpa sadar, air mataku jatuh berderai mencari anak sungai.

“Bombom, kenapa kau setega itu? Aku tidak serius mengatakannya.” Aku berbicara dengan tembok. Niat menenangkan hati mendengarkan radio, yang ada hatiku semakin berkabut. Lagu ‘Kesedihanku’ milik Sammy Simorangkir, mengiringi air mataku yang terus berjatuhan laksana hujan. Menurutku, lagu itu merupakan lagu paling spektakuler yang pernah ada dalam kisah kandasnya sebuah cerita cinta.

Meskipun aku sering patah hati oleh cinta-cinta yang lain, harus kuakui, aku sangat terpukul kehilangan Bombom. Eh, tapi kenapa lirik lagunya ada kata ‘indah’? Padahal yang kini tersisa hanyalah kenangan terindah dan kesedihanku tentang dia.

Aku sering melamun bila berangkat dan pulang kerja. Di mobil, di toilet, di kamar, di mal, saat menyebrang jalan, menghentikan bus, dan sampai nyasar ke tempat antah barantah lantaran tidak fokus pada nomor jurusanKopaja yang kutumpangi.

Kok banyak pesawat terbang ya? Kok banyak lapangan bola sih? tanyaku dalam hati. Pantas saja, rupanya aku melewati jalan belakang bandara.

“Pak, saya tersesat lupa jalan pulang. Tolong antarkan saya ke Terminal Kali Deres ya,” aku menepuk seorang tukang ojek yang sedang mangkal. Entahlah, saat itu aku tidak sadar kalau ternyata lapangan bola yang super luas dan di atasnya terdapat banyak beterbangan pesawat merupakan sebuah bandara. Aku sungguh merasa asing berada di tempat itu. Kopaja yang terakhir kunaiki rupanya berhenti di persinggahan pamungkas di daerah Rawa Bokor.

“Memangnya si Neng mau pulang ke mana? Lumayan jauh loh ke Terminal Kali Deres”

“Ke rumah lah, masa ke gua,” jawabku sekenanya dan langsung naik di jok belakang motor.

“Pundaknya berat tidak, Neng?”

“Beberapa hari terakhir, saya memang sedang kurang enak badan, Pak,”

“Si Neng ketempelan, makanya pundaknya berat. Biar saya antar ke orang pintar ya, Neng,” kata si bapak tukang ojek.

Apa? Aku ketempelan? Ketempelan makhluk halus? Siluman? Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Ternyata problema putus cinta bisa mengakibatkan manusia bergaul dengan bangsa jin. Canggih sekali.

Biar kujelaskan padamu, bahwa pada saat hatiku runtuh ke jurang terdalam, pada saat air mataku bercucuran bak hujan yang terus mengguyur jalanan, hati ini semakin pedih tatkala aku menghampiri Bombom ke rumahnya dalam keadaan sakit. Dengan napas yang kurasa tinggal satu tabung lagi, dan dada sesak yang tak bisa kujelaskan, aku melihat ia turun dari mobil dan memasuki garasi bersama ayahnya entah dari mana. Anehnya, ketika aku bertanya apakah ada Bombom di dalam, keluarganya mendadak dingin dan bilang tidak ada.

“Baru saja keluar,” kata ibunya dengan nada ketus. Kebohongan apa lagi ini? Jauh-jauh aku datang untuk menyelesaikan perkara, tapi yang kudapat hanya kesakitan hati yang semakin parah. Di bawah mendungnya langit, aku mencari tukang ojek dan menunggu bus jurusan Jakarta. Mungkin hanya tukang ojek yang setia mengantarkanku ke mana pun aku butuh.

Ketika telah mendapatkan bus, aku memilih duduk di barisan samping jendela. Hujan pun mulai turun. Menggenangkan seluruh kenangan tentang Bombom. Tentang manis pahitnya perjalanan kami selama dua belas bulan. Dan di sepanjang perjalanan pulang, aku mengenang banyak hal yang tak akan pernah terulang. Ingin menjerit, namun pita suara hanya sampai di tenggorokan.

Di luar hujan semakin menderas. Membawaku pergi dari semua luka menyedihkan ini. Hingga akhirnya air mataku tak kuasa lagi meluber di jalanan ibukota yang selama seminggu terakhir membuat dadaku membuncah sesak. Kala itu Jakarta mengalami banjir besar-besaran yang melumpuhkan seluruh akses jalan dan aktivitas. Barangkali langit turut menangisi kepedihan hatiku. Barangkali langit berusaha menumpahkan seluruh isinya untuk mengucapkan belasungkawa.

Enam bulan kemudian, aku berhasil mengeringkan air mataku, membalut hatiku dengan perban, mengeringkan lukanya hingga normal. Susah payah aku melakukan semuanya. Dan dia datang menyapaku. Seolah merasa tidak ada apa-apa antara kami berdua. Hey, kau kira aku masih mencintaimu? Setelah apa yang kau perbuat selama ini padaku? Enak saja memintaku kembali dan berceloteh tentang cinta. Memangnya aku punya banyak hati untuk menerima semua rasa sakitku selama ini? Mungkin aku terlalu bodoh untuk mencintai. Tetapi aku tidak rela jika harus tertipu lagi. Aku tidak cantik, tidak juga pintar. Tapi aku tidak bodoh untuk terus dipermainkan.

Tepat 35 bulan atau hampir tiga tahun pasca putusnya hubunganku dengan Bombom, aku merogoh isi dompetku yang pernah terselipkan fotonya di sana. Di selembaran foto berukuran dompet itu, ia yang mengenakan kaus polos berwarna hijau, celana kolor di bawah lutut, sandal jepit, sedang tersenyum menyusuri pohon bambu. Aku merobeknya hingga menjadi sepuluh bagian, lalu kuremas dan kuhamburkan ke halaman. Aku berhak merayakan hari kebebasanku tanpa diiming-imingi masa lalu yang suram dan penuh penyesalan.

Cinta memang butuh pengorbanan, tapi tak selamanya membuatmu miskin secara materi. Cinta memang perlu memaafkan, namun tak selayaknya kau berikan hati dan ragamu secara cuma-cuma pada orang yang salah sasaran. Kini semuanya sudah terungkap, bahwa kekasihku yang paling kucintai dulu, tidak lain dan tidak bukan adalah psikopat. Sungguh, aku tak bermaksud menjelek-jelekannya. Memang seperti itulah kenyataannya. Aku percaya, masih banyak ikan yang lebih berkualitas di laut (itupun kalau lautnya tidak surut). Nah, apakah laki-laki seperti itu pantas dicintai? Kurasa kalian bisa menjawabnya sendiri.