Kamis, 19 November 2020

Urutan Kematian #DiaryNalla

 KADO TERAKHIR


Jakarta, 29 Agustus 2020.

 

Bulan ini adalah bulan kelahiranku. Aku sangat bahagia karena banyak keajaiban menyapaku. Salah satunya karena lusa aku bisa kembali bekerja di perusahaan baru. Setelah empat bulan lamanya menjadi pengangguran.

Di masa pandemi seperti ini, banyak perusahaan yang pincang, bahkan gulung tikar. Ribuan pekerja di PHK secara sepihak lantaran perusahaan tidak dapat membayar gaji bulanan.

"Kapan Ibu bisa join di tempat kami?", Tanya seorang bagian personalia kepadaku via telepon.

"Senin ya, Bu, tanggal 31 Agustus 2020. Mengingat kedua orangtua saya mau mudik akhir pekan ini." Jawabku tanpa ragu.

Sebenarnya, bisa saja aku bergabung secepatnya di perusahaan baru. Namun, ibu dan bapak ada rencana pulang kampung minggu ini ke Brebes. Ada urusan keluaga, katanya. Nanti siapa yang akan menjaga anakku di rumah kalau aku kerja?

Tetapi, kenyataannya lain. Bapak tiba-tiba sakit. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Bapak semakin hari semakin terpuruk.

Aku ingat betul, bapak memintaku membelikan obat-obatan dan vitamin di apotek, serta buah pir kesukaannya. Bapak juga minta dibelikan susu beruang di minimarket. Aku sendiri yang membukakan kaleng susunya.

Bapak bilang, bapak cuma masuk angin, nanti juga sembuh. Kemudian demamnya naik turun hingga 40 derajat Celcius. Aku sudah menduga kalau bapak terpapar virus yang sedang heboh itu. Apalagi kalau bukan covid 19.

Pada waktu bapak sakit, aku pun sakit. Perutku mual seperti asam lambung kumat. Aku memang punya histori penyakit asam lambung. Selain asam lambung, aku juga merasakan seperti mau flu. Dan aku sangat takut untuk minum obat. Pasalnya, aku takut kalau ternyata aku sakit lantaran sedang hamil muda.

Tak ingin ambil resiko, aku meminta suami mengantarku ke apotek untuk membeli tes kehamilan. Hasilnya garis satu. Lalu, aku pun meminum paracetamol dan obat lambung.

Di hari Sabtu pagi tanggal 29 Agustus 2020, ibu ke rumahku dan bercerita kalau semalam napas bapak tidak beraturan. Beliau juga tidak dapat bangun karena lemas. Mau angkat galon saja tidak kuat. Sehingga ibu meminta suamiku untuk membantu memasangkan galon.

Pukul 09:30, ibu terpaksa mengambil keputusan membawa bapak ke rumah sakit. Padahal ibu tidak ingin bapak ke rumah sakit. Karena takut nanti dibilang covid. Takut diasingkan tetangga, dan lain sebagainya.

Akhirnya suamiku mengantarkan bapak ke rumah sakit, bersama ibu, adik, dan satu tetangga samping rumah ibu. Suamiku kemudian pulang ke rumah, tidak ikut berjaga di rumah sakit, berhubung siang ini dia ada jadwal masuk shift kerja siang. Lagipula, ada ibu dan adikku di sana.

Jam 15:00, adikku Lestari mengabariku, bahwa bapak ternyata benar-benar positif covid. Hasil rapid tes bapak menunjukkan ‘REAKTIF’. Adikku menangis di telepon. Aku pasrah. Ya Tuhan, akhirnya yang kami takutkan benar terjadi. Dokter meminta persetujuan keluarga untuk memasukkan bapak ke ruang isolasi. Kami tidak bisa menolak. Berharap bapak masih bisa sembuh.

Setelah masuk ruang isolasi, hidung bapak dipasang alat seperti plastik yang tersambung dengan selang. Bapak masih bisa cengengesan. Telepon ke sana ke mari dengan menunjukkan foto dan video bahwa dia sedang di rumah sakit. Bapak juga masih bisa membalas pesan WA-ku. Bapak bilang pada bibiku, semestinya hari ini dia pulang ke kampung, memberi kejutan istimewa.

Ba'da Maghrib, aku mencoba menghubungi bapak via panggilan video. Tidak diangkat. Lalu, aku menghubungi adikku Lestari. Rupanya dia sudah di rumah untuk mengambil baju ganti dan obat pribadi milik bapak, seperti obat darah tinggi, kolestrol, asam urat, dan obat lambung. Juga mengantarkan ibu pulang ke rumah. Bapak memang memiliki banyak sekali penyakit bawaan, terutama jantung.

Tak lama, Lestari meneleponku. Ternyata dia sudah kembali ke rumah sakit dan ikut masuk ruang isolasi, menemani bapak. Dia tersedu sedan memberitahuku kalau bapak kritis. Aku melihat sendiri bagaimana dua petugas berpakaian APD memacu jantung bapak menggunakan alat medis seperti yang sering aku lihat di televisi. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. 

Aku segera menghubungi suamiku via telepon. Tetapi, teleponnya tidak diangkat. Akhirnya aku menghubungi telepon kantornya, dan titip pesan ke temannya bahwa bapak sedang berjuang menghadapi ajal. Suamiku langsung beranjak pulang dan menyusul adikku di rumah sakit. Di sana sudah ada Om Mul (adik kandungnya ibu). Sementara Chintia baru saja tiba di rumah, semenit sebelum dikabarkan bapak sudah tiada.

Aku runtuh malam itu. Bersandarkan dinding dapur, tak mampu menangis dan berucap apa pun. Rasanya sungguh tak percaya. Bapak sudah terbiasa masuk rumah sakit. Biasanya bapak akan pulang ke rumah dan sembuh lagi. Bapak juga tidak sakit parah. Sakitnya baru semingguan.

Kenapa kesannya seperti bapak ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan nyawa? Tidak ada firasat bapak akan pergi untuk selama-lamanya. Bapak semestinya hari ini pulang ke kampung, tetapi ia harus pulang ke pangkuan Ilahi. Innalillahi wa Innailaihi Raji'un... 😭

***

Malam itu, beberapa menit setelah adikku, Lestari, memberitahu perihal kematian bapak, ada yang mengetuk rumahku. Ia adalah tetangga sekaligus kerabat dekat bapak yang sehari-hari bersama bapak sewaktu sehat.

"Sudah tahu belum? Bapak udah gak ada."

"Sudah," kataku singkat.

"Terus ibu mau dikasih tahu tidak? Takutnya shock."

"Lebih baik jangan dulu. Nanti saja agak malam sedikit baru dikasih tahu."

"Baiklah. Tapi, tetangga sudah pada tahu." Katanya.

Jadi, tetangga sudah pada tahu? Secepat itu berita beredar. Aku saja masih terduduk dengan lutut lemas. Belum juga ada lima menit, kabar duka sudah sangat cepat merembet ke publik. Media sosial sekarang memang luar biasa! 

Saat itu, para tetangga belum tahu penyebab kematian bapak. Kami masih menyembunyikannya. Bahkan, pak RT sendiri yang menyuruh kami merahasiakannya. Akan tetapi, keponakan bapak malah mengatakan yang sebenarnya. Tetangga yang sudah terlanjur menjenguk ibu, semuanya bubar. Ibu menangis sepanjang malam.

Kalian tahu kan, kalau ada pasien yang meninggal covid, jenazahnya tidak boleh dipulangkan. Jenazah bapak diinapkan di rumah sakit, ditunggui oleh Lestari dan suamiku. Sedangkan omku menemani ibu dan adikku Chintia di rumah.

Aku sendiri tidak dapat menghibur ibu. Rumah kami memang berdekatan, tetapi anakku sudah lelap dari sore. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah ibu, karena di sana pasti banyak virus bekas bapak. Ya Tuhan, semengerikan ini meninggal pada saat musim covid. Untuk memberikan semangat saja kami semua ketakutan. Bagaimana kabar ibu? Aku harap ibu baik-baik saja. Aku sungguh serba salah. Apakah aku harus menemui ibu dan memeluknya? Apakah aku tetap diam di rumah mengutamakan anakku yang masih kecil dan rentan terhadap virus berbahaya? Sungguh, malam itu aku terisak karena tak mampu memilih. Situasi ini sangat sulit.

Pagi-pagi buta, ibu dan adikku Chintia, langsung ke rumah sakit bersama Om Mul. Sementara aku, menemani anakku yang masih 2,5 tahun di rumah. Suamiku tidak mengizinkan aku ikut mengantarkan bapak ke pemakaman. Ngeri terkena virus.

Jenazah bapak katanya akan dimakamkan pukul 7:00 pagi. Tetapi, sampai jam 10:00, ambulans tidak jua datang. Tidak ada petugas yang menyolati bapak. Sehingga om dan suamiku berinisiatif menyolati bapak dengan teks dari ponsel karena tak hafal bacaannya. Miris sekali aku mendengar hal itu. Hanya sahabat dan handai taulan yang mau sukarela memberikan solat gaib dan doa dari jarak jauh. Aku sangat berterima kasih.

Hingga pukul 12:00, ambulans yang mengambil jenazah bapak baru tiba. Katanya, hari ini angka kematian di Jakarta cukup banyak. Bapak dapat antrian ke-20 dari 35 jenazah yang dikuburkan hari ini.

Hari itu, menjadi hari terakhir permintaan bapak semasa hidupnya, yakni minta dimakamkan setelah solat Dzuhur. Aku menyaksikan langsung lewat video call bagaimana proses pemakaman dengan protokol covid. Ada beberapa petugas berseragam putih serba rapat membantu memasukan peti ke dalam liang lahat, lalu menguburkannya menggunakan tali panjang karena tidak boleh tersentuh tangan.

Dan hari itu juga, merupakan kado ulang tahunku yang paling menyesakkan dada. Tak ada ucapan, yang ada tangisan air mata melepas kepergian.

      Bapak, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Tuhan mengampuni segala dosamu. Maafkan aku yang tidak bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.

Selamat jalan bapak, sekarang engkau sudah tidak minum obat setiap hari lagi efek penyakit komplikasimu.

 

 

Dariku, anak pertamamu.

 

*** Bersambung ***

Jumat, 18 September 2020

Positif Covid? Apa Ciri-cirinya??? #Artikel


Banyak yang bertanya, ciri-ciri kena Covid 19 tuh kayak gimana sih?  

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, ini yang gue rasakan:

Awal-awal badan gue lemes. Cepet capek. Dan hampir mirip kayak flu pada umumnya.

Dibilang radang tenggorokan nggak. Demam tinggi juga nggak. Malah gak demam sama sekali loh.

Sesek napas? Nggak juga. Pernah ngerasain dada agak engap, tapi cuma sebentar. Habis diolesin minyak kayu putih dan minum air hangat, alhamdulillah membaik lagi.

Gejala yang gue rasain adalah hilang dan muncul. Pada saat hilang, gue merasakan sudah sehat. Beberapa jam kemudian, gue merasakan pusing lagi, hidung mampet lagi, dan gejala flu lagi.

Anehnya, gue flu tapi gak ada ingusnya. Kalau hidungnya dibersihin pakai jari, ada sedikit upil. Cuma sedikit.

Ada ciri-ciri yang paling mencolok di antara sakit biasa dan terinfeksi covid 19, yakni indra penciuman yang tiba-tiba tumpul. Orang berpikir mungkin karena lagi pilek, atau sinusnya kumat, jadi menganggap wajar. Padahal, saat pilek biasa, kita gak terganggu sama sekali untuk mencium bau menyengat.

Sumpah, bau pup anak gue aja gak kecium. Biasanya gue tutup hidung tiap kali buka diapernya.

Jadi, menurut gue, pemeriksaan cek suhu di mal-mal/ KRL/ atau gedung perkantoran, itu gak bantu banyak buat mendeteksi pasien covid atau bukan. Karena saat ini banyak kasus OTG (orang tanpa gejala) berkeliaran di sekitar kita.

OTG ini biasanya merasa dirinya sehat karena rajin minum vitamin, melakukan protokol kesehatan sesuai WHO, tapi faktanya dia terpapar virus entah dari mana. Karena saat ini penularan virus Covid19 bukan hanya lewat kontak fisik, tapi bisa juga dari udara yang kita hirup, air, makanan, uang, dan benda-benda lainnya.

Secara gak sadar, kita beli makanan dari seseorang, yang kita gak tahu orang tersebut beneran sehat atau nggak. Bisa jadi saat dia masak, si penjual lagi batuk-batuk atau bersin. Bukan suudzon, tapi lebih baik mending masak sendiri aja deh. Karena kebanyakan pedagang abai protokol kesehatan.

Contoh kasus yang sering banget gue lihat di lapangan saat membeli makanan  jadi seperti pecel lele, bakso, mie ayam, gado2, bubur ayam, gorengan, dll, para pedagangnya gak ada yang pake masker, sementara yang belinya pakai masker semua.

Para pedagang seenaknya ambil makanan pakai tangan bekas pegang uang, terus mereka ambil uang dari pembeli dan kasih uang kembalian, kemudian pegang makanan lagi. Ya Allah, gemessss banget gue lihatnya. Pengen komplain tapi malas ribut. Karena secara tidak langsung, para pedagang punya andil besar dalam menularkan penyakit pada pembeli.

Seharusnya para pedagang paham akan bahaya pada uang yang mereka pegang. Karena uang barang umum yang bisa dipegang oleh siapa saja. Semestinya para pedangang mengambil makanan pakai sarung tangan khusus, serta sedia hand sanitizer, jadi si pembeli merasa aman.

Tidak hanya uang loh ya, virus juga bisa berasal dari makanan mentah seperti lalapan, buah, dan sebagainya. Maka dari itu, mencuci bersih sayuran menggunakan garam atau cairan antiseptik sebelum dimasak juga penting. Buah-buahan juga harus dicuci terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Kalau yang ada kulitnya, sebaiknya dikupas. Nah, untuk lalapan sebaiknya direbus dulu. Hal ini untuk meminimalis resiko penyebaran virus berbahaya ke dalam tubuh kita.

Percaya gak sih kalau virus beterbangan di udara dalam waktu lama. Dan itu artinya, udara bersih saat ini hanyalah impian semata. Banyak OTG yang bersin/ batuk/ tertawa, tidak pakai masker, lantas si virus melayang-layang di udara dan masuk ke dalam pernapasan orang lain. 

Virus bisa juga tercemar lewat air. Para OTG/ pasien dalam masa isolasi mandiri, pasti membersihkan badan di toilet. Airnya ngalir, bahkan meresap ke tanah. Kemudian masuk ke dalam keran yang kita gunakan untuk mandi dan cuci ini itu. Bisa juga kita konsumsi air tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Hati-hati loh, karena secara gak sadar, kita dalam zona bahaya. Dan mata kita bodoh banget untuk bisa lihat virus secara kasat mata. 

Seandainya virus berwarna kuning, atau berbetuk mirip semut, setidaknya kita bisa menghindari.

Pertanyaannya, siapa yang mau sakit? Sebersih dan serajin kita minum vitamin, kalau sudah wayahnya sakit ya sakit juga toh?

Kasusnya sama kayak kita udah hati-hati banget mengendarai mobil/ motor, kalau sudah waktunya celaka ya pasti celaka. Misal remnya mendadak blong, padahal sudah diservis. 

Karena takdir sehat dan sakit Allah yang menentukan. Siap gak siap ya harus siap.

Jadi, kesimpulan tentang ciri-ciri Lo terpapar covid 19, di antaranya sebagai berikut: 

1. Indra penciuman yang hilang. Hidung seperti sinus, terasa kebas dan tidak sensitif terhadap bau-bauan. Alias gak bisa nyium bau apa pun.

2. Tidak enak badan dalam durasi lebih dari seminggu. Walau pun sudah minum obat dan vitamin, sakitnya sering hilang muncul.

3. Pilek tapi gak ingusan. 

Kalau flu biasa, pasti bersin-bersin dong. Ini bersin jarang banget. Gue malah gak bersin-bersin.

Biasanya gue pilek sembuh dalam waktu 3 hari. Ditidurin juga udah enakan. Nah, kalau covid, gejalanya bisa berminggu-minggu. Gue 1 bulan.

4. Merasa dadanya tiba-tiba engap.

Kasus ini biasanya saat gue kecapean kerja. Atau abis nangis, sedih, banyak pikiran, dan stres. Alangkah baiknya jangan terlalu sendu, karena ngaruh banget ke imun kita.

5. Tenggorokan gatal, suara agak serak,  dan batuk tak berdahak.

Tenggorokan rasanya gatal dan batuk kecil. Pada sebagian kasus orang lain, batuk bisa juga parah. Kalau bicara, tenggorokan seperti kering. Suara agak serak.

6. Terpapar covid gak selamanya demam tinggi. Bisa juga tidak demam sama sekali. Atau bisa juga demam ringan cuma 37' Celcius.

7. Tenggorokan tidak nyaman. 

Rasanya ingin meludah terus. Terdapat lendir yang mengganjal dan harus dikeluarkan. Adanya lendir karena paru-paru memberi sinyal bahwa ada bahaya mengancam. Warna lendir putih, atau hijau dan kuning tergantung tingkat berat ringannya. Kalau putih masih ringan. Nah untuk hijau itu paling berat.

8. Lemas dan napas terasa berat (bukan sesak).

Kalau lemas, mau aktivitas apa pun seperti sulit. Jalan sempoyongan, tensi tiba-tiba menjadi sangat rendah. Bisa 90/60.

9. Pusing

Pusingnya sampai berhari-hari. Kalau diminumin obat, enakan. Tapi, pusingnya gak hilang 100%. Nanti kumat lagi.

10. Badan greges dan keringat dingin.

Kadang kala, badan rasanya campur aduk.

11. Hampir mirip masuk angin.


Berdasarkan pengalaman almarhum bokap, ini yang dia rasakan.

1. Gejalanya mirip masuk angin. Sudah dikerokin tapi kok gak sembuh-sembuh.

2. Demam tinggi sampai 40' C. Di waktu tertentu, bapak merasa enakan lagi badannya dan demamnya turun setelah minum Paracetamol. Sampai berpikir itu typhus. Lalu makan cacing tanah segala, tapi gak sembuh juga.

3. Batuk.

4. Menggigil

5. Napas pendek-pendek tak beraturan saat tidur.

6. Lemas. Sampai bangun saja tidak kuat. Jalan pun sempoyongan.


Gejala Covid 19 ini bisa berat, sedang, ringan, bahkan tanpa gejala sama sekali. Kenali ciri-cirinya, dan segera lakukan tes usap jika merasa perlu.

Demikian ciri-ciri positif covid 19. Ada baiknya untuk lebih pasti, ikut tes usap/ Swab.

Pakai selalu masker, sedia sanitizer, dan jaga jarak, agar sakit kita tidak menular pada anggota keluarga yang lain. 

Safety first, karena SEHAT ITU MAHAL.

Kita berhak kok memilih takdir sehat atau sakit. Walau takdir sehat dan sakit sudah ada yang mengatur, tetapi menjaga kesehatan dan kebersihan adalah salah satu cara ikhtiar kita untuk memilih takdir baik Allah.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Ta'ala. Percayalah, sehat dan sakit datangnya dari Allah. Teruslah berjuang melawan sakitmu, gak usah panik apalagi stres. Karena kalau kita stres, imun tubuh akan menurun, yang dapat menyebabkan kita semakin drop.

Jika kalian positif covid, saran gue, dekatkan diri pada sang Maha SegalaNya, banyak berdoa, beribadah, dan berbahagialah. Karena jika kita bahagia, imun tubuh akan naik. Dan sakit kita akan segera pulih.

Silakan share jika bermanfaat.


Salam,

Nalla Dewi




Kamis, 04 Agustus 2016

Ayahku Bukan Pembunuh #SebuahKisahNyata #Cerpen

Saat itu aku masih berusia lima tahun. Aku masih ingat ayah bersemangat membawa kami ke Pantai Skip. Pantai yang berjarak delapan kilometer dari rumahku. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan seharian waktuku bersamanya, bersama ibu, juga adikku – Ajeng. Sayangnya, kebahagiaan itu teramat singkat.

Ketika aku dan Ajeng sedang asyik bermain pasir bersama ayah, aku mendengar ibu berteriak meminta tolong. Suaranya agak samar karena bercampur desau angin muson barat dan deburan ombak yang membuat nyaliku menciut.

Aku melihat dengan mataku sendiri ibu tergulung ombak setinggi empat meter lebih. Tangannya terjulur ke udara, seluruh tubuhnya terendam air, menyisakan uraian rambut panjangnya di tengah riakan busa. Ayah pontang-panting berusaha menyelamatkan ibu, dibantu beberapa lelaki dewasa yang bahu-membahu menolong ayah. Sia-sia, ayah justru ikut terseret amukan ombak yang tak henti-hentinya datang ke daratan.

Ternyata bukan hanya ibu dan ayah yang menjadi korban, tetapi ada dua remaja tanggung, sepasang muda-mudi, dua orang dewasa, dan dua lansia. Saat itu aku ketakutan bukan kepalang. Ajeng sampai menjerit-jerit memanggil nama ayah dan ibu sambil tersedu-sedan. Untung saja Paman Muklis dan Bibi Dian cepat datang ke lokasi, maka aku dan Ajeng tidak merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya lagi. Mereka berdua memeluk kami, berkata ibu dan ayah akan baik-baik saja.

Bibi Dian dan Paman Muklis bohong. Ibu dan ayah tidak baik-baik saja. Tubuh mereka membiru dan pucat. Terutama ibu yang lebih lama terendam di air laut. Keduanya dibawa ambulans, bersamaan dengan korban lainnya yang ditemukan beberapa jam kemudian. Aku dan Ajeng sempat menemani di mobil hingga rumah sakit. Sayangnya nyawa ibu tidak dapat tertolong lagi.

“Ibu bangun… Jangan tidur terus. Bangun, Bu,” kataku sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Ayah, kenapa ibu mendadak tuli? Ibu pura-pura tidur terus dari tadi,” aku meminta pembelaan pada Ayah. Namun ayah menjawabnya dengan senyum hambar. Senyum yang bisa kuartikan sebagai kegetiran paling menyesakkan. Waktu itu aku belum mengerti kata kematian.

Bulir air mata ayah menetes menjatuhi pipi saat pemakaman ibu. Di sana juga ada nenek, Paman Muklis, dan Bibi Dian. Semuanya menangis. Ada apa?

“Kenapa ibu dimasukkan ke dalam tanah, Yah? Nanti ibu susah bernapas? Ambil lagi ibunya, Yah, nanti ibu kegelapan” kata Ajeng sambil mengguncang-guncangkan lengan ayah. Ayah tidak menjawab, matanya merah berair.

Berselang detik, nenek menampar ayah, mengatakan bahwa ayah pembunuh. Bibi Dian beringsut memelukku dan Ajeng. Aku ingat sekali momen menyedihkan itu. Saat isak tangis tak mampu membawa ibu kembali, saat itu ayahku dibawa paksa manusia bertubuh besar yang memborgol tangannya di belakang pinggang. Ayah mau dikemanakan?

***

Sebelas tahun berlalu, aku belum jua bertemu dengan ayah semenjak pemakaman ibu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas satu SMA, menjadi remaja cantik yang dibesarkan tanpa ayah dan bunda, tanpa kasih sayang mereka. Kenapa ayah jahat padaku dan Ajeng? Kenapa dia tidak berniat sama sekali menjengukku? Kasihan nenek. Beliau terlihat letih mengurus kami berdua sedari kecil hingga sekarang ini. Wajahnya yang dulu segar kini keriput. Rupanya nenek sudah tua.

Ayah dimana? Cacha benci ayah, tapi Cacha juga rindu. Ajeng sering bertanya padaku kenapa Ayah tidak pernah berkunjung? Sebenarnya salah kami apa? Apakah perkataan nenek benar, bahwa ayah tidak sayang lagi kepada kami berdua? Ayah jahat! Apakah benar Ayah yang membunuh ibu? Sehingga Ayah malu kepada kami sekadar untuk bertemu denganku?

Tidak terasa air mataku berlinang dengan derasnya. Setiap pembagian raport di sekolah, teman-temanku mengolok-olok kalau aku adalah anak haram yang ditinggalkan ayahnya. Para tetangga kanan dan kiri mencemooh kalau aku hanyalah anak buangan yang tidak diinginkan ayah.

Entahlah. Semua cacian dan hinaan yang masuk ke telingaku membuatku pusing. Dan akhirnya semuanya menjadi jelas ketika aku bertemu dengan Paman Muklis di Bandara Soekarno Hatta Sabtu siang ini.

“Paman mencarimu kemana-mana, Nak. Pulanglah ke Mataram. Tengok ayahmu yang semakin kurus di dalam kerangkeng besi. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Setiap malam ia menangis menyebut nama kalian, Cacha dan Ajeng. Ayahmu tidak bersalah, ia bukanlah pembunuh. Ia hanya dituduh telah membunuh ibumu. Padahal kau tahu sendiri, bukan? Ibumu meninggal karena tenggelam terbawa ombak.” Dahi Paman Muklis mengerut sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dia kehilangan ibumu, juga kalian. Dia kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarga dalam waktu bersamaan. Ayahmu tidak bersalah. Percayalah. Tapi mau bagaimana lagi, tuduhan kuat pasal 340 KUHP tentang motif pembunuhan berencana, menguatkan hakim untuk mengurungnya dua puluh tahun penjara. Sembilan tahun lagi dia baru bisa merasakan udara bebas.” Paman Muklis menarik napas. Tampak resah.

Aku masih terduduk mematung di lobi pemberangkatan. Pundakku terasa berat, dadaku mendadak sesak.

“Cacha…” Paman Muklis menatapku. Aku menundukkan wajah, memperhatikan kedua tanganku yang tiba-tiba lemas. “Pulanglah sebentar saja. Paman sudah membelikan tiket untukmu sekali jalan. Hanya kamu yang bisa menghapus tuduhan itu dan membebaskan ayahmu. Ayahmu amat rindu pada kalian berdua. Terusterang, Paman kesulitan mendapatkan kontakmu. Tapi Paman tidak menyerah, Paman terus mencari informasi terkait keberadaan kalian demi ayahmu, sahabat terbaik yang Paman punya.”

Mataku seketika berkaca-kaca dan sembab. Benarkah Ayah merindukan kami? Apakah yang dia alami selama sebelas tahun di dalam penjara tanpa kehadiranku? Mendadak air mata yang menggenang di mataku menetes tak tertahankan. Aku terisak.

“Maukah kamu menjenguk ayahmu yang sedang sekarat, Nak?” Paman Muklis merendahkan nada suaranya.

Suara keramaian di bandara seakan samar saat kalimat itu menancap ke telinga dan jantungku. Aku menoleh ke wajah penuh harap Paman Muklis dengan pipi yang basah. Kata Paman Muklis, nenek benci sekali pada ayah. Sehingga aku harus sembunyi-sembunyi bertemu dengannya di bandara ini usai sekolah.

Demi mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini kuanggap salah, aku menurut. Bahwa ayahku seorang pembunuh berencana yang tidak sesuai logika.

“Baiklah, Paman, Cacha mau pulang. Tapi sekolah Cacha bagaimana? Ajeng bagaimana? Apakah Cacha jemput Ajeng dulu di rumah? Dia pasti cemas mencariku. Begitupun nenek,” kataku.

“Tidak perlu, Nak. Kita hanya sebentar. Setelah vonis tuduhan ayahmu tercabut, kau boleh kembali ke Jakarta, meneruskan cita-cita kalian. Lalu kalian boleh pulang lagi menjenguk ayahmu yang sudah tua itu.”

Aku mengangguk lagi, menyeka air mataku dan mengusap ingus. Dengan tas ransel berisi buku-buku pelajaran dan kartu pelajar, aku memantapkan langkahku menuju tempat check-in, kemudian melewati pemeriksaan dan naik ke pesawat dengan tujuan Bandara Praya.

***

Tembok beton yang berdiri di hadapanku terlihat pengkuh dan angkuh. Seperti tidak mengenal belas kasihan bagi yang menghuninya macam ayah yang jelas tidak bersalah. Selama di pesawat tadi, aku lebih banyak diam, sementara Paman Muklis banyak menjelaskan apa yang selama ini tidak kuketahui.

Kata Paman Muklis, neneklah yang telah menjebloskan ayah ke penjara atas kekuasan Om Fahrul, adik kandung ibu yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Entah kenapa aku lebih percaya pada cerita Paman Muklis ketimbang nenek. Ayahku bukanlah pembunuh seperti yang kalian bayangkan.

Panjangnya lorong penjara yang sunyi dan gelap, membuat bulu kudukku merinding. Ini seperti neraka kehidupan yang sejujurnya aku sendiri belum melihat seperti apa bentuknya. Saat meliuk lagi ke kiri, kulihat dua penjaga berseragam coklat tengah berdiri memegang senjata api di tangan kanannya. Paman Muklis menghampiri mereka dan berkata ingin bertemu dengan ayahku.

Dua sipir itu mencatat nama kami dan menghubungi bagian pembawa kunci melalui HT yang tersampir di ikat pinggangnya. Kami kemudian dipersilakan duduk di bangku besi usang yang hanya bisa diduduki maksimal dua orang. Kudengar derap langkah semakin dekat ke arahku. Hatiku bergetar tidak karuan. Semakin dekat, dan rasanya aku ingin pingsan saja.

“Cacha? Anakku? Ya, Ayah yakin kau adalah anakku,” Namun suara berat itu membuatku menoleh, menguatkan hatiku yang ketakutan karena harus bertemu dengan masalalu. Dia ayahku. Ya, sampai kapanpun dia ayahku.

Sebelum laki-laki kurus berseragam oranye kumal itu duduk di hadapanku, aku segera berdiri dan mencium tangannya. Tentu saja dibubuhi dengan air mataku yang tidak bisa kuajak kompromi agar jangan keluar dulu sebelum percakapan kami selesai. Aku tidak bisa berdusta, kalau aku merindukan laki-laki yang separuh rambutnya sudah beruban ini. Kurasa itu bukan uban faktor usia, melainkan teramat banyaknya ia memikirkan suatu beban yang tak kunjung reda.

“Kamu pulang, sayang?” Dia ayahku, yang sebelas tahun kuanggap sebagai penjahat dan pecundang lantaran tak pernah mau menemuiku, kini mengelus rambut dan mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Sekarang siapa yang jahat? Aku atau dia? Seseorang yang selalu merindukanku siang dan maalam, menyebut namaku dalam setiap helaan napas dan doanya. Akulah yang jahat. Menuduhnya sebagai pembunuh dan ayah yang tidak bertanggungjawab.

Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk ayah, bilang kalau aku minta maaf atas kesalahpahamanku selama ini terhadapnya.

“Ayah sudah memaafkanmu, Nak, Ayah yang bersalah, tidak bisa menjemput kalian ke Jakarta. Dimana Ajeng? Dia tidak ikut?” katanya menatapku dengan bersimbah air mata.

Aku menoleh ke arah Paman Muklis, mencari jawaban. Tak kuduga ia pun menangis. Sesedih itukah pertemuanku dengan ayah? Sehingga para sipir pun ikut mengusap air mata.

“Ajeng akan menyusul, Ta. Setelah ini kalian bisa bersama-sama lagi. Tak ada yang akan bisa memisahkan kalian.” Paman Muklis menjelaskan.

Aku mengangguk setuju, kemudian memeluk ayah sekali lagi. Rasanya kostum yang ayah kenakan tidak sewangi dulu saat aku memeluknya. Kostum ini pasti jarang dicuci. Dan ayah jarang mandi. Tapi aku merasa nyaman berada dalam pelukannya. Aku tidak mau berpisah lagi. TIDAK MAU!

“Berhenti menangis, Nak. Jangan menangis lagi. Kita sudah bertemu. Semestinya kita bahagia,” Ayah mengendurkan pelukannya dan mengusap air mataku.

Namun sebelum aku ingin bicara panjang lebar padanya, para sipir menarik kasar ayahku dan bilang waktu besuknya telah habis. Aku menelan ludah. Kejam sekali mereka memperlakukan ayahku seperti itu. Sebelas tahun yang tak bisa kubayangkan ayah makan apa, tidurnya bagaimana, apakah ia dapat perlakuan yang layak atau tidak?

Ah, pikiran buruk itu membuatku semakin sengsara. Aku tidak tega menyaksikan ayah diboyong kembali ke dalam jeruji besi oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. Beliau menoleh kepadaku, aku mencoba tersenyum tegar, meski sebenarnya tidak.

Ayah, aku berjanji akan membebaskanmu dari sini. Bersabarlah… Aku sayang Ayah...

***

Cerita ini merupakan versi anaknya. Untuk lebih detailnya, saya tulis dalam bentuk novel yang bertajuk 'MARTANORA'
Novelnya bisa didapatkan di Pena Nusantara.
Kontak (WA : 0857-7186-0444)
Harga buku : Rp 44.100



Merayakan Kebebasan #Cerpen

Ada banyak serentetan kisah pilu yang berputar-putar di kepalaku. Lucu. Kadang aku suka tertawa sendiri mengingatnya. Laki-laki itu bernama Bombom. Panggilan sayang yang kulayangkan padanya. Karena bertubuh tambun dan tinggi besar, aku kadang memanggilnya si kasur empuk. Perkenalan yang tidak sengaja di sebuah bengkel motor, membuahkan benih-benih cinta antara aku dengan dia.

Dia tidak tampan, tapi aku menyukainya. Katanya orang gemuk seperti dia tidak akan kuat berjalan kaki sejauh satu kilometer. Jangankan 1 km, kuajak mengejar bus tujuh meter saja dia sudah melambaikan tangan. Tapi aku menyukainya.

Bombom tipikal cowok romantis. Bagaimana tidak, dia tak pernah absen membawakanku kejutan. Awal tahun 2012, dia memberikan boneka Modo–simbol Seagames yang kebetulan saat itu diadakan di Indonesia. Aku memang ingin sekali boneka itu sejak dulu, namun sayang tidak diperjual-belikan di tempat umum. Hingga akhirnya aku mendapatkannya dari Bombom.

“Kamu selalu tahu apa yang kumau,” kataku.

“Karena aku sayang kamu, Jesie. Semua pikiranmu terbaca olehku,” ujarnya gombal. Oh iya, Bombom juga pernah memberikanku sekuntum bunga mawar. Aduh, romantis, bukan?

Sebulan berikutnya, ia mengenalkanku pada kedua orangtuanya di daerah Bekasi. Saat itu ibunya sedang terkapar di rumah sakit karena penyakit diabetes. Kesan pertama yang kudapat saat bertemu dengan orangtuanya, aku merasa gemetar. Ayahnya yang seorang HRD di perusahaan TBK, wajahnya cukup sangar. Namun Bombom bilang, aku pasti bisa meluluhkannya.

Apakah kedua orangtuaku setuju seorang plankton berjalan dengan Tinky Winky? Jangan ditanya. Mereka selalu tersenyum bila Bombom bertandang ke rumahku, menenteng dua kotak martabak dan buah durian montong berukuran jumbo. Barangkali itulah siasatnya untuk menakhlukan hati keluargaku.

Tiga bulan pertama, hubungan kami sangat baik. Di tengah kesibukanku sebagai wanita kantoran, aku selalu menyempatkan diri bercakap-cakap dengannya melalui telepon. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang terjadi. Saat pulang kerja pun, aku dan Bombom masih bertukar cerita di kawat selular tanpa kabel. Bercerita ngaler-ngidul dan berakhir saat mata butuh dipejamkan. Serta memulai kembali perbincangan saat mata terbuka di pagi buta.

Selalu ada cerita seru yang kami lontarkan satu sama lain. Rasanya aku teramat sangat bahagia memiliki kekasih seperti dia. Selain perhatian, Bombom mudah sekali membuatku tertawa.

Semua masih baik-baik saja, sampai masalah pertama di bulan keempat pun muncul. Di mana kami bertukar ponsel sebagai wujud kepercayaan. Awalnya dia menolak, karena untuk apa saling percaya kalau harus membuat peraturan yang rumit. Hal itu malah membuatku curiga. Agar dia mau memberikan ponselnya, aku mengancamnya putus. Kata putus pertama yang kuajukan padanya.

"Papah, bagaimana keadaan Mamah? Bunda khawatir. Bolehkah Bunda menjenguk?" - From Indah.

Deg.

Jantungku remuk seketika membaca pesan yang tersangkut di trash ponsel Bombom.

"Sayang, nanti sore kamu mampir ke rumahku, kan? Kamu sudah janji lho, jangan pura-pura lupa lagi. Aku kangen banget sama kamu."

Perempuan bernama Dian merengek ingin bertemu.

Aku menarik napas. Siapa lagi wanita ini? Pikirku jengkel. Untuk membahas masalah ini, aku harus bertemu Bombom sesegera mungkin. Titik.

Minggu pukul sepuluh pagi, Bombom menjemputku di rumah. Aku sudah bersiap sejam yang lalu menunggu kedatangannya. Hari ini adalah awal pertengkaranku dengan Bombom. Aku tak banyak bicara dan menjaga jarak dudukku dengan dia yang sengaja kuganjal dengan tas selempang di tengahnya.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget. Pegangan ke pinggangku, nanti jatuh,” ucapnya dengan nada bingung.

Aku diam saja, malas menjawab. Nama Indah dan Dian terus menggelayut dan berputar-putar di otakku laksana angin puting beliung. Aku benci nama perempuan-perempuan itu. Sesak hati, aku memberanikan diri memulai pembicaraan. “Tolong jelaskan padaku siapa Indah dan Dian?”

Bombom menoleh dan memelankan laju motornya. “Siapa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, jangan mengeles macam bajaj. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku.”

Bombom menepikan motornya di depan mini market. “Kamu tidak membawa jamuan untuk keluargaku, Jesie?” Bombom malah mengalihkan pembicaraan.

Aku terdiam, malas menjawab. Hatiku sedang dilanda kebakaran, kenapa pula dia mencoba memberikan angin. Aku butuh air untuk memadamkannya, bodoh sekali kau ini. Makiku kesal dalam hati.

“Bombom, kalau kau tidak mau menjelaskan, biar aku pulang. Aku tidak jadi menemui orangtuamu. Sini, kembalikan ponselku! Aku juga bisa berselingkuh dengan laki-laki lain. Memangnya kamu saja. Dan kita PUTUS!”

Bombom memicingkan matanya padaku. Ini adalah pernyataan pembubaran barisan kedua yang kugugat untuknya. Seandainya di sana ada benda pecah beling, mungkin sudah kulempar benda itu ke jalanan. Deras hujan yang mengguyur ibu kota, menyibak rasa sakitku akan cinta yang terkhianati. Bukankah Bombom hanya mencintaiku? Hanya menyayangiku seorang? Bohong! Di belakangku, dia menggandakan cintanya pada dua perempuan sekaligus. Dasar buaya darat.

Dua hari dua malam aku tak menggubris pesan singkat dan telepon dari Bombom. Dia mengatakan bahwa ibunya masuk kembali ke rumah sakit karena penyakit diabetesnya kambuh. Aku tidak membalas pesannya. Malas. Hatiku sedang terselimuti kabut cemburu. Aku amat membencinya. Di dalam angkutan umum, aku menyeka air mataku, tidak peduli penumpang lain memperhatikan. Di perjalanan sepulang bekerja, Bombom lagi-lagi meneleponku. Ini panggilannya yang ke-23. Aku tidak jua menjawab. Tubuhku yang lelah, kusandarkan pada punggung jok metro mini yang keras dan karatan.

Tetapi mataku terlonjak saat menatap layar ponsel bertuliskan nama ayah Bombom. Mau tidak mau, aku terpaksa mengangkat. Dengan berlinang air mata dan dada yang amat sesak, aku mencoba menyamarkan tangisanku. “Halo, Om.”

“Halo, Jesie. Aldo bilang kau tidak mau mengangkat teleponnya. Kalian bertengkar? Ah, masa muda seperti kalian masih rentan cemburu buta. Aldo sudah bercerita panjang lebar tentang masalah kalian. Kami sedang berada di RS Citra. Mamah Aldo kumat lagi penyakitnya. Sebentar, ini Izmi ingin bicara denganmu.”

Aku menyeringai. Susah payah mengumpulkan kalimat.

“Kak Jesie, Kak Indah itu mantannya Mas Aldo, sudah putus setahun lalu. Jangan bertengkar lagi ya, kasihan Mas Aldo. Dia demam memikirkan Kak Jesie. Mamah juga sedang diinfus lagi. Izmi hanya minta Kak Jesie percaya pada Mas Aldo. Itu saja,” pinta Izmi memelas. Sebenarnya aku tidak peduli.

Hubunganku dengan Izmi bisa dibilang seperti sahabat. Dia kerap curhat tentang kisah remajanya padaku. Dan aku selalu senang menanggapinya. Kedekatan itu pun semakin akrab tatkala kami mancing bersama ke Bogor, merayakan kepulangan Ibu Bombom dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Namun sekarang situasinya berbeda. Aku sudah tak percaya Bombom lagi. Bilapun dia berucap ini itu, berjanji untuk mengajakku pergi ke luar kota, aku menganggapnya tipuan halus agar aku memercayainya.

Tiga puluh jam lebih diam-diaman, aku mengalah berbaikan. Walau sebenarnya aku masih kesal pada penghianatan Bombom. Hubungan kami normal seperti sediakala. Namun Bombom kembali berulah setelah aku luluh dengan semua rayuannya.

“Ayangku, Jesie, aku tidak bisa ke rumahmu siang ini. Motorku mendadak ngambek. Bila dipaksakan, bisa fatal. Aku butuh uang untuk memperbaikinya,” jelasnya di ujung telepon.

“Berapa?” tanyaku langsung tembak.

Bombom menyebutkan nominal. Aku langsung mentransferkannya via e-banking. Tak apalah merogoh sedikit uang demi bisa bertemu sang pujaan hati. Mungkin untuk memusnahkan rindu mesti harus berkorban, baik hati maupun materi. Namun setelah dikasih hati ayam, dia malah minta jantung pisang. Perangai buruk Bombom semakin menjadi-jadi. Perihal alasannya resign dari pekerjaannya, dia terus memoroti uang hasil tabunganku selama bertahun-tahun. Dan aku selalu saja tak tega membiarkannya nelangsa.

Hingga pada suatu titik, cincin hasil jerih payahku selama ini disitanya lantaran dia terlalu lama menjadi pengangguran. Kata Bombom, “Uangku adalah uangmu, dan uangmu adalah uangku.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya akibat rasa trauma kandasnya hubungan dia dengan Indah dulu. Maka ia tak mau hal serupa terjadi lagi ketika menjalin hubungan serius denganku. Lantas apa hubungannya denganku?

Entah terhipnotis atau apa, aku pun memberikan cincin itu pada Bombom. Tiga bulan kemudian, hubungan kami seperti benang kusut. Perlahan aku mulai sadar kalau uang tabunganku habis tak bersisa gara-gara Bombom. Cincinku yang dulu disitanya tidak kembali. Aku semakin curiga kalau benda bulat berwarna emas yang kubeli dari hasil keringatku, diberikannya pada wanita lain. Entah itu Indah ataupun Dian. Brengsek. Umpatku kesal dalam hati. Semua janji manis yang ia ucapkan, tak satu pun ditepati. Seperti saat dia berjanji mengajakku ke bulan. Bukan ke bulan, melainkan berkeliling dunia menggunakan sepeda ontel.

Hingga aku pun harus melontarkan kata putus untuk ke sekian kalinya saat Bombom berpura-pura tidak dapat menemaniku di malam pergantian tahun 2013 dengan alasan pembagian warisan keluarga. Bohong. Aku tahu Bombom mengarang cerita palsu.

Beberapa detik setelah pergantian tahun, hujan deras mengguyur atap dan beranda rumah. Rumput dan pohon jarak bergoyang tertiup angin. Pagi pertama di tahun 2013, kulalui dengan suasana duka yang menyelimuti kekalutan hatiku. Aku menatap debit air yang semakin deras.

Bombom, kenapa kau belum mengabariku? Desisku dalam hati. Sampai malam kembali tiba, aku gelisah menanti kabar dari Bombom tercinta. Ia tak juga menghubungiku. Aku gengsi menghubunginya lebih dulu, dan lebih memilih meringkuk di kamar, berharap ia mau berbicara denganku besok pagi.

Sedetik, dua detik, berganti menit, jam, dan hari, ia tak pernah merespon telepon dan SMS dariku. Rasanya jemariku tak tahan untuk mengetikkan nomor ponselnya, mencoba menguhubunginya untuk ke sekian kalinya. Dering pertama, tak ada jawaban. Dering kedua membisu, tidak ada jawaban juga. Dering ketiga, suara laki-laki yang kukenal menjawab malas. “Halo.”

“Bombom... aku minta maaf. Tempo hari aku kesal padamu.”

“Jesie, ini sudah berapa kali kamu mengucapkan kata ‘putus’? Baiklah, kita SELESAI!” telepon terputus.

Aku menggigit bibir. Kaget bagai tersambar petir. Tanpa sadar, air mataku jatuh berderai mencari anak sungai.

“Bombom, kenapa kau setega itu? Aku tidak serius mengatakannya.” Aku berbicara dengan tembok. Niat menenangkan hati mendengarkan radio, yang ada hatiku semakin berkabut. Lagu ‘Kesedihanku’ milik Sammy Simorangkir, mengiringi air mataku yang terus berjatuhan laksana hujan. Menurutku, lagu itu merupakan lagu paling spektakuler yang pernah ada dalam kisah kandasnya sebuah cerita cinta.

Meskipun aku sering patah hati oleh cinta-cinta yang lain, harus kuakui, aku sangat terpukul kehilangan Bombom. Eh, tapi kenapa lirik lagunya ada kata ‘indah’? Padahal yang kini tersisa hanyalah kenangan terindah dan kesedihanku tentang dia.

Aku sering melamun bila berangkat dan pulang kerja. Di mobil, di toilet, di kamar, di mal, saat menyebrang jalan, menghentikan bus, dan sampai nyasar ke tempat antah barantah lantaran tidak fokus pada nomor jurusanKopaja yang kutumpangi.

Kok banyak pesawat terbang ya? Kok banyak lapangan bola sih? tanyaku dalam hati. Pantas saja, rupanya aku melewati jalan belakang bandara.

“Pak, saya tersesat lupa jalan pulang. Tolong antarkan saya ke Terminal Kali Deres ya,” aku menepuk seorang tukang ojek yang sedang mangkal. Entahlah, saat itu aku tidak sadar kalau ternyata lapangan bola yang super luas dan di atasnya terdapat banyak beterbangan pesawat merupakan sebuah bandara. Aku sungguh merasa asing berada di tempat itu. Kopaja yang terakhir kunaiki rupanya berhenti di persinggahan pamungkas di daerah Rawa Bokor.

“Memangnya si Neng mau pulang ke mana? Lumayan jauh loh ke Terminal Kali Deres”

“Ke rumah lah, masa ke gua,” jawabku sekenanya dan langsung naik di jok belakang motor.

“Pundaknya berat tidak, Neng?”

“Beberapa hari terakhir, saya memang sedang kurang enak badan, Pak,”

“Si Neng ketempelan, makanya pundaknya berat. Biar saya antar ke orang pintar ya, Neng,” kata si bapak tukang ojek.

Apa? Aku ketempelan? Ketempelan makhluk halus? Siluman? Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Ternyata problema putus cinta bisa mengakibatkan manusia bergaul dengan bangsa jin. Canggih sekali.

Biar kujelaskan padamu, bahwa pada saat hatiku runtuh ke jurang terdalam, pada saat air mataku bercucuran bak hujan yang terus mengguyur jalanan, hati ini semakin pedih tatkala aku menghampiri Bombom ke rumahnya dalam keadaan sakit. Dengan napas yang kurasa tinggal satu tabung lagi, dan dada sesak yang tak bisa kujelaskan, aku melihat ia turun dari mobil dan memasuki garasi bersama ayahnya entah dari mana. Anehnya, ketika aku bertanya apakah ada Bombom di dalam, keluarganya mendadak dingin dan bilang tidak ada.

“Baru saja keluar,” kata ibunya dengan nada ketus. Kebohongan apa lagi ini? Jauh-jauh aku datang untuk menyelesaikan perkara, tapi yang kudapat hanya kesakitan hati yang semakin parah. Di bawah mendungnya langit, aku mencari tukang ojek dan menunggu bus jurusan Jakarta. Mungkin hanya tukang ojek yang setia mengantarkanku ke mana pun aku butuh.

Ketika telah mendapatkan bus, aku memilih duduk di barisan samping jendela. Hujan pun mulai turun. Menggenangkan seluruh kenangan tentang Bombom. Tentang manis pahitnya perjalanan kami selama dua belas bulan. Dan di sepanjang perjalanan pulang, aku mengenang banyak hal yang tak akan pernah terulang. Ingin menjerit, namun pita suara hanya sampai di tenggorokan.

Di luar hujan semakin menderas. Membawaku pergi dari semua luka menyedihkan ini. Hingga akhirnya air mataku tak kuasa lagi meluber di jalanan ibukota yang selama seminggu terakhir membuat dadaku membuncah sesak. Kala itu Jakarta mengalami banjir besar-besaran yang melumpuhkan seluruh akses jalan dan aktivitas. Barangkali langit turut menangisi kepedihan hatiku. Barangkali langit berusaha menumpahkan seluruh isinya untuk mengucapkan belasungkawa.

Enam bulan kemudian, aku berhasil mengeringkan air mataku, membalut hatiku dengan perban, mengeringkan lukanya hingga normal. Susah payah aku melakukan semuanya. Dan dia datang menyapaku. Seolah merasa tidak ada apa-apa antara kami berdua. Hey, kau kira aku masih mencintaimu? Setelah apa yang kau perbuat selama ini padaku? Enak saja memintaku kembali dan berceloteh tentang cinta. Memangnya aku punya banyak hati untuk menerima semua rasa sakitku selama ini? Mungkin aku terlalu bodoh untuk mencintai. Tetapi aku tidak rela jika harus tertipu lagi. Aku tidak cantik, tidak juga pintar. Tapi aku tidak bodoh untuk terus dipermainkan.

Tepat 35 bulan atau hampir tiga tahun pasca putusnya hubunganku dengan Bombom, aku merogoh isi dompetku yang pernah terselipkan fotonya di sana. Di selembaran foto berukuran dompet itu, ia yang mengenakan kaus polos berwarna hijau, celana kolor di bawah lutut, sandal jepit, sedang tersenyum menyusuri pohon bambu. Aku merobeknya hingga menjadi sepuluh bagian, lalu kuremas dan kuhamburkan ke halaman. Aku berhak merayakan hari kebebasanku tanpa diiming-imingi masa lalu yang suram dan penuh penyesalan.

Cinta memang butuh pengorbanan, tapi tak selamanya membuatmu miskin secara materi. Cinta memang perlu memaafkan, namun tak selayaknya kau berikan hati dan ragamu secara cuma-cuma pada orang yang salah sasaran. Kini semuanya sudah terungkap, bahwa kekasihku yang paling kucintai dulu, tidak lain dan tidak bukan adalah psikopat. Sungguh, aku tak bermaksud menjelek-jelekannya. Memang seperti itulah kenyataannya. Aku percaya, masih banyak ikan yang lebih berkualitas di laut (itupun kalau lautnya tidak surut). Nah, apakah laki-laki seperti itu pantas dicintai? Kurasa kalian bisa menjawabnya sendiri.

Kondangan dan Taksi Ajaib ala Flowers #TrueStories #Flowers #Cerpen

“Kalian sudah di mana? Gue hampir lumutan nunggu di sini.” Aku membenarkan posisi dudukku, memperhatikan dua laki-laki yang gerak-geriknya mencurigakan sedari tadi.

Siang ini cuaca amat terik. Menimbulkan buih-buih keringat di pelipis dan leherku. Rencananya aku dan keenam sahabatku akan kondangan ke tempat Yuni, teman satu kampus kami. Seperti yang sudah-sudah, setiap acara kondangan ke teman satu kampus, kami bertujuh patungan uang untuk membeli kado. Biarlah Vitri, Nia, dan Zaky yang mengurus. Aku hanya mendukung saja.

“Sebentar lagi, Ei. Kita lagi on the way ke sana. Naik Taksi.” Nia membalas chatku.

“Plat Taksinya nomor berapa?”

“Aduh, mana sempat gue lihat. Posisi lo dimana? Biar kita yang samperin.”

Aku menjelaskan panjang lebar sesuai posisiku saat ini. Kedua tanganku mendekap tas, takut-takut ada rampok, mengingat kolong Bunderan Slipi rentan dengan tindak kejahatan. Sebelum memutuskan untuk menunggu di tempat ini, kami sempat bersitegang di grup chatting. Susah sekali mengumpulkan tujuh kepala yang berbeda pendapatnya. Alhasil, lebih baik aku mengalah menunggu di persimpangan jalan.

Satu Taksi biru merapat ke arahku. Aku melongok melihat isinya. Siapa tau itu rombonganku. Nia dari dalam melambai-lambaikan tangan. Membuka pintu menyuruhku masuk. Aku celingak-celinguk ke belakang, mencari satu Taksi lagi.

“Kita cuma nyewa satu taksi, Ei. Ayo cepetan masuk. Nanti keburu ada polisi,” Nia menggeser duduknya agak ke tengah. Lebih tepatnya dipangku Zaky. Aku menganga lebar, “Apa? Satu Taksi?”

“Ini muat nggak? Bukannya kesepakatannya mau nyewa dua Taksi?”

“Muat-muatin ajalah, Ei. Lagipula kalau pakai dua Taksi takutnya malah berpencar.”

Aku mendengus tak berkomentar. Berimpitan dengan Nia, Zaky, Vitri, Tiur, dan Tya, semakin membuatku gerah. Sementara Puji duduk di depan menemani pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya. Sebenarnya dia mau menyilakanku duduk bersamanya, agar Nia tidak perlu dipangku Zaky segala. Tapi pak supir bilang, nanti takut kena sanksi polisi kalau di depan penumpangnya lebih dari dua orang.

Nah loh! Aku mendesis untuk ke sekian kalinya. Tubuhku terjepit tidak keruan. Mirip pepes pindang yang siap diobral di pasar.

“Aduh, dandanan gue luntur nih kena Indriani.” Zaky komplain karena mascaranya menipis. Nia tertawa saja menanggapinya. “Lu kecil-kecil berat juga, Indriani. Turun-turun dari taksi, gue langsung langsing.”

“Bagus donk, Jek, jadi gak usah diet-dietan. Hahaha” Nia memanfaatkan keadaan duduk sepuasnya di paha Zaky dan Tya. Tya pasrah menerima keadaan.

Tiur hanya membalas dengan tawa meledak-ledak. Dres anggunnya seketika tidak beraturan. AC sudah tidak ada rasanya. Vitri yang posisinya paling pinggir, jauh lebih kasihan tergencit. Ia tidak bisa berkutik lagi. Meskipun dongkol, aku juga ikut terbahak, menertawai kekonyolan sahabat-sahabatku ini.

“Lo udah lama nunggu, Ei?” Vitri membuka obrolan.

“Dari jam 10 gue udah nangkring di situ. Pegel tau nunggu kalian sejam lebih. Mana panas banget.” Seruku kesal.

“Nih, Tante Tya ngaret, Ei. Kita nungguin dia lama.” Zaky mengomel lagi.

“Maaf, ya, semuanya. Aduh, ini gue dari Depok, tempat kakak gue, Tadi mampir sebentar ke kosan ambil tas. Sorry ya Jeng-Jeng…” Tya mengelus satu per satu lengan manusia di dalam taksi ini.

“Nggak bisa gitu, Tante. Pokoknya nanti kena denda. Dandanan kita luntur nih gara-gara nungguin lo doang.” Nia memasang wajah super galak.

Tya mengusap hidungnya yang berkeringat, wajahnya pura-pura memelas.

Semua tertawa lagi. Pak supir yang mendengar keributan, hanya mengintip dari spion. Puji ikut menoleh, tertawa. Biasanya supir taksi tidak mau menerima jumlah manusia sebanyak ini ke dalam mobil argonya. Tujuh orang adalah jumlah yang banyak sekali. Tapi berhubung bapak supir orangnya baik hati dan tidak sombong, maka kami diberikan kesempatan menumpanginya secara beramai-ramai.

**

“Ei sama Tya gak ikut belanja nih, bawain kadonya! Berat tahu.” Vitri mengeluarkan plastik extra large dari dalam bagasi, mengikuti perangai Zaky. Nia membayar upah Taksi, sedangkan Tiur dan Puji menutup mata dengan tangan. Tampaknya mereka silau kena pantulan sinar matahari. Atau, takut mendadak hitam legam terbakar teriknya.

“Ini apa? Bed Cover?” Aku menerima plastik bersisi kado kotak tidak kalah besar untuk mempelai pengantin.

Sudah menjadi kebiasaan lumrah bagi kami membagi tugas. Aku tidak ikut berbelanja karena sedang ada urusan di rumah. Begitupun dengan Tya yang sedang berkunjung ke rumah kakaknya di kawasan Depok. Ini adalah isi kado yang sama untuk ke tiga kalinya, setelah kondangan ke Yana dan Siti.

Udara siang terasa semakin terik. Kaki kami sudah menginjak gedung pernikahan Yuni, mengisi buku tamu, lantas menyerahkan kado besar pada petugas pencatat tamu. Zaky yang mewakilkan menulis nama kami bertujuh.

“Suvenirnya mau gelas permen atau foto?” Pencatat tamu itu bertanya.

“Kalau dua-duanya tidak bisa ya?” Aku balik bertanya.

“Bisa. Hanya fotonya satu beramai-ramai.”

Aku berembuk sebentar dengan enam sahabatku. “Gimana?” Kami saling mengangguk dengan bahasa tubuh. Hanya aku dan enam sahabatku yang mengenali bahasa tubuh tersebut.

“Ya udah deh, Mba, kita pilih dua-duanya saja,”

“Kalau begitu, ini kupon untuk fotonya. Dan ini gelas permennya masing-masing orang kebagian satu, ya,” Mba Penerima tamu memberikan satu kupon foto untuk Nia dan tujuh gelas permen pada kami.

Gedung pernikahan semarak dengan tamu-tamu undangan. Musik melantun merdu memenuhi ruangan. Bunga berwarna-warni terpampang indah di setiap penjuru pintu. Eksotis. Mempelai wanita cantik sekali. Kamipun mendekat bersalaman, mengucapkan selamat dan cium pipi kiri-pipi kanan.

“Makasih ya udah datang. Komplit lagi, bertujuh.”

“Iya, Mbak Yun. Rasanya senang bisa berkesempatan datang ke tempat bersejarah ini. Cantik sekali dirimu.”

“Ah, Ei bisa saja. Kalian langsung makan saja di paresmenan. Nah, di sebelah kanan ya.” Yuni menunjuk meja makan panjang dengan tersenyum sumringah. Aku tidak bohong mengatakan bahwa dia hari ini terlihat jauh lebih cantik.

Setelah bersalaman, kami bertujuh langsung menyerbu makanan. Tepat sekali tiba gedung pukul 12 siang. Perutku sudah keroncongan.

“Kalian mau makan apa?” Mataku mencari-cari es krim. Tidak ada.

“Makan nasi aja biar kenyang.” Nia mencomot piring, sendok, garpu, dan isinya. Disusul Zaky, Vitri, Puji, Tya, dan Tiur. Aku mengekor paling belakang.

“Di sini gak ada es krim, Ei.” Vitri yang hafal betul gelagatku menyergah bangku kosong. Kami duduk berpencar, sibuk dengan makanan masing-masing yang kini ada di pangkuan kami. Hanya aku dan Vitri yang duduk bersisian.

Dimana pun berada, es krim adalah sasaran favoritku. Teringat setahun yang lalu saat menghadiri wedding party Lina, teman kampus kami juga. Saat makanan tandas di piring, kami bertujuh langsung menyerbu es krim yang sejak kami datang sudah menggiurkan lidah untuk menyecapnya.

“Kayaknya cuma nyampe kerongkongan ini mah.” Zaky menyeletuk asal, tangannya menjilati sendok es krim yang sudah tidak berasa.

“Gue gak puas nih, sumpah.” Nia meletakkan tempat es krim yang berukuran mini itu ke bawah bangku.

Tanpa basa-basi, aku mengompori enam sahabatku untuk nambah lagi. Dan di sana kami berjejer mengantri es krim untuk kedua kalinya. Tidak peduli semua mata memandang risih. Pelayan es krim hanya manut menuangkan krim ke tempat mini itu. Membuatku tidak sabar untuk menghabiskannya satu loyang penuh.

“Dulu kita pernah malu-maluin di acara nikahannya Lina. Gue sebenernya bingung mau taruh dimana lagi muka gue saat itu. Tapi jujur gue juga gak bisa ngelewatin es krim di depan mata. Meski hanya sesendok tok.” Vitri tergelak mengenang masa itu.

Aku juga sudah sedari tadi senyum-senyum sendiri mengingatnya. Kami laiknya anak kecil yang tidak bisa kehilangan momen es krim gratisan.

Ruangan makan semakin ramai dengan suara sendok dan garpu yang mengenai piring. Juga tawa dan bincang-bincang tamu lainnya. Aku dan Vitri sudah mengenyahkan seluruh makanan di piring ke dalam lambung. Saatnya untuk cuci mulut.

“Mau ke buah, kan? Gue ikut.” Zaky beranjak dari duduknya, menarik lenganku merengek minta diajak. “Sayangnya gak ada es krim di sini. Gue sudah mendamba-dambakan dari sebelum berangkat.”

“Gue sama Ei juga udah ngebayangin pesta es krim di sini. Tapi emang gak ada, mau gimana lagi. Nanti beli sendiri ajalah di rumah masing-masing. Hehe…” celetuk Vitri.

Saat aku, Vitri, dan Zaky mengerubungi ruang cuci mulut, Nia, Puji, Tiur, dan Tya sudah berbaris di belakang. Amboi, makanannya banyak sekali. Ada puding coklat, puding peach, kue bolu, aneka buah-buahan, dan minuman ringan lainnya. Seketika mataku mengerjap-ngerjap ingin mengambil semuanya.

Zaky dan Nia berebut garpu, tertawa mengambil makanan kesukaan mereka, yakni puding coklat. Tiur, Puji, dan Tya terlihat kerepotan menggenggam segelas sirup di tangan kiri mereka, dan piring kecil di tangan kanan berupa potongan buah melon dan semangka. Sedangkan aku dan Vitri sudah hinggap ke beberapa tempat mencicipi kue cubit.

“Eh, Nia, bantuin gue dong… Kenyang banget nih gue.” Zaky bekerja keras menghabiskan setengah potongan puding di piringnya. Nia melotot, suruh siapa ambil banyak-banyak, demikian maksudnya. Aku sendiri rasanya ingin muntah karena saking penuhnya perut oleh makanan.

“Habis ini kita foto-foto.” Vitri mengambil selembar tisu dari meja paresmenan, mengelap mulutnya yang belepotan.

Kami bertujuh menghampiri sesi pemotretan. Zaky merogoh tas selempangnya, mengeluarkan bedak dan lipstik. Warna merah di bibirnya memudar. Begitupun dengan bedaknya yang sudah luntur. Nia tidak mau kalah, meski ia cewek cuek yang tidak mementingkan makeup, namun kali ini dia berusaha sefeminin mungkin di depan kamera.

“Gue pinjem sisirnya dong, Ei…” Vitri menungguku yang sedang asyik menata rambutku helai demi helai.

Setelah memastikan sudah tampil cantik, kami bertujuh antri untuk seksi pemotretan. Dengan tingkah yang terus pecicilan tidak mau diam, akhirnya tibalah kami menjadi model terkenal. Nia menyerahkan kupon pada fotograper. Kamipun beraksi di atas panggung dengan gaya yang jauh dari pantas sebagai artis dadakan.

“Lah, koq tiga, Bang? Bukannya kami hanya mendapat satu kupon?” Aku kaget saat tukang foto memberikan tiga lembar hasil jepretan, katanya bonus. “Kalau begini caranya pasti ada yang iri, Bang.” Aku melipat dahi.

Aku dan keenam sahabatku turun panggung dengan nada kecewa. Kalau hanya tiga foto, lantas empat yang lainnya harus rela gigit jari.

“Ei, coba lo ngomong sama abangnya bisa diprinin lagi gak? Kan lo jago ngomong tuh!” Nia memberikan usul.

Ada benarnya membujuk sang fotograper, siapa tau kami bisa bawa pulang satu-satu. Dan akupun melangkah mendekati payung yang disorotkan lampu kamera. “Bang, apakah kami bisa cetak empat foto lagi? Kami kan ada tujuh orang, sedangkan tadi Abang memberikan tiga lembar jepretan. Kasihan yang gak dapet.”

Sang Fotographer berpikir sejenak. Tumpukan antrian sesi pemotretan bertambah panjang. “Kalau mau, si Neng baris lagi di belakang.” Mas fotograper kembali sibuk memberi aba-aba pada artis dadakan di panggung.

Aku melangkah antusias memberikan kabar baik pada sahabat-sahabatku, “Kita baris lagi di belakang.”

“Boleh, Ei?” Nia tertawa penuh kemenangan.

Kami berbaris lagi di belakang antrian. Bedanya tidak seperti antrian pertama. Kali ini tidak ada yang mengeluarkan cermin, bedak, lipstik, dan sisir. Kejadian ini mengingatkanku pada saat mengantri es krim kedua kalinya di acara kondangan Lina. Aku menggeleng-geleng. Sungguh memalukan. Aku dan keenam sahabatku laiknya orang ndeso yang haus akan jepretan kamera.

Semua mata memandang heran. Kami tidak peduli. Kameramen berbaik hati memberikan empat jatah foto lagi. Dengan gayanya yang khas, ia memberikan aba-aba, dan kami pun tersenyum lebar. Tujuh anak manusia ini selalu membuat rusuh di manapun berada.

Chees…

Empat jeperetan keluar dari mesin otomatis itu. Aku tersenyum lebar.

Akhirnya kami memegang hasil jepretan satu-satu, melambai-lambaikan membiarkannya kering. Setelah pamitan pada kedua mempelai dan keluarga pengantin, kami bertujuh berlenggak-lenggok keluar gedung, melewati penjaga buku tamu. Lihatlah, penjaga buku tamu itu terbengong-bengong melihat kami memegang foto di tangan kami. Bukankah jatahnya satu untuk beramai-ramai? Suka-suka kita, dong, syirik aja!

Tanpa rasa berdosa sedikitpun, kami terus tertawa hingga di luar gedung pernikahan, menertawai sikap kami yang tidak tahu malu. Kadang kebahagiaan tak dapat diukur hanya dari tingkat usia dan kedewasaan. Inilah rasa bahagia sejati sesungguhnya. Tertawa-tawa tanpa memikirkan hal apapun kecuali kekonyolan kita.

Selepas kondangan, kami duduk beralaskan rumput di bawah pohon rimbun, kemudian menyetop taksi yang sudi menampung kami bertujuh dalam satu angkutan. Ajaib, kan?

Rabu, 20 Juli 2016

Puing 1 #Jingga #NovelSeries

“Bergegas, Jingga! Langit sudah mau jatuh. Gerimisnya membesar.” Livi berlarian mencari tempat berteduh.
Belakangan ini cuaca di Jakarta memang sedang moody. Sejam lalu terik, kemudian berganti gelap. Livi benar, mendung yang menggelayut di akhir Bulan Maret ini bagaikan hendak tumpah, mengguyur seluruh permukaan bumi dan isinya. Jingga tidak ikut berlari menghindari tumpahan langit seperti yang dilakukan asisten sekaligus sahabat baiknya, Livi. Gadis berpengawakan mungil dan imut itu amat menyukai hujan. Menurutnya bulir air yang menetes dari langit merupakan hiburan dari Tuhan. Selalu mengesankan.
“Jingga, apa kau tidak mendengar kata-kataku? Lari, Jingga! Nanti kau basah kuyup setiba di kantor,” Livi berteriak seperti tarzan. Tak sadar kalau orang-orang di sekitar memperhatikan tingkahnya macam anak kecil main tak umpat. Perempuan berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi itu berteduh di depan ruko kecil di samping halte busway.
Jingga berjalan santai di antara kesibukan siang itu. Sepanjang trotoar, para pekerja kantoran macam Jingga dan Livi yang sama-sama bosan makan di kantin gedung maupun catering dari perusahaan, memilih makan di kantin gedung tetangga, dan kini berlarian menjauhi hujan. Satpam-satpam repot mengatur masuk dan keluarnya mobil dari dan hendak ke parkiran. Jingga benar-benar tak menghiraukan teriakan Livi yang mati-matian berusaha mengeringkan kemeja formalnya menggunakan tangan yang disulap menjadi kipas buatan.
“Makeupmu luntur, Jingga! Rambutmu akan lepek. Kau bisa sakit. Ah, kau ini selalu keras kepala.” Livi terus berteriak. Napasnya tersengal, seperti habis berlari satu putaran kebun binatang.
“Biarkan saja,” jawab Jingga ketus setibanya setengah menit kemudian menyusul Livi di tempat berteduh. Ia bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan makeupnya luntur, rambutnya lepek, kemeja blousenya kuyup, sepatu hak tingginya kotor, dan akan sakit seperti yang dikatakan Livi barusan. Tak lama berselang, halte yang mereka singgahi penuh sesak oleh manusia-manusia yang takut tertimpa air hujan dan menjadi ajang arisan dadakan.
“Kau jangan gila, Jingga!” Livi mencoba tidak peduli. Ia masih sibuk mengeringkan bajunya dengan tangan. Kemejanya tidak sebasah Jingga, karena lebih dulu sampai di tempat berteduh, tetapi ia terus berusaha bagaimana caranya agar kemejanya kembali kering. Percuma, tampias air hujan yang tertiup angin menambah basah kemejanya.
Jingga tersenyum memperhatikan ulah Livi yang terus berkicau, tidak bisa diam. Ia melirik jam tangan warna silvernya, waktu istirahat tinggal 17 menit lagi, sementara hujan semakin lebat. Sebenarnya gedung perkantoran tidak terlalu jauh, sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Hanya tinggal menyeberang jalan, melewati dua gedung perkantoran yang tinggi menjulang, dan menerobos taman serta lahan parkiran. Jingga bisa saja berlari di bawah hujan, sudah kepalang basah juga. Tapi demi menghargai Livi, ia pun harus menghentikan langkah.
“Pekerjaan masih banyak, Liv. Kita harus segera ke kantor,” Jingga menatap jalanan. Mobil yang berseliweran di sepanjang Jalan Sudirman terlihat lengang. Mungkin sebagian pengendara enggan mengoperasikan kendaraan roda empatnya saat turun hujan.
Dulu sebelum gubernur DKI baru dilantik, jalanan ini semburawut macam benang kusut. Sepeda motor yang jumlahnya jutaan memadati seluruh badan jalan. Ribuan kendaraan roda empat dan dua milik pribadi, angkutan umum seperti bus patas, kopaja, metromini, angkot-angkot kecil, dan bajaj, kerap membuat Jakarta tidak bergerak dan berisik oleh riuh klakson yang terdengar bagai terompet di malam tahun baru. Setiap hari seperti itu. Membosankan. Ia dan semua penghuni Jakarta merasa setahun lebih tua dari umur sebenarnya, termasuk Livi yang masih mengeluh tentang bajunya yang basah.
Livi memandangi Jingga tidak suka, “Kau memang benar-benar sudah gila, Jingga! Di otakmu cuma ada pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan, tidak jauh-jauh. Aku kenyang mendengarnya,”
Jingga mengangkat kedua alisnya, Loh, ada yang salah dengan ucapanku? Memang begitu kan kenyataannya? “Lantas sampai kapan kita menunggu hujan reda? Pekerjaan menggunung sudah memanggil-manggil untuk diselesaikan, Liv,” Jingga melirik lagi jam tangannya. Jarum panjangnya kini sudah di angka 10, sepuluh menit menjelang pukul 13.00 WIB. “Sebentar lagi jam istirahat berakhir,” Jingga menarik napas resah.
“Bisa tidak, sekali waktu di luar kantor tidak perlu membahas soal pekerjaan. Mau dibahas habis juga tidak akan pernah ada habisnya. Habis sih, kalau perusahaannya gulung tikar,” Livi bersedekap dada, tidak ingin berkomentar lebih panjang.
“Aku akan ke kantor sekarang,” Jingga membungkukkan badan, melipat ujung celananya.
Livi pura-pura tidak mendengar.
“Kau mau ikut denganku, atau tetap menunggu hingga langit bersih dan menampakkan kembali matahari teriknya?” Jingga berdiri menatap sekitar, ancang-ancang melangkahkan kaki. “Apa kau berharap ada pelangi seusai hujan? Silakan…” tegasnya melirik Livi sambil ancang-ancang menerobos derasnya hujan.
Livi menoleh. Ia sendiri tak dapat memastikan kapan hujan akan usai. Mau tidak mau ia harus ikut pulang ke meja kerja bersama Jingga yang super keras kepala.
“Apa boleh buat,” Livi mengangkat bahu pasrah dengan wajah tertekuk.
Jingga menoleh ke kiri jalan, memastikan tidak ada mobil yang lewat. Tangannya diangkat ke atas kepala, berusaha menampik air hujan mengenai ubun-ubunnya. Gagal. Pada akhirnya, tidak ada satupun tetesan dari awan beku itu berhasil dihalang. Sudah kepalang.
Livi tertinggal beberapa langkah di belakang Jingga. Ia berjalan setengah berlari menyusul rekan kerjanya. Sial, air hujan perlahan masuk ke celah-celah sepatu pantopelnya yang mendadak membuatnya licin. Perempuan berambut pendek itu terpeleset tepat di bahu jalan.
“JINGGA…” Livi berteriak menahan sakit. Rintihannya kalah oleh derasnya gemericik hujan.
Dan tiba-tiba…
Terdengar bunyi ban mobil direm mendadak, memekakkan telinga. Kegaduhan terjadi. Suara klakson terdengar bersahutan membuat bising. Livi berteriak histeris. Ia menutup kedua mata dan telinganya. Bunyi itu cukup kencang. Hanya berbatas satu meter saja darinya. Jika kalian melihatnya, pasti bagai menonton adegan film Fast & Furious versi nyata. Betapa menggentarkan.
Jingga yang merasa ganjil, menengok ke arah belakang. Matanya terbelalak menyaksikan Livi terjatuh di bahu jalan sambil memegangi tumit kakinya, mengaduh kesakitan. Entah dia menangis atau tidak. Kalaupun menangis, air matanya tersamarkan oleh rintikan air hujan. Jingga berlari panik menghampiri Livi yang terlihat meringis mencopot sepatu pantopelnya.
“Ya Tuhan, Livi, apa yang terjadi?” Jingga menyentuh lembut bahu Livi.
“Kakiku terkilir, Jingga. Tolong bangunkan aku! Sakit sekali...” Livi berkata parau. Ia jatuh persis di depan mobil yang hampir saja menabraknya. Beruntung pengemudi di dalam mobil berwarna putih itu berhasil mengendalikan rem.
“Pelan-pelan, Liv,” Dengan sigap, Jingga membantu membangunkan Livi, memapahnya ke trotoar. Ia juga melambaikan tangan pada orang yang ada di dalam mobil yang nyaris menabrak sahabatnya agar segera bertanggungjawab.
Sesosok laki-laki berbadan tegap tinggi keluar dari mobil, memekarkan payung besar bermotif kotak-kotak biru, bertanya apakah Livi baik-baik saja.
“Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir,” tukas Jingga mencoba biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Suara klakson semakin ramai. Rasa-rasanya ini bukan malam tahun baru yang sebelumnya sempat dibahas. Iringan suara panjang, pendek, dan tak berarturan itu membuat kepalanya pusing. Pemuda itu menundukkan kepalanya meminta maaf pada pengendara lain karena membikin kemacetan panjang dan segera meminggirkan posisi mobil Fortunernya ke sisi kiri jalan.
“Aku sungguh minta maaf,” ujar pemuda itu dengan payung kotak-kotak ekstra besar usai memarkirkan sembarang mobilnya. Spontan payung besarnya menghalangi tubuh Jingga dan Livi dari guyuran air hujan.
“Tak apa. Kecuali kau tidak mampu mengerem mobilmu dengan terampil dan mengenai anggota tubuh sahabatku, sampai mati aku tak akan memaafkanmu. Dan bisa jadi urusan kita sampai ke pengadilan,” tukas Jingga ketus.
Pemuda itu mengangguk. “Kantor kalian dimana?” tanyanya basa-basi.
“Di sana, tidak terlalu jauh.” Jingga menunjuk gedung berwarna biru dongker yang berdiri gagah di depan pelupuk mata.
Pemuda itu mengulum senyum, merasa lega. “Biar kuantar,” sapanya jentel.
“Tidak perlu. Lagipula kami terlanjur basah,” sergah Jingga menolak.
“Kenapa kalian nekat sekali? Kenapa tidak menunggu hujan reda?” tanyanya menginterogasi.
Livi diam, takut salah menjawab. Ia membiarkan Jingga yang memberikan keterangan pasca insiden kakinya pincang. Dalam hatinya meringis kesakitan. Dua sepatunya ditenteng oleh Jingga. Tapi kalau dipikir-pikir, pemuda berkumis tipis ini tampan juga, bisiknya nakal.
Jingga juga diam, tak dapat berkata-kata. Ini salahnya, memaksa Livi untuk ikut pulang dalam keadaan hujan setengah badai. Bila diceritakan pada laki-laki asing ini, bisa-bisa berbuntut panjang. Dia malas berujar.
“Hmm.. Baju kalian basah kuyup. Perlukah aku membantu membelikannya di swalayan terdekat?”
“Perlu sekali,” Sambar Livi menggebu-gebu. “Aku tidak ingin jatuh sakit memakai baju basah hingga sore,” mulutnya manyun.
“Hehehe…” Pemuda itu tertawa pelan.
“Tidak usah repot-repot, Pak. Kami punya pakaian salin cadangan di loker. Mungkin teman saya lupa,” Jingga menunduk memperhatikan jalan, takut terpeleset seperti Livi.
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau sudah menyiapkan baju ganti?” protes Livi tidak terima dibilang pelupa.
“Karena kau bawel sekali, Livi. Aku pusing mendengar celotehanmu,” Jingga melotot sebal menyuruh Livi diam.
Livi mengerutkan dahi. Di taman serba hijau yang dihiasi bunga kaktus dan hamparan rumput jepang, ia membenarkan kalimat Jingga. Tak ada seorangpun yang mampu menandingi kebawelannya. Dan tak ada seekor cicak yang tak gentar melihat Jingga melotot, seakan bola matanya hendak copot. Menyeramkan. Livi bergidik membayangkan jika kedua bola mata Jingga benar-benar lepas dari cangkangnya.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar.” Pemuda itu tertawa lagi. “Jangan panggil Pak. Saya belum menjadi bapak.”
“Benarkah?” Mata Livi berbinar-binar. Rasa sakitnya tiba-tiba menghilang.
“Benar,” jawabnya singkat.
Jingga tidak menyimak obrolan kecil antara sahabatnya dengan orang asing yang sedang memayunginya saat ini. Baginya obrolan itu sama sekali tidak penting. Gadis mungil itu memandang lurus ke depan, tidak lagi memperhatikan jalan. Tiba-tiba kakinya tersandung selang yang terhubung ke taman. Dasar selang sialan! Beraninya bersembunyi di balik rumput. Makinya dalam hati.
“Kau tidak apa-apa, Jingga?” Pemuda itu spontan menahan tangan dan tubuh Jingga. Payungnya miring, membuat Livi kehujanan lagi.
Jingga shock. Jika saja tak ada si pemuda asing ini, ia sudah tersungkur mencium rumput dan tanah. Sepasang pantopel milik Livi yang dipegang Jingga jatuh. Ia buru-buru bangkit dan mengambilnya.
“Makanya, lepas saja sepatunya sepertiku, Jingga. Kau ini memang keras kepala,” celoteh Livi tanpa dosa.
Jingga melotot kesal. Maksudnya tidak lain begini; “Bisakah kau diam sebentar, Livi?” kecamnya dalam hati.
“Benar, dilepas saja. Daripada terkilir seperti temanmu, kan repot jadinya, hehehe…” Pemuda itu meledek.
Jingga tersenyum kecut. Livi memang pantas diledek.
“Sudah hampir sampai, Pak. Jadi aku tidak perlu melepas sepatu,” ungkap Jingga jutek. “Sekarang Bapak bisa meninggalkan kami di sini dan kembali ke mobil. Di sana pasti banyak orang yang sebal gara-gara mobil Anda berhenti sembarangan.”
Livi mencubit pinggang Jingga yang ditimpal dengan pekikan. Jangan judes-judes dong jadi orang, bisiknya pada Jingga. Jingga hanya memasang ekspresi sebal. Tak lama ketiganya sudah tiba di pintu masuk. Pemuda itu undur diri, sekali lagi meminta maaf karena nyaris menabrak Livi. Jingga lai-lagi menjawabnya singkat. Ia menggosok-gosokan telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin.
Livi mengelus dada, bersyukur ia selamat dari kecelakaan maut meski kakinya sedikit membiru, “Lain kali, kau tidak boleh mengebut dalam keadaan hujan deras. Untung saja remnya pakem. Coba kalau blong, aku tidak tahu bagaimana nasibku nanti. Kau akan masuk penjara.” tuturnya panjang lebar.
“Aku sungguh minta maaf. Aku buru-buru menerjang hujan demi tiba di tempat meeting tepat waktu,” kata Pemuda itu terus terang.
“Lekaslah kembali ke mobilmu, Tuan! Aku tidak suka bunyi klakson memenuhi gendang telingaku.” Jingga memalingkan badan, memasuki pintu masuk yang disulap oleh kaca ajaib yang bisa membuka dan menutup dengan sendiri secara otomatis tiap kali ada seseorang yang masuk dan keluar gedung.
“Dia memang seperti itu, jutek dan keras kepala. Lain kali kau harus tetap hati-hati saat mengendarai kendaraan. Karena bisa merugikan diri sendiri dan nyawa orang lain,” desis Livi menggigil.
“Terimakasih sudah mengingatkan. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit. Segeralah ganti pakaian kalian. Kalau perlu, mandi air hangat dulu.” Pemuda itu tersenyum. Senyum yang sangat manis. Ia membalikkan badan menuju mobilnya yang terpakir sembarang di sisi jalan.
“Hey, siapa namamu, Tuan? Kau bahkan sudah tahu nama kami,” teriak Livi hendak mengejar, namun tidak jadi mengingat kakinya terasa ngilu. Yang ada ia malah meringis kesakitan memegangi lutut dan tumit kakinya.
Pemuda itu menoleh sebentar, tersenyum melambaikan tangan, membalikkan badan dan berlalu tanpa memberi tahu siapa namanya. Cowok yang aneh, protes Livi sebal.
“Tidak perlu berlebihan begitu pada orang asing, Livi. Cepat masuk! Atau kau mau punggungmu penuh tato kerikan tulang ikan kakap atau hiu lantaran terlalu lama mengenakan baju basah?”
“Eh? Kupikir kau sudah ganti pakaian,” Livi menghampiri Jingga yang berdiri disamping meja security, kemudian berjalan bersisian menuju lift ke lantai sebelas. “Sebentar, Jingga. Aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini kau berubah drastis? Bukankah kau selalu menyenangkan dengan orang baru? Dan kau selalu bisa mencairkan suasana?” Livi menatap janggal sahabatnya.
Jingga mengangkat bahu. Ia memang terkenal ramah dan supel pada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak untuk hari ini. Mengapa dia berubah? Dirinya sendiripun menggeleng tidak tahu.

Puing 2 #Jingga #NovelSeries

Malam senyap, tak ada suara lain kecuali dentang jam dinding yang terus berotasi pada benda berbentuk kotak yang tergantung di atas lukisan purnama. Seorang perempuan dengan rambut terurai acak-acakan, sedang kusut hatinya. Tangannya gemas meremas bantal, dan kalbunya memberontak tak terelakkan.
Kapan menikah?
Pertanyaan itu. Entah sejak kapan ia membencinya. Memangnya jodoh dijual di pasar? Enak sekali kalau begitu ceritanya, bisa memilih yang terbaik untuk pasangan hidup, meski harganya berlipat-lipat lebih mahal. Omong kosong cinta membawa bahagia. Omong kosong! Jeritnya pilu.
Kata orang cinta itu aneh, ajaib, penuh misteri, seperti teka-teki. Semua makhluk hidup di muka bumi ini lahir atas nama cinta, tumbuh karena cinta, dan bernapas saja perlu cinta. Ada yang bilang cinta adalah perasaan bahagia yang membuat jantung berdebar dan perlahan tumbuh harapan. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta merupakan misteri yang tak bisa dipecahkan. Sebagian orang ada yang setuju kalau cinta ialah merelakan dan melepaskan sesuatu walau menyakitkan.
Apalah itu semua penjelasan tentang cinta, setiap insan bebas mengemukakan dengan definisi dan cara berpikir yang berbeda. Yang jelas, bagi Jingga, cinta adalah sumber bencana yang selalu menyiksa.
Diliriknya tujuh deretan nama mantan dan teman sekolah. 97% di antara mereka sudah berkomitmen membina rumah tangga. Kata ‘menikah’ adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari pemikiran Jingga, gadis penikmat purnama dan hujan yang kesehariannya berkutat sebagai leader keuangan di salah satu perusahaan swasta di kota metropolitan.
Perjalanan perempuan pengagum langit senja, yang merindukan bisa pulang kantor tepat sebelum matahari tenggelam namun tak pernah kesampaian, tidak semulus cerita di dalam dongeng sebelum tidur yang berujung bahagia. Pengalaman makan asam garam sudah dilaluinya dengan tawa dan tangis. Disamping belum siap seratus persen, Jingga belum menemukan jodoh yang tepat, yang digadang-gadangkan sebagai kepala keluarga kecilnya nanti.
“Buktinya, tanpa cinta aku masih bisa bertahan kan sampai hari ini?”
Jingga membatin, nada suaranya meninggi. Bantal yang baru saja ia remas, dilemparkannya kencang ke tembok. Jiwa dan pikirannya sedang bertengkar hebat memperdebatkan realita hidupnya yang pilu. Selama ini dia justru menikmati kesendiriannya yang mungkin lebih terasa bahagia dibandingkan memiliki kekasih yang selalu menyakiti. Rasa sakit karena patah hati oleh calon tunangannya – Dika, membuat ia dibayang-banyangi masa kelam yang tak berkesudahan.
Meski sudah rebah pijah di kasur empuk dengan lampu gelap, Jingga belum jua memejamkan mata. Padahal sejak tadi siang, perempuan berambut panjang agak ikal di atas pinggang itu, sama sekali tidak meminum zat yang mengandung kafein. Pikirannya teramat kusut, menerawang jauh ke masa depan yang hingga detik ini belum bisa diramal oleh paranormal terhebat manapun di belahan dunia. Tiba-tiba ia terngiang obrolan beberapa hari yang lalu di sebuah kafe tak terlalu ramai pengunjung, bersama Livi –sahabat dekatnya.
“Lihat ke meja seberang, Jingga! Kau tidak mungkin merantai hatimu seperti wanita itu, kan?” Livi berbisik di dekat telinga Jingga, menunjuk pada perempuan yang mengenakan behel tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau utarakan, Livi.” Jingga mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.
“Aku dengar merantai gigi sakitnya bukan main, Jingga. Bagaimana dengan merantai hati?”
“Ini beda kasus, Livi. Astaga, jangan kau samakan fisik dengan batin, jelas berbeda.” Jingga menyeringai sebal, paham maksud Livi. Apalagi kalau bukan berniat menyindir dirinya yang masih betah sendiri.
“Sama saja. Aku hanya ingin memberikan gambaran melalui perempuan berbehel itu. Tidak baik berlama-lama merantai hati dan pikiranmu, Jingga. Orang pakai behel, semakin lama semakin rapi, tapi tentunya perlu melakukan kontrol rutin seperti mengganti karet, mengencangkan kunci, per, serta perawatan lainnya. Kalau tidak melakukan pengontrolan dan perawatan rutin, lama-lama kawat akan berkarat. Sama seperti hatimu saat ini.” Livi menandaskan kopi vanilla latenya.
Jingga mengangkat alis, menyendok es krim yang hampir habis.
“Jangan kau pikir karat yang kumaksud adalah senyawa yang ada pada emas. Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku besi karatan. Nah, kau tahu kan bagaimana rupa besi dan kawat yang karatan? Contoh sederhana, kenapa manusia bisa meninggal hanya karena tertusuk paku atau besi di jalan? Besi, paku, kawat yang karatan itu akan menyebabkan tetanus, infeksi, dan menimbulkan racun pada tubuh manusia. Sehingga manusia tidak dapat bertahan lebih lama. Coba kau renungkan.”
“Akan kucoba renungkan.” Jingga menelan suapan es krim terakhirnya dengan perasaan tertampar. Ucapan Livi masuk akal. Tapi ia belum mau membuka rantai itu. Memangnya semudah itu menambal hati yang berlubang? Livi ini selalu saja sibuk memberikan gambaran yang tidak-tidak perihal hatinya yang lama tak terisi oleh laki-laki.
Jarum jam terus berputar, merangkak ke arah 02.37 WIB. Hey, bukankah ini hampir pagi? Entahlah. Jingga tidak tahu apa yang harus diperbuat selain menangisi kemalangan kisah asmaranya. Meski ia sadar betul bahwa lima jam lagi harus beranjak ke meja kerja seperti biasa. Usianya kini mendekati kepala tiga, namun ia masih saja mengeles akan hal berbau cinta. Ia memanfaatkan kesibukannya sebagai wanita karir yang mempunyai jadwal lebih dari normal sebagai obat untuk meredam kekalutan hatinya, meski itu sama sekali tidak manjur. Menurutnya cinta adalah sumber malapetaka dan nestapa.
Di ruangan gelap gulita yang hening, isakan tangis Jingga berbaur dengan irama detak jantungnya yang seolah menyatu bersama iringan suara jarum jam dinding. Jingga, wanita yang terkenal ceria dan tegar, sedang tersedu di pojokan kamar apartemen, memeluk lutut, dan memikirkan hal rumit yang membuat hidupnya seperti tercekik.
“Tuhan, bolehkah aku jatuh cinta sekali lagi? Jatuh cinta pada orang yang tepat? Jatuh cinta pada orang yang tulus? Aku lelah, kenapa cinta itu selalu menyakitkan? Kenapa aku selalu gagal? Siapa yang salah? Aku tak pernah menyakiti, justru merekalah yang melukaiku, meninggalkan rasa trauma dan jejak luka yang membuatku benci setengah mati. Benci dengan kata CINTA..."
Jingga menjerit merintih. Air matanya bak hujan yang mengguyur hutan lebat. Tatapan matanya kosong. Balutan luka yang selama ini rapi, tiba-tiba merobek lagi. Basah. Luka itu kembali basah. Kenangan akan masa lalu bagai bayangan mejik yang sesuka hati muncul. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah bersamanya, Jingga tak pernah beruntung. Ia selalu saja tertipu. Ingatannya begitu kelam. Baginya hidup ini ibarat jeruji besi yang mengukung kebebasannya untuk mencicipi rasa bahagia.
Sesungguhnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi. Terlalu sakit, sungguh! Rasanya bagai dicincang, menyayat hingga ke rusuk tulang belulang. Jingga berceloteh pada selimut tebal sambil mengusap ingus, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, mencoret-coret dinding dengan cakaran kukunya yang belum sempat digunting. Ia tidak ingin air matanya terbuang sia-sia hanya untuk mengingat kejadian menyakitkan beberapa tahun silam.
Tidak. Kali ini Jingga tidak menangis karena rasa kecewa pada masa lalunya, melainkan karena rindu teramat dalam. Rindu yang kerap membuatnya terisak. Rindu yang tak kunjung terbalas. Rindu yang hanya bisa dirasakan seorang diri. Rindu yang terus menghujam dadanya yang semakin sesak, yang bahkan belum juga mampu menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan yang datang dari sang ibunda, saudara, kerabat, handai-taulan, dan sahabat-sahabatnya perkara jodoh.
Jodoh?
Dahi Jingga berkerut. Kepalanya mendadak berat. Dadanya sesak. Wajahnya berubah pucat. Tahu apa ia tentang jodoh? Bahkan tak akan ada yang menjamin pemahaman tentang perkara itu.
“Kenapa sih mesti ada perasaan? Kenapa pula harus ada cinta? Kenapa manusia harus menikah, punya suami, anak, cucu, dan ini-itu? Memangnya keluarga bisa membuat manusia bahagia? Haruskah seperti itu?” tukasnya sendu. Ia sudah berhenti menangis. Namun emosinya masih meluap laiknya Sungai Katulampa pada saat musim penghujan. Sesekali ia tertawa kecut, menertawai kemalangan nasibnya. Saat ia kecil, ayahnya pergi entah kemana. Meninggalkan ibu dan adiknya yang masih balita. Kenapa laki-laki selalu serakah? Kenapa di dunia harus ada cinta? Memangnya dunia mau bertanggungjawab atas hilangnya sang ayah? Jingga mengacak-acak rambutnya yang panjang. Gadis itu benar-benar frustasi.
***
Di belahan bumi bagian tengah, pada jam yang sama namun tempat berbeda, Azka dan Dewa sedang serius menonton pertandingan duel maut El-Clasico. Di kamar yang tidak terlalu terang cahaya lampu dan berukuran tidak begitu besar itu, mata Azka dan Dewa hampir tidak berkedip memandang layar televisi slim yang tertempel di tembok. Tangan kanan Azka sibuk mencomot cemilan kacang kulit yang disuguhi oleh ibunda Dewa, sementara Dewa asyik dengan secangkir kopi hitam sambil berseru-seru sebal lantaran tim kesayangannya kalah 1-0 di menit ke-40.
Kadangkala keduanya berteriak histeris jika striker gagal mencetak gol, atau salah satu menepuk dahi berkali-kali bila tidak jadi pinalti ketika ketahuan lawan bermain curang. Tak tanggung-tanggung, Azka yang memegang bendera berwarna biru-kuning, berlompat-lompat girang sembari teriak ala Tarzan menirukan gaya orang utan mendapatkan pisang tatkala tim jagoannya menjebol gawang. Sedangkan Dewa mengutuk tawa Azka dengan melempar bantal. Dua sahabat itu masih saja bertingkah laiknya anak kecil. Padahal boleh jadi usia mereka sudah tua.
Azka yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, sengaja menginap di rumah Dewa yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kesibukan masing-masing menjadi alasan kuat mengapa mereka sulit sekali menyatukan waktu. Demi menghormati tamu dari jauh yang juga merupakan sahabat karib, Dewa mempersilakan Azka berbuat onar di kamarnya, termasuk mengacak-acak benda milik pribadi yang hukumnya privasi dan konfidensial disela-sela waktu jeda.
“Kau masih menyimpan foto ini?” Azka menatap lamat-lamat foto usang yang tersimpan rapi di album biru berdebu milik Dewa sewaktu dirinya kecil.
“Ya, tentu saja aku masih menyimpannya. Bagiku foto adalah sebuah kenangan yang tak akan mampu dibeli dan kembali. Kita hanya tertawa atau menangis saat menatap wajah-wajah yang ada di album itu. Tergantung kenangannya, manis atau pahit.” Dewa ikut menatap foto hitam-putih ukuran 4R yang sedang dipegang Azka.
Di dalam foto itu, dia, Azka, dan Anggun sedang adu kelereng di bawah pohon nangka yang rindang. Bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang riang. Sungguh masa-masa kecil yang indah dan tak terlupakan. Tiga sekawan itu selalu bersama kemanapun pergi. Meski kadang Dewa melarang Anggun ikut bila hendak mencuri pepaya di kebun milik orang. Namun pertemanan itu tak lama. Dewa meninggalkan Azka dan Anggun saat dirinya lulus sekolah dasar, mengikuti ayah dan ibunya yang sudah selesai dinas di desa kelahiran Azka dan Anggun.
“Aku ingin bertemu gadis kecil itu.” Dewa menempelkan kepalan tangannya ke mulutnya berkali-kali. “Dia yang dulu sering kujahili. Dia yang memiliki senyum paling manis di antara gadis-gadis kecil yang lain. Dia yang selalu ingin menang sendiri. Batu. Tidak mau kalah. Lantas dia menangis bilang aku yang salah. Ah, pokoknya dia…”
Azka menepuk keras paha Dewa, “Bolanya sudah mulai, Kawan. Ayo kita nonton lagi. Coba kau tebak, jagoan siapa yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Pasti jagoanku.” Azka mencoba berkelakar.
Dewa tidak ikut tertawa. Dia merasa Azka mencoba mengalihkan topik pembicaraan mengenai masa kecil mereka. Waktu break memang telah berakhir, tapi pemandangan komentator yang mengoceh mengomentari ketidakbecusan sang kiper belum juga menghilang. Ini artinya bola belum berlanjut. Ia menginjak kaki Azka. “Kau tahu dimana dia? Aku ingin bertemu gadis itu.” Katanya serius.
Azka meringis kesakitan.“Sudahlah. Dia itu musuhmu. Kau yang sering mengatakannya padaku. Dia telah melupakanmu sejak selangkah kau meninggalkan desa tercinta kita. Kau tahu, dia tumbuh menjadi wanita yang jelek dan galak. Aku yakin kau akan menyesal bertemu dengan gadis kecilmu itu.” Azka membesarkan volume tv, sengaja betul menghindari topik pembicaraan.
Dewa bersungut-sungut kesal. Sialan, bukannya memberikan kabar yang sedap didengar tentang kawan kecilnya, Azka justru menjelek-jelekkan Anggun. Gara-gara Azka membuka album lama, ia jadi tidak konsentrasi menonton bola, cenderung sibuk memikirkan sosok Anggun. Apakah benar wajah gadis kecil yang tersenyum di foto itu tak seanggun namanya? Tiba-tiba hatinya tertantang untuk membenarkan ucapan Azka, kalau Anggun hanyalah sebuah nama, aslinya sama sekali tidak anggun, alias jelek, lebih tepatnya buruk rupa, ia harus membuktikannya.