Minggu, 07 Februari 2016

Legenda Citarik #Cerpem

10 Juli, 2010 - Citarik, Sukabumi

Pagi itu di sebuah ruang kerja.

“Boleh minta air minumnya?” tanyaku pada seorang perempuan berambut panjang yang sedang duduk menatap layar komputer.

Ia memandangku, bertanya siapa. Waktu hari pertama bergabung kerja di kantor ini, aku memang tidak sempat berkenalan dengannya. Menurut rekan kerja yang lain, kemarin dia tidak masuk karena penyakit asmanya kambuh.

“Ambil aja sih, ke atas. Manja banget. Gue juga buat minum obat, nih,” jawabnya ketus.

Aku langsung menciut. Dengan nafas yang masih tersengal lantaran mengejar beberapa angkot, aku melangkahkan kaki ke lantai dua. Sial, pelit sekali itu cewek, aku kan minta seteguk, bukan sebotol. Lumayan, kan untuk membasahi tenggorokanku yang kering sebelum menuju pantri. Aku menelan ludah. Sebal.

Kalian tahu dia siapa? Dia itu Mak Lampir. Admin gudang yang terkenal amat jutek dan galak sejagad-raya. Aku tak sudi hati jika harus berteman dengannya. Usianya terpaut tujuh tahun dariku. Saat itu aku masih fresh graduate, masih unyu-unyu. Sementara dia sedang menunggu kekasihnya yang menjadi TKI di Korea. Desas-desusnya sih, bila calon suaminya sudah sukses menjadi boyband, mereka akan segera menikah.

Namun kadang sesuatu yang dibenci justru sebaliknya. Sebulan kemudian aku malah akrab dengannya. Mungkin karena aku satu-satunya perempuan penghuni lantai satu selain dia. Dan dia lebih suka ribut dengan kutu kupret yang bernama Nata dan Sindoro. Maka sejak itulah aku resmi berbaikan.

Nata itu orang yang mengaku dirinya paling ganteng se-Planet Pluto. Sikapnya menyebalkan. Aku selalu sakit kepala jika harus meladeninya. Pantas saja Jenny sering bertengkar dengannya. Sedangkan Sindoro adalah nama gunung keturunan Tionghoa yang merupakan partner sejati Nata dalam mengubrak-abrik istana Mak Lampir.

Setiap hari peperangan di dalam gudang terjadi. Lagi-lagi Nata membuat ulah. Memancing amarah Jenny dengan hal sepele. Aku dan Pak Deka tak terhitung ribuan kali membantu memisahkan. Mereka ini seperti Tom and Jerry. Tak pernah seharipun akur.

Oh, ya, Pak Deka itu seorang messenger bagian penagih piutang dan surat menyurat. Aku sendiri menjabat sebagai kasir yang menangani pembayaran seluruh hutang dan piutang kantor pada pihak ketiga. Dari sinilah cerita itu dimulai.

Jenny Tarigan. Itulah namanya. Bila kalian tebak, dia pasti keturunan batak. Benar, tapi salah. Jenny adalah perempuan berwajah sunda. Bahasanya alus, tidak tinggi seperti negeri asalnya. Sejak lahir, dia memang sudah tinggal di Jakarta, sebelum akhirnya menetap di Depok. Jadilah Jenny tak bermarga, nama aslinya sejak lahir ialah Yenny Evelin.

Tapi bagiku, Yenny Evelin tidak cocok dengan kepribadiannya yang pemarah dan cerewet. Sehingga aku, Nata, Sindoro, dan Pak Deka menolak memanggil nama aslinya. Jenny melotot sebal. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sumpah serapah, “Akan gue kutuk lo semua jadi batu akik!”

Kala itu langit seketika menggelegar dan ruangan mendadak gelap. Ternyata hujan bercampur petir telah menyambar gardu listrik.

Juli, 2010, tepatnya tanggal 10, kantorku yang bergerak di bidang retail penjualan ponsel lokal, merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Masih balita sekali ya umur perusahaanku. Upss… maksudnya perusahaan my Big Bos.

Bu Nena selaku HRD, dan Pak Ilan selaku GA, belakangan ini sibuk menyiapkan ini-itu. Mulai dari tempat, catering makanan, bus, acara isi, dan tetek bengek lainnya. Maka seharian itu kami loncat kegirangan mendengar kabar bahwa kantor akan mengadakan outing ke Sukabumi (tetangganya Sukalangit).
***

“Loh, koq bus kita bablas sih, Pak? Bus 1 dan 2 mana?,” tanya Nata celingukan mencari jejak dua bus di depan kami. Setelah puas memetik gitar butut dan mengeluarkan suara falesnya, perutnya mulai kerucukan.

“Aduh, iya nih, Mas. Saya lupa belok. Kita harus muter dulu,” ungkap pak supir merasa bersalah.

“Yah, gimana sih, Pak. Nanti kita telat dong. Udah laper banget nih.” Pak Deka mengelus-elus perut, gayanya menyerupai ibu hamil yang tidak makan dua hari, dua malam.

“Sama nih, gue juga laper.” Sindoro memasang wajah super melas.

“Gue juga. Nanti yang lain udah selesai makan siang, kita baru nyampe,”

“Waduh, nanti gue langsung kurus dong,”

Beberapa peserta yang lain ikut mengeluh. Aku sendiripun lapar. Ini sudah pukul 12 siang. Seharusnya tiga puluh menit lagi sampai. Aku menepuk dahi, kecewa bukan kepalang.

“Kita makan di sini aja, kalau begitu. Tolong calling panitia bus 1 dan bus 2!” Pak Deka sok sibuk. Ia membuka kardus besar dan membagi-bagikan bungkusan catering ke seluruh penumpang.

“Heh, Nata, bantuin gue dong bagiin kotak nasi!” Pak Deka memelototi Nata yang asyik melantunkan lagu bujang lapuk.

“Ogah ah, males. Sini, gue bantuin makan aja,” Nata menjawab cuek.

“Lo tuh ya, nggak bisa sebentar aja bersikap jadi cowok bener,” Pak Deka menjitak Nata. Melempar kotak nasi catering ke pangkuannya.

“Aww… Sakit tahu…” Nata menangkap sekotak nasi catering. Cengengesan. Ia memang laki-laki yang selalu menyebalkan sepanjang masa.

Aku merogoh ponselku di kantong ransel hitam. Mencari kontak Pak Ilan. Biar aku yang berinisiatif menghubunginya.

"Halo, Pak Ilan. Aduh, gimana ini, kita kebablasan. Supirnya lupa belok. Disangkanya belokan di lampu merah depan. Ini harus muter balik jauh banget,”

“Ye, gimana sih. Ya udah, kira-kira kalian berapa lama lagi nyampe lokasi? Kita udah nyampe nih. Mau siap-siap lunch.”

“Yah, sebentar, Pak, gue nanya sama supirnya dulu,” Aku berdiri dari tempat dudukku yang terletak di sisi kanan pertengahan, berjalan berpegangan pada jok mendekati pak supir.

“Pak, kira-kira kita sampai jam berapa?”

“Saya kurang tau, Neng. Semoga di pasar perempatan tidak terhalang macet. Kalau lancar, 1 jam sampai,” jawab Pak supir seraya melirik spion kanan dan kiri.

Aku menjelaskan apa yang diucapkan pak supir barusan pada Pak Ilan. Kemudian kembali duduk ke bangku semula.

“Maaf ya, Pak, Bu, saya supir baru belum terlalu hafal jalan.” pak supir menengok ke belakang saat kemacetan terjadi. Wajahnya merasa bersalah.

“Oww…..” Peserta bus 3 kompak membentuk huruf ‘o’.

Pantas saja, pikirku. Aku menepuk jidad untuk kedua kalinya.

“Sudah-sudah, mungkin ini takdir kita harus nyasar. Lebih baik kita makan.” Aku mencoba mendamaikan keributan.

“Bener kata Vicka, yang penting perut kenyang. Nyam-nyam-nyam..” Pak Deka semangat sekali menyantap paha ayam.

“Ya udah sih, pada berisik aja. Nanti juga kalo udah kenyang pada diem semua,” Jenny membukakan sayur untukku, ikut buka suara.

Jenny menatapku galak karena terlalu lambat mengunyah. Aku buru-buru melahap tumis kacang panjang, menyendok nasi beserta rendang, dan memasukkan lagi capcay secepat mungkin ke dalam mulutku yang penuh agar Jenny tidak berubah menjadi mak lampir. Jenny sangat tidak suka melihat gaya makanku yang lelet. Kalau diperhatikan, lauknya banyak sekali. Aku dan Jenny larut dalam santapan.

Makan besar di sebuah bus dalam keadaan menanjak dan berliku ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Juga bagi Jenny, Nata, Sindoro, Pak Deka, dan seluruh penumpang bus 3. Rasanya seperti menaiki roler coaster. Saat mobil belok ke kiri, aku harus menahan dengan kaki dan tangan agar tidak jatuh ke samping. Begitu sebaliknya. Pada saat menanjak, menurun, dan mobil ngerem mendadak, perutku bagai di acak-acak.

Kalau bukan karena lapar, aku malas makan. Tapi ketika melihat ke jendela, aku lupa dengan perutku yang digonjang-ganjing. Lupa kalau aku sedang makan besar di dalam bus. Pemandangan di luar sungguh aduhai. Hijau sejauh mata memandang. Sebelah kiri berbaris pepohonan yang menjulang dan bukit-bukit kecoklatan, kanannya jurang yang membentuk bukit-bukit indah.

Sebelumnya, kami harus meliuk-liuk di medan yang sempit dan menanjak tajam, menerobos gelapnya hutan. Di tanjakan curam dan berbelok, aku melihat ada bus sejenis yang kami tumpangi terjatuh di sisi jurang. Persis di persimpangan jalan menanjak.

“Itu kenapa?” Aku terbelalak melihat bangkai bus yang naas terguling di sisi kiri jalan.

“Jatuh, mungkin.” Jenny asal tebak.

“Ngeri ya… Hutan ini angker, sama kayak lu, Jen.” Aku bergidik.

“Enak aja. Jangan bilang gue mak lampir,” Jenny meneguk air botol kemasan. Tak lama ia terbatuk-batuk. Wajahnya pucat pasi. Ia minum saat mobil sedang berguncang, membuatnya tersedak. Asmanya kumat.

"Eh, lo kenapa, Jen? Asma lo kambuh? Bawa obat?” Aku meletakkan kotak makanku dan mengecek tasnya.

“Gue lupa Vick. Obatnya ketinggalan di kosan,” jawab Jenny patah-patah. Ia terbatuk lagi. Ia seperti baru saja menelan kodok.

Aku langsung mengomelinya karena ceroboh lupa membawa obat pribadi. Perjalanan ini jauh dari apotek, klinik, dan rumah sakit. Bagaimana kalau dia sekarat? Bagaimana kalau dia lewat? Pikiranku bercabang kemana-mana. Aku mencoba mengelus-elus punggungnya. Menyuruhnya minum air yang banyak pada saat mobil berhenti.

Biarpun kadang dia galak, tapi Jenny sudah seperti kakaku sendiri. Kami terbilang dekat. Aku bahkan sering menginap di kosnya karena kemalaman nonton bioskop ataupun belanja ke mal. Jenny juga selalu menyediakanku makanan dan baju ganti. Jenny orang yang bawel tapi perhatian. Dia juga kadang berkunjung ke rumahku jika malas pulang ke Depok.

“Eh, lihat, Jen, ada gubuk di tengah hutan,” Aku tak bisa mengedipkan mata. Berharap apa yang kulihat hanyalah halusinasi semata.

“Lo kebanyakan nonton film horor kali, makannya di otak lu cuma ada sosok mak lampir beserta teman dan aksesorisnya.” Wajah Jenny sudah kembali normal. Asmanya sudah menghilang. Ia baik-baik saja.

“Lo mah nggak percayaan sih orangnya. Coba lihat tu!” Aku menunjuk ke belakang. Sayang, mobil sudah meliuk lagi ke atas.

“Mana? Orang nggak ada,” Jenny telat. Aku ingin sekali menjambak rambutnya.

***

Setelah satu jam membuat rusuh di dalam bus, akhirnya kami tiba di lokasi. Rekan kerja yang berada di bus 1 dan 2 menyambut kami dengan ejekan. Mereka baru selesai makan.
Seseorang berseragam memberikan instruksi menggunakan toa. Menyuruh kami berbaris di pinggiran sungai berbatu.

“Ini kekecilan, Neng. Ntar lu engap,” Jenny membantuku memasangkan tali pelampung ke depan dada.

“Ini udah pas, Jenny,” Aku bersikekeuh. “Tolong bantuin gue cari dayung yang warnanya abu-abu juga,” tukasku sembari mengencangkan tali helm yang berwarna biru telur asin. Helm yang lebih mirip dengan peralatan orang kontraktor.

“Rewel banget sih lu, Vick. Iya kalo ada, kalo nggak ada lo mesti ngecat dulu tuh dayung,” Jenny celingukan ke mobil bak. Tidak ada apa-apa lagi di sana. Ia merebut dayung dari tangan Nata yang diselipkan di pahanya.

“Ih, apa-apaan sih lo, Mak Lampir. Ngerampok barang gue,” Nata melotot.

“Lo cowok, harus ngalah sama cewek,” Jenny balas melotot.
Keduanya main tarik-tarikan. Tidak ada yang mau mengalah. Aku menggeleng-gelengkan kepala.

Guide yang melihat pertengkaran antara Jeny dan Nata segera melerai, “Jangan berebut, masih ada lagi.” Laki-laki yang membawa toa itu terbahak menyaksikan dua makhluk yang sama-sama ngotot.

“Nah itu mobilnya sudah datang,” Pak pemandu menunjuk mobil bak yang berisi dayung, pelampung, dan helm, bekas peserta dari rombongan lain yang telah selesai menuntaskan keseruannya.

Nata dan Jenny saling berkejaran. Lagi-lagi berebut dayung. Padahal jelas-jelas Nata sudah memegang satu dayung. Akupun tidak mau kalah, ikut berebut dengan mereka dan peserta lainnya. “Yah, kok warnanya ungu sih, kan gue nggak suka. Nggak mau ah,” Aku memanyunkan bibir.

“Ah, lu mah ribet bener hidupnya, Vick. Nih tukeran sama gue,” Jenny menyodorkan dayungnya yang berwarna hitam.

Aku menukar dayungku. Meski tidak terlalu suka hitam, tapi setidaknya bukan terong-terongan. Jenny gantian memanyunkan bibirnya. Sebal.

Nata memutar-mutar dua dayung di tangan kanan dan kirinya berlaga menjadi pendekar abal-abal. “Dasar stres,” Jenny sengaja menyenggol bahunya. Yang disenggol melotot, menipu mau memukul dengan dayung.

“Kalau mau geser ke kanan, maka awak bagian kanan mendayung ambil dan awak sebelah kiri mendayung buang. Posisi sebelah kiri pindah ke tengah. Begitu sebaliknya. Jika aba-aba mundur, maka semuanya harus mendayung ke belakang. Seperti ini…” Guide mempraktikan dengan dayung.

“Oh ya, ujung dayung jangan sampai menyentuh temannya di belakang. Khawatir akan mengenai rahang. Nanti giginya rontok, kasihan.”

Pak Pemandu menjelaskan panjang lebar aturan main dalam rafting. Dari mulai aba-aba geser kanan, kiri, balik kanan, balik kiri, maju, mundur, mendayung saat sungai dangkal dan aliran deras, saat aliran tenang, bila perahu terbalik atau tersangkut di batu besar, dan sebagainya. Semuanya bertujuan untuk keselamatan peserta.

Usai pengarahan, kami yang memakai perlengkapan macam banteng takeshi berhamburan menaiki mobil pick up yang sudah disiapkan panitia. Aku, Jenny, dan Pak Deka duduk di pinggiran mobil bak. Suasana ketika menjadi tegang saat mobil kecil itu menanjak dengan kemiringan 45 derajat di atas jalanan berkerikil tajam. Kalau mobil ini oleng sedikit saja, mungkin tubuh kami akan lebam oleh tajamnya bebatuan yang dibiarkan tanpa aspal.

Bukannya takut, Nata malah berdiri, berteriak-teriak pada pepohonan yang berbaris di sisi kanan dan kiri jalan. Sindoro meniru gaya Nata yang tidak bisa diam. Aku dan Jenny berpegangan kuat. Mobil ini sepertinya sudah teruji tahan banting. Bannya bebal, meski menginjak batu-batu yang tajamnya bagai pisau. Meski akhirnya aku terbuai dengan eloknya pemandangan. Pak Deka usil menyodok pantat Nata dan Sindoro dengan dayung.

Jalanan menuju hulu lumayan jauh. Adalah sekitar dua puluh menit kami berteriak mengusir tegang. Kami harus berjalan kaki sekitar 100 meter untuk sampai di sungai. Astaga, Nata dan Sindoro norak sekali. Mereka berdua main ciprat-cipratan. Tertawa macam anak kecil yang baru saja melihat air. Aku menggelengkan kepala.

“Ayo Vicka, Jenny, Nata, Sindoro, bergegas naik ke perahu!” Pak Deka begitu semangat. Ia orang pertama yang menemui Pak Edo selaku guide yang ditunjuk panitia untuk menyaksikan ulah kami berlima.

Kalian tahu ini di mana? Ya, benar sekali, ini di Citarik, sungai beraliran deras yang terkenal dengan petualangan raftingnya. Ide ini adalah hasil voting sebagian karyawan PT DUNIA HARUS TAHU dalam rangka merayakan ulang tahunnya kali ini.

Aku setengah takut saat hendak naik ke perahu karet yang diikat tali tambang agar tidak hanyut terbawa aliran sungai. Arusnya yang kencang, membuatku susah menaikinya. “Gue nggak ikut ah,” Aku mundur satu langkah, ragu.

“Apa-apaan lu, Vicka, jauh-jauh ke sini nggak ikut. Nggak bakal ada kenang-kenangan yang lo bawa pulang,” Jenny menarik tanganku, gemas.

Nata dan Sindoro meledekku si penakut, “Jenny aja yang penyakitan berani, masa lo takut?”
Aku tidak terima dengan ledekan mereka.

Maka dengan perasaan takut yang luar biasa, aku naik ke perahu. Pak Deka dan Jenny menyemangatiku. “Ayo, Vicka, takhlukan ketakutanmu!”

“Apa di sini pernah ada korban meninggal dunia, Pak Edo?” Tanyaku mengintrogasi. Di depanku batu-batu besar terpampang tak beraturan. Airnya yang deras membuat jantungku ingin copot.

“Semuanya akan baik-baik saja, asal kalian ikuti instruksi saya,” jelasnya menenangkan.

“Sejauh ini belum ada korban, Mbak. Nikmati saja arusnya, sebagaimana kita mengikuti arus kehidupan yang berliku, terjal, dan penuh drama ini,” Pak Edo melebarkan senyum ke arahku, mengingatkan semuanya sudah ada yang mengatur.

Entahlah, aku tidak tahu apakah Pak Edo hanya berusaha menenangkan hatiku, seolah semua pemain di sungai deras ini tak ada yang hanyut ataupun meninggal.

Aku dan Jenny duduk di depan Pak Edo, di deret belakang. Sementara Nata dan Sindoro di deret depan, membiarkan Pak Deka menjadi penyeimbang di ujung depan.

“Siap?” Pak Edo memberi aba-aba. Tali perahu yang terikat di batu segera dilepas. “Ikuti perintah saya, dan ingat-ingat penyuluhan di bawah tadi,” Pak Edo mulai mengayuh dayungnya ke depan, membuat posisi kami memutar.

Aku dan Jenny berteriak saat perahu karet dengan lincahnya bergerak maju. Nata dan Sindoro ikut-ikutan berteriak dengan suara yang membuatku pusing.

“Geser kanan!” Pak Edo memberikan instruksi. Baru jalan setengah menit, perahu kami terjepit di batu besar. Aku yang berada di sebelah kiri segera menggeser posisi duduk pindah ke tengah. Nata yang berada di depanku lupa, sehingga posisi perahu tidak mau bergerak.

“Nata, geser duduknya ke tengah!” Tegasku berteriak.
Nata menoleh dan segera memindah posisi duduknya.

“Dayung ke kanan!” Pak Edo berusaha kuat menghentakan dayung ke batu, mengayunkannya dengan teknik membuang, agar perahu lekas keluar dari himpitan.

Aku, Jenny, Sindoro dan Pak Deka mengikuti instruksi. Namun Nata masih saja keder dengan aba-aba dari pak pemandu.

“Nata, please deh ayun dayungnya ke kanan, kalo lo nggak mau perahu kita stag di tempat.” Aku berteriak ke kupingnya. Geregetan.

“Eh?” Nata menoleh bingung. Ia lupa apa yang harus dilakukan. Atau memang kupingnya sengaja disumpal kain super tebal sehingga ia tidak jeli mendengarkan bahan penyuluhan yang diwejangkan oleh pak pemandu saat briefing tadi.

Peserta lain yang lewat bersorak-sorai memberikan semangat. Merekapun berteriak histeris saat pelampung itu menabrak batu besar di hadapannya dan melesat kencang di aliran yang deras. Berseru saat berhasil melewati tantangan.

Sungai ini lebar dan liar. Kanan dan kirinya dipenuhi pohon nyiur yang melambai. Rumput-rumput ilalang tinggi menjulang. Langit biru berawan menjadi atap yang menyenangkan. Air semi coklat yang beriak tak lagi membuatku geram.

“AWAASSSS!!!!” Aku berteriak spontan. Membuat perahu oleng ke kiri. Sindoro kehilangan kendali. Dayungnya terpental. Tubuhnya terjerembab ke luar perahu. Mirip papan triplek mengapung dalam air. Megap-megap.

Bukan membantu menolong, aku, Jenny, Nata, dan Pak Deka terbahak. Pak Edo mengatur posisi perahu agar tidak bergerak. Segera menyodorkan dayung untuk menarik Sindoro ke dalam perahu. Pak Deka yang kasihan ikut membantu.

“Ngapain dibantu sih, Pak, biarin aja dia nyium batu. Gakgakgakgak…” Nata menirukan suara burung Gagak. Cengengesan merasa tidak berdosa. Padahal selama ini ia juga bandel. Disuruh kayuh dayungnya, diam saja. Diminta geser tengah, juga diam saja. Giliran jatuh, baru deh minta ampun.

“Lu jangan bahagia dulu, Nata de coco. Nanti pas lu jatuh kita nggak mau nolongin lu,” Jenny tergelak dengan ucapannya.

“Sial! Lumayan juga nyium batu,” Sindoro mengusap lututnya yang lebam. “Ini semua gara-gara Vicka sama Jenny,” Sindoro bersungut-sungut kesal sambil terkeukeuh.

“Enak aja gara-gara kita. Lo sendiri bandel nggak mau pegangan. Merasa udah lihai,” kataku membela diri.

“Iya, tapi kan gara-gara teriakan kalian gue lupa pegangan.” Sindoro masih berbelit.

“Udah-udah, bosen gue denger kalian nggak pernah akur,” Pak Deka mencoba melerai.

“Syukurin… Hahahaha,” Nata meleletkan lidah ke Sindoro yang meringis kesakitan. Teman macam apa dia, tertawa di atas penderitaan sahabatnya sendiri.

“Elu juga, Ta. Mau ikut jatuh kayak Sindoro?” Pak Deka melotot galak.

“Nggak mau lah gue. Lu aja, Pak! Gue belum kawin.” celotehnya menyebalkan.

“Lanjut lagi ya.. Masih semangat kan? Sebentar lagi di kilometer 4,5 kita istirahat. Di sana ada kelapa segar yang siap menyambut.” Beber Pak Edo menengahi perkelahian kami yang membuatnya gagal konsen mengemudikan perahu karet.

“Di tikungan depan, sebelah kiri, ada photographer. Siapin gaya kalian yang paling gokil,” beber Pak Edo sambil menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik karena tingkah kami yang tidak bisa diam.

Tanpa disuruh dua kali, Nata menunjukkan gaya super alaynya. Menempelkan kedua jarinya ke pipinya yang tirus. Sindoro tidak mau kalah, memamerkan giginya seperti kuda. Pak Deka memperagakan gaya mengepal senapan ke udara dengan tampangnya yang serius.

Aku dan Jenny bingung harus berpose seperti apa.

“Neng, gaya Patung Liberty aja, kayak gue,” Jenny dengan PD menirukan patung yang dilihat melalui majalah, belum pernah ke sana. Sedangkan aku menirukan patung pancoran yang tidak mandi selama bertahun-tahun.

Pak Edo menepikan perahu karetnya. Beberapa rombongan lain yang juga mengenakan kaos putih senada melambaikan tangan. Menyuruh kami ikut meneguk buah kelapa yang langsung dari pohonnya.

Meski hanya duduk di perahu karet, mendayung asal-asalan, nafasku tersengal. Rasa haus dan lelah mengantarkanku pada bulir buah nyiur tanpa tambahan pemanis yang membuatku segar kembali. Perjalanan kami masih setengah jalan. Artinya masih 4,5 kilometer lagi untuk mengarungi derasnya Sungai Citarik. Seperti biasa, Jenny dan Nata kembali bertengkar berebut buah kelapa.

“Gue duluan,” Nata tidak mau mengalah.

“Lo tuh emang bikin gue darah tinggi, Ta. Sebel gue liat lo,” Jenny berlalu pergi, mengahimpiriku yang asik menyedot air kelapa.

Jenny terus mendumel karena kelakuan Nata yang tidak pernah mau mengalah. Aku menyerahkan sisa air kelapa dan menunggu giliran ke belakang.

“Si Jenny berantem lagi sama Nata?” Pak Deka membawa dua kelapa di tangannya.
Aku mengangguk.

“Ini buat Jenny…” Ia menyerahkan satu kelapa di tangan kanannnya.

Aku menerima buah kelapa dari tangan Pak Deka dan langsung balik kanan. Sekilas memperhatikan Sindoro sedang meluruskan kakinya yang mulai membiru akibat jatuh beberapa menit lalu.

“Woy, Vicka… Kakak lu berantem lagi sama si Kutu Kupret?” Sindoro berteriak, kepalanya mengangguk-angguk macam golek.

Aku menoleh, menjawabnya dengan senyum terpaksa. Bukankah selama ini Jenny dan Nata terkenal dengan julukan Tom & Jerry? Kalau begitu, kenapa harus diperjelas lagi, pikirku malas.

Thanks, Neng. Lo nggak mau lagi?” Jenny sumringah melihatku membawa satu butir kelapa utuh untuknya.

“Nggak, ah, udah kenyang. Gue mau makan kelapanya aja. Sini!” Aku merebut kelapa milikku dari tangan Jenny.

Perempuan bertubuh tinggi dan berambut panjang itu langsung menyedot air kelapa dengan ekspresi haus bandel. Aku tertawa. Mengingat umurnya yang berjarak 7 tahun, Jenny terlihat sepantaran denganku.

Perjalanan ronde dua dilanjutkan. Masih dengan posisi awal. Pak Edo sibuk menginstruksi kami untuk segera naik ke perahu karet. Aku dan Jenny sudah penuh baterai. Kami bisa berteriak lantang melawan derasnya arus kehidupan. Sindoro sudah membaik, meski lututnya lebam. Pak Deka sejam lebih muda dari sebelumnya karena meneguk bulir kelapa hasil panjatan dari pohonnya langsung yang dikupas secara mendadak oleh panitia rafting.
Sementara Nata masih saja jelek. Tidak ada tampang ganteng-gantengnya dari dulu. Dan selalu menyebalkan.

Aliran Sungai Citarik memang tiada duanya. Pantas saja disebut Citarik. Menurut arti bahasa Sunda, ci itu artinya cai = air, dan tarik = kencang atau deras. Maka Citarik merupakan air yang mengalir kencang nan deras.

Rafting ini sungguh menegangkan. Karena kalau tidak bisa mengendalikan perahu secara benar, maka bisa saja kami terjatuh seperti Sindoro dengan oleh-oleh lebam. Jika jatuhnya pas dialiran yang tidak terhalang batu, tubuh kita bisa terbawa arus kencangnya, hanyut. Belum lagi jika harus terbentur batu-batu besar dan alat keselamatannya bermasalah, maka nyawalah taruhannya.

Kami hanyut dalam derasnya air Sungai Citarik. Berseru jika tersangkut di batu besar. Menghanyutkan segala beban yang selama ini terus mengganjal. Melupakan semua hutang, juga mantan. Tertawa lepas memarahi Nata yang susah diatur. Meneriaki Sindoro dan Pak Deka agar berpegangan.

Air sungai yang dingin ini mampu membius kulitku dari sengatan teriknya matahari. Meski petualangan ini membutuhkan banyak tenaga, namun tak setetespun keringat keluar dari tubuhku. Mungkin karena aku terlalu asyik bermain dalam seluncuran air, tidak menyadari kaosku basah oleh cipratannya yang menyatukan keringatku dengan air sungai.

Bila posisi sungai datar, maka kami akan kerja keras mendayungkan perahu agar melaju. Air yang tenang menandakan kedalaman sungai yang lumayan. Disitulah kami bisa bersantai barang sejenak untuk menghemat tenaga atas teriakan, tapi tidak untuk tangan kami yang terus mendayung agar perahu maju ke depan.

“Lu mandi sama gue, Vicka. Semua kamar mandi penuh,” Jenny menenteng handuk ekstra mini di tangannya, disertai sekotak plastik sabun dan sampo.

Kamar mandi ini penuh sesak oleh peserta lain. Pilihan mandi bareng adalah pilihan yang paling tepat agar kami tidak kemalaman berada di basecamp pinggir sungai. Tidak ada kamar untuk bersolek ria ataupun untuk rebahan. Karena memang Bu Nena dan Pak Ilan tidak menyediakannya. Ganti bajupun di kamar mandi. Mengenaskan, bukan? Kata Pak Ilan, biar kita menghargai alam. Jangan mentang-mentang hidup di kota, maunya serba mewah.

Para bos dan jajaran petinggi lainnya pun mendapatkan perlakuan yang sama. Mereka sedang berbincang seru di saung dekat kamar mandi dengan anak buahnya. Tertawa. Kegiatan outing ini sungguh membantu merukunkan suasana. Tidak ada lagi jabatan manager dan anak buah. Tidak ada lagi posisi tinggi dan rendah. Semuanya membaur menjadi satu.

Selepas mandi, kami bersiap-siap menuju rumah makan yang sudah dipesan Bu Nena. Letaknya cukup jauh dari sini, sehingga kami harus naik bus. Aku dan Jenny tidak sempat berdandan. Menyisir rambut saja sambil jalan.

“Pak Deka, ayo! Lu mau ditinggal sendirian di sini?” Jenny melambaikan tangannya di samping pintu.

Pak Deka tersadar bus sudah siap berangkat. “Eh, tungguin gue dong, jangan ditinggal.” Ia menaiki anak tangga dan mencari bangku yang masih kosong.

Nata dan Sindoro kembali membuat ulah dengan memainkan gitar butut dan suara falesnya. Aku dan Jenny iseng melemparnya dengan kulit kacang. Semburat jingga di ufuk barat menandakan pergantian tirai dari siang ke malam. Udara dingin pegunungan membuatku menggigil. Pepohonan tinggi yang menjulang di sisi kiri dan kanan seakan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan.

Jenny terus menyuruhku makan. Entah itu roti, snack, buah, permen, dan apa saja yang bisa dimakan. Katanya untuk mengganjal perut karena seharian dikuras untuk mendayung dan berteriak. Mulutnya terus-terusan mengunyah. Kadang bila sebal oleh celotehan Nata dan Sindoro, Jenny berkacak pinggang, menjitak mereka satu per satu. Aku terbahak menjadi penonton. Pak Deka sibuk memisahkan.

Baru setengah jam duduk, bus mengalami hambatan. Bau kopling menyengat ke hidung. Pak supir menyuruh kami semua turun. Kemungkinan bus tidak kuat menanjak. Aku dan Jenny tanpa disuruh dua kali, langsung loncat. Mencari aman. Tas dan barang bawaan lainnya kami tinggalkan di jok.

“Aneh, padahal tadi nggak kenapa-napa, kan Vick?” Jenny mengibas-ngibaskan tangannya menghilangkan asap.

“Iya nih, aneh banget. Mungkin mak lampir ngikutin kita, Jen,” Aku mulai mengaco. Terbatuk dengan bau yang menyengat.

Jenny melotot sebal jika mendengar kalimat itu.

“Ayo, naik lagi, busnya sudah bisa.” Pak supir menyuruh kami semua masuk kembali ke dalam bus.

Syukurlah, aku menarik nafas lega.

Jika perjalanan lancar, kami diperkirakan sampai kantor pukul 10 malam. Namun hanya bertahan setengah jam sejak bus mogok, untuk kedua kalinya kami dipaksa turun. Bau kopling kembali menyengat. Membuat aku, Jenny, dan penumpang lainnya terbatuk. Bunyi mesin meraung kencang. Aku bagai terguncang.

“Kenapa lagi sih, nih? Heran gue.” Jenny menuntaskan batuk terakhirnya.

“Nggak ngerti, mungkin karena…”

“Jangan bilang yang nggak-nggak lagi deh, Vicka. Cukup!” Jenny melotot mengancamku.

Aku menutup mulut. Urung bercanda meledeknya. Kami berhenti di tepian hutan menunggu bus merangkak menjemput. Tak lama bus melaju lagi. Kami semua masuk kembali ke dalam bus tersebut. Kali ini lebih apes, setiap tanjakan, kami harus turun. Aku dan Jenny memilih untuk berjalan kaki saja. Tas dan ransel kami tinggalkan di dalam jok.

Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 19:00 WIB. Namun suasana hutan ini seperti sudah larut. Angin sepoi-sepoi mengibas anak poniku. Derik jangkrik dan kodok mengalun bersautan menjadi orkestranya. Aku menelan ludah. Jalanan menanjak dan menurun ini sungguh membuat bulu kudukku merinding. Di sini jauh dari perkampungan. Tidak ada lampu sama sekali. Hanya hutan yang gelap. Beruntung, bulan sedang purnama, jadi jalanan tidak hitam pekat.

Sudah hampir setengah jam kami berjalan menyusuri hutan. Bus yang kami tumpangi tertinggal jauh di belakang. Aku memperhatikan Jenny yang berjalan di sampingku, “Lo nggak nyesek kan dadanya?” tanyaku sembari memegang tangan Jenny. Semoga dia kuat dan penyakit asmanya tidak kumat.

“Nggak apa-apa koq, Vicka. Gue sehat walafiat,” Jenny tersenyum, menyembunyikan wajah lelahnya dariku.

“Kalo lo ngerasa sesek, kasih tau gue, kita berhenti dulu,” pintaku serius. Aku khawatir jika terjadi apa-apa padanya. Mengingat ini di tengah hutan yang jauh dari manapun. Susah sinyal, apalagi warung yang menjual minum.

Jenny mengangguk. Sekali lagu berkata baik-baik saja.

Nata yang berjalan di belakangku berkomentar, “Iya lu Jen, bilang. Gue nggak mau gendong lu, nyusahin tau,” Nata memanyunkan bibirnya.

“Siapa juga yang mau digendong sama lu, Ta. Ogah gue,” Jenny menoleh sebentar, enggan menanggapi ledekan Nata yang kian menjadi.

Aku berusaha melerai keributan. Percuma, mereka berdua memang ditakdirkan untuk saling bertengkar. Aku harus menggelengkan kepala berkali-kali, mengelus dada. Sabar Vicka, kataku dalam hati.

Sindoro berjalan tersuruk-suruk di samping Nata. Ia hanya tertawa mengomentari keributan dua sahabatnya, sesekali ikut meledek Jenny. Sementara Pak Deka menimbrung percakapan dengan karyawan lain. Malas meladeni Nata.

Desir angin yang lewat menyebabkan ranting dan daun bergesekan. Menimbulkan suara mencekam. Malam ini aku benar-benar nelangsa. Seharusnya aku sudah tiba di rumah makan. Ini malah olahraga malam. Keringat satu per satu bercucuran. Aku lapar.

Kadang tak selamanya duka itu menyedihkan. Tak berapa lama, mobil pick up yang kami tumpangi tadi siang berhenti menawarkan jasa. Aku dan Jenny antusias dan segera loncat ke dalam tumpukan perahu karet yang sudah dikempeskan udaranya itu.

“Eh, tapi tas kita gimana?” Aku baru ingat kalau barang bawaan kami tertinggal di bus.

“Nanti ada tim yang membawa tas kalian,” salah satu panitia rafting menjawab.

“Tapi nggak ada yang hilang kan, Pak?” Jenny memastikan.

“Semoga tidak ada. Bus yang kalian tumpangi masih berhenti dan tidak mau jalan. Supirnya menyuruh kami untuk membawa kalian hingga ke rumah makan. Pasti kalian lapar, bukan?”

“Bukan lapar lagi, udah hampir pingsan, tau nggak?” Jenny berceloteh jutek, nafasnya terengah-engah.

“Heh, kutu kupret, lu mau jalan kaki sampe besok pagi? Cepetan naik,” Jenny menimpuk Nata dengan sandal.

Nata menangkap sandal jepit Jenny, “Ih, Mak Lampir sialan, lu jangan berisik kek, kuping gue sakit,” timpal Nata sambil loncat ke tumpukan belakang. Disusul Sindoro, Pak Deka, dan karyawan lainnya.

Jadilah kami naik mobil bak beralaskan pelampung basah. Mau tidak mau. Bersyukur masih ada yang mau menolong di tengah hutan nan gelap gulita ini. Tanpa jaket dan syal, judulnya harus siap masuk angin. Aku, Jenny, dan rekan kerja lainnya menertawai nasib malang kami.

Laju mobil membuat tanganku harus mencengkeram kuat. Aku dan Jenny sudah tidak dapat berteriak lagi. Kami sibuk dalam diam. Begitu pula dengan Sindoro, Nata, dan Pak Deka. Purnama yang bulat terang, tersenyum menemani kami. Hanya deru mobil yang memenuhi gendang telinga. Selebihnya dingin oleh tiupan angin.

Dua puluh menit kemudian, kami tiba di rumah makan dengan tampang kusut acak-acakan. Pemilik perusahaan menyambut kehadiran kami dengan perasaan iba, “Ayo, langsung ke meja makan. Pasti kalian lelah ya?” Tangannya menunjuk ke meja parasmanan.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Bukan lelah lagi, tapi gempor. Nata langsung menyerbu makanan memba-bi-bu. Kalap. Semua makanan yang tersaji di atas meja dituang ke dalam piring super besar. Jenny seketika langsung memukul tangan Nata yang masih saja menyendok lauk ke dalam piringnya.Pak Deka dan Sindoro tidak mau kalah dengan Nata. Mereka meraih semuncung nasi putih, ikan bakar, dan lauk lainnya ke piring masing-masing.

Aku dan Jenny duduk semeja, menyendok dengan cantik bulir nasi ke dalam mulut. Tertawa.

“Lo nggak lihat kelakuan mereka? Kayak orang kesurupan ih, semuanya di masukin ke piring. Bikin malu aja,” Jenny mengunyah daging ayam dan sayur mayur. Menatap sirik Nata, Sindoro, dan Pak Deka.

“Mereka dari dulu emang udah malu-maluin. Biarin ajalah, laper mungkin,” kataku sembari menahan tawa.

“Kalian ngomongin gue ya? Nggak boleh ngomongin orang tahu, dosa.” Nata menimbrung ke meja makan. Diikuti Pak Deka dan Sindoro.

Seketika meja makan ramai oleh suara sendok, garpu, piring, dan keributan.
Setelah pengumuman karyawan terbaik, terajin, dan terimut selesai, waktunya menunggu doorprize yang sayang lagi-lagi aku belum beruntung. Kami pulang menaiki bus 2.
Sebagian ada yang ikut dengan rombongan para bos di bus 1. Mengingat kapasitas bus terbatas, maka dibuat aturan bahwa laki-laki harus berdiri.

Aku dan Jenny dipersilakan duduk oleh peserta laki-laki di bus dua. Nata membuat ulah. Merengek minta diberikan tempat duduk, “Please… kan gue capek, abis jalan jauh banget. Nanti gantian. Janji.” Dia merayu Pak Ilan.

Hari itupun menjadi legenda yang terlupakan. Kami tiba di kantor pukul satu dini hari akibat bus melaju sangat pelan menghindari jurang. Juga sempat terjebak kemacetan panjang. Sampai detik ini, aku tidak tahu nasib supir bus 3 yang berusaha menjalankan mesin di tengah gelapnya hutan. Sendirian.

Kamis, 14 Januari 2016

#DiaryNalla - Kesal yang Beralasan

Jakarta, 14 Januari 2016

Pukul 10 WIB (aku sendiri tidak memperhatikan tepat di angka berapa jarum panjang jam bergeser), ibukota digemparkan berita dahsyat. Pos polisi di seberang Gedung Sarinah, Thamrin, porak poranda oleh bom sejenis granat yang sengaja dilemparkan oleh pihak tak bertanggungjawab, entah ada modus apa di balik peristiwa itu. Desas-desus yang beredar di media mengatakan, tragedi berdarah itu merupakan bom bunuh diri. Sebagian ada yang berpendapat kalau insiden yang menewaskan tujuh orang itu semata-mata karena motif balas dendam, kepentingan politik. Ada juga yang berkomentar sebagai pengalihan isu penyerahan saham Freeport Indonesia pada pemerintah yang semestinya dilakukan besok.

Jauh sebelum berita ini tersebar di jejaring sosial, ramai-ramai orang membicarakannya, aku boleh bangga diri sudah mendengarnya lebih dulu melalui siaran radio, langsung di tempat kejadian peristiwa. Menurutku informasi dari siaran radio lebih akurat dan terpercaya ketimbang media lainnya. Aku yang sedang duduk anteng di ruangan kerja memandang layar komputer berjubel angka-angka, lebih tertarik menyimak pembicaraan rekan kerjaku yang membahas tentang terorisme. Mereka menambahkan buih-buih karangan bahwa bom masih akan meledak di beberapa titik, terutama mal-mal besar.

Jujur saja aku bergidik ngeri membayangkan jaringan teroris yang sudah menyebar luas dan siap meluluh-lantahkan Jakarta, melancarkan misinya di tanah air. Siapapun mereka, apapun namanya, aku tidak akan pernah setuju dengan tindakan anarki tersebut. Setelah dipenuhi cerita ngaler-ngidul di mana saja yang menjadi sasaran keganasan teroris, spontan aku memekik dengan kerasnya, memasang wajah pucat pasi mendengar kata Slipi dan Palmerah.

Oh, Tuhan, aku lupa, benar-benar tidak ingat, kalau seseorang itu, orang yang belakangan ini ingin memperbaiki masa lalunya, bekerja di kawasan Slipi, dan tinggal di daerah Palmerah. Betapa cemas dan khawatirnya perasaanku saat itu. Aku langsung merogoh ponselku, mengirimkan pesan bertanya kabar, berkali-kali menekan nomor teleponnya, menunggu nada sambung terputus oleh sambutan suara cueknya. Namun setengah jam tak ada jua jawaban. Aku benar-benar nyaris putus asa, tak ingin sesuatu buruk menimpanya.

Jantungku serasa ingin copot di tempat, pikiranku mendadak kusut terus terpikirkan dia. “Bagaimana keadaannya saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia selamat? Atau…?” Aku benar-benar mencemaskannya. Aku sungguh tidak mampu menghadapi kenyataan terpahit oleh pertanyaan terakhirku yang terpotong di tengah kalimat. Tidak! Aku tidak ingin kehilangannya lagi, kehilangan dia secepat ini.

Satu jam menunggu, dia masih bisu. Dua jam hatiku gelisah, dia sama sekali tidak ada tanda kehidupan. Tiga jam berlalu, oh, Tuhan, aku bahkan tidak dapat bernafas dengan hikmad, selera makanku mendadak hilang. Bukan karena melihat foto korban yang tergeletak naas dengan luka parah di jalan, melainkan terlalu sibuk memikirkan dia seorang. Hingga jam istirahat berakhir, dia belum juga merespon pesan singkat dan panggilan teleponku yang sembilan kali kuulang demi mendengar suaranya.

Di saat aku sudah pasrah menanti jawabannya, dia hanya membalas dengan dua huruf; “Gk,” – maksudnya ‘tidak’. Astaga, aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku mendapatkan pasangan sedingin dan secuek dia? Sejak tiga jam lalu aku tidak dapat konsentrasi menyusun laporan keuangan, lebih sibuk menerka tentang keadannya, dia hanya membalas malas. Betapa jengkelnya perasaanku mendapat perlakuan itu. Tapi setidaknya aku lega karena dia baik-baik saja. Sebenarnya aku tidak heran dengan sikapnya. Dia memang seperti itu; menyebalkan. Aku sering mengelus dadaku menghadapi sikap dinginnya yang kerap membuatku salah persepsi menanggapinya.

#DiaryNalla - DI KERETA MENUJU DEPOK

Jakarta, 25 Desember 2015

Meski hanya berkeliling seputar Jakarta menggunakan fasilitas angkutan umum seperti angkot, ojek, dan kereta, namun liburan panjang akhir pekan ini bagiku selalu menyenangkan. Siang itu cuaca ibukota sedang labil. Kadang mendung, kadang cerah, kadang hujan lebat. Aku yang sudah merencanakan menghabiskan tanggal merah selama empat hari ke Garut bersama sahabatku - Citra, mendadak gagal lantaran sesuatu. Alhasil setelah seharian muterin Blok M di tanggal 24 Desember bersama temanku yang lain, yakni si Mpok Yuli, maka tanggal 25 ini kusibukan diri dengan berkunjung ke rumah dokter gigi spesialis ortho di kawasan Depok.

Citra begitu sebal denganku. Sepanjang perjalanan ke Garut, ia terus menghubungiku melalui chat whatsap, bilang kalau aku manusia paling menyebalkan di seluruh muka bumi ini. Kamu yang mengajak, kamu pula yang tidak ikut, demikian celotehan sebalnya padaku. Lantas bukan itu yang ingin kuceritakan. Di sepanjang Perjalanan menuju Depok, aku bertemu dengan rombongan keluarga besar dan amat bahagia. Kenapa aku berpendapat begitu? karena hampir satu gerbong terdiri dari anak, cucu, menantu, kakek, nenek, cicit, dan buyut. Dan aku berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Emm aku sungguh merasa tersanjung sekaligus kesal.

Bagaimana tidak kesal, selama dua jam perjalanan mereka amat berisik. Anak perempuan yang berkuncir dua sibuk lompat-lompatan di samping tempat dudukku, kakaknya yang badannya gendut menyalakan games dengan suara sangat kencang. Nenek dan ibu mereka sibuk berceloteh tentang kenaikan harga sembako. Yang laki-laki terbahak karena bapak yang menggendong cucu balita di sebelah kiriku kejedot tiang pintu kereta.

Kala itu, ingin rasanya aku berteriak, menyuruh mereka diam. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Di gerbong lima ini hanya akulah orang asing. Anak-anak mereka berkejaran mondar-mandir, sementara orangtuanya cuek saja. Mereka juga bayar tiket, kan? Baiklah, aku mengalah, pikirku teramat jengkel.

Selasa, 27 Oktober 2015

Penyesalan Adya #SebuahCerpen #CerpenMotivasi

Perkenalkan, ini Kota Jakarta. Kota yang super sibuk, tidak pernah tidur, bising, dan sarat polusi udara. Di ibukota, tiada hari tanpa mengenal yang namanya macet. Padahal tidak ada si Komo lewat. Untuk mempersingkat waktu dan biaya akomodasi, kemanapun aku pergi, selalu mengendarai roda dua. Trotoar yang berfungsi sebagai media pejalan kaki, kerap menjadi sasaran empuk bagi pengendara motor. Dan akulah salah satu pengemudi nakal yang menikmati hak pejalan kaki tersebut dikala Jakarta tidak bergerak. Bagiku, keefisienan waktu di kota metropolitan amatlah penting. Time is money. Aku setuju dengan kalimat tersebut.

Orang bilang, aku mirip setan bila di jalan raya. Tetangga yang sempat kubonceng untuk membeli handphone baru, memilih turun di perempatan jalan karena katanya naik motor denganku, bagaikan naik wahana adrenalin. Ibuku sering berujar, “Nyawa kamu hanya satu, Adya… Bukan seribu.” Aku hanya mengangguk.

“Pulangnya jangan malam-malam, Adya… Jangan ngebut-ngebut di jalannya. Ibu pusing mendengar kamu mengeluh kesakitan acapkali jatuh dari motor.” Ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mulutnya juga ikut-ikutan sibuk menceramahiku.

Aku tertawa saja mendengar segala celotehan ibu yang hampir setiap hari mengingatkanku laiknya anak kecil. “Iya, Bu, aku lekas pulang.” Kucium tangan beliau setelah menandaskan sepotong roti bakar dan melesat pergi menggunakan kendaraan roda dua berwarna hitam.

Di pertengahan jalan, dua pengendara motor lain memancing amarahku. Pagi ini Jakarta tidak terlalu macet, tidak juga lengang. Aku yang jengkel oleh dua pengendara itu, langsung menarik pedal gas tiga kali lebih kencang. Adu balap pun terjadi. Aku meliuk ke kanan dan ke kiri, menyelip di antara kendaraan lain yang menghalangi laju kecepatan motorku.

“Woy, BRENGSEK!!! Gak punya mata ya?” Salah satu pengendara berseru sebal ketika stangnya tersenggol olehku. Aku tertawa. Suruh siapa jalannya pelan macam keong. Menghambat adegan balapanku saja.

Laki-laki berjaket kulit coklat yang sejajar denganku, melayangkan jempol tangannya mengarah ke bawah. Sial, dia meledekku. Dia pikir aku takut dengan tantangannya? Dengar, ya, Adya tidak pernah takut dengan siapapun. Camkan itu!

Dua pengendara ninja itu memainkan gasnya, meledekku. Menimbulkan efek suara mengerang-erang pertanda perang masih berjalan. Motor belalangku ini tidak akan tinggal diam atas tawa meremehkan mereka. Maka, kutambah lagi kecepatanku menjadi 99 km/jam. Mustahil memang, mengendarai kendaraan secepat itu di jam berangkat kerja. Namun aku bisa mempraktekannya. Dan seperti biasa pula, pengendara lain yang kudahului selalu berseru sebal sambil membunyikan klakson kencang-kencang, menganggapku sudah gila.

Balapanku dengan dua laki-laki asing itu menjadi semakin panas tatkala kemacetan panjang menghadang. Emosiku yang meluap-luap, semakin meluber menahan amarah. Tak sabar mengantri di belakang, aku menyerobot jalur busway. Polisi yang melihatku, berteriak menyuruhku berhenti. Aku tak merisaukannya. Kuperkencang pedal gasku. Dua pemuda itu pun mempercepat laju motornya menyusulku dari belakang. Adegan track semakin panas.

“Kau tak akan bisa mengalahkan kami, Cewek Jelek. Mesin motormu KW, tak akan bisa menandingi mesinku,” Salah satu laki-laki yang menantangku mencibir.

Aku bersungut-sungut kesal, “Jangan menghinaku, Bujang Tengik! Kau akan bertekuk lutut di hadapanku bila aku menang. Curang sekali dua lawan satu. Lawan perempuan pula,” teriakku geram.

Dua laki-laki itu menyeringai, menambah laju kecepatan motornya, meninggalkanku lima meter di belakangnya. Aku tak mau kalah, kukejar dia dengan muka merah. Dia tertinggal satu meter di belakangku. Dua meter, tiga meter, dan aku menang.

Laki-laki satunya, berusaha menyejajarkan motornya. Sambil tersipu dengan senyum garang, “Kau boleh juga, Lady,”

Aku balik menyeringai. “Sudah kukatakan, kalian jangan sombong dulu. Karena aku yang akan memenangkan track ini,” ucapku puas. Itu sama saja mengajakku berkelahi secara jantan, meski aku seorang perempuan.

Namun ternyata mereka berdua licik. Peperangan belum kelar. Acara kejar-kejaran di jalur busway masih berlanjut tegang. Hingga akhirnya pihak polisi mengamankan pertengkaran tiga anak manusia yang berkelahi di jalan.

Hal seperti itu sudah biasa bagiku. Jujur, aku paling benci jalanan ibukota ketika jam berangkat dan pulang kerja. Macet dimana-mana membuat lelah. Semua pengendara tidak ada yang mau mengalah. Serobot sini, serobot sana. Dimana hampir semua spasi jalan penuh oleh kendaraan, khususnya roda dua dan empat. Dari jembatan penyeberangan, kepadatan kendaraan terlihat bagai kodok di musim kawin. Berisik, bikin gerah. Aku muak dengan bunyi klakson bersahutan. Aku juga harus ikhlas mengorbankan gajiku habis dipotong tiap hari gara-gara telat tiba di kantor.

Andai aku punya sayap, aku akan memilih terbang ketimbang bermacet ria selama berjam-jam. Atau bila Tuhan berbaik hati, aku ingin memiliki teman seperti Doraemon, yang bisa meminjamkan baling-baling bambunya agar terhindar dari kesemrawutan daratan.

Bila kau menjulukiku sebagai wonder woman, itu memang benar adanya. Tapi jika kamu menganggapku tidak pernah jatuh karena ketangguhanku, itu salah. Sini kuberitahu, tak terhitung sudah berapa kali kakiku lecet dan baret, wajah memar, tangan sobek, mulut berdarah, serta gegar otak. Dari semua kecelakaan naas yang pernah kualami, hanya ada satu yang kusesali seumur hidupku, yakni pada saat aku kesiangan menuju kantor klien untuk mengikuti meeting tidak penting. Saking terburu-buru, aku memotong jalan dengan cara melawan arah dengan amat tergesa-gesa. Saat itulah kejadian buruk menimpaku.

Siang itu, tabrakan beruntun pun tak dapat kuhindari. Selepas hujan mengguyur jalanan ibukota di bulan Januari, seusai aku bertengkar hebat dengan ayah lantaran membela hak ibu, aku tak sempat menguasai rem dan kopling motor belalangku. Alhasil aku menghantam truk besar yang melintas tepat di hadapanku dengan kecepatan maksimal.

Aku tidak tahu persis apa yang terjadi saat klakson kencang bergemuruh di kedua kupingku. Yang kutahu, aku terkapar di ruang ICU dalam keadaan menyedihkan. Ibu dan kakak perempuanku menangis tersedu-sedan, ayah bersedekap dada menatapku iba, dan Vian - tunanganku, takut-takut melihat kondisiku yang seluruhnya dibalut perban kecuali mata dan lubang hidung.

“Adya, kamu koma selama delapan hari, tujuh malam. Ibu kira, kamu akan pergi selamanya meninggalkan Ibu, Nak... Sudah Ibu bilang, kalau naik motor itu pelan-pelan.” Ibu menyeka air matanya dengan handuk kecil. Kak Dina yang berdiri di sampingnya tak mengucapkan apa-apa. Dia terlihat sama sedihnya dengan ibu, ikut sesegukan meratapi kemalangan nasibku. Sedangkan ayah, dia mengusap wajahnya yang sayu. Tampaknya tidak tega membiarkan anak bungsunya terbaring bagai mummy.

Dua hari setelah aku siuman, suster membantuku membukakan perban. Aku meringis kesakitan saat helai demi helai kain putih itu terkelupas dari kulitku. Perih. Rasanya bagai mengelupaskan kulit dari dagingku.

Dokter spesialis dibantu susternya, mengecek seluruh anggota tubuhku dan memperlihatkannya dengan kaca besar. Aku tercengang waktu menatap wajahku yang hancur. Lebih mirip hantu buruk rupa. Jeleeeek sekaliiii. Rambutku yang sebelumnya panjang, dipangkas habis-habisan. Kepalaku penuh dengan jahitan. Daun telingaku miring sebelah, lebih tepatnya sompel. Tulang hidungku penyok, serta gigiku rontok.

“Semuanya normal, kecuali kaki kanannya,” ucap dokter pada ibu, kak Dina, dan ayah.

Aku tidak mengerti apa yang diutarakan oleh dokter. Namun otakku memerintahkan syaraf untuk menggerakannya. Terasa berat. Aku mencobanya sekali lagi, tetap tidak bisa. Jari kelingking dan tengahnya putus, telapaknya remuk. Aku menangis merintih melihat keadaanku yang bagai mayat hidup ini. Semuanya terasa amat ngilu dan perih. Terutama pada sobekan kulit wajahku dan kaki kanan. Kalau begini, mana ada laki-laki yang sudi menerima kondisi fisikku? Mana ada yang mau berteman denganku nanti?

Buktinya, pasca kecelakaan, Vian hanya tiga kali datang menjenguk. Katanya dia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai tukang cukur. Entahlah, mungkin itu alasan dia mencampakkanku. Teman-teman serta kerabat tak henti-hentinya berkunjung menyampaikan ucapan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Aku tidak tahu apakah mereka tulus atau berpura-pura. Terustetang aku malu dengan keadaanku yang mengerikan ini. Akankah aku masih bisa bertahan dalam keadaan yang cukup lama? Entahlah, aku tidak tahu.

Pak dokter meminta persetujuan ibu untuk mengamputasi kaki kananku. Lagi-lagi aku berteriak kencang tidak setuju. “Jangan dokter, jangan potong kaki saya. Kumohon... Saya tidak ingin menjadi gadis buntung,” pintaku lirih sambil terisak.

“Adya, kakimu sudah busuk. Perlu dibuang. Daripada menjalar kemana-mana. Ibu tidak akan rela." Ibu terlihat menahan air matanya yang hampir tumpah.

"Ibumu benar, Adya, kakimu harus dieksekusi sekarang juga,"

Dadaku sesak mendengar vonis mengerikan itu. Aku tidak mau. Sungguh tidak mau! Kakiku pasti akan sembuh seperti sediakala. Dasar dokter bodoh! Mestinya dia punya obat dan peralatan medis super canggih untuk menyelamatkan kaki kananku. Bukannya malah memaksa untuk memotongnya.

“Tapi aku tidak mau kehilangan satupun bagian tubuhku, Ibu. Kembalikan rambut panjangku, kembalikan gigi-gigiku, kembalikan jari-jari kakiku, kembalikan telinga dan hidungku, kembalikan semuanya seperti dulu……” Aku sungguh tak berdaya meratapi kondisiku yang begitu memilukan.

Seminggu berlalu, aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Katanya aku bisa berobat jalan. Dengan begitu, ibu, Kak Dina, dan ayah, tidak perlu repot bolak-balik rumah-rumah sakit untuk merawatku.

Kak Dina mendorongku menggunakan kursi roda menuju mobil yang disewa ayah. Kini aku pulang ke rumah dengan kaki pincang dan raga yang tiada berguna. Di dalam mobil, Kak Dina banyak berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku di siang itu.

“Kamu masuk ke dalam kolong truk, Adya. Rambutmu terlilit di jari-jari, wajahmu mencium aspal. Saat kamu terpental, kaki kananmu terlindas ban depan. Kamu bandel banget sih jadi anak. Palai helm aja susahnya minya ampun. Mengetahui kabar buruk dari rumah sakit, kami sempat pingsan berkali-kali, Adya,” Kak Dina melirik kakiku yang lumpuh tak mampu bergerak.

Kulihat ibu menarik napas, lalu mengelus rambutku yang dipotong sembarang oleh suster hingga botak. “Untungnya otakmu masih bisa diselamatkan, Adya. Kalau tidak, mungkin kamu sudah lewat.”

“Lebih baik aku tewas di tempat, Bu, daripada hidup menanggung semua kesakitan ini. Aku ingin mati saja. Ayah, bunuhlah aku sekarang juga…” kataku berteriak.

Ayah yang duduk bersama supir di jok depan, menoleh dari kaca spion tengah. Beliau tidak menjawab. Barangkali dia masih membenciku.

“Semenjak pertengkaran itu, ayahmu tak banyak bicara, Adya. Ia menyesal telah membuatmu kesal. Maafkanlah ayahmu...” Bisik ibu sambil menciumi keningku yang penuh dengan luka.

Untuk beberapa bulan bahkan tahun ke depan, tampaknya aku mesti setia bertumpu dengan kursi roda dan tongkat seumur hidupku. Mau buang air kecil, aku digendong ayah. Mau salin baju dan makan, dibantu ibu. Mau melakukan apapun, aku butuh bantuan orang lain. Rasanya sangat tersiksa. Kedua orangtuaku sukarela menjadi perawatku di rumah. Bila jadwal kontrol tiba, mereka mengantarkanku ke rumah sakit. Aku selalu menentang jika dokter berniat mengambil kaki kananku.

“Adya, biarkan dokter menggantikan kaki barumu agar kamu tidak merasa tersiksa setiap detik. Ibu tidak tega menyaksikannya, Nak..” ucap ibu berusaha meluluhkan hatiku.

Apa? Kaki baru? Kaki manusia sudah mati atau kaki palsu buatan manusia? Enak saja. Aku tidak akan pernah mau menjual kakiku berapapun jua harga yang ditawarkan. Meski kata dokter kakiku sudah hancur dan tak berfungsi normal.

***


Setiap malam tiba, aku terbangun dari tidur lelapku karena rasa sakit yang bertubi-tubi. Sebenarnya aku tidak pernah bisa tidur lelap, mengingat seluruh tulangku rasanya patah, kulit wajahku pedih, kepala nyut-nyutan, dan rasanya serba salah. Meringkuk ke kiri salah, ke kanan juga salah. Apalagi disuruh tengkurap, terlentang saja rasanya aku menyerah.

Kalau sekadar rasa perih di wajah dan seluruh anggota tubuhku, mungkin bisa kutahan, meski air mata terus bercucuran menahan rasa perihnya. Namun sakit pada hatiku karena ditinggal calon suami, serta ngilu di kaki kananku yang remuk, rasanya bagai dicabut nyawa. Ya, Tuhan, mengapa Engkau membiarkanku hidup? Aku sudah tak berguna lagi, tak akan mampu membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Hanya bisa merepotkan. Jadi untuk apa? Biarkanlah aku mati!

Hukuman ini memang pantas kuterima. Aku tahu Tuhan sengaja membiarkanku hidup untuk menyesali tabiat burukku semasa sehat. Bila mungkin aku kembali pulih seperti semula, aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Bagi siapapun yang membaca kisah naasku, kuharap kalian bisa lebih menghormati tata tertib lalu lintas, tidak mengaku-ngaku jalan raya sebagai jalan milik kakek moyangmu. Gunakanlah selalu perlengkapan standard yang sudah dicanangkan dalam undang-undang berkendaraan, serta ingat selalu pesan orang-orang yang menyayangimu meski membosankan. Nyawamu bukan kacang yang dijual dengan harga murah, kamu juga bukan barang loak yang bisa diperdagangkan di jalanan.

Barangkali Tuhan menyuruhku untuk merenungi kesalahan fatal yang pernah kubuat dan menyebarkannya pada kalian. Barangkali, napasku tidak akan lama lagi berhembus menghirup udara dunia. Di ruang serba putih ini, aku mengenang jasadku yang hancur tak berbentuk.

Terimakasih untuk Kak Dina yang sudah mau merekam semua pembicaraanku, dan dengan ringan tangannya merampungkan kisah tentang penyesalan yang teramat dalam ini. Pun terimakasih teruntuk kamu yang berkenan membaca tulisan kakakku, yang mana mewakiliku dalam menceritakannya secara tidak langsung karena jemariku tak sanggup lagi menulis walau satu huruf.

Adya yang malang, telah lama berpulang. Setelah setengah bulan syarafnya bekerja keras mendorong fungsi hati dan otak yang ternyata tak kuat lagi menopang detak jantungnya yang semakin hari semakin melemah.

Aku Dina, kakak dari seorang Adya yang kini sudah bersatu dengan tanah merah. Semoga kalian bisa menjadikannya pelajaran, bahwa kecelakaan lalulintas merupakan momok paling menakutkan bagi siapapun yang tidak taat pada peraturan. Kadang yang patuh saja celaka, apa lagi yang brandalan macam Adya.

Takdir manusia memang sudah ada yang menentukan, tapi tidak ada salahnya kita menghindari kesalahan fatal yang membuat kita menyesal. Semoga penyesalan Adya bisa membuat mata kalian terbuka, untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkendaraan.


***The End***

Kamis, 12 Februari 2015

Dewi Awan #FlashFiction

Apakah kamu menyukai langit biru yang tak tersaput awan? Apakah kamu lebih tertarik melihat gumpalan awan mengotori birunya langit? Apakah hujan itu menyebalkan? Apakah kau takut melihat kilauan halilintar memenuhi angkasa? Apakah kehadiran pelangi bisa memberikan senyum terindah?

Bagiku semua itu adalah tontonan luar biasa yang diciptakan Tuhan. Lihatlah, awan-awan itu berarak tertiup angin. Kemudian membeku dan menggelap. Tak lama gumpalannya bertabrakan mengeluarkan suara halilintar dan kilat yang menyambar-nyambar. Hujan pun turun menciptakan suasana sejuk di muka bumi ini.

Oh, tidak! Sesuatu yang selalu kutunggu kehadirannya adalah pelangi. Pembiasan cahaya oleh rinai hujan itu mampu menciptakan warna yang menakjubkan.

Aku Dewi, gadis berusia 24 tahun yang sedang mencari jati diri. Tinggi badanku semampai. Alias 150 cm pun tak sampai. Sampai sih, aku hanya bergurau. Lebih malah, lima centi. Dan artinya tinggiku 155 cm. Berat badanku hanya 43 kg. Rambutku ikal, tidak hitam, tidak pirang. Biasa saja. Hidungku juga tidak mancung, tidak juga pesek, biasa saja. Daguku tidak lonjong tidak juga bulat. Biasa saja. Mataku pun tidak sipit, tidak juga belo. Biasa saja.

Kecantikanku juga biasa saja. Aku sungguh biasa saja. Tapi aku bersyukur menjadi makhluk Tuhan yang sempurna memiliki panca indera lengkap, organ tubuh komplit, dan otak yang cukup cerdas.

Hobiku memandang awan bergerombol di langit biru. Menyaksikan percikan airnya dari atas sana. Mengagumkan. Sama halnya aku mengagumi sosok Awan. Laki-laki berusia dua tahun di atasku yang kukenal melalui sahabat baikku, Tita. Awalnya aku menolak perkenalan itu mentah-mentah. Tetapi Tita memaksaku.

“Ayolah, Dew… sampai kapan kamu menjomblo seperti ini?”

Aku memang masih menikmati kesendirianku. Tiga tahun adalah rekor muri dalam sejarah hidupku memilih status single. Rasa trauma atas kegagalan berkali-kali di masa lalu membuatku enggan memulai komitmen dengan seorang lelaki. Tetapi apa salahnya mencoba membuka pintu hati yang kuncinya sudah tertimbun dalam-dalam.

“Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun saat ini, Tita. Maaf…”
“Ayolah! Apa salahnya berkenalan. Dia anaknya baik.”

Tita terus merayuku. Dengan berat hati aku pun menerima tawaran konyol sahabatku, berkenalan. Pria bertubuh tinggi, kurus, putih, dan tampan itu sepertinya orang baik-baik. Dan kamipun akhirnya berteman cukup dekat, sangat dekat.

Wahai, Ibu, es di kutub utara dan selatan tiba-tiba mencair. Aku mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Saat Tita memperlihatkan foto Awan pertama kalinya padaku. Dan saat pertemuan itu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya.

Kehadirannya bak hujan di tengah kemarau panjang, seperti pelangi pasca badai. Secepat itukah aku jatuh cinta padanya yang baru saja kukenal kemarin sore? Setelah bertahun lamanya aku sendiri dalam kesibukan tanpa seseorang.

Kami terjebak dalam keadaan ini. Perasaan yang hadir tanpa bisa ditawar. Serta pilihan yang tidak dapat ditolak. Awan memilih menjalani hubungan ini karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk merasa menjadi seorang yang sangat dicintai. Sedangkan aku harus bertanggung jawab pada hatiku yang terlanjur mencintainya.

“Kita sudah terlalu dekat, Awan. Aku tidak ingin perasaan ini semakin jauh. Apakah? Apa kau mencintaiku?”
“Jangan suguhkan aku dengan kalimat itu.”

Tuhan, maafkan aku yang selalu berdoa agar dia menjadi teman hidupku kelak. Memohon agar ia menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku. Aku terlalu memaksa. Awan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan untukku. Rasanya sakit. Awan masih belum siap menjalani hubungan yang lebih serius. Hatiku menggigil mendengar pengakuannya.

“Kita jalani saja dulu”
“Sampai kapan? Kita sudah menjalani hubungan ini. Aku tahu kamu sedang belajar mencintaiku.”
“Dengarkan aku, Awan…”
“Tengoklah ke langit siang, betapa indahnya gumpalan awan putih bergerak tertiup angin. Lambat laun warnanya menjadi gelap pekat menutupi sinar sang surya. Hatiku seperti itu. Membendung hasrat di pelupuk mata.”

Mungkin hujan dapat menghapus jejaknya. Mungkin pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Ternyata dia bukan hujan di tengah kemarau panjang. Dia juga bukan pelangi pasca badai.

Malam-malam ini menyesakkan dada. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang sudah. Oh, Awan… kau sungguh elok bersanding di birunya langit yang tak berbatas. Tapi aku tak dapat menyentuhmu. Aku tidak pernah punya kesempatan itu. Kini aku kembali pada kesibukanku semula. Menikmati kesendirianku.Bersabar menunggu seseorang berhati Malaikat datang menemuiku.

Tugasku adalah memupuk tanaman itu agar ia tumbuh subur. Namun jika ia tetap layu atau justru mati, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah berusaha. Berusaha mempertahankan hubungan ini semampuku.

Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, seorang Dewi yang mengagumi setitik awan lepas menari di birunya langit. Memesona sejauh mata memandang, namun tak bisa dimiliki. Ini hanya sebatas mimpi untukku. Tak akan pernah menjadi nyata. Awan semakin dingin, mengucurkan derasnya titik-titik air mata membanjiri pipi tirusku.

Perasaan tetaplah perasaan. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, pasti aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayang, hanya waktu yang mampu memulihkan semua ini. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seribu tahun lagi.
◊◊◊

Flash Fiction ini merupakan kontributor dari Hujan Bercerita yang sengaja saya publish di Blog.
Terimakasih sudah membaca.

Salam hangat,


Nalla Dewi

Kamis, 11 Desember 2014

Menjaga Gengsi #SebuahCerpen

“Selamat pagi…”

Begitulah sapaan yang selalu kudengar dan kuucapkan setiap tiba di kantor. Aku berjalan setengah berlari, terpogoh-pogoh menuju lantai dua dengan langkah kaki seribu. Mengingat lima menit lagi akan dilakukan briefing pagi. Celaka dua belas jika aku terlambat. Bisa-bisa si kepala botak menceramahiku seharian. Pak Dito, kepala Divisi Operasional Back Office yang paling galak se-jagad-raya yang akan memimpin briefing.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku berkali-kali. Setengah berlari ke ruangan briefing. Tiba-tiba kakiku membentur ember yang berisi air. Tubuhku terlentang bersimbah air kotor. Pakaianku basah kuyup. Mana tidak ada persediaan baju ganti di loker.

Semua orang memperhatikanku. Mukaku seketika merah padam. Ini tontonan yang sangat memalukan sepanjang peradaban dunia. Terperanga duduk di lantai dan terbasuh air bekas mengepel. Kotor, bau, dan ihhh… sebentar lagi aku akan gatal-gatal oleh sejuta kuman yang bersorak riang menyambutku.

Beberapa detik kemudian, seseorang dengan garis wajah menyenangkan, tinggi 180 cm, bobot 70 kg, hidung mancung, alis yang tebal, bibir berwarna merah, seperti dipoles lipstik tipis, dan dada yang membusung ke depan, terlihat berlari ke arahku. Dialah Aji. Pembantu dibagian bersih-bersih. Usianya setahun di atasku.

Aji segera membereskan letak ember dengan wajah sangat bersalah. Tangannya dijulurkan ke hadapanku. Mengajakku berdiri. Namun aku mengibaskan jemariku ke wajah kirinya dengan kencang setelah aku berhasil menapakkan kedua kakiku lagi dengan sempurna.

“Maksud kamu apa? Menaruh ember bekas pel di dekat tangga?” Tanganku mendorong ember hitam yang tergeletak didekat kakiku itu. Aku memarahinya tragis. Tak peduli tontonan menjadi heboh. Pak Dito yang terlihat batang hidungnya berdiri tegap di hadapanku, kedua tangannya terlipat. Beliau ikut menyimak tontonan layar terbuka antara aku dan Aji, si OB yang patuh dan taat pada semua karyawan salah satu Bank swasta tempatku bernaung mengais rezki.

“Maaf Mba, saya tidak sengaja. Karena saya pikir semua karyawan sudah tidak ada yang lewat sini lagi. Berhubung waktu sudah mendekati jam kerja.” Aji menundukkan wajahnya yang mendadak pucat.

“Kamu pikir dugaan kamu benar? Dugaan kamu meleset, Aji. Saya terpeleset. Dan lihat! Baju dan rokku basah. Memang kamu punya gantinya? Dan lihat! Wajahku!” aku menunjuk wajahku. Mirip sekali dengan anak pramuka yang sedang menjalani halang rintang, merayap di sebuah sungai kotor.

Aji hanya terdiam dan menunduk. Sebenarnya dia laki-laki yang dewasa. Selama aku lembur hingga larut malam, Aji tak pernah lupa membelikan makanan kesukaanku. Dan itu free. Padahal aku tahu, gajinya jauh lebih rendah dari gajiku. Aji juga teman yang pengertian. Dia selalu berhasil menebak hatiku yang kadang-kadang kusut seperti kaset tape recorder jaman dahulu kala. Tapi hari ini, kebaikannya berubah menjadi sosok yang sangat kubenci. Aku bermurka durjana padanya.

Suasana hening. Suara sepasang sepatu dari jarak lumayan jauh, lama-lama terdengar mendekat. Pak Kusdi, security yang berjaga di pintu masuk lantai dua mengingatkan Pak Dito bahwa waktu briefing sudah harus dimulai. Aku menelan ludah. Entah harus ikut dalam pengarahan pagi ini atau aku pulang ke rumah mengganti pakaianku yang tak sedap dipandang.

“Elinn, pagi ini saya kasih kamu kelonggaran untuk tidak mengikuti briefing. Cepat kamu ganti bajumu dan bersihkan badanmu! Para nasabah akan kabur jika melihat ada karyawannya yang kotor sepertimu.” Dengan nada sadis, Pak Dito meninggalkan tontonan murahan ini.

“Tapi Pak, saya tidak punya baju cadangan di loker. Apa saya diizinkan untuk pulang sebentar?” Aku menatap punggung Pak Dito penuh harap. Beliau menoleh.

“Terserah kamu saja. Urus secepatnya. Setelah itu, kamu ke ruangan saya!” Pak Dito berlalu dengan wajah sangat judes.

Ini semua gara-gara Aji. Tak perlu berkata-kata lagi, aku segera berlari ke pintu keluar untuk secepat mungkin mengganti pakaianku dan membersihkan tubuhku. Namun Aji menahan tanganku. Aku berontak. Tetapi apa yang ia ucapkan?

“Boleh saya mengantar Mba? Saya ikut bertanggungjawab atas kelalaian saya pagi ini. Jalanan Ibu Kota pasti macet parah. Kalau menggunakan mobil, kapan sampai? Bisa-bisa tengah hari baru kembali di sini.”

Penjelasan Aji cukup masuk akal. Kali ini aku tidak memarahinya. Melainkan menuruti saran apiknya itu. Aji mengantarku pulang menggunakan motor bebek warna biru, miliknya sendiri. Ia menstarter gas dan menyelap-nyelip setiap jarak yang tersisa antara sekian banyak kendaraan roda empat dan roda dua yang memadati jalanan Kota Metropolitan.

Aku bersungut-sunggut dalam hati “Ada benarnya ucapan Aji barusan. Bahkan aku bisa kembali ke kantor sore hari kalau tahu macetnya seperti ini. Stuck, tidak bergerak. Hanya kendaraan yang langsing saja seperti motor yang bisa leluasa keluar masuk mencari jalan tikus.”

Sebagai pengendara yang baik, Aji menyuruhku untuk memakai helm. Ia meminjamnya dari Pak Kusdi. Disepanjang perjalanan ke rumah, kami sibuk dalam kebisingan bunyi klakson dari para pengendara yang tidak sabaran melintas. Dikedua arahnya terlihat padat. Sesekali Aji menolehku untuk sekadar menanyakan arah jalan. Dan aku menjadi navigator dadakan. Kedua tanganku kurapatkan di depan dada. Takut kalau sewaktu-waktu Aji mengerem secara spontan tanpa pemberitahuan.

“Sudah sampai Mba.” Aji mengerem gasnya dengan sangat halus. Butuh 45 menit untuk sampai ke rumahku. Jika aku naik mobil, mungkin bisa dua kali lipatnya. Tanpa berkata panjang lebar, aku langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Aji menunggu di atas motor bebeknya. Sama sekali aku tidak basa-basi menawarinya menunggu di ruang tamu. Berselang sepuluh menit, aku keluar dan segera memerintahkan Aji untuk segera kembali ke kantor.

“Tidak makeup-an dulu Mba?” Aji menyodorkan helm warna merah milik Pak Kusdi.
“Saya buru-buru. Sudah, kamu menurut saja. Tidak perlu banyak tanya.” Perintahku dengan nada judes dan tergesa-gesa.

Aji mengangguk. Melajukan motor bebeknya dengan kecepatan lebih kencang, karena jalur tikus sudah mulai terlihat lancar, walau pada titik tertentu harus tertahan beberapa menit. Lagi-lagi kami hanya terdiam. Hilir mudik kendaraan menjadi pemandangan yang membosankan. Hanya setengah jam aku tiba di parkiran kantor. Kulepaskan helm dari kepalaku dan kuserahkan pada Aji. Aku turun dari motor merahnya dan berlari secepat kilat untuk memenuhi panggilan Pak Dito.

Tok..tok..tok..
Aku mencoba memberanikan diri mengetuk pintu yang membatasi ruangan kerja Pak Dito.

“Masuk!”
Terdengar suara berat beliau dari dalam mempersilakanku masuk. Terjadilah proses interogasi cukup panjang. Persis seperti disidang saat Skripsi dulu.

“Jadi seperti itu ceritanya?” Pak Dito menatapku dalam-dalam. Sedalam sumur lubang buaya. Tangannya mengelus dagu yang tak berjenggot. Aku menunduk takut. Takut jika di sumur itu memang benar ada buaya ganas yang siap menerkam mangsa. Wajahnya memerah, kumisnya bergerak naik-turun. Ini kesekian kalinya aku dimarahi Pak Botak habis-habisan.

Sungguh aku sangat apes sekali hari ini. Gara-gara terpeleset ember, aku kena denda dan hukuman. Sia-sia kembali lagi ke sini, kalau uang gaji sehariku hangus. Tahu begitu tadi aku tinggal di rumah saja. Tidak perlu balik lagi. Dan yang lebih parahnya lagi, aku harus menjadi asisten pribadi beliau untuk sementara waktu. Aku menggerutu dalam hati.

Pernah tidak, Anda merasa bekerja setengah hati ketika situasi sedang kacau balau? Aku pernah. Dan baru tadi pagi mengalaminya. Untung saja partner kerjaku, Dika, tidak membahas hal ini. Ketika kliring Bank note dari teller sedang banyak-banyaknya, serta kiriman uang yang tak kalah membludak, Dika hanya melirikku beberapa detik. Aku memberikan isyarat dengan mengangkat kedua alisku tinggi-tinggi. Kuharap Dika mengerti maksudku. Maksud yang tak bermakna. Hanya memberikan tanda bisu yang tak berarti. Aku menghela nafas. Memperlancar peredaran darahku yang membeku.

Tepat pukul 12.00 WIB, aku bergegas meninggalkan ruangan akunting itu. Dengan langkah seperti siput, aku menatap kosong ke lingkungan sekitar. Tak ada senyum ramahku. Tak jua semangat dalam hatiku. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari samping. Dika! Aku sangat terkejut dia mengikutiku. Dia memberikan senyum termanisnya. Tapi hari ini aku sedang malas untuk tersenyum.

“Hey, kamu masih bete? Sudahlah lupakan saja. Lebih baik kamu ikut denganku. Kita makan siang di luar. Bagaimana?”
Oh Dika… terima kasih sudah memberikan tawaran terindah. Dengan begitu aku bisa menghilangkan kejenuhanku hari ini, walau hanya secuil. Dika membawaku ke rumah makan sederhana dekat kantor.

Meski dekat, kami menggunakan mobil silvernya. Karena dekat yang dimaksud, adalah sekitar empat ratus meter dari kantor. Lumayan jika berniat menurunkan lemak disiang bolong begini. Maka terjadilah perbincangan kecil antara aku dan Dika, partner kerjaku yang sudah bertahun-tahun ini. Dika tak pernah mengguruiku. Justru sebaliknya, Dika selalu menjadi pendengar setia dan tak pernah lupa memberikan senyum termanisnya.

“Tadi aku menyaksikan semuanya Linn… Ah, aku pikir, kamu harus pakai sepatu yang ada matanya,” celoteh Dika membuat humor yang tidak lucu.

“Iya, mata kamu dicopot dulu buat sepatu ya?” aku mencibirnya. Lantas kami sama-sama terbahak dan aku hampir tersedak. Hanya 45 menit kami berada di rumah makan sederhana itu. Kemudian kembali ke jobdesk yang sangat membosankan. Menghitung. Menghitung uang milik orang. Dan kalau ada selisih, ya mau tidak mau harus menombok. Itu yang menjadi dongkol. Kalau nominalnya tidak berapa, ayolah! Tapi kalau nominalnya material, merogok kantong, oh… its no!!!

Karena kejadian Senin lalu, setiap hari selama seminggu, aku harus pulang larut malam. Pak Dito menghukumku dengan menghandel pekerjaan Ibu Berti, asisten pribadinya yang selama satu minggu ini cuti ke luar negeri. Hanya aku dan Divisi Call Center yang menghuni ruangan luas lantai tiga. Dan, Aji…. Entah mengapa selama seminggu ini dia selalu pulang pada jam yang sama denganku. Perhatiannya membuatku menyesal telah memarahinya dengan sadis kala itu. Aku tahu, dia tidak sengaja meletakkan ember bekas mengepel di dekat tangga.

“Mba, butuh yang hangat-hangat?” atau “Mba, mau makan apa malam ini?” atau “Mba, boleh saya ikut membantu?” dan “Mba, biar saya antar pulang ya!” Kira-kira seperti itulah perhatian-perhatian kecil yang selalu ia berikan padaku. Hingga aku dan Aji menjadi akrab. Dia adalah teman yang asyik. Aji selalu mengerti isi hatiku. Berada paling depan saat aku mengalami kegelisahan. Namun yang tak kumengerti, mengapa dia mengutarakan cinta padaku. Aku sungguh tidak menduga. Kedekatannya selama ini menyimpan rasa lebih. Rasa yang sulit aku jamak dan kutaksir dengan logika.

“Maaf Aji, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih.” Begitulah jawabanku. Padahal di dalam hati ingin rasanya mengeluarkan kata-kata seperti ini; “Aji, kamu tahu tidak? Kamu hanya seorang pembantu kantor yang pekerjaannya tidak selevel denganku. Pendidikanmu hanya SMA. Sementara aku Sarjana Ekonomi dengan IPK di atas rata-rata. Hey Aji, harusnya kamu sadar diri. Kita sangat jauh berbeda. Mana mungkin kita akan bisa bersama-sama didalam perbedaan yang sangat terlihat jelas itu. Meski kamu tampan, mirip seperti Lionel Messi, pemain bola favoritku, atau kamu yang hatinya menyetarai para malaikat, tetap saja, kamu bukan tipeku,” aku bergumam didalam hati, enggan mengucapkannya langsung. Lidahku terasa kelu.

“Maaf Mba, saya tidak bermaksud mempermalukan Mba dengan ungkapan hati saya. Jika memang Mba merasa keberatan, saya mengerti.” Aji memasang wajah memelas. Aku tidak berkomentar lagi. Hatiku menjerit kencang. Oh Tuhan, benarkah ini? Engkau mengirimkan makhluk tampan dan baik hati ini hanya sebagai kacung. Sebagai suruhan orang-orang. Atau lebih kasarnya budak. Budak yang kedudukannya paling rendah. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berlalu.

Beberapa hari pasca Aji mengungkapkan isi hatinya, dia tetap bersikap ramah padaku meski aku menolaknya. Tetapi sikapku menjadi lain. Aku tak lagi memperlakukannya sebagai teman. Aku seperti orang yang tak pernah mengenalnya. Bersikap acuh dan tak peduli. Aji hanyalah patung yang dapat berbicara. Aku benci kenapa dia harus mengungkapkan perasaannya. Andai saja kamu bukan OB, andai saja kamu bukan kacung, Aji, Mungkin aku akan berpikir ulang.

Beberapa minggu kemudian, aku mengajukan cuti kepada Pak Dito. Awalnya beliau sangat keberatan, tetapi aku meyakinkannya dengan strategi yang tak kalah jitu. Pak Dito ketakutan dan akhirnya bilang “OK”.

“Semua karyawan punya hak cuti kan Pak? Bapak mau membayar uang cuti saya? Atau Bapak mau kena sanksi dari pemerintah karena melarang anak buahnya mengambil kebijakan free work?”

Ucapanku terdengar mengancam. Padahal maksudku, hanya menggeretak Pak Dito agar menyetujui ajuanku. Mataku berbinar saat aku diizinkan tidak masuk kerja selama empat hari lamanya. Ini bahkan seperti libur lebaran pikirku. Aku bersorak dalam hati. Otak kananku bekerja memainkan dunia khayalan. Aku ingin pergi menemui nenek di luar kota.

“Ciyee… dapat restu dari Pak Dito, atasan tercinta...” Dika mengacak-ngacak rambutku dan mengajak bercanda. Aku memelototinya. Tak terima dibilang mendapat restu. Memangnya orang menikah pakai restu-restu segala. Aku hanya melempar senyum nakal kepada Dika. Melayangkan kalimat syirik lantaran cutinya belum juga di acc oleh Pak Botak.

Selama aku cuti, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Aji. Aku memang sengaja men-silent-kan hpku. Dan aku juga sengaja tak bilang padanya kalau aku akan cuti beberapa hari. Untuk apa juga aku harus bilang padanya. Dia bukan siapa-siapaku. Hmm.. aku mendesah panjang. Mengapa dunia ini tidak adil? Kenapa seorang Aji yang berani menyatakan dirinya bersedia menjadi pasanganku. Kenapa bukan orang lain? Hatiku lusuh. Aku menyeka hidungku. Menatap kosong ke jam dinding ruang tamu.

Sekembalinya aku dari cuti panjang, aku masih belum ingin bertemu Aji. Namun seharian ini aku tidak melihat batang hidungnya. Mungkin dia tidak masuk kerja, ada urusan pribadi atau mungkin dia sakit. Lagi-lagi aku menerka dalam hati. Keesokan harinya, Aji belum juga terlihat. Aku melongok penasaran.

Tak perlu dicemaskan. Bukankah aku senang kalau Aji benar-benar tidak ada? Tidak! Aku benar-benar kehilangannya. Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya.Berkunjung ke rumahnya pun rasanya tidak mungkin. Aku pun tak tahu dimana dia tinggal. Aku hanya khawatir dia sakit keras. Akupun memberanikan diri mencari alamatnya. Aku ingat saat dia bilang tinggal di kontrakan kecil bersama kakaknya, tidak jauh dari kantor. Beberapa rumah aku kunjungi dan melontarkan pertanyaan yang sama “Apakah benar ini rumah Aji?”

Seseorang di dalam menyahut “Bukan.”
Bukan dan bukan. Aku hampir menyerah. Namun perempuan berkerudung hijau itu mendekat dan berkata;

“Mba mencari adik saya, Aji?” perempuan itu mengajakku ke rumahnya. Aku senang saat aku akan bertemu dengan Aji, walau sesungguhnya aku merasa engan menemuinya. Namun apa kenyataanya? Aji sudah tidak tinggal disini lagi. Aji pindah kerja entah kemana. Hatiku merasa terpukul mendengarnya. Hatiku terasa pilu.

Aku mencoba menghubungi nomor HP Aji. Tidak ada respon, atau lebih tepatnya nomor tidak aktif. Aku menelan ludah. Mungkin ini yang terbaik. Perpisahan. Bukankah itu yang aku inginkan. Menjadi orang yang tak pernah mengenal Aji. Tapi sejujurnya, hatiku meringis sepi. Hanya dia yang membuatku tertawa lepas. Hanya Aji yang selalu membuatku tersenyum tanpa henti. Dan sekarang, senyumku memudar. Layu seperti bunga yang kehilangan pesonanya.

“Elinn, besok kamu datang sama siapa ke kondangan anaknya Pak Dito?”
Dika memutus lamunanku tentang Aji yang sudah pergi selama tiga tahun terakhir. Jelas aku akan pergi sendiri, mengingat Dika sudah beristeri. Dan aku yakin dengan keputusanku. Aku akan pergi sendiri ke acara itu.

“Hey.. kenapa menangis?” seorang anak kecil berambut ikal sebahu merengek mencari ibunya. Aku merangkulnya dengan hati iba. Menanyakan kemana ibunya? Harusnya aku tidak menanyakan hal ini pada anak kecil yang baru berumur satu tahun setengah. Dia belum mengerti apa-apa. Aku menggendongnya dan menunjuk satu persatu wanita dan laki-laki yang mungkin ia kenali. Anak itu tetap menangis. Mereka bukan orangtua anak ini.

Tak jauh aku melangkah, seorang laki-laki bersua memanggil nama anak itu, “Sheina…”

Siapa itu Sheina? Aku tidak menoleh. Tak terpikirkan anak itu bernama Sheina. Lalu aku kembali berjalan mencari sosok orangtua anak kecil yang ada dalam gendonganku. Laki-laki tinggi itu mengahadangku. Isterinya menyusul dari belakang. Ia terlihat mengatur nafas dan mengusap air matanya.

“Sheina sayang, kemarilah, Nak. Ini Ayah,” laki-laki berjas abu-abu itu membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Matanya berkaca-kaca.

“Apa benar kamu bapak dari anak ini?” aku bertanya tak percaya.

“Benar Mba, kami orang tuanya. Sedari tadi kami berputar-putar di tempat ini untuk mencarinya. Sheina tertinggal saat kami asyik berbincang dengan Pak Dito,” wanita cantik bergaun anggun putih itu meyakinkanku. Aku memberikan bocah kecil itu padanya. Wanita itu meraihnya dan langsung menciuminya berkali-kali.

“Maafkan Mamah, Nak! Mamah sayang kamu!” wanita itu mencoba mengusap air mata yang membanjiri telaga pipinya. Aku menyeringai ke arah laki-laki yang disebut sebagai suaminya itu. Ayah dari anak ini? Wajahnya tak asing. Aku seperti mengenalinya. Tapi entah dimana. Dia seperti Aji. Mirip sekali. Tapi aku takut salah orang. Dan perkenalan pun berlangsung, kami bertiga saling bergantian menyebutkan nama masing-masing.

Aji! Ya, benar sekali. Ini kamu? Benarkah? Kamu sudah memiliki isteri yang amat cantik dan satu anak yang sangat jelita. Sedangkan aku, masih dalam kesendirian panjangku. Belum menemukan kandidat yang cocok untuk kujadikan suami, ayah dari anak-anakku kelak. Mataku memerah. Aku menghela nafas dalam-dalam, kemudian berpamitan pada keluarga kecil itu. Baru beberapa langkah aku berlalu, laki-laki itu menarik tanganku.

“Mba, apa kabar? Saya sangat rindu padamu. Maafkan saya yang tak berani mengucapkan salam perpisahan atas kepindahan saya ke tempat kerja yang baru. Saya juga tidak mengundang Mba ke acara pernikahan kami,” Aji memandangku dengan sorotan mata yang tajam. Kerinduan yang tak mungkin dapat terjamak. Aku menyentuh pipinya lembut, seolah ini adalah salam perpisahan selamanya untuk orang yang pernah kusia-siakan dulu.

Ingin memeluk namun rasanya tak mungkin. Sesosok wanita cantik berdiri di belakangnya. Tersenyum padaku. Wanita itu tak marah ketika aku menyentuh halus pipi suaminya. Bahkan dia menjadi saksi antara dua insan yang tak bisa bersatu. Semua ini begitu hebat, Aji. Kau memiliki isteri yang mungkin kedudukannya jauh lebih tinggi darimu. Serta dia jauh lebih pintar darimu. Namun kegigihanmu, kejujuranmumu, sikap tanggungjawabmu, serta tampang wibawa yang menarik, tak kurang dari apapun. Sehingga tak ada satupun wanita menolakmu menjadi suaminya.

Berbeda denganku, yang hanya bersikeras mengiginkan sosok tinggi di atasku, berdiri di depanku dengan segala yang melebihiku. Sejajar, paling tidak seperti itu. Wanita itu mendekat. Ia memberikan anaknya pada Aji. Aku tak berpikir aneh-aneh. Jika ia menamparku pun tak apa. Aku yang salah telah menyakiti hatinya. Tapi dia, perempuan itu, justru memelukku. Aku tak percaya, Tuhan. Apakah arti dari semua ini? Perempuan itu berbisik padaku.

“Saya tahu semuanya tentang Mba dan suami saya. Maafkan saya yang telah lancang merebut Aji dari Mba.” Tutur katanya menyiramku seperti air es. Sejuk, dan tak menghakimi.

Pelan-pelan aku melepas pelukan wanita itu. Dia menangis syahdu. Begitupun denganku, aku menatap wajahnya dalam. Mana ada wanita sebaik dia? Baru hari ini aku mendengar sendiri ucapan seorang isteri yang sangat bijaksana.

“Kamu tidak salah. Aku yang salah telah menyia-nyiakannya.” Aku tersedu sedan.

Ini semua tak pernah ada dalam pikiranku. Tidak pernah. Aku bertemu dengan orang-orang yang baiknya melebihi malaikat. Apakah aku harus menertawaiku hidupku? Menjaga gengsi hanya karena status kedudukan semata. Menjaga jarak antara hati dan realistis. Aku baru sadar ketika perempuan itu berbisik diujung telingaku. Bahwa cinta tak memandang harta dan jabatan. Cinta adalah perasaan menerima kurang dan lebih seseorang. Cinta tak pernah diukur dari pendidikan, jabatan, dan marga tertentu.

Aku tertunduk lesu. Air mataku tak terasa mengalir dengan sendirinya. Diusiaku yang sudah menginjak 30 tahun, aku belum juga mendapatkan calon suami. Seharusnya aku sudah memiliki seorang anak seumuran Sheina? Aku menelan ludah. Menyesal telah berpura-pura tidak mencintai Aji. Bahwa sesungguhnya hanya dialah yang sepenuhnya ada dalam hatiku. Berkembang, kemudian layu.

Senin, 27 Oktober 2014

Sakit Hati vs Sakit Gigi #INTERMEZO



Saat kita sedang patah hati, hancur lebur berkeping-keping, berserakan di mana-mana, kadang terbesit dalam otak untuk memilih sakit yang lain. Pada kasus yang berbeda ketika kita mengalami ngilunya sakit gigi yang membuat resah bukan kepalang, susah tidur, susah makan, mendengar hal sedikit saja langsung sensitif, tanpa sadar akan terucap, "lebih baik sakit hati daripada sakit gigi."

Menurut gue, gue lebih memilih sakit gigi daripada sakit hati. Kenapa? Sakit gigi bisa ditangani dokter. Kalau sakit hati, langsung ke psikiater, atau parahnya ya rumah sakit jiwa. Memulihkan rasa sakit hati bisa bertahun-tahun lamanya bahkan seumur hidup. Meski hati telah berdamai dan memaafkan, sewaktu-waktu sakit itu masih bisa muncul. Perasaan tetaplah perasaan. Tidak ada obat instan untuk menyembuhkannya kecuali dengan seiring berjalannya waktu. Lambat laun sakitnya mereda. Tapi tidak hilang secara keseluruhan.

Pada seseorang yang menderita sakit gigi luar biasa, mereka seenaknya bilang, "Sakit hati masih bisa dibalas. Kalau sakit gigi, bagaimana membalasnya?"
Hey, untuk apa membalas dendam. Toh perasaan sakit itu tidak akan hilang. Yang ada malah membuat dosa. Biarkan Tuhan saja yang membalasnya.
Nah, menurut kalian, lebih pilih mana? Sakit gigi atau sakit hati?
"Sakitnya tuh di sini!" *nyanyi"