Kamis, 14 Januari 2016

#DiaryNalla - Kesal yang Beralasan

Jakarta, 14 Januari 2016

Pukul 10 WIB (aku sendiri tidak memperhatikan tepat di angka berapa jarum panjang jam bergeser), ibukota digemparkan berita dahsyat. Pos polisi di seberang Gedung Sarinah, Thamrin, porak poranda oleh bom sejenis granat yang sengaja dilemparkan oleh pihak tak bertanggungjawab, entah ada modus apa di balik peristiwa itu. Desas-desus yang beredar di media mengatakan, tragedi berdarah itu merupakan bom bunuh diri. Sebagian ada yang berpendapat kalau insiden yang menewaskan tujuh orang itu semata-mata karena motif balas dendam, kepentingan politik. Ada juga yang berkomentar sebagai pengalihan isu penyerahan saham Freeport Indonesia pada pemerintah yang semestinya dilakukan besok.

Jauh sebelum berita ini tersebar di jejaring sosial, ramai-ramai orang membicarakannya, aku boleh bangga diri sudah mendengarnya lebih dulu melalui siaran radio, langsung di tempat kejadian peristiwa. Menurutku informasi dari siaran radio lebih akurat dan terpercaya ketimbang media lainnya. Aku yang sedang duduk anteng di ruangan kerja memandang layar komputer berjubel angka-angka, lebih tertarik menyimak pembicaraan rekan kerjaku yang membahas tentang terorisme. Mereka menambahkan buih-buih karangan bahwa bom masih akan meledak di beberapa titik, terutama mal-mal besar.

Jujur saja aku bergidik ngeri membayangkan jaringan teroris yang sudah menyebar luas dan siap meluluh-lantahkan Jakarta, melancarkan misinya di tanah air. Siapapun mereka, apapun namanya, aku tidak akan pernah setuju dengan tindakan anarki tersebut. Setelah dipenuhi cerita ngaler-ngidul di mana saja yang menjadi sasaran keganasan teroris, spontan aku memekik dengan kerasnya, memasang wajah pucat pasi mendengar kata Slipi dan Palmerah.

Oh, Tuhan, aku lupa, benar-benar tidak ingat, kalau seseorang itu, orang yang belakangan ini ingin memperbaiki masa lalunya, bekerja di kawasan Slipi, dan tinggal di daerah Palmerah. Betapa cemas dan khawatirnya perasaanku saat itu. Aku langsung merogoh ponselku, mengirimkan pesan bertanya kabar, berkali-kali menekan nomor teleponnya, menunggu nada sambung terputus oleh sambutan suara cueknya. Namun setengah jam tak ada jua jawaban. Aku benar-benar nyaris putus asa, tak ingin sesuatu buruk menimpanya.

Jantungku serasa ingin copot di tempat, pikiranku mendadak kusut terus terpikirkan dia. “Bagaimana keadaannya saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia selamat? Atau…?” Aku benar-benar mencemaskannya. Aku sungguh tidak mampu menghadapi kenyataan terpahit oleh pertanyaan terakhirku yang terpotong di tengah kalimat. Tidak! Aku tidak ingin kehilangannya lagi, kehilangan dia secepat ini.

Satu jam menunggu, dia masih bisu. Dua jam hatiku gelisah, dia sama sekali tidak ada tanda kehidupan. Tiga jam berlalu, oh, Tuhan, aku bahkan tidak dapat bernafas dengan hikmad, selera makanku mendadak hilang. Bukan karena melihat foto korban yang tergeletak naas dengan luka parah di jalan, melainkan terlalu sibuk memikirkan dia seorang. Hingga jam istirahat berakhir, dia belum juga merespon pesan singkat dan panggilan teleponku yang sembilan kali kuulang demi mendengar suaranya.

Di saat aku sudah pasrah menanti jawabannya, dia hanya membalas dengan dua huruf; “Gk,” – maksudnya ‘tidak’. Astaga, aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku mendapatkan pasangan sedingin dan secuek dia? Sejak tiga jam lalu aku tidak dapat konsentrasi menyusun laporan keuangan, lebih sibuk menerka tentang keadannya, dia hanya membalas malas. Betapa jengkelnya perasaanku mendapat perlakuan itu. Tapi setidaknya aku lega karena dia baik-baik saja. Sebenarnya aku tidak heran dengan sikapnya. Dia memang seperti itu; menyebalkan. Aku sering mengelus dadaku menghadapi sikap dinginnya yang kerap membuatku salah persepsi menanggapinya.

#DiaryNalla - DI KERETA MENUJU DEPOK

Jakarta, 25 Desember 2015

Meski hanya berkeliling seputar Jakarta menggunakan fasilitas angkutan umum seperti angkot, ojek, dan kereta, namun liburan panjang akhir pekan ini bagiku selalu menyenangkan. Siang itu cuaca ibukota sedang labil. Kadang mendung, kadang cerah, kadang hujan lebat. Aku yang sudah merencanakan menghabiskan tanggal merah selama empat hari ke Garut bersama sahabatku - Citra, mendadak gagal lantaran sesuatu. Alhasil setelah seharian muterin Blok M di tanggal 24 Desember bersama temanku yang lain, yakni si Mpok Yuli, maka tanggal 25 ini kusibukan diri dengan berkunjung ke rumah dokter gigi spesialis ortho di kawasan Depok.

Citra begitu sebal denganku. Sepanjang perjalanan ke Garut, ia terus menghubungiku melalui chat whatsap, bilang kalau aku manusia paling menyebalkan di seluruh muka bumi ini. Kamu yang mengajak, kamu pula yang tidak ikut, demikian celotehan sebalnya padaku. Lantas bukan itu yang ingin kuceritakan. Di sepanjang Perjalanan menuju Depok, aku bertemu dengan rombongan keluarga besar dan amat bahagia. Kenapa aku berpendapat begitu? karena hampir satu gerbong terdiri dari anak, cucu, menantu, kakek, nenek, cicit, dan buyut. Dan aku berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Emm aku sungguh merasa tersanjung sekaligus kesal.

Bagaimana tidak kesal, selama dua jam perjalanan mereka amat berisik. Anak perempuan yang berkuncir dua sibuk lompat-lompatan di samping tempat dudukku, kakaknya yang badannya gendut menyalakan games dengan suara sangat kencang. Nenek dan ibu mereka sibuk berceloteh tentang kenaikan harga sembako. Yang laki-laki terbahak karena bapak yang menggendong cucu balita di sebelah kiriku kejedot tiang pintu kereta.

Kala itu, ingin rasanya aku berteriak, menyuruh mereka diam. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Di gerbong lima ini hanya akulah orang asing. Anak-anak mereka berkejaran mondar-mandir, sementara orangtuanya cuek saja. Mereka juga bayar tiket, kan? Baiklah, aku mengalah, pikirku teramat jengkel.

Selasa, 27 Oktober 2015

Penyesalan Adya #SebuahCerpen #CerpenMotivasi

Perkenalkan, ini Kota Jakarta. Kota yang super sibuk, tidak pernah tidur, bising, dan sarat polusi udara. Di ibukota, tiada hari tanpa mengenal yang namanya macet. Padahal tidak ada si Komo lewat. Untuk mempersingkat waktu dan biaya akomodasi, kemanapun aku pergi, selalu mengendarai roda dua. Trotoar yang berfungsi sebagai media pejalan kaki, kerap menjadi sasaran empuk bagi pengendara motor. Dan akulah salah satu pengemudi nakal yang menikmati hak pejalan kaki tersebut dikala Jakarta tidak bergerak. Bagiku, keefisienan waktu di kota metropolitan amatlah penting. Time is money. Aku setuju dengan kalimat tersebut.

Orang bilang, aku mirip setan bila di jalan raya. Tetangga yang sempat kubonceng untuk membeli handphone baru, memilih turun di perempatan jalan karena katanya naik motor denganku, bagaikan naik wahana adrenalin. Ibuku sering berujar, “Nyawa kamu hanya satu, Adya… Bukan seribu.” Aku hanya mengangguk.

“Pulangnya jangan malam-malam, Adya… Jangan ngebut-ngebut di jalannya. Ibu pusing mendengar kamu mengeluh kesakitan acapkali jatuh dari motor.” Ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mulutnya juga ikut-ikutan sibuk menceramahiku.

Aku tertawa saja mendengar segala celotehan ibu yang hampir setiap hari mengingatkanku laiknya anak kecil. “Iya, Bu, aku lekas pulang.” Kucium tangan beliau setelah menandaskan sepotong roti bakar dan melesat pergi menggunakan kendaraan roda dua berwarna hitam.

Di pertengahan jalan, dua pengendara motor lain memancing amarahku. Pagi ini Jakarta tidak terlalu macet, tidak juga lengang. Aku yang jengkel oleh dua pengendara itu, langsung menarik pedal gas tiga kali lebih kencang. Adu balap pun terjadi. Aku meliuk ke kanan dan ke kiri, menyelip di antara kendaraan lain yang menghalangi laju kecepatan motorku.

“Woy, BRENGSEK!!! Gak punya mata ya?” Salah satu pengendara berseru sebal ketika stangnya tersenggol olehku. Aku tertawa. Suruh siapa jalannya pelan macam keong. Menghambat adegan balapanku saja.

Laki-laki berjaket kulit coklat yang sejajar denganku, melayangkan jempol tangannya mengarah ke bawah. Sial, dia meledekku. Dia pikir aku takut dengan tantangannya? Dengar, ya, Adya tidak pernah takut dengan siapapun. Camkan itu!

Dua pengendara ninja itu memainkan gasnya, meledekku. Menimbulkan efek suara mengerang-erang pertanda perang masih berjalan. Motor belalangku ini tidak akan tinggal diam atas tawa meremehkan mereka. Maka, kutambah lagi kecepatanku menjadi 99 km/jam. Mustahil memang, mengendarai kendaraan secepat itu di jam berangkat kerja. Namun aku bisa mempraktekannya. Dan seperti biasa pula, pengendara lain yang kudahului selalu berseru sebal sambil membunyikan klakson kencang-kencang, menganggapku sudah gila.

Balapanku dengan dua laki-laki asing itu menjadi semakin panas tatkala kemacetan panjang menghadang. Emosiku yang meluap-luap, semakin meluber menahan amarah. Tak sabar mengantri di belakang, aku menyerobot jalur busway. Polisi yang melihatku, berteriak menyuruhku berhenti. Aku tak merisaukannya. Kuperkencang pedal gasku. Dua pemuda itu pun mempercepat laju motornya menyusulku dari belakang. Adegan track semakin panas.

“Kau tak akan bisa mengalahkan kami, Cewek Jelek. Mesin motormu KW, tak akan bisa menandingi mesinku,” Salah satu laki-laki yang menantangku mencibir.

Aku bersungut-sungut kesal, “Jangan menghinaku, Bujang Tengik! Kau akan bertekuk lutut di hadapanku bila aku menang. Curang sekali dua lawan satu. Lawan perempuan pula,” teriakku geram.

Dua laki-laki itu menyeringai, menambah laju kecepatan motornya, meninggalkanku lima meter di belakangnya. Aku tak mau kalah, kukejar dia dengan muka merah. Dia tertinggal satu meter di belakangku. Dua meter, tiga meter, dan aku menang.

Laki-laki satunya, berusaha menyejajarkan motornya. Sambil tersipu dengan senyum garang, “Kau boleh juga, Lady,”

Aku balik menyeringai. “Sudah kukatakan, kalian jangan sombong dulu. Karena aku yang akan memenangkan track ini,” ucapku puas. Itu sama saja mengajakku berkelahi secara jantan, meski aku seorang perempuan.

Namun ternyata mereka berdua licik. Peperangan belum kelar. Acara kejar-kejaran di jalur busway masih berlanjut tegang. Hingga akhirnya pihak polisi mengamankan pertengkaran tiga anak manusia yang berkelahi di jalan.

Hal seperti itu sudah biasa bagiku. Jujur, aku paling benci jalanan ibukota ketika jam berangkat dan pulang kerja. Macet dimana-mana membuat lelah. Semua pengendara tidak ada yang mau mengalah. Serobot sini, serobot sana. Dimana hampir semua spasi jalan penuh oleh kendaraan, khususnya roda dua dan empat. Dari jembatan penyeberangan, kepadatan kendaraan terlihat bagai kodok di musim kawin. Berisik, bikin gerah. Aku muak dengan bunyi klakson bersahutan. Aku juga harus ikhlas mengorbankan gajiku habis dipotong tiap hari gara-gara telat tiba di kantor.

Andai aku punya sayap, aku akan memilih terbang ketimbang bermacet ria selama berjam-jam. Atau bila Tuhan berbaik hati, aku ingin memiliki teman seperti Doraemon, yang bisa meminjamkan baling-baling bambunya agar terhindar dari kesemrawutan daratan.

Bila kau menjulukiku sebagai wonder woman, itu memang benar adanya. Tapi jika kamu menganggapku tidak pernah jatuh karena ketangguhanku, itu salah. Sini kuberitahu, tak terhitung sudah berapa kali kakiku lecet dan baret, wajah memar, tangan sobek, mulut berdarah, serta gegar otak. Dari semua kecelakaan naas yang pernah kualami, hanya ada satu yang kusesali seumur hidupku, yakni pada saat aku kesiangan menuju kantor klien untuk mengikuti meeting tidak penting. Saking terburu-buru, aku memotong jalan dengan cara melawan arah dengan amat tergesa-gesa. Saat itulah kejadian buruk menimpaku.

Siang itu, tabrakan beruntun pun tak dapat kuhindari. Selepas hujan mengguyur jalanan ibukota di bulan Januari, seusai aku bertengkar hebat dengan ayah lantaran membela hak ibu, aku tak sempat menguasai rem dan kopling motor belalangku. Alhasil aku menghantam truk besar yang melintas tepat di hadapanku dengan kecepatan maksimal.

Aku tidak tahu persis apa yang terjadi saat klakson kencang bergemuruh di kedua kupingku. Yang kutahu, aku terkapar di ruang ICU dalam keadaan menyedihkan. Ibu dan kakak perempuanku menangis tersedu-sedan, ayah bersedekap dada menatapku iba, dan Vian - tunanganku, takut-takut melihat kondisiku yang seluruhnya dibalut perban kecuali mata dan lubang hidung.

“Adya, kamu koma selama delapan hari, tujuh malam. Ibu kira, kamu akan pergi selamanya meninggalkan Ibu, Nak... Sudah Ibu bilang, kalau naik motor itu pelan-pelan.” Ibu menyeka air matanya dengan handuk kecil. Kak Dina yang berdiri di sampingnya tak mengucapkan apa-apa. Dia terlihat sama sedihnya dengan ibu, ikut sesegukan meratapi kemalangan nasibku. Sedangkan ayah, dia mengusap wajahnya yang sayu. Tampaknya tidak tega membiarkan anak bungsunya terbaring bagai mummy.

Dua hari setelah aku siuman, suster membantuku membukakan perban. Aku meringis kesakitan saat helai demi helai kain putih itu terkelupas dari kulitku. Perih. Rasanya bagai mengelupaskan kulit dari dagingku.

Dokter spesialis dibantu susternya, mengecek seluruh anggota tubuhku dan memperlihatkannya dengan kaca besar. Aku tercengang waktu menatap wajahku yang hancur. Lebih mirip hantu buruk rupa. Jeleeeek sekaliiii. Rambutku yang sebelumnya panjang, dipangkas habis-habisan. Kepalaku penuh dengan jahitan. Daun telingaku miring sebelah, lebih tepatnya sompel. Tulang hidungku penyok, serta gigiku rontok.

“Semuanya normal, kecuali kaki kanannya,” ucap dokter pada ibu, kak Dina, dan ayah.

Aku tidak mengerti apa yang diutarakan oleh dokter. Namun otakku memerintahkan syaraf untuk menggerakannya. Terasa berat. Aku mencobanya sekali lagi, tetap tidak bisa. Jari kelingking dan tengahnya putus, telapaknya remuk. Aku menangis merintih melihat keadaanku yang bagai mayat hidup ini. Semuanya terasa amat ngilu dan perih. Terutama pada sobekan kulit wajahku dan kaki kanan. Kalau begini, mana ada laki-laki yang sudi menerima kondisi fisikku? Mana ada yang mau berteman denganku nanti?

Buktinya, pasca kecelakaan, Vian hanya tiga kali datang menjenguk. Katanya dia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai tukang cukur. Entahlah, mungkin itu alasan dia mencampakkanku. Teman-teman serta kerabat tak henti-hentinya berkunjung menyampaikan ucapan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Aku tidak tahu apakah mereka tulus atau berpura-pura. Terustetang aku malu dengan keadaanku yang mengerikan ini. Akankah aku masih bisa bertahan dalam keadaan yang cukup lama? Entahlah, aku tidak tahu.

Pak dokter meminta persetujuan ibu untuk mengamputasi kaki kananku. Lagi-lagi aku berteriak kencang tidak setuju. “Jangan dokter, jangan potong kaki saya. Kumohon... Saya tidak ingin menjadi gadis buntung,” pintaku lirih sambil terisak.

“Adya, kakimu sudah busuk. Perlu dibuang. Daripada menjalar kemana-mana. Ibu tidak akan rela." Ibu terlihat menahan air matanya yang hampir tumpah.

"Ibumu benar, Adya, kakimu harus dieksekusi sekarang juga,"

Dadaku sesak mendengar vonis mengerikan itu. Aku tidak mau. Sungguh tidak mau! Kakiku pasti akan sembuh seperti sediakala. Dasar dokter bodoh! Mestinya dia punya obat dan peralatan medis super canggih untuk menyelamatkan kaki kananku. Bukannya malah memaksa untuk memotongnya.

“Tapi aku tidak mau kehilangan satupun bagian tubuhku, Ibu. Kembalikan rambut panjangku, kembalikan gigi-gigiku, kembalikan jari-jari kakiku, kembalikan telinga dan hidungku, kembalikan semuanya seperti dulu……” Aku sungguh tak berdaya meratapi kondisiku yang begitu memilukan.

Seminggu berlalu, aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Katanya aku bisa berobat jalan. Dengan begitu, ibu, Kak Dina, dan ayah, tidak perlu repot bolak-balik rumah-rumah sakit untuk merawatku.

Kak Dina mendorongku menggunakan kursi roda menuju mobil yang disewa ayah. Kini aku pulang ke rumah dengan kaki pincang dan raga yang tiada berguna. Di dalam mobil, Kak Dina banyak berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku di siang itu.

“Kamu masuk ke dalam kolong truk, Adya. Rambutmu terlilit di jari-jari, wajahmu mencium aspal. Saat kamu terpental, kaki kananmu terlindas ban depan. Kamu bandel banget sih jadi anak. Palai helm aja susahnya minya ampun. Mengetahui kabar buruk dari rumah sakit, kami sempat pingsan berkali-kali, Adya,” Kak Dina melirik kakiku yang lumpuh tak mampu bergerak.

Kulihat ibu menarik napas, lalu mengelus rambutku yang dipotong sembarang oleh suster hingga botak. “Untungnya otakmu masih bisa diselamatkan, Adya. Kalau tidak, mungkin kamu sudah lewat.”

“Lebih baik aku tewas di tempat, Bu, daripada hidup menanggung semua kesakitan ini. Aku ingin mati saja. Ayah, bunuhlah aku sekarang juga…” kataku berteriak.

Ayah yang duduk bersama supir di jok depan, menoleh dari kaca spion tengah. Beliau tidak menjawab. Barangkali dia masih membenciku.

“Semenjak pertengkaran itu, ayahmu tak banyak bicara, Adya. Ia menyesal telah membuatmu kesal. Maafkanlah ayahmu...” Bisik ibu sambil menciumi keningku yang penuh dengan luka.

Untuk beberapa bulan bahkan tahun ke depan, tampaknya aku mesti setia bertumpu dengan kursi roda dan tongkat seumur hidupku. Mau buang air kecil, aku digendong ayah. Mau salin baju dan makan, dibantu ibu. Mau melakukan apapun, aku butuh bantuan orang lain. Rasanya sangat tersiksa. Kedua orangtuaku sukarela menjadi perawatku di rumah. Bila jadwal kontrol tiba, mereka mengantarkanku ke rumah sakit. Aku selalu menentang jika dokter berniat mengambil kaki kananku.

“Adya, biarkan dokter menggantikan kaki barumu agar kamu tidak merasa tersiksa setiap detik. Ibu tidak tega menyaksikannya, Nak..” ucap ibu berusaha meluluhkan hatiku.

Apa? Kaki baru? Kaki manusia sudah mati atau kaki palsu buatan manusia? Enak saja. Aku tidak akan pernah mau menjual kakiku berapapun jua harga yang ditawarkan. Meski kata dokter kakiku sudah hancur dan tak berfungsi normal.

***


Setiap malam tiba, aku terbangun dari tidur lelapku karena rasa sakit yang bertubi-tubi. Sebenarnya aku tidak pernah bisa tidur lelap, mengingat seluruh tulangku rasanya patah, kulit wajahku pedih, kepala nyut-nyutan, dan rasanya serba salah. Meringkuk ke kiri salah, ke kanan juga salah. Apalagi disuruh tengkurap, terlentang saja rasanya aku menyerah.

Kalau sekadar rasa perih di wajah dan seluruh anggota tubuhku, mungkin bisa kutahan, meski air mata terus bercucuran menahan rasa perihnya. Namun sakit pada hatiku karena ditinggal calon suami, serta ngilu di kaki kananku yang remuk, rasanya bagai dicabut nyawa. Ya, Tuhan, mengapa Engkau membiarkanku hidup? Aku sudah tak berguna lagi, tak akan mampu membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Hanya bisa merepotkan. Jadi untuk apa? Biarkanlah aku mati!

Hukuman ini memang pantas kuterima. Aku tahu Tuhan sengaja membiarkanku hidup untuk menyesali tabiat burukku semasa sehat. Bila mungkin aku kembali pulih seperti semula, aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Bagi siapapun yang membaca kisah naasku, kuharap kalian bisa lebih menghormati tata tertib lalu lintas, tidak mengaku-ngaku jalan raya sebagai jalan milik kakek moyangmu. Gunakanlah selalu perlengkapan standard yang sudah dicanangkan dalam undang-undang berkendaraan, serta ingat selalu pesan orang-orang yang menyayangimu meski membosankan. Nyawamu bukan kacang yang dijual dengan harga murah, kamu juga bukan barang loak yang bisa diperdagangkan di jalanan.

Barangkali Tuhan menyuruhku untuk merenungi kesalahan fatal yang pernah kubuat dan menyebarkannya pada kalian. Barangkali, napasku tidak akan lama lagi berhembus menghirup udara dunia. Di ruang serba putih ini, aku mengenang jasadku yang hancur tak berbentuk.

Terimakasih untuk Kak Dina yang sudah mau merekam semua pembicaraanku, dan dengan ringan tangannya merampungkan kisah tentang penyesalan yang teramat dalam ini. Pun terimakasih teruntuk kamu yang berkenan membaca tulisan kakakku, yang mana mewakiliku dalam menceritakannya secara tidak langsung karena jemariku tak sanggup lagi menulis walau satu huruf.

Adya yang malang, telah lama berpulang. Setelah setengah bulan syarafnya bekerja keras mendorong fungsi hati dan otak yang ternyata tak kuat lagi menopang detak jantungnya yang semakin hari semakin melemah.

Aku Dina, kakak dari seorang Adya yang kini sudah bersatu dengan tanah merah. Semoga kalian bisa menjadikannya pelajaran, bahwa kecelakaan lalulintas merupakan momok paling menakutkan bagi siapapun yang tidak taat pada peraturan. Kadang yang patuh saja celaka, apa lagi yang brandalan macam Adya.

Takdir manusia memang sudah ada yang menentukan, tapi tidak ada salahnya kita menghindari kesalahan fatal yang membuat kita menyesal. Semoga penyesalan Adya bisa membuat mata kalian terbuka, untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkendaraan.


***The End***

Kamis, 12 Februari 2015

Dewi Awan #FlashFiction

Apakah kamu menyukai langit biru yang tak tersaput awan? Apakah kamu lebih tertarik melihat gumpalan awan mengotori birunya langit? Apakah hujan itu menyebalkan? Apakah kau takut melihat kilauan halilintar memenuhi angkasa? Apakah kehadiran pelangi bisa memberikan senyum terindah?

Bagiku semua itu adalah tontonan luar biasa yang diciptakan Tuhan. Lihatlah, awan-awan itu berarak tertiup angin. Kemudian membeku dan menggelap. Tak lama gumpalannya bertabrakan mengeluarkan suara halilintar dan kilat yang menyambar-nyambar. Hujan pun turun menciptakan suasana sejuk di muka bumi ini.

Oh, tidak! Sesuatu yang selalu kutunggu kehadirannya adalah pelangi. Pembiasan cahaya oleh rinai hujan itu mampu menciptakan warna yang menakjubkan.

Aku Dewi, gadis berusia 24 tahun yang sedang mencari jati diri. Tinggi badanku semampai. Alias 150 cm pun tak sampai. Sampai sih, aku hanya bergurau. Lebih malah, lima centi. Dan artinya tinggiku 155 cm. Berat badanku hanya 43 kg. Rambutku ikal, tidak hitam, tidak pirang. Biasa saja. Hidungku juga tidak mancung, tidak juga pesek, biasa saja. Daguku tidak lonjong tidak juga bulat. Biasa saja. Mataku pun tidak sipit, tidak juga belo. Biasa saja.

Kecantikanku juga biasa saja. Aku sungguh biasa saja. Tapi aku bersyukur menjadi makhluk Tuhan yang sempurna memiliki panca indera lengkap, organ tubuh komplit, dan otak yang cukup cerdas.

Hobiku memandang awan bergerombol di langit biru. Menyaksikan percikan airnya dari atas sana. Mengagumkan. Sama halnya aku mengagumi sosok Awan. Laki-laki berusia dua tahun di atasku yang kukenal melalui sahabat baikku, Tita. Awalnya aku menolak perkenalan itu mentah-mentah. Tetapi Tita memaksaku.

“Ayolah, Dew… sampai kapan kamu menjomblo seperti ini?”

Aku memang masih menikmati kesendirianku. Tiga tahun adalah rekor muri dalam sejarah hidupku memilih status single. Rasa trauma atas kegagalan berkali-kali di masa lalu membuatku enggan memulai komitmen dengan seorang lelaki. Tetapi apa salahnya mencoba membuka pintu hati yang kuncinya sudah tertimbun dalam-dalam.

“Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun saat ini, Tita. Maaf…”
“Ayolah! Apa salahnya berkenalan. Dia anaknya baik.”

Tita terus merayuku. Dengan berat hati aku pun menerima tawaran konyol sahabatku, berkenalan. Pria bertubuh tinggi, kurus, putih, dan tampan itu sepertinya orang baik-baik. Dan kamipun akhirnya berteman cukup dekat, sangat dekat.

Wahai, Ibu, es di kutub utara dan selatan tiba-tiba mencair. Aku mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Saat Tita memperlihatkan foto Awan pertama kalinya padaku. Dan saat pertemuan itu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya.

Kehadirannya bak hujan di tengah kemarau panjang, seperti pelangi pasca badai. Secepat itukah aku jatuh cinta padanya yang baru saja kukenal kemarin sore? Setelah bertahun lamanya aku sendiri dalam kesibukan tanpa seseorang.

Kami terjebak dalam keadaan ini. Perasaan yang hadir tanpa bisa ditawar. Serta pilihan yang tidak dapat ditolak. Awan memilih menjalani hubungan ini karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk merasa menjadi seorang yang sangat dicintai. Sedangkan aku harus bertanggung jawab pada hatiku yang terlanjur mencintainya.

“Kita sudah terlalu dekat, Awan. Aku tidak ingin perasaan ini semakin jauh. Apakah? Apa kau mencintaiku?”
“Jangan suguhkan aku dengan kalimat itu.”

Tuhan, maafkan aku yang selalu berdoa agar dia menjadi teman hidupku kelak. Memohon agar ia menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku. Aku terlalu memaksa. Awan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan untukku. Rasanya sakit. Awan masih belum siap menjalani hubungan yang lebih serius. Hatiku menggigil mendengar pengakuannya.

“Kita jalani saja dulu”
“Sampai kapan? Kita sudah menjalani hubungan ini. Aku tahu kamu sedang belajar mencintaiku.”
“Dengarkan aku, Awan…”
“Tengoklah ke langit siang, betapa indahnya gumpalan awan putih bergerak tertiup angin. Lambat laun warnanya menjadi gelap pekat menutupi sinar sang surya. Hatiku seperti itu. Membendung hasrat di pelupuk mata.”

Mungkin hujan dapat menghapus jejaknya. Mungkin pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Ternyata dia bukan hujan di tengah kemarau panjang. Dia juga bukan pelangi pasca badai.

Malam-malam ini menyesakkan dada. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang sudah. Oh, Awan… kau sungguh elok bersanding di birunya langit yang tak berbatas. Tapi aku tak dapat menyentuhmu. Aku tidak pernah punya kesempatan itu. Kini aku kembali pada kesibukanku semula. Menikmati kesendirianku.Bersabar menunggu seseorang berhati Malaikat datang menemuiku.

Tugasku adalah memupuk tanaman itu agar ia tumbuh subur. Namun jika ia tetap layu atau justru mati, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah berusaha. Berusaha mempertahankan hubungan ini semampuku.

Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, seorang Dewi yang mengagumi setitik awan lepas menari di birunya langit. Memesona sejauh mata memandang, namun tak bisa dimiliki. Ini hanya sebatas mimpi untukku. Tak akan pernah menjadi nyata. Awan semakin dingin, mengucurkan derasnya titik-titik air mata membanjiri pipi tirusku.

Perasaan tetaplah perasaan. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, pasti aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayang, hanya waktu yang mampu memulihkan semua ini. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seribu tahun lagi.
◊◊◊

Flash Fiction ini merupakan kontributor dari Hujan Bercerita yang sengaja saya publish di Blog.
Terimakasih sudah membaca.

Salam hangat,


Nalla Dewi

Kamis, 11 Desember 2014

Menjaga Gengsi #SebuahCerpen

“Selamat pagi…”

Begitulah sapaan yang selalu kudengar dan kuucapkan setiap tiba di kantor. Aku berjalan setengah berlari, terpogoh-pogoh menuju lantai dua dengan langkah kaki seribu. Mengingat lima menit lagi akan dilakukan briefing pagi. Celaka dua belas jika aku terlambat. Bisa-bisa si kepala botak menceramahiku seharian. Pak Dito, kepala Divisi Operasional Back Office yang paling galak se-jagad-raya yang akan memimpin briefing.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku berkali-kali. Setengah berlari ke ruangan briefing. Tiba-tiba kakiku membentur ember yang berisi air. Tubuhku terlentang bersimbah air kotor. Pakaianku basah kuyup. Mana tidak ada persediaan baju ganti di loker.

Semua orang memperhatikanku. Mukaku seketika merah padam. Ini tontonan yang sangat memalukan sepanjang peradaban dunia. Terperanga duduk di lantai dan terbasuh air bekas mengepel. Kotor, bau, dan ihhh… sebentar lagi aku akan gatal-gatal oleh sejuta kuman yang bersorak riang menyambutku.

Beberapa detik kemudian, seseorang dengan garis wajah menyenangkan, tinggi 180 cm, bobot 70 kg, hidung mancung, alis yang tebal, bibir berwarna merah, seperti dipoles lipstik tipis, dan dada yang membusung ke depan, terlihat berlari ke arahku. Dialah Aji. Pembantu dibagian bersih-bersih. Usianya setahun di atasku.

Aji segera membereskan letak ember dengan wajah sangat bersalah. Tangannya dijulurkan ke hadapanku. Mengajakku berdiri. Namun aku mengibaskan jemariku ke wajah kirinya dengan kencang setelah aku berhasil menapakkan kedua kakiku lagi dengan sempurna.

“Maksud kamu apa? Menaruh ember bekas pel di dekat tangga?” Tanganku mendorong ember hitam yang tergeletak didekat kakiku itu. Aku memarahinya tragis. Tak peduli tontonan menjadi heboh. Pak Dito yang terlihat batang hidungnya berdiri tegap di hadapanku, kedua tangannya terlipat. Beliau ikut menyimak tontonan layar terbuka antara aku dan Aji, si OB yang patuh dan taat pada semua karyawan salah satu Bank swasta tempatku bernaung mengais rezki.

“Maaf Mba, saya tidak sengaja. Karena saya pikir semua karyawan sudah tidak ada yang lewat sini lagi. Berhubung waktu sudah mendekati jam kerja.” Aji menundukkan wajahnya yang mendadak pucat.

“Kamu pikir dugaan kamu benar? Dugaan kamu meleset, Aji. Saya terpeleset. Dan lihat! Baju dan rokku basah. Memang kamu punya gantinya? Dan lihat! Wajahku!” aku menunjuk wajahku. Mirip sekali dengan anak pramuka yang sedang menjalani halang rintang, merayap di sebuah sungai kotor.

Aji hanya terdiam dan menunduk. Sebenarnya dia laki-laki yang dewasa. Selama aku lembur hingga larut malam, Aji tak pernah lupa membelikan makanan kesukaanku. Dan itu free. Padahal aku tahu, gajinya jauh lebih rendah dari gajiku. Aji juga teman yang pengertian. Dia selalu berhasil menebak hatiku yang kadang-kadang kusut seperti kaset tape recorder jaman dahulu kala. Tapi hari ini, kebaikannya berubah menjadi sosok yang sangat kubenci. Aku bermurka durjana padanya.

Suasana hening. Suara sepasang sepatu dari jarak lumayan jauh, lama-lama terdengar mendekat. Pak Kusdi, security yang berjaga di pintu masuk lantai dua mengingatkan Pak Dito bahwa waktu briefing sudah harus dimulai. Aku menelan ludah. Entah harus ikut dalam pengarahan pagi ini atau aku pulang ke rumah mengganti pakaianku yang tak sedap dipandang.

“Elinn, pagi ini saya kasih kamu kelonggaran untuk tidak mengikuti briefing. Cepat kamu ganti bajumu dan bersihkan badanmu! Para nasabah akan kabur jika melihat ada karyawannya yang kotor sepertimu.” Dengan nada sadis, Pak Dito meninggalkan tontonan murahan ini.

“Tapi Pak, saya tidak punya baju cadangan di loker. Apa saya diizinkan untuk pulang sebentar?” Aku menatap punggung Pak Dito penuh harap. Beliau menoleh.

“Terserah kamu saja. Urus secepatnya. Setelah itu, kamu ke ruangan saya!” Pak Dito berlalu dengan wajah sangat judes.

Ini semua gara-gara Aji. Tak perlu berkata-kata lagi, aku segera berlari ke pintu keluar untuk secepat mungkin mengganti pakaianku dan membersihkan tubuhku. Namun Aji menahan tanganku. Aku berontak. Tetapi apa yang ia ucapkan?

“Boleh saya mengantar Mba? Saya ikut bertanggungjawab atas kelalaian saya pagi ini. Jalanan Ibu Kota pasti macet parah. Kalau menggunakan mobil, kapan sampai? Bisa-bisa tengah hari baru kembali di sini.”

Penjelasan Aji cukup masuk akal. Kali ini aku tidak memarahinya. Melainkan menuruti saran apiknya itu. Aji mengantarku pulang menggunakan motor bebek warna biru, miliknya sendiri. Ia menstarter gas dan menyelap-nyelip setiap jarak yang tersisa antara sekian banyak kendaraan roda empat dan roda dua yang memadati jalanan Kota Metropolitan.

Aku bersungut-sunggut dalam hati “Ada benarnya ucapan Aji barusan. Bahkan aku bisa kembali ke kantor sore hari kalau tahu macetnya seperti ini. Stuck, tidak bergerak. Hanya kendaraan yang langsing saja seperti motor yang bisa leluasa keluar masuk mencari jalan tikus.”

Sebagai pengendara yang baik, Aji menyuruhku untuk memakai helm. Ia meminjamnya dari Pak Kusdi. Disepanjang perjalanan ke rumah, kami sibuk dalam kebisingan bunyi klakson dari para pengendara yang tidak sabaran melintas. Dikedua arahnya terlihat padat. Sesekali Aji menolehku untuk sekadar menanyakan arah jalan. Dan aku menjadi navigator dadakan. Kedua tanganku kurapatkan di depan dada. Takut kalau sewaktu-waktu Aji mengerem secara spontan tanpa pemberitahuan.

“Sudah sampai Mba.” Aji mengerem gasnya dengan sangat halus. Butuh 45 menit untuk sampai ke rumahku. Jika aku naik mobil, mungkin bisa dua kali lipatnya. Tanpa berkata panjang lebar, aku langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Aji menunggu di atas motor bebeknya. Sama sekali aku tidak basa-basi menawarinya menunggu di ruang tamu. Berselang sepuluh menit, aku keluar dan segera memerintahkan Aji untuk segera kembali ke kantor.

“Tidak makeup-an dulu Mba?” Aji menyodorkan helm warna merah milik Pak Kusdi.
“Saya buru-buru. Sudah, kamu menurut saja. Tidak perlu banyak tanya.” Perintahku dengan nada judes dan tergesa-gesa.

Aji mengangguk. Melajukan motor bebeknya dengan kecepatan lebih kencang, karena jalur tikus sudah mulai terlihat lancar, walau pada titik tertentu harus tertahan beberapa menit. Lagi-lagi kami hanya terdiam. Hilir mudik kendaraan menjadi pemandangan yang membosankan. Hanya setengah jam aku tiba di parkiran kantor. Kulepaskan helm dari kepalaku dan kuserahkan pada Aji. Aku turun dari motor merahnya dan berlari secepat kilat untuk memenuhi panggilan Pak Dito.

Tok..tok..tok..
Aku mencoba memberanikan diri mengetuk pintu yang membatasi ruangan kerja Pak Dito.

“Masuk!”
Terdengar suara berat beliau dari dalam mempersilakanku masuk. Terjadilah proses interogasi cukup panjang. Persis seperti disidang saat Skripsi dulu.

“Jadi seperti itu ceritanya?” Pak Dito menatapku dalam-dalam. Sedalam sumur lubang buaya. Tangannya mengelus dagu yang tak berjenggot. Aku menunduk takut. Takut jika di sumur itu memang benar ada buaya ganas yang siap menerkam mangsa. Wajahnya memerah, kumisnya bergerak naik-turun. Ini kesekian kalinya aku dimarahi Pak Botak habis-habisan.

Sungguh aku sangat apes sekali hari ini. Gara-gara terpeleset ember, aku kena denda dan hukuman. Sia-sia kembali lagi ke sini, kalau uang gaji sehariku hangus. Tahu begitu tadi aku tinggal di rumah saja. Tidak perlu balik lagi. Dan yang lebih parahnya lagi, aku harus menjadi asisten pribadi beliau untuk sementara waktu. Aku menggerutu dalam hati.

Pernah tidak, Anda merasa bekerja setengah hati ketika situasi sedang kacau balau? Aku pernah. Dan baru tadi pagi mengalaminya. Untung saja partner kerjaku, Dika, tidak membahas hal ini. Ketika kliring Bank note dari teller sedang banyak-banyaknya, serta kiriman uang yang tak kalah membludak, Dika hanya melirikku beberapa detik. Aku memberikan isyarat dengan mengangkat kedua alisku tinggi-tinggi. Kuharap Dika mengerti maksudku. Maksud yang tak bermakna. Hanya memberikan tanda bisu yang tak berarti. Aku menghela nafas. Memperlancar peredaran darahku yang membeku.

Tepat pukul 12.00 WIB, aku bergegas meninggalkan ruangan akunting itu. Dengan langkah seperti siput, aku menatap kosong ke lingkungan sekitar. Tak ada senyum ramahku. Tak jua semangat dalam hatiku. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari samping. Dika! Aku sangat terkejut dia mengikutiku. Dia memberikan senyum termanisnya. Tapi hari ini aku sedang malas untuk tersenyum.

“Hey, kamu masih bete? Sudahlah lupakan saja. Lebih baik kamu ikut denganku. Kita makan siang di luar. Bagaimana?”
Oh Dika… terima kasih sudah memberikan tawaran terindah. Dengan begitu aku bisa menghilangkan kejenuhanku hari ini, walau hanya secuil. Dika membawaku ke rumah makan sederhana dekat kantor.

Meski dekat, kami menggunakan mobil silvernya. Karena dekat yang dimaksud, adalah sekitar empat ratus meter dari kantor. Lumayan jika berniat menurunkan lemak disiang bolong begini. Maka terjadilah perbincangan kecil antara aku dan Dika, partner kerjaku yang sudah bertahun-tahun ini. Dika tak pernah mengguruiku. Justru sebaliknya, Dika selalu menjadi pendengar setia dan tak pernah lupa memberikan senyum termanisnya.

“Tadi aku menyaksikan semuanya Linn… Ah, aku pikir, kamu harus pakai sepatu yang ada matanya,” celoteh Dika membuat humor yang tidak lucu.

“Iya, mata kamu dicopot dulu buat sepatu ya?” aku mencibirnya. Lantas kami sama-sama terbahak dan aku hampir tersedak. Hanya 45 menit kami berada di rumah makan sederhana itu. Kemudian kembali ke jobdesk yang sangat membosankan. Menghitung. Menghitung uang milik orang. Dan kalau ada selisih, ya mau tidak mau harus menombok. Itu yang menjadi dongkol. Kalau nominalnya tidak berapa, ayolah! Tapi kalau nominalnya material, merogok kantong, oh… its no!!!

Karena kejadian Senin lalu, setiap hari selama seminggu, aku harus pulang larut malam. Pak Dito menghukumku dengan menghandel pekerjaan Ibu Berti, asisten pribadinya yang selama satu minggu ini cuti ke luar negeri. Hanya aku dan Divisi Call Center yang menghuni ruangan luas lantai tiga. Dan, Aji…. Entah mengapa selama seminggu ini dia selalu pulang pada jam yang sama denganku. Perhatiannya membuatku menyesal telah memarahinya dengan sadis kala itu. Aku tahu, dia tidak sengaja meletakkan ember bekas mengepel di dekat tangga.

“Mba, butuh yang hangat-hangat?” atau “Mba, mau makan apa malam ini?” atau “Mba, boleh saya ikut membantu?” dan “Mba, biar saya antar pulang ya!” Kira-kira seperti itulah perhatian-perhatian kecil yang selalu ia berikan padaku. Hingga aku dan Aji menjadi akrab. Dia adalah teman yang asyik. Aji selalu mengerti isi hatiku. Berada paling depan saat aku mengalami kegelisahan. Namun yang tak kumengerti, mengapa dia mengutarakan cinta padaku. Aku sungguh tidak menduga. Kedekatannya selama ini menyimpan rasa lebih. Rasa yang sulit aku jamak dan kutaksir dengan logika.

“Maaf Aji, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih.” Begitulah jawabanku. Padahal di dalam hati ingin rasanya mengeluarkan kata-kata seperti ini; “Aji, kamu tahu tidak? Kamu hanya seorang pembantu kantor yang pekerjaannya tidak selevel denganku. Pendidikanmu hanya SMA. Sementara aku Sarjana Ekonomi dengan IPK di atas rata-rata. Hey Aji, harusnya kamu sadar diri. Kita sangat jauh berbeda. Mana mungkin kita akan bisa bersama-sama didalam perbedaan yang sangat terlihat jelas itu. Meski kamu tampan, mirip seperti Lionel Messi, pemain bola favoritku, atau kamu yang hatinya menyetarai para malaikat, tetap saja, kamu bukan tipeku,” aku bergumam didalam hati, enggan mengucapkannya langsung. Lidahku terasa kelu.

“Maaf Mba, saya tidak bermaksud mempermalukan Mba dengan ungkapan hati saya. Jika memang Mba merasa keberatan, saya mengerti.” Aji memasang wajah memelas. Aku tidak berkomentar lagi. Hatiku menjerit kencang. Oh Tuhan, benarkah ini? Engkau mengirimkan makhluk tampan dan baik hati ini hanya sebagai kacung. Sebagai suruhan orang-orang. Atau lebih kasarnya budak. Budak yang kedudukannya paling rendah. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berlalu.

Beberapa hari pasca Aji mengungkapkan isi hatinya, dia tetap bersikap ramah padaku meski aku menolaknya. Tetapi sikapku menjadi lain. Aku tak lagi memperlakukannya sebagai teman. Aku seperti orang yang tak pernah mengenalnya. Bersikap acuh dan tak peduli. Aji hanyalah patung yang dapat berbicara. Aku benci kenapa dia harus mengungkapkan perasaannya. Andai saja kamu bukan OB, andai saja kamu bukan kacung, Aji, Mungkin aku akan berpikir ulang.

Beberapa minggu kemudian, aku mengajukan cuti kepada Pak Dito. Awalnya beliau sangat keberatan, tetapi aku meyakinkannya dengan strategi yang tak kalah jitu. Pak Dito ketakutan dan akhirnya bilang “OK”.

“Semua karyawan punya hak cuti kan Pak? Bapak mau membayar uang cuti saya? Atau Bapak mau kena sanksi dari pemerintah karena melarang anak buahnya mengambil kebijakan free work?”

Ucapanku terdengar mengancam. Padahal maksudku, hanya menggeretak Pak Dito agar menyetujui ajuanku. Mataku berbinar saat aku diizinkan tidak masuk kerja selama empat hari lamanya. Ini bahkan seperti libur lebaran pikirku. Aku bersorak dalam hati. Otak kananku bekerja memainkan dunia khayalan. Aku ingin pergi menemui nenek di luar kota.

“Ciyee… dapat restu dari Pak Dito, atasan tercinta...” Dika mengacak-ngacak rambutku dan mengajak bercanda. Aku memelototinya. Tak terima dibilang mendapat restu. Memangnya orang menikah pakai restu-restu segala. Aku hanya melempar senyum nakal kepada Dika. Melayangkan kalimat syirik lantaran cutinya belum juga di acc oleh Pak Botak.

Selama aku cuti, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Aji. Aku memang sengaja men-silent-kan hpku. Dan aku juga sengaja tak bilang padanya kalau aku akan cuti beberapa hari. Untuk apa juga aku harus bilang padanya. Dia bukan siapa-siapaku. Hmm.. aku mendesah panjang. Mengapa dunia ini tidak adil? Kenapa seorang Aji yang berani menyatakan dirinya bersedia menjadi pasanganku. Kenapa bukan orang lain? Hatiku lusuh. Aku menyeka hidungku. Menatap kosong ke jam dinding ruang tamu.

Sekembalinya aku dari cuti panjang, aku masih belum ingin bertemu Aji. Namun seharian ini aku tidak melihat batang hidungnya. Mungkin dia tidak masuk kerja, ada urusan pribadi atau mungkin dia sakit. Lagi-lagi aku menerka dalam hati. Keesokan harinya, Aji belum juga terlihat. Aku melongok penasaran.

Tak perlu dicemaskan. Bukankah aku senang kalau Aji benar-benar tidak ada? Tidak! Aku benar-benar kehilangannya. Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya.Berkunjung ke rumahnya pun rasanya tidak mungkin. Aku pun tak tahu dimana dia tinggal. Aku hanya khawatir dia sakit keras. Akupun memberanikan diri mencari alamatnya. Aku ingat saat dia bilang tinggal di kontrakan kecil bersama kakaknya, tidak jauh dari kantor. Beberapa rumah aku kunjungi dan melontarkan pertanyaan yang sama “Apakah benar ini rumah Aji?”

Seseorang di dalam menyahut “Bukan.”
Bukan dan bukan. Aku hampir menyerah. Namun perempuan berkerudung hijau itu mendekat dan berkata;

“Mba mencari adik saya, Aji?” perempuan itu mengajakku ke rumahnya. Aku senang saat aku akan bertemu dengan Aji, walau sesungguhnya aku merasa engan menemuinya. Namun apa kenyataanya? Aji sudah tidak tinggal disini lagi. Aji pindah kerja entah kemana. Hatiku merasa terpukul mendengarnya. Hatiku terasa pilu.

Aku mencoba menghubungi nomor HP Aji. Tidak ada respon, atau lebih tepatnya nomor tidak aktif. Aku menelan ludah. Mungkin ini yang terbaik. Perpisahan. Bukankah itu yang aku inginkan. Menjadi orang yang tak pernah mengenal Aji. Tapi sejujurnya, hatiku meringis sepi. Hanya dia yang membuatku tertawa lepas. Hanya Aji yang selalu membuatku tersenyum tanpa henti. Dan sekarang, senyumku memudar. Layu seperti bunga yang kehilangan pesonanya.

“Elinn, besok kamu datang sama siapa ke kondangan anaknya Pak Dito?”
Dika memutus lamunanku tentang Aji yang sudah pergi selama tiga tahun terakhir. Jelas aku akan pergi sendiri, mengingat Dika sudah beristeri. Dan aku yakin dengan keputusanku. Aku akan pergi sendiri ke acara itu.

“Hey.. kenapa menangis?” seorang anak kecil berambut ikal sebahu merengek mencari ibunya. Aku merangkulnya dengan hati iba. Menanyakan kemana ibunya? Harusnya aku tidak menanyakan hal ini pada anak kecil yang baru berumur satu tahun setengah. Dia belum mengerti apa-apa. Aku menggendongnya dan menunjuk satu persatu wanita dan laki-laki yang mungkin ia kenali. Anak itu tetap menangis. Mereka bukan orangtua anak ini.

Tak jauh aku melangkah, seorang laki-laki bersua memanggil nama anak itu, “Sheina…”

Siapa itu Sheina? Aku tidak menoleh. Tak terpikirkan anak itu bernama Sheina. Lalu aku kembali berjalan mencari sosok orangtua anak kecil yang ada dalam gendonganku. Laki-laki tinggi itu mengahadangku. Isterinya menyusul dari belakang. Ia terlihat mengatur nafas dan mengusap air matanya.

“Sheina sayang, kemarilah, Nak. Ini Ayah,” laki-laki berjas abu-abu itu membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Matanya berkaca-kaca.

“Apa benar kamu bapak dari anak ini?” aku bertanya tak percaya.

“Benar Mba, kami orang tuanya. Sedari tadi kami berputar-putar di tempat ini untuk mencarinya. Sheina tertinggal saat kami asyik berbincang dengan Pak Dito,” wanita cantik bergaun anggun putih itu meyakinkanku. Aku memberikan bocah kecil itu padanya. Wanita itu meraihnya dan langsung menciuminya berkali-kali.

“Maafkan Mamah, Nak! Mamah sayang kamu!” wanita itu mencoba mengusap air mata yang membanjiri telaga pipinya. Aku menyeringai ke arah laki-laki yang disebut sebagai suaminya itu. Ayah dari anak ini? Wajahnya tak asing. Aku seperti mengenalinya. Tapi entah dimana. Dia seperti Aji. Mirip sekali. Tapi aku takut salah orang. Dan perkenalan pun berlangsung, kami bertiga saling bergantian menyebutkan nama masing-masing.

Aji! Ya, benar sekali. Ini kamu? Benarkah? Kamu sudah memiliki isteri yang amat cantik dan satu anak yang sangat jelita. Sedangkan aku, masih dalam kesendirian panjangku. Belum menemukan kandidat yang cocok untuk kujadikan suami, ayah dari anak-anakku kelak. Mataku memerah. Aku menghela nafas dalam-dalam, kemudian berpamitan pada keluarga kecil itu. Baru beberapa langkah aku berlalu, laki-laki itu menarik tanganku.

“Mba, apa kabar? Saya sangat rindu padamu. Maafkan saya yang tak berani mengucapkan salam perpisahan atas kepindahan saya ke tempat kerja yang baru. Saya juga tidak mengundang Mba ke acara pernikahan kami,” Aji memandangku dengan sorotan mata yang tajam. Kerinduan yang tak mungkin dapat terjamak. Aku menyentuh pipinya lembut, seolah ini adalah salam perpisahan selamanya untuk orang yang pernah kusia-siakan dulu.

Ingin memeluk namun rasanya tak mungkin. Sesosok wanita cantik berdiri di belakangnya. Tersenyum padaku. Wanita itu tak marah ketika aku menyentuh halus pipi suaminya. Bahkan dia menjadi saksi antara dua insan yang tak bisa bersatu. Semua ini begitu hebat, Aji. Kau memiliki isteri yang mungkin kedudukannya jauh lebih tinggi darimu. Serta dia jauh lebih pintar darimu. Namun kegigihanmu, kejujuranmumu, sikap tanggungjawabmu, serta tampang wibawa yang menarik, tak kurang dari apapun. Sehingga tak ada satupun wanita menolakmu menjadi suaminya.

Berbeda denganku, yang hanya bersikeras mengiginkan sosok tinggi di atasku, berdiri di depanku dengan segala yang melebihiku. Sejajar, paling tidak seperti itu. Wanita itu mendekat. Ia memberikan anaknya pada Aji. Aku tak berpikir aneh-aneh. Jika ia menamparku pun tak apa. Aku yang salah telah menyakiti hatinya. Tapi dia, perempuan itu, justru memelukku. Aku tak percaya, Tuhan. Apakah arti dari semua ini? Perempuan itu berbisik padaku.

“Saya tahu semuanya tentang Mba dan suami saya. Maafkan saya yang telah lancang merebut Aji dari Mba.” Tutur katanya menyiramku seperti air es. Sejuk, dan tak menghakimi.

Pelan-pelan aku melepas pelukan wanita itu. Dia menangis syahdu. Begitupun denganku, aku menatap wajahnya dalam. Mana ada wanita sebaik dia? Baru hari ini aku mendengar sendiri ucapan seorang isteri yang sangat bijaksana.

“Kamu tidak salah. Aku yang salah telah menyia-nyiakannya.” Aku tersedu sedan.

Ini semua tak pernah ada dalam pikiranku. Tidak pernah. Aku bertemu dengan orang-orang yang baiknya melebihi malaikat. Apakah aku harus menertawaiku hidupku? Menjaga gengsi hanya karena status kedudukan semata. Menjaga jarak antara hati dan realistis. Aku baru sadar ketika perempuan itu berbisik diujung telingaku. Bahwa cinta tak memandang harta dan jabatan. Cinta adalah perasaan menerima kurang dan lebih seseorang. Cinta tak pernah diukur dari pendidikan, jabatan, dan marga tertentu.

Aku tertunduk lesu. Air mataku tak terasa mengalir dengan sendirinya. Diusiaku yang sudah menginjak 30 tahun, aku belum juga mendapatkan calon suami. Seharusnya aku sudah memiliki seorang anak seumuran Sheina? Aku menelan ludah. Menyesal telah berpura-pura tidak mencintai Aji. Bahwa sesungguhnya hanya dialah yang sepenuhnya ada dalam hatiku. Berkembang, kemudian layu.

Senin, 27 Oktober 2014

Sakit Hati vs Sakit Gigi #INTERMEZO



Saat kita sedang patah hati, hancur lebur berkeping-keping, berserakan di mana-mana, kadang terbesit dalam otak untuk memilih sakit yang lain. Pada kasus yang berbeda ketika kita mengalami ngilunya sakit gigi yang membuat resah bukan kepalang, susah tidur, susah makan, mendengar hal sedikit saja langsung sensitif, tanpa sadar akan terucap, "lebih baik sakit hati daripada sakit gigi."

Menurut gue, gue lebih memilih sakit gigi daripada sakit hati. Kenapa? Sakit gigi bisa ditangani dokter. Kalau sakit hati, langsung ke psikiater, atau parahnya ya rumah sakit jiwa. Memulihkan rasa sakit hati bisa bertahun-tahun lamanya bahkan seumur hidup. Meski hati telah berdamai dan memaafkan, sewaktu-waktu sakit itu masih bisa muncul. Perasaan tetaplah perasaan. Tidak ada obat instan untuk menyembuhkannya kecuali dengan seiring berjalannya waktu. Lambat laun sakitnya mereda. Tapi tidak hilang secara keseluruhan.

Pada seseorang yang menderita sakit gigi luar biasa, mereka seenaknya bilang, "Sakit hati masih bisa dibalas. Kalau sakit gigi, bagaimana membalasnya?"
Hey, untuk apa membalas dendam. Toh perasaan sakit itu tidak akan hilang. Yang ada malah membuat dosa. Biarkan Tuhan saja yang membalasnya.
Nah, menurut kalian, lebih pilih mana? Sakit gigi atau sakit hati?
"Sakitnya tuh di sini!" *nyanyi"

Minggu, 26 Oktober 2014

Perjalanan #Motivasi


Aku bersyukur terlahir dari keluarga yang sederhana. Karena dari situlah aku banyak belajar menakhlukan kerasnya hidup. Dan aku bersyukur memiliki kedua orang tua yang membebaskanku memilih jalan hidupku, berpetualang mengejar mimpi. Serta selalu mengizinkanku melakukan perjalanan jauh demi membuka jendela keberagaman suku, adat istiadat, budaya, serta menikmati hasil karya tangan Tuhan yang maha luar biasa, alam yang sungguh indah. Berteman dengan orang-orang baru, menggali sadalam-dalamnya ilmu untuk bekal bahan inspirasi dan motivasi. Membuka cakrawala seluas-luasnya.

Rasanya amat prihatin pada teman-teman perempuan yang dilarang keras melakukan perjalanan oleh kedua orang tuanya karena alasan kita adalah wanita. Kalau kita hanya mengurung diri di rumah, kapan jiwa mandiri akan terbentuk? Kapan kita menggali hakekat kehidupan di luar sana? Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Perempuan pun bisa berkarya dan menentukan pilihan. Selagi masih dalam ruang lingkup yang positif. Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Jangan mengurung diri dan menutup pintu terlalu rapat. Pelajari setiap watak dan jangan terbawa arus pergaulan. Teruslah berpatokan pada kepribadianmu sendiri. Jangan ikut-ikutan. Kecuali jika itu sesuatu yang layak untuk diikuti.

Perjalanan ini menyenangkan, Kawan! Kita bisa terjun langsung membuktikan bahwa hidup ini berliku, terjal, licin, dan tajam. Maksudnya disetiap langkah ini, kadang kita akan merasa bingung ketika tersesat (galau), sedih saat tak tahu lagi apa yang harus dilakukan (terpuruk), bahagia karena berhasil sampai puncak/ tempat tujuan (solusi). Semuanya menguji adrenalin (kesabaran dan perjuangan). Kadang berkerikil, berbatu, penuh jurang, curam, terjal, dan mulus. Kadang ke hulu, kadang juga ke hilir. Kau akan menemui titik-titik itu. Inilah hidup. Mau tidak mau harus dijalani, dilewati, dan dinikmati.

Kata ayah, meski wanita, kita tidak boleh cengeng, lemah, apalagi manja. Menangis boleh, mengeluh pun boleh. Asal jangan terlalu sering. Cukup diri sendiri saja dan sahabat terdekat yang tahu. Lantas ketika kamu terjatuh, jangan terlalu lama mengaduh sakit. Bangkitlah! Berubahlah menjadi manusia yang lebih baik, bermutu, dan berkualitas. Jadikan kesedihanmu, kegagalanmu, keputus-asaanmu, dan kegundah-gulanaanmu sebagai batu lompatan menuju sukses! Go Girls, Go Passion, Go Dream!