Sabtu, 23 Oktober 2021

PARALEL - BAB 4 #NOVELSERIES

 Kehujanan Bareng Albio

 

EVERIST FIRSTA

Tiba-tiba ponsel yang sedang kupegang bergetar. Ternyata ada chat masuk dari grup ‘Akun Ting2 100%’

Luca              : Barusan kita disidang sama ibu tiri dan Willy Love You. Lo juga kena, Ev.

Albio V.          : Ini ide gilanya si Iban nih. Gue kena juga deh.

Faris De Ril   : Iban Kodok emang, mau2nya gue ikutan bikin surat cinta buat Willy Love You

Iban Ganteng : Tenang, Beps, baru SP 1, habis ini Willy love You, love us again.

Luca               : Pret…

Iban Ganteg : Buktinya dia rela ninggalin meeting-nya karena takut kehilangan kita.

Faris De Ril   : Bego, lu Ban. Pencemaran nama buruk lo mah. Kampret emang.

Chandra Cool : Ngehe semua lu pada. Mang enak dapet doorprize hahahah.

Everist Firsta  : Lah, gimana ceritanya? Kepo bet gue.

Luca                : Nanti gue ceritain deh pas lo masuk. Males ngetik gue.

Iban                : Nggak usah diceritain. Gak penting juga. Lu lagi di mana sih Gunung? Gak ada

 angin gak ada  hujan, gak ada kabar.

Everist Firsta : Napa lu Ban? Kangen ya sama gue? Sayangnya, gue gak kangen sama lu. Wee.

Albio              : Rugi pokoknya lo gak masuk hari ini, Rist.

Iban               : Kalo deket, lu gue unyeng2, Nung.

Everist Fisrta : Udah dulu ya, gue masih rempong nih.

Faris                : Sok sibuk

Iban                 : Paling lagi benerin kancing baju. Makanya gak masuk kerja.

Chandra Cool : Bukan kancing baju, tapi benerin genteng bocor kayaknya.

 

Dan, semuanya terbahak di dalam chat grup ‘Akun Ting2 100%’ tersebut. Aku pun ikut cengar-cengir sendirian sambil menahan malu karena dilihat pengunjung lain di kanan dan kiriku.

Sebenarnya, hari ini aku ada keperluan mengurus surat izin mengemudi yang hampir saja habis masanya. Dari pada aku telat mengurus dan buat baru lagi, lebih baik aku izin cuti saja. Lagi pula sisa cutiku masih banyak, dan kebetulan juga Willy Love You sedang ke luar negeri. Sudah setengah hari aku berada di kantor samsat Jakarta Barat. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, rebahan di kasur -  bobo siang. Jarang-jarang kan? Hehehe.

***

 

ALBIO VARGASBARA

“Bio, lo mau kemana?” Everist tampak panik ketika aku meninggalkan kubikelku.

“Pulang lah. Mau kemana lagi.” Aku berhenti sejenak, lantas melanjutkan langkahku yang terhenti oleh cewek bawel dan penakut itu.

“Jangan dulu, dong. Tungguin gue. Belum selesai nih kerjaannya.”

Terus, lo mau apa, Everist? Emangnya gue peduli?

Everist menarik ranselku kuat-kuat ketika aku di ambang pintu dengan kaki dan tangannya. “Please, Bio… Temenin gue bangsa lima belas menit lagi deh ya.. Help dong… Lo nggak kasihan sama gue?” Everist memaksa.

“NGGAK.” Jawabku galak. “Lo kan udah ada yang nemenin, tuh si Leon.” Aku menunjuk ikan cupang piaraan Everist dengan daguku.

“Dia nggak bisa jagain gue kalo gue ketakutan. Kalo elo, kan bisa.”

“Dasar cewek penakut. Makanya lain kali lo temenan sama dedemit biar gak takutan lagi.”

“Iss… Gitu banget.” Everist cemberut, berhenti memegangi ranselku dan membalik badan menuju kubikelnya. Aku tahu, dia akan beringsut menarikku lagi dalam sepuluh langkah.

“Makasih, Bio. Biar pun lo galak, tapi gue suka. Upss.” Everist menutup mulut dengan sepuluh jarinya.”Maksudnya gue suka gaya lo nemenin gue. Laper gak? Gue ada indomie.”

Everist menyodorkan sebungkus indomie instan padaku. Lumayan deh buat mengganjal perutku yang kerocongan. Aku menerima sebungkus mie instan dari tangan Everist. Menaruh tas ranselku di meja

“Tapi, lo jangan lama2 di pantri. Lo makannya di meja lo aja biar gue ada temennya.”

Aneh deh, memangnya apa yang perlu ditakutkan di sini? Tidak ada apa-apa. Palingan Cuma kuntilanak, tuyul, dan butoijo. Pengakuan itu datang dari bibir Lunetta, dan kalau dia yang bilang, aku percaya. Hal itu kubuktikan waktu Mba Imelda kesurupan di toilet, ketika kami sama-sama lembur hingga pukul 12 malam. Tapi, hantu, setan, jin, dan dedemit juga takut kali sama Everist, gak bakal mau gangguin dia.

“Ok, gue temenin. Tapi, jangan lama-lama ya. Bentar lagi mau hujan. Barusan Parman whatsapp gue, petirnya gede-gede. Dan, gue lagi nggak bawa mobil. Males kalo harus pakai jas hujan.” Aku berjalan gontai menuju pantri. Kuperhatikan wajah Everist menatap punggungku diam-diam. Dasar cewek merepotkan.

Lima belas menit kemudian. Mie sudah habis kulahap. Aku sampai lupa menawari Everist yang sedang serius mengetik biaya operasional di komputernya. Aku tahu betul watak Willy Love You, kalau sudah minta maunya cepat. Dan Everist sedang berjuang mengerjakan deadlinenya secepat kilat berhubung hari sudah larut malam. Hal yang sama terjadi padakau beberapa menit sebelum Everist memaksa minta ditemani lembur. Tadi siang, Willy minta laporan PPN PT Murah Senyum. Aku pun mau tak mau merekonsiliasinya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Cepetan! Udah lebih dari 15 menit nih.” Aku melirik jam tanganku ketika Everist selesai mematikan komputernya.

Aku bergegas dengan langkah cepat. Everist tertinggal jauh di belakang.

“Pelan-pelan dong, Bio. Lo kira kaki gue sepatu roda.” Everist mendumel, mulutnya manyun. Sudah beruntung kutemani, dia malah tidak tahu cara berterimakasih dengan baik. Setiba di lobby, Parman menyapaku, mengucapkan hati-hati di jalan. Dia adalah security yang bertugas jaga kandang malam ini. Orangnya baik nan ramah.

Dan, sekarang dia mengintiliku hingga ke parkiran. Sejak di dalam lift, dia merengek minta pulang bareng.

“Lo naik bajaj aja sih. Kalo nggak Grab Car, kalo nggak Uber, Go Car, atau apa lah kendaraan berbasis online yang lo suka.” Aku mulai mencoba memberi alternatif, karena suara petir terdengar menggelegar. “Lagian gue cuma punya satu mantel.”

“Gue yakin paling cuma gerimis. Mendung tak berarti hujan kan?” Everist tersenyum penuh drama. Ngomong sama Everist, sama dengan ngobrol sama piaraannya – si cupang Leon. Menyebalkan. Dia bersikukuh mau bonceng denganku. Meski pun aku hanya punya satu jas hujan dan helm.

Baiklah, kau boleh ikut, Everist. Tapi, nanti kalau polisi mencegatku lantaran membawa satu helm, kau akan kuturunkan di jalan. Malas juga kalau mesti berdebat dengan cewek kepala batu. Dia tidak akan pernah mau mengalah.

“Tuh kan, hujan. Lo mending turun deh, terus setopin Taksi. Gue nggak punya mantel dua.”

Baru beberapa menit keluar dari parkiran, gerimis merincik-rincik.

“Ogah, ah, macet. Udah kepalang juga ngejogrok di atas jok motor lo. Mendingan gue nebeng sama lu. Lagian kalo cuma gerimis gini sih, gue kebal. Tenang, nanti gue bayar.”

Hah bayar? Memangnya aku tukang ojek. Oke, kalau dia bersikeras. Aku menutup kaca helmku, menancap gas kembali, menembus gerimis di gelapnya malam jalanan ibukota. Malas berdebat lama-lama dengan cewek keras kepala macam Everist. Yang ada hujannya semakin deras.

Benar saja, 20 meter kemudian, gerimis menderas. Aku kalang-kabut mencari tempat berteduh. Tapi, tidak kutemui tempat yang pas untuk kusinggahi. Tak tahan rasanya mendengar teriakan Everist di dekat kupingku.

“Bio, neduh dulu sih. Lo nggak menghargai gue banget sebagai penumpang lo. Mata gue perih nih kena air hujan. Kacamata gue berembun. Kepala gue sakit ditimpukin air hujan. Lo juga bawa laptop kan? Ntar kalo data-datanya pada hilang, gimana?”

Syukurin. Suruh siapa mau bonceng denganku. Kalau masalah laptopku sih aman terkendali. Tas parasutku anti air, jadi aku tidak was-was sama sekali. Justru aku yang mencemaskan laptop Everist. Kalau sampai rusak, bisa-bisa aku diadukan ke ibu tiri. Laptopnya rusak. Ini semua gara-gara Albio yang tidak mau menurut, Bu… Duh, bisa panjang urusannya.

“Lo pikir gue nggak basah?” kataku kesal.

“Ya makanya neduh dulu. Dimana kek.” Everist tetap merasa benar. Dan aku ingin rasanya menceburkannya ke comberan.

***

 

EVERIST FIRSTA

Duh, seandainya motorku tidak mogok, aku tidak perlu menebeng Albio pulang. Aku bisa saja pesan taksi daring, tapi entah kenapa aku ingin pulang bareng dia. Lumayan kan searah, ngirit ongkos.

Tadi menjelang jam pulang, Willy Love You meneleponku dan meminta laporan laba rugi PT Kenangan Hati. Memangnya di negara tetangga kerjanya hingga malam ya? Apa tidak ada hari esok saja untuk mengerjakannya. Kalau begini ceritanya, aku mesti menginput seluruh biaya dulu ke sistem Accurate. Banyak pula datanya.  Datanya saja baru aku terima komplit pukul 15:00, dan harus selesai sebelum pukul 20:00. Huh, gemes deh…

Tapi, untung saja Albio juga lembur hari ini, jadi aku tidak merasa seperti peserta uka-uka yang sedang uji nyali. Serem kan kalau aku tiba-tiba melihat sosok baju putih rambut panjang terbang melayang-layang di ruangan. Bulu kudukku langsung bergidik ngeri membayanginnya.

Albio berhenti persis di bawah pohon akasia. Tidak terlalu rindang, tapi berhasil melindungi kami berdua dari derasnya air hujan yang membuat rambutku lepek dan bajuku kuyup. Sejak tadi mulutku berbusa menyuruhnya berhenti. Dia sama sekali tidak menghiraukan seruanku.

“Lo pake atasannya.” Albio menyerahkan jas hujan untukku.

“Nah, terus elo nanti kebasahan dong?” aku menolak memakainya.

“Yang penting laptop lo aman. Tas gue tahan air.” Katanya sembari memakai celana jas hujannya.

“Nggak ah, lo aja yang pake. Gue pake jaket lo aja. Sini buka!” Aku berusaha membuka resleting jaketnya yang basah. Lumayan, setidaknya tas ranselku terlindungi kain sebelum benar-benar basah. Tapi, Albio balik badan dan menyerahkan lagi atasan jas hujannya kepadaku.

“Lo pake ini. Cepetan! Keburu laptop lo basah.” Albio bersikeras memerintahku memakai jas hujannya, dan aku kekeuh bilang tidak mau.

“Lo aja. Gue biar pake jaket lo aja. Parasut juga kan? Ya udah, laptop gue aman.” Kataku dengan gigi yang bersentuhan karena dingin.

Albio pasrah menurut. Ia melepas jaketnya kemudian menyerahkannya padaku. Lalu, dia mengenakan atasan jas hujan hingga kepala, sedangkan aku memakai jaketnya untuk melindungi ranselku yang basah.

“Lo naik Taksi aja sih.” Kata Albio dengan nada memaksa. Aku masih menjawab sama, tidak mau. Sudah kepalang basah juga. Mana mau Taksi menerima penumpang yang basah kuyup sepertiku.

“Kenapa sih nggak mau? Nggak punya duit? Ni gue kasih.” Albio hendak membuka dompet dari saku celananya.

“Eh, gue punya kok. Udah terlanjur basah, gue ikut sama lo sampe lampu merah depan aja.” Kataku menjelaskan.

“Kalo gitu lo pake mantel gue. Buka jaket gue! Cepetan!”

Kali ini aku setengah takut meladeni ucapan Albio. Ternyata kalau Albio lagi marah, wajahnya jadi menyeramkan. Aku manut saja membuka kembali jaketnya dan memakai atasan jas hujan milik Albio.

“Bandel.” Selidiknya kesal. Aku tertawa. Lucu juga ya bertengkar dengan Albio. Ngeselin tapi seru. Ketika urusan jas hujan selesai, aku memeluk Albio dengan perasaan senang, meskipun Albio melarangnya dan berdalih bukan muhrim. Rasanya bahagia sekali membuat orang kesal. Dan hujan ini, membuatku semakin menggigil.

 

 

 

 

 

Rabu, 13 Oktober 2021

PARALEL - BAB 3 #NOVELSERIES

 

RESIGN BERJAMAAH

 

LUNETTA VERICA

Meeting seharian kemarin cukup membuatku jenuh. Aku berjalan gontai menuju kubikelku. Tidak perlu tergesa-gesa, mengingat waktu masih jauh dari pukul delapan. Dan sesuatu yang amat membahagiakan pagi ini adalah Willy Love You tidak ke kantor. Katanya sih ada urusan di negeri Jiran.

Saat memasuki ruangan tim accounting service, aku melihat Iban, Albio, dan Faris duduk bergerombol. Mereka seperti tampak serius mengetik sesuatu. Para cucunguk itu lagi pada ngapain ya?

Ah, daripada penasaran, lebih baik aku intip. Aku berusaha memelankan langkah sepatuku sepelan mungkin agar mereka tidak kaget. Aku melongok di antara kepala Iban dan Albio.

Ternyata begini isi layar laptopnya:

 

To: wiliam@atmosfirsejuksekali.com

Cc: gibran@atmosfirsejuksekali.com; albio@atmosfirsejuksekali.com ; lunetta@atmosfirsejuksekali.com; everist@atmosfirsejuksekali.com, Faris@atmosfirsejuksekali.com

Subject : Pengajuan Pengunduran Diri

 

Dear Bapak Wiliam,

Dengan ini saya memohon maaf karena tidak dapat lagi join di perusahaan yang Bapak pimpin. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kesempatan yang Bapak berikan kepada saya selama ini. Bila saya resign, kemungkinan Albio juga ikut resign. Bila Albio resign, kemungkinan Everist juga ikut  resign. Bila Everist resign, kemungkinan Lunetta juga resign. Bila Lunetta resign, sudah pasti Faris juga ikut resign.

Besar harapan saya, PT ATMOSFIR SEJUK SEKALI bisa terus maju dan berkembang. Sukses dan jaya selalu, saya doakan.

Sekian surat pengunduran ini saya buat. Kiranya Bapak bisa mempertimbangkan keputusan saya.

Best regards,

Gibran Handal Pribadi dkk

 

    Konyol. Ini apa-apaan? Iban mau resign? Albio juga? Everist juga? Faris juga? Terus kenapa harus membawa-bawa namaku? Lantas nanti yang tersisa di dunia tukang hitung siapa dong? Bang Chandra seorang? Iban betul-betul keterlaluan!

    “Eh kampret, kalian beneran mau re…?”

    “Hstt!!! Jangan keras-keras, Lune.”

    Belum selesai bicara, Iban menyekap mulutku. Aku berusaha memberontak, namun kenyataannya tenaga laki-laki selalu lebih unggul dibanding wanita.

    “Ini cuma dagelan, tahu. Lo lihat dong alamat emailnya.” Iban melepaskan sekapannya sambil menaikan kedua alisnya bergantian, mirip seperti Spongebob Squarepants. Uh, akhirnya aku bisa bernapas lega.

Iban meminta aku membaca sekali lagi alamat surel yang ada di layar laptopnya.

    “Pak William kan? Si Willy Love You? Atasan kita, sekaligus vice president di kantor ini?” Aku yakin tidak salah baca, tapi Iban masih saja protes.

    “Lun, coba deh lo pakai kacamata. Kayaknya mata lo mulai minus deh, atau bisa jadi silinder rangkap plus.” Iban berdiri, mengacak-acak rambutku. Kebiasaan, dia membuatku harus rajin menyisir. Rambut panjang yang kucatok dengan penuh kesabaran, jadi berantakan lagi.

    “William or Wiliam? Single ‘L’ orDouble ‘L’ Do you understand? Iban memberikan penekanan pada ucapannya.

    Aku menggeleng, “maksudnya?” jujur, aku masih belum mengerti apa yang Iban utarakan.

    “Lunetta yang cantik dan memiliki wajah mirip chery… Lo baca sekali lagi. Pengen cium deh rasanya. Ih.. emesss.” Iban menyuruhku duduk di bangkunya. Aku menuruti permintaannya, membaca dengan teliti.

    “Jelas-jelas buat Pak William, Iban…” Aku geregetan. “Bio, Faris, coba bilang apa yang salah dengan mata gue?” Aku membuka lebar-labar pupil mataku dan menunjukkannya pada para cucunguk yang justru mendekatkan mulutnya ke wajahku. Aku langsung menutup muka dengan kedua tanganku.

    “Ya, jelas salah lah, Lunetta… Jelas-jelas huruf ‘L’nya cuma satu. Dan, alamat emailnya nggak pakai strip. Ah, gimana sih lo.” Kali ini Albio yang gemes padaku. Telunjuknya ditempelkan pada layar monitor. Aku mencoba membaca sekali lagi. Bio benar, nama William diketik dengan satu ‘L’, yakni Wiliam.

    “Emang Pak William punya alamat email lain?” tanyaku dengan wajah polos.

    “Ya nggak lah. Orang kita becandaan.” Albio tergelak. Begitupun dengan Iban dan Faris.

    Hah, mereka bilang bercanda? Aku menjitak mereka satu per satu. Sialan! Aku tertipu. Rupanya mereka hanya pura-pura, aku memasang wajah sebal. Kuperhatikan lagi alamat surel di layar monitor Iban dengan tatapan curiga. “Lo udah kirim emailnya, Ban?”

    “Udah. Tenang aja, emailnya bakalan nyangkut di pohon kedelai. Kan alamatnya salah. Hahaha.” Albio, Iban, dan Faris beradu tos. Dasar, kurang kerjaan.

    Begini deh kalau atasan ke luar kota atau tidak masuk kantor, pasti mereka bahagia. Termasuk aku yang setidaknya merasakan sedikit kedamaian, karena tidak harus mengangkat panggilan telepon atau meeting dengannya selama beberapa hari ke depan dengan sang Bossman.

    Aku bangkit dari kursi Iban menuju kubikelku yang berada di paling pinggir. Mengusir para cucunguk yang betah menggerumuniku “Awas, ah, gue mau dandan. Gue pikir serius. Nggak tahunya boongan. Gak seru.”

    “Manfaatkan waktu senggang, Ta. Hahaha. Btw, tumben banget lo berangkat pagi, Ta. Biasanya jam segini masih luluran.” Albio menyenggol lenganku, iseng menggoda.

    “Tau Lun, biasanya lo masih nungging di kasur.” Faris angkang kaki di kursinya, bergaya ala bos.

    “Gue mau merayakan kebebasan hari ini. Emang kalian doang.” Kataku bohong.

    Sebenarnya, aku diminta mamah untuk mengantarkan blender ke rumah tante di daerah Slipi. Sejak semalam mamah bawel mengingatkanku untuk lekas tidur. Jangan begadang, Lunetta, tantemu bertanya terus kapan mau diantarkan. Mau dipakai katanya, begitu katanya.

    “Kalau merayakan kebebasan tuh ya harusnya hari ini lo bolos aja. nGapain coba kerajinan. Kayak Everist aja datang pagi buta. Bahkan gue rasa sebelum ayam jago kukuruyuk dia udah jalan.” Iban memainkan pondasionku, mengoleskannya di tangan. Kebiasaan, sudah kukatakan berapa kali kalau itu bukan hand body lotion.

    “Eh iya, btw, si pemilik ikan cupang kemana nih? Tumben dia belum datang.” Albio menatap kubikel Everist yang kosong melompong.

    “Eh, iya, si Gunung kok belum datang. Tumben bener.” Iban ikut-ikutan mencari Everist .

    “Kenapa kalian? Kangen ya? Nanti gue sampein salam kangennya ke Everist.” Kataku meledek.

    “Ih, siapa juga yang kangen. Tumben aja kan dia biasanya datang super pagi.” Iban membela diri.

    “Jujur sih kalau dia beneran gak masuk hari ini, berasa plong aja depan gue.” Sambung Albio.

    “Ecieeee… Gak ada yang bisa digodain lagi ya? ”Aku senang meledek Albio. Dia salah tingkah. Wajahnya bersemu merah.

    “Apaan sih. Enek yang ada gue hadap-hadapan sama dia.” Sangkal Albio.

    “Dia kemana sih emangnya Lun? Ini beneran gue nanya.” Faris sepertinya benar-benar ingin tahu.

    “Katanya sih dia ada urusan hari ini. Gak bilang sih urusan apa.”

    “Jangan-jangan Everist mau fitting baju nikah.” Faris yang baru saja datang dari toilet ikut menimbrung obrolan.

    “Nikah sama siapa? Pacar aja gak ada.” Albio terkekeh.

    “Sama ikan cupang. Kali yang menjelma jadi pangeran tampan. Kayak di dongeng-dongeng gitu. Soalnya gue pernah mergokin dia ngomong sama ikan cupang.” Iban sok serius.

    Elaaah, lo juga pernah gue lihat ngomong sama meja.” Kataku sambil terbahak.

***

 

Pukul 10:32

    Kini setiap meja sudah terisi oleh Tuannya. Tidak ada pekerjaan penting hari ini. Rasanya damai sekali bila atasanku – Pak Willy Love You sedang di luar negeri.

    Albio tampak bahagia menonton film kesayangannya, apalagi kalau bukan Tuyul dan Mbak Yul. Sedangkan Iban asyik menonton film India. Kali ini dia menonton dengan seksama film Mohabbatein. Faris sedang cekikikan mendengarkan siaran radio. Sementara aku, sedang sibuk mencatok ulang rambut yang telah diacak-acak Iban barusan.

    Hmm… Jarang-jarang banget loh kita semua bisa free kayak gini.

    “Lun, lo nggak ada permen apa? Mulut gue asem banget nih.” Iban mengusik ketenanganku.

    “Habis. Belum sempet mampir ke swalayan gue.” Jawabku seperlunya.

    “Yah, kalo gitu minta hatinya aja deh. Abang rela punya bini dua.” Bang Chandra cengengesan.

    “Heh, ngegombalin cewek gue. Hatinya Lunetta Cuma buat Iban seorang. Ya kan Lun?” Faris mengerdipkan matanya. Sepertinya penyakit cacingannya kumat.

    “Kalian jangan berisik napa, gue lagi fokus sama si Kiran nih. Cantik banget. Lunetta kalah deh sama dia.” Iban menimpuk Faris dengan pulpen.

    “Sialan lo, Kodok. Sakit bego.” Faris mengaduh sambil mengusap kepalanya.

    “Tau lo Ban, kayak nenek gue aja nontonnya begituan. Nonton mah film blue.”

    “Anjrit Bang Chandra omongannya. Gue setubuh banget!” Iban membuka headsetnya, meneguk air mineral di mug pemberianku kala itu waktu dia ulang tahun. Baru tahu, kalau mendengarkan nonton film India bikin dahaga.

    “Lun, nanti siang makan sama gue ya..” Iban mendekatiku, berniat membantu apa yang kususun, tapi justru malah membuatnya berantakan.

“Iban, jauh-jauh deh lo. Mending lo beliin gue coklat, baru gangguin gue.” Aku mengibaskan tangannya dari jangkauan dokumen-dokumen yang tengah kurapikan.

    “Ya  udah, tapi nanti siang makan bareng gue ya.. Okeh okeh!”

    “Nggak mau. Males.”

    “HAHAHAHA. MAMPUS!” Albio mencibir Iban, tampak bahagia ketika mendengar penolakanku barusan. “Gue dong, sering makan sama Lunetta.” Ucapnya penuh bangga.

    “Heee biasa aja dong, Bio. Tunggu aja, nanti Lunetta gue pelet biar berubah pikiran.” Iban menjawil lenganku. Para cucunguk ini selalu saja memperebutkanku, tapi giliran Veronica lewat, kalah deh aku. Tersaingi.

    Dan faktanya, kebahagiaan yang kami alami tidak berlangsung lama. Bu Tira tiba-tiba datang ke kubikelku. Mengobrak-abrik istana yang tenteram nan damai beberapa jam terakhir. Matanya yang merah menatap kami tajam. Terutama saat mengegep ulah nakal Iban yang menonon serial india di youtube.

    “Kalian semua, kecuali Chandra, ikut saya sekarang!”

    “Saya juga, Bu?” tanyaku sambil menunjuk dadaku sendiri.               

    “Lunetta, kamu belum tuli kan? Saya bilang semuanya, KECUALI CHANDRA. Masih belum jelas?” Bu Tira memelotot, aku melemaskan otot, memasang kuda-kuda. Kalau sudah begini, aku pasrah saja. Beliau memaksa kami berdiri dan mengekornya menuju ruangan angker.

    Kami yang bagai kerbau dicocok hidungnya, manut. Divisi lain memandang kami dengan oenuh rasa penasaran. Bu Imelda bertanya lewat Bahasa isyarat, dan aku membalas dengan mengangkat bahu. Sepanjang perjalanan ke ruangannya, Bu Tira diam seribu bahasa. Aneh. Biasanya kan dia nyerocos terus kalau mendapati anak buahnya salah. Kira-kira ada apa ya? Apa kami mau diberi bonus satu milyar? Dan Bu Tira akan bilang, ‘SUREPRISE…’

***

 

    Pak William menatap kami bergantian. Wajahnya sungguh merah. Aku tidak menyangka ini menjadi masalah yang sangat amat serius. Surel mengenai permohonan pengunduran diri tadi pagi sampai kepadanya. Saat itu juga dia langsung memesan tiket pulang ke Indonesia. Tidak peduli rapat penting dengan klien sedang berlangsung, demikian penjelasan Bu Tira.

    “Coba jelaskan pada saya, Gibran. Apa maksud kamu mengirimkan email resign secara berjamaah seperti itu? Kalian membuat saya jantungan.”

    Iban terlihat gugup, tak berkutik. Seketika wajahnya berubah pucat. Mampus lah kau Iban. Willy Love You tidak sebodoh yang dia kira. Beliau mampu menyadap semua surel masuk dan keluar melalui ponsel canggihnya.

    Dengan memangku kedua tangannya, Iban, Albio, dan Faris saling lirik. Kurasa mereka mau menangis, jika tidak ingat bahwa mereka adalah lelaki tangguh.

    “Maaf, Pak, kami hanya main-main. Sungguh.” Setelah hening sekian lama, Iban angkat bicara. Bu Tira memandang Iban dengan tatapan sinis. Bibirnya yang merah membahana bagai habis makan orok, seperti ingin menelan cowok berambut gondrong itu bulat-bulat.

    “Benar, Pak, Bu, kami bercanda.” Sambung Albio dengan wajah memelas. Bila ruangan Bu Tira terkenal dengan dingin yang luar biasa bagai di kutub selatan, siang ini tidak berlaku bagi tiga cucunguk nakal itu. Bulir keringat membasahi dahi mereka. Semoga mereka tidak pingsan. Begitu pun dengan aku

    “Lunetta.”

    Deg. 

    Jantungku langsung bereaksi ketika Bu Tira menyebut namaku. Albio, Iban, dan Faris ikut menoleh.

    “Kamu juga mau resign seperti mereka? Atau main-main juga? Mana Everist? Dia bukannya hari ini izin tidak masuk? Apa dia sedang wawancara di kantor lain?”

    Nah loh, aku kan tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Setiba di kantor, Iban sudah mengirimkan surelnya, menandaiku dan Everist di email tersebut. Aku hanya korban si Iban sialan.

    “Em.. tidak, Bu.” Jawabku gelagapan. Walaupun aku bukan pelakunya, tetap saja aku merasa takut bila mesti berhubungan dengan ibu tiri. Sungguh, aku tidak mengerti apa-apa.

    “Bercandaan kalian itu benar-benar kelewatan, Albio, Iban, Faris, Lunetta.” Bu Tira mondar-mandir di depan kami. Tangannya bersedekap. “Kalian bikin Pak William panik. Coba kalian bayangkan. Gara-gara kalian, agenda meeting penting dengan klien Singapura gagal total. Karena Pak William terbang ke Jakarta dadakan. Saya tuh nggak ngerti dengan otak kalian. APA SIH YANG ADA DI OTAK KALIAN?”

    Albio menunduk, begitu halnya dengan Iban, dan Faris. Jujur, rasanya aku ingin tertawa lepas sebagaimana yang sering dilakukan Everist. Tapi kurasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menertawakan mereka. Tanganku gemetaran, rasanya tiba-tiba ingin pipis.

    Di kursi panasnya, Pak William menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya yang mulai menipis, seolah mengatakan bahwa beliau menyerah dengan kenakalan anak buahnya yang selama ini ia bangga-banggakan. Iban, Albio, dan Faris masih diam. Sedangkan aku hanya melongo macam kambing bego.

    Hingga pukul 12 siang, kami terus-terusan diceramahi ibu tiri. Diberikan wejangan panjang lebar, diperingati ini-itu, dan tentunya diomeli habis-habisan. Kami bagaikan anak murid yang kena hukuman karena bolos nonton bioskop. Kupingku sampai ngebul kalau begini ceritanya. Tidak tanggung-tanggung, kami juga diberikan hadiah dari ibu tiri.

    SELAMAT, kita semua diberikan Surat Peringatan Satu (SP 1) oleh Bu Tira

    Ini semua gara-gara Gibran Kampretos.

Rabu, 06 Oktober 2021

PARALEL - BAB 2 #NOVELSERIES

LUNETTA VERICA

    “Jadi, hari ini lo ada meeting ke PT Merah Merona?” Iban mencoba memoleskan blushon ke pipiku. Semoga hasilnya tidak seperti Jeng Kelin. 

    Sebelum menjawab pertanyaan Iban barusan, aku mengambil cermin dan melihat hasil karya Gibran Handal Pribadi. 

Dan hasilnya….  

    Jeng… jeng… jeng… OMG!!! MENGERIKAN!!!! 

    Ini beneran mirip Jeng Kelin sungguhan. Iban sengaja betul merusak dandananku. 

    “Lun, lo mau meeting sama Willy Love You kan?” Iban bertanya lagi. Aku melotot sebal. 

    “Ban, lo besok gue kursusin MUA aja ya…” Aku mengelus dadaku, mencoba menahan emosi.

    “Emang MUA apaan sih?” Tanyanya lagi. 

    Sabar, Lunetta, sabarrrrr…. Lo kayak gak tahu Iban aja, dalam hatiku ingin menjerit. Albio dan Everist terkekeh melihat ekspresi kesalku. Iban sungguh Kampretos… 

    “MUA itu yang tadi gue bilang, makeup artis, you know?” Everist bantu menjawab pertanyaan Iban yang tidak penting. 

    “Gak perlu kursus-kursus rias lah, kan udah bagus makeupnya, ya kan Lun?” Iban membela diri. 

    “Bagus apanya? Muka gue jadi mirip Jeng Kelin gini.” Aku mengambil tisu di sudut meja, kemudian mengelap lembut pipiku yang ketebalan blushon. Lalu, kutimpali bedak lagi tipis-tipis agar warnanya menjadi natural. 

    “Lun, lo ga jawab pertanyaan gue.” Iban hendak mengambil pensil alis di tas makeupku. 

Aku buru-buru merebut dan memasukannya ke dalam laci. 

    "STOP, IBAN. SUDAH CUKUP!" Aku memeragakan gaya Ani pada Bung Roma.

    “Lun,” 

    “Apaan sih?” jawabku kesal. 

    Iban ini bawelnya melebihi cewek yang lagi PMS. 

    “Tadi gue nanya belum dijawab.” 

    “IYA. Tuh, udah gue jawab.” 

    “Dih, udah apaan?” 

    “Au ah.” Lama-lama aku ingin menyublim saja rasanya. Bertemu Iban tiap hari bikin aku stres. 

    “Berarti seharian dong lo gak balik kantor lagi? Yah, nanti kalau gue kangen gimana dong?” Iban berdiri dengan mimik sedih. 

    Bodo amat, aku tidak peduli. Bahkan aku sama sekali tidak iba melihat wajahnya yang sok melas itu. 

    “Itu sih DL (DERITA LOE)” Faris mewakiliku. 

    Seketika Albio dan Everist terbahak lagi. Everist tertawa renyah sekali dan paling kencang.

    “Data udah siap, Lun. Barusan Willy chat gue udah mau nyampe. Yuk!!” Everist memakai tas backpacker-nya. 

    Aku bercermin sekali lagi, memantaskan dandananku yang hari ini diacak-acak Iban. 

    “Ok, itu artinya gue harus segera pergi. Bye, Iban kampret, bye, Albio, bye Ris…” 

    Bye, Lune, yah sepi dunia ini tanpamu. Huft.” Iban mendesah malas. Aku justru bahagia. Duniaku pasti aman sentausa tanpanya. 

  *** 

 

LUNETTA VERICA

    Aku dan Everist baru saja tiba di lobi, Willy Love You sudah melambaikan tangannya dan menyuruh kami bergegas masuk ke dalam mobilnya. 

    “Lunetta, kamu di depan saja bareng saya.” Aku yang sudah terlanjur membuka pintu belakang, mengurungkan niat duduk bareng Everist. 

    Eits, tapi kenapa Willy malah turun? Perasaanku tidak enak nih.

    “Saya gak hafal jalannya. Kamu saja yan nyetir ya.” Willy masuk ke jok sebelah drive

    Oh Tuhan, ujian apa lagi ini? Pagi-pagi sudah ada dua manusia menyebalkan. Everist senyum-senyum melirikku di spion tengah. 

    “Kamu sudah bawa dokumen perlengkapannya, Everist?” Willy Love You menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah duduk Everist. 

    “Sudah, Pak.” 

    “Neraca 2018-2020, perubahan ekuitas, profit loss, dll?” Willy Love you bertanya lagi. 

    “Sudah, Pak. Saya bawa soft filenya juga di flashdisk.” 

    “Ok. Tapi kamu sudah backup di flashdisk lain?” 

    “Sudah juga.” Everist menjawab singkat. 

    “Ok. Kalau begitu kita jalan sekarang. Lunetta, kamu bawa mobilnya jangan terlalu pelan dan jangan terlalu ngebut. Di depan ada galian lobang, macet banget pasti. Nanti kamu ikutin arahan saya.” 

    “Baik, Pak.” 

    Hello, Pak Willy, lo pikir gue supir lo, ngatur-ngatur. Lagian kalau tahu jalan ngapain nyuruh gue nyetir sih? Aku mendumel dalam hati. Kulirik spion tengah, Everist terlihat menahan tawanya. 

    “Ambil kanan! Motor yang di depan terlalu pelan. Nanti langsung masuk tol Semanggi saja.” 

    Nah kan, nah kan, baru saja melaju 100 meter, dia sudah merintah sana merintah sini. Mana jalanan lagi super padat. Dan butuh waktu satu jam untuk sampai ke tempat tujuan. Sungguh melelahkan. 


EVERIST FIRSTA

    Duh, lucu banget lihat pemandangan di hadapanku. Lunetta jadi supir dadakan bosnya, si Willy Love You. Dari tadi aku menahan tawa, pokoknya jangan sampai aku keceplosan ketawa di depan Willy Love You

    Lagipula, kenapa sih dia tidak mengajak supir untuk perjalanan meeting hari ini. Kan kasihan Lunetta, harus menyetir di atas perintahnya. Pagi ini jalanan ibu kota benar-benar tidak bergerak. Aku hampir saja tertidur di jok belakang. 

    Kalau saja Albio tidak mengirimiku pesan, mungkin aku sudah terlelap. 

    “Everist, gue titip Lunetta ya… Please…” 

    What? Albio minta aku menjaga Lunetta? Apa mereka terikat status? Tapi, kenapa aku tidak tahu? 

    Aku sengaja tidak membalas pesan singkat Albio. Nanti deh aku tanya langsung saja sama Lunetta. 

 

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN... 


    “Lun, kok lo ninggalin gue sih? Gue gak bisa keluar nih. Willy udah ngunci mobilnya. Astaga, engap banget gue.” Aku menelepon Lunetta sambil menggedor-gedor kaca mobil.

     Lunetta dan Willy Love You yang sudah berada di seberang jalan langsung balik kanan. Menghampiriku yang terjebak di dalam mobil pribadi berwarna hitam ini. 

     "Kamu kenapa gak ikut turun?" Tanya Willy polos.

    "Lah, Bapak kunci pintunya gimana saya mau turun." jawabku kesal.

    "Makanya, lain kali jangan suka tidur di mobil. Jadi kekunci kan..." Willy meledekku.

    Sialan, rupanya Willy lupa kalau ada aku di jok belakang. Enak saja dia main pergi dengan Lunetta dan meningalkanku seorang diri. Aku kan gak tidur, tapi merekanya yang melupakanku. Huaaaaa,,,,, pengen nangis deh aku. 

    Lunetta langsung menggandeng tanganku dan meminta maaf. Katanya, dia lupa saking keasyikan ngobrol dengan Willy yang kini memakai jas warna biru dongker dan sepatu pantofel mirip film Jin dan Jun.

**bersambung**

Rabu, 29 September 2021

PARALEL - BAB 1 #NOVELSERIES

Kopi Perdana di Bulan Juni

(Bukan Hujan Bulan Juni)

EVERIST FIRSTA

    Sudah hampir dua bulan semenjak asam lambungku naik, akhirnya aku kembali dapat meneguk kopi. Sebenarnya kopi bukanlah hobiku, bukan pula cara mengusir rasa kantuk. Karena kalau sudah mengantuk berat, obatnya hanya satu; yakni TIDUR.

    Aku cuma iseng, siapa tahu dengan minum kopi, aku bisa menemukan ide cemerlang untuk menghadapi klien menyebalkan. Lumayan lah ya, ada bau-bau kopi di mejaku.

    Namun, Albio yang duduk di depan kubikelku, menatap aneh.

    "Udah habis kopinya?” selidiknya ngeri.

    “Udah. Nih...”aku menunjukkan cangkirku yang kosong tak bersisa.

    Kenapa sih dia? Sebegitu anehkah melihatku minum kopi? Padahal ini bukan kali pertama aku ngopi di hadapan Albio.



ALBIO VARGASBARA

    “Sudah habis kopinya?” aku menggelengkan kepalaku, heran.

    “Sudah.” Everist menunggingkan cangkir kopinya, untuk membuktikan mugnya sudah benar-benar kosong.

    Hebat memang, di dunia ini, mungkin hanya Everist satu-satunya makhluk yang bisa melakukan adegan menghabiskan kopi dalam hitungan lima detik. Aku pun sungguh tak percaya.

    Yang kutahu, dimana-mana orang minum kopi itu dengan cara meminumnya seteguk demi seteguk untuk menikmati rasa dan aroma khasnya, bukan seperti minum susu.

    Sudahlah, daripada memikirkan kelakuan langka Everist, lebih baik aku menonton film favoritku; Tuyul dan Mbak Yul.



GIBRAN HANDAL PRIBADI

    Demi Tuhan, mataku rasanya sangat perih. Setiap semenit sekali aku pasti mengucek mataku yang berair. Semua ini akibat kebanyakan nonton film, mulai dari film Thailand hingga film India. Film dari Thailand bertajuk The Teacher's Diary, entah sudah berapa ki kutonton, tapi aku selalu menyukainya.

    Tadinya aku mau bolos kerja, akan tetapi, demi tugas negara, hari ini aku mesti berangkat kerja, mengabdikan separuh hidupku pada sejuntai kunjungan klien yang sudah dijadwalkan jauh hari sebelumnya. 

    Sebenarnya, demi Willy Love You, agar mood dia tidak rusak hari ini. Mengingat dia sangat tidak suka dengan karyawan yang tidak masuk di hari Senin.

    Menurut Willy Love You, Senin bukanlah hari yang pantas menjadi tumbal atau kambing hitam, atau segala alasan untuk tidak masuk kerja. Biar pun sedang sakit parah, kaki pincang, stroke, kejang-kejang, SENIN ITU DILARANG IZIN/ BOLOS/ SAKIT. TITIK.

    Dengan langkah gontai nan lesu, aku menghampiri meja kubikelku. Di sebelahku, Everist sibuk memainkan gawainya.

    “Pagi, fans setiaku.” Aku sengaja betul menyenggol bahu Everist.

    “Gila lu, Kutu Kupret, Tomcat kena cat! Kaget gue!” Everist memeluk gawainya yang hampir jatuh dari genggamannya.

    “Lagian sih pagi-pagi udah nonton bokep. Nonton tuh Upin-Ipin atau gak drakor. Biasanya kan cewek identik dengan tontonan begituan. Eh, tapi kan lu bukan cewek, tapi makhluk astral. Haha…” Aku terpingkal sendiri.

    Sorry ya, hidup gue udah penuh drama. Malas nonton begituan,” sangkal Everist sambil memberi makan ikan cupang kesayangannya; Leon.

    “Dasar Miss Drama.” Celetukku.

    “Iyalah, lagian gue bingung kenapa cewek-cewek, terutama Lunetta, demen amat sama drakor. Bikin gue pusing kepala. Gue tuh, lagi nonton cara membudidayakan ikan cupang. Biar si Leon ada temennya. You know?” Everist menyentuh drinking jar yang berisikan ikan cupang di dekat komputernya.

    “Bohong, tahu. Orang dia lagi nonton film India, sih. Tadi gue lihat lo joged-joged.” Potong Albio.

    “Biooooo................” Everist melempar pulpen ke Albio sambil melotot. Matanya hampir saja copot.

    “Eh, siapa yang lagi nonton film India? Ikutan dong...” Sambar Lunetta dan Faris yang baru saja tiba bebarengan.

    “Nih si Gunung Everist. Sana gih Lun, lo kejar-kejaran di tiang listrik bareng Everist dan Albio.” Aku terpingkal membayangkan cinta segitiga pada film Kuch-Kuch Hota Hai. Lucu kali ya, kalau mereka berlarian menyanyikan lagu India muterin tiang listrik, kemudian kesetrum. Dan Faris datang menjadi tabibnya.

    “Kalian yaa, please sahabat gue jangan diledekin terus.” Lunetta meletakkan tote bag kesayangannya yang berwarna cream muda ke kursinya. Lalu, ia bergoyang heboh sembari menonjolkan dada seksinya menirukan joged India yang vulgar.

    Oh, perempuan satu ini sungguh menggoda iman. Seketika rasa kantukku hilang. Ajaib Neng Lunetta bala-bala kesayangan kaum Adam.



EVERIST FIRSTA

    Hobi cowok-cowok itu ya kalau bukan main Mobile Legend, ya godain yang bening-bening. Seperti saat Veronica melintas menuju toilet, Iban dan Faris langsung suit-suitan. Mata Iban langsung melek lebar, padahal baru saja dia bilang butuh kopi.

    “Aduh, Veronica ganti kuteks warna apa nih hari ini?” Iban mencegat Veronica, sekretaris Pak Willy yang keluar ruangan sambil membentangkan kesepuluh jari-jemarinya yang masih basah akibat kutek.

    “Warna merah dong, Bang…” jawab Veronica genit.

    “Emm.. Veronica…” Panggil Faris sembari memainkan dasi blasternya. Veronica menoleh ke arah suara.

    “Vero, mau gak nikah sama Bang Faris? Nanti Bang Faris beliin pesawat.”

    “Yang ada sayapnya sepuluh.” Timpal Iban.

    “Sayapnya patah,” sambung Lunetta.

    “Abang-abang ini yang jadi pilotnya ya?” Cewek yang rambutnya dikepang itu sungguh kecentilan. Laki-laki model Iban dan Faris jadi makin demen godainnya. Namun, karena Veronica merunduk menahan kebelet, ia mohon pamit untuk cepat-cepat ke toilet, memberikan ciuman udara dari bibirnya yang merah merona.

    Iban dan Faris langsung menunjukkan ekspresi lemas. Seperti ikan yang megap-megap butuh air. Dasar begundal!

    Terus gimana ya ceboknya? Kan sepuluh jemarinya penuh kuteks? Ah, ngapain juga mikirin. Aku dan Lunetta terpingkal di meja kubikel masing-masing. Sementara Albio kulihat mesem-mesem sambil menahan tawa. Eh, tapi kok Bio gak ikut-ikutan godain Veronica sih? Dia masih normal kan ya?

    “Laper banget nih gue, makan di kantin yuk!” Celetuk Lunetta yang wajahnya penuh dengan totol-totol alas bedak. Poninya bertenggerkan rolan kanan dan kiri, persis emak-emak dasteran yang kulihat tiap pagi di komplek rumahku yang sedang belanja sayur-mayur.

    “Nih gue ada oatmeal, mau?” kataku sembari membuka isi laci meja.

    “Mau deh, tapi gak ada susunya ya?”

    “Kan udah punya? Kok masih minta susu lagi?” Iban tiba-tiba menghampiri kubikel Lunetta, lalu loncat duduk di meja Lunetta dan mengoleskan alas bedak yang baru saja ditutup.

    “Gue ada stok di kulkas ambil aja.” Kataku lagi, mengingat kemarin aku beli beberapa kotak UHT berukuran sedang dan memasukannya di kulkas kantor.

    “Ya udah tar gue ambil deh. Thanks ya, Ev.” Lunetta tampak sumringah. Tapi, tak lama ia teriak panik sambil merebut foundation yang dimainkan Iban. “IBAAAAANNNNN… Ini bukan body lotion……”

Keplak!!!

    Lunetta memukul kepala Iban dengan botol air minum. Memang ya, jadi laki-laki itu tidak bisa sedikit saja tak usil sama wanita. Rasakan kau, Iban. Benjol deh tuh kepala.



ALBIO VARGASBARA

    Sebenarnya aku sangat senang melihat Lunetta berdandan. Tapi, aku lebih suka dia menampilkan dandanan yang natural dan tidak terkesan seperti badut di acara kondangan. Cewek yang duduk di samping kubikelku ini memang selalu membuat dadaku berdebar. Lihatlah cara Iban duduk di meja Lunetta tanpa izin, rasanya aku ingin seperti itu juga. Namun, rasanya aku segan.

    “Lun, lo bisa makeup gini pas umur berapa?” tanyaku tanpa filter. Duh, konyol sekali pertanyaanku barusan. Jelas-jelas semua wanita dari masa puberitas sudah bisa berdandan. Lain halnya dengan Everist yang kuperhatikan begitu cuek dengan penampilan.

    “Kenapa gitu? Makeup gue jelek ya?” Lunetta menautkan kedua alisnya dan melekukan bibirnya yang kini sedang dipoles lipstik bernada nude. Duh, jadi makin gak tahan deh sama bidadari ini tiap hari.

    “Eh, cakep kok, kata siapa jelek. Jangan baper deh. Kan gue cuma tanya.” Dalihku sudah terlanjur membahas makeup. Everist yang duduk di seberang kubilku terbahak. Kenapa sih cewek aneh itu harus duduk berhadap-hadapan denganku? Jadi malas menatap ke depan.

    “Besok kalau ada lomba dandanin cowok, gue mau didandanin sama Lunetta aja. Gak mau sama Everist.” Faris yang sedang menyiapkan bahan untuk meeting ikutan bersuara.

    “Haiss, lu gak tau aja gini-gini gue pernah jadi MUA.”

    “Masssaaaa?” Ledekku.

    “Gini-gini gue pernah dandan loh. Lihat aja besok, pasti kalian pangling banget sama gue. Ya gak Lun?" Aku meminta pembelaan Lunetta

    “Heemmm.Tul” Jawab Lunetta singkat karena ribet dengan bulu mata palsunya.

    “Sini Lun, gue bantu sisirin.” Iban mengambil sisir dan mulai menyisiri rambut Lunetta helai per helai.

    Ah, kalau saja aku tidak gengsian, mungkin aku yang melakukan itu untuk Lunetta, tapi aku tidak berani menyentuhnya. Jangankan menyisiri rambutnya, mengajak makan berduaan di kantin saja aku gugup.

    “Aduh, Iban, pelan-pelan. Lo pernah gak sih nyisirin cewek? Kan ade lu cewek, masa gak ngerti cara sisirin cewek.” Wajah Lunetta seperti sedang menahan sakit karena Iban terlalu bersemangat menyisirinya.

    “Tuh kan rontok banyak. Udah ah, lo gak ada bakat jadi hairstylist” Lunetta merebut sisir dari tangan Iban. Dan kini ia mulai menyisir.

    “Hahahaha… Mampus!” Everist terbahak lagi menertawai Iban yang diomeli Lunetta bak anak kecil yang susah diatur.

    “Gue bisa dandan sejak gue suka sama pacar pertama gue. Dari situ gue mulai belajar pakai lipstik, bedak, lambat laun nyobain pake blushon, mascara, eyeliner, dll.” Dan Lunetta pun menjelaskan serentetan merk kosmetik kepadaku yang sejujurnya aku tidak tahu rupa dari satu per satu barang yang ia sebutkan barusan.

    “Tenang, Bio, nanti gue kasih tau lewat Mbah Google.” Everist menyambar lagi.

    “Emang lo tahu, Everist?” Iban justru bertanya balik pada Everist.

    “Tahu lah, kan gue cewek, bukan alien,” jawabnya judes. Kini aku tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Everist yang masam.

PARALEL - PROLOG #NOVELSERIES

LUNETTA

"Ev, kenapa sih nama lo Everist?” tanyaku pada cewek berambut sebahu dan tinggi sekitar 160 cm yang sedang menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kalau kata nyokap gue sih ya, karena dulu bokap pengen banget nanjak Everest. Tapi, boro-boro ke sana, naik Gunung Slamet aja cuma halusinasi belaka.” Everist mengangkat bahunya dengan wajah datar.

“Berarti gue bisa manggil lo ‘Gunung’ dong,” Iban yang duduk di samping kubilkelnya menyambar pembicaraan.

“Bodo amat...” Jawab Everist cuek. Tangannya sibuk dengan ikan cupang piaraannya.

“Ya udah, bilangin bapak lo, kita mendaki Everest sekarang. Gue temenin, gitu.” Albio mengikat slayer ke kepalanya, menirukan gaya anak gunung. Sontak aku, Everist, dan Iban menyoraki Albio.
“Ayo, kita bawa tenda dan siapin perlengkapannya.” Iban menarik-narik tangan Everist seperti merengek minta diajak ke pasar.

Tapi, eh tapi...

“IBAN.... Selesaikan dulu laporan keuangan PT Ambigu. Jangan berisik, saya sedang menyiapkan data untuk meeting.”

Suara berat Pak Wily mampu menghentikan kerusuhan kami. Seketika, kami kembali ke layar komputer dan pura-pura sibuk bekerja. Everist mengoceh tanpa suara, seperti protes status karyawan magabutnya terganggu.