Rabu, 13 Oktober 2021

PARALEL - BAB 3 #NOVELSERIES

 

RESIGN BERJAMAAH

 

LUNETTA VERICA

Meeting seharian kemarin cukup membuatku jenuh. Aku berjalan gontai menuju kubikelku. Tidak perlu tergesa-gesa, mengingat waktu masih jauh dari pukul delapan. Dan sesuatu yang amat membahagiakan pagi ini adalah Willy Love You tidak ke kantor. Katanya sih ada urusan di negeri Jiran.

Saat memasuki ruangan tim accounting service, aku melihat Iban, Albio, dan Faris duduk bergerombol. Mereka seperti tampak serius mengetik sesuatu. Para cucunguk itu lagi pada ngapain ya?

Ah, daripada penasaran, lebih baik aku intip. Aku berusaha memelankan langkah sepatuku sepelan mungkin agar mereka tidak kaget. Aku melongok di antara kepala Iban dan Albio.

Ternyata begini isi layar laptopnya:

 

To: wiliam@atmosfirsejuksekali.com

Cc: gibran@atmosfirsejuksekali.com; albio@atmosfirsejuksekali.com ; lunetta@atmosfirsejuksekali.com; everist@atmosfirsejuksekali.com, Faris@atmosfirsejuksekali.com

Subject : Pengajuan Pengunduran Diri

 

Dear Bapak Wiliam,

Dengan ini saya memohon maaf karena tidak dapat lagi join di perusahaan yang Bapak pimpin. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kesempatan yang Bapak berikan kepada saya selama ini. Bila saya resign, kemungkinan Albio juga ikut resign. Bila Albio resign, kemungkinan Everist juga ikut  resign. Bila Everist resign, kemungkinan Lunetta juga resign. Bila Lunetta resign, sudah pasti Faris juga ikut resign.

Besar harapan saya, PT ATMOSFIR SEJUK SEKALI bisa terus maju dan berkembang. Sukses dan jaya selalu, saya doakan.

Sekian surat pengunduran ini saya buat. Kiranya Bapak bisa mempertimbangkan keputusan saya.

Best regards,

Gibran Handal Pribadi dkk

 

    Konyol. Ini apa-apaan? Iban mau resign? Albio juga? Everist juga? Faris juga? Terus kenapa harus membawa-bawa namaku? Lantas nanti yang tersisa di dunia tukang hitung siapa dong? Bang Chandra seorang? Iban betul-betul keterlaluan!

    “Eh kampret, kalian beneran mau re…?”

    “Hstt!!! Jangan keras-keras, Lune.”

    Belum selesai bicara, Iban menyekap mulutku. Aku berusaha memberontak, namun kenyataannya tenaga laki-laki selalu lebih unggul dibanding wanita.

    “Ini cuma dagelan, tahu. Lo lihat dong alamat emailnya.” Iban melepaskan sekapannya sambil menaikan kedua alisnya bergantian, mirip seperti Spongebob Squarepants. Uh, akhirnya aku bisa bernapas lega.

Iban meminta aku membaca sekali lagi alamat surel yang ada di layar laptopnya.

    “Pak William kan? Si Willy Love You? Atasan kita, sekaligus vice president di kantor ini?” Aku yakin tidak salah baca, tapi Iban masih saja protes.

    “Lun, coba deh lo pakai kacamata. Kayaknya mata lo mulai minus deh, atau bisa jadi silinder rangkap plus.” Iban berdiri, mengacak-acak rambutku. Kebiasaan, dia membuatku harus rajin menyisir. Rambut panjang yang kucatok dengan penuh kesabaran, jadi berantakan lagi.

    “William or Wiliam? Single ‘L’ orDouble ‘L’ Do you understand? Iban memberikan penekanan pada ucapannya.

    Aku menggeleng, “maksudnya?” jujur, aku masih belum mengerti apa yang Iban utarakan.

    “Lunetta yang cantik dan memiliki wajah mirip chery… Lo baca sekali lagi. Pengen cium deh rasanya. Ih.. emesss.” Iban menyuruhku duduk di bangkunya. Aku menuruti permintaannya, membaca dengan teliti.

    “Jelas-jelas buat Pak William, Iban…” Aku geregetan. “Bio, Faris, coba bilang apa yang salah dengan mata gue?” Aku membuka lebar-labar pupil mataku dan menunjukkannya pada para cucunguk yang justru mendekatkan mulutnya ke wajahku. Aku langsung menutup muka dengan kedua tanganku.

    “Ya, jelas salah lah, Lunetta… Jelas-jelas huruf ‘L’nya cuma satu. Dan, alamat emailnya nggak pakai strip. Ah, gimana sih lo.” Kali ini Albio yang gemes padaku. Telunjuknya ditempelkan pada layar monitor. Aku mencoba membaca sekali lagi. Bio benar, nama William diketik dengan satu ‘L’, yakni Wiliam.

    “Emang Pak William punya alamat email lain?” tanyaku dengan wajah polos.

    “Ya nggak lah. Orang kita becandaan.” Albio tergelak. Begitupun dengan Iban dan Faris.

    Hah, mereka bilang bercanda? Aku menjitak mereka satu per satu. Sialan! Aku tertipu. Rupanya mereka hanya pura-pura, aku memasang wajah sebal. Kuperhatikan lagi alamat surel di layar monitor Iban dengan tatapan curiga. “Lo udah kirim emailnya, Ban?”

    “Udah. Tenang aja, emailnya bakalan nyangkut di pohon kedelai. Kan alamatnya salah. Hahaha.” Albio, Iban, dan Faris beradu tos. Dasar, kurang kerjaan.

    Begini deh kalau atasan ke luar kota atau tidak masuk kantor, pasti mereka bahagia. Termasuk aku yang setidaknya merasakan sedikit kedamaian, karena tidak harus mengangkat panggilan telepon atau meeting dengannya selama beberapa hari ke depan dengan sang Bossman.

    Aku bangkit dari kursi Iban menuju kubikelku yang berada di paling pinggir. Mengusir para cucunguk yang betah menggerumuniku “Awas, ah, gue mau dandan. Gue pikir serius. Nggak tahunya boongan. Gak seru.”

    “Manfaatkan waktu senggang, Ta. Hahaha. Btw, tumben banget lo berangkat pagi, Ta. Biasanya jam segini masih luluran.” Albio menyenggol lenganku, iseng menggoda.

    “Tau Lun, biasanya lo masih nungging di kasur.” Faris angkang kaki di kursinya, bergaya ala bos.

    “Gue mau merayakan kebebasan hari ini. Emang kalian doang.” Kataku bohong.

    Sebenarnya, aku diminta mamah untuk mengantarkan blender ke rumah tante di daerah Slipi. Sejak semalam mamah bawel mengingatkanku untuk lekas tidur. Jangan begadang, Lunetta, tantemu bertanya terus kapan mau diantarkan. Mau dipakai katanya, begitu katanya.

    “Kalau merayakan kebebasan tuh ya harusnya hari ini lo bolos aja. nGapain coba kerajinan. Kayak Everist aja datang pagi buta. Bahkan gue rasa sebelum ayam jago kukuruyuk dia udah jalan.” Iban memainkan pondasionku, mengoleskannya di tangan. Kebiasaan, sudah kukatakan berapa kali kalau itu bukan hand body lotion.

    “Eh iya, btw, si pemilik ikan cupang kemana nih? Tumben dia belum datang.” Albio menatap kubikel Everist yang kosong melompong.

    “Eh, iya, si Gunung kok belum datang. Tumben bener.” Iban ikut-ikutan mencari Everist .

    “Kenapa kalian? Kangen ya? Nanti gue sampein salam kangennya ke Everist.” Kataku meledek.

    “Ih, siapa juga yang kangen. Tumben aja kan dia biasanya datang super pagi.” Iban membela diri.

    “Jujur sih kalau dia beneran gak masuk hari ini, berasa plong aja depan gue.” Sambung Albio.

    “Ecieeee… Gak ada yang bisa digodain lagi ya? ”Aku senang meledek Albio. Dia salah tingkah. Wajahnya bersemu merah.

    “Apaan sih. Enek yang ada gue hadap-hadapan sama dia.” Sangkal Albio.

    “Dia kemana sih emangnya Lun? Ini beneran gue nanya.” Faris sepertinya benar-benar ingin tahu.

    “Katanya sih dia ada urusan hari ini. Gak bilang sih urusan apa.”

    “Jangan-jangan Everist mau fitting baju nikah.” Faris yang baru saja datang dari toilet ikut menimbrung obrolan.

    “Nikah sama siapa? Pacar aja gak ada.” Albio terkekeh.

    “Sama ikan cupang. Kali yang menjelma jadi pangeran tampan. Kayak di dongeng-dongeng gitu. Soalnya gue pernah mergokin dia ngomong sama ikan cupang.” Iban sok serius.

    Elaaah, lo juga pernah gue lihat ngomong sama meja.” Kataku sambil terbahak.

***

 

Pukul 10:32

    Kini setiap meja sudah terisi oleh Tuannya. Tidak ada pekerjaan penting hari ini. Rasanya damai sekali bila atasanku – Pak Willy Love You sedang di luar negeri.

    Albio tampak bahagia menonton film kesayangannya, apalagi kalau bukan Tuyul dan Mbak Yul. Sedangkan Iban asyik menonton film India. Kali ini dia menonton dengan seksama film Mohabbatein. Faris sedang cekikikan mendengarkan siaran radio. Sementara aku, sedang sibuk mencatok ulang rambut yang telah diacak-acak Iban barusan.

    Hmm… Jarang-jarang banget loh kita semua bisa free kayak gini.

    “Lun, lo nggak ada permen apa? Mulut gue asem banget nih.” Iban mengusik ketenanganku.

    “Habis. Belum sempet mampir ke swalayan gue.” Jawabku seperlunya.

    “Yah, kalo gitu minta hatinya aja deh. Abang rela punya bini dua.” Bang Chandra cengengesan.

    “Heh, ngegombalin cewek gue. Hatinya Lunetta Cuma buat Iban seorang. Ya kan Lun?” Faris mengerdipkan matanya. Sepertinya penyakit cacingannya kumat.

    “Kalian jangan berisik napa, gue lagi fokus sama si Kiran nih. Cantik banget. Lunetta kalah deh sama dia.” Iban menimpuk Faris dengan pulpen.

    “Sialan lo, Kodok. Sakit bego.” Faris mengaduh sambil mengusap kepalanya.

    “Tau lo Ban, kayak nenek gue aja nontonnya begituan. Nonton mah film blue.”

    “Anjrit Bang Chandra omongannya. Gue setubuh banget!” Iban membuka headsetnya, meneguk air mineral di mug pemberianku kala itu waktu dia ulang tahun. Baru tahu, kalau mendengarkan nonton film India bikin dahaga.

    “Lun, nanti siang makan sama gue ya..” Iban mendekatiku, berniat membantu apa yang kususun, tapi justru malah membuatnya berantakan.

“Iban, jauh-jauh deh lo. Mending lo beliin gue coklat, baru gangguin gue.” Aku mengibaskan tangannya dari jangkauan dokumen-dokumen yang tengah kurapikan.

    “Ya  udah, tapi nanti siang makan bareng gue ya.. Okeh okeh!”

    “Nggak mau. Males.”

    “HAHAHAHA. MAMPUS!” Albio mencibir Iban, tampak bahagia ketika mendengar penolakanku barusan. “Gue dong, sering makan sama Lunetta.” Ucapnya penuh bangga.

    “Heee biasa aja dong, Bio. Tunggu aja, nanti Lunetta gue pelet biar berubah pikiran.” Iban menjawil lenganku. Para cucunguk ini selalu saja memperebutkanku, tapi giliran Veronica lewat, kalah deh aku. Tersaingi.

    Dan faktanya, kebahagiaan yang kami alami tidak berlangsung lama. Bu Tira tiba-tiba datang ke kubikelku. Mengobrak-abrik istana yang tenteram nan damai beberapa jam terakhir. Matanya yang merah menatap kami tajam. Terutama saat mengegep ulah nakal Iban yang menonon serial india di youtube.

    “Kalian semua, kecuali Chandra, ikut saya sekarang!”

    “Saya juga, Bu?” tanyaku sambil menunjuk dadaku sendiri.               

    “Lunetta, kamu belum tuli kan? Saya bilang semuanya, KECUALI CHANDRA. Masih belum jelas?” Bu Tira memelotot, aku melemaskan otot, memasang kuda-kuda. Kalau sudah begini, aku pasrah saja. Beliau memaksa kami berdiri dan mengekornya menuju ruangan angker.

    Kami yang bagai kerbau dicocok hidungnya, manut. Divisi lain memandang kami dengan oenuh rasa penasaran. Bu Imelda bertanya lewat Bahasa isyarat, dan aku membalas dengan mengangkat bahu. Sepanjang perjalanan ke ruangannya, Bu Tira diam seribu bahasa. Aneh. Biasanya kan dia nyerocos terus kalau mendapati anak buahnya salah. Kira-kira ada apa ya? Apa kami mau diberi bonus satu milyar? Dan Bu Tira akan bilang, ‘SUREPRISE…’

***

 

    Pak William menatap kami bergantian. Wajahnya sungguh merah. Aku tidak menyangka ini menjadi masalah yang sangat amat serius. Surel mengenai permohonan pengunduran diri tadi pagi sampai kepadanya. Saat itu juga dia langsung memesan tiket pulang ke Indonesia. Tidak peduli rapat penting dengan klien sedang berlangsung, demikian penjelasan Bu Tira.

    “Coba jelaskan pada saya, Gibran. Apa maksud kamu mengirimkan email resign secara berjamaah seperti itu? Kalian membuat saya jantungan.”

    Iban terlihat gugup, tak berkutik. Seketika wajahnya berubah pucat. Mampus lah kau Iban. Willy Love You tidak sebodoh yang dia kira. Beliau mampu menyadap semua surel masuk dan keluar melalui ponsel canggihnya.

    Dengan memangku kedua tangannya, Iban, Albio, dan Faris saling lirik. Kurasa mereka mau menangis, jika tidak ingat bahwa mereka adalah lelaki tangguh.

    “Maaf, Pak, kami hanya main-main. Sungguh.” Setelah hening sekian lama, Iban angkat bicara. Bu Tira memandang Iban dengan tatapan sinis. Bibirnya yang merah membahana bagai habis makan orok, seperti ingin menelan cowok berambut gondrong itu bulat-bulat.

    “Benar, Pak, Bu, kami bercanda.” Sambung Albio dengan wajah memelas. Bila ruangan Bu Tira terkenal dengan dingin yang luar biasa bagai di kutub selatan, siang ini tidak berlaku bagi tiga cucunguk nakal itu. Bulir keringat membasahi dahi mereka. Semoga mereka tidak pingsan. Begitu pun dengan aku

    “Lunetta.”

    Deg. 

    Jantungku langsung bereaksi ketika Bu Tira menyebut namaku. Albio, Iban, dan Faris ikut menoleh.

    “Kamu juga mau resign seperti mereka? Atau main-main juga? Mana Everist? Dia bukannya hari ini izin tidak masuk? Apa dia sedang wawancara di kantor lain?”

    Nah loh, aku kan tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Setiba di kantor, Iban sudah mengirimkan surelnya, menandaiku dan Everist di email tersebut. Aku hanya korban si Iban sialan.

    “Em.. tidak, Bu.” Jawabku gelagapan. Walaupun aku bukan pelakunya, tetap saja aku merasa takut bila mesti berhubungan dengan ibu tiri. Sungguh, aku tidak mengerti apa-apa.

    “Bercandaan kalian itu benar-benar kelewatan, Albio, Iban, Faris, Lunetta.” Bu Tira mondar-mandir di depan kami. Tangannya bersedekap. “Kalian bikin Pak William panik. Coba kalian bayangkan. Gara-gara kalian, agenda meeting penting dengan klien Singapura gagal total. Karena Pak William terbang ke Jakarta dadakan. Saya tuh nggak ngerti dengan otak kalian. APA SIH YANG ADA DI OTAK KALIAN?”

    Albio menunduk, begitu halnya dengan Iban, dan Faris. Jujur, rasanya aku ingin tertawa lepas sebagaimana yang sering dilakukan Everist. Tapi kurasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menertawakan mereka. Tanganku gemetaran, rasanya tiba-tiba ingin pipis.

    Di kursi panasnya, Pak William menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya yang mulai menipis, seolah mengatakan bahwa beliau menyerah dengan kenakalan anak buahnya yang selama ini ia bangga-banggakan. Iban, Albio, dan Faris masih diam. Sedangkan aku hanya melongo macam kambing bego.

    Hingga pukul 12 siang, kami terus-terusan diceramahi ibu tiri. Diberikan wejangan panjang lebar, diperingati ini-itu, dan tentunya diomeli habis-habisan. Kami bagaikan anak murid yang kena hukuman karena bolos nonton bioskop. Kupingku sampai ngebul kalau begini ceritanya. Tidak tanggung-tanggung, kami juga diberikan hadiah dari ibu tiri.

    SELAMAT, kita semua diberikan Surat Peringatan Satu (SP 1) oleh Bu Tira

    Ini semua gara-gara Gibran Kampretos.

Rabu, 06 Oktober 2021

PARALEL - BAB 2 #NOVELSERIES

LUNETTA VERICA

    “Jadi, hari ini lo ada meeting ke PT Merah Merona?” Iban mencoba memoleskan blushon ke pipiku. Semoga hasilnya tidak seperti Jeng Kelin. 

    Sebelum menjawab pertanyaan Iban barusan, aku mengambil cermin dan melihat hasil karya Gibran Handal Pribadi. 

Dan hasilnya….  

    Jeng… jeng… jeng… OMG!!! MENGERIKAN!!!! 

    Ini beneran mirip Jeng Kelin sungguhan. Iban sengaja betul merusak dandananku. 

    “Lun, lo mau meeting sama Willy Love You kan?” Iban bertanya lagi. Aku melotot sebal. 

    “Ban, lo besok gue kursusin MUA aja ya…” Aku mengelus dadaku, mencoba menahan emosi.

    “Emang MUA apaan sih?” Tanyanya lagi. 

    Sabar, Lunetta, sabarrrrr…. Lo kayak gak tahu Iban aja, dalam hatiku ingin menjerit. Albio dan Everist terkekeh melihat ekspresi kesalku. Iban sungguh Kampretos… 

    “MUA itu yang tadi gue bilang, makeup artis, you know?” Everist bantu menjawab pertanyaan Iban yang tidak penting. 

    “Gak perlu kursus-kursus rias lah, kan udah bagus makeupnya, ya kan Lun?” Iban membela diri. 

    “Bagus apanya? Muka gue jadi mirip Jeng Kelin gini.” Aku mengambil tisu di sudut meja, kemudian mengelap lembut pipiku yang ketebalan blushon. Lalu, kutimpali bedak lagi tipis-tipis agar warnanya menjadi natural. 

    “Lun, lo ga jawab pertanyaan gue.” Iban hendak mengambil pensil alis di tas makeupku. 

Aku buru-buru merebut dan memasukannya ke dalam laci. 

    "STOP, IBAN. SUDAH CUKUP!" Aku memeragakan gaya Ani pada Bung Roma.

    “Lun,” 

    “Apaan sih?” jawabku kesal. 

    Iban ini bawelnya melebihi cewek yang lagi PMS. 

    “Tadi gue nanya belum dijawab.” 

    “IYA. Tuh, udah gue jawab.” 

    “Dih, udah apaan?” 

    “Au ah.” Lama-lama aku ingin menyublim saja rasanya. Bertemu Iban tiap hari bikin aku stres. 

    “Berarti seharian dong lo gak balik kantor lagi? Yah, nanti kalau gue kangen gimana dong?” Iban berdiri dengan mimik sedih. 

    Bodo amat, aku tidak peduli. Bahkan aku sama sekali tidak iba melihat wajahnya yang sok melas itu. 

    “Itu sih DL (DERITA LOE)” Faris mewakiliku. 

    Seketika Albio dan Everist terbahak lagi. Everist tertawa renyah sekali dan paling kencang.

    “Data udah siap, Lun. Barusan Willy chat gue udah mau nyampe. Yuk!!” Everist memakai tas backpacker-nya. 

    Aku bercermin sekali lagi, memantaskan dandananku yang hari ini diacak-acak Iban. 

    “Ok, itu artinya gue harus segera pergi. Bye, Iban kampret, bye, Albio, bye Ris…” 

    Bye, Lune, yah sepi dunia ini tanpamu. Huft.” Iban mendesah malas. Aku justru bahagia. Duniaku pasti aman sentausa tanpanya. 

  *** 

 

LUNETTA VERICA

    Aku dan Everist baru saja tiba di lobi, Willy Love You sudah melambaikan tangannya dan menyuruh kami bergegas masuk ke dalam mobilnya. 

    “Lunetta, kamu di depan saja bareng saya.” Aku yang sudah terlanjur membuka pintu belakang, mengurungkan niat duduk bareng Everist. 

    Eits, tapi kenapa Willy malah turun? Perasaanku tidak enak nih.

    “Saya gak hafal jalannya. Kamu saja yan nyetir ya.” Willy masuk ke jok sebelah drive

    Oh Tuhan, ujian apa lagi ini? Pagi-pagi sudah ada dua manusia menyebalkan. Everist senyum-senyum melirikku di spion tengah. 

    “Kamu sudah bawa dokumen perlengkapannya, Everist?” Willy Love You menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah duduk Everist. 

    “Sudah, Pak.” 

    “Neraca 2018-2020, perubahan ekuitas, profit loss, dll?” Willy Love you bertanya lagi. 

    “Sudah, Pak. Saya bawa soft filenya juga di flashdisk.” 

    “Ok. Tapi kamu sudah backup di flashdisk lain?” 

    “Sudah juga.” Everist menjawab singkat. 

    “Ok. Kalau begitu kita jalan sekarang. Lunetta, kamu bawa mobilnya jangan terlalu pelan dan jangan terlalu ngebut. Di depan ada galian lobang, macet banget pasti. Nanti kamu ikutin arahan saya.” 

    “Baik, Pak.” 

    Hello, Pak Willy, lo pikir gue supir lo, ngatur-ngatur. Lagian kalau tahu jalan ngapain nyuruh gue nyetir sih? Aku mendumel dalam hati. Kulirik spion tengah, Everist terlihat menahan tawanya. 

    “Ambil kanan! Motor yang di depan terlalu pelan. Nanti langsung masuk tol Semanggi saja.” 

    Nah kan, nah kan, baru saja melaju 100 meter, dia sudah merintah sana merintah sini. Mana jalanan lagi super padat. Dan butuh waktu satu jam untuk sampai ke tempat tujuan. Sungguh melelahkan. 


EVERIST FIRSTA

    Duh, lucu banget lihat pemandangan di hadapanku. Lunetta jadi supir dadakan bosnya, si Willy Love You. Dari tadi aku menahan tawa, pokoknya jangan sampai aku keceplosan ketawa di depan Willy Love You

    Lagipula, kenapa sih dia tidak mengajak supir untuk perjalanan meeting hari ini. Kan kasihan Lunetta, harus menyetir di atas perintahnya. Pagi ini jalanan ibu kota benar-benar tidak bergerak. Aku hampir saja tertidur di jok belakang. 

    Kalau saja Albio tidak mengirimiku pesan, mungkin aku sudah terlelap. 

    “Everist, gue titip Lunetta ya… Please…” 

    What? Albio minta aku menjaga Lunetta? Apa mereka terikat status? Tapi, kenapa aku tidak tahu? 

    Aku sengaja tidak membalas pesan singkat Albio. Nanti deh aku tanya langsung saja sama Lunetta. 

 

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN... 


    “Lun, kok lo ninggalin gue sih? Gue gak bisa keluar nih. Willy udah ngunci mobilnya. Astaga, engap banget gue.” Aku menelepon Lunetta sambil menggedor-gedor kaca mobil.

     Lunetta dan Willy Love You yang sudah berada di seberang jalan langsung balik kanan. Menghampiriku yang terjebak di dalam mobil pribadi berwarna hitam ini. 

     "Kamu kenapa gak ikut turun?" Tanya Willy polos.

    "Lah, Bapak kunci pintunya gimana saya mau turun." jawabku kesal.

    "Makanya, lain kali jangan suka tidur di mobil. Jadi kekunci kan..." Willy meledekku.

    Sialan, rupanya Willy lupa kalau ada aku di jok belakang. Enak saja dia main pergi dengan Lunetta dan meningalkanku seorang diri. Aku kan gak tidur, tapi merekanya yang melupakanku. Huaaaaa,,,,, pengen nangis deh aku. 

    Lunetta langsung menggandeng tanganku dan meminta maaf. Katanya, dia lupa saking keasyikan ngobrol dengan Willy yang kini memakai jas warna biru dongker dan sepatu pantofel mirip film Jin dan Jun.

**bersambung**

Rabu, 29 September 2021

PARALEL - BAB 1 #NOVELSERIES

Kopi Perdana di Bulan Juni

(Bukan Hujan Bulan Juni)

EVERIST FIRSTA

    Sudah hampir dua bulan semenjak asam lambungku naik, akhirnya aku kembali dapat meneguk kopi. Sebenarnya kopi bukanlah hobiku, bukan pula cara mengusir rasa kantuk. Karena kalau sudah mengantuk berat, obatnya hanya satu; yakni TIDUR.

    Aku cuma iseng, siapa tahu dengan minum kopi, aku bisa menemukan ide cemerlang untuk menghadapi klien menyebalkan. Lumayan lah ya, ada bau-bau kopi di mejaku.

    Namun, Albio yang duduk di depan kubikelku, menatap aneh.

    "Udah habis kopinya?” selidiknya ngeri.

    “Udah. Nih...”aku menunjukkan cangkirku yang kosong tak bersisa.

    Kenapa sih dia? Sebegitu anehkah melihatku minum kopi? Padahal ini bukan kali pertama aku ngopi di hadapan Albio.



ALBIO VARGASBARA

    “Sudah habis kopinya?” aku menggelengkan kepalaku, heran.

    “Sudah.” Everist menunggingkan cangkir kopinya, untuk membuktikan mugnya sudah benar-benar kosong.

    Hebat memang, di dunia ini, mungkin hanya Everist satu-satunya makhluk yang bisa melakukan adegan menghabiskan kopi dalam hitungan lima detik. Aku pun sungguh tak percaya.

    Yang kutahu, dimana-mana orang minum kopi itu dengan cara meminumnya seteguk demi seteguk untuk menikmati rasa dan aroma khasnya, bukan seperti minum susu.

    Sudahlah, daripada memikirkan kelakuan langka Everist, lebih baik aku menonton film favoritku; Tuyul dan Mbak Yul.



GIBRAN HANDAL PRIBADI

    Demi Tuhan, mataku rasanya sangat perih. Setiap semenit sekali aku pasti mengucek mataku yang berair. Semua ini akibat kebanyakan nonton film, mulai dari film Thailand hingga film India. Film dari Thailand bertajuk The Teacher's Diary, entah sudah berapa ki kutonton, tapi aku selalu menyukainya.

    Tadinya aku mau bolos kerja, akan tetapi, demi tugas negara, hari ini aku mesti berangkat kerja, mengabdikan separuh hidupku pada sejuntai kunjungan klien yang sudah dijadwalkan jauh hari sebelumnya. 

    Sebenarnya, demi Willy Love You, agar mood dia tidak rusak hari ini. Mengingat dia sangat tidak suka dengan karyawan yang tidak masuk di hari Senin.

    Menurut Willy Love You, Senin bukanlah hari yang pantas menjadi tumbal atau kambing hitam, atau segala alasan untuk tidak masuk kerja. Biar pun sedang sakit parah, kaki pincang, stroke, kejang-kejang, SENIN ITU DILARANG IZIN/ BOLOS/ SAKIT. TITIK.

    Dengan langkah gontai nan lesu, aku menghampiri meja kubikelku. Di sebelahku, Everist sibuk memainkan gawainya.

    “Pagi, fans setiaku.” Aku sengaja betul menyenggol bahu Everist.

    “Gila lu, Kutu Kupret, Tomcat kena cat! Kaget gue!” Everist memeluk gawainya yang hampir jatuh dari genggamannya.

    “Lagian sih pagi-pagi udah nonton bokep. Nonton tuh Upin-Ipin atau gak drakor. Biasanya kan cewek identik dengan tontonan begituan. Eh, tapi kan lu bukan cewek, tapi makhluk astral. Haha…” Aku terpingkal sendiri.

    Sorry ya, hidup gue udah penuh drama. Malas nonton begituan,” sangkal Everist sambil memberi makan ikan cupang kesayangannya; Leon.

    “Dasar Miss Drama.” Celetukku.

    “Iyalah, lagian gue bingung kenapa cewek-cewek, terutama Lunetta, demen amat sama drakor. Bikin gue pusing kepala. Gue tuh, lagi nonton cara membudidayakan ikan cupang. Biar si Leon ada temennya. You know?” Everist menyentuh drinking jar yang berisikan ikan cupang di dekat komputernya.

    “Bohong, tahu. Orang dia lagi nonton film India, sih. Tadi gue lihat lo joged-joged.” Potong Albio.

    “Biooooo................” Everist melempar pulpen ke Albio sambil melotot. Matanya hampir saja copot.

    “Eh, siapa yang lagi nonton film India? Ikutan dong...” Sambar Lunetta dan Faris yang baru saja tiba bebarengan.

    “Nih si Gunung Everist. Sana gih Lun, lo kejar-kejaran di tiang listrik bareng Everist dan Albio.” Aku terpingkal membayangkan cinta segitiga pada film Kuch-Kuch Hota Hai. Lucu kali ya, kalau mereka berlarian menyanyikan lagu India muterin tiang listrik, kemudian kesetrum. Dan Faris datang menjadi tabibnya.

    “Kalian yaa, please sahabat gue jangan diledekin terus.” Lunetta meletakkan tote bag kesayangannya yang berwarna cream muda ke kursinya. Lalu, ia bergoyang heboh sembari menonjolkan dada seksinya menirukan joged India yang vulgar.

    Oh, perempuan satu ini sungguh menggoda iman. Seketika rasa kantukku hilang. Ajaib Neng Lunetta bala-bala kesayangan kaum Adam.



EVERIST FIRSTA

    Hobi cowok-cowok itu ya kalau bukan main Mobile Legend, ya godain yang bening-bening. Seperti saat Veronica melintas menuju toilet, Iban dan Faris langsung suit-suitan. Mata Iban langsung melek lebar, padahal baru saja dia bilang butuh kopi.

    “Aduh, Veronica ganti kuteks warna apa nih hari ini?” Iban mencegat Veronica, sekretaris Pak Willy yang keluar ruangan sambil membentangkan kesepuluh jari-jemarinya yang masih basah akibat kutek.

    “Warna merah dong, Bang…” jawab Veronica genit.

    “Emm.. Veronica…” Panggil Faris sembari memainkan dasi blasternya. Veronica menoleh ke arah suara.

    “Vero, mau gak nikah sama Bang Faris? Nanti Bang Faris beliin pesawat.”

    “Yang ada sayapnya sepuluh.” Timpal Iban.

    “Sayapnya patah,” sambung Lunetta.

    “Abang-abang ini yang jadi pilotnya ya?” Cewek yang rambutnya dikepang itu sungguh kecentilan. Laki-laki model Iban dan Faris jadi makin demen godainnya. Namun, karena Veronica merunduk menahan kebelet, ia mohon pamit untuk cepat-cepat ke toilet, memberikan ciuman udara dari bibirnya yang merah merona.

    Iban dan Faris langsung menunjukkan ekspresi lemas. Seperti ikan yang megap-megap butuh air. Dasar begundal!

    Terus gimana ya ceboknya? Kan sepuluh jemarinya penuh kuteks? Ah, ngapain juga mikirin. Aku dan Lunetta terpingkal di meja kubikel masing-masing. Sementara Albio kulihat mesem-mesem sambil menahan tawa. Eh, tapi kok Bio gak ikut-ikutan godain Veronica sih? Dia masih normal kan ya?

    “Laper banget nih gue, makan di kantin yuk!” Celetuk Lunetta yang wajahnya penuh dengan totol-totol alas bedak. Poninya bertenggerkan rolan kanan dan kiri, persis emak-emak dasteran yang kulihat tiap pagi di komplek rumahku yang sedang belanja sayur-mayur.

    “Nih gue ada oatmeal, mau?” kataku sembari membuka isi laci meja.

    “Mau deh, tapi gak ada susunya ya?”

    “Kan udah punya? Kok masih minta susu lagi?” Iban tiba-tiba menghampiri kubikel Lunetta, lalu loncat duduk di meja Lunetta dan mengoleskan alas bedak yang baru saja ditutup.

    “Gue ada stok di kulkas ambil aja.” Kataku lagi, mengingat kemarin aku beli beberapa kotak UHT berukuran sedang dan memasukannya di kulkas kantor.

    “Ya udah tar gue ambil deh. Thanks ya, Ev.” Lunetta tampak sumringah. Tapi, tak lama ia teriak panik sambil merebut foundation yang dimainkan Iban. “IBAAAAANNNNN… Ini bukan body lotion……”

Keplak!!!

    Lunetta memukul kepala Iban dengan botol air minum. Memang ya, jadi laki-laki itu tidak bisa sedikit saja tak usil sama wanita. Rasakan kau, Iban. Benjol deh tuh kepala.



ALBIO VARGASBARA

    Sebenarnya aku sangat senang melihat Lunetta berdandan. Tapi, aku lebih suka dia menampilkan dandanan yang natural dan tidak terkesan seperti badut di acara kondangan. Cewek yang duduk di samping kubikelku ini memang selalu membuat dadaku berdebar. Lihatlah cara Iban duduk di meja Lunetta tanpa izin, rasanya aku ingin seperti itu juga. Namun, rasanya aku segan.

    “Lun, lo bisa makeup gini pas umur berapa?” tanyaku tanpa filter. Duh, konyol sekali pertanyaanku barusan. Jelas-jelas semua wanita dari masa puberitas sudah bisa berdandan. Lain halnya dengan Everist yang kuperhatikan begitu cuek dengan penampilan.

    “Kenapa gitu? Makeup gue jelek ya?” Lunetta menautkan kedua alisnya dan melekukan bibirnya yang kini sedang dipoles lipstik bernada nude. Duh, jadi makin gak tahan deh sama bidadari ini tiap hari.

    “Eh, cakep kok, kata siapa jelek. Jangan baper deh. Kan gue cuma tanya.” Dalihku sudah terlanjur membahas makeup. Everist yang duduk di seberang kubilku terbahak. Kenapa sih cewek aneh itu harus duduk berhadap-hadapan denganku? Jadi malas menatap ke depan.

    “Besok kalau ada lomba dandanin cowok, gue mau didandanin sama Lunetta aja. Gak mau sama Everist.” Faris yang sedang menyiapkan bahan untuk meeting ikutan bersuara.

    “Haiss, lu gak tau aja gini-gini gue pernah jadi MUA.”

    “Masssaaaa?” Ledekku.

    “Gini-gini gue pernah dandan loh. Lihat aja besok, pasti kalian pangling banget sama gue. Ya gak Lun?" Aku meminta pembelaan Lunetta

    “Heemmm.Tul” Jawab Lunetta singkat karena ribet dengan bulu mata palsunya.

    “Sini Lun, gue bantu sisirin.” Iban mengambil sisir dan mulai menyisiri rambut Lunetta helai per helai.

    Ah, kalau saja aku tidak gengsian, mungkin aku yang melakukan itu untuk Lunetta, tapi aku tidak berani menyentuhnya. Jangankan menyisiri rambutnya, mengajak makan berduaan di kantin saja aku gugup.

    “Aduh, Iban, pelan-pelan. Lo pernah gak sih nyisirin cewek? Kan ade lu cewek, masa gak ngerti cara sisirin cewek.” Wajah Lunetta seperti sedang menahan sakit karena Iban terlalu bersemangat menyisirinya.

    “Tuh kan rontok banyak. Udah ah, lo gak ada bakat jadi hairstylist” Lunetta merebut sisir dari tangan Iban. Dan kini ia mulai menyisir.

    “Hahahaha… Mampus!” Everist terbahak lagi menertawai Iban yang diomeli Lunetta bak anak kecil yang susah diatur.

    “Gue bisa dandan sejak gue suka sama pacar pertama gue. Dari situ gue mulai belajar pakai lipstik, bedak, lambat laun nyobain pake blushon, mascara, eyeliner, dll.” Dan Lunetta pun menjelaskan serentetan merk kosmetik kepadaku yang sejujurnya aku tidak tahu rupa dari satu per satu barang yang ia sebutkan barusan.

    “Tenang, Bio, nanti gue kasih tau lewat Mbah Google.” Everist menyambar lagi.

    “Emang lo tahu, Everist?” Iban justru bertanya balik pada Everist.

    “Tahu lah, kan gue cewek, bukan alien,” jawabnya judes. Kini aku tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Everist yang masam.

PARALEL - PROLOG #NOVELSERIES

LUNETTA

"Ev, kenapa sih nama lo Everist?” tanyaku pada cewek berambut sebahu dan tinggi sekitar 160 cm yang sedang menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kalau kata nyokap gue sih ya, karena dulu bokap pengen banget nanjak Everest. Tapi, boro-boro ke sana, naik Gunung Slamet aja cuma halusinasi belaka.” Everist mengangkat bahunya dengan wajah datar.

“Berarti gue bisa manggil lo ‘Gunung’ dong,” Iban yang duduk di samping kubilkelnya menyambar pembicaraan.

“Bodo amat...” Jawab Everist cuek. Tangannya sibuk dengan ikan cupang piaraannya.

“Ya udah, bilangin bapak lo, kita mendaki Everest sekarang. Gue temenin, gitu.” Albio mengikat slayer ke kepalanya, menirukan gaya anak gunung. Sontak aku, Everist, dan Iban menyoraki Albio.
“Ayo, kita bawa tenda dan siapin perlengkapannya.” Iban menarik-narik tangan Everist seperti merengek minta diajak ke pasar.

Tapi, eh tapi...

“IBAN.... Selesaikan dulu laporan keuangan PT Ambigu. Jangan berisik, saya sedang menyiapkan data untuk meeting.”

Suara berat Pak Wily mampu menghentikan kerusuhan kami. Seketika, kami kembali ke layar komputer dan pura-pura sibuk bekerja. Everist mengoceh tanpa suara, seperti protes status karyawan magabutnya terganggu.

Kamis, 19 November 2020

Urutan Kematian #DiaryNalla

 KADO TERAKHIR


Jakarta, 29 Agustus 2020.

 

Bulan ini adalah bulan kelahiranku. Aku sangat bahagia karena banyak keajaiban menyapaku. Salah satunya karena lusa aku bisa kembali bekerja di perusahaan baru. Setelah empat bulan lamanya menjadi pengangguran.

Di masa pandemi seperti ini, banyak perusahaan yang pincang, bahkan gulung tikar. Ribuan pekerja di PHK secara sepihak lantaran perusahaan tidak dapat membayar gaji bulanan.

"Kapan Ibu bisa join di tempat kami?", Tanya seorang bagian personalia kepadaku via telepon.

"Senin ya, Bu, tanggal 31 Agustus 2020. Mengingat kedua orangtua saya mau mudik akhir pekan ini." Jawabku tanpa ragu.

Sebenarnya, bisa saja aku bergabung secepatnya di perusahaan baru. Namun, ibu dan bapak ada rencana pulang kampung minggu ini ke Brebes. Ada urusan keluaga, katanya. Nanti siapa yang akan menjaga anakku di rumah kalau aku kerja?

Tetapi, kenyataannya lain. Bapak tiba-tiba sakit. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Bapak semakin hari semakin terpuruk.

Aku ingat betul, bapak memintaku membelikan obat-obatan dan vitamin di apotek, serta buah pir kesukaannya. Bapak juga minta dibelikan susu beruang di minimarket. Aku sendiri yang membukakan kaleng susunya.

Bapak bilang, bapak cuma masuk angin, nanti juga sembuh. Kemudian demamnya naik turun hingga 40 derajat Celcius. Aku sudah menduga kalau bapak terpapar virus yang sedang heboh itu. Apalagi kalau bukan covid 19.

Pada waktu bapak sakit, aku pun sakit. Perutku mual seperti asam lambung kumat. Aku memang punya histori penyakit asam lambung. Selain asam lambung, aku juga merasakan seperti mau flu. Dan aku sangat takut untuk minum obat. Pasalnya, aku takut kalau ternyata aku sakit lantaran sedang hamil muda.

Tak ingin ambil resiko, aku meminta suami mengantarku ke apotek untuk membeli tes kehamilan. Hasilnya garis satu. Lalu, aku pun meminum paracetamol dan obat lambung.

Di hari Sabtu pagi tanggal 29 Agustus 2020, ibu ke rumahku dan bercerita kalau semalam napas bapak tidak beraturan. Beliau juga tidak dapat bangun karena lemas. Mau angkat galon saja tidak kuat. Sehingga ibu meminta suamiku untuk membantu memasangkan galon.

Pukul 09:30, ibu terpaksa mengambil keputusan membawa bapak ke rumah sakit. Padahal ibu tidak ingin bapak ke rumah sakit. Karena takut nanti dibilang covid. Takut diasingkan tetangga, dan lain sebagainya.

Akhirnya suamiku mengantarkan bapak ke rumah sakit, bersama ibu, adik, dan satu tetangga samping rumah ibu. Suamiku kemudian pulang ke rumah, tidak ikut berjaga di rumah sakit, berhubung siang ini dia ada jadwal masuk shift kerja siang. Lagipula, ada ibu dan adikku di sana.

Jam 15:00, adikku Lestari mengabariku, bahwa bapak ternyata benar-benar positif covid. Hasil rapid tes bapak menunjukkan ‘REAKTIF’. Adikku menangis di telepon. Aku pasrah. Ya Tuhan, akhirnya yang kami takutkan benar terjadi. Dokter meminta persetujuan keluarga untuk memasukkan bapak ke ruang isolasi. Kami tidak bisa menolak. Berharap bapak masih bisa sembuh.

Setelah masuk ruang isolasi, hidung bapak dipasang alat seperti plastik yang tersambung dengan selang. Bapak masih bisa cengengesan. Telepon ke sana ke mari dengan menunjukkan foto dan video bahwa dia sedang di rumah sakit. Bapak juga masih bisa membalas pesan WA-ku. Bapak bilang pada bibiku, semestinya hari ini dia pulang ke kampung, memberi kejutan istimewa.

Ba'da Maghrib, aku mencoba menghubungi bapak via panggilan video. Tidak diangkat. Lalu, aku menghubungi adikku Lestari. Rupanya dia sudah di rumah untuk mengambil baju ganti dan obat pribadi milik bapak, seperti obat darah tinggi, kolestrol, asam urat, dan obat lambung. Juga mengantarkan ibu pulang ke rumah. Bapak memang memiliki banyak sekali penyakit bawaan, terutama jantung.

Tak lama, Lestari meneleponku. Ternyata dia sudah kembali ke rumah sakit dan ikut masuk ruang isolasi, menemani bapak. Dia tersedu sedan memberitahuku kalau bapak kritis. Aku melihat sendiri bagaimana dua petugas berpakaian APD memacu jantung bapak menggunakan alat medis seperti yang sering aku lihat di televisi. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. 

Aku segera menghubungi suamiku via telepon. Tetapi, teleponnya tidak diangkat. Akhirnya aku menghubungi telepon kantornya, dan titip pesan ke temannya bahwa bapak sedang berjuang menghadapi ajal. Suamiku langsung beranjak pulang dan menyusul adikku di rumah sakit. Di sana sudah ada Om Mul (adik kandungnya ibu). Sementara Chintia baru saja tiba di rumah, semenit sebelum dikabarkan bapak sudah tiada.

Aku runtuh malam itu. Bersandarkan dinding dapur, tak mampu menangis dan berucap apa pun. Rasanya sungguh tak percaya. Bapak sudah terbiasa masuk rumah sakit. Biasanya bapak akan pulang ke rumah dan sembuh lagi. Bapak juga tidak sakit parah. Sakitnya baru semingguan.

Kenapa kesannya seperti bapak ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan nyawa? Tidak ada firasat bapak akan pergi untuk selama-lamanya. Bapak semestinya hari ini pulang ke kampung, tetapi ia harus pulang ke pangkuan Ilahi. Innalillahi wa Innailaihi Raji'un... 😭

***

Malam itu, beberapa menit setelah adikku, Lestari, memberitahu perihal kematian bapak, ada yang mengetuk rumahku. Ia adalah tetangga sekaligus kerabat dekat bapak yang sehari-hari bersama bapak sewaktu sehat.

"Sudah tahu belum? Bapak udah gak ada."

"Sudah," kataku singkat.

"Terus ibu mau dikasih tahu tidak? Takutnya shock."

"Lebih baik jangan dulu. Nanti saja agak malam sedikit baru dikasih tahu."

"Baiklah. Tapi, tetangga sudah pada tahu." Katanya.

Jadi, tetangga sudah pada tahu? Secepat itu berita beredar. Aku saja masih terduduk dengan lutut lemas. Belum juga ada lima menit, kabar duka sudah sangat cepat merembet ke publik. Media sosial sekarang memang luar biasa! 

Saat itu, para tetangga belum tahu penyebab kematian bapak. Kami masih menyembunyikannya. Bahkan, pak RT sendiri yang menyuruh kami merahasiakannya. Akan tetapi, keponakan bapak malah mengatakan yang sebenarnya. Tetangga yang sudah terlanjur menjenguk ibu, semuanya bubar. Ibu menangis sepanjang malam.

Kalian tahu kan, kalau ada pasien yang meninggal covid, jenazahnya tidak boleh dipulangkan. Jenazah bapak diinapkan di rumah sakit, ditunggui oleh Lestari dan suamiku. Sedangkan omku menemani ibu dan adikku Chintia di rumah.

Aku sendiri tidak dapat menghibur ibu. Rumah kami memang berdekatan, tetapi anakku sudah lelap dari sore. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah ibu, karena di sana pasti banyak virus bekas bapak. Ya Tuhan, semengerikan ini meninggal pada saat musim covid. Untuk memberikan semangat saja kami semua ketakutan. Bagaimana kabar ibu? Aku harap ibu baik-baik saja. Aku sungguh serba salah. Apakah aku harus menemui ibu dan memeluknya? Apakah aku tetap diam di rumah mengutamakan anakku yang masih kecil dan rentan terhadap virus berbahaya? Sungguh, malam itu aku terisak karena tak mampu memilih. Situasi ini sangat sulit.

Pagi-pagi buta, ibu dan adikku Chintia, langsung ke rumah sakit bersama Om Mul. Sementara aku, menemani anakku yang masih 2,5 tahun di rumah. Suamiku tidak mengizinkan aku ikut mengantarkan bapak ke pemakaman. Ngeri terkena virus.

Jenazah bapak katanya akan dimakamkan pukul 7:00 pagi. Tetapi, sampai jam 10:00, ambulans tidak jua datang. Tidak ada petugas yang menyolati bapak. Sehingga om dan suamiku berinisiatif menyolati bapak dengan teks dari ponsel karena tak hafal bacaannya. Miris sekali aku mendengar hal itu. Hanya sahabat dan handai taulan yang mau sukarela memberikan solat gaib dan doa dari jarak jauh. Aku sangat berterima kasih.

Hingga pukul 12:00, ambulans yang mengambil jenazah bapak baru tiba. Katanya, hari ini angka kematian di Jakarta cukup banyak. Bapak dapat antrian ke-20 dari 35 jenazah yang dikuburkan hari ini.

Hari itu, menjadi hari terakhir permintaan bapak semasa hidupnya, yakni minta dimakamkan setelah solat Dzuhur. Aku menyaksikan langsung lewat video call bagaimana proses pemakaman dengan protokol covid. Ada beberapa petugas berseragam putih serba rapat membantu memasukan peti ke dalam liang lahat, lalu menguburkannya menggunakan tali panjang karena tidak boleh tersentuh tangan.

Dan hari itu juga, merupakan kado ulang tahunku yang paling menyesakkan dada. Tak ada ucapan, yang ada tangisan air mata melepas kepergian.

      Bapak, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Tuhan mengampuni segala dosamu. Maafkan aku yang tidak bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.

Selamat jalan bapak, sekarang engkau sudah tidak minum obat setiap hari lagi efek penyakit komplikasimu.

 

 

Dariku, anak pertamamu.

 

*** Bersambung ***

Jumat, 18 September 2020

Positif Covid? Apa Ciri-cirinya??? #Artikel


Banyak yang bertanya, ciri-ciri kena Covid 19 tuh kayak gimana sih?  

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, ini yang gue rasakan:

Awal-awal badan gue lemes. Cepet capek. Dan hampir mirip kayak flu pada umumnya.

Dibilang radang tenggorokan nggak. Demam tinggi juga nggak. Malah gak demam sama sekali loh.

Sesek napas? Nggak juga. Pernah ngerasain dada agak engap, tapi cuma sebentar. Habis diolesin minyak kayu putih dan minum air hangat, alhamdulillah membaik lagi.

Gejala yang gue rasain adalah hilang dan muncul. Pada saat hilang, gue merasakan sudah sehat. Beberapa jam kemudian, gue merasakan pusing lagi, hidung mampet lagi, dan gejala flu lagi.

Anehnya, gue flu tapi gak ada ingusnya. Kalau hidungnya dibersihin pakai jari, ada sedikit upil. Cuma sedikit.

Ada ciri-ciri yang paling mencolok di antara sakit biasa dan terinfeksi covid 19, yakni indra penciuman yang tiba-tiba tumpul. Orang berpikir mungkin karena lagi pilek, atau sinusnya kumat, jadi menganggap wajar. Padahal, saat pilek biasa, kita gak terganggu sama sekali untuk mencium bau menyengat.

Sumpah, bau pup anak gue aja gak kecium. Biasanya gue tutup hidung tiap kali buka diapernya.

Jadi, menurut gue, pemeriksaan cek suhu di mal-mal/ KRL/ atau gedung perkantoran, itu gak bantu banyak buat mendeteksi pasien covid atau bukan. Karena saat ini banyak kasus OTG (orang tanpa gejala) berkeliaran di sekitar kita.

OTG ini biasanya merasa dirinya sehat karena rajin minum vitamin, melakukan protokol kesehatan sesuai WHO, tapi faktanya dia terpapar virus entah dari mana. Karena saat ini penularan virus Covid19 bukan hanya lewat kontak fisik, tapi bisa juga dari udara yang kita hirup, air, makanan, uang, dan benda-benda lainnya.

Secara gak sadar, kita beli makanan dari seseorang, yang kita gak tahu orang tersebut beneran sehat atau nggak. Bisa jadi saat dia masak, si penjual lagi batuk-batuk atau bersin. Bukan suudzon, tapi lebih baik mending masak sendiri aja deh. Karena kebanyakan pedagang abai protokol kesehatan.

Contoh kasus yang sering banget gue lihat di lapangan saat membeli makanan  jadi seperti pecel lele, bakso, mie ayam, gado2, bubur ayam, gorengan, dll, para pedagangnya gak ada yang pake masker, sementara yang belinya pakai masker semua.

Para pedagang seenaknya ambil makanan pakai tangan bekas pegang uang, terus mereka ambil uang dari pembeli dan kasih uang kembalian, kemudian pegang makanan lagi. Ya Allah, gemessss banget gue lihatnya. Pengen komplain tapi malas ribut. Karena secara tidak langsung, para pedagang punya andil besar dalam menularkan penyakit pada pembeli.

Seharusnya para pedagang paham akan bahaya pada uang yang mereka pegang. Karena uang barang umum yang bisa dipegang oleh siapa saja. Semestinya para pedangang mengambil makanan pakai sarung tangan khusus, serta sedia hand sanitizer, jadi si pembeli merasa aman.

Tidak hanya uang loh ya, virus juga bisa berasal dari makanan mentah seperti lalapan, buah, dan sebagainya. Maka dari itu, mencuci bersih sayuran menggunakan garam atau cairan antiseptik sebelum dimasak juga penting. Buah-buahan juga harus dicuci terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Kalau yang ada kulitnya, sebaiknya dikupas. Nah, untuk lalapan sebaiknya direbus dulu. Hal ini untuk meminimalis resiko penyebaran virus berbahaya ke dalam tubuh kita.

Percaya gak sih kalau virus beterbangan di udara dalam waktu lama. Dan itu artinya, udara bersih saat ini hanyalah impian semata. Banyak OTG yang bersin/ batuk/ tertawa, tidak pakai masker, lantas si virus melayang-layang di udara dan masuk ke dalam pernapasan orang lain. 

Virus bisa juga tercemar lewat air. Para OTG/ pasien dalam masa isolasi mandiri, pasti membersihkan badan di toilet. Airnya ngalir, bahkan meresap ke tanah. Kemudian masuk ke dalam keran yang kita gunakan untuk mandi dan cuci ini itu. Bisa juga kita konsumsi air tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Hati-hati loh, karena secara gak sadar, kita dalam zona bahaya. Dan mata kita bodoh banget untuk bisa lihat virus secara kasat mata. 

Seandainya virus berwarna kuning, atau berbetuk mirip semut, setidaknya kita bisa menghindari.

Pertanyaannya, siapa yang mau sakit? Sebersih dan serajin kita minum vitamin, kalau sudah wayahnya sakit ya sakit juga toh?

Kasusnya sama kayak kita udah hati-hati banget mengendarai mobil/ motor, kalau sudah waktunya celaka ya pasti celaka. Misal remnya mendadak blong, padahal sudah diservis. 

Karena takdir sehat dan sakit Allah yang menentukan. Siap gak siap ya harus siap.

Jadi, kesimpulan tentang ciri-ciri Lo terpapar covid 19, di antaranya sebagai berikut: 

1. Indra penciuman yang hilang. Hidung seperti sinus, terasa kebas dan tidak sensitif terhadap bau-bauan. Alias gak bisa nyium bau apa pun.

2. Tidak enak badan dalam durasi lebih dari seminggu. Walau pun sudah minum obat dan vitamin, sakitnya sering hilang muncul.

3. Pilek tapi gak ingusan. 

Kalau flu biasa, pasti bersin-bersin dong. Ini bersin jarang banget. Gue malah gak bersin-bersin.

Biasanya gue pilek sembuh dalam waktu 3 hari. Ditidurin juga udah enakan. Nah, kalau covid, gejalanya bisa berminggu-minggu. Gue 1 bulan.

4. Merasa dadanya tiba-tiba engap.

Kasus ini biasanya saat gue kecapean kerja. Atau abis nangis, sedih, banyak pikiran, dan stres. Alangkah baiknya jangan terlalu sendu, karena ngaruh banget ke imun kita.

5. Tenggorokan gatal, suara agak serak,  dan batuk tak berdahak.

Tenggorokan rasanya gatal dan batuk kecil. Pada sebagian kasus orang lain, batuk bisa juga parah. Kalau bicara, tenggorokan seperti kering. Suara agak serak.

6. Terpapar covid gak selamanya demam tinggi. Bisa juga tidak demam sama sekali. Atau bisa juga demam ringan cuma 37' Celcius.

7. Tenggorokan tidak nyaman. 

Rasanya ingin meludah terus. Terdapat lendir yang mengganjal dan harus dikeluarkan. Adanya lendir karena paru-paru memberi sinyal bahwa ada bahaya mengancam. Warna lendir putih, atau hijau dan kuning tergantung tingkat berat ringannya. Kalau putih masih ringan. Nah untuk hijau itu paling berat.

8. Lemas dan napas terasa berat (bukan sesak).

Kalau lemas, mau aktivitas apa pun seperti sulit. Jalan sempoyongan, tensi tiba-tiba menjadi sangat rendah. Bisa 90/60.

9. Pusing

Pusingnya sampai berhari-hari. Kalau diminumin obat, enakan. Tapi, pusingnya gak hilang 100%. Nanti kumat lagi.

10. Badan greges dan keringat dingin.

Kadang kala, badan rasanya campur aduk.

11. Hampir mirip masuk angin.


Berdasarkan pengalaman almarhum bokap, ini yang dia rasakan.

1. Gejalanya mirip masuk angin. Sudah dikerokin tapi kok gak sembuh-sembuh.

2. Demam tinggi sampai 40' C. Di waktu tertentu, bapak merasa enakan lagi badannya dan demamnya turun setelah minum Paracetamol. Sampai berpikir itu typhus. Lalu makan cacing tanah segala, tapi gak sembuh juga.

3. Batuk.

4. Menggigil

5. Napas pendek-pendek tak beraturan saat tidur.

6. Lemas. Sampai bangun saja tidak kuat. Jalan pun sempoyongan.


Gejala Covid 19 ini bisa berat, sedang, ringan, bahkan tanpa gejala sama sekali. Kenali ciri-cirinya, dan segera lakukan tes usap jika merasa perlu.

Demikian ciri-ciri positif covid 19. Ada baiknya untuk lebih pasti, ikut tes usap/ Swab.

Pakai selalu masker, sedia sanitizer, dan jaga jarak, agar sakit kita tidak menular pada anggota keluarga yang lain. 

Safety first, karena SEHAT ITU MAHAL.

Kita berhak kok memilih takdir sehat atau sakit. Walau takdir sehat dan sakit sudah ada yang mengatur, tetapi menjaga kesehatan dan kebersihan adalah salah satu cara ikhtiar kita untuk memilih takdir baik Allah.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Ta'ala. Percayalah, sehat dan sakit datangnya dari Allah. Teruslah berjuang melawan sakitmu, gak usah panik apalagi stres. Karena kalau kita stres, imun tubuh akan menurun, yang dapat menyebabkan kita semakin drop.

Jika kalian positif covid, saran gue, dekatkan diri pada sang Maha SegalaNya, banyak berdoa, beribadah, dan berbahagialah. Karena jika kita bahagia, imun tubuh akan naik. Dan sakit kita akan segera pulih.

Silakan share jika bermanfaat.


Salam,

Nalla Dewi