Sayup-sayup suara angin menyibak jarak puluhan kilometer. Pagi itu jalanan ibukota lengang. Cahaya masih gelap. Hawa dingin menusuk tulang. Jingga merapatan jaketnya agar merasakan sedikit kehangatan. Ia telah memantapkan hatinya untuk menjemput Rama di kota Denpasar. Pak Eki yang mengenakan kupluk hitam di kepalanya, melajukan mobil dengan kecepatan normal.
“Hati-hati, Non…” Pak Eki baru akan memutar balik mobil setelah majikannya memberikan seulas senyum.
Setelah melalui pemeriksaan dan sinar x-ray, Jingga menyeret koper berwarna merah tua menuju lobby keberangkatan pesawat. Hatinya benar-benar gugup. Meski ini bukan kali pertamanya ia harus menemui calon mertua, tapi baginya selalu menegangkan. Pagi itu bandara Seokarno-Hatta tidak terlalu ramai. Sekelompok anak muda menggendong tas besar dan memakai sandal tebal. Nampaknya mereka akan mendaki gunung, pikirnya.
Sekitar lima belas menit menunggu di lobby pemberangkatan, Jingga berjalan menuju pesawat dan mencari tempat duduk yang terletak dekat jendela. Sinar mentari di ufuk timur berwarna merah keemasan membuat matanya silau sekaligus terpukau. Pagi yang elok ini semoga membawa kesan yang indah.
Selama kurang lebih dua jam di pesawat, Jingga hanya menatap kosong pemandangan di bawahnya yang terdiri dari awan dan awan. Ia tidak mempedulikan benda putih yang mengapung bagai kapas itu mengingatkan dirinya pada sosok laki-laki berkulit putih dan berkacamata minus yang pernah membuatnya kecewa. Walaupun harus diakui, ia suka sekali menatap awan.
Jingga berpegangan pada jok kanan dan kirinya ketika pesawat landas. Hatinya benar-benar gugup. Rasanya ingin pulang lagi saja ke Jakarta. Namun sudah terlanjur sampai. Adakalanya manusia harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
**
Rama celingukan mencari Jingga di pintu keluar bandara. Ia teramat rindu dan ingin memeluk gadis itu erat-erat. Matanya terkesima saat melihat gadis bunglonnya melilitkan syal bermotif polos di lehernya, menarik koper berwarna merah tua dan memakai kacamata hitam, berjalan di antara kerumunan.
“Kau mirip sekali dengan turis mancanegara. Ckckck,” Rama tersenyum dan berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku teramat sangat merindukanmu...” Ia merentangkan kedua tangannya, siap memeluk Jingga erat-erat.
Jingga tersenyum ketika laki-laki bertubuh tinggi tegap itu menghampirinya. Ia membuka kacamata hitamnya demi melihat senyum paling indah yang memamerkan deretan gigi-giginya yang putih. Jingga meletakkan koper dekat kakinya. Ia pun berjinjit dan memeluk Rama dengan rindu yang meluap-luap.
“Ternyata kamu datang juga, sayang…” Rama mencium kening Jingga.
“Awalnya aku ragu, tapi aku penasaran dengan pentas kesenian Bali, makanya aku ke sini,” Jingga menggigit lidah. Sebenarnya itu bukanlah alasan kenapa dirinya kemari, melainkan rindu pada laki-laki yang membuatnya takut kehilangan setengah mati.
Rama melepaskan pelukannya. Ia menangkupkan tangannya pada gadis mungil itu dan berbisik, “Hari ini aku untukmu. Kita akan keliling Bali. Dan aku akan menjadi pemandumu secara cuma-cuma.”
Jingga tersenyum dan mengangguk. Ia memegang tangan Rama yang berotot. Keduanya pun berlalu meninggalkan bandara menggunakan mobil Fortuner Rama yang dipaketkan menggunakan jasa ekspedisi.
Jingga tak dapat menyingkir sedikitpun dari hangat kulit Rama. Ia menyandarkan kepalanya dan bercerita panjang lebar tentang apa yang dirasakannnya selama kekasihnya pergi. Aroma maskulin dari tubuh Rama memberikan sensasi berbeda. Jingga benar-benar merindukan lelaki itu.
Udara di Bali lumayan bersih dibandingkan di ibukota, sehingga mereka tidak membutuhkan AC mobil, cukup membuka kaca untuk merasakan hembusan angin menyapa kulit wajah. Rama mengelus rambut jingga yang tertiup angin. Wangi rambut gadis itu membobol pertahanan seksualnya. Detak jantungnya serasa lebih cepat. Rasanya ingin sekali membopong tubuh wanita ini ke kasur empuk dan menikmati kebersamaan mereka tanpa seorangpun yang mengganggu.
“Kita sarapan dulu yuk, pakai nasi betutu.”
“Oh, yang daging keong itu ya?”
Keduanya tertawa. Setelah sarapan, rencananya Rama akan menemani Jingga melihat-lihat Museum Bom Bali, Pantai Kuta, dan tentunya Pesta Kesenian Bali yang selama ini ia bangga-banggakan.
Rama tak bisa sedikitpun memalingkan matanya pada wajah dan bibir Jingga yang menggemaskan untuk dicium, pada tangannya yang mulus untuk digenggam, pada tubuh langsingnya untuk dipeluk dan dirangkul. Ia sungguh rindu akan kehadiran gadis bunglonnya. Bukan sekadar kebutuhan biologisnya, melainkan keinginannya untuk memiliki secara utuh dan permanen.
Jinggapun melakukan hal yang sama. Ia tak mau melewatkan momen berharga ini. Melihat wajah Rama selalu menyenangkan. Laki-laki ini selalu membuatnya takjub. Tubuhnya yang kekar dan tatapan Rama yang tajam, membuat hatinya yang keras bagai es di kutub utara mencair seketika. Perasaan gugupnya hilang saat menatap mata Rama. Seakan mata itu menghipnotisnya untuk berani dan tidak takut pada apapun. Ada Rama di sini, semua akan baik-baik saja, pikirnya.
Tak ada kalimat yang terucap. Keduanya terdiam saling pandang dan mengagumi. Celotehan dari pengunjung lain bagaikan iklan dari radio yang samar numpang lewat. Kalau saja dunia tak membuat aturan yang rumit tentang sebuah hubungan, tata karma, dan moralitas, Rama sudah mencumbu gadis itu dengan ganas. Rasa ketertarikan menjadi sebuah hasrat menggebu untuk memilikinya lebih intim dan utuh.
**
Angin dari barat bertiup cukup kencang. Membuat mata Jingga kelilipan. Ia mengucek mata menghilangkan sesuatu yang mengganjal. Perih. Rama yang memperhatikan, segera memberikan bantuan ala tentara perang, meniup mata Jingga yang memerah.
“Bagaimana? Sudah enakan?”
Jingga mengangguk.
Rama mengacak rambut Jingga yang tergerai dan berkibar tertiup angin. Ia sungguh tak kuasa menahan hasratnya untuk mencium bibir Jingga yang merekah dan seksi. Tapi itu tak mungkin dilakukan mengingat saat ini mereka sedang berada di tengah lautan manusia yang menyaksikan tari kecak di acara pesta kesenian Bali.
Sialan. Melihat wajah Rama sedekat ini, membuat dada Jingga terguncang. Ia hampir hilang kendali untuk mencium bibir laki-laki itu dan seluruh bagian wajahnya. Ia harus menahan diri untuk tidak melakukan hal konyol di depan umum. Hari semakin siang. Terik matahari bercampur sinar ultraviolet mengguyur kulit mulus Jingga. Rama mengajaknya makan siang di tempat yang langsung menghadap ke Pantai Sanur. Jika saja Jingga datang di hari biasa, tidak akan seramai ini pengunjungnya. Tapi apa boleh buat, gadisnya itu perempuan yang paling sibuk seantera raya.
Puas mengelilingi Bali dan menikmati pesta keseniannya, Rama merangkul pinggang langsing Jingga. Di pasir putih itu mereka saling berpegangan tangan seperti bayi kembar siam. Rama menggiring Jingga memasuki mobil. Mereka akan ke rumah, menemui kedua orangtua Rama.
Rasa gugup yang sempat hilang, mendadak muncul dalam benak Jingga. Ada perasaan takut yang mencekam melanda sekujur tubuhnya. Ia sungguh ingin lari dari pertemuan ini. Namun sentuhan tangan Rama sedikit menguatkan dadanya yang berdebar.
**
Sebelum keluar dari mobil yang diparkir di balik rimbunnya pohon nangka, Rama mengecup kening Jingga, menangkup wajah dan mengulumi bibirnya hingga basah. “Semua akan baik-baik saja. Aku memang belum mengatakan apapun pada bapak dan ibu. Biar jadi sureprise,”
Seperti ada yang menggelitiki perut bawah Jingga saat bibir Rama melumat bibirnya. Ia membalas ciuman panas Rama dan tak ingin mengakhirinya. Ia rindu merasakan deru napas laki-laki itu, rindu akan detak jantung dan sentuhannya. Jingga benar-benar pasrah di dalam mobil itu. Tangannya mengusap dada Rama yang bidang. Membuat Rama semakin memperganas ciumannya.
“Tapi aku takut,” Jingga melepaskan ciuman mereka.
“Tak ada yang perlu ditakutkan,” Rama menancapkan lagi aksi permainan bibir dan lidahnya pada bibir Jingga yang manis dan hangat. Seolah ucapannya barusan adalah kalimat yang meyakinkan Jingga bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pikiran Jingga berputar ke angkasa. Antara nikmat dan takut yang luar biasa. Tapi untuk saat ini ia ingin menikmati sentuhan Rama yang membuatnya menegang. Tak sadar tubuhnya menggeliat dan condong ke dada Rama. Membuat payudaranya menempel di dada bidang itu.
Rama menangkap tubuh gadis itu dan mengelus-elus punggung Jingga. Puncak berahinya terasa terkikis karena dua buah dada Jingga yang penuh dan empuk mengenai dada bidangnya. Ia ingin secepatnya memiliki gadis itu secara utuh dan sah. Maka ia melepaskan ciumannya, mengecup kening Jingga dan mencium pelan bibir yang masih basah itu. “Aku tidak tahan lagi untuk menelanjangimu sekarang juga.”
Dengan napas tersengal, Rama merapikan bajunya yang berantakan dan membuka pintu mobil. Ia menuntun langkah Jingga yang gugup. Sekali lagi meyakinkan semuanya akan berjalan dengan lancar. Rama mengerti perubahan wajah Jingga yang mendadak pucat. Pertemuan pertama dengan calon mertua memang selalu menegangkan. Tapi ia tak mau tubuhnya tegang lebih lama menahan hasratnya yang membuncah untuk memiliki gadis ini sepenuhnya.
Jingga bersyukur kekasihnya mengerti apa yang dia rasakan. Tak perlu memberitahu, laki-laki itu sudah membaca hati dan pikirannya. Kepala Jingga mendadak pusing. Napasnya terasa tak beraturan. Degup jantung seakan mau copot. Bagaimana ini?
Terdengar tawa hangat dari teras. Sepertinya dua keluarga yang lama tak berjumpa. Di sana juga terdapat satu wanita cantik yang mengepang rambutnya ke pinggir. Jingga tertatih melangkahkan kakinya.
“Nah, itu Rama, anakku. Yang saat ini sedang kita bicarakan,” Sang ibu berbaju kebaya khas Bali menghampiri Rama.
Rama melepas sandalnya, memasuki teras.
“Tampan sekali, anakmu ini, Lastri. Lebih ganteng daripada foto yang kau tunjukkan,” Sang ibu yang mengenakan sanggul ikut menghampiri.
Rama terlihat bingung. Apalagi Jingga. Siapa mereka? Manakah orangtua Rama? Jingga menggigit bibir dengan perasaan takut luar biasa.
“Rama, ini Bu Kilka, calon mertuamu.”
Jingga yang berdiri di ambang pintu kaget dan mematung. Apa? Calon mertua?
“Maksud Ibu apa? Aku tidak mengerti,” Rama sungguh bingung.
“Duduklah, Rama. Biar bapakmu yang menceritakan,” sang ibu yang memakai baju kebaya khas Bali menuntun Rama duduk di sampingnya.
Jingga berdiri mematung. Belum paham.
“Kau akan menikah dengan Kilka, Rama. Kami sudah menentukan tanggal pernikahannya. Kalian satu kasta, cocok sekali bukan?” Bapak berbaju batik tertawa.
Jingga tidak ikut tertawa, masih menjadi patung. Dimana letak lucunya?
“Tapi aku sudah punya calonku sendiri, Pak. Orang Jakarta. Dia yang akan menjadi istriku,” Rama memandang Jingga yang berdiri di luar teras.
Jingga kikuk saat menjadi pusat perhatian. Dengan kaki yang gemetaran, ia mencoba menyunggingkan senyum.
“Itukah perempuan yang kau maksud?” sang bapak berbaju batik menatapku.
“Em, bukan, Pak. Saya hanya temannya Rama yang kebetulan bertemu di depan jalan, mau berlibur di Bali. Maaf, saya tidak tahu kalau ternyata di sini sedang berlangsung acara tunangan. Kalau begitu saya permisi.” Jingga membalikkan badan dan menarik koper merah tua menjauhi teras. Perasaannya seperti ditusuk jarum, perih. Mengapa jadi begini ceritanya? Bisiknya dalam hati. Rasa-rasanya ini bukan adegan sinetron murahan yang selalu ditayangkan oleh pihak televisi swasta lantaran tidak punya acara yang lebih bermutu. Dan Jingga merasa salah satu korban acara FTV tersebut.
“Jingga… Tunggu!!!” teriak Rama berusaha menghentikan langkah Jingga.
Jingga tidak menoleh. Dadanya teramat sesak. Ia tak sengaja mendengar keributan antara dua keluarga yang berselisih. Bapak Rama terjatuh ke lantai saat menahan calon besannya pergi. Sedangkan ibu Rama memanggil nama anaknya meminta tolong selamatkan ayahnya yang tiba-tiba sesak napas. Rama tak menghiraukan. Ia berlari mengejar gadis bunglonnya yang terlanjur jauh. Ia juga tak peduli besan sekastanya beranjak pulang. Baginya tamu yang sama sekali tidak diinginkan itu tidak penting.
Jingga juga tidak peduli. Ia mempercepat langkahnya menjauhi rumah Rama. Ia mendengar ibu Rama terus berteriak memanggil nama Rama berulang-ulang bahwa penyakit jantung koroner bapaknya kumat. Jingga sungguh tidak peduli.
Dengan perasaan terluka dan menahan air mata agar tidak tumpah, Jingga terus berjalan menarik kopernya. Rama menarik tangan Jingga dan menghadang kepergian gadis itu sambil mengatur napasnya yang sesak. “Aku hanya akan menikah denganmu, Jingga. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Kita bisa kawin lari,” Rama memegang kedua tangan Jingga dan bertekuk di lutut gadis berambut panjang itu.
“Kita berbeda, Rama. Sangat berbeda. Cinta kita tidak akan mungkin bersatu.” Dengan dada sesak, Jingga mencoba tegar.
“Kalau aku bisa menawar pada Tuhan, aku tidak mau terlahir dalam kasta seperti ini. Aku tidak pernah menganggap kita berbeda, Jingga. Apapun perbedaannya, kita hadapi bersama-sama. Kumohon jangan pergi…” Rama bersimpuh mencium lutut Jingga dengan perasaan gusar.
Jingga merasa dadanya semakin sesak. Air matanya tak kuasa menetes ke punggung Rama. “Kalau kau mencintaiku, menikahlah dengan perempuan itu. Dia lebih membutuhkanmu, bukan aku. Kita memang ditakdirkan untuk menjadi teman.” Gadis itu mengusap air matanya yang tumpah. “Ayahmu pingsan, Rama. Cepat bawa beliau ke rumah sakit. Apa kau tidak mendengar ibumu berteriak panik? Penyakit jantungnya kambuh. Selamatkanlah beliau. Kumohon… Percayalah, aku akan baik-baik saja.” Jingga mendorong kencang tubuh Rama hingga jatuh terguling ke aspal.
Jingga berjalan tersuruk-suruk menarik kopernya, lantas menyetop taksi dan mengarahkan pak supir menuju bandara. Ia harus membujuk hatinya untuk terus melangkah meski terasa berat bagai menarik beban ratusan kuintal. Mungkin semua ini harus diakhiri sampai di sini. Usai sudah perjalanan cinta yang singkat itu. Tidak mungkin memaksakan keadaan dan melawan takdir Tuhan. Perempuan itu menengadahkan wajahnya ke langit-langit bandara, menahan air matanya yang terus menetes agar tidak terlalu membanjiri pipinya.
**
Rama duduk di aspal, tidak melawan apa yang dilakukan Jingga terhadapnya. Ia memanggil nama gadis bunglonnya dan menyuruh untuk tetap tinggal. Kalau perlu, ia akan pergi bersama gadis itu selamanya, meninggalkan keluarganya di Denpasar. Ia tak peduli orang-orang memperhatikan tingkahnya yang bagai orang gila. Semestinya hari ini Rama mempertemukan Jingga dengan kedua orangtuanya, meminta doa restu untuk menikahi gadisnya itu. Namun harapan itu pupus. Dirinya tak menyangka kedua orangtuanya tega menjodohkannya dengan keluarga satu kasta. Ia memberhentikan taksi biru dan menyuruh supirnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Dia tak mau kehilangan Jingga, gadis yang selama ini ada dalam dunia imajinasinya yang tak pernah selesai dilukis, gadis yang berhasil meluluhkan hatinya yang gersang akibat rasa trauma di masa lalu. Dia tidak rela jika harus kehilangan Jingga. Jingga lebih penting dari ayahnya, Jingga lebih berarti dari segalanya. Ia sudah cukup muak dengan sikap dan sifat ayahnya yang selalu mengatur kehidupan pribadinya selama ini, yang kerap menentang semua kebebasannya dalam melakukan hal ini-itu.
Rama sudah dewasa. Ia berhak menentukan kehidupannya sendiri. Geram jika harus mengingat sikap ayahnya yang keras bagai batu. Ia sangat benci pada ayahnya sejak masih kecil. Tapi sekali lagi ia tidak punya kesempatan meminta pada Tuhan untuk memilih lahir dari keluarga lain, terutama yang tak selalu mengutamakan kasta. Saat ini, hanya ada Jingga yang menguasai pikirannya, tidak ada selainnya.
Rama segera berlari seturunnya ia dari Taksi lima belas menit lebih telat dari Jingga. Kerumunan penumpang mondar-mandir masuk ke dalam dan luar bandara. Suara dari pusat informasi terdengar lantang menyebutkan keberangkatan ke Jakarta. Di lobby pesawat itu, mata Rama celingukan mencari sosok gadis berambut panjang nan ikal dengan tinggi 162 cm, memakai syal di lehernya, dan menarik koper berwarna merah tua. Berharap Jingga tidak mendapatkan kursi kosong.
Namun dugaan Rama salah. Rupanya Jingga sedang hoki. Ada satu penumpang yang membatalkan penerbangan lantaran harus menginap semalam lagi di Kota Denpasar. Jingga terlihat sedang melakukan proses boarding pass. Rama berlari mendekat, berdiri di samping gadis itu dan meraih tangan halus Jingga.
“Aku akan segera menyusulmu ke Jakarta. Kita akan bahagia berdua. Tak akan ada yang mengusik.”
Jingga mengangkat kepala. Matanya sembab dan merah. Ia menahan air matanya agar tidak meluber di hadapan Rama. “Apa kau mencintaiku, Rama?”
“Tentu saja aku mencintaimu. Kenapa kamu mempertanyakannya lagi?”
“Kalau kau benar-benar mencintaiku, menikahlah dengan dia,”
“Kau ini aneh sekali, Jingga. Mana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak kucintai. Aku hanya mencintaimu. Perlu kupertegas lagi?” Nada suara Rama meninggi.
Pusat informasi mengatakan bahwa pesawat yang akan ditumpangi Jingga sudah datang. Mohon waktunya untuk melakukan check in. Gadis itu memasang wajah datar. Ia harus kuat menahan sesak dadanya yang bergejolak. Ia sungguh tidak menyangka Tuhan menyelamatkan hatinya yang rapuh dengan mendapatkan satu nomor kursi yang tersisa. Ia memandangi mata Rama yang berkaca-kaca, “Aku harus pergi. Tetaplah di sini untuk dia. Kalian sudah ditakdirkan untuk bersama. Tolong selamatkan ayahmu. Kau akan menyesal setelah dia pergi.”
“Aku akan lebih menyesal membiarkanmu pergi.”
“Aku mohon… Biarkan aku pergi,”
“Oh, jadi itu yang kamu mau, Jingga? Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu untuk menikahi Kilka, gadis sekasta pilihan kedua orangtuaku. Kamu memang tak sedikitpun mencintaiku, kan? Harusnya aku tahu sejak awal. Kau hanya wanita frustasi dan pendendam masa lalu. Kalau tahu begini, untuk apa aku mengejarmu? Baiknya aku pulang dan menemui perempuan itu.” Rama ikut beranjak. Ia hanya menggeretak agar Jingga berubah pikiran.
Jingga tak kuasa meneteskan air matanya. Ucapan Rama mengiris-iris hatinya. Perih bagai menahan tusukan seribu sembilu. Ia justru tersenyum manis dan berkata, “Pulanglah… aku akan baik-baik saja.” Jingga membalikkan tubuhnya, tersuruk-suruk menarik koper memasuki bandara. Gadis itu tidak menoleh ke belakang, ia terus berjalan lurus sambil menahan air matanya yang sudah terlanjur basah.
Dada Jingga serasa ingin meledak. Ia berharap Rama akan menahan langkah kakinya. Tapi, hingga memasuki pengecekan, Rama tak pernah menarik lengannya lagi untuk tetap tinggal. Tapi keputusan Jingga sudah bulat. Ia akan merelakan kekasihnya menikah dengan perempuan pilihan orangtuanya. Mungkin pelan-pelan Rama bisa mencintai dia. Dan mungkin pelan-pelan Jingga bisa menetralkan perasaannya. Inilah akhir kisah yang teramat singkat yang pernah dialami Jingga dari tujuh deretan mantan sebelumnya. Biarlah pesawat membawanya pergi ke dunia yang sesungguhnya. Dunia patah hati.
***
Rabu, 20 Juli 2016
Puing 14 #Jingga #NovelSeries
Kegaduhan lalu-lalang manusia yang berceloteh di depan apartemen, membuat Jingga terganggu. Ia membuka pintu dan melihat beberapa tukang sedang mengangkut barang menuju lift. Mungkin ada penghuni apartemen yang pindahan, pikirnya dalam hati. Namun matanya terpaku ketika menyaksikan tiga orang laki-laki kesusahan membawa kanvas berukuran besar dan berat. Bukankah itu milik Rama? Tanyanya dalam hati.
Jingga menoleh ke apartemen Rama yang terbuka. Apakah pemuda itu ada di sana? Namun ia urung mencari tahu. Saat hendak melangkahkan kaki, ia berpas-pasan dengan Anton - teman dekat Rama, yang juga sibuk mengatur para tukang agar hati-hati jangan sampai lecet.
“Anton?” Jingga spontan memanggil laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit hitam yang nampak kesusahan membawa lukisan Monalisa.
“Hey, Jingga. Apa kabar? Pagi sekali sudah ngantor? Kau ini memang work a holic yah,”
“Bisa saja, kau ini. Kenapa barang-barang Rama dikemasi?”
“Si Brengsek itu menyuruhku mengatur kepindahannya ke kampung halaman. Setengah bulan lagi kan menikah. Dan berarti kau akan menetap di Bali, bukan? Wah, selamat ya… Aku turut senang mendengarnya.” Anton pura-pura tidak tahu. Tapi ia harus memberitahukan berita bodoh ini pada Jingga.
“Oh, begitu ya? Rama tidak cerita padaku.” Jingga memasang wajah polos. Dadanya seketika sesak. Sesak yang tak berujung. Ternyata Rama benar-benar membuktikan ucapannya. Tapi bukankah ini keputusan bulatnya untuk merelakan dia? Entahlah. Sepetak hatinya masih tersisa untuk kisah si pelukis itu.
“Kau tidak mau menitipkan salam untuk Rama?”
“Aku sepertinya harus segera ke kantor. Sudah telat.” Jingga permisi dan berjalan dengan langkah super cepat menuju lift.
Anton menggelengkan kepala, “Aneh sekali. Sebenarnya siapa yang gengsinya besar? Laki-laki atau perempuan?”
Pagi ini Jingga mengemudikan mobil Jazznya sendiri. Pak Eki berhalangan hadir karena ada urusan keluarga. Air matanya tiba-tiba mengalir deras membanjiri pipinya yang tirus. Keramaian ibukota tak berhasil meramaikan hatinya yang sepi. Dengan susah payah ia menelan ludah, menertawakan hidupnya yang teramat getir.
Fajar memaksa matanya untuk terbuka. Dadanya terasa sesak karena himpitan luka. Dan seperti biasa, bersama sang mentari yang selalu bersinar setiap pagi, ia akan berkata pada dunia bahwa dirinya baik-baik saja. Meski bertolak belakang dengan kondisi mentalnya yang sakit. Cintanya pada Rama tak mereda sedikitpun. Bahkan kian hari kian besar saja. Rindupun kian menggelitik jiwa. Ia sadar semua yang terjadi bukan keinginannya. Tapi ia tak bisa membohongi betapa terpukulnya ia mendengar kabar baik yang menurutnya buruk ini.
Ada untungnya juga menyetir mobil sendirian, mau tertawa ataupun menangis, tidak ada orang yang tahu. Tapi seketika tangan Jingga kram. Ia menepikan mobilnya dan meneruskan menguras deras air matanya yang meluber. Semenjak pertemuannya di Bali seminggu lalu, Jingga mencoba tegar, meski kenyataannya hampir setiap malam ia bersimbah air mata. Kabar pernikahan yang akan berlangsung dua minggu lagi, membuatnya ingin mati detik itu juga.
Kalau saja dirinya tidak bertemu Anton di apartemen, mungkin ia tidak akan tahu kabar bahagia yang menyedihkan itu. Jingga mengelap air matanya dengan tisu. Bedak dan mascara yang melekat di wajahnya luntur. Sejauh ini hanya Rama yang berhasil menjinakkan perasaannya. Sejauh ini hanya Rama yang kuasa menenangkan hatinya. Ia bagai hidup kembali setelah sempat mati rasa. Tak ada satupun kekurangan pada pemuda itu. Di matanya, semua tentang Rama tergambar indah. Seperti lukisan hasil karya tangan Tuhan, yang tak ada cacat sedikitpun. Mana mungkin ia bisa melupakan laki-laki itu.
**
Jarum jam sudah di angka 21:00 WIB. Jingga baru mematikan komputernya. Katanya, jika sedang patah hati, carilah kesibukan sebanyak-banyaknya untuk menutupi kesedihan. Tapi cara itu tak pernah berhasil. Jingga memang sibuk, aktivitasnya segudang, tapi hatinya tetap saja nelangsa oleh rasa sepi dan rindu yang membunuhnya secara perlahan. Kalau saja ada obat instan untuk menciptakan rasa bahagia dan membuang sesak di dada, mungkin ia sudah membelinya dengan harga berapapun jua.
Seperti malam yang sudah-sudah saat penat melanda, Jingga tak langsung pulang ke apartemen. Ia mampir dulu di rumah makan dekat kantornya di Kawasan Sudirman. Di sana hampir 24 jam restauran elit buka. Maka ia pun bebas menikmati malam sepinya dengan caranya sendiri.
“Jingga?” Seorang laki-laki berkemeja abu-abu menghampiri meja makan Jingga yang tersisa satu bangku.
“Hey, Pak Heri. Baru pulang juga?”
“Iya, tadi ada sedikit pekerjaan yang mesti diselesaikan,” Laki-laki itu mengangkat alis dan tersenyum manis. Meski menurut Jingga tak ada manis-manisnya. “Kamu juga habis lembur?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Closing report belum selesai?” Laki-laki itu memanggil waitress dan memesan lobster dan segelas pepsi.
“Tinggal direview sekali lagi. Oh ya, kabar anak Pak Heri bagaimana? Sudah bertemu?” Jingga mengalihkan topik pembicaraan, malas membicarakan pekerjaan di luar kantor, seperti yang pernah dikomplain Livi padanya.
Laki-laki itu menunduk, “Aku belum juga mendapatkan izin untuk menemui Zita. Mantan istriku sungguh tega. Masa menengok buah hatinya sendiri saja tidak boleh. Kejam sekali, bukan?”
Jingga mencoba simpati, “Esok lusa pasti bertemu.”
“Semoga saja. Kamu sudah makan?” ucapnya santai.
“Baru saja selesai,” Jingga menunjuk dessert yang tinggal piring dan sendok.
Heri mengangguk.
Sejak awal bertemu Jingga, sebenarnya Heri sudah jatuh hati. Namun sayangnya Jingga tak merespon sikapnya. Kala itu Jingga memang masih berstatus tunangan Dika. Hingga hubungan Jingga dan Dika selesai, Heri tak pernah punya kesempatan mendapatkan hati Jingga. Mungkin dia malu memiliki suami duda, pikirnya. Namun Heri tak putus arang, ia selalu mencari tahu tentang Jingga melalui Livi. Pria berusia 36 tahun itu sudah pernah mencoba melamar Jingga, namun ditolak dengan alasan belum siap. Atau tepatnya karena tidak ada chemistry di antara mereka.
Hingga kabar menyakitkan itu sampai ke telinga Heri, bahwa Jingga mengalami depresi akut karena kehilangan Rama, ia berusaha untuk menakhlukan hati Jingga yang keras. Ia ingin merasa sekadar dibutuhkan untuk menjadi teman tertawa dan bertukar cerita. Tapi Jingga amatlah tertutup. Ia tak bisa mengulik lebih dalam perasaan gadis jutek itu lebih jauh.
**
TV cable itu telah dimatikan. Baru saja Jingga terkekeh menonton film bergenre komedi. Tertawa adalah salah satu obat untuk menutupi kesedihan hatinya yang sepi. Meski sebenarnya tidak mujarab sama sekali. Jingga menengok kalender mejanya. Besok pagi merupakan acara puncak pernikahan Rama bersama Kilka. Ia meringkuk memegangi lututnya di sofa ekstra besar yang dulu pernah diduduki bersama Rama. Hatinya terasa seperti diiris-iris sembilu, pedih bukan main.
Dering telepon memenuhi ruangan tak bersekat. Jingga berjalan malas mengangkatnya. Ia mendekatkan gagang telepon ke telinga sebelah kiri dan membiarkan orang yang berada di seberang sana bicara lebih dulu.
“Aku telah menunaikan janjiku untuk menikahi perempuan pilihan orangtuaku, Jingga. Dan kuharap semoga kau menyesal.” Suara itu membuat Jingga pening. Siapa lagi kalau bukan Rama, mantan calon suaminya. Tapi Jingga sudah menganggap hubungan mereka berakhir semenjak pertemuannya di Bandara Ngurah Rai. Untuk apa pula ia menghubunginya memberitahu?
“Aku sudah bulat dengan keputusanku, Rama. Dan aku tidak akan pernah menyesal.” Jingga mematikan telepon itu. Tangannya bergetar hebat. Gagang telepon itu terjatuh ke lantai. Kalimat Rama yang terucap dalam sinyal kabel di pulau seberang, sungguh membuat jiwanya terguncang. Ada sesuatu yang hilang dan melayang. Dan ia pun ingin terbang bersama elang, menyelamatkan separuh hidupnya yang terbuang.
Perlahan, tubuh Jingga yang bersandar di tembok, semakin menurun dan akhirnya tersuruk di lantai dengan posisi kaki tertekuk. Jingga tersedu sedan memeluk lututnya. Ia menundukkan kepala membiarkan air mata jatuh menetes dan membasahi celana panjangnya. Ia tak kuat lagi menahan sesak. Semua ini teramat tragis.
Rasanya ia tak mampu lagi mengangkat kepalanya yang tertunduk lemas. Darahnya seakan membeku, napasnya serasa pengap dan berhenti. Derai air matanya terus membanjiri pipi tirusnya, tersedu-sedu meratapi kemalangan nasib percintaannya. Kesedihan ini pernah ia rasakan tiga tahun lalu saat putus cinta dengan Dika. Tapi puncak kehilangan paling menyakitkan adalah malam ini. Ketika seseorang yang masih kita cintai menikah dengan orang lain.
Kenapa cinta selalu menyakitkan, sadis, dan keterlaluan? Pertanyaan itu tak pernah ada yang menjawabnya dengan benar. Rama, lihatlah luka ini yang sakitnya abadi, yang terbalut hangatnya bekas pelukmu. Tubuh Jingga tumbang tersungkur di lantai.
Tak lama Livi datang membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang diberikan Jingga. Ia memeluk erat Jingga yang tersedu-sedan. Pada saat mengetahui tanggal pernikahan Rama dari Anton dua inggu lalu, Jingga langsung memberitahu Livi. Dan Livi mencatatnya dalam otak. Perempuan super bawel itu ingatannya memang tajam.
“Aku memang tidak pantas bahagia, Liv.”
“Tidak, Jingga. Kamu salah. Kelak kau akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira dan tak pernah terbayangkan sebelumnya,”
“Itu hanya omong kosongmu saja agar aku berhenti menangis. Aku bukan anak kecil lagi yang membutuhkan balon warna-warni serta permen lollipop bergambar pelangi untuk menghibur rasa sedihku,” Isak Jingga semakin keras.
“Aku paham. Tapi kau adalah gadis istimewa yang kuat, Jingga. Aku yakin, Tuhan akan menggantikan segala kesedihanmu dengan kebahagiaan yang melimpah ruah. Kau harus percaya itu.”
“Aku tidak akan pernah percaya dengan semua petuah bijakmu, Livi. Bahkan seseorang yang bijak sekalipun, belum tentu mereka menjalani hidupnya dengan bijaksana. Hidup ini tidak sesempurna dan sesederhana itu.”
“Kau benar, Jingga. Tapi bukan berarti hidupmu tamat sampai di sini. Aku memang belum pernah merasakan sakit yang kau rasakan. Tapi aku mohon bertahanlah… Kau pasti bisa menyelesaikannya. Menangislah, Jingga.. Buang semua rasa sesak di dadamu. Aku akan selalu ada untukmu, seperti kau selalu ada untukku. Aku yakin, kau bisa melewati semua ini dengan tegar.” Seumur hidup, Livi baru dua kali berpacaran. Dan putusnya pun dengan kasus ringan. Melihat Jingga menangis sesegukan, ia pun tak tahan membendung air matanya.
“Aku tidak ingin jatuh cinta lagi, Liv. Terlalu sakit. Aku benci dengan cinta… Aku ingin membuang hatiku agar tak menjadi manusia yang berperasaan Lebih baik seperti itu, kan? Kenapa Tuhan mempertemukanku dengan dia jika harus berpisah seperti ini? Rasanya aku tidak kuat lagi. Aku ingin mati saja.” Jingga mendorong kuat pelukan Livi. Namun ia tak berhasil, tenaganya sudah habis.
“Apa yang kau katakan barusan? Perjalananu masih panjang, Jingga.. Tak sepantasnya kau bicara begitu. Dengarkan aku, suatu saat kau akan menemukan cinta sejatimu. Yakinlah..” Livi memeluk Jingga. Untung saja ia datang tepat waktu. Ia tidak mau sahabatnya semakin frustasi dan melakukan hal gila yang akan menyelakakan dirinya sendiri. Bunuh diri, misalnya. Bulu kuduk Livi mendadak merinding memikirkan itu.
“Tapi sampai kapan? Aku lelah. Aku tak ingin jatuh cinta lagi. Aku tak percaya jodoh. Aku ingin mati saja.”
**
Malam itu Livi tidur bersama Jingga. Ia sudah meminta izin pada Juna untuk meringankan beban sahabatnya. Meski Jingga menolak dan mengusirnya pergi, Livi tetap bersikeras menemani, memastikan sahabatnya tidak melakukan hal bodoh. Orang-orang yang frustasi kerap kehilangan kontrol, sehingga mereka berpikir pendek untuk menyelesaikan kasus runyamnya pada tindakan paling tolol diluar nalar pikiran manusia.
Tangisan Jingga mulai mereda. Ia mencoba memejamkan mata. Tidak bisa. Jingga gelisah di tempat tidurnya. Ia tidak sedikitpun mengantuk. Menurut para ahli psikolog, ada dua hal yang membuat seseorang sukar tidur. Pertama saat ia jatuh cinta, kedua saat ia kehilangan. Barangkali pendapat itu benar adanya. Dirinya sendiripun mengalami demikian, tidak dapat terlelap. Ia masih terisak, hatinya sungguh tidak berdaya.
Livi beberapa kali menguap di balik selimut tipis yang menutupi kepalanya. Sebenarnya ia ngantuk berat. Tapi ia harus berakting pura-pura tidur agar bisa mengawasi gerak-gerik Jingga. Ia tidak ingin sesuatu buruk terjadi. Jingga memang menyebalkan dan keras kepala, tapi dia adalah sahabat terbaik yang pernah ada.
Jingga menatap dinding-dinding kamar yang gelap. Matanya sembab. Ia sungguh tidak kuat. Rasanya menyerah dan pasrah. Esok lusa, mungkin akan ada keajaiban yang membuat hatinya cerah. Kadang Tuhan membuat pilihan rumit bagi hambanya. Jika saja pilihan rumit itu seperti memilih hadiah yang sama-sama ‘wah’, tentulah tidak akan ada yang kecewa.
**
Ini adalah bulan kedua setelah pernikahan Rama. Jingga sempat sakit selama dua minggu pasca menerima kabar buruk itu. Ia sering tidak masuk kantor karena pikirannya bercabang kemana-mana, sukar berkonsentrasi. Imun tubuhnya seakan tidak kuasa menangkal virus dan kuman yang menyebabkan dirinya mudah sakit. Cinta bisa menguatkan, pun melemahkan seseorang yang dilandanya.
Kalau dulu Jingga pernah menjadi motivator Livi saat ditinggal kedua orangtuanya dalam peristiwa naas, kini gantian Livi yang menjadi badut dadakan meskipun tak pernah membuat Jingga tertawa. Jingga sering melamun, marah-marah tidak jelas pada bawahan, malas ikut meeting, dan susah makan laiknya anak kecil. Wajah Jingga selalu murung, kadangkala ia menyaksikannya menangis. Sampai-sampai keyboardnya basah oleh air mata. Alhasil Livi meminta keyboard baru pada bagian IT. Agar divisi IT tidak curiga, Livi memberikan alasan bahwa keyboard Jingga rusak karena ketumpahan teh panas.
Selama dua bulan itu, Jingga menjadi pribadi yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat karena malas makeup, pelit bicara, dan 1000x lipat lebih jutek dari sebelumnya. Livi hampir menyerah menghadapi kelakuan Jingga. Namun kalau bukan karena sahabat dekat, ia terus menyemangati Jingga. Kadangkala meminta bantuan pada kakak angkat Jingga untuk meminta solusi.
Sebagai atasan Jingga, Heri pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada bawahannya. Akhir-akhir ini Jingga mudah tersinggung, mudah menangis, dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah-dua patah kata permisi. Bila Jingga gagal fokus, semua pekerjaannya akan ngelantur, repot jadinya. Ia pun menanyakan perubahan sikap Jingga pada Livi apa yang telah terjadi. Dan Livi menjawab sekadarnya saja.
**
Di luar langit sedikit berawan. Namun tidak mendung seperti musim hujan, karena saat ini masih di penghujung kemarau. Pak Eki sudah tiba di basemant, siap mengantar majikannya yang belakangan ini tak bersuara. Setiap hari mata Jingga sembab. Dua bulan terakhir ini, Jingga memang banyak menghabiskan malamnya dengan bersimbah air mata, mengenang semua tentang Rama, dan menyesal telah membuka hatinya untuk laki-laki itu. Di jok belakang, Jingga memandang ke luar jendela, menikmati kesibukan ibukota yang menggeliat.
Beberapa menit berselang, percikan air hujan mulai turun. Ratusan milyar larik tetesannya membasahi jalananan, pohon-pohon, gedung-gedung tinggi serta kaca jendela mobil. Beberapa manusia yang berjalan kaki segera memekarkan payung. Pak Eki segera menyalakan wiper. Kaca jendela mobil berembun. Kilat petir berwarna putih menyilaukan mulai menyambar-nyambar. Begitu cepat membelah gelapnya langit. Melupakan seseorang yang pernah berarti, tidaklah secepat kilat halilintar yang menggelegar. Setiap detik, bayangan Rama kerap muncul di pikirannya. Dari mulai bangun tidur, hingga tidur lagi. Ingin mengenyahkan, namun sulit dan menyakitkan. Apapun yang tersaji di depan mata, pasti selalu berkaitan tentang Rama. Jingga menarik napas. Cinta memang pembunuh nomor satu bagi kalangan patah hati.
Jingga menoleh ke apartemen Rama yang terbuka. Apakah pemuda itu ada di sana? Namun ia urung mencari tahu. Saat hendak melangkahkan kaki, ia berpas-pasan dengan Anton - teman dekat Rama, yang juga sibuk mengatur para tukang agar hati-hati jangan sampai lecet.
“Anton?” Jingga spontan memanggil laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit hitam yang nampak kesusahan membawa lukisan Monalisa.
“Hey, Jingga. Apa kabar? Pagi sekali sudah ngantor? Kau ini memang work a holic yah,”
“Bisa saja, kau ini. Kenapa barang-barang Rama dikemasi?”
“Si Brengsek itu menyuruhku mengatur kepindahannya ke kampung halaman. Setengah bulan lagi kan menikah. Dan berarti kau akan menetap di Bali, bukan? Wah, selamat ya… Aku turut senang mendengarnya.” Anton pura-pura tidak tahu. Tapi ia harus memberitahukan berita bodoh ini pada Jingga.
“Oh, begitu ya? Rama tidak cerita padaku.” Jingga memasang wajah polos. Dadanya seketika sesak. Sesak yang tak berujung. Ternyata Rama benar-benar membuktikan ucapannya. Tapi bukankah ini keputusan bulatnya untuk merelakan dia? Entahlah. Sepetak hatinya masih tersisa untuk kisah si pelukis itu.
“Kau tidak mau menitipkan salam untuk Rama?”
“Aku sepertinya harus segera ke kantor. Sudah telat.” Jingga permisi dan berjalan dengan langkah super cepat menuju lift.
Anton menggelengkan kepala, “Aneh sekali. Sebenarnya siapa yang gengsinya besar? Laki-laki atau perempuan?”
Pagi ini Jingga mengemudikan mobil Jazznya sendiri. Pak Eki berhalangan hadir karena ada urusan keluarga. Air matanya tiba-tiba mengalir deras membanjiri pipinya yang tirus. Keramaian ibukota tak berhasil meramaikan hatinya yang sepi. Dengan susah payah ia menelan ludah, menertawakan hidupnya yang teramat getir.
Fajar memaksa matanya untuk terbuka. Dadanya terasa sesak karena himpitan luka. Dan seperti biasa, bersama sang mentari yang selalu bersinar setiap pagi, ia akan berkata pada dunia bahwa dirinya baik-baik saja. Meski bertolak belakang dengan kondisi mentalnya yang sakit. Cintanya pada Rama tak mereda sedikitpun. Bahkan kian hari kian besar saja. Rindupun kian menggelitik jiwa. Ia sadar semua yang terjadi bukan keinginannya. Tapi ia tak bisa membohongi betapa terpukulnya ia mendengar kabar baik yang menurutnya buruk ini.
Ada untungnya juga menyetir mobil sendirian, mau tertawa ataupun menangis, tidak ada orang yang tahu. Tapi seketika tangan Jingga kram. Ia menepikan mobilnya dan meneruskan menguras deras air matanya yang meluber. Semenjak pertemuannya di Bali seminggu lalu, Jingga mencoba tegar, meski kenyataannya hampir setiap malam ia bersimbah air mata. Kabar pernikahan yang akan berlangsung dua minggu lagi, membuatnya ingin mati detik itu juga.
Kalau saja dirinya tidak bertemu Anton di apartemen, mungkin ia tidak akan tahu kabar bahagia yang menyedihkan itu. Jingga mengelap air matanya dengan tisu. Bedak dan mascara yang melekat di wajahnya luntur. Sejauh ini hanya Rama yang berhasil menjinakkan perasaannya. Sejauh ini hanya Rama yang kuasa menenangkan hatinya. Ia bagai hidup kembali setelah sempat mati rasa. Tak ada satupun kekurangan pada pemuda itu. Di matanya, semua tentang Rama tergambar indah. Seperti lukisan hasil karya tangan Tuhan, yang tak ada cacat sedikitpun. Mana mungkin ia bisa melupakan laki-laki itu.
**
Jarum jam sudah di angka 21:00 WIB. Jingga baru mematikan komputernya. Katanya, jika sedang patah hati, carilah kesibukan sebanyak-banyaknya untuk menutupi kesedihan. Tapi cara itu tak pernah berhasil. Jingga memang sibuk, aktivitasnya segudang, tapi hatinya tetap saja nelangsa oleh rasa sepi dan rindu yang membunuhnya secara perlahan. Kalau saja ada obat instan untuk menciptakan rasa bahagia dan membuang sesak di dada, mungkin ia sudah membelinya dengan harga berapapun jua.
Seperti malam yang sudah-sudah saat penat melanda, Jingga tak langsung pulang ke apartemen. Ia mampir dulu di rumah makan dekat kantornya di Kawasan Sudirman. Di sana hampir 24 jam restauran elit buka. Maka ia pun bebas menikmati malam sepinya dengan caranya sendiri.
“Jingga?” Seorang laki-laki berkemeja abu-abu menghampiri meja makan Jingga yang tersisa satu bangku.
“Hey, Pak Heri. Baru pulang juga?”
“Iya, tadi ada sedikit pekerjaan yang mesti diselesaikan,” Laki-laki itu mengangkat alis dan tersenyum manis. Meski menurut Jingga tak ada manis-manisnya. “Kamu juga habis lembur?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Closing report belum selesai?” Laki-laki itu memanggil waitress dan memesan lobster dan segelas pepsi.
“Tinggal direview sekali lagi. Oh ya, kabar anak Pak Heri bagaimana? Sudah bertemu?” Jingga mengalihkan topik pembicaraan, malas membicarakan pekerjaan di luar kantor, seperti yang pernah dikomplain Livi padanya.
Laki-laki itu menunduk, “Aku belum juga mendapatkan izin untuk menemui Zita. Mantan istriku sungguh tega. Masa menengok buah hatinya sendiri saja tidak boleh. Kejam sekali, bukan?”
Jingga mencoba simpati, “Esok lusa pasti bertemu.”
“Semoga saja. Kamu sudah makan?” ucapnya santai.
“Baru saja selesai,” Jingga menunjuk dessert yang tinggal piring dan sendok.
Heri mengangguk.
Sejak awal bertemu Jingga, sebenarnya Heri sudah jatuh hati. Namun sayangnya Jingga tak merespon sikapnya. Kala itu Jingga memang masih berstatus tunangan Dika. Hingga hubungan Jingga dan Dika selesai, Heri tak pernah punya kesempatan mendapatkan hati Jingga. Mungkin dia malu memiliki suami duda, pikirnya. Namun Heri tak putus arang, ia selalu mencari tahu tentang Jingga melalui Livi. Pria berusia 36 tahun itu sudah pernah mencoba melamar Jingga, namun ditolak dengan alasan belum siap. Atau tepatnya karena tidak ada chemistry di antara mereka.
Hingga kabar menyakitkan itu sampai ke telinga Heri, bahwa Jingga mengalami depresi akut karena kehilangan Rama, ia berusaha untuk menakhlukan hati Jingga yang keras. Ia ingin merasa sekadar dibutuhkan untuk menjadi teman tertawa dan bertukar cerita. Tapi Jingga amatlah tertutup. Ia tak bisa mengulik lebih dalam perasaan gadis jutek itu lebih jauh.
**
TV cable itu telah dimatikan. Baru saja Jingga terkekeh menonton film bergenre komedi. Tertawa adalah salah satu obat untuk menutupi kesedihan hatinya yang sepi. Meski sebenarnya tidak mujarab sama sekali. Jingga menengok kalender mejanya. Besok pagi merupakan acara puncak pernikahan Rama bersama Kilka. Ia meringkuk memegangi lututnya di sofa ekstra besar yang dulu pernah diduduki bersama Rama. Hatinya terasa seperti diiris-iris sembilu, pedih bukan main.
Dering telepon memenuhi ruangan tak bersekat. Jingga berjalan malas mengangkatnya. Ia mendekatkan gagang telepon ke telinga sebelah kiri dan membiarkan orang yang berada di seberang sana bicara lebih dulu.
“Aku telah menunaikan janjiku untuk menikahi perempuan pilihan orangtuaku, Jingga. Dan kuharap semoga kau menyesal.” Suara itu membuat Jingga pening. Siapa lagi kalau bukan Rama, mantan calon suaminya. Tapi Jingga sudah menganggap hubungan mereka berakhir semenjak pertemuannya di Bandara Ngurah Rai. Untuk apa pula ia menghubunginya memberitahu?
“Aku sudah bulat dengan keputusanku, Rama. Dan aku tidak akan pernah menyesal.” Jingga mematikan telepon itu. Tangannya bergetar hebat. Gagang telepon itu terjatuh ke lantai. Kalimat Rama yang terucap dalam sinyal kabel di pulau seberang, sungguh membuat jiwanya terguncang. Ada sesuatu yang hilang dan melayang. Dan ia pun ingin terbang bersama elang, menyelamatkan separuh hidupnya yang terbuang.
Perlahan, tubuh Jingga yang bersandar di tembok, semakin menurun dan akhirnya tersuruk di lantai dengan posisi kaki tertekuk. Jingga tersedu sedan memeluk lututnya. Ia menundukkan kepala membiarkan air mata jatuh menetes dan membasahi celana panjangnya. Ia tak kuat lagi menahan sesak. Semua ini teramat tragis.
Rasanya ia tak mampu lagi mengangkat kepalanya yang tertunduk lemas. Darahnya seakan membeku, napasnya serasa pengap dan berhenti. Derai air matanya terus membanjiri pipi tirusnya, tersedu-sedu meratapi kemalangan nasib percintaannya. Kesedihan ini pernah ia rasakan tiga tahun lalu saat putus cinta dengan Dika. Tapi puncak kehilangan paling menyakitkan adalah malam ini. Ketika seseorang yang masih kita cintai menikah dengan orang lain.
Kenapa cinta selalu menyakitkan, sadis, dan keterlaluan? Pertanyaan itu tak pernah ada yang menjawabnya dengan benar. Rama, lihatlah luka ini yang sakitnya abadi, yang terbalut hangatnya bekas pelukmu. Tubuh Jingga tumbang tersungkur di lantai.
Tak lama Livi datang membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang diberikan Jingga. Ia memeluk erat Jingga yang tersedu-sedan. Pada saat mengetahui tanggal pernikahan Rama dari Anton dua inggu lalu, Jingga langsung memberitahu Livi. Dan Livi mencatatnya dalam otak. Perempuan super bawel itu ingatannya memang tajam.
“Aku memang tidak pantas bahagia, Liv.”
“Tidak, Jingga. Kamu salah. Kelak kau akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira dan tak pernah terbayangkan sebelumnya,”
“Itu hanya omong kosongmu saja agar aku berhenti menangis. Aku bukan anak kecil lagi yang membutuhkan balon warna-warni serta permen lollipop bergambar pelangi untuk menghibur rasa sedihku,” Isak Jingga semakin keras.
“Aku paham. Tapi kau adalah gadis istimewa yang kuat, Jingga. Aku yakin, Tuhan akan menggantikan segala kesedihanmu dengan kebahagiaan yang melimpah ruah. Kau harus percaya itu.”
“Aku tidak akan pernah percaya dengan semua petuah bijakmu, Livi. Bahkan seseorang yang bijak sekalipun, belum tentu mereka menjalani hidupnya dengan bijaksana. Hidup ini tidak sesempurna dan sesederhana itu.”
“Kau benar, Jingga. Tapi bukan berarti hidupmu tamat sampai di sini. Aku memang belum pernah merasakan sakit yang kau rasakan. Tapi aku mohon bertahanlah… Kau pasti bisa menyelesaikannya. Menangislah, Jingga.. Buang semua rasa sesak di dadamu. Aku akan selalu ada untukmu, seperti kau selalu ada untukku. Aku yakin, kau bisa melewati semua ini dengan tegar.” Seumur hidup, Livi baru dua kali berpacaran. Dan putusnya pun dengan kasus ringan. Melihat Jingga menangis sesegukan, ia pun tak tahan membendung air matanya.
“Aku tidak ingin jatuh cinta lagi, Liv. Terlalu sakit. Aku benci dengan cinta… Aku ingin membuang hatiku agar tak menjadi manusia yang berperasaan Lebih baik seperti itu, kan? Kenapa Tuhan mempertemukanku dengan dia jika harus berpisah seperti ini? Rasanya aku tidak kuat lagi. Aku ingin mati saja.” Jingga mendorong kuat pelukan Livi. Namun ia tak berhasil, tenaganya sudah habis.
“Apa yang kau katakan barusan? Perjalananu masih panjang, Jingga.. Tak sepantasnya kau bicara begitu. Dengarkan aku, suatu saat kau akan menemukan cinta sejatimu. Yakinlah..” Livi memeluk Jingga. Untung saja ia datang tepat waktu. Ia tidak mau sahabatnya semakin frustasi dan melakukan hal gila yang akan menyelakakan dirinya sendiri. Bunuh diri, misalnya. Bulu kuduk Livi mendadak merinding memikirkan itu.
“Tapi sampai kapan? Aku lelah. Aku tak ingin jatuh cinta lagi. Aku tak percaya jodoh. Aku ingin mati saja.”
**
Malam itu Livi tidur bersama Jingga. Ia sudah meminta izin pada Juna untuk meringankan beban sahabatnya. Meski Jingga menolak dan mengusirnya pergi, Livi tetap bersikeras menemani, memastikan sahabatnya tidak melakukan hal bodoh. Orang-orang yang frustasi kerap kehilangan kontrol, sehingga mereka berpikir pendek untuk menyelesaikan kasus runyamnya pada tindakan paling tolol diluar nalar pikiran manusia.
Tangisan Jingga mulai mereda. Ia mencoba memejamkan mata. Tidak bisa. Jingga gelisah di tempat tidurnya. Ia tidak sedikitpun mengantuk. Menurut para ahli psikolog, ada dua hal yang membuat seseorang sukar tidur. Pertama saat ia jatuh cinta, kedua saat ia kehilangan. Barangkali pendapat itu benar adanya. Dirinya sendiripun mengalami demikian, tidak dapat terlelap. Ia masih terisak, hatinya sungguh tidak berdaya.
Livi beberapa kali menguap di balik selimut tipis yang menutupi kepalanya. Sebenarnya ia ngantuk berat. Tapi ia harus berakting pura-pura tidur agar bisa mengawasi gerak-gerik Jingga. Ia tidak ingin sesuatu buruk terjadi. Jingga memang menyebalkan dan keras kepala, tapi dia adalah sahabat terbaik yang pernah ada.
Jingga menatap dinding-dinding kamar yang gelap. Matanya sembab. Ia sungguh tidak kuat. Rasanya menyerah dan pasrah. Esok lusa, mungkin akan ada keajaiban yang membuat hatinya cerah. Kadang Tuhan membuat pilihan rumit bagi hambanya. Jika saja pilihan rumit itu seperti memilih hadiah yang sama-sama ‘wah’, tentulah tidak akan ada yang kecewa.
**
Ini adalah bulan kedua setelah pernikahan Rama. Jingga sempat sakit selama dua minggu pasca menerima kabar buruk itu. Ia sering tidak masuk kantor karena pikirannya bercabang kemana-mana, sukar berkonsentrasi. Imun tubuhnya seakan tidak kuasa menangkal virus dan kuman yang menyebabkan dirinya mudah sakit. Cinta bisa menguatkan, pun melemahkan seseorang yang dilandanya.
Kalau dulu Jingga pernah menjadi motivator Livi saat ditinggal kedua orangtuanya dalam peristiwa naas, kini gantian Livi yang menjadi badut dadakan meskipun tak pernah membuat Jingga tertawa. Jingga sering melamun, marah-marah tidak jelas pada bawahan, malas ikut meeting, dan susah makan laiknya anak kecil. Wajah Jingga selalu murung, kadangkala ia menyaksikannya menangis. Sampai-sampai keyboardnya basah oleh air mata. Alhasil Livi meminta keyboard baru pada bagian IT. Agar divisi IT tidak curiga, Livi memberikan alasan bahwa keyboard Jingga rusak karena ketumpahan teh panas.
Selama dua bulan itu, Jingga menjadi pribadi yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat karena malas makeup, pelit bicara, dan 1000x lipat lebih jutek dari sebelumnya. Livi hampir menyerah menghadapi kelakuan Jingga. Namun kalau bukan karena sahabat dekat, ia terus menyemangati Jingga. Kadangkala meminta bantuan pada kakak angkat Jingga untuk meminta solusi.
Sebagai atasan Jingga, Heri pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada bawahannya. Akhir-akhir ini Jingga mudah tersinggung, mudah menangis, dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah-dua patah kata permisi. Bila Jingga gagal fokus, semua pekerjaannya akan ngelantur, repot jadinya. Ia pun menanyakan perubahan sikap Jingga pada Livi apa yang telah terjadi. Dan Livi menjawab sekadarnya saja.
**
Di luar langit sedikit berawan. Namun tidak mendung seperti musim hujan, karena saat ini masih di penghujung kemarau. Pak Eki sudah tiba di basemant, siap mengantar majikannya yang belakangan ini tak bersuara. Setiap hari mata Jingga sembab. Dua bulan terakhir ini, Jingga memang banyak menghabiskan malamnya dengan bersimbah air mata, mengenang semua tentang Rama, dan menyesal telah membuka hatinya untuk laki-laki itu. Di jok belakang, Jingga memandang ke luar jendela, menikmati kesibukan ibukota yang menggeliat.
Beberapa menit berselang, percikan air hujan mulai turun. Ratusan milyar larik tetesannya membasahi jalananan, pohon-pohon, gedung-gedung tinggi serta kaca jendela mobil. Beberapa manusia yang berjalan kaki segera memekarkan payung. Pak Eki segera menyalakan wiper. Kaca jendela mobil berembun. Kilat petir berwarna putih menyilaukan mulai menyambar-nyambar. Begitu cepat membelah gelapnya langit. Melupakan seseorang yang pernah berarti, tidaklah secepat kilat halilintar yang menggelegar. Setiap detik, bayangan Rama kerap muncul di pikirannya. Dari mulai bangun tidur, hingga tidur lagi. Ingin mengenyahkan, namun sulit dan menyakitkan. Apapun yang tersaji di depan mata, pasti selalu berkaitan tentang Rama. Jingga menarik napas. Cinta memang pembunuh nomor satu bagi kalangan patah hati.
Puing 15 #Jingga #NovelSeries
Ini adalah bulan ke tiga setelah Rama menikah. Jingga belum juga mampu melenyapkan secuil pun perasaannya pada laki-laki itu. Namun untuk menyembuhkan patah hati, seseorang perlu jatuh cinta lagi dengan orang yang baru. Pernyataan itu memang benar. Tapi mendapatkan seeorang yang baru, tak semudah mencari permen di warung-warung.
Sedikit demi sedikit, Jingga mencoba membuka celah pintunya yang tertutup untuk Heri. Ia yang semula sering menolak tawaran pulang bareng ataupun makan di restaurant, kini menurut meski dengan hati yang amat terpaksa.
“Sini kuberitahu sesuatu padamu, Jingga. Kau tidak perlu meragukan kesetiaan Heri. Sejak awal kau sering bilang padaku kalau lelaki itu sudah menaruh hati padamu. Rugi sekali yang menjadi mantan istrinya sekarang. Dia mencintai Heri hanya karena harta. Cinta itu tidak sepatutnya memandang materi. Ah, aku juga kalau menjadi Heri, pasti menceraikannya,”
“Entahlah. Aku tidak suka dia sering mengirimkanku sarapan yang dibubuhi salam selamat pagi. Rasanya berlebihan. Aku tidak suka cowok lebay seperti itu,” Jingga sibuk menatap layar komputer.
“Itu namanya romantis, Jingga. Kau ini aneh sekali. Bukankah dulu Rama pernah memperlakukanmu seperti itu? Dan kau selalu berlonjak gembira?”
Jingga terdiam. “Ini beda Livi, Heri bukan Rama. Apapun yang dilakukan Rama aku menyukainya. Karena aku mencintai dia,” katanya dalam hati.
“Tapi kini kau menyukainya, bukan? Ah, kau tidak bisa membohongiku, Jingga.”
“Tidak,” jawabnya dalam hati. Jingga pura-pura tersenyum tipis. Sejujurnya, ia tidak ingin menjadikan Heri pelarian semata. Ia hanya ingin melanjutkan hidupnya. Selain faktor umur, Jingga ingin membahagiakan sang ibu dengan memberikan suami idaman untuk ayah dari anak-anaknya. Sekiranya begitulah manusia meneruskan regenerasinya untuk masa tua mereka kelak.
Heri tidak jelek, juga tidak tampan. Biasa saja. Ia pekerja keras, baik, ramah, sopan, supel, dan berwibawa. Tapi Jingga tak pernah jatuh hati padanya. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, tapi Heri tidak mau. Dia bersikukuh hanya menginginkan Jingga. Gadis bermata sayu itu sangatlah keras untuk ditakhlukan. Wanita seperti Jingga seakan memberikan tantangan terselubung pada setiap laki-laki untuk mendapatkannya. Jingga yang dulu sering menolak diantar pulang dan jalan bersama, kini mencoba menikmati kebersamaan mereka.
Walaupun sering ditolak, Heri tak patah semangat. Ia mencoba bersikap baik dan profesional di dunia kerja. Ia juga tak patah arang melamar gadis itu sekali lagi walau hasilnya akan memalukan dunia persilatan. Anehnya, Jingga mengangguk setuju atas lamaranya. Hatinya seketika berubah menjadi musim semi. Heri tak menyangka akan jawaban langsung Jingga malam itu di pertunjukan teater wayang orang.
“Memangnya kau siap punya atasan baru?” Jingga memecah keheningan. Tangannya berhenti menekan tombol keyboard, menoleh pada Livi yang duduk di meja sebelah kirinya.
“Eh, maksud kau?” Livi mengernyitkan dahi.
“Kalau aku jadi menikah dengan Heri, itu artinya aku harus berhenti kerja. Mana boleh suami-istri bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Kau mengerti maksudku, kan?” Jingga tersenyum nakal.
“Eh?” Livi hampir saja salah menuliskan nominal dalam giro. “Kau bicara apa, Jingga? Aku akan menutup mukaku, bilang pada Pak Steven kalau kau dan Heri tetap akan menjadi partner sejati. Partner hidup dan mati, juga pekerjaan. Jangan sembarangan bicara. Kau kan tahu, aku hanya ingin mengabdikan dedikasiku padamu. Kalau kau resign, aku pun ikut resign.” Livi berhenti menulis, mendengus sebal.
“Memangnya kamu berani berhadapan dengan Pak Steven?” Jingga nyengir kuda, asyik melihat wajah Livi yang terlipat. “Kalau atasan dan asisten resign secara bersamaan, apa mungkin diizinkan? Kurasa tidak.” Jingga tertawa. Tawa pertama setelah tiga bulan tarakhir tertimbun dalam kesedihan berlarut-larut. Ternyata menggoda Livi mampu membuatnya terpingkal.
Livi melempar Jingga dengan remasan kertas bekas. Terus membela pendapatnya tanpa titik, tanpa koma. “Pokoknya aku tidak mau kau resign. Apapun alasannya.”
Jingga tertawa lagi. Rupanya, menggoda sahabat lebih lucu ketimbang menonton situs komedi.
**
Sebulan ke depan, Jingga dan Heri sibuk membicarakan gedung pernikahan, gaun pengantin, siapa saja yang akan diundang, memilih cathering mana, dan cinderamata seperti apa. Kedua orangtua masing-masing sudah menentukan tanggal pernikahan mereka. Jingga sebenarnya tak pernah siap menjadi istri Heri. Namun apa mau dikata, umurnya kini sudah menginjak 29. Sampai kapan ia harus hidup sendirian? Sang ibunda terus menagih janjinya untuk segera menikah. Mumpung ada yang mau, atau karena tidak laku? Batinnya menyerah pasrah.
Saat memilih gaun pengantin, sesuatu yang tak diduga terjadi. Mantan istri Heri telepon. Jingga hanya berpikir perempuan itu minta jatah bulanan untuk keperluan sekolah anaknya, atau mengucapkan selamat akan melepas status empat tahun menduda, akhirnya berkeluarga juga. Namun pikirannya melenceng.
“Jingga..” Heri menyentuh bahu Jingga yang asyik menimbang-nimbang kebaya. “Mantan istriku minta rujuk. Katanya dia sudah bercerai dengan suaminya empat bulan lalu. Dia menyesal telah menghianatiku. Apa yang harus kuperbuat?” Dahi Heri tertekuk.
Jingga menelan ludah. Agak terkejut mendengar ucapan Heri. Dia memang tidak memiliki perasaan apapun pada Heri, tapi berusaha untuk mencintainya. Namun ketika belajar mencintainya, lagi-lagi badai menghantam perjalanan cintanya. Jingga mengangkat bahu, tak tahu mesti bagaimana.
“Kau mencintaiku, Heri?” Jingga menatap dalam bola mata Heri.
“Tentu saja. Kenapa kau mempertanyakan itu lagi padaku? Bahkan kau tahu perasaanku semenjak pertama kali aku melihatmu di ruang meeting empat tahun yang lalu. Sampai saat ini tidak berubah sedikitpun.”
“Aku tahu itu,” Jingga menarik napas. “Maka kembalilah pada mantan istrimu, anakmu lebih membutuhkanmu daripada aku,”
“Hei, aku bisa membawa anakku. Dan kita hidup bertiga.”
“Tidak, anakmu tidak membutuhkanku, melainkan membutuhkan ibu kandungnya. Kalian memang ditakdirkan untuk hidup bersama,”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu,” Heri bersedekap.
Pelayan butiq yang menyadari Jingga dan Heri sedang berselisih, bergegas menghindar untuk tidak menguping lebih jauh pembicaraan kliennya.
“Terus terang, kemarin istrimu datang menemuiku di apartemen. Dia menangis memintaku untuk mengizinkannya menjadi istri keduamu. Maaf, aku belum sempat menceritakannya padamu. Saat itu aku tak bisa berpikir apa-apa selain diam. Rasanya aku tidak tega membagi dua hati. Aku memang tak pernah siap menjadi pasanganmu, Heri. Kembalilah padanya. Aku akan baik-baik saja, percayalah..” Kalimat itu terucap untuk kedua kalinya setelah ia meminta Rama menikahi perempuan pilihan orangtuanya tiga bulan lalu.
**
Seminggu berlalu setelah perselisihan dengan Heri di butiq pengantin, Jingga merasa hidupnya luntang-lantung tidak jelas. Ia bingung bukan main bagaimana caranya menjelaskan pada sang ibu kalau pernikahannya dengan sang duda sukses beranak satu gagal total. Ninda – adik Jingga sibuk bertanya apakah gaunnya sudah sesuai ukuran bentuk tubuhnya atau belum.
Jingga melambaikan tangan, berusaha menampik semua bayang-bayang rencananya yang suram. Ia membuka web cam di laptop, dan mulai berbicara panjang lebar dengan kakak angkatnya, curhat.
Lagu Red milik Taylor Swift berdering dari ponsel Jingga yang tergeletak di dekat bantal. Jingga melirik nama di layar ponselnya. Telepon dari Heri.
“Jingga, aku akan menuruti permintaanmu. Aku harap kamu tidak menyesalinya. Kamu masih punya waktu empat hari lagi untuk berpikir ulang.”
Jingga menggeleng. Menyuruh laki-laki berambut kilimis itu menikah ulang dengan mantan istrinya. Ia sudah benar-benar yakin akan keputusannya. Sebagaimana yang disarankan kakak angkatnya. Kehilangan Heri bukanlah sesuatu yang menakutkan dibandingkan kehilangan Rama. Namun tetap saja, hatinya yang masih rapuh kian rapuh saja. Kepingan hatinya berhamburan kemana-mana. Belum lama ia berjuang merawat sesak dadanya karena kehilangan Rama, dan mungkin belum sembuh hingga detik ini. Kini, ia harus siap menahan malu pada semua tamu undangan atas pernikahannya yang batal.
Atas saran kakak angkatnya pula, Jingga berani menemui ibundanya di kampung halaman, berkata bahwa ia tidak jadi menikah dengan Heri. Sang ibunda yang sudah terlanjur berkoar-koar pada tetangga kiri-kanan, depan-belakang, bahwa anak sulungnya akan menikah, melipat muka. “Mau di kemanakan wajah ibu, Nak? Memangnya pernikahan itu permainan?”
Jingga terdiam.
Ninda dan Bibi Jingga yang saat itu ada di ruang tamu juga terdiam.
**
Jingga tak ingin terus-terusan menangisi hari-harinya yang pilu. Ia harus profesional menjalani rutinitas seperti biasanya di kantor, apartemen, dan menjaga persahabatannya dengan teman lama, serta memperbaiki hubungannya yang merenggang dengan sang ibunda.
Pagi ini Jingga sudah masak kembali. Ia lebih produktif dari hari-hari sebelumnya. Hatinya memang masih kalut, tapi ia tak mau menangisi nasibnya yang malang lagi. Air matanya sudah kering karena dikuras habis-habisan. Livi dan Juna sering mengajaknya berjalan bersama mengusir gundah yang tak berkesudahan.
Menyibukkan diri. Itulah yang acapkali dilakukan Jingga untuk menutupi kesedihan hatinya. Biarpun tak banyak membantu kemurungannya, namun setidaknya bisa melupakan secuil saja rasa sedihnya. Jingga mencoba fokus pada setiap pekerjaan yang memabukkan kepala. Ia harus bersikap sewajar mungkin bila berpas-pasan dengan Heri di kantor, kantin, dimanapun itu. Sesuatu yang amat menyesakan dada tiap kali harus menerima kenyataan bahwa orang yang dulu menginginkannya, kini bersikap dingin dan menganggapnya seperti angin lalu. Ingin rasanya Jingga mengundurkan diri dari pekerjaannya pada hari itu juga. Namun Livi mengingatkan untuk selalu bersikap profesional.
**
Sedikit lagi Rama berhasil mengukir wajah Jingga di kertas putih berukuran besar. Akhirnya ia bisa menyelesaikan lukisan yang tak pernah usai itu. Perasaannya pada gadis itu belum berubah sedikitpun. Dipandanginya lukisan itu lamat-lamat, betapa sedunya wajah Jingga ketika dilihatnya terakhir kali di Bandara Ngurah Rai. Hatinya mendadak sakit mengingat kejadian itu. Jingga tak mencintainya. Dia bahkan menyuruhnya untuk menikahi gadis lain yang tidak ia cintai.
Namun saat asyik menatap lukisan wajah Jingga, ada tangan yang dengan kasar merobeknya. Kilka. Istrinya yang sangat membenci Jingga.
“Aku istrimu, Rama. Kenapa kau tidak pernah mau menghargaiku? Kau belum sekalipun menyentuhku. Kau lebih memikirkan perempuan itu dibandingkan aku yang setiap hari melayanimu membuatkan sarapan, makan siang, makan malam, mencuci bajumu, membereskan semua peralatanmu. Kau jahat sekali!” Hinanya pada Rama.
“Lantas kenapa kau merobek lukisan yang susah payah kubuat? Apa urusannya denganmu?” Rama beringas bangkit dari tempat duduknya. Ia memaki Kilka dengan hati yang terluka. Tahu apa Kilka tentang perasaannya selama ini?
“Tega sekali kau memarahi istrimu sendiri, Rama? Aku merobeknya karena benci pada gadis itu. Gadis yang sudah menghipnotismu untuk memperlakukan aku seperti patung.”
“Cukup, Kilka! Kau memang istriku, tapi aku tak pernah mencintaimu. Seharusnya kau berterimakasih padanya karena dia sudah memaksaku untuk menikahimu. Padahal dia tahu aku sama sekali tidak mencintaimu,” Rama memungut potongan kertas yang berceceran di lantai.
“Aku ingin kita cerai,” Kilka membuka lemari, mengemasi pakaiannya. “Aku tak kuat lagi hidup bersama orang angkuh sepertimu,”
“Pergi saja! Dengan senang hati. Karena aku tak akan mampu menjadi suamimu yang baik seperti yang kau inginkan. Kau tidak akan pernah hidup bahagia denganku. Satu hal yang perlu kau tahu, Kilka, aku menikahimu karena permintaan gadis itu, gadis yang kau benci, gadis yang wajahnya ada dalam lukisanku yang kau robek-robek ini. Mengerti kau?” Rama mencari solasi bening, menyatukan kembali potongan robekan kertas dengan hati yang pedih.
“Kau juga boleh melaporkanku kepada ayah dan ibuku, pada kedua orangtuamu, pada tetangga, teman, saudara, semuanya. Tapi kau tak berhak mengait-ngaitkan gadis yang ada dalam lukisanku. Lukisan gadis ini sudah pernah kubuat sebelum aku bertemu dengannya. Kalau kau mau pergi, silakan. Aku tidak akan menahan. Besok pagi aku akan mengurus surat perceraian kita.” Wajah Rama merah. Ia benar-benar marah.
Kilka menangis, menenteng tas dan pergi meninggalkan Rama yang memerah karena marah. Saat mentari pagi bersinar, Rama mendatangani kantor urusan agama. Tak ada yang perlu dipertahankan lagi, bila segenap rasa dan jiwa mengapung pada senyum manis wajah gadis yang selama ini ada di hatinya, menguasai semua pikirannya. Perpisahan dengan Kilka membuat hatinya senang karena dia tak akan menyiksa perempuan itu dengan sikap dinginnya lagi.
Mendengar kabar perceraian anaknya, ayah Rama jatuh sakit dan harus masuk ICU selama berhari-hari. Ibu Rama memohon agar Rama membatalkan perceraiannya. “Kau ini memalukan keluarga saja, Rama.”
Tapi Rama bersikeras menolak rujuk. Ia tak peduli lagi dengan semua ini. Lebih baik masuk ke perut bumi daripada harus menjalani kehidupan secara terpaksa dengan perempuan yang sama sekali tidak dicintainya. Bukankah cinta datang karena terbiasa? Ungkapan itu tidak berlaku bagi Rama. Selama tiga bulan mengarungi bahtera rumah tangga, sikapnya dingin pada Kilka. Bahkan pada saat Kilka memancing birahinya agar Rama menggaulinya. Rama tetap dingin. Ia sering menghabiskan waktu dengan lukisan atau singgah ke rumah neneknya yang sudah sepuh. Tiap kali bertemu Kilka, Rama merasa perempuan itu tamu tak diharapkan, melongos begitu saja tanpa sedikitpun saling bicara.
Awalnya Kilka bersabar menghadapi sikap dingin Rama, mencoba menyesuaikan diri dan berusaha membuatnya jatuh cinta, sayangnya Rama sama sekali tidak mencintainya.
**
“Kau masih ingat Anggun kan? Dia akan menikah minggu depan dengan atasannya,”
“Anggun?” Rama nampak berpikir keras.
“Iya, sahabat semasa kecil kita, Jingga Anggunella. Dulu kalian berdua sering bertengkar. Dan aku selalu sibuk melerai,” ungkap Azka di sudut lorong rumah sakit saat menjenguk ayah Rama yang terbaring karena penyakit jantung koronernya kambuh.
“Jingga Anggunella?” Dahi Rama terlipat.
“Sudahlah, mungkin kau sudah lupa. Dia sekarang tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Tapi, galak dan jutek seperti dulu. Dan mungkin sudah tak ingat lagi padamu.” Azka tertawa.
“Jingga?”
“Nah, Jingga itu panggilannya sekarang. Apa kau mau mengantarku ke pesta pernikahannya nanti? Empat hari lagi. Ah ya, pastinya dia amat menyesal terlambat bertemu denganmu. Dia kan masih dendam padamu. Seandainya Tuhan mempertemukanku dengan dia, akan kubalas dendam ku, lihat saja, katanya. Sebentar, belum lama ia mengirimkan fotonya via chat. Ini dia, cantik bukan? Katanya biar aku tidak salah orang saat menyalaminya di pesta pernikahannya nanti,” Azka menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.
Rama kaget bukan kepalang melihat sesosok gadis berambut ikal nan panjang yang mengenakan blazer biru muda, sedang duduk bersama Livi. Tidak pelak lagi, sahabat masa kecil yang dibicarakan Azka merupakan gadis bunglonnya yang amat ia sayangi. Jingga Anggunella.
“Kau mengenalnya?” Azka membuyarkan lamunan Rama.
“Sialan kau, Azka. Kenapa kau bilang Anggun- gadis kecilku buruk rupa? Kenapa pula kau tak pernah bilang kalau sejauh ini kalian masih berhubungan baik? Kau memang keterlaluan.”
Otak Rama memutar rekaman 19 tahun silam, saat dirinya pamit pada Anggun.
“Aku akan pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Pokoknya pergi jauuuuuuhhhhh sekaliiii…”
“Memangnya sejauh apa?”
“Aku tidak tahu. Kau tanya saja pada ayah dan ibuku. Dasar banyak tanya.”
“Kalau kau mau pegi, pergi saja. Kenapa harus bilang padaku?”
“Karena kau pasti akan merindukanku.”
Jingga terdiam. “Aku tidak sudi merindukan teman jahat sepertimu.”
“Heh, Anggun, kau ini memang menyebalkan. Aku pun tak sudi merindukan teman egois sepertimu. Di sana aku akan mendapatkan teman perempuan yang jauh lebih baik, dan yang jelas tidak sepertimu.” Rama berseru-seru sebal, kemudian berlalu meninggalkan Jingga yang berdiri di samping Azka.
Jingga melotot meladeni caci maki Dewa, menyaksikan punggung musuhnya yang menjauh. Sementara Azka menepuk bahu Jingga menyuruhnya bersabar.
Saat itu Jingga naik ke kelas lima sekolah dasar (SD), sedangkan Rama dan Azka baru merayakan kelulusannya dan sebentar lagi masuk sekolah menengah pertama (SMP). Sesungguhnya gadis berkuncir dua itu tidak ingin Rama pergi. Tapi apa daya. Ia hanya anak kecil bau kencur yang tak dapat berbuat banyak hal selain menangis. Azka yang merupakan teman sekelas Rama, menepuk bahu Jingga agar tidak bersedih. Namun di kamar, Jingga benar-benar menangis. Tak rela musuh besarnya pergi meninggalkannya. Siapa yang akan diajaknya berkelahi lagi? Ditinggal lulus sekolah saja, hati Jingga sedih minta ampun, apalagi ditinggal pergi ke tempat yang jauh dalam kurun waktu yang tak tentu?
Saat Rama memasuki usia remaja, ia sering bertukar kabar dengan Azka melalui surat. Bercerita tentang kehidupan barunya di Pulau Dewata, kecintaannya pada melukis, dan bosan melihat bule. Rama juga sering bertanya bagaimana perkembangan Jingga. Ia bilang pada Azka kalau di tempat barunya kini, tidak ada wanita menyebalkan macam Anggun yang bisa digodanya, diajak berkelahi, dan membuatnya menangis tersedu-sedu. Azka tertawa membaca surat Rama. Ia pun segera membalas surat Rama yang baru akan tiba di tempat tujuan selama berminggu-minggu. Maklum, zaman dulu kemajuan teknologi belum secanggih sekarang. Dalam surat Azka, ia hanya bercerita sekadarnya tentang Anggun, pun tak pernah sekalipun menyampaikan ucapan rindu dan salam Rama untuk Anggun.
“Aku mengerti perasaanmu, Sob. Temuilah dia untuk yang terakhir kalinya sebelum ia menikah. Dan aku mohon jangan membikin ulah,” Azka menepuk pundak Rama.
Rama tak menjawab. Ia menepis tangan Azka dan langsung bergegas pergi meninggalkannya seorang diri di lorong rumah sakit. Ia bahkan tak pamitan terlebih dulu pada ibunya. Ia juga tak peduli dengan penyakit ayahnya. Sejauh ini ayahnya hanya ingin dihormati tanpa mau menghargai perasaannya. Seorang anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Rama sudah dewasa, ia bukan anak kecil yang bisa diatur-atur lagi.
Kalau memang menurutmu takdir ini begitu kejam, harusnya dia tidak perlu dipertemukan dengan Jingga. Tuhan tidak perlu ikut campur dan membubuhkan perasaannya pada gadis bunglon itu. Hatinya benar-benar perih. Tapi ingat ya, kita hanya dalang, tak boleh menawar peran.
Mendengar kabar mengejutkan tentang Jingga yang akan menikah empat hari lagi, Rama berlari menuju lift, berlari lagi menuju parkiran mobil. Dan bergegas menuju Pelabuhan Gili Manuk menggunakan kendaraan roda empatnya.
Sedikit demi sedikit, Jingga mencoba membuka celah pintunya yang tertutup untuk Heri. Ia yang semula sering menolak tawaran pulang bareng ataupun makan di restaurant, kini menurut meski dengan hati yang amat terpaksa.
“Sini kuberitahu sesuatu padamu, Jingga. Kau tidak perlu meragukan kesetiaan Heri. Sejak awal kau sering bilang padaku kalau lelaki itu sudah menaruh hati padamu. Rugi sekali yang menjadi mantan istrinya sekarang. Dia mencintai Heri hanya karena harta. Cinta itu tidak sepatutnya memandang materi. Ah, aku juga kalau menjadi Heri, pasti menceraikannya,”
“Entahlah. Aku tidak suka dia sering mengirimkanku sarapan yang dibubuhi salam selamat pagi. Rasanya berlebihan. Aku tidak suka cowok lebay seperti itu,” Jingga sibuk menatap layar komputer.
“Itu namanya romantis, Jingga. Kau ini aneh sekali. Bukankah dulu Rama pernah memperlakukanmu seperti itu? Dan kau selalu berlonjak gembira?”
Jingga terdiam. “Ini beda Livi, Heri bukan Rama. Apapun yang dilakukan Rama aku menyukainya. Karena aku mencintai dia,” katanya dalam hati.
“Tapi kini kau menyukainya, bukan? Ah, kau tidak bisa membohongiku, Jingga.”
“Tidak,” jawabnya dalam hati. Jingga pura-pura tersenyum tipis. Sejujurnya, ia tidak ingin menjadikan Heri pelarian semata. Ia hanya ingin melanjutkan hidupnya. Selain faktor umur, Jingga ingin membahagiakan sang ibu dengan memberikan suami idaman untuk ayah dari anak-anaknya. Sekiranya begitulah manusia meneruskan regenerasinya untuk masa tua mereka kelak.
Heri tidak jelek, juga tidak tampan. Biasa saja. Ia pekerja keras, baik, ramah, sopan, supel, dan berwibawa. Tapi Jingga tak pernah jatuh hati padanya. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, tapi Heri tidak mau. Dia bersikukuh hanya menginginkan Jingga. Gadis bermata sayu itu sangatlah keras untuk ditakhlukan. Wanita seperti Jingga seakan memberikan tantangan terselubung pada setiap laki-laki untuk mendapatkannya. Jingga yang dulu sering menolak diantar pulang dan jalan bersama, kini mencoba menikmati kebersamaan mereka.
Walaupun sering ditolak, Heri tak patah semangat. Ia mencoba bersikap baik dan profesional di dunia kerja. Ia juga tak patah arang melamar gadis itu sekali lagi walau hasilnya akan memalukan dunia persilatan. Anehnya, Jingga mengangguk setuju atas lamaranya. Hatinya seketika berubah menjadi musim semi. Heri tak menyangka akan jawaban langsung Jingga malam itu di pertunjukan teater wayang orang.
“Memangnya kau siap punya atasan baru?” Jingga memecah keheningan. Tangannya berhenti menekan tombol keyboard, menoleh pada Livi yang duduk di meja sebelah kirinya.
“Eh, maksud kau?” Livi mengernyitkan dahi.
“Kalau aku jadi menikah dengan Heri, itu artinya aku harus berhenti kerja. Mana boleh suami-istri bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Kau mengerti maksudku, kan?” Jingga tersenyum nakal.
“Eh?” Livi hampir saja salah menuliskan nominal dalam giro. “Kau bicara apa, Jingga? Aku akan menutup mukaku, bilang pada Pak Steven kalau kau dan Heri tetap akan menjadi partner sejati. Partner hidup dan mati, juga pekerjaan. Jangan sembarangan bicara. Kau kan tahu, aku hanya ingin mengabdikan dedikasiku padamu. Kalau kau resign, aku pun ikut resign.” Livi berhenti menulis, mendengus sebal.
“Memangnya kamu berani berhadapan dengan Pak Steven?” Jingga nyengir kuda, asyik melihat wajah Livi yang terlipat. “Kalau atasan dan asisten resign secara bersamaan, apa mungkin diizinkan? Kurasa tidak.” Jingga tertawa. Tawa pertama setelah tiga bulan tarakhir tertimbun dalam kesedihan berlarut-larut. Ternyata menggoda Livi mampu membuatnya terpingkal.
Livi melempar Jingga dengan remasan kertas bekas. Terus membela pendapatnya tanpa titik, tanpa koma. “Pokoknya aku tidak mau kau resign. Apapun alasannya.”
Jingga tertawa lagi. Rupanya, menggoda sahabat lebih lucu ketimbang menonton situs komedi.
**
Sebulan ke depan, Jingga dan Heri sibuk membicarakan gedung pernikahan, gaun pengantin, siapa saja yang akan diundang, memilih cathering mana, dan cinderamata seperti apa. Kedua orangtua masing-masing sudah menentukan tanggal pernikahan mereka. Jingga sebenarnya tak pernah siap menjadi istri Heri. Namun apa mau dikata, umurnya kini sudah menginjak 29. Sampai kapan ia harus hidup sendirian? Sang ibunda terus menagih janjinya untuk segera menikah. Mumpung ada yang mau, atau karena tidak laku? Batinnya menyerah pasrah.
Saat memilih gaun pengantin, sesuatu yang tak diduga terjadi. Mantan istri Heri telepon. Jingga hanya berpikir perempuan itu minta jatah bulanan untuk keperluan sekolah anaknya, atau mengucapkan selamat akan melepas status empat tahun menduda, akhirnya berkeluarga juga. Namun pikirannya melenceng.
“Jingga..” Heri menyentuh bahu Jingga yang asyik menimbang-nimbang kebaya. “Mantan istriku minta rujuk. Katanya dia sudah bercerai dengan suaminya empat bulan lalu. Dia menyesal telah menghianatiku. Apa yang harus kuperbuat?” Dahi Heri tertekuk.
Jingga menelan ludah. Agak terkejut mendengar ucapan Heri. Dia memang tidak memiliki perasaan apapun pada Heri, tapi berusaha untuk mencintainya. Namun ketika belajar mencintainya, lagi-lagi badai menghantam perjalanan cintanya. Jingga mengangkat bahu, tak tahu mesti bagaimana.
“Kau mencintaiku, Heri?” Jingga menatap dalam bola mata Heri.
“Tentu saja. Kenapa kau mempertanyakan itu lagi padaku? Bahkan kau tahu perasaanku semenjak pertama kali aku melihatmu di ruang meeting empat tahun yang lalu. Sampai saat ini tidak berubah sedikitpun.”
“Aku tahu itu,” Jingga menarik napas. “Maka kembalilah pada mantan istrimu, anakmu lebih membutuhkanmu daripada aku,”
“Hei, aku bisa membawa anakku. Dan kita hidup bertiga.”
“Tidak, anakmu tidak membutuhkanku, melainkan membutuhkan ibu kandungnya. Kalian memang ditakdirkan untuk hidup bersama,”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu,” Heri bersedekap.
Pelayan butiq yang menyadari Jingga dan Heri sedang berselisih, bergegas menghindar untuk tidak menguping lebih jauh pembicaraan kliennya.
“Terus terang, kemarin istrimu datang menemuiku di apartemen. Dia menangis memintaku untuk mengizinkannya menjadi istri keduamu. Maaf, aku belum sempat menceritakannya padamu. Saat itu aku tak bisa berpikir apa-apa selain diam. Rasanya aku tidak tega membagi dua hati. Aku memang tak pernah siap menjadi pasanganmu, Heri. Kembalilah padanya. Aku akan baik-baik saja, percayalah..” Kalimat itu terucap untuk kedua kalinya setelah ia meminta Rama menikahi perempuan pilihan orangtuanya tiga bulan lalu.
**
Seminggu berlalu setelah perselisihan dengan Heri di butiq pengantin, Jingga merasa hidupnya luntang-lantung tidak jelas. Ia bingung bukan main bagaimana caranya menjelaskan pada sang ibu kalau pernikahannya dengan sang duda sukses beranak satu gagal total. Ninda – adik Jingga sibuk bertanya apakah gaunnya sudah sesuai ukuran bentuk tubuhnya atau belum.
Jingga melambaikan tangan, berusaha menampik semua bayang-bayang rencananya yang suram. Ia membuka web cam di laptop, dan mulai berbicara panjang lebar dengan kakak angkatnya, curhat.
Lagu Red milik Taylor Swift berdering dari ponsel Jingga yang tergeletak di dekat bantal. Jingga melirik nama di layar ponselnya. Telepon dari Heri.
“Jingga, aku akan menuruti permintaanmu. Aku harap kamu tidak menyesalinya. Kamu masih punya waktu empat hari lagi untuk berpikir ulang.”
Jingga menggeleng. Menyuruh laki-laki berambut kilimis itu menikah ulang dengan mantan istrinya. Ia sudah benar-benar yakin akan keputusannya. Sebagaimana yang disarankan kakak angkatnya. Kehilangan Heri bukanlah sesuatu yang menakutkan dibandingkan kehilangan Rama. Namun tetap saja, hatinya yang masih rapuh kian rapuh saja. Kepingan hatinya berhamburan kemana-mana. Belum lama ia berjuang merawat sesak dadanya karena kehilangan Rama, dan mungkin belum sembuh hingga detik ini. Kini, ia harus siap menahan malu pada semua tamu undangan atas pernikahannya yang batal.
Atas saran kakak angkatnya pula, Jingga berani menemui ibundanya di kampung halaman, berkata bahwa ia tidak jadi menikah dengan Heri. Sang ibunda yang sudah terlanjur berkoar-koar pada tetangga kiri-kanan, depan-belakang, bahwa anak sulungnya akan menikah, melipat muka. “Mau di kemanakan wajah ibu, Nak? Memangnya pernikahan itu permainan?”
Jingga terdiam.
Ninda dan Bibi Jingga yang saat itu ada di ruang tamu juga terdiam.
**
Jingga tak ingin terus-terusan menangisi hari-harinya yang pilu. Ia harus profesional menjalani rutinitas seperti biasanya di kantor, apartemen, dan menjaga persahabatannya dengan teman lama, serta memperbaiki hubungannya yang merenggang dengan sang ibunda.
Pagi ini Jingga sudah masak kembali. Ia lebih produktif dari hari-hari sebelumnya. Hatinya memang masih kalut, tapi ia tak mau menangisi nasibnya yang malang lagi. Air matanya sudah kering karena dikuras habis-habisan. Livi dan Juna sering mengajaknya berjalan bersama mengusir gundah yang tak berkesudahan.
Menyibukkan diri. Itulah yang acapkali dilakukan Jingga untuk menutupi kesedihan hatinya. Biarpun tak banyak membantu kemurungannya, namun setidaknya bisa melupakan secuil saja rasa sedihnya. Jingga mencoba fokus pada setiap pekerjaan yang memabukkan kepala. Ia harus bersikap sewajar mungkin bila berpas-pasan dengan Heri di kantor, kantin, dimanapun itu. Sesuatu yang amat menyesakan dada tiap kali harus menerima kenyataan bahwa orang yang dulu menginginkannya, kini bersikap dingin dan menganggapnya seperti angin lalu. Ingin rasanya Jingga mengundurkan diri dari pekerjaannya pada hari itu juga. Namun Livi mengingatkan untuk selalu bersikap profesional.
**
Sedikit lagi Rama berhasil mengukir wajah Jingga di kertas putih berukuran besar. Akhirnya ia bisa menyelesaikan lukisan yang tak pernah usai itu. Perasaannya pada gadis itu belum berubah sedikitpun. Dipandanginya lukisan itu lamat-lamat, betapa sedunya wajah Jingga ketika dilihatnya terakhir kali di Bandara Ngurah Rai. Hatinya mendadak sakit mengingat kejadian itu. Jingga tak mencintainya. Dia bahkan menyuruhnya untuk menikahi gadis lain yang tidak ia cintai.
Namun saat asyik menatap lukisan wajah Jingga, ada tangan yang dengan kasar merobeknya. Kilka. Istrinya yang sangat membenci Jingga.
“Aku istrimu, Rama. Kenapa kau tidak pernah mau menghargaiku? Kau belum sekalipun menyentuhku. Kau lebih memikirkan perempuan itu dibandingkan aku yang setiap hari melayanimu membuatkan sarapan, makan siang, makan malam, mencuci bajumu, membereskan semua peralatanmu. Kau jahat sekali!” Hinanya pada Rama.
“Lantas kenapa kau merobek lukisan yang susah payah kubuat? Apa urusannya denganmu?” Rama beringas bangkit dari tempat duduknya. Ia memaki Kilka dengan hati yang terluka. Tahu apa Kilka tentang perasaannya selama ini?
“Tega sekali kau memarahi istrimu sendiri, Rama? Aku merobeknya karena benci pada gadis itu. Gadis yang sudah menghipnotismu untuk memperlakukan aku seperti patung.”
“Cukup, Kilka! Kau memang istriku, tapi aku tak pernah mencintaimu. Seharusnya kau berterimakasih padanya karena dia sudah memaksaku untuk menikahimu. Padahal dia tahu aku sama sekali tidak mencintaimu,” Rama memungut potongan kertas yang berceceran di lantai.
“Aku ingin kita cerai,” Kilka membuka lemari, mengemasi pakaiannya. “Aku tak kuat lagi hidup bersama orang angkuh sepertimu,”
“Pergi saja! Dengan senang hati. Karena aku tak akan mampu menjadi suamimu yang baik seperti yang kau inginkan. Kau tidak akan pernah hidup bahagia denganku. Satu hal yang perlu kau tahu, Kilka, aku menikahimu karena permintaan gadis itu, gadis yang kau benci, gadis yang wajahnya ada dalam lukisanku yang kau robek-robek ini. Mengerti kau?” Rama mencari solasi bening, menyatukan kembali potongan robekan kertas dengan hati yang pedih.
“Kau juga boleh melaporkanku kepada ayah dan ibuku, pada kedua orangtuamu, pada tetangga, teman, saudara, semuanya. Tapi kau tak berhak mengait-ngaitkan gadis yang ada dalam lukisanku. Lukisan gadis ini sudah pernah kubuat sebelum aku bertemu dengannya. Kalau kau mau pergi, silakan. Aku tidak akan menahan. Besok pagi aku akan mengurus surat perceraian kita.” Wajah Rama merah. Ia benar-benar marah.
Kilka menangis, menenteng tas dan pergi meninggalkan Rama yang memerah karena marah. Saat mentari pagi bersinar, Rama mendatangani kantor urusan agama. Tak ada yang perlu dipertahankan lagi, bila segenap rasa dan jiwa mengapung pada senyum manis wajah gadis yang selama ini ada di hatinya, menguasai semua pikirannya. Perpisahan dengan Kilka membuat hatinya senang karena dia tak akan menyiksa perempuan itu dengan sikap dinginnya lagi.
Mendengar kabar perceraian anaknya, ayah Rama jatuh sakit dan harus masuk ICU selama berhari-hari. Ibu Rama memohon agar Rama membatalkan perceraiannya. “Kau ini memalukan keluarga saja, Rama.”
Tapi Rama bersikeras menolak rujuk. Ia tak peduli lagi dengan semua ini. Lebih baik masuk ke perut bumi daripada harus menjalani kehidupan secara terpaksa dengan perempuan yang sama sekali tidak dicintainya. Bukankah cinta datang karena terbiasa? Ungkapan itu tidak berlaku bagi Rama. Selama tiga bulan mengarungi bahtera rumah tangga, sikapnya dingin pada Kilka. Bahkan pada saat Kilka memancing birahinya agar Rama menggaulinya. Rama tetap dingin. Ia sering menghabiskan waktu dengan lukisan atau singgah ke rumah neneknya yang sudah sepuh. Tiap kali bertemu Kilka, Rama merasa perempuan itu tamu tak diharapkan, melongos begitu saja tanpa sedikitpun saling bicara.
Awalnya Kilka bersabar menghadapi sikap dingin Rama, mencoba menyesuaikan diri dan berusaha membuatnya jatuh cinta, sayangnya Rama sama sekali tidak mencintainya.
**
“Kau masih ingat Anggun kan? Dia akan menikah minggu depan dengan atasannya,”
“Anggun?” Rama nampak berpikir keras.
“Iya, sahabat semasa kecil kita, Jingga Anggunella. Dulu kalian berdua sering bertengkar. Dan aku selalu sibuk melerai,” ungkap Azka di sudut lorong rumah sakit saat menjenguk ayah Rama yang terbaring karena penyakit jantung koronernya kambuh.
“Jingga Anggunella?” Dahi Rama terlipat.
“Sudahlah, mungkin kau sudah lupa. Dia sekarang tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Tapi, galak dan jutek seperti dulu. Dan mungkin sudah tak ingat lagi padamu.” Azka tertawa.
“Jingga?”
“Nah, Jingga itu panggilannya sekarang. Apa kau mau mengantarku ke pesta pernikahannya nanti? Empat hari lagi. Ah ya, pastinya dia amat menyesal terlambat bertemu denganmu. Dia kan masih dendam padamu. Seandainya Tuhan mempertemukanku dengan dia, akan kubalas dendam ku, lihat saja, katanya. Sebentar, belum lama ia mengirimkan fotonya via chat. Ini dia, cantik bukan? Katanya biar aku tidak salah orang saat menyalaminya di pesta pernikahannya nanti,” Azka menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.
Rama kaget bukan kepalang melihat sesosok gadis berambut ikal nan panjang yang mengenakan blazer biru muda, sedang duduk bersama Livi. Tidak pelak lagi, sahabat masa kecil yang dibicarakan Azka merupakan gadis bunglonnya yang amat ia sayangi. Jingga Anggunella.
“Kau mengenalnya?” Azka membuyarkan lamunan Rama.
“Sialan kau, Azka. Kenapa kau bilang Anggun- gadis kecilku buruk rupa? Kenapa pula kau tak pernah bilang kalau sejauh ini kalian masih berhubungan baik? Kau memang keterlaluan.”
Otak Rama memutar rekaman 19 tahun silam, saat dirinya pamit pada Anggun.
“Aku akan pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Pokoknya pergi jauuuuuuhhhhh sekaliiii…”
“Memangnya sejauh apa?”
“Aku tidak tahu. Kau tanya saja pada ayah dan ibuku. Dasar banyak tanya.”
“Kalau kau mau pegi, pergi saja. Kenapa harus bilang padaku?”
“Karena kau pasti akan merindukanku.”
Jingga terdiam. “Aku tidak sudi merindukan teman jahat sepertimu.”
“Heh, Anggun, kau ini memang menyebalkan. Aku pun tak sudi merindukan teman egois sepertimu. Di sana aku akan mendapatkan teman perempuan yang jauh lebih baik, dan yang jelas tidak sepertimu.” Rama berseru-seru sebal, kemudian berlalu meninggalkan Jingga yang berdiri di samping Azka.
Jingga melotot meladeni caci maki Dewa, menyaksikan punggung musuhnya yang menjauh. Sementara Azka menepuk bahu Jingga menyuruhnya bersabar.
Saat itu Jingga naik ke kelas lima sekolah dasar (SD), sedangkan Rama dan Azka baru merayakan kelulusannya dan sebentar lagi masuk sekolah menengah pertama (SMP). Sesungguhnya gadis berkuncir dua itu tidak ingin Rama pergi. Tapi apa daya. Ia hanya anak kecil bau kencur yang tak dapat berbuat banyak hal selain menangis. Azka yang merupakan teman sekelas Rama, menepuk bahu Jingga agar tidak bersedih. Namun di kamar, Jingga benar-benar menangis. Tak rela musuh besarnya pergi meninggalkannya. Siapa yang akan diajaknya berkelahi lagi? Ditinggal lulus sekolah saja, hati Jingga sedih minta ampun, apalagi ditinggal pergi ke tempat yang jauh dalam kurun waktu yang tak tentu?
Saat Rama memasuki usia remaja, ia sering bertukar kabar dengan Azka melalui surat. Bercerita tentang kehidupan barunya di Pulau Dewata, kecintaannya pada melukis, dan bosan melihat bule. Rama juga sering bertanya bagaimana perkembangan Jingga. Ia bilang pada Azka kalau di tempat barunya kini, tidak ada wanita menyebalkan macam Anggun yang bisa digodanya, diajak berkelahi, dan membuatnya menangis tersedu-sedu. Azka tertawa membaca surat Rama. Ia pun segera membalas surat Rama yang baru akan tiba di tempat tujuan selama berminggu-minggu. Maklum, zaman dulu kemajuan teknologi belum secanggih sekarang. Dalam surat Azka, ia hanya bercerita sekadarnya tentang Anggun, pun tak pernah sekalipun menyampaikan ucapan rindu dan salam Rama untuk Anggun.
“Aku mengerti perasaanmu, Sob. Temuilah dia untuk yang terakhir kalinya sebelum ia menikah. Dan aku mohon jangan membikin ulah,” Azka menepuk pundak Rama.
Rama tak menjawab. Ia menepis tangan Azka dan langsung bergegas pergi meninggalkannya seorang diri di lorong rumah sakit. Ia bahkan tak pamitan terlebih dulu pada ibunya. Ia juga tak peduli dengan penyakit ayahnya. Sejauh ini ayahnya hanya ingin dihormati tanpa mau menghargai perasaannya. Seorang anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Rama sudah dewasa, ia bukan anak kecil yang bisa diatur-atur lagi.
Kalau memang menurutmu takdir ini begitu kejam, harusnya dia tidak perlu dipertemukan dengan Jingga. Tuhan tidak perlu ikut campur dan membubuhkan perasaannya pada gadis bunglon itu. Hatinya benar-benar perih. Tapi ingat ya, kita hanya dalang, tak boleh menawar peran.
Mendengar kabar mengejutkan tentang Jingga yang akan menikah empat hari lagi, Rama berlari menuju lift, berlari lagi menuju parkiran mobil. Dan bergegas menuju Pelabuhan Gili Manuk menggunakan kendaraan roda empatnya.
Puing 16 #Jingga #NovelSeries
Gerombolan awan yang bagai kapas putih mengapung di birunya langit, membuat si pemilik mata sayu itu enggan berkedip. Deru mesin memekakan telinga, satu dua penumpang menyumpal kupingnya menggunakan handsfree yang telah disediakan oleh pihak maskapai agar tidak terlalu bising. Sebagian membaca koran ataupun majalah, dan sebagian lagi menonton film kegemaran mereka di layar tablet yang tertempel di punggung jok.
Sejak duduk di kursi empuk kelas eksekutif itu, Jingga betah berlama-lama menopang dagu memandang ke luar jendela. Ia selalu takjub menyaksikan sayap pesawat meliuk anggun membelah angkasa. Hamparan putih sejauh mata memandang, sesekali terlihat pegunungan yang menyembul gagah di antara awan-awan itu, ada pula perkotaan yang berjejer bagai kotak dan persegi panjang, serta birunya laut yang luas, kemudian tertutup awan lagi.
Disaat sedang asyik menikmati panorama dari ketinggian, tubuh Jingga terasa tidak nyaman. Sayap pesawat yang berada tepat di sampingnya miring. Tubuhnya pun ikut miring. Tak lama sayap pesawat lurus kembali lalu miring lagi. Namun kali ini condong ke bawah cukup lama. Tubuh Jingga seolah bagai dipermainkan. Seperti hati dan cintanya yang terus bermain-main, tak tahu kapan akan berhenti.
Para penumpang panik. Begitu pun dengan Jingga yang berpegangan kuat pada pegangan kursi. Di bawah jendela terlihat jelas luasnya hamparan laut yang bagai kolam renang tanpa tepi. Nyali gadis yang mengenakan syal tipis polos berwarna putih itu menciut. Meski ini bukan pertama kalinya ia menaiki transportasi udara, ia panik bukan main. Dalam waktu sepuluh menit, guncangan pesawat semakin tak berarturan. Ia mendadak teringat tentang kecelakaan besar yang disiarkan televisi beberapa minggu lalu di laut Kalimantan. Jingga bersiap mengenakan pelampung yang tersimpan di bawah kursi dekat kakinya. Rasanya ia sudah pasrah apapapun yang akan terjadi beberapa detik kemudian.
Selama setengah jam, pesawat masih oleng, meliuk-liuk ke kiri, kanan, bawah, dan atas. Jingga sempat mengelus dada kala pesawat kembali naik ke atas, tapi tak lama memutar haluan dan miring lagi ke bawah. Ia merasa seperti berada dalam wahana dunia fantasi yang menguji jantungnya berulang-ulang. Tangisan bayi yang memecah kepanikan, membuat suasana bertambah tegang. Jelas ini bukan permainan biasa yang dinaikinya bersama Livi dan sahabat semasa kuliahnya di Dufan dulu.
Jingga mengelus dada lega saat mengetahui roda pesawat mulai menyentuh aspal. Dentuman keras yang mengagetkannya cukup menenangkan jantungnya yang berjuang habis-habisan menahan agar tidak copot di tempat. Setelah semua roda berhasil menapak di daratan, laju pesawat bukannya pelan, tapi justru sangat cepat. Jingga cemas jika remnya blong dan menabrak bandara di hadapannya. Tapi beruntung saja sang pilot piawai mengatasinya. Atau barangkali Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan nasib malang si gadis sendu yang duduk di kursi deretan jendela persis samping sayap pesawat. Pihak maskapai penerbangan meminta maaf melalui pengeras suara karena telah terjadi kesalahan teknis dalam proses landing barusan. Jingga menghela napas lega bisa memijakkan kakinya menuruni anak tangga. Kepanikannya sudah berakhir.
Jingga berjalan menarik kopernya menuju lobby. Otaknya penuh dengan bayang-bayang sang pekerjaan, Pak Steven, ibunda, Ninda, Dika, Heri, Livi, Juna, Pak Eki, ayah yang entah sekarang di mana, dan yang paling utama ialah Rama, laki-laki yang masih menjuarai pikirannya selama ini. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan memandang sudut bandara yang terlihat rapi dan sunyi. Mungin di sinilah tempat yang tepat untuk menjadi rehabilitasinya sementara waktu dari segala rutinitas yang membosankan, dan duka hatinya yang tak pernah toleran. Ia tidak ingin terus-terusan berkabung, apalagi terbelenggu pada masalahnya yang pelik itu.
Sebulan terakhir sejak membatalkan menikah dengan Heri, Jingga memaparkan duka hati pada sahabat dekatnya yang kini bertugas di Pulau Lombok melalui perantara media sosial. Jingga keluar lobby dan merasakan semilir angin di bulan Agustus menyambut kedatangannya di Bandara Praya. Kabar meteologi mengatakan bulan ini angin barat sedang kencang-kencangnya. Para nelayan dan turis yang hendak melaut maupun menyeberangi pulau harus menurut jika ingin nyawanya selamat. Sahabatnya bilang, belum lama ada perahu pecah dan hancur tersapu ombak di laut menuju Gili Trawangan. Dan barangkali perasaannya pun seperti kapal yang pecah dan hancur terhantam ombak menjadi serpihan tak berbentuk.
Namun Jingga tak menyoalkan angin dari barat yang diceritakan oleh sahabatnya - Azka. Ia kemari ingin menentramkan hatinya sekaligus mengunjungi teman masa kecilnya yang sudah 13 tahun hanya berbicara lewat surat, email, chatting, dan media sosial lainnya. Bila berkomununikasi dengan laki-laki itu, ia sering dikomentari karena tak pernah merubah foto akun chattingnya setahun penuh. Meskipun begitu, Jingga tetap saja tak mau mengganti foto profilnya. Untuk apa? Tidak ada yang naksir juga, katanya sembari tertawa.
Selama pindah ke Pulau Nusa Tenggara Barat, Azka bercita-cita menjadi aparatur Negara yang bersih dan berguna bagi nusa dan bangsa. Jingga sempat menggeleng-gelengkan kepala salut karena sahabat yang sudah bagai kakaknya itu berhasil menggapai mimpinya. Saat Azka bilang punya waktu senggang, Jingga teramat antusias menemuinya, berbincang sambil menyaksikan matahari tenggelam, mendahului sang surya memancarkan sinar hangatnya sambil mengusir pilu hatinya.
Setelah mengenang sosok Azka, Jingga melihat namanya tertulis di kertas HVS dengan huruf kapital ekstra besar. Tak pelak lagi, pria bertopi dan bertubuh tegap tinggi yang berdiri di tengah kerumunan dan sedang melambaikan tangan, adalah makhluk bernama Azka. Jingga tersenyum ke arah lelaki itu, dan mengambil kertas bertuliskan namanya.
“Ah ya, aku tahu ini kau. Syukurlah kau datang. Aku sudah kesemutan berdiri dua jam,” Pria itu melepas topinya dan memasangkannya ke kepala Jingga. “Delay kah pesawatnya?” Ia mengambil alih menarik koper Jingga tanpa diminta.
Jingga hanya menggeleng. Ia tidak berselera bercerita. Kejadian di pesawat barusan membuat detak jantungnya kembali tak beraturan. Ia masih jetlag mengingat peristiwa sepuluh menit lalu. Dalam benaknya berpikir, mengapa laki-laki ini tidak menanyakan kabarnya? Kenapa mesti bertanya tentang keterlambatannya? Jingga mengumpat kesal.
“Katanya tentara, masa baru berdiri dua jam saja sudah kesemutan.” Jingga mencibir Azka. Mengikuti langkah sahabatnya menuju parkiran mobil.
“Tentara juga manusia, kan? Wajar kalau aku kesemutan dan nyaris pingsan. Eh, tapi ngomong-ngomong, aku masih setampan dulu kan? Ngaku saja deh. Kau jangan menghina-menghibur,” tawa Azka renyah mendayu-dayu. Membuat Jingga ikut tertawa. Pria ini selalu membuatnya sakit perut karena leluconnya yang sok lucu.
“Iya, aku harus mengakui kalau kau tidak pernah tampan sejak zaman dahulu kala, bahkan sebelum abad masehi,” ledek Jingga asal. Tubuh Azka yang teramat tinggi, membuat Jingga terkadang menengadah memperhatikan ekspresi wajah Azka yang sekarang terlihat gelap gulita karena kebanyakan dijemur macam ikan asin. Jingga berusaha menahan tawa.
Azka menyipitkan mata, berhenti sejenak, “Dan kau masih Anggun sejak zaman purbakala.”
“Tentu saja aku masih Anggun. Aku belum sempat mengganti namaku menjadi ‘Jelita’. Ya, maklumlah, aku terlalu sibuk. Akan merepotkan sekali membuat tumpeng dan mengundang seluruh lapisan kerabat, bukan?” Jingga mengangkat bahu, menonjok lengan Azka yang berotot. Tertawa. Tawa lepas yang pernah keluar dari mulutnya setelah ditinggal menikah oleh Rama.
Azka pura-pura kesakitan, mengucek matanya seakan anak kecil yang menangis minta dibelikan gulali seloyang. Meski baru pertama bertemu setelah belasan tahun terpisah jarak dan waktu, keakraban mereka masih sama seperti 13 tahun silam. Dimana saat itu Jingga masih duduk di bangku kelas satu SMA, dan Azka kelas 3 SMA. Dulu ketika masih sama-sama sekolah di Bandung, banyak tetangga maupun teman sekolah yang mengira mereka menjalin hubungan istimewa lantaran sering mendapati berduaan kemanapun laiknya sepasang kekasih.
Bagi Jingga, Azka adalah sahabat laki-laki terbaik seantera raya yang ia punya. Laki-laki itu pernah melindungi dirinya dari preman saat hendak menuju balai desa untuk mewakili siswa-siswi lain dalam pentas seni. Berkat Azka pula, nilai pelajaran gambar poster dan seni lukisnya selamat di raport. Jingga benci sekali pelajaran menggambar dan melukis. Seperti yang ia bahas dengan Rama di restaurant cepat saji di Gedung Sarinah beberapa bulan yang lalu. Seandainya saja ia bisa memutar waktu untuk mengenang obrolan singkat itu. Sayangnya Jingga hanya bisa mengenang dan mengenang kejadian yang sudah lewat meski sama sekali tak menginginkan bayangan lama terus berputar di otaknya.
Sepanjang berjalan menuju parkiran, Azka yang terpaut usia dua tahun dengan Jingga, banyak berceloteh kenangan masa nakal mereka sewaktu kecil. Namun gadis itu menekukkan wajahnya mengingat usia Azka sama persis dengan usia Rama. Bagaimanakah kabar Rama saat ini? Sedang apakah dia? Apakah dia pernah merindukannya sekali saja? Apakah Rama bahagia dengan Kilka? Apakah Rama sudah melupakannya? Hati Jingga bertanya-tanya. Ucapan yang terlontar dari mulut Azka hanya dijawabnya dengan ratapan kosong dan senyuman hambar.
Karena berteman sedari kecil, Azka mengenal seluruh perangai Jingga, baik kelemahannya maupun kelebihannya. Ia dapat membaca raut wajah Jingga yang berubah. Namun ia tetap berceloteh agar Jingga berhenti melamun. Waktu sekolah dasar, mereka selalu bermain bersama di kebun dan ladang milik petani untuk menangkap capung dan belalang, berkejaran di pekarangan milik warga desa sebelah, bermain kasti, kelereng, berenang di sungai, dan tak lupa berkejaran di bawah hujan. Semuanya menyenangkan. Masa kanak-kanak itu tak sedikitpun menghilang dari benaknya.
“Kalau tidak salah, kita sudah terpisah seratus abad ya, Nggun.” Azka memamerkan deretan gigi putihnya seraya menepuk lengan Jingga. Jingga terperanjat kaget dan tersadar telah mencuekkan Azka gara-gara sibuk oleh pikirannya sendiri.
“Eh, seratus abad? Kupikir sudah ribuan abad, dan kita sudah melewati satu lingkar nasi. Canggih sekali. Ckckck…” ucap Jingga mencoba tertawa. Tawa yang amat tawar.
Azka membuka bagasi mobil, memasukkan koper Jingga ke dalam sana. Sembari mengeluarkan mobilnya menuju jalan raya, Azka terus mengulas masa kecil mereka. Karena itulah harta terindah yang mereka punya. “Dan kau selalu ingin dibilang juara satu meski kalah telak oleh aku dan Dewa di Sungai Ciliwung, bukan?”
Jingga menekukkan wajahnya tidak suka. Ya memang, pada saat belum puber, mereka sering bermain di sungai untuk balapan renang hingga jembatan. Kadang Azka yang juara, kadangpula Dewa. Dan Jingga tak pernah sekalipun menang karena dua temannya laki-laki yang beringas. Mendengar nama Dewa, ia terbayang ke puluhan tahun silam. Anak kecil bertubuh bongsor itu gemar sekali membuatnya berkelahi semasa sekolah dasar dulu. Jingga dan Dewa sering disidang guru, dan Dewa lah yang selalu disalahkan. “Dasar perempuan!” Maki Dewa kesal karena perempuan selalu saja dibela.
“Sampai detik ini, aku masih benci pada Dewa. Syukurlah dia ditelan bumi. Kalau tidak, aku pasti akan membalaskan dendam kesumat padanya,” Jingga tertawa. Kali ini tawanya sedikit lepas dari sebelumnya.
“Aku juga bersyukur dia meninggalkan kita di usia yang masih sangat kecil. Dengan begitu, aku tidak akan repot memisahkan pertengkaran kalian yang mirip sekali dengan film kartun asal Amerika itu. Gawat kan jika pertengkaran kalian sampai usia dewasa dan masing-masing punya pasangan? Mungkin lebih spektakuler dari cerita perang dunia ke-2.” Azka menepuk jidat, terkekeh.
“Apakah kau tahu kabarnya?” tanya Jingga serius.
“Sebelum dia menikah. Tapi aku tak sempat datang ke pesta pernikahannya lantaran ada tugas dadakan dari dinas kota. Ah, si biang kacau itu rupanya menyaingi keahlian lukisku. Sayang, aku kurang tenar dan hanya bisa melukis di kertas gambar, membantu tugas sekolahmu dulu,” Azka mengedipkan matanya pada Jingga. Yang langsung dicibir Jingga sambil tertawa.
“Oh ya? Andai saja dia tetap tinggal di kota kembang, pasti aku akan mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan gambar hasil lukisanmu. Tapi kenapa kau tidak membahas Dewa di chatting? Aku kan bisa menuntaskan perkelahianku di media sosial,” Jingga meleletkan lidahnya, meledek Azka yang terlihat sebal.
“Nah, itu dia. Aku sengaja tidak memberitahumu karena pasti akan runyam urusannya. Biarlah, nanti kalianpun akan bertemu.”
Jingga melipat alis, tidak mengerti. “Bagaimana kau bisa bertemu Dewa?”
Bagaimana bertemu Dewa? Kali ini dahi Azka yang terlipat. Sejak orangtua Dewa memindahkan sekolahnya ke pulau seberang pada lulusan sekolah dasar, setahun sekali mereka selalu saling mengirim kabar. Kalau dipikir-pikir aneh juga dua sahabat laki-laki aktif berkirim surat. Namun itulah yang terjadi. Di surat itu, Dewa bilang rindu menjahili Anggun, rindu bertengkar dan berkelahi dengannya. Tapi Azka tidak pernah menyampaikannya pada Jingga. Azka tahu, senakal-nakalnya perangai anak laki-laki pada teman perempuannya, pastilah ia hanya iseng semata. Dan kemudian ada perasaan rindu karena tak bisa lagi bertatap muka.
“Waktu itu kebetulan aku sedang dinas di Bali selama seminggu, menyelesaikan misi detektif teroris yang berkeliaran di sana. Aku sempat menginap di rumahnya, juga di rumah sakit selama seminggu. Ayahnya sakit keras. Tapi yang membuatku senang, mereka bilang aku masih seganteng dulu.”
“Kau ini memang selalu memaksakan diri untuk dibilang tampan. Iya, tampan di dunia orang utan. Dewa sudah menikah? Ah, aku terlambat.” Wajah Jingga seperti menyesal.
Azka mengangkat bahu, tidak paham. “Maksudmu terlambat?”
“Aku terlambat menemui Dewa. Laki-laki itu pasti sudah kucincang habis-habisan di depan istrinya karena urusanku dengan dia belum selesai. Dia selalu membuatku kesal. Tapi aku tak mungkin menemuinya. Nanti istrinya cemburu buta padaku. Mengira aku mantan kekasihnya, padahal jelas-jelas bukan, kan?”
“Ya, dan kalau sampai pertemuan itu terjadi, akan ada perang dunia ke-100. Aku pasti akan sangat repot mendamaikan kalian. Mungkin pertengakaran kalian lebih fenomenal dari urusan teroris.” Azka memukul-mukul setir, tertawa.
“Sudahlah, aku hanya bergurau,” potong Jingga mengalihkan pembicaraan. “Aku juga tidak serius mengatakan ini.” Jingga tersenyum tipis. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan sosok sahabat kecilnya yang kini sudah dewasa. Membayangkan wajah Dewa membuatnya tak sadar tertawa kecil, pria menyebalkan itu pastilah berambut gondrong, berkulit kumal, dan jelek macam tidak mandi sebulan. Tapi keingintahuannya serasa terbatas, lantaran Dewa sudah berkeluarga. Pantang baginya untuk berhubungan dengan laki-laki yang sudah menikah, walaupun sebatas sahabat.
Tempo hari, Jingga sering mendapat perlakuan senonoh dari para istri sahabat prianya yang menyangka dirinya adalah kekasih simpanan suami mereka. Ia bergidik mengingat kejadian menggelikan itu. Dan jangan sampai terulang lagi.
***
Hijau pepohonan yang dibalut birunya langit, dengan sedikit titik-titik awan putih, terpampang indah dari bingkai mobil. Deru mesin yang lembut dan halus, sesekali ia bisa mendengar kicauan burung. Bunyinya yang jernih seakan-akan menyebar ke segala penjuru, membuat perasaan damai. Kanan dan kiri jalan terdapat monyet-monyet yang melompat lincah, ada yang duduk melamun, ada juga yang berbincang dengan teman-temannya sesama orang utan. Jingga tersenyum memperhatikan pemandangan safari natural ini, kadang iseng meledek Azka sebagai tetua orang utan itu. Azka malah memanggil sahabatnya yang berjejer sepanjang jalan Pusuk Pas yang sepi lalu-lintas. Tertawa.
Tebing tinggi nan hijau serta tepian pantai yang eksotis, membuat Jingga melongokan wajahnya keluar jendela mobil, sesekali memejamkan mata untuk mengirup udara segar, lalu tersenyum lagi. Tidak salah Azka membawanya ke mari. Ia benar-benar sedikit tenang menikmati jalanan berkelok serba hijau ini.
Tapi tiba-tiba hatinya melipir pada sosok Dewa. Kenapa kisah sahabat nakal masa kecilnya yang sedang dikisahkan Azka nyaris sama dengan jalan cerita mantan kekasihnya, Rama? Dewa pelukis? Tinggal di Bali? Sudah menikah? Ayahnya sakit? Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi hatinya melarang. Azka tak perlu tahu semua ini. Semuanya sudah berakhir. Semuanya harus dilupakan. Tak ada yang perlu dibahas lagi. Pemandangan yang indah laksana poster alami, tak mampu mengalihkan pikiran Jingga tentang pemuda yang sudah membuat hatinya menangis siang malam selama berbulan-bulan hingga air matanya kering.
“Ada apa, Nggun? Kenapa mendadak diam?” Azka menyikut tangan kanan Jingga.
Jingga terperangah kaget, “Eh, tidak apa-apa, Ka.”
“Lantas kau mau bermalam di mana?”
“Antarkan aku ke Pantai Senggigi. Kau bilang pantai itu cukup menggugah rasa untuk menikmati matahari tenggelam, bukan? Aku ingin minum kelapa muda, maukah kau menemani?” Jingga mencoba ceria.
Azka tahu betul tabiat Jingga saat wanita malang itu menyembunyikan kesedihan di matanya yang berkaca-kaca. Ia bisa menebak, pastilah sahabat kecilnya yang kini menjadi dewasa, menyembunyikan sesuatu tentang penderitaan hatinya. Namun sekali lagi, Azka tahu kalau Jingga tidak suka ditanya perihal masalah pribadinya. Lambat laun, ia pasti akan tahu sendiri kenapa teman kecilnya ini menyepi ke pulau yang sunyi dari hiruk-pikuk kota metropolitan. Walaupun sebenarnya ia sudah tahu.
“Tapi sebelum kuantar ke Senggigi, kau harus bertemu dengan kedua orangtuaku di Mataram. Mereka sangat merindukanmu. Semenjak kau meneleponku tiga hari lalu, ibu sibuk sekali menyiapkan makanan khas kota kami; ayam taliwang, pelecing kangkung, sate bulayak, serta masih banyak lagi yang lainnya. Tak lupa kopi hitam yang sering kau minta kirimkan ke Jakarta. Ah, pasti kau menyukainya, Anggun. Dan kau harus menghabiskan semuanya.”
Jingga tertawa mendengar Azka bercerita tentang ibunya. “Beres! Kau jangan khawatir, aku pasti akan menghabiskannya.”
“Aku baru tahu kalau perempuan satu ini pemakan segala. Piring dan gelasnya pun siap dihabiskan, Nona? Hebat!” Azka mengangguk-anggukan kepalanya, mengernyitkan dahi.
Jingga mencubit lengan Azka dan melotot sebal, “Aku bukan kuda lumping, Azka…………….”
Tak disangka, Azka berhasil membuang sedikit demi sedikit kesedihan di mata Jingga. Ia tidak tega membiarkan gadis kecilnya yang kini tumbuh dewasa, larut dalam kesedihan tak berujung. Berada dengan Jingga, ia seperti mempunyai adik perempuan yang lama hilang. Azka merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yang keseluruhannya laki-laki. Azka rindu berperan sebagai kakak Jingga.
“Kau hendak membawaku kemana, Azka?” Jingga memperbaiki duduknya.
“Sudahlah, kau menurut saja. Aku yakin, kau pasti tidak mau pulang dari sini. Jujurlah, pulau ini elok sekali bukan?”
Jingga mengangguk. “Ya, harus kuakui, aku menyukai tanah kelahiran ibumu. Dan kau harus bertanggung jawab kalau aku benar-benar tidak ingin pulang dari sini.”
“Aku khawatir kau tidak mau pulang.” Azka nyengir, memperbaiki posisi duduknya.
“Maksudmu?” Jingga melipat alis.
“Percayalah ungkapan ini: Jangan ke Lombok, nanti tidak mau pulang.”
Azka tertawa. Jingga pun tertawa. Kali ini tawanya sedikit lepas. Ternyata Azka tidak langsung membawa Jingga ke Mataram, melainkan memutar setirnya menuju pantai Seger, sekitar tiga kilometer dari pantai Kuta. Pria berambut plontos dan tinggi itu menuntun Jingga menaiki bukit.
Angin dari barat berhembus kencang, membuat rambut dan syal Jingga berkibar. Gadis itu memandang ke sekitar dan melihat putihnya gulungan ombak melukis tepian laut dan menghantam karang. Dari atas bukit, ia bisa mengamati semua sudut bibir Pantai Kuta yang melengkung aduhai. Warna putih, hijau, dan biru, menyatu dalam kacamatanya yang telanjang. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan laut biru dan bukit-bukit yang sungguh menawan.
Luasnya lautan terhampar di semua sisi. Panorama karang besar yang menyembul di tengah laut, serta beningnya air, membuat Jingga terpukau. Ia memutar badan, memperhatikan keindahan surga dunia yang mengitari pijakan kakinya saat ini. Udara di pantai ini tidak panas laiknya pantai kebanyakan. Jingga mendadak ingin menetap di pulau itu. Rambut panjangnya yang tergerai, acak-acakan dan kusut tertiup angin. Pekerjaan barunya kini yakni mengatur helai demi helai rambutnya agar diam. Azka tertawa melihat tingkah Jingga yang serba salah.
“Tak perlu melawan angin, Anggun! Hidup ini memang banyak aturan. Kau tidak harus menghukum dirimu dengan semua rasa sedih dan benci. Terimalah... Kau harus ikhlas menjalani roda kehidupanmu yang terus berjalan. Sebelum roda itu benar-benar berhenti, setidaknya kau pernah melewati terjal landainya kehidupan,” teriak Azka mencoba merambatkan suaranya yang terhalang oleh desau angin.
Jingga menoleh. Ia paham kalau Azka membaca isi hatinya yang rapuh. Ia duduk di batu besar menghadap lautan lepas, bersenandung dalam lara. Gulungan ombak dengan sadisnya menabrak karang. Menimbulkan bunyi bergemuruh. Satu-dua burung melintas di atas gulungan ombak, menari menggunakan kepakan sayap yang membuat Jingga iri.
“Azkaaaa… kemarilah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” Jingga mengeraskan pita suaranya agar sahabat masa kecilnya yang berdiri sepuluh meter darinya mendengar.
Azka mendekat. Berdiri di samping Jingga yang masih sibuk menata rambutnya.
“Aku sudah memutuskan, kalau aku tidak akan menikah sampai akhir hayat. Aku akan menjadi gadis single selamanya hingga tanah memakan daging dan tulang belulangku. Ada banyak manusia yang beruntung di muka bumi ini, tapi itu bukan aku. Mereka menemukan cinta sejati tanpa meminta dan mengemis, punya keluarga yang harmonis. Sedangkan aku? Kau tahu, aku hanyalah anak didikan ibu. Ayahku entah berada di mana. Kalau kau bukan sahabat dekatku, bisa saja aku menyamakanmu dengan ayahku, dengan pria-pria yang melukai hatiku.”
Azka tidak berkomentar. Ia membiarkan Jingga berucap aneh macam orang tidak waras. Hatinya pasti benar-benar kacau-balau. Masalah yang dialami gadis itu sangat kompleks. Untuk mengurainya satu per satu, ia perlu sedikit bersabar. Jingga adalah gadis istimewa, gadis spesial yang sedang patah hati bertubi-tubi. Dengan mengeluarkan semua unek-uneknya, ia berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang dan berpikir rasional.
Jingga bangkit dari batu besar, meraih beberapa kerikil di dekat kakinya, kemudian melemparkannya ke laut. “Kenapa hidupku menyedihkan? Apakah aku ditakdirkan untuk merana? Kenapa aku tak pantas merayakan kebahagiaan yang sempurna seperti manusia lainnya? Apa aku tidak sempurna? Tidak layak bahagia?” Gadis malang itu tersungkur memeluk lutut. Air matanya yang kering, kini kembali basah. Perlahan tetesannya jatuh ke tanah.
Kadangkala dalam hidup ini, masalah demi masalah datang silih berganti. Namun Jingga mengalaminya secara simultan. Ayahnya hingga kini tidak tahu ada di mana, hubungannya dengan ibunda merenggang karena ia mengagalkan rencanana pernikahannya bersama Heri, asisten direksi sekaligus atasan kerjanya. Bagaimana pula ia menjalani hari-harinya dalam keadaan rumit seperti itu. Semua karyawan sudah menerima undangan, saudara-saudaranya, sahabat dekat maupun jauh, teman sekolah dan kuliah, handai-taulan sudah sibuk menyiapkan baju paling pantas menghadiri pesta, bilang selamat akhirnya menikah juga. Mau dikemanakan mukanya? Jingga benar-benar malu dan miris dengan kisah hidupnya yang bagai sandiwara.
Ia ingin pindah kerja, namun Livi melarangnya, bilang dia harus profesional. Setiap kali lewat anak buahnya, bisik-bisik prihatin dan pandangan mata iba, membuat hatinya makin terluka. Di hatinya selalu terbesit nama Rama sang kekasih hati. Dan laki-laki itu telah menikah dengan wanita lain. Jingga tidak kuasa menahan pilu hatinya. Ia ingin mati saja.
**
Ini adalah malam ketiga Rama melewati jalanan Pantura. Sudah tak terhitung berapa kali ia mampir ke pombensin guna mengisi ulang bahan bakar mobilnya yang habis guna meneruskan perjalanannya menuju ibukota. Sehari keberangkatannya meninggalkan kota Denpasar, ia terjebak di hutan yang sepi di Banyuwangi. Ban mobil belakangnya pecah. Ia juga sempat menabrak truk yang terparkir di sisi kiri jalan lantaran terlalu banyak melamun dan tidak konsentrasi menyetir. Alhasil ia dilarikan diri ke puskesmas terdekat oleh saksi mata agar dahinya yang berdarah terbentur setir, casing mobil depannya sudah tak berbentuk, sama dengan hatinya yang benar-benar remuk dan berkecamuk.
Bagaimanapun juga, ia harus menemui Jingga sebelum pernikahan itu berlangsung. Meski dadanya sesak dan panas, ia harus berani memandang sayu mata Jingga dan sendu wajah gadis itu. Ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan perempuan bunglonnya. Namun otaknya seakan kaset rusak yang terus memutar semua kisah tentang Jingga, yang membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain dia.
Sebenarnya, pemuda berhidung mancung dan berkumis tipis itu bisa saja menaiki pesawat menuju ibu kota. Tapi saat mendengar kabar buruk tentang pernikahan Jingga yang tinggal seminggu lagi, ia tak bisa berpikir jernih. Rama langsung menyambar kunci mobil Fortunernya dan mengegas dengan kecepatan maksimal menuju pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberangi Pelabuhan Ketapang. Ia bahkan lupa membawa baju ganti untuk salin. Dalam hatinya berdoa, semoga ia tidak terlambat melihat wajah anggun itu untuk terakhir kalinya.
Sejak duduk di kursi empuk kelas eksekutif itu, Jingga betah berlama-lama menopang dagu memandang ke luar jendela. Ia selalu takjub menyaksikan sayap pesawat meliuk anggun membelah angkasa. Hamparan putih sejauh mata memandang, sesekali terlihat pegunungan yang menyembul gagah di antara awan-awan itu, ada pula perkotaan yang berjejer bagai kotak dan persegi panjang, serta birunya laut yang luas, kemudian tertutup awan lagi.
Disaat sedang asyik menikmati panorama dari ketinggian, tubuh Jingga terasa tidak nyaman. Sayap pesawat yang berada tepat di sampingnya miring. Tubuhnya pun ikut miring. Tak lama sayap pesawat lurus kembali lalu miring lagi. Namun kali ini condong ke bawah cukup lama. Tubuh Jingga seolah bagai dipermainkan. Seperti hati dan cintanya yang terus bermain-main, tak tahu kapan akan berhenti.
Para penumpang panik. Begitu pun dengan Jingga yang berpegangan kuat pada pegangan kursi. Di bawah jendela terlihat jelas luasnya hamparan laut yang bagai kolam renang tanpa tepi. Nyali gadis yang mengenakan syal tipis polos berwarna putih itu menciut. Meski ini bukan pertama kalinya ia menaiki transportasi udara, ia panik bukan main. Dalam waktu sepuluh menit, guncangan pesawat semakin tak berarturan. Ia mendadak teringat tentang kecelakaan besar yang disiarkan televisi beberapa minggu lalu di laut Kalimantan. Jingga bersiap mengenakan pelampung yang tersimpan di bawah kursi dekat kakinya. Rasanya ia sudah pasrah apapapun yang akan terjadi beberapa detik kemudian.
Selama setengah jam, pesawat masih oleng, meliuk-liuk ke kiri, kanan, bawah, dan atas. Jingga sempat mengelus dada kala pesawat kembali naik ke atas, tapi tak lama memutar haluan dan miring lagi ke bawah. Ia merasa seperti berada dalam wahana dunia fantasi yang menguji jantungnya berulang-ulang. Tangisan bayi yang memecah kepanikan, membuat suasana bertambah tegang. Jelas ini bukan permainan biasa yang dinaikinya bersama Livi dan sahabat semasa kuliahnya di Dufan dulu.
Jingga mengelus dada lega saat mengetahui roda pesawat mulai menyentuh aspal. Dentuman keras yang mengagetkannya cukup menenangkan jantungnya yang berjuang habis-habisan menahan agar tidak copot di tempat. Setelah semua roda berhasil menapak di daratan, laju pesawat bukannya pelan, tapi justru sangat cepat. Jingga cemas jika remnya blong dan menabrak bandara di hadapannya. Tapi beruntung saja sang pilot piawai mengatasinya. Atau barangkali Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan nasib malang si gadis sendu yang duduk di kursi deretan jendela persis samping sayap pesawat. Pihak maskapai penerbangan meminta maaf melalui pengeras suara karena telah terjadi kesalahan teknis dalam proses landing barusan. Jingga menghela napas lega bisa memijakkan kakinya menuruni anak tangga. Kepanikannya sudah berakhir.
Jingga berjalan menarik kopernya menuju lobby. Otaknya penuh dengan bayang-bayang sang pekerjaan, Pak Steven, ibunda, Ninda, Dika, Heri, Livi, Juna, Pak Eki, ayah yang entah sekarang di mana, dan yang paling utama ialah Rama, laki-laki yang masih menjuarai pikirannya selama ini. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan memandang sudut bandara yang terlihat rapi dan sunyi. Mungin di sinilah tempat yang tepat untuk menjadi rehabilitasinya sementara waktu dari segala rutinitas yang membosankan, dan duka hatinya yang tak pernah toleran. Ia tidak ingin terus-terusan berkabung, apalagi terbelenggu pada masalahnya yang pelik itu.
Sebulan terakhir sejak membatalkan menikah dengan Heri, Jingga memaparkan duka hati pada sahabat dekatnya yang kini bertugas di Pulau Lombok melalui perantara media sosial. Jingga keluar lobby dan merasakan semilir angin di bulan Agustus menyambut kedatangannya di Bandara Praya. Kabar meteologi mengatakan bulan ini angin barat sedang kencang-kencangnya. Para nelayan dan turis yang hendak melaut maupun menyeberangi pulau harus menurut jika ingin nyawanya selamat. Sahabatnya bilang, belum lama ada perahu pecah dan hancur tersapu ombak di laut menuju Gili Trawangan. Dan barangkali perasaannya pun seperti kapal yang pecah dan hancur terhantam ombak menjadi serpihan tak berbentuk.
Namun Jingga tak menyoalkan angin dari barat yang diceritakan oleh sahabatnya - Azka. Ia kemari ingin menentramkan hatinya sekaligus mengunjungi teman masa kecilnya yang sudah 13 tahun hanya berbicara lewat surat, email, chatting, dan media sosial lainnya. Bila berkomununikasi dengan laki-laki itu, ia sering dikomentari karena tak pernah merubah foto akun chattingnya setahun penuh. Meskipun begitu, Jingga tetap saja tak mau mengganti foto profilnya. Untuk apa? Tidak ada yang naksir juga, katanya sembari tertawa.
Selama pindah ke Pulau Nusa Tenggara Barat, Azka bercita-cita menjadi aparatur Negara yang bersih dan berguna bagi nusa dan bangsa. Jingga sempat menggeleng-gelengkan kepala salut karena sahabat yang sudah bagai kakaknya itu berhasil menggapai mimpinya. Saat Azka bilang punya waktu senggang, Jingga teramat antusias menemuinya, berbincang sambil menyaksikan matahari tenggelam, mendahului sang surya memancarkan sinar hangatnya sambil mengusir pilu hatinya.
Setelah mengenang sosok Azka, Jingga melihat namanya tertulis di kertas HVS dengan huruf kapital ekstra besar. Tak pelak lagi, pria bertopi dan bertubuh tegap tinggi yang berdiri di tengah kerumunan dan sedang melambaikan tangan, adalah makhluk bernama Azka. Jingga tersenyum ke arah lelaki itu, dan mengambil kertas bertuliskan namanya.
“Ah ya, aku tahu ini kau. Syukurlah kau datang. Aku sudah kesemutan berdiri dua jam,” Pria itu melepas topinya dan memasangkannya ke kepala Jingga. “Delay kah pesawatnya?” Ia mengambil alih menarik koper Jingga tanpa diminta.
Jingga hanya menggeleng. Ia tidak berselera bercerita. Kejadian di pesawat barusan membuat detak jantungnya kembali tak beraturan. Ia masih jetlag mengingat peristiwa sepuluh menit lalu. Dalam benaknya berpikir, mengapa laki-laki ini tidak menanyakan kabarnya? Kenapa mesti bertanya tentang keterlambatannya? Jingga mengumpat kesal.
“Katanya tentara, masa baru berdiri dua jam saja sudah kesemutan.” Jingga mencibir Azka. Mengikuti langkah sahabatnya menuju parkiran mobil.
“Tentara juga manusia, kan? Wajar kalau aku kesemutan dan nyaris pingsan. Eh, tapi ngomong-ngomong, aku masih setampan dulu kan? Ngaku saja deh. Kau jangan menghina-menghibur,” tawa Azka renyah mendayu-dayu. Membuat Jingga ikut tertawa. Pria ini selalu membuatnya sakit perut karena leluconnya yang sok lucu.
“Iya, aku harus mengakui kalau kau tidak pernah tampan sejak zaman dahulu kala, bahkan sebelum abad masehi,” ledek Jingga asal. Tubuh Azka yang teramat tinggi, membuat Jingga terkadang menengadah memperhatikan ekspresi wajah Azka yang sekarang terlihat gelap gulita karena kebanyakan dijemur macam ikan asin. Jingga berusaha menahan tawa.
Azka menyipitkan mata, berhenti sejenak, “Dan kau masih Anggun sejak zaman purbakala.”
“Tentu saja aku masih Anggun. Aku belum sempat mengganti namaku menjadi ‘Jelita’. Ya, maklumlah, aku terlalu sibuk. Akan merepotkan sekali membuat tumpeng dan mengundang seluruh lapisan kerabat, bukan?” Jingga mengangkat bahu, menonjok lengan Azka yang berotot. Tertawa. Tawa lepas yang pernah keluar dari mulutnya setelah ditinggal menikah oleh Rama.
Azka pura-pura kesakitan, mengucek matanya seakan anak kecil yang menangis minta dibelikan gulali seloyang. Meski baru pertama bertemu setelah belasan tahun terpisah jarak dan waktu, keakraban mereka masih sama seperti 13 tahun silam. Dimana saat itu Jingga masih duduk di bangku kelas satu SMA, dan Azka kelas 3 SMA. Dulu ketika masih sama-sama sekolah di Bandung, banyak tetangga maupun teman sekolah yang mengira mereka menjalin hubungan istimewa lantaran sering mendapati berduaan kemanapun laiknya sepasang kekasih.
Bagi Jingga, Azka adalah sahabat laki-laki terbaik seantera raya yang ia punya. Laki-laki itu pernah melindungi dirinya dari preman saat hendak menuju balai desa untuk mewakili siswa-siswi lain dalam pentas seni. Berkat Azka pula, nilai pelajaran gambar poster dan seni lukisnya selamat di raport. Jingga benci sekali pelajaran menggambar dan melukis. Seperti yang ia bahas dengan Rama di restaurant cepat saji di Gedung Sarinah beberapa bulan yang lalu. Seandainya saja ia bisa memutar waktu untuk mengenang obrolan singkat itu. Sayangnya Jingga hanya bisa mengenang dan mengenang kejadian yang sudah lewat meski sama sekali tak menginginkan bayangan lama terus berputar di otaknya.
Sepanjang berjalan menuju parkiran, Azka yang terpaut usia dua tahun dengan Jingga, banyak berceloteh kenangan masa nakal mereka sewaktu kecil. Namun gadis itu menekukkan wajahnya mengingat usia Azka sama persis dengan usia Rama. Bagaimanakah kabar Rama saat ini? Sedang apakah dia? Apakah dia pernah merindukannya sekali saja? Apakah Rama bahagia dengan Kilka? Apakah Rama sudah melupakannya? Hati Jingga bertanya-tanya. Ucapan yang terlontar dari mulut Azka hanya dijawabnya dengan ratapan kosong dan senyuman hambar.
Karena berteman sedari kecil, Azka mengenal seluruh perangai Jingga, baik kelemahannya maupun kelebihannya. Ia dapat membaca raut wajah Jingga yang berubah. Namun ia tetap berceloteh agar Jingga berhenti melamun. Waktu sekolah dasar, mereka selalu bermain bersama di kebun dan ladang milik petani untuk menangkap capung dan belalang, berkejaran di pekarangan milik warga desa sebelah, bermain kasti, kelereng, berenang di sungai, dan tak lupa berkejaran di bawah hujan. Semuanya menyenangkan. Masa kanak-kanak itu tak sedikitpun menghilang dari benaknya.
“Kalau tidak salah, kita sudah terpisah seratus abad ya, Nggun.” Azka memamerkan deretan gigi putihnya seraya menepuk lengan Jingga. Jingga terperanjat kaget dan tersadar telah mencuekkan Azka gara-gara sibuk oleh pikirannya sendiri.
“Eh, seratus abad? Kupikir sudah ribuan abad, dan kita sudah melewati satu lingkar nasi. Canggih sekali. Ckckck…” ucap Jingga mencoba tertawa. Tawa yang amat tawar.
Azka membuka bagasi mobil, memasukkan koper Jingga ke dalam sana. Sembari mengeluarkan mobilnya menuju jalan raya, Azka terus mengulas masa kecil mereka. Karena itulah harta terindah yang mereka punya. “Dan kau selalu ingin dibilang juara satu meski kalah telak oleh aku dan Dewa di Sungai Ciliwung, bukan?”
Jingga menekukkan wajahnya tidak suka. Ya memang, pada saat belum puber, mereka sering bermain di sungai untuk balapan renang hingga jembatan. Kadang Azka yang juara, kadangpula Dewa. Dan Jingga tak pernah sekalipun menang karena dua temannya laki-laki yang beringas. Mendengar nama Dewa, ia terbayang ke puluhan tahun silam. Anak kecil bertubuh bongsor itu gemar sekali membuatnya berkelahi semasa sekolah dasar dulu. Jingga dan Dewa sering disidang guru, dan Dewa lah yang selalu disalahkan. “Dasar perempuan!” Maki Dewa kesal karena perempuan selalu saja dibela.
“Sampai detik ini, aku masih benci pada Dewa. Syukurlah dia ditelan bumi. Kalau tidak, aku pasti akan membalaskan dendam kesumat padanya,” Jingga tertawa. Kali ini tawanya sedikit lepas dari sebelumnya.
“Aku juga bersyukur dia meninggalkan kita di usia yang masih sangat kecil. Dengan begitu, aku tidak akan repot memisahkan pertengkaran kalian yang mirip sekali dengan film kartun asal Amerika itu. Gawat kan jika pertengkaran kalian sampai usia dewasa dan masing-masing punya pasangan? Mungkin lebih spektakuler dari cerita perang dunia ke-2.” Azka menepuk jidat, terkekeh.
“Apakah kau tahu kabarnya?” tanya Jingga serius.
“Sebelum dia menikah. Tapi aku tak sempat datang ke pesta pernikahannya lantaran ada tugas dadakan dari dinas kota. Ah, si biang kacau itu rupanya menyaingi keahlian lukisku. Sayang, aku kurang tenar dan hanya bisa melukis di kertas gambar, membantu tugas sekolahmu dulu,” Azka mengedipkan matanya pada Jingga. Yang langsung dicibir Jingga sambil tertawa.
“Oh ya? Andai saja dia tetap tinggal di kota kembang, pasti aku akan mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan gambar hasil lukisanmu. Tapi kenapa kau tidak membahas Dewa di chatting? Aku kan bisa menuntaskan perkelahianku di media sosial,” Jingga meleletkan lidahnya, meledek Azka yang terlihat sebal.
“Nah, itu dia. Aku sengaja tidak memberitahumu karena pasti akan runyam urusannya. Biarlah, nanti kalianpun akan bertemu.”
Jingga melipat alis, tidak mengerti. “Bagaimana kau bisa bertemu Dewa?”
Bagaimana bertemu Dewa? Kali ini dahi Azka yang terlipat. Sejak orangtua Dewa memindahkan sekolahnya ke pulau seberang pada lulusan sekolah dasar, setahun sekali mereka selalu saling mengirim kabar. Kalau dipikir-pikir aneh juga dua sahabat laki-laki aktif berkirim surat. Namun itulah yang terjadi. Di surat itu, Dewa bilang rindu menjahili Anggun, rindu bertengkar dan berkelahi dengannya. Tapi Azka tidak pernah menyampaikannya pada Jingga. Azka tahu, senakal-nakalnya perangai anak laki-laki pada teman perempuannya, pastilah ia hanya iseng semata. Dan kemudian ada perasaan rindu karena tak bisa lagi bertatap muka.
“Waktu itu kebetulan aku sedang dinas di Bali selama seminggu, menyelesaikan misi detektif teroris yang berkeliaran di sana. Aku sempat menginap di rumahnya, juga di rumah sakit selama seminggu. Ayahnya sakit keras. Tapi yang membuatku senang, mereka bilang aku masih seganteng dulu.”
“Kau ini memang selalu memaksakan diri untuk dibilang tampan. Iya, tampan di dunia orang utan. Dewa sudah menikah? Ah, aku terlambat.” Wajah Jingga seperti menyesal.
Azka mengangkat bahu, tidak paham. “Maksudmu terlambat?”
“Aku terlambat menemui Dewa. Laki-laki itu pasti sudah kucincang habis-habisan di depan istrinya karena urusanku dengan dia belum selesai. Dia selalu membuatku kesal. Tapi aku tak mungkin menemuinya. Nanti istrinya cemburu buta padaku. Mengira aku mantan kekasihnya, padahal jelas-jelas bukan, kan?”
“Ya, dan kalau sampai pertemuan itu terjadi, akan ada perang dunia ke-100. Aku pasti akan sangat repot mendamaikan kalian. Mungkin pertengakaran kalian lebih fenomenal dari urusan teroris.” Azka memukul-mukul setir, tertawa.
“Sudahlah, aku hanya bergurau,” potong Jingga mengalihkan pembicaraan. “Aku juga tidak serius mengatakan ini.” Jingga tersenyum tipis. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan sosok sahabat kecilnya yang kini sudah dewasa. Membayangkan wajah Dewa membuatnya tak sadar tertawa kecil, pria menyebalkan itu pastilah berambut gondrong, berkulit kumal, dan jelek macam tidak mandi sebulan. Tapi keingintahuannya serasa terbatas, lantaran Dewa sudah berkeluarga. Pantang baginya untuk berhubungan dengan laki-laki yang sudah menikah, walaupun sebatas sahabat.
Tempo hari, Jingga sering mendapat perlakuan senonoh dari para istri sahabat prianya yang menyangka dirinya adalah kekasih simpanan suami mereka. Ia bergidik mengingat kejadian menggelikan itu. Dan jangan sampai terulang lagi.
***
Hijau pepohonan yang dibalut birunya langit, dengan sedikit titik-titik awan putih, terpampang indah dari bingkai mobil. Deru mesin yang lembut dan halus, sesekali ia bisa mendengar kicauan burung. Bunyinya yang jernih seakan-akan menyebar ke segala penjuru, membuat perasaan damai. Kanan dan kiri jalan terdapat monyet-monyet yang melompat lincah, ada yang duduk melamun, ada juga yang berbincang dengan teman-temannya sesama orang utan. Jingga tersenyum memperhatikan pemandangan safari natural ini, kadang iseng meledek Azka sebagai tetua orang utan itu. Azka malah memanggil sahabatnya yang berjejer sepanjang jalan Pusuk Pas yang sepi lalu-lintas. Tertawa.
Tebing tinggi nan hijau serta tepian pantai yang eksotis, membuat Jingga melongokan wajahnya keluar jendela mobil, sesekali memejamkan mata untuk mengirup udara segar, lalu tersenyum lagi. Tidak salah Azka membawanya ke mari. Ia benar-benar sedikit tenang menikmati jalanan berkelok serba hijau ini.
Tapi tiba-tiba hatinya melipir pada sosok Dewa. Kenapa kisah sahabat nakal masa kecilnya yang sedang dikisahkan Azka nyaris sama dengan jalan cerita mantan kekasihnya, Rama? Dewa pelukis? Tinggal di Bali? Sudah menikah? Ayahnya sakit? Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi hatinya melarang. Azka tak perlu tahu semua ini. Semuanya sudah berakhir. Semuanya harus dilupakan. Tak ada yang perlu dibahas lagi. Pemandangan yang indah laksana poster alami, tak mampu mengalihkan pikiran Jingga tentang pemuda yang sudah membuat hatinya menangis siang malam selama berbulan-bulan hingga air matanya kering.
“Ada apa, Nggun? Kenapa mendadak diam?” Azka menyikut tangan kanan Jingga.
Jingga terperangah kaget, “Eh, tidak apa-apa, Ka.”
“Lantas kau mau bermalam di mana?”
“Antarkan aku ke Pantai Senggigi. Kau bilang pantai itu cukup menggugah rasa untuk menikmati matahari tenggelam, bukan? Aku ingin minum kelapa muda, maukah kau menemani?” Jingga mencoba ceria.
Azka tahu betul tabiat Jingga saat wanita malang itu menyembunyikan kesedihan di matanya yang berkaca-kaca. Ia bisa menebak, pastilah sahabat kecilnya yang kini menjadi dewasa, menyembunyikan sesuatu tentang penderitaan hatinya. Namun sekali lagi, Azka tahu kalau Jingga tidak suka ditanya perihal masalah pribadinya. Lambat laun, ia pasti akan tahu sendiri kenapa teman kecilnya ini menyepi ke pulau yang sunyi dari hiruk-pikuk kota metropolitan. Walaupun sebenarnya ia sudah tahu.
“Tapi sebelum kuantar ke Senggigi, kau harus bertemu dengan kedua orangtuaku di Mataram. Mereka sangat merindukanmu. Semenjak kau meneleponku tiga hari lalu, ibu sibuk sekali menyiapkan makanan khas kota kami; ayam taliwang, pelecing kangkung, sate bulayak, serta masih banyak lagi yang lainnya. Tak lupa kopi hitam yang sering kau minta kirimkan ke Jakarta. Ah, pasti kau menyukainya, Anggun. Dan kau harus menghabiskan semuanya.”
Jingga tertawa mendengar Azka bercerita tentang ibunya. “Beres! Kau jangan khawatir, aku pasti akan menghabiskannya.”
“Aku baru tahu kalau perempuan satu ini pemakan segala. Piring dan gelasnya pun siap dihabiskan, Nona? Hebat!” Azka mengangguk-anggukan kepalanya, mengernyitkan dahi.
Jingga mencubit lengan Azka dan melotot sebal, “Aku bukan kuda lumping, Azka…………….”
Tak disangka, Azka berhasil membuang sedikit demi sedikit kesedihan di mata Jingga. Ia tidak tega membiarkan gadis kecilnya yang kini tumbuh dewasa, larut dalam kesedihan tak berujung. Berada dengan Jingga, ia seperti mempunyai adik perempuan yang lama hilang. Azka merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yang keseluruhannya laki-laki. Azka rindu berperan sebagai kakak Jingga.
“Kau hendak membawaku kemana, Azka?” Jingga memperbaiki duduknya.
“Sudahlah, kau menurut saja. Aku yakin, kau pasti tidak mau pulang dari sini. Jujurlah, pulau ini elok sekali bukan?”
Jingga mengangguk. “Ya, harus kuakui, aku menyukai tanah kelahiran ibumu. Dan kau harus bertanggung jawab kalau aku benar-benar tidak ingin pulang dari sini.”
“Aku khawatir kau tidak mau pulang.” Azka nyengir, memperbaiki posisi duduknya.
“Maksudmu?” Jingga melipat alis.
“Percayalah ungkapan ini: Jangan ke Lombok, nanti tidak mau pulang.”
Azka tertawa. Jingga pun tertawa. Kali ini tawanya sedikit lepas. Ternyata Azka tidak langsung membawa Jingga ke Mataram, melainkan memutar setirnya menuju pantai Seger, sekitar tiga kilometer dari pantai Kuta. Pria berambut plontos dan tinggi itu menuntun Jingga menaiki bukit.
Angin dari barat berhembus kencang, membuat rambut dan syal Jingga berkibar. Gadis itu memandang ke sekitar dan melihat putihnya gulungan ombak melukis tepian laut dan menghantam karang. Dari atas bukit, ia bisa mengamati semua sudut bibir Pantai Kuta yang melengkung aduhai. Warna putih, hijau, dan biru, menyatu dalam kacamatanya yang telanjang. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan laut biru dan bukit-bukit yang sungguh menawan.
Luasnya lautan terhampar di semua sisi. Panorama karang besar yang menyembul di tengah laut, serta beningnya air, membuat Jingga terpukau. Ia memutar badan, memperhatikan keindahan surga dunia yang mengitari pijakan kakinya saat ini. Udara di pantai ini tidak panas laiknya pantai kebanyakan. Jingga mendadak ingin menetap di pulau itu. Rambut panjangnya yang tergerai, acak-acakan dan kusut tertiup angin. Pekerjaan barunya kini yakni mengatur helai demi helai rambutnya agar diam. Azka tertawa melihat tingkah Jingga yang serba salah.
“Tak perlu melawan angin, Anggun! Hidup ini memang banyak aturan. Kau tidak harus menghukum dirimu dengan semua rasa sedih dan benci. Terimalah... Kau harus ikhlas menjalani roda kehidupanmu yang terus berjalan. Sebelum roda itu benar-benar berhenti, setidaknya kau pernah melewati terjal landainya kehidupan,” teriak Azka mencoba merambatkan suaranya yang terhalang oleh desau angin.
Jingga menoleh. Ia paham kalau Azka membaca isi hatinya yang rapuh. Ia duduk di batu besar menghadap lautan lepas, bersenandung dalam lara. Gulungan ombak dengan sadisnya menabrak karang. Menimbulkan bunyi bergemuruh. Satu-dua burung melintas di atas gulungan ombak, menari menggunakan kepakan sayap yang membuat Jingga iri.
“Azkaaaa… kemarilah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” Jingga mengeraskan pita suaranya agar sahabat masa kecilnya yang berdiri sepuluh meter darinya mendengar.
Azka mendekat. Berdiri di samping Jingga yang masih sibuk menata rambutnya.
“Aku sudah memutuskan, kalau aku tidak akan menikah sampai akhir hayat. Aku akan menjadi gadis single selamanya hingga tanah memakan daging dan tulang belulangku. Ada banyak manusia yang beruntung di muka bumi ini, tapi itu bukan aku. Mereka menemukan cinta sejati tanpa meminta dan mengemis, punya keluarga yang harmonis. Sedangkan aku? Kau tahu, aku hanyalah anak didikan ibu. Ayahku entah berada di mana. Kalau kau bukan sahabat dekatku, bisa saja aku menyamakanmu dengan ayahku, dengan pria-pria yang melukai hatiku.”
Azka tidak berkomentar. Ia membiarkan Jingga berucap aneh macam orang tidak waras. Hatinya pasti benar-benar kacau-balau. Masalah yang dialami gadis itu sangat kompleks. Untuk mengurainya satu per satu, ia perlu sedikit bersabar. Jingga adalah gadis istimewa, gadis spesial yang sedang patah hati bertubi-tubi. Dengan mengeluarkan semua unek-uneknya, ia berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang dan berpikir rasional.
Jingga bangkit dari batu besar, meraih beberapa kerikil di dekat kakinya, kemudian melemparkannya ke laut. “Kenapa hidupku menyedihkan? Apakah aku ditakdirkan untuk merana? Kenapa aku tak pantas merayakan kebahagiaan yang sempurna seperti manusia lainnya? Apa aku tidak sempurna? Tidak layak bahagia?” Gadis malang itu tersungkur memeluk lutut. Air matanya yang kering, kini kembali basah. Perlahan tetesannya jatuh ke tanah.
Kadangkala dalam hidup ini, masalah demi masalah datang silih berganti. Namun Jingga mengalaminya secara simultan. Ayahnya hingga kini tidak tahu ada di mana, hubungannya dengan ibunda merenggang karena ia mengagalkan rencanana pernikahannya bersama Heri, asisten direksi sekaligus atasan kerjanya. Bagaimana pula ia menjalani hari-harinya dalam keadaan rumit seperti itu. Semua karyawan sudah menerima undangan, saudara-saudaranya, sahabat dekat maupun jauh, teman sekolah dan kuliah, handai-taulan sudah sibuk menyiapkan baju paling pantas menghadiri pesta, bilang selamat akhirnya menikah juga. Mau dikemanakan mukanya? Jingga benar-benar malu dan miris dengan kisah hidupnya yang bagai sandiwara.
Ia ingin pindah kerja, namun Livi melarangnya, bilang dia harus profesional. Setiap kali lewat anak buahnya, bisik-bisik prihatin dan pandangan mata iba, membuat hatinya makin terluka. Di hatinya selalu terbesit nama Rama sang kekasih hati. Dan laki-laki itu telah menikah dengan wanita lain. Jingga tidak kuasa menahan pilu hatinya. Ia ingin mati saja.
**
Ini adalah malam ketiga Rama melewati jalanan Pantura. Sudah tak terhitung berapa kali ia mampir ke pombensin guna mengisi ulang bahan bakar mobilnya yang habis guna meneruskan perjalanannya menuju ibukota. Sehari keberangkatannya meninggalkan kota Denpasar, ia terjebak di hutan yang sepi di Banyuwangi. Ban mobil belakangnya pecah. Ia juga sempat menabrak truk yang terparkir di sisi kiri jalan lantaran terlalu banyak melamun dan tidak konsentrasi menyetir. Alhasil ia dilarikan diri ke puskesmas terdekat oleh saksi mata agar dahinya yang berdarah terbentur setir, casing mobil depannya sudah tak berbentuk, sama dengan hatinya yang benar-benar remuk dan berkecamuk.
Bagaimanapun juga, ia harus menemui Jingga sebelum pernikahan itu berlangsung. Meski dadanya sesak dan panas, ia harus berani memandang sayu mata Jingga dan sendu wajah gadis itu. Ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan perempuan bunglonnya. Namun otaknya seakan kaset rusak yang terus memutar semua kisah tentang Jingga, yang membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain dia.
Sebenarnya, pemuda berhidung mancung dan berkumis tipis itu bisa saja menaiki pesawat menuju ibu kota. Tapi saat mendengar kabar buruk tentang pernikahan Jingga yang tinggal seminggu lagi, ia tak bisa berpikir jernih. Rama langsung menyambar kunci mobil Fortunernya dan mengegas dengan kecepatan maksimal menuju pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberangi Pelabuhan Ketapang. Ia bahkan lupa membawa baju ganti untuk salin. Dalam hatinya berdoa, semoga ia tidak terlambat melihat wajah anggun itu untuk terakhir kalinya.
Puing 17 #Jingga #NovelSeries
Di pasir putih itu, Jingga duduk tanpa alas, menarik satu kaki kanannya dan menghadapkan matanya ke lautan lepas. Jauh di pelupuk mata, terpampang megahnya Gunung Agung yang menyembul di tengah hamparan laut Lombok Tengah, yang mana gunung tersebut terletak di Pulau Bali. Mendadak ingatannya kembali pada sosok Rama yang berada di seberang sana. Perih. Ia tak kuasa mengingat kegetiran kisahnya yang singkat bersama lelaki itu.
Matahari sore mulai menenggelamkan sinarnya di balik gunung. Warna jingga menyeruak membentuk siluet yang meneduhkan hati. Jingga masih terduduk menopang dagu beralaskan pasir putih. Ia mengamati perahu nelayan melintas, seorang nahkoda sibuk mendayung menepikan perahunya ke pantai. Nampaknya habis menebarkan jala di tengah laut, esok pagi baru memanen hasil tangkapannya. Pantai ini terbilang sepi pengunjung. Meski sudah ada ressort dan penginapan di sekitar pantai, namun baru kali ini Jingga menikmati syahdunya menyaksikan sang surya tenggelam tanpa ada suara manusia yang menganggunya. Hanya lenguhan burung camar, derik jangkrik dan serangga lainnya yang terdengar. Begitu tenang.
Dadanya sesak, ingatannya kelam. Ia merasa Rama seperti Gunung Agung yang melambaikan tangan, memintanya untuk mendekat. Ia pikir dengan menenangkan diri ke pulau nun jauh di bagian tengah Indonesia, pikirannya pun bisa membuang jauh kenangan tentang Rama. Salah. Jingga benar-benar keliru.
Pulau Bali hanya terhalang oleh selat Lombok. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas Pulau Dewata tersebut melalui mata telanjang. Sial, lagi-lagi dia hanya terpaku tentang Rama. Dadanya semakin sesak. Jingga tak kuasa menahan diri untuk tidak berderai air mata. Rekaman seluruh kisahnya kembali diputar di layar lebar di atas lautan lepas.
Sang surya melepas lelahnya di balik Gunung Agung, terganti oleh purnama bulan November, awal musim penghujan. Di bawah sang bulan, terdapat satu bintang yang setia menemani kemanapun bulan itu bergeser. Lama-kelamaan, bermunculan gemintang lain yang bagai ceres berkilauan di angkasa. Jumlahnya ribuan. Jingga bahkan tak pernah berhasil menghitungnya.
Rama, kau tahu, purnama malam ini sangat tampan. Aku tak mempermasalahkan satu bintang menemaninya. Tapi kenapa semakin malam semakin banyak? Barangkali seperti itulah gambaran hati manusia. Tidak pernah cukup. Selalu ingin lebih dan lebih. Kau sedang apa di sana, Rama? Aku menginginkanmu. Tapi itu mustahil. Kita berbeda…
Jingga membatin dalam hatinya. Ia sungguh benci akan semua kenangan bersama Rama yang singkat, padat, dan bagai mimpi. Jingga mengutuk hatinya sendiri, menyesal telah bertemu pemuda itu. Ia memainkan pasir putih dengan jari-jarinya. Menuliskan nama Rama yang kemudian dicoret lagi, ditulis, dihapus lagi. Begitu berulang-ulang. Seharusnya tiga hari lagi ia menikah dengan Heri, bersandingkan di pelaminan, menjadi ratu dan raja semalam. Namun ia tak akan pernah bahagia berdampingan dengan laki-laki lain selain Rama.
“Kau lihat patung putri dan lima laki-laki di Pantai Seger tadi siang?” Azka membuyarkan lamunan Jingga dan mendapati gadis mungil itu mengusap air mata.
Jingga berusaha tersenyum garing. “Iya, aku melihatnya. Ini buatku kan?” Jingga merebut satu kelapa muda dari tangan Azka dan langsung menyedotnya. Mencoba senormal mungkin.
“Namanya Putri Mandalika. Putri yang sangat cantik jelita. Kisahnya sungguh tragis. Putri Mandalika bunuh diri dari atas bukit yang kau duduki tadi. Terjun ke laut yang di bawahnya bebatuan tajam dan karang terjal.”
“Kenapa dia bunuh diri?” Jingga berusaha menutupi kekalutan hatinya dengan menyunggingkan sedikit senyum.
“Karena dia diperebutkan banyak laki-laki. Dia tidak ingin melukai perasaan lelaki yang tidak ia cintai, maka ia lebih baik mati ketimbang harus melukai perasaan laki-laki lain yang harus dipilihnya salah satu.”
Jingga mengernyitkan dahi. “Aku bukan Putri Mandalika. Dan aku tidak diperebutkan banyak laki-laki.”
“Aku tahu. Dan aku juga tahu kalau kau tidak boleh terlalu lama menangisi kisah hidupmu yang menyedihkan. Akan ada saatnya kau mengerti, bahwa hidup ini hanyalah sebuah persimpangan.”
Azka mengacak-acak rambut Jingga, menganggap gadis itu masih kecil. Ia bahkan tahu detil kisah sahabatnya yang kini kehilangan harapan.
“Aku harus pulang. Masih ada tugas Negara yang harus kuselesaikan. Besok pagi, aku akan menjemputmu. Kita akan jalan-jalan. Usaplah air matamu, aku tidak suka dengan wanita cengeng. Mana Anggun sahabat dan adik perempuanku yang terkenal dengan ketegarannya?”
“Ada yang ingin kusampaikan padamu, Anggun. Bacalah…” Azka duduk di samping Jingga, menyodorkan selembar kertas usang dan senter kecil padanya.
Jingga mengambil kertas usang dan senter kecil dari tangan Azka, ragu membukanya. Azka bilang, dia tak sengaja menemukan foto ini di balik album foto milik Dewa. Sembunyi-sembunyi mengambilnya agar empunya tidak curiga.
Dan Jingga pun mulai membaca tulisan tangan yang agak samar tersebut. Tulisannya tidak terlalu bagus, namun rapi. Di bawahnya ada gambar kartun hasil coretan tangan, yang entah mengapa terlihat sederhana namun keren.
Teruntuk Gadis Kecilku,
Di sudut jendela kamar ini, aku melihatmu berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Menempelkan bunga di sela telingamu, berjalan dengan tawa riang. Aku masih ingat senyummu, marahmu, celotehmu, dan sembab di matamu. Aku juga masih ingat rambutmu yang panjang bergelombang, pirang tergerai terkena pantulan sinar. Kau memang gemar sekali bermain layangan di tengah lapangan. Dasar anak perempuan nakal.
Dalam bingkai kacamataku di radius ribuan pal, aku sibuk membayangkanmu, tertawa saat mengingat wajah dan rambutmu penuh dengan serpihan kapas. Kau juga sering mengadu pada pak guru, bilang kalau aku tega mengejekmu, membuatmu jengkel dan marah. Kau tahu? Kau memang pantas digoda.
Boleh jadi kau telah melupakanku, bahkan tak ingat apapun tentangku. Tapi aku tidak peduli. Bagiku, kau selalu menjadi serbuk rindu yang tak bertepi. Seperti rembulan malam ini. Aku tahu, pasti kau pun sedang memandang langit yang sama, termenung memandang cahaya purnama. Benar, kan?
Matahari memang masih terbit di sebelah timur dan tenggelam di ufuk barat. Maafkan aku, memendam perasaan yang tak kunjung terbalas. Menyimpan surat ini tanpa berniat mengirimkannya untukmu. Kau adalah temanku, musuhku, adikku, dan aku sangat merindukanmu.
Anggun, umurku kini menginjak dua puluh delapan tahun, dan aku ingin sekali bertemu denganmu, mengulang masa kecil kita, berlarian mengejar katak, menangkap capung, dan berburu belalang di bawah hujan. Aku sungguh teramat merindukanmu. Kali ini aku rela kau yang memenangkan balapan renang di sungai. Tenang, aku akan pura-pura kalah.
Kenanglah aku,
Dewa Gede Ramayoga
Jingga meneteskan air mata.
**
Saat Rama menerima perjodohan itu, Jingga tak pernah menghubunginya lagi. Dalam benaknya bertanya, kenapa gadis itu tega memberikan hatinya pada wanita lain? Kenapa dia tidak melakukan apa-apa untuk hubungan mereka? Rama berteriak dalam hati menahan perih di dahi, tangan kanan, dan pergelangan kakinya lantaran mengalami kecelakaan ringan di pinggir tol beberapa jam lalu.
Sialnya, kenapa Jingga merupakan sahabat masa kecilnya yang terpisah puluhan tahun, kemudian bertemu saat dewasa dan saling mencinta? Kenapa perbedaan memisahkan mereka? Hatinya sungguh meringis mengenang semuanya. Dulu, Jingga adalah bahan empuk sasarannya untuk dijahili. Gadis kecil itu tidak cengeng, ia malah menantang untuk berkelahi secara jantan. Meski Jingga perempuan dan tidak memiliki kejantanan. Rama tertawa hambar mengingat kedua orangtuanya menjewer kupingnya hingga merah saat berhasil membuat gadis kecil itu kesal dan menangis.
Foto yang dilihatnya dari ponsel Azka, dibandingkannya dengan foto yang terdapat di album usang. Di sana Jingga, Rama, dan Azka tertawa bermain layang-layang di tengah lapangan. Ia sungguh rindu akan sosok Jingga dan Anggun. Gadis kecil itu memang menangis, tapi ia tak pernah mau memamerkan air matanya yang berlinang pada banyak orang. Ia langsung pergi ke kamar dan menemuinya lagi esok pagi untuk mengajaknya menyelesaikan satu permainan yang bisa membuat hatinya menang.
Sifat kecil Jingga masih sama ketika dirinya sudah dewasa. “Apakah kau mencintaiku, Rama? Jika ia, menikahlah dengannya. Aku tak bisa melawan takdir Tuhan. Dunia kita berbeda, Rama. Kita tidak akan pernah bersatu,” ucap Jingga seraya meninggalkannya seorang diri di tepi jalan yang disaksikan puluhan pasang mata.
Kala Jingga meninggalkannya di Bandara Ngurah Rai tiga bulan lalu, gadis itu memang menangis sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Tapi dia mengumpat, menyembunyikan rasa kecewa dan kesedihan hatinya agar terlihat tegar dan tidak terkesan cengeng di matanya. Kesalahan terbesar Rama adalah mengapa ia menuruti permintaan gadis itu hanya karena ingin Jingga kembali ke pelukannya dan berubah pikiran? Ternyata ia tetap pada pendiriannya dan tak sedikitpun menengok ke belakang. Saat itu kaki Rama bergetar hebat, menyesal mengatakan dirinya akan menerima perjodohan dengan Kilka. Livi benar, Jingga memang keras kepala.
Rama merenung lagi. Sedikit mengurangi kecepatannya di tol Jagarawi. Ia sama sekali tidak ingat kalau Jingga pernah mengisi masa lalunya dengan tawa bersama Azka. Kenapa ia tidak terpikirkan untuk bertanya kabar Jingga pada teman lelakinya itu? Apa yang ia lakukan semenjak perpisahan tiga bulan lalu? Apakah gadis itu baik-baik saja? Kenapa pula ia tidak pernah mau menghubunginya lagi? Rama mengutuk dirinya sendiri.
**
Bel apartemen Jingga sudah sepuluh kali ditekan. Namun tak ada jawaban apapun dari dalam. Rama yang putus asa, segera mengunjungi rumah Livi yang berada di Komplek Perumahan Pondok Indah, sepuluh menit dari Apartemen Permata Hijau.
“Jingga tidak ada di sini,” kata Livi sambil memegangi daun pintu.
“Lantas dia kemana?” Rama mengusap wajah.
“Aku tidak tahu.” Livi permisi dan menutup pintu. Sebenarnya dia tahu kemana Jingga pergi. Tapi tidak ingin mempertemukan keduanya lagi. Sudah cukup Jingga tersakiti. Biarkan dia menetralkan perasaannya di tempat yang sulit terjangkau. Livi sendiri tidak tahu persis dimana keberadaan tempat itu. Karena Jingga tidak memberitahukan detil posisinya.
Kaki Rama tak beranjak sesentipun dari ambang pintu rumah Livi. Ia berharap Livi akan berubah pikiran dan memberitahukan dimana keberadaan Jingga. Satu jam menunggu, kaki Rama mulai pegal. Ia duduk lesehan di teras. Hingga matahari condong ke barat, suami Livi, Juna, yang dari luar kota bertanya sedang menunggu siapa.
“Bisakah kau membujuk Livi untuk membocorkan dimana keberadaan Jingga? Aku yakin dia tahu tentang gadisku. Aku tidak akan pulang sebelum mengetahui Jingga dimana.” Rama bersikekeh akan tetap tinggal di teras itu sampai Livi mau berbaik hati memberitahunya.
Sebagai sesama lelaki, Juna iba terhadap Rama. Ia akan membantu semampunya. Livi sangat menyayangi Jingga seperti saudara kandungnya sendiri. Basa-basi, Juna membuka percakapan dengan istrinya, “Memangnya Jingga ada di mana sekarang?”
“Jangan memancingku, Juna. Aku tidak tahu dan tidak akan memberitahu.” Livi duduk membelakangi suaminya dengan tangan bersedekap.
“Tadi aku berbincang sebentar dengan Rama. Dia menyetir mobil sendiri, menempuh jarak jauh dari Denpasar ke Jakarta hanya untuk menemui Jingga. Aku melihat casing mobil depannya penyok karena menabrak truk yang sedang parkir. Kepala dan tangannya diperban. Tadi kulihat kakinya memar. Mungkin ia baru saja mengalami kecelakaan. Wajahnya pucat sekali. Kau tidak memberikannya air minum, Livi?”
“Dia itu sudah mantan, bukan kekasih Jingga lagi. Rama lebih memilih menikah dengan wanita satu kasta pilihan kedua orangtuanya,” protes Livi sewot.
“Bukankah Jingga yang menyuruh Rama menikahinya? Emm, tadi Rama sempat bilang padaku bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya, Liv. Beri Rama kesempatan sekali lagi. Dia masih mencintai Jingga.” Juna memasang wajah melas, berharap Livi percaya dengan ucapannya.
Livi menoleh. Tertawa getir. “Darimana kau tahu dia masih mencintai Jingga? Sejak kapan kamu bisa meramal seseorang, Juna?”
“Aku sedang tidak bergurau, Livi. Matanya tidak bisa berbohong,” Juna menarik napas. Susah sekali berargumen dengan Livi. “Baiklah, aku akan menyuruhnya pulang, karena dia tidak akan pergi dari sini kalau kau belum memberitahu dimana Jingga berada.”
Atas desakan Juna, Livi menemui Rama dan mengatakan, “Aku juga tidak tahu kemana Jingga pergi, Rama. Sudah hampir seminggu dia mengambil cuti kerja. Mungkin saja dia pulang ke Bandung, tempat ibundanya. Entahlah, aku sungguh tidak tahu kemana dia pergi. Sekarang masuklah ke rumah kami, kau terlihat lelah sekali,” kata Livi lirih.
Rama mengucapkan terimakasih pada Livi dan Juna yang telah berbaik hati memberikan sepotong informasi penting tentang Jingga. Ia harus mengakhiri perasaannya yang gusar. Rasa lelahnya seakan terkalahkan dengan rasa senang mendapatkan titik terang. Perjalanan tiga hari dua malam menggunakan mobil, dengan hambatan yang hampir memakan nyawanya, Rama bersemangat menjemput Jingga di Bandung.
Rama berkali-kali mengusap wajah, berusaha mengatur napasnya senormal mungkin. Dua jam lebih ia mengendarai mobil pribadinya menjelajahi desa kelahiran Jingga, sayang seribu sayang, peluhnya tak terbayar. Gadis itu tak ada di sana. Dengan wajah lesu, ia pamit pada ibunda Jingga dan kembali ke Jakarta. Mungkin tiduran di kamar apartemen yang lama tak dihuninya, sedikit mengurangi keresahan hati.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tidak karuan. Mendengar kekasih hatinya akan menikah dengan laki-laki lain, dadanya kian sesak. Sepertinya aliran darahnya tersumbat. Ia memikirkan bagaimana perasaan Jingga saat dirinya menikah dengan Kilka. Ia sendiri merasakan perihnya ditinggal menikah oleh mantan tunangannya tiga tahun silam. Dunia bagai berhenti di tempat. Dan dia harus merasakan lagi untuk yang kedua kalinya.
Seekor kucing hitam melintas di jalanan sepi. Membuat Rama mengerem dadakan mobilnya yang melaju cukup kencang. Untung saja kucing jelek itu berhasil meloloskan diri. Ia mengelus dada dan kembali fokus melajukan kendaraan roda empatnya. Peristiwa beberapa detik lalu mengantarkan ingatannya pada saat pertama kali bertemu dengan Jingga. Ia nyaris menabrak Livi. Di bawah hujan itu, ia memayungi Jingga dan menahan tangannya agar tidak jatuh tersandung selang. Getaran aneh menjalar ke seluruh tubuh saat menyentuh tangan halus Jingga. Dan saat itulah ia bisa memandang anggun wajah Jingga.
Sudah pukul 11 malam. Kini Rama telah memasuki kawasan Jakarta Barat. Dimana jalan ini dulu ia lewati bersama dengan Jingga. Hatinya kembali gundah gulana. Dimanakah gadis bunglonnya berada? Mengapa ponselnya belum juga aktif? Apakah dia sedang tidak ingin diganggu? Seribu pertanyaan tak terjawab melayang-layang di otaknya yang membuat dadanya semakin sesak. Ia mencoba mengalihkan pikirannya ke zebra cross agar tidak kacau. Keliru, justru di zebra cross itu, dia pernah menarik kasar lengan Jingga menghindari kendaraan roda dua dan empat yang sudah marah-marah karena keduanya mengganggu lampu yang sudah berwarna hijau.
Sesampai di apartemen, Rama menjatuhkan tubuhnya ke kasur ekstra besar, mengistirahatkan mata dan hatinya yang lelah. Seluruh isi apartemennya masih utuh, kecuali beberapa lukisan yang sengaja dipindahkan ke Denpasar untuk proses pameran. Ruangan apartemen itu masih tertata rapi dan bersih. Pihak kebersihan dan keamanan apartemen, selalu merawat dan menjaganya.
Rama teringat Azka. Ia harus mencari tahu Jingga lewat sahabat masa kecilnya itu. Bukankah Azka teman laki-laki terbaik Jingga?
“Azka?”
“Hay Sob, tadi dia bersamaku,”
“Dia siapa?”
“Sahabat masa kecil kita. Perempuan yang sedang menangis di pinggir pantai menghadap Gunung Agung. Merindukan kekasihnya yang menikah dengan perempuan hasil perjodohan kedua orangtuanya,”
“Apakah dia Jingga Anggunella? Kalau iya, ajaklah dia pulang ke Jakarta. Aku menunggunya di sini,”
“Besok aku akan membujuknya,”
“Terimakasih. Semestinya aku menghubungimu lebih awal,”
“Maaf, aku sengaja tak memberitahumu. Aku ingin kau yang mencaritahunya sendiri,”
“Aku mengerti,” Rama mengakhiri pembicaraan di telepon.
Azka memandangi punggung Anggun yang melengkung mendekap lututnya di pasir putih. Sungguh kelam nasib anak gadis itu.
Matahari sore mulai menenggelamkan sinarnya di balik gunung. Warna jingga menyeruak membentuk siluet yang meneduhkan hati. Jingga masih terduduk menopang dagu beralaskan pasir putih. Ia mengamati perahu nelayan melintas, seorang nahkoda sibuk mendayung menepikan perahunya ke pantai. Nampaknya habis menebarkan jala di tengah laut, esok pagi baru memanen hasil tangkapannya. Pantai ini terbilang sepi pengunjung. Meski sudah ada ressort dan penginapan di sekitar pantai, namun baru kali ini Jingga menikmati syahdunya menyaksikan sang surya tenggelam tanpa ada suara manusia yang menganggunya. Hanya lenguhan burung camar, derik jangkrik dan serangga lainnya yang terdengar. Begitu tenang.
Dadanya sesak, ingatannya kelam. Ia merasa Rama seperti Gunung Agung yang melambaikan tangan, memintanya untuk mendekat. Ia pikir dengan menenangkan diri ke pulau nun jauh di bagian tengah Indonesia, pikirannya pun bisa membuang jauh kenangan tentang Rama. Salah. Jingga benar-benar keliru.
Pulau Bali hanya terhalang oleh selat Lombok. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas Pulau Dewata tersebut melalui mata telanjang. Sial, lagi-lagi dia hanya terpaku tentang Rama. Dadanya semakin sesak. Jingga tak kuasa menahan diri untuk tidak berderai air mata. Rekaman seluruh kisahnya kembali diputar di layar lebar di atas lautan lepas.
Sang surya melepas lelahnya di balik Gunung Agung, terganti oleh purnama bulan November, awal musim penghujan. Di bawah sang bulan, terdapat satu bintang yang setia menemani kemanapun bulan itu bergeser. Lama-kelamaan, bermunculan gemintang lain yang bagai ceres berkilauan di angkasa. Jumlahnya ribuan. Jingga bahkan tak pernah berhasil menghitungnya.
Rama, kau tahu, purnama malam ini sangat tampan. Aku tak mempermasalahkan satu bintang menemaninya. Tapi kenapa semakin malam semakin banyak? Barangkali seperti itulah gambaran hati manusia. Tidak pernah cukup. Selalu ingin lebih dan lebih. Kau sedang apa di sana, Rama? Aku menginginkanmu. Tapi itu mustahil. Kita berbeda…
Jingga membatin dalam hatinya. Ia sungguh benci akan semua kenangan bersama Rama yang singkat, padat, dan bagai mimpi. Jingga mengutuk hatinya sendiri, menyesal telah bertemu pemuda itu. Ia memainkan pasir putih dengan jari-jarinya. Menuliskan nama Rama yang kemudian dicoret lagi, ditulis, dihapus lagi. Begitu berulang-ulang. Seharusnya tiga hari lagi ia menikah dengan Heri, bersandingkan di pelaminan, menjadi ratu dan raja semalam. Namun ia tak akan pernah bahagia berdampingan dengan laki-laki lain selain Rama.
“Kau lihat patung putri dan lima laki-laki di Pantai Seger tadi siang?” Azka membuyarkan lamunan Jingga dan mendapati gadis mungil itu mengusap air mata.
Jingga berusaha tersenyum garing. “Iya, aku melihatnya. Ini buatku kan?” Jingga merebut satu kelapa muda dari tangan Azka dan langsung menyedotnya. Mencoba senormal mungkin.
“Namanya Putri Mandalika. Putri yang sangat cantik jelita. Kisahnya sungguh tragis. Putri Mandalika bunuh diri dari atas bukit yang kau duduki tadi. Terjun ke laut yang di bawahnya bebatuan tajam dan karang terjal.”
“Kenapa dia bunuh diri?” Jingga berusaha menutupi kekalutan hatinya dengan menyunggingkan sedikit senyum.
“Karena dia diperebutkan banyak laki-laki. Dia tidak ingin melukai perasaan lelaki yang tidak ia cintai, maka ia lebih baik mati ketimbang harus melukai perasaan laki-laki lain yang harus dipilihnya salah satu.”
Jingga mengernyitkan dahi. “Aku bukan Putri Mandalika. Dan aku tidak diperebutkan banyak laki-laki.”
“Aku tahu. Dan aku juga tahu kalau kau tidak boleh terlalu lama menangisi kisah hidupmu yang menyedihkan. Akan ada saatnya kau mengerti, bahwa hidup ini hanyalah sebuah persimpangan.”
Azka mengacak-acak rambut Jingga, menganggap gadis itu masih kecil. Ia bahkan tahu detil kisah sahabatnya yang kini kehilangan harapan.
“Aku harus pulang. Masih ada tugas Negara yang harus kuselesaikan. Besok pagi, aku akan menjemputmu. Kita akan jalan-jalan. Usaplah air matamu, aku tidak suka dengan wanita cengeng. Mana Anggun sahabat dan adik perempuanku yang terkenal dengan ketegarannya?”
“Ada yang ingin kusampaikan padamu, Anggun. Bacalah…” Azka duduk di samping Jingga, menyodorkan selembar kertas usang dan senter kecil padanya.
Jingga mengambil kertas usang dan senter kecil dari tangan Azka, ragu membukanya. Azka bilang, dia tak sengaja menemukan foto ini di balik album foto milik Dewa. Sembunyi-sembunyi mengambilnya agar empunya tidak curiga.
Dan Jingga pun mulai membaca tulisan tangan yang agak samar tersebut. Tulisannya tidak terlalu bagus, namun rapi. Di bawahnya ada gambar kartun hasil coretan tangan, yang entah mengapa terlihat sederhana namun keren.
Teruntuk Gadis Kecilku,
Di sudut jendela kamar ini, aku melihatmu berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Menempelkan bunga di sela telingamu, berjalan dengan tawa riang. Aku masih ingat senyummu, marahmu, celotehmu, dan sembab di matamu. Aku juga masih ingat rambutmu yang panjang bergelombang, pirang tergerai terkena pantulan sinar. Kau memang gemar sekali bermain layangan di tengah lapangan. Dasar anak perempuan nakal.
Dalam bingkai kacamataku di radius ribuan pal, aku sibuk membayangkanmu, tertawa saat mengingat wajah dan rambutmu penuh dengan serpihan kapas. Kau juga sering mengadu pada pak guru, bilang kalau aku tega mengejekmu, membuatmu jengkel dan marah. Kau tahu? Kau memang pantas digoda.
Boleh jadi kau telah melupakanku, bahkan tak ingat apapun tentangku. Tapi aku tidak peduli. Bagiku, kau selalu menjadi serbuk rindu yang tak bertepi. Seperti rembulan malam ini. Aku tahu, pasti kau pun sedang memandang langit yang sama, termenung memandang cahaya purnama. Benar, kan?
Matahari memang masih terbit di sebelah timur dan tenggelam di ufuk barat. Maafkan aku, memendam perasaan yang tak kunjung terbalas. Menyimpan surat ini tanpa berniat mengirimkannya untukmu. Kau adalah temanku, musuhku, adikku, dan aku sangat merindukanmu.
Anggun, umurku kini menginjak dua puluh delapan tahun, dan aku ingin sekali bertemu denganmu, mengulang masa kecil kita, berlarian mengejar katak, menangkap capung, dan berburu belalang di bawah hujan. Aku sungguh teramat merindukanmu. Kali ini aku rela kau yang memenangkan balapan renang di sungai. Tenang, aku akan pura-pura kalah.
Kenanglah aku,
Dewa Gede Ramayoga
Jingga meneteskan air mata.
**
Saat Rama menerima perjodohan itu, Jingga tak pernah menghubunginya lagi. Dalam benaknya bertanya, kenapa gadis itu tega memberikan hatinya pada wanita lain? Kenapa dia tidak melakukan apa-apa untuk hubungan mereka? Rama berteriak dalam hati menahan perih di dahi, tangan kanan, dan pergelangan kakinya lantaran mengalami kecelakaan ringan di pinggir tol beberapa jam lalu.
Sialnya, kenapa Jingga merupakan sahabat masa kecilnya yang terpisah puluhan tahun, kemudian bertemu saat dewasa dan saling mencinta? Kenapa perbedaan memisahkan mereka? Hatinya sungguh meringis mengenang semuanya. Dulu, Jingga adalah bahan empuk sasarannya untuk dijahili. Gadis kecil itu tidak cengeng, ia malah menantang untuk berkelahi secara jantan. Meski Jingga perempuan dan tidak memiliki kejantanan. Rama tertawa hambar mengingat kedua orangtuanya menjewer kupingnya hingga merah saat berhasil membuat gadis kecil itu kesal dan menangis.
Foto yang dilihatnya dari ponsel Azka, dibandingkannya dengan foto yang terdapat di album usang. Di sana Jingga, Rama, dan Azka tertawa bermain layang-layang di tengah lapangan. Ia sungguh rindu akan sosok Jingga dan Anggun. Gadis kecil itu memang menangis, tapi ia tak pernah mau memamerkan air matanya yang berlinang pada banyak orang. Ia langsung pergi ke kamar dan menemuinya lagi esok pagi untuk mengajaknya menyelesaikan satu permainan yang bisa membuat hatinya menang.
Sifat kecil Jingga masih sama ketika dirinya sudah dewasa. “Apakah kau mencintaiku, Rama? Jika ia, menikahlah dengannya. Aku tak bisa melawan takdir Tuhan. Dunia kita berbeda, Rama. Kita tidak akan pernah bersatu,” ucap Jingga seraya meninggalkannya seorang diri di tepi jalan yang disaksikan puluhan pasang mata.
Kala Jingga meninggalkannya di Bandara Ngurah Rai tiga bulan lalu, gadis itu memang menangis sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Tapi dia mengumpat, menyembunyikan rasa kecewa dan kesedihan hatinya agar terlihat tegar dan tidak terkesan cengeng di matanya. Kesalahan terbesar Rama adalah mengapa ia menuruti permintaan gadis itu hanya karena ingin Jingga kembali ke pelukannya dan berubah pikiran? Ternyata ia tetap pada pendiriannya dan tak sedikitpun menengok ke belakang. Saat itu kaki Rama bergetar hebat, menyesal mengatakan dirinya akan menerima perjodohan dengan Kilka. Livi benar, Jingga memang keras kepala.
Rama merenung lagi. Sedikit mengurangi kecepatannya di tol Jagarawi. Ia sama sekali tidak ingat kalau Jingga pernah mengisi masa lalunya dengan tawa bersama Azka. Kenapa ia tidak terpikirkan untuk bertanya kabar Jingga pada teman lelakinya itu? Apa yang ia lakukan semenjak perpisahan tiga bulan lalu? Apakah gadis itu baik-baik saja? Kenapa pula ia tidak pernah mau menghubunginya lagi? Rama mengutuk dirinya sendiri.
**
Bel apartemen Jingga sudah sepuluh kali ditekan. Namun tak ada jawaban apapun dari dalam. Rama yang putus asa, segera mengunjungi rumah Livi yang berada di Komplek Perumahan Pondok Indah, sepuluh menit dari Apartemen Permata Hijau.
“Jingga tidak ada di sini,” kata Livi sambil memegangi daun pintu.
“Lantas dia kemana?” Rama mengusap wajah.
“Aku tidak tahu.” Livi permisi dan menutup pintu. Sebenarnya dia tahu kemana Jingga pergi. Tapi tidak ingin mempertemukan keduanya lagi. Sudah cukup Jingga tersakiti. Biarkan dia menetralkan perasaannya di tempat yang sulit terjangkau. Livi sendiri tidak tahu persis dimana keberadaan tempat itu. Karena Jingga tidak memberitahukan detil posisinya.
Kaki Rama tak beranjak sesentipun dari ambang pintu rumah Livi. Ia berharap Livi akan berubah pikiran dan memberitahukan dimana keberadaan Jingga. Satu jam menunggu, kaki Rama mulai pegal. Ia duduk lesehan di teras. Hingga matahari condong ke barat, suami Livi, Juna, yang dari luar kota bertanya sedang menunggu siapa.
“Bisakah kau membujuk Livi untuk membocorkan dimana keberadaan Jingga? Aku yakin dia tahu tentang gadisku. Aku tidak akan pulang sebelum mengetahui Jingga dimana.” Rama bersikekeh akan tetap tinggal di teras itu sampai Livi mau berbaik hati memberitahunya.
Sebagai sesama lelaki, Juna iba terhadap Rama. Ia akan membantu semampunya. Livi sangat menyayangi Jingga seperti saudara kandungnya sendiri. Basa-basi, Juna membuka percakapan dengan istrinya, “Memangnya Jingga ada di mana sekarang?”
“Jangan memancingku, Juna. Aku tidak tahu dan tidak akan memberitahu.” Livi duduk membelakangi suaminya dengan tangan bersedekap.
“Tadi aku berbincang sebentar dengan Rama. Dia menyetir mobil sendiri, menempuh jarak jauh dari Denpasar ke Jakarta hanya untuk menemui Jingga. Aku melihat casing mobil depannya penyok karena menabrak truk yang sedang parkir. Kepala dan tangannya diperban. Tadi kulihat kakinya memar. Mungkin ia baru saja mengalami kecelakaan. Wajahnya pucat sekali. Kau tidak memberikannya air minum, Livi?”
“Dia itu sudah mantan, bukan kekasih Jingga lagi. Rama lebih memilih menikah dengan wanita satu kasta pilihan kedua orangtuanya,” protes Livi sewot.
“Bukankah Jingga yang menyuruh Rama menikahinya? Emm, tadi Rama sempat bilang padaku bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya, Liv. Beri Rama kesempatan sekali lagi. Dia masih mencintai Jingga.” Juna memasang wajah melas, berharap Livi percaya dengan ucapannya.
Livi menoleh. Tertawa getir. “Darimana kau tahu dia masih mencintai Jingga? Sejak kapan kamu bisa meramal seseorang, Juna?”
“Aku sedang tidak bergurau, Livi. Matanya tidak bisa berbohong,” Juna menarik napas. Susah sekali berargumen dengan Livi. “Baiklah, aku akan menyuruhnya pulang, karena dia tidak akan pergi dari sini kalau kau belum memberitahu dimana Jingga berada.”
Atas desakan Juna, Livi menemui Rama dan mengatakan, “Aku juga tidak tahu kemana Jingga pergi, Rama. Sudah hampir seminggu dia mengambil cuti kerja. Mungkin saja dia pulang ke Bandung, tempat ibundanya. Entahlah, aku sungguh tidak tahu kemana dia pergi. Sekarang masuklah ke rumah kami, kau terlihat lelah sekali,” kata Livi lirih.
Rama mengucapkan terimakasih pada Livi dan Juna yang telah berbaik hati memberikan sepotong informasi penting tentang Jingga. Ia harus mengakhiri perasaannya yang gusar. Rasa lelahnya seakan terkalahkan dengan rasa senang mendapatkan titik terang. Perjalanan tiga hari dua malam menggunakan mobil, dengan hambatan yang hampir memakan nyawanya, Rama bersemangat menjemput Jingga di Bandung.
Rama berkali-kali mengusap wajah, berusaha mengatur napasnya senormal mungkin. Dua jam lebih ia mengendarai mobil pribadinya menjelajahi desa kelahiran Jingga, sayang seribu sayang, peluhnya tak terbayar. Gadis itu tak ada di sana. Dengan wajah lesu, ia pamit pada ibunda Jingga dan kembali ke Jakarta. Mungkin tiduran di kamar apartemen yang lama tak dihuninya, sedikit mengurangi keresahan hati.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tidak karuan. Mendengar kekasih hatinya akan menikah dengan laki-laki lain, dadanya kian sesak. Sepertinya aliran darahnya tersumbat. Ia memikirkan bagaimana perasaan Jingga saat dirinya menikah dengan Kilka. Ia sendiri merasakan perihnya ditinggal menikah oleh mantan tunangannya tiga tahun silam. Dunia bagai berhenti di tempat. Dan dia harus merasakan lagi untuk yang kedua kalinya.
Seekor kucing hitam melintas di jalanan sepi. Membuat Rama mengerem dadakan mobilnya yang melaju cukup kencang. Untung saja kucing jelek itu berhasil meloloskan diri. Ia mengelus dada dan kembali fokus melajukan kendaraan roda empatnya. Peristiwa beberapa detik lalu mengantarkan ingatannya pada saat pertama kali bertemu dengan Jingga. Ia nyaris menabrak Livi. Di bawah hujan itu, ia memayungi Jingga dan menahan tangannya agar tidak jatuh tersandung selang. Getaran aneh menjalar ke seluruh tubuh saat menyentuh tangan halus Jingga. Dan saat itulah ia bisa memandang anggun wajah Jingga.
Sudah pukul 11 malam. Kini Rama telah memasuki kawasan Jakarta Barat. Dimana jalan ini dulu ia lewati bersama dengan Jingga. Hatinya kembali gundah gulana. Dimanakah gadis bunglonnya berada? Mengapa ponselnya belum juga aktif? Apakah dia sedang tidak ingin diganggu? Seribu pertanyaan tak terjawab melayang-layang di otaknya yang membuat dadanya semakin sesak. Ia mencoba mengalihkan pikirannya ke zebra cross agar tidak kacau. Keliru, justru di zebra cross itu, dia pernah menarik kasar lengan Jingga menghindari kendaraan roda dua dan empat yang sudah marah-marah karena keduanya mengganggu lampu yang sudah berwarna hijau.
Sesampai di apartemen, Rama menjatuhkan tubuhnya ke kasur ekstra besar, mengistirahatkan mata dan hatinya yang lelah. Seluruh isi apartemennya masih utuh, kecuali beberapa lukisan yang sengaja dipindahkan ke Denpasar untuk proses pameran. Ruangan apartemen itu masih tertata rapi dan bersih. Pihak kebersihan dan keamanan apartemen, selalu merawat dan menjaganya.
Rama teringat Azka. Ia harus mencari tahu Jingga lewat sahabat masa kecilnya itu. Bukankah Azka teman laki-laki terbaik Jingga?
“Azka?”
“Hay Sob, tadi dia bersamaku,”
“Dia siapa?”
“Sahabat masa kecil kita. Perempuan yang sedang menangis di pinggir pantai menghadap Gunung Agung. Merindukan kekasihnya yang menikah dengan perempuan hasil perjodohan kedua orangtuanya,”
“Apakah dia Jingga Anggunella? Kalau iya, ajaklah dia pulang ke Jakarta. Aku menunggunya di sini,”
“Besok aku akan membujuknya,”
“Terimakasih. Semestinya aku menghubungimu lebih awal,”
“Maaf, aku sengaja tak memberitahumu. Aku ingin kau yang mencaritahunya sendiri,”
“Aku mengerti,” Rama mengakhiri pembicaraan di telepon.
Azka memandangi punggung Anggun yang melengkung mendekap lututnya di pasir putih. Sungguh kelam nasib anak gadis itu.
Puing 18 #Jingga #NovelSeries
Honda Jazz diparkirkanya di basemant dekat lift. Usai melakukan penerbangan Lombok-Jakarta selama tiga hari, Jingga merasa sedikit lelah. Ia ingin buru-buru tiba di tempat tidur. Namun saat hendak berbelok menuju lift, kedua matanya terpatri pada plat mobil Rama yang bersisian dengan mobilnya. Jingga menggelengkan kepala. Mungkin itu hanya halusinasi saja karena terlalu sering memikirkan mantan kekasihnya.
Setibanya di apartemen, Jingga langsung merebahkan tubuhnya ke springbed. Beberapa hari terakhir, ia susah tidur. Tanpa membuka jaket dan syal yang membungkus tubuh langsingnya, Jingga terpejam hingga langit menutup tirai siang. Ini merupakan tidur terlelapnya pasca tiga bulan berpisah dengan Rama.
Di kamar nomor 75, Rama terbangun mendengar sms yang masuk dari operator seluler. Rajin sekali pihak operator mengirimkannya pesan. Ia membuka matanya menatap langit-langit kamar. Nyawanya belum sepenuhya kumpul. Ia menguap, tidurnya lumayan lelap. Ia kegerahan karena lupa tidak menyalakan AC. Di kamar mandi itu, ia menyalakan shower, membiarkan dingin air membasuh hatinya yang bergejolak. Ingatannya terus melayang memikirkan dimana gadis bunglonnya berada. Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana kolor pendek, Rama duduk di balkon.
Di luar langit sudah gelap. Purnama hari ke tiga di bulan Agustus sedang berbincang dengan bintang di bawahnya. Jingga suka sekali menyaksikan bulan dan gemintang. Ia berharap gadis itu akan melakukan hal yang sama, di bawah langit yang sama, saling mengenang. Ia melirik ke kanan, menghayal Jingga melakukan hal serupa, yakni memegang pagar besi, menengadahkan wajahnya ke langit lepas. Tersenyum. Lalu Rama kembali menatap purnama, melihat senyum Jingga yang manis tergambar jelas di sana. Matanya yang sayu membuat dada Rama sesak. Purnama dan gemintang lalu kompak menertawai kekalutan hatinya yang tercabik-cabik. Rama menarik napas.
Diluar dugaan, pintu balkon tetangga sebelah kanan apartemennya terbuka. Keluarlah seorang perempuan yang sibuk menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Dia hanya mengenakan tanktop putih yang dibalut jubah hitam panjang dan celana pendek berwarna gelap. Betapa terkejutnya Rama saat menyadari gadis itu adalah seseorang yang beberapa hari terakhir membuatnya kelimpungan. Gadis yang menghilang dua puluh tiga tahun tiga bulan dalam kehidupannya.
Gadis itu memegangi pagar dan menengadahkan wajahnya ke atas. Persis apa yang dilakukannya saat ini. Rama tersenyum memperhatikan tingkah Jingga dalam kegelapan. Ia ingin sekali menyapanya, namun bingung harus berbuat apa. Rasanya gugup dan gemetar.
Jingga kesulitan menguncir rambutnya akibat malas menyisir. Ia baru saja menuntaskan bermain busa di bath tub setelah tertidur dua jam di kasur empuk. Dua jam yang menurutnya sangat membantu memulihkan tenga dan pikirannya. Ia mengedipkan mata saat melihat bayangan laki-laki yang mirip dengan Rama memegangi pagar. Sama seperti gayanya saat ini. Lagi-lagi pikiranya kacau. Semilir angin malam mengucapkan selamat malam. Bayangan Rama yang berdiri memegangi pagar, kini memandang dirinya dan tersenyum. Jingga bergidik dan langsung masuk ke apartemennya. Kenapa jadi horror begini, pikirnya.
Rama memandangi punggung Jingga memasuki kamar. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia diam tak berekspresi? Apakah dia membenci kehadirannya? Atau sengaja menjaga jarak karena lusa akan melangsungkan pernikahan dengan orang lain? Gumamnya dalam hati.
Pintu balkon Jingga tertutup kembali. Rama ingin sekali menyapa gadis itu untuk yang terakhir kalinya. Namun sekujur tubuhnya gemetar. Rasa bersalah terus menghantuinya. Ia merasa menjadi laki-laki pecundang dan pengecut.
Jarum jam terus berputar. Tiga puluh satu menit tiduran di kamar, Jingga gelisah memikirkan bayangan Rama yang terus menjelma seperti hantu. Ia menyalakan TV LED. Lagi-lagi tayangan tentang dunia politik. Ia suka pusing menonton tayangan tersebut. Digantinya channel yang lebih menarik. Sepasang kekasih sedang berjalan bersisian di taman serba hijau. Sang pria menyuapi es krim ke mulut wanitanya dengan candaan yang membuat hidung wanita itu belepotan. Kenapa melihat pasangan lain bahagia sekali hidupnya? Kenapa dia sendiri tidak? Seketika hati Jingga tersayat perih. Dimatikannya TV LED tersebut. Ia mengambil kunci mobil untuk menikmati suasana malam dari kepiluan hatinya.
**
Rama memandangi lukisan wajah Jingga yang penuh dengan solasi bening. Robekan kertas membuat bagian itu semakin rumit. Ia sungguh merindukan gadis yang ada dalam lukisan itu, mendekap tubuhnya yang hangat. Dadanya panas mengingat sebentar lagi ia akan kehilangan gadisnya untuk selama-lamanya. Bagaimanapun juga, ia harus menemui Jingga sebelum pernikahan itu berlangsung. Ia hanya ingin meminta maaf atas kebodohannya menerima tantangan konyol Jingga, menikahi Kilka. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Rama bergegas keluar apartemen untuk mencari angin.
Sandal teplek kesayangan sudah menempel di kaki mungil Jingga. Siap menemani sejauh apapun gadis itu pergi. Kedua kakinya gemetar saat melihat halusinasi mantan kekasihnya berdiri di sampingnya. Jingga melawan rasa takutnya dengan menyentuh wajah Rama yang berdiri di hadapannya. Betapa ia terkejut saat jemarinya berhasil mendarat di pipi itu.
“Akhirnya kamu pulang juga. Aku mencarimu kemana-mana,” Rama mendekati gadis yang mencepol sembarang rambutnya ketika sedang mengunci pintu.
“Benarkah ini kamu, Rama? Kupikir kaulah yang tidak akan pernah pulang,” Jingga mematung tidak percaya.
Suasana menjadi kikuk. Rama serba salah harus berbuat apa. Jingga menggigit bibir bawahnya, bingung. Ternyata mobil yang terparkir di sebelah Jazznya benar milik Rama. Juga bayangan hitam laki-laki bertubuh tinggi tegap yang memegangi pagar di balkon, menengadahkan wajah ke langit dan memandangnya dalam kegelapan adalah sungguhan Rama.
“Aku tidak bisa tidur. Maukah kau menemaniku jalan-jalan?” Patah-patah, Rama mencoba mengawali percakapan.
Tanpa menjawab dan memperlihatkan bahasa tubuh, Jingga mengikuti langkah Rama dari belakang. Keduanya sama-sama diam. Jingga tidak menyangka pertemuannya dengan Rama terjadi lagi. Hatinya bertanya-tanya; apakah Rama ke Jakarta dalam rangka menghadiri seminar lukisan? Atau berbulan madu bersama Kilka? Namun lidahnya terasa kelu untuk bertanya banyak hal. Rasanya dia sudah tidak punya hak apapun tentang laki-laki yang kini sah menjadi milik suami orang, baik menurut hukum maupun agama.
Jantung Rama berdegup cepat. Perasaan senang sekaligus sedih meliputi segenap perasaannya. Ia ingin sekali menggenggam tangan Jingga yang halus, tapi apakah dia masih boleh menyentuh calon pengantin yang dua hari lagi menikah? Dadanya benar-benar sesak.
Jingga memasang sabuk pengaman di bahunya. Ia masih belum bersuara bertanya apapun. Ia melirik sekali lagi wajah Rama yang serba salah. Sama seperti dirinya yang serba salah.
“Bagaimana kabarmu?”
Keduanya justru melontarkan kalimat yang sama. Meski intonasinya berbeda. Untuk mengurangi rasa groginya, Rama melajukan mobil keluar dari basemant. Seemntara Jingga menatap ke luar jendela. Jalanan ibukota tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi juga. Cukup lengang. Mengingat malam ini adalah malam minggu pukul sebelas.
Rama melajukan mobilnya sangat pelan. Ia tidak tahu mau kemana. Namun berada di dekat Jingga seakan waktu berhenti berputar. Ia ingin menghabiskan waktunya hanya bersama gadis itu.
Deru mobil dan kibasan angin mengusir senyap. Lampu-lampu jalanan memberikan efek tenteram. Keduanya masih diam. Rasanya kaku sekali untuk memulai percakapan.
“Bagaimana kabar Kilka?”
“Kamu tidak menanyakan kabarku?”
Jingga menggeleng. “Kamu terlihat baik-baik saja, jadi aku tak perlu bertanya,” umpatnya dalam hati.
“Aku sudah bercerai dengannya sebulan yang lalu.” Rama melirik Jingga yang menatapnya penasaran.
“…”
“Dari awal aku katakan padamu bahwa aku tidak mencintai dia, Jingga. Tapi kau memaksaku. Dan kamulah yang menang karena aku tidak berhasil mencintai dia seperti yang kamu inginkan.”
“Kita tidak mungkin bersatu. Dunia kita berbeda, Rama.” Jingga merasa senang mendengar perceraian Rama, sekaligus sedih karena tak bisa melawan takdir untuk hidup bersama laki-laki itu.
“Di dunia ini tidak ada yang mustahil, Jingga.”
Jingga memandang ke luar jendela. Daun-daun yang gugur tergilis roda menimbulkan suara gemeretas. Sesungguhnya ia mulai terbiasa tanpa Rama. Tapi kenapa laki-laki itu harus muncul kembali dalam kehidupannya? Hatinya sungguh rapuh menghadapi semua ini.
Rama memperhatikan sikap Jingga yang berubah dingin. Sifat bunglonnya kembali diperlihatkan. Mungkin dia sedang menjaga jarak atas pernihakannya minggu depan, pikirnya. Langit ibukota tampak redup oleh cahaya lampu yang temeram. Gedung-gedung tinggi menjulang laksana robot persegi panjang yang mengeluarkan cahaya warna-warni. Rama menepikan mobilnya di seputaran Bundaran Hotel Indonesia. Dadanya terasa semakin sesak. Ia butuh oksigen tambahan untuk melancarkan pernapasannya yang tersumbat. Di sepanjang trotoar, sepasang muda-mudi berceloteh heboh. Tidak banyak. Hanya satu-dua.
Merasakan ada yang ganjil, Jingga menoleh ke arah Rama, bertanya apakah mesin mobilnya bermasalah? Atau bannya bocor? Rama menggeleng. Ia mematikan mesinnya tanpa berkata apapun.
“Lantas kenapa kita berhenti di sini?” Jingga masih menatap mata Rama yang terlihat lelah. “Kamu mengantuk, Ram? Sini, biar aku yang menggantikan menyetir mobilnya.” Ia berusaha menggeser duduknya.
Rama menggeleng. Menolak Jingga menggantikan dirinya menyetir. Ia membuka jendela mobil, membiarkan semilir angin menyusup masuk. Menggantikan udara pengap dalam jiwanya yang gelap.
“Seminggu yang lalu, bapak masuk ICU. Saat yang bersamaan, aku bertemu dengan Azka. Dia memberikanku foto ini,” Rama mengubek-ubek laci mobil dan menyalakan lampu.
Jingga bengong tidak mengerti. Dahinya berkerut.
“Bila kau bertemu dengan gadis imut ini, katakan padanya bahwa aku amat sangat menyesal. Berpisah dengannya berpuluh-puluh tahun, membuatku rindu. Dan saat mengetahui ia akan menikah dengan orang lain, hatiku bertambah pilu. Aku teramat sangat merindukannya.” Rama menahan air matanya agar tidak tumpah.
Mata Jingga berkaca-kaca.
“Aku pernah hampir gila ditinggal menikah oleh tunanganku tiga tahun silam, dan aku jahat sekali meninggalkanmu menikah dengan orang lain. Sekarang aku harus merasakan lagi rasanya kehilangan ditinggal pergi olehmu. Aku berhak mendapatkan balasan setimpal,” ucap Rama sambil mengusap wajah.
Napas Jingga seperti tersumbat. Mengapa dunia ini sempit sekali, pikirnya dalam hati. Ia spontan menggenggam tangan Rama dan berkata, “Aku tidak jadi menikah,” katanya Lirih.
Mata Rama memicing. Apa dia tidak salah dengar?
“Saat aku dan Heri sedang memilih gaun pengantin, mantan istri Heri meneleponya untuk meminta rujuk. Aku tidak tega. Perempuan itu lebih membutuhkan Heri sebagai sosok ayah dari anakya. Lagipula aku tidak punya perasaan apapun pada dia. Aku hanya sedang belajar mencintainya, mengingat umurku yang semakin tua.”
Jingga membuka pintu mobil dan berjalan mengitari Bundaran HI. Ia tak peduli jika Rama meninggalkannya seorang diri di sana. Banyak Taksi yang berkeliaran di sini. Ia hanya tidak kuat menahan bendungan air matanya yang meluber. Ia benar-benar menangis malam ini. Menangisi kepiluan nasibnya.
Rama membiarkan Jingga berjalan di seputaran air mancur. Namun kaki gadis itu melangkah terlalu jauh dan tak kembali. Guratan mata sayu dan wajah sendu Jingga membuat hatinya menjerit. Gadis itu selalu punya cara sendiri untuk menutupi kesedihannya.
Rama berlari menyusul langkah kaki Jingga yang semakin jauh. Dia tak mau kehilangan gadis itu lagi. Tidak mau. Dengan napas yang tersengal, ia menarik lengan Jingga secara paksa, “Kau hendak kemana, Jingga? Kenapa kau meninggalkanku?”
“Aku sedang jalan-jalan malam, bukankah tadi kau yang mengajakku? Kukira kau mengikuti di belakang, dan kupikir kau yang justru meninggalkanku,” Jingga mengangkat bahu, matanya sembab. Tatapannya datar tak berekspresi. Wajahnya kian sendu. Rama yang merasa bersalah, menarik kencang tangan Jingga, menyebabkan tubuh mungil gadis itu jatuh ke pelukannya.
“Jangan pergi lagi, kumohon…” Rama menangkap tubuh Jingga yang terjatuh ke pelukannya. Mencium aroma wangi tubuh Jingga, seperti mencium sehektar taman bunga. Wangi harum yang menenangkan.
Dada Jingga bagaikan terjepit saat Rama menariknya kencang. Ia bisa mencium kembali aroma maskulin dan hangatnya tubuh Rama. Rasanya damai berada dalam pelukan laki-laki itu. Jingga semakin pilu. Air matanya kembali basah. Ia tak bisa menutupi kesedihannya lagi. Hanya balas pelukan yang bisa ia lakukan.
“Aku tak akan membiarkanmu berjalan sendirian. Aku akan selalu di sampingmu, memelukmu, menghangatkan saat kau kedinginan, dan mendinginkan saat kau merasa panas. Jingga Anggunella, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Tak peduli dengan semua perbedaan kita. Aku akan selalu bersamamu,”
Jingga tersedu sedan mendengar ucapan Rama. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Rama yang bidang, memukulnya kencang-kencang.
“Dan aku… Aku tak akan berpura-pura lagi tidak membutuhkanmu, Dewa Gede Ramayoga…”
Rama menangkup wajah Jingga yang sendu. Disaksikan purnama, gemintang, dan terang lampu-lampu kota. Dua manusia itu tampak kecil karena dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi di sekitarnya. Keduanya saling menertawakan kegetiran masing-masing sambil berderai air mata.
Sejauh ini, hanya Rama yang berhasil meluluhkan keras hatinya, mencairkan ego dan membuatnya tertawa. Akankah ia harus membuka lagi hatinya untuk laki-laki yang saat ini sedang terisak memeluknya? Rupanya laki-laki juga bisa menangis, pikirnya.
Jingga memegang lengan atas Rama yang berotot. Ia menahan rasa harunya yang terbendung di pelupuk mata. Lucu sekali hidup ini. Selama ini hatinya mengambang di lautan lepas. Terombang-ambing ombak tapi tak jua tenggelam. Barangkali hidup ini ibarat pasir di pesisir laut. Meski berkali-kali terhantam derasnya arus dan terinjak, mereka tetap menerima. Walau kadang hantamannya keras dan menyisakan luka. Gadis bunglon itu masih berlinang air mata.
Kalau cinta itu misterius, Jingga percaya. Karena cinta bisa merasuki siapa saja yang dikehendakinya. Sifatnya bisa lembut, bisa juga kejam. Ada manusia yang hidup dengan banyak cinta. Ada juga yang miskin cinta. Di pelukan Rama, Jingga mengakui bahwa dirinya membutuhkan Rama lebih dari apapun.
Dan dibalik kisah memilukan ini, selalu ada tangan-tangan lain yang berperan. Dan Azka lah orang dibalik semua ini. Azka yang mengumpulkan puing-puing masa lalu Jingga dan Rama laksana puzzle yang terpisah dan menyambungkannya kembali. Bertahun-tahun lamanya Azka menyembunyikan Anggun dari Rama, menyamarkan Dewa dari Jingga, dan bertahun-tahun itulah ia menjaga rahasia dua sahabatnya, lalu mempersatukannya.
***
Tiga tahun yang lalu, saat Rama terpuruk, Azka mereferensikan kamar apartemen nomor 75 sebagai tempat persembunyiannya dari sakitnya kata ‘patah hati’. Satu nomor yang terhalang nomor 76 dengan kamar Jingga. Mungkin semua ini kebetulan, atau bisa jadi disengaja.
Yang jelas, Azka mengetahui nomor itu dari Jingga. Tanpa sedikitpun Jingga curiga bahwa Azka berniat menyelamatkan jiwa sahabatnya yang saat itu gundah gulana karena putus cinta dan gagalnya membina rumahtangga. Jingga dan Rama pernah mengalami pahitnya mengenyam pendidikan tentang cinta. Walaupun jika kau berani bertaruh, taka da dunia pendidikan tentang sesuatu kasat mata yang membuat manusia buta hati, buta mata.
Setibanya di apartemen, Jingga langsung merebahkan tubuhnya ke springbed. Beberapa hari terakhir, ia susah tidur. Tanpa membuka jaket dan syal yang membungkus tubuh langsingnya, Jingga terpejam hingga langit menutup tirai siang. Ini merupakan tidur terlelapnya pasca tiga bulan berpisah dengan Rama.
Di kamar nomor 75, Rama terbangun mendengar sms yang masuk dari operator seluler. Rajin sekali pihak operator mengirimkannya pesan. Ia membuka matanya menatap langit-langit kamar. Nyawanya belum sepenuhya kumpul. Ia menguap, tidurnya lumayan lelap. Ia kegerahan karena lupa tidak menyalakan AC. Di kamar mandi itu, ia menyalakan shower, membiarkan dingin air membasuh hatinya yang bergejolak. Ingatannya terus melayang memikirkan dimana gadis bunglonnya berada. Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana kolor pendek, Rama duduk di balkon.
Di luar langit sudah gelap. Purnama hari ke tiga di bulan Agustus sedang berbincang dengan bintang di bawahnya. Jingga suka sekali menyaksikan bulan dan gemintang. Ia berharap gadis itu akan melakukan hal yang sama, di bawah langit yang sama, saling mengenang. Ia melirik ke kanan, menghayal Jingga melakukan hal serupa, yakni memegang pagar besi, menengadahkan wajahnya ke langit lepas. Tersenyum. Lalu Rama kembali menatap purnama, melihat senyum Jingga yang manis tergambar jelas di sana. Matanya yang sayu membuat dada Rama sesak. Purnama dan gemintang lalu kompak menertawai kekalutan hatinya yang tercabik-cabik. Rama menarik napas.
Diluar dugaan, pintu balkon tetangga sebelah kanan apartemennya terbuka. Keluarlah seorang perempuan yang sibuk menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Dia hanya mengenakan tanktop putih yang dibalut jubah hitam panjang dan celana pendek berwarna gelap. Betapa terkejutnya Rama saat menyadari gadis itu adalah seseorang yang beberapa hari terakhir membuatnya kelimpungan. Gadis yang menghilang dua puluh tiga tahun tiga bulan dalam kehidupannya.
Gadis itu memegangi pagar dan menengadahkan wajahnya ke atas. Persis apa yang dilakukannya saat ini. Rama tersenyum memperhatikan tingkah Jingga dalam kegelapan. Ia ingin sekali menyapanya, namun bingung harus berbuat apa. Rasanya gugup dan gemetar.
Jingga kesulitan menguncir rambutnya akibat malas menyisir. Ia baru saja menuntaskan bermain busa di bath tub setelah tertidur dua jam di kasur empuk. Dua jam yang menurutnya sangat membantu memulihkan tenga dan pikirannya. Ia mengedipkan mata saat melihat bayangan laki-laki yang mirip dengan Rama memegangi pagar. Sama seperti gayanya saat ini. Lagi-lagi pikiranya kacau. Semilir angin malam mengucapkan selamat malam. Bayangan Rama yang berdiri memegangi pagar, kini memandang dirinya dan tersenyum. Jingga bergidik dan langsung masuk ke apartemennya. Kenapa jadi horror begini, pikirnya.
Rama memandangi punggung Jingga memasuki kamar. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia diam tak berekspresi? Apakah dia membenci kehadirannya? Atau sengaja menjaga jarak karena lusa akan melangsungkan pernikahan dengan orang lain? Gumamnya dalam hati.
Pintu balkon Jingga tertutup kembali. Rama ingin sekali menyapa gadis itu untuk yang terakhir kalinya. Namun sekujur tubuhnya gemetar. Rasa bersalah terus menghantuinya. Ia merasa menjadi laki-laki pecundang dan pengecut.
Jarum jam terus berputar. Tiga puluh satu menit tiduran di kamar, Jingga gelisah memikirkan bayangan Rama yang terus menjelma seperti hantu. Ia menyalakan TV LED. Lagi-lagi tayangan tentang dunia politik. Ia suka pusing menonton tayangan tersebut. Digantinya channel yang lebih menarik. Sepasang kekasih sedang berjalan bersisian di taman serba hijau. Sang pria menyuapi es krim ke mulut wanitanya dengan candaan yang membuat hidung wanita itu belepotan. Kenapa melihat pasangan lain bahagia sekali hidupnya? Kenapa dia sendiri tidak? Seketika hati Jingga tersayat perih. Dimatikannya TV LED tersebut. Ia mengambil kunci mobil untuk menikmati suasana malam dari kepiluan hatinya.
**
Rama memandangi lukisan wajah Jingga yang penuh dengan solasi bening. Robekan kertas membuat bagian itu semakin rumit. Ia sungguh merindukan gadis yang ada dalam lukisan itu, mendekap tubuhnya yang hangat. Dadanya panas mengingat sebentar lagi ia akan kehilangan gadisnya untuk selama-lamanya. Bagaimanapun juga, ia harus menemui Jingga sebelum pernikahan itu berlangsung. Ia hanya ingin meminta maaf atas kebodohannya menerima tantangan konyol Jingga, menikahi Kilka. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Rama bergegas keluar apartemen untuk mencari angin.
Sandal teplek kesayangan sudah menempel di kaki mungil Jingga. Siap menemani sejauh apapun gadis itu pergi. Kedua kakinya gemetar saat melihat halusinasi mantan kekasihnya berdiri di sampingnya. Jingga melawan rasa takutnya dengan menyentuh wajah Rama yang berdiri di hadapannya. Betapa ia terkejut saat jemarinya berhasil mendarat di pipi itu.
“Akhirnya kamu pulang juga. Aku mencarimu kemana-mana,” Rama mendekati gadis yang mencepol sembarang rambutnya ketika sedang mengunci pintu.
“Benarkah ini kamu, Rama? Kupikir kaulah yang tidak akan pernah pulang,” Jingga mematung tidak percaya.
Suasana menjadi kikuk. Rama serba salah harus berbuat apa. Jingga menggigit bibir bawahnya, bingung. Ternyata mobil yang terparkir di sebelah Jazznya benar milik Rama. Juga bayangan hitam laki-laki bertubuh tinggi tegap yang memegangi pagar di balkon, menengadahkan wajah ke langit dan memandangnya dalam kegelapan adalah sungguhan Rama.
“Aku tidak bisa tidur. Maukah kau menemaniku jalan-jalan?” Patah-patah, Rama mencoba mengawali percakapan.
Tanpa menjawab dan memperlihatkan bahasa tubuh, Jingga mengikuti langkah Rama dari belakang. Keduanya sama-sama diam. Jingga tidak menyangka pertemuannya dengan Rama terjadi lagi. Hatinya bertanya-tanya; apakah Rama ke Jakarta dalam rangka menghadiri seminar lukisan? Atau berbulan madu bersama Kilka? Namun lidahnya terasa kelu untuk bertanya banyak hal. Rasanya dia sudah tidak punya hak apapun tentang laki-laki yang kini sah menjadi milik suami orang, baik menurut hukum maupun agama.
Jantung Rama berdegup cepat. Perasaan senang sekaligus sedih meliputi segenap perasaannya. Ia ingin sekali menggenggam tangan Jingga yang halus, tapi apakah dia masih boleh menyentuh calon pengantin yang dua hari lagi menikah? Dadanya benar-benar sesak.
Jingga memasang sabuk pengaman di bahunya. Ia masih belum bersuara bertanya apapun. Ia melirik sekali lagi wajah Rama yang serba salah. Sama seperti dirinya yang serba salah.
“Bagaimana kabarmu?”
Keduanya justru melontarkan kalimat yang sama. Meski intonasinya berbeda. Untuk mengurangi rasa groginya, Rama melajukan mobil keluar dari basemant. Seemntara Jingga menatap ke luar jendela. Jalanan ibukota tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi juga. Cukup lengang. Mengingat malam ini adalah malam minggu pukul sebelas.
Rama melajukan mobilnya sangat pelan. Ia tidak tahu mau kemana. Namun berada di dekat Jingga seakan waktu berhenti berputar. Ia ingin menghabiskan waktunya hanya bersama gadis itu.
Deru mobil dan kibasan angin mengusir senyap. Lampu-lampu jalanan memberikan efek tenteram. Keduanya masih diam. Rasanya kaku sekali untuk memulai percakapan.
“Bagaimana kabar Kilka?”
“Kamu tidak menanyakan kabarku?”
Jingga menggeleng. “Kamu terlihat baik-baik saja, jadi aku tak perlu bertanya,” umpatnya dalam hati.
“Aku sudah bercerai dengannya sebulan yang lalu.” Rama melirik Jingga yang menatapnya penasaran.
“…”
“Dari awal aku katakan padamu bahwa aku tidak mencintai dia, Jingga. Tapi kau memaksaku. Dan kamulah yang menang karena aku tidak berhasil mencintai dia seperti yang kamu inginkan.”
“Kita tidak mungkin bersatu. Dunia kita berbeda, Rama.” Jingga merasa senang mendengar perceraian Rama, sekaligus sedih karena tak bisa melawan takdir untuk hidup bersama laki-laki itu.
“Di dunia ini tidak ada yang mustahil, Jingga.”
Jingga memandang ke luar jendela. Daun-daun yang gugur tergilis roda menimbulkan suara gemeretas. Sesungguhnya ia mulai terbiasa tanpa Rama. Tapi kenapa laki-laki itu harus muncul kembali dalam kehidupannya? Hatinya sungguh rapuh menghadapi semua ini.
Rama memperhatikan sikap Jingga yang berubah dingin. Sifat bunglonnya kembali diperlihatkan. Mungkin dia sedang menjaga jarak atas pernihakannya minggu depan, pikirnya. Langit ibukota tampak redup oleh cahaya lampu yang temeram. Gedung-gedung tinggi menjulang laksana robot persegi panjang yang mengeluarkan cahaya warna-warni. Rama menepikan mobilnya di seputaran Bundaran Hotel Indonesia. Dadanya terasa semakin sesak. Ia butuh oksigen tambahan untuk melancarkan pernapasannya yang tersumbat. Di sepanjang trotoar, sepasang muda-mudi berceloteh heboh. Tidak banyak. Hanya satu-dua.
Merasakan ada yang ganjil, Jingga menoleh ke arah Rama, bertanya apakah mesin mobilnya bermasalah? Atau bannya bocor? Rama menggeleng. Ia mematikan mesinnya tanpa berkata apapun.
“Lantas kenapa kita berhenti di sini?” Jingga masih menatap mata Rama yang terlihat lelah. “Kamu mengantuk, Ram? Sini, biar aku yang menggantikan menyetir mobilnya.” Ia berusaha menggeser duduknya.
Rama menggeleng. Menolak Jingga menggantikan dirinya menyetir. Ia membuka jendela mobil, membiarkan semilir angin menyusup masuk. Menggantikan udara pengap dalam jiwanya yang gelap.
“Seminggu yang lalu, bapak masuk ICU. Saat yang bersamaan, aku bertemu dengan Azka. Dia memberikanku foto ini,” Rama mengubek-ubek laci mobil dan menyalakan lampu.
Jingga bengong tidak mengerti. Dahinya berkerut.
“Bila kau bertemu dengan gadis imut ini, katakan padanya bahwa aku amat sangat menyesal. Berpisah dengannya berpuluh-puluh tahun, membuatku rindu. Dan saat mengetahui ia akan menikah dengan orang lain, hatiku bertambah pilu. Aku teramat sangat merindukannya.” Rama menahan air matanya agar tidak tumpah.
Mata Jingga berkaca-kaca.
“Aku pernah hampir gila ditinggal menikah oleh tunanganku tiga tahun silam, dan aku jahat sekali meninggalkanmu menikah dengan orang lain. Sekarang aku harus merasakan lagi rasanya kehilangan ditinggal pergi olehmu. Aku berhak mendapatkan balasan setimpal,” ucap Rama sambil mengusap wajah.
Napas Jingga seperti tersumbat. Mengapa dunia ini sempit sekali, pikirnya dalam hati. Ia spontan menggenggam tangan Rama dan berkata, “Aku tidak jadi menikah,” katanya Lirih.
Mata Rama memicing. Apa dia tidak salah dengar?
“Saat aku dan Heri sedang memilih gaun pengantin, mantan istri Heri meneleponya untuk meminta rujuk. Aku tidak tega. Perempuan itu lebih membutuhkan Heri sebagai sosok ayah dari anakya. Lagipula aku tidak punya perasaan apapun pada dia. Aku hanya sedang belajar mencintainya, mengingat umurku yang semakin tua.”
Jingga membuka pintu mobil dan berjalan mengitari Bundaran HI. Ia tak peduli jika Rama meninggalkannya seorang diri di sana. Banyak Taksi yang berkeliaran di sini. Ia hanya tidak kuat menahan bendungan air matanya yang meluber. Ia benar-benar menangis malam ini. Menangisi kepiluan nasibnya.
Rama membiarkan Jingga berjalan di seputaran air mancur. Namun kaki gadis itu melangkah terlalu jauh dan tak kembali. Guratan mata sayu dan wajah sendu Jingga membuat hatinya menjerit. Gadis itu selalu punya cara sendiri untuk menutupi kesedihannya.
Rama berlari menyusul langkah kaki Jingga yang semakin jauh. Dia tak mau kehilangan gadis itu lagi. Tidak mau. Dengan napas yang tersengal, ia menarik lengan Jingga secara paksa, “Kau hendak kemana, Jingga? Kenapa kau meninggalkanku?”
“Aku sedang jalan-jalan malam, bukankah tadi kau yang mengajakku? Kukira kau mengikuti di belakang, dan kupikir kau yang justru meninggalkanku,” Jingga mengangkat bahu, matanya sembab. Tatapannya datar tak berekspresi. Wajahnya kian sendu. Rama yang merasa bersalah, menarik kencang tangan Jingga, menyebabkan tubuh mungil gadis itu jatuh ke pelukannya.
“Jangan pergi lagi, kumohon…” Rama menangkap tubuh Jingga yang terjatuh ke pelukannya. Mencium aroma wangi tubuh Jingga, seperti mencium sehektar taman bunga. Wangi harum yang menenangkan.
Dada Jingga bagaikan terjepit saat Rama menariknya kencang. Ia bisa mencium kembali aroma maskulin dan hangatnya tubuh Rama. Rasanya damai berada dalam pelukan laki-laki itu. Jingga semakin pilu. Air matanya kembali basah. Ia tak bisa menutupi kesedihannya lagi. Hanya balas pelukan yang bisa ia lakukan.
“Aku tak akan membiarkanmu berjalan sendirian. Aku akan selalu di sampingmu, memelukmu, menghangatkan saat kau kedinginan, dan mendinginkan saat kau merasa panas. Jingga Anggunella, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Tak peduli dengan semua perbedaan kita. Aku akan selalu bersamamu,”
Jingga tersedu sedan mendengar ucapan Rama. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Rama yang bidang, memukulnya kencang-kencang.
“Dan aku… Aku tak akan berpura-pura lagi tidak membutuhkanmu, Dewa Gede Ramayoga…”
Rama menangkup wajah Jingga yang sendu. Disaksikan purnama, gemintang, dan terang lampu-lampu kota. Dua manusia itu tampak kecil karena dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi di sekitarnya. Keduanya saling menertawakan kegetiran masing-masing sambil berderai air mata.
Sejauh ini, hanya Rama yang berhasil meluluhkan keras hatinya, mencairkan ego dan membuatnya tertawa. Akankah ia harus membuka lagi hatinya untuk laki-laki yang saat ini sedang terisak memeluknya? Rupanya laki-laki juga bisa menangis, pikirnya.
Jingga memegang lengan atas Rama yang berotot. Ia menahan rasa harunya yang terbendung di pelupuk mata. Lucu sekali hidup ini. Selama ini hatinya mengambang di lautan lepas. Terombang-ambing ombak tapi tak jua tenggelam. Barangkali hidup ini ibarat pasir di pesisir laut. Meski berkali-kali terhantam derasnya arus dan terinjak, mereka tetap menerima. Walau kadang hantamannya keras dan menyisakan luka. Gadis bunglon itu masih berlinang air mata.
Kalau cinta itu misterius, Jingga percaya. Karena cinta bisa merasuki siapa saja yang dikehendakinya. Sifatnya bisa lembut, bisa juga kejam. Ada manusia yang hidup dengan banyak cinta. Ada juga yang miskin cinta. Di pelukan Rama, Jingga mengakui bahwa dirinya membutuhkan Rama lebih dari apapun.
Dan dibalik kisah memilukan ini, selalu ada tangan-tangan lain yang berperan. Dan Azka lah orang dibalik semua ini. Azka yang mengumpulkan puing-puing masa lalu Jingga dan Rama laksana puzzle yang terpisah dan menyambungkannya kembali. Bertahun-tahun lamanya Azka menyembunyikan Anggun dari Rama, menyamarkan Dewa dari Jingga, dan bertahun-tahun itulah ia menjaga rahasia dua sahabatnya, lalu mempersatukannya.
***
Tiga tahun yang lalu, saat Rama terpuruk, Azka mereferensikan kamar apartemen nomor 75 sebagai tempat persembunyiannya dari sakitnya kata ‘patah hati’. Satu nomor yang terhalang nomor 76 dengan kamar Jingga. Mungkin semua ini kebetulan, atau bisa jadi disengaja.
Yang jelas, Azka mengetahui nomor itu dari Jingga. Tanpa sedikitpun Jingga curiga bahwa Azka berniat menyelamatkan jiwa sahabatnya yang saat itu gundah gulana karena putus cinta dan gagalnya membina rumahtangga. Jingga dan Rama pernah mengalami pahitnya mengenyam pendidikan tentang cinta. Walaupun jika kau berani bertaruh, taka da dunia pendidikan tentang sesuatu kasat mata yang membuat manusia buta hati, buta mata.
Senin, 18 April 2016
Seperti Lagu yang Sering Kudengar #SebuahPuisi
Awalnya biasa saja. Lalu tumbuh benih cinta. Kemudian cinta mati lantas patah hati. Dan selanjutnya cinta itu berubah jadi benci. Moveonnya setengah mati, menguras seluruh energi.
Saat cinta itu benar-benar pergi dan telah jauh berlari, entah kenapa dia kembali lagi.
"Sumpah deh, gak sudi balikan lagi... Pokoknya aku udah punya pengganti, jangan ganggu lagi, ya . PLEASE!!!"
Beribu alasan yang terlontar untuk menolaknya, tak mematahkan niatnya untuk memperbaiki masa lalu yang menyakitkan itu.
Eh, benar saja balikan lagi, kasih kesempatan ketiga, yang katanya kesempatan kedua itu telah habis. Bukan karena tak tega ataupun masih cinta, tapi terlebih ingin membuktikan keseriusannya untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Rupanya tanda titik bisa berubah jadi koma. Ajaib memang.
Meski kadang, di pertengahan jalan selalu hadir yang namanya kecewa, kesal, menyesal, hampir menyerah, dan ragu. Serta di persimpangan, ada banyak pertemuan dengan orang yang lebih baik yang membuat bimbang memilihnya. Masa lalu, maupun orang baru dikenal, yang menjadi godaan terhebat untuk tetap memilih tinggal ataupun pergi selamanya.
Tapi, ya begitulah kadang hati manusia terbolak-balik. Pasang surutnya ibarat salju di Gunung Everest. Yang kadang membeku, menipis, bahkan mencair dan kering. Rasa benci yang membara, rasa cinta yang sempat hambar, kini muncul lagi begitu saja. Kemudian berubah ragu lagi, hambar, dan ingin mengakhirinya sekarang juga. Membuat semuanya bertolak belakang dengan kenyataan.
Seperti lagu yang sering kudengar.
Saat cinta itu benar-benar pergi dan telah jauh berlari, entah kenapa dia kembali lagi.
"Sumpah deh, gak sudi balikan lagi... Pokoknya aku udah punya pengganti, jangan ganggu lagi, ya . PLEASE!!!"
Beribu alasan yang terlontar untuk menolaknya, tak mematahkan niatnya untuk memperbaiki masa lalu yang menyakitkan itu.
Eh, benar saja balikan lagi, kasih kesempatan ketiga, yang katanya kesempatan kedua itu telah habis. Bukan karena tak tega ataupun masih cinta, tapi terlebih ingin membuktikan keseriusannya untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Rupanya tanda titik bisa berubah jadi koma. Ajaib memang.
Meski kadang, di pertengahan jalan selalu hadir yang namanya kecewa, kesal, menyesal, hampir menyerah, dan ragu. Serta di persimpangan, ada banyak pertemuan dengan orang yang lebih baik yang membuat bimbang memilihnya. Masa lalu, maupun orang baru dikenal, yang menjadi godaan terhebat untuk tetap memilih tinggal ataupun pergi selamanya.
Tapi, ya begitulah kadang hati manusia terbolak-balik. Pasang surutnya ibarat salju di Gunung Everest. Yang kadang membeku, menipis, bahkan mencair dan kering. Rasa benci yang membara, rasa cinta yang sempat hambar, kini muncul lagi begitu saja. Kemudian berubah ragu lagi, hambar, dan ingin mengakhirinya sekarang juga. Membuat semuanya bertolak belakang dengan kenyataan.
Seperti lagu yang sering kudengar.
Langganan:
Postingan (Atom)