KADO TERAKHIR
Jakarta, 29 Agustus 2020.
Bulan ini adalah
bulan kelahiranku. Aku sangat bahagia karena banyak keajaiban menyapaku. Salah
satunya karena lusa aku bisa kembali bekerja di perusahaan baru. Setelah empat
bulan lamanya menjadi pengangguran.
Di masa pandemi
seperti ini, banyak perusahaan yang pincang, bahkan gulung tikar. Ribuan
pekerja di PHK secara sepihak lantaran perusahaan tidak dapat membayar gaji
bulanan.
"Kapan Ibu bisa join di tempat kami?", Tanya
seorang bagian personalia kepadaku via telepon.
"Senin ya, Bu,
tanggal 31 Agustus 2020. Mengingat kedua orangtua saya mau mudik akhir pekan
ini." Jawabku tanpa ragu.
Sebenarnya, bisa saja
aku bergabung secepatnya di perusahaan baru. Namun, ibu dan bapak ada rencana
pulang kampung minggu ini ke Brebes. Ada urusan keluaga, katanya. Nanti siapa
yang akan menjaga anakku di rumah kalau aku kerja?
Tetapi, kenyataannya
lain. Bapak tiba-tiba sakit. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan
perjalanan jauh. Bapak semakin hari semakin terpuruk.
Aku ingat betul,
bapak memintaku membelikan obat-obatan dan vitamin di apotek, serta buah pir
kesukaannya. Bapak juga minta dibelikan susu beruang di minimarket. Aku sendiri
yang membukakan kaleng susunya.
Bapak bilang, bapak
cuma masuk angin, nanti juga sembuh. Kemudian demamnya naik turun hingga 40
derajat Celcius. Aku sudah menduga kalau bapak terpapar virus yang sedang heboh
itu. Apalagi kalau bukan covid 19.
Pada waktu bapak
sakit, aku pun sakit. Perutku mual seperti asam lambung kumat. Aku memang punya
histori penyakit asam lambung. Selain asam lambung, aku juga merasakan seperti
mau flu. Dan aku sangat takut untuk minum obat. Pasalnya, aku takut kalau
ternyata aku sakit lantaran sedang hamil muda.
Tak ingin ambil
resiko, aku meminta suami mengantarku ke apotek untuk membeli tes kehamilan.
Hasilnya garis satu. Lalu, aku pun meminum paracetamol
dan obat lambung.
Di hari Sabtu pagi
tanggal 29 Agustus 2020, ibu ke rumahku dan bercerita kalau semalam napas bapak
tidak beraturan. Beliau juga tidak dapat bangun karena lemas. Mau angkat galon
saja tidak kuat. Sehingga ibu meminta suamiku untuk membantu memasangkan galon.
Pukul 09:30, ibu
terpaksa mengambil keputusan membawa bapak ke rumah sakit. Padahal ibu tidak
ingin bapak ke rumah sakit. Karena takut nanti dibilang covid. Takut diasingkan tetangga, dan lain sebagainya.
Akhirnya suamiku
mengantarkan bapak ke rumah sakit, bersama ibu, adik, dan satu tetangga samping
rumah ibu. Suamiku kemudian pulang ke rumah, tidak ikut berjaga di rumah sakit,
berhubung siang ini dia ada jadwal masuk shift
kerja siang. Lagipula, ada ibu dan adikku di sana.
Jam 15:00, adikku
Lestari mengabariku, bahwa bapak ternyata benar-benar positif covid. Hasil rapid tes bapak menunjukkan
‘REAKTIF’. Adikku menangis di telepon. Aku pasrah. Ya Tuhan, akhirnya yang kami
takutkan benar terjadi. Dokter meminta persetujuan keluarga untuk memasukkan bapak
ke ruang isolasi. Kami tidak bisa menolak. Berharap bapak masih bisa sembuh.
Setelah masuk ruang
isolasi, hidung bapak dipasang alat seperti plastik yang tersambung dengan
selang. Bapak masih bisa cengengesan. Telepon ke sana ke mari dengan
menunjukkan foto dan video bahwa dia sedang di rumah sakit. Bapak juga masih
bisa membalas pesan WA-ku. Bapak bilang pada bibiku, semestinya hari ini dia
pulang ke kampung, memberi kejutan istimewa.
Ba'da Maghrib, aku
mencoba menghubungi bapak via panggilan video. Tidak diangkat. Lalu, aku menghubungi
adikku Lestari. Rupanya dia sudah di rumah untuk mengambil baju ganti dan obat
pribadi milik bapak, seperti obat darah tinggi, kolestrol, asam urat, dan obat
lambung. Juga mengantarkan ibu pulang ke rumah. Bapak memang memiliki banyak
sekali penyakit bawaan, terutama jantung.
Tak lama, Lestari
meneleponku. Ternyata dia sudah kembali ke rumah sakit dan ikut masuk ruang
isolasi, menemani bapak. Dia tersedu sedan memberitahuku kalau bapak kritis.
Aku melihat sendiri bagaimana dua petugas berpakaian APD memacu jantung bapak
menggunakan alat medis seperti yang sering aku lihat di televisi. Aku tak sanggup
berkata-kata lagi.
Aku segera
menghubungi suamiku via telepon. Tetapi, teleponnya tidak diangkat. Akhirnya
aku menghubungi telepon kantornya, dan titip pesan ke temannya bahwa bapak
sedang berjuang menghadapi ajal. Suamiku langsung beranjak pulang dan menyusul
adikku di rumah sakit. Di sana sudah ada Om Mul (adik kandungnya ibu).
Sementara Chintia baru saja tiba di rumah, semenit sebelum dikabarkan bapak
sudah tiada.
Aku runtuh malam itu.
Bersandarkan dinding dapur, tak mampu menangis dan berucap apa pun. Rasanya
sungguh tak percaya. Bapak sudah terbiasa masuk rumah sakit. Biasanya bapak
akan pulang ke rumah dan sembuh lagi. Bapak juga tidak sakit parah. Sakitnya
baru semingguan.
Kenapa kesannya
seperti bapak ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan nyawa? Tidak ada firasat
bapak akan pergi untuk selama-lamanya. Bapak semestinya hari ini pulang ke
kampung, tetapi ia harus pulang ke pangkuan Ilahi. Innalillahi wa Innailaihi Raji'un... 😭
***
Malam itu, beberapa
menit setelah adikku, Lestari, memberitahu perihal kematian bapak, ada yang
mengetuk rumahku. Ia adalah tetangga sekaligus kerabat dekat bapak yang
sehari-hari bersama bapak sewaktu sehat.
"Sudah tahu
belum? Bapak udah gak ada."
"Sudah,"
kataku singkat.
"Terus ibu mau
dikasih tahu tidak? Takutnya shock."
"Lebih baik
jangan dulu. Nanti saja agak malam sedikit baru dikasih tahu."
"Baiklah. Tapi,
tetangga sudah pada tahu." Katanya.
Jadi, tetangga sudah
pada tahu? Secepat itu berita beredar. Aku saja masih terduduk dengan lutut
lemas. Belum juga ada lima menit, kabar duka sudah sangat cepat merembet ke publik.
Media sosial sekarang memang luar biasa!
Saat itu, para
tetangga belum tahu penyebab kematian bapak. Kami masih menyembunyikannya.
Bahkan, pak RT sendiri yang menyuruh kami merahasiakannya. Akan tetapi,
keponakan bapak malah mengatakan yang sebenarnya. Tetangga yang sudah terlanjur
menjenguk ibu, semuanya bubar. Ibu menangis sepanjang malam.
Kalian tahu kan,
kalau ada pasien yang meninggal covid, jenazahnya tidak boleh dipulangkan.
Jenazah bapak diinapkan di rumah sakit, ditunggui oleh Lestari dan suamiku.
Sedangkan omku menemani ibu dan adikku Chintia di rumah.
Aku sendiri tidak
dapat menghibur ibu. Rumah kami memang berdekatan, tetapi anakku sudah lelap
dari sore. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah ibu, karena di sana pasti
banyak virus bekas bapak. Ya Tuhan, semengerikan ini meninggal pada saat musim
covid. Untuk memberikan semangat saja kami semua ketakutan. Bagaimana kabar
ibu? Aku harap ibu baik-baik saja. Aku sungguh serba salah. Apakah aku harus
menemui ibu dan memeluknya? Apakah aku tetap diam di rumah mengutamakan anakku yang
masih kecil dan rentan terhadap virus berbahaya? Sungguh, malam itu aku terisak
karena tak mampu memilih. Situasi ini sangat sulit.
Pagi-pagi buta, ibu
dan adikku Chintia, langsung ke rumah sakit bersama Om Mul. Sementara aku, menemani
anakku yang masih 2,5 tahun di rumah. Suamiku tidak mengizinkan aku ikut
mengantarkan bapak ke pemakaman. Ngeri terkena virus.
Jenazah bapak katanya
akan dimakamkan pukul 7:00 pagi. Tetapi, sampai jam 10:00, ambulans tidak jua datang.
Tidak ada petugas yang menyolati bapak. Sehingga om dan suamiku berinisiatif
menyolati bapak dengan teks dari ponsel karena tak hafal bacaannya. Miris
sekali aku mendengar hal itu. Hanya sahabat dan handai taulan yang mau sukarela
memberikan solat gaib dan doa dari jarak jauh. Aku sangat berterima kasih.
Hingga pukul 12:00,
ambulans yang mengambil jenazah bapak baru tiba. Katanya, hari ini angka
kematian di Jakarta cukup banyak. Bapak dapat antrian ke-20 dari 35 jenazah
yang dikuburkan hari ini.
Hari itu, menjadi
hari terakhir permintaan bapak semasa hidupnya, yakni minta dimakamkan setelah
solat Dzuhur. Aku menyaksikan langsung lewat video call bagaimana
proses pemakaman dengan protokol covid. Ada beberapa petugas berseragam putih
serba rapat membantu memasukan peti ke dalam liang lahat, lalu menguburkannya
menggunakan tali panjang karena tidak boleh tersentuh tangan.
Dan hari itu juga,
merupakan kado ulang tahunku yang paling menyesakkan dada. Tak ada ucapan, yang
ada tangisan air mata melepas kepergian.
Bapak, semoga amal
ibadahmu diterima di sisi Allah Subhanahu
Wata’ala. Semoga Tuhan mengampuni segala dosamu. Maafkan aku yang tidak
bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.
Selamat jalan bapak,
sekarang engkau sudah tidak minum obat setiap hari lagi efek penyakit
komplikasimu.
Dariku, anak pertamamu.
*** Bersambung ***