Kamis, 19 November 2020

Urutan Kematian #DiaryNalla

 KADO TERAKHIR


Jakarta, 29 Agustus 2020.

 

Bulan ini adalah bulan kelahiranku. Aku sangat bahagia karena banyak keajaiban menyapaku. Salah satunya karena lusa aku bisa kembali bekerja di perusahaan baru. Setelah empat bulan lamanya menjadi pengangguran.

Di masa pandemi seperti ini, banyak perusahaan yang pincang, bahkan gulung tikar. Ribuan pekerja di PHK secara sepihak lantaran perusahaan tidak dapat membayar gaji bulanan.

"Kapan Ibu bisa join di tempat kami?", Tanya seorang bagian personalia kepadaku via telepon.

"Senin ya, Bu, tanggal 31 Agustus 2020. Mengingat kedua orangtua saya mau mudik akhir pekan ini." Jawabku tanpa ragu.

Sebenarnya, bisa saja aku bergabung secepatnya di perusahaan baru. Namun, ibu dan bapak ada rencana pulang kampung minggu ini ke Brebes. Ada urusan keluaga, katanya. Nanti siapa yang akan menjaga anakku di rumah kalau aku kerja?

Tetapi, kenyataannya lain. Bapak tiba-tiba sakit. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Bapak semakin hari semakin terpuruk.

Aku ingat betul, bapak memintaku membelikan obat-obatan dan vitamin di apotek, serta buah pir kesukaannya. Bapak juga minta dibelikan susu beruang di minimarket. Aku sendiri yang membukakan kaleng susunya.

Bapak bilang, bapak cuma masuk angin, nanti juga sembuh. Kemudian demamnya naik turun hingga 40 derajat Celcius. Aku sudah menduga kalau bapak terpapar virus yang sedang heboh itu. Apalagi kalau bukan covid 19.

Pada waktu bapak sakit, aku pun sakit. Perutku mual seperti asam lambung kumat. Aku memang punya histori penyakit asam lambung. Selain asam lambung, aku juga merasakan seperti mau flu. Dan aku sangat takut untuk minum obat. Pasalnya, aku takut kalau ternyata aku sakit lantaran sedang hamil muda.

Tak ingin ambil resiko, aku meminta suami mengantarku ke apotek untuk membeli tes kehamilan. Hasilnya garis satu. Lalu, aku pun meminum paracetamol dan obat lambung.

Di hari Sabtu pagi tanggal 29 Agustus 2020, ibu ke rumahku dan bercerita kalau semalam napas bapak tidak beraturan. Beliau juga tidak dapat bangun karena lemas. Mau angkat galon saja tidak kuat. Sehingga ibu meminta suamiku untuk membantu memasangkan galon.

Pukul 09:30, ibu terpaksa mengambil keputusan membawa bapak ke rumah sakit. Padahal ibu tidak ingin bapak ke rumah sakit. Karena takut nanti dibilang covid. Takut diasingkan tetangga, dan lain sebagainya.

Akhirnya suamiku mengantarkan bapak ke rumah sakit, bersama ibu, adik, dan satu tetangga samping rumah ibu. Suamiku kemudian pulang ke rumah, tidak ikut berjaga di rumah sakit, berhubung siang ini dia ada jadwal masuk shift kerja siang. Lagipula, ada ibu dan adikku di sana.

Jam 15:00, adikku Lestari mengabariku, bahwa bapak ternyata benar-benar positif covid. Hasil rapid tes bapak menunjukkan ‘REAKTIF’. Adikku menangis di telepon. Aku pasrah. Ya Tuhan, akhirnya yang kami takutkan benar terjadi. Dokter meminta persetujuan keluarga untuk memasukkan bapak ke ruang isolasi. Kami tidak bisa menolak. Berharap bapak masih bisa sembuh.

Setelah masuk ruang isolasi, hidung bapak dipasang alat seperti plastik yang tersambung dengan selang. Bapak masih bisa cengengesan. Telepon ke sana ke mari dengan menunjukkan foto dan video bahwa dia sedang di rumah sakit. Bapak juga masih bisa membalas pesan WA-ku. Bapak bilang pada bibiku, semestinya hari ini dia pulang ke kampung, memberi kejutan istimewa.

Ba'da Maghrib, aku mencoba menghubungi bapak via panggilan video. Tidak diangkat. Lalu, aku menghubungi adikku Lestari. Rupanya dia sudah di rumah untuk mengambil baju ganti dan obat pribadi milik bapak, seperti obat darah tinggi, kolestrol, asam urat, dan obat lambung. Juga mengantarkan ibu pulang ke rumah. Bapak memang memiliki banyak sekali penyakit bawaan, terutama jantung.

Tak lama, Lestari meneleponku. Ternyata dia sudah kembali ke rumah sakit dan ikut masuk ruang isolasi, menemani bapak. Dia tersedu sedan memberitahuku kalau bapak kritis. Aku melihat sendiri bagaimana dua petugas berpakaian APD memacu jantung bapak menggunakan alat medis seperti yang sering aku lihat di televisi. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. 

Aku segera menghubungi suamiku via telepon. Tetapi, teleponnya tidak diangkat. Akhirnya aku menghubungi telepon kantornya, dan titip pesan ke temannya bahwa bapak sedang berjuang menghadapi ajal. Suamiku langsung beranjak pulang dan menyusul adikku di rumah sakit. Di sana sudah ada Om Mul (adik kandungnya ibu). Sementara Chintia baru saja tiba di rumah, semenit sebelum dikabarkan bapak sudah tiada.

Aku runtuh malam itu. Bersandarkan dinding dapur, tak mampu menangis dan berucap apa pun. Rasanya sungguh tak percaya. Bapak sudah terbiasa masuk rumah sakit. Biasanya bapak akan pulang ke rumah dan sembuh lagi. Bapak juga tidak sakit parah. Sakitnya baru semingguan.

Kenapa kesannya seperti bapak ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan nyawa? Tidak ada firasat bapak akan pergi untuk selama-lamanya. Bapak semestinya hari ini pulang ke kampung, tetapi ia harus pulang ke pangkuan Ilahi. Innalillahi wa Innailaihi Raji'un... 😭

***

Malam itu, beberapa menit setelah adikku, Lestari, memberitahu perihal kematian bapak, ada yang mengetuk rumahku. Ia adalah tetangga sekaligus kerabat dekat bapak yang sehari-hari bersama bapak sewaktu sehat.

"Sudah tahu belum? Bapak udah gak ada."

"Sudah," kataku singkat.

"Terus ibu mau dikasih tahu tidak? Takutnya shock."

"Lebih baik jangan dulu. Nanti saja agak malam sedikit baru dikasih tahu."

"Baiklah. Tapi, tetangga sudah pada tahu." Katanya.

Jadi, tetangga sudah pada tahu? Secepat itu berita beredar. Aku saja masih terduduk dengan lutut lemas. Belum juga ada lima menit, kabar duka sudah sangat cepat merembet ke publik. Media sosial sekarang memang luar biasa! 

Saat itu, para tetangga belum tahu penyebab kematian bapak. Kami masih menyembunyikannya. Bahkan, pak RT sendiri yang menyuruh kami merahasiakannya. Akan tetapi, keponakan bapak malah mengatakan yang sebenarnya. Tetangga yang sudah terlanjur menjenguk ibu, semuanya bubar. Ibu menangis sepanjang malam.

Kalian tahu kan, kalau ada pasien yang meninggal covid, jenazahnya tidak boleh dipulangkan. Jenazah bapak diinapkan di rumah sakit, ditunggui oleh Lestari dan suamiku. Sedangkan omku menemani ibu dan adikku Chintia di rumah.

Aku sendiri tidak dapat menghibur ibu. Rumah kami memang berdekatan, tetapi anakku sudah lelap dari sore. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah ibu, karena di sana pasti banyak virus bekas bapak. Ya Tuhan, semengerikan ini meninggal pada saat musim covid. Untuk memberikan semangat saja kami semua ketakutan. Bagaimana kabar ibu? Aku harap ibu baik-baik saja. Aku sungguh serba salah. Apakah aku harus menemui ibu dan memeluknya? Apakah aku tetap diam di rumah mengutamakan anakku yang masih kecil dan rentan terhadap virus berbahaya? Sungguh, malam itu aku terisak karena tak mampu memilih. Situasi ini sangat sulit.

Pagi-pagi buta, ibu dan adikku Chintia, langsung ke rumah sakit bersama Om Mul. Sementara aku, menemani anakku yang masih 2,5 tahun di rumah. Suamiku tidak mengizinkan aku ikut mengantarkan bapak ke pemakaman. Ngeri terkena virus.

Jenazah bapak katanya akan dimakamkan pukul 7:00 pagi. Tetapi, sampai jam 10:00, ambulans tidak jua datang. Tidak ada petugas yang menyolati bapak. Sehingga om dan suamiku berinisiatif menyolati bapak dengan teks dari ponsel karena tak hafal bacaannya. Miris sekali aku mendengar hal itu. Hanya sahabat dan handai taulan yang mau sukarela memberikan solat gaib dan doa dari jarak jauh. Aku sangat berterima kasih.

Hingga pukul 12:00, ambulans yang mengambil jenazah bapak baru tiba. Katanya, hari ini angka kematian di Jakarta cukup banyak. Bapak dapat antrian ke-20 dari 35 jenazah yang dikuburkan hari ini.

Hari itu, menjadi hari terakhir permintaan bapak semasa hidupnya, yakni minta dimakamkan setelah solat Dzuhur. Aku menyaksikan langsung lewat video call bagaimana proses pemakaman dengan protokol covid. Ada beberapa petugas berseragam putih serba rapat membantu memasukan peti ke dalam liang lahat, lalu menguburkannya menggunakan tali panjang karena tidak boleh tersentuh tangan.

Dan hari itu juga, merupakan kado ulang tahunku yang paling menyesakkan dada. Tak ada ucapan, yang ada tangisan air mata melepas kepergian.

      Bapak, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Tuhan mengampuni segala dosamu. Maafkan aku yang tidak bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.

Selamat jalan bapak, sekarang engkau sudah tidak minum obat setiap hari lagi efek penyakit komplikasimu.

 

 

Dariku, anak pertamamu.

 

*** Bersambung ***

Jumat, 18 September 2020

Positif Covid? Apa Ciri-cirinya??? #Artikel


Banyak yang bertanya, ciri-ciri kena Covid 19 tuh kayak gimana sih?  

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, ini yang gue rasakan:

Awal-awal badan gue lemes. Cepet capek. Dan hampir mirip kayak flu pada umumnya.

Dibilang radang tenggorokan nggak. Demam tinggi juga nggak. Malah gak demam sama sekali loh.

Sesek napas? Nggak juga. Pernah ngerasain dada agak engap, tapi cuma sebentar. Habis diolesin minyak kayu putih dan minum air hangat, alhamdulillah membaik lagi.

Gejala yang gue rasain adalah hilang dan muncul. Pada saat hilang, gue merasakan sudah sehat. Beberapa jam kemudian, gue merasakan pusing lagi, hidung mampet lagi, dan gejala flu lagi.

Anehnya, gue flu tapi gak ada ingusnya. Kalau hidungnya dibersihin pakai jari, ada sedikit upil. Cuma sedikit.

Ada ciri-ciri yang paling mencolok di antara sakit biasa dan terinfeksi covid 19, yakni indra penciuman yang tiba-tiba tumpul. Orang berpikir mungkin karena lagi pilek, atau sinusnya kumat, jadi menganggap wajar. Padahal, saat pilek biasa, kita gak terganggu sama sekali untuk mencium bau menyengat.

Sumpah, bau pup anak gue aja gak kecium. Biasanya gue tutup hidung tiap kali buka diapernya.

Jadi, menurut gue, pemeriksaan cek suhu di mal-mal/ KRL/ atau gedung perkantoran, itu gak bantu banyak buat mendeteksi pasien covid atau bukan. Karena saat ini banyak kasus OTG (orang tanpa gejala) berkeliaran di sekitar kita.

OTG ini biasanya merasa dirinya sehat karena rajin minum vitamin, melakukan protokol kesehatan sesuai WHO, tapi faktanya dia terpapar virus entah dari mana. Karena saat ini penularan virus Covid19 bukan hanya lewat kontak fisik, tapi bisa juga dari udara yang kita hirup, air, makanan, uang, dan benda-benda lainnya.

Secara gak sadar, kita beli makanan dari seseorang, yang kita gak tahu orang tersebut beneran sehat atau nggak. Bisa jadi saat dia masak, si penjual lagi batuk-batuk atau bersin. Bukan suudzon, tapi lebih baik mending masak sendiri aja deh. Karena kebanyakan pedagang abai protokol kesehatan.

Contoh kasus yang sering banget gue lihat di lapangan saat membeli makanan  jadi seperti pecel lele, bakso, mie ayam, gado2, bubur ayam, gorengan, dll, para pedagangnya gak ada yang pake masker, sementara yang belinya pakai masker semua.

Para pedagang seenaknya ambil makanan pakai tangan bekas pegang uang, terus mereka ambil uang dari pembeli dan kasih uang kembalian, kemudian pegang makanan lagi. Ya Allah, gemessss banget gue lihatnya. Pengen komplain tapi malas ribut. Karena secara tidak langsung, para pedagang punya andil besar dalam menularkan penyakit pada pembeli.

Seharusnya para pedagang paham akan bahaya pada uang yang mereka pegang. Karena uang barang umum yang bisa dipegang oleh siapa saja. Semestinya para pedangang mengambil makanan pakai sarung tangan khusus, serta sedia hand sanitizer, jadi si pembeli merasa aman.

Tidak hanya uang loh ya, virus juga bisa berasal dari makanan mentah seperti lalapan, buah, dan sebagainya. Maka dari itu, mencuci bersih sayuran menggunakan garam atau cairan antiseptik sebelum dimasak juga penting. Buah-buahan juga harus dicuci terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Kalau yang ada kulitnya, sebaiknya dikupas. Nah, untuk lalapan sebaiknya direbus dulu. Hal ini untuk meminimalis resiko penyebaran virus berbahaya ke dalam tubuh kita.

Percaya gak sih kalau virus beterbangan di udara dalam waktu lama. Dan itu artinya, udara bersih saat ini hanyalah impian semata. Banyak OTG yang bersin/ batuk/ tertawa, tidak pakai masker, lantas si virus melayang-layang di udara dan masuk ke dalam pernapasan orang lain. 

Virus bisa juga tercemar lewat air. Para OTG/ pasien dalam masa isolasi mandiri, pasti membersihkan badan di toilet. Airnya ngalir, bahkan meresap ke tanah. Kemudian masuk ke dalam keran yang kita gunakan untuk mandi dan cuci ini itu. Bisa juga kita konsumsi air tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Hati-hati loh, karena secara gak sadar, kita dalam zona bahaya. Dan mata kita bodoh banget untuk bisa lihat virus secara kasat mata. 

Seandainya virus berwarna kuning, atau berbetuk mirip semut, setidaknya kita bisa menghindari.

Pertanyaannya, siapa yang mau sakit? Sebersih dan serajin kita minum vitamin, kalau sudah wayahnya sakit ya sakit juga toh?

Kasusnya sama kayak kita udah hati-hati banget mengendarai mobil/ motor, kalau sudah waktunya celaka ya pasti celaka. Misal remnya mendadak blong, padahal sudah diservis. 

Karena takdir sehat dan sakit Allah yang menentukan. Siap gak siap ya harus siap.

Jadi, kesimpulan tentang ciri-ciri Lo terpapar covid 19, di antaranya sebagai berikut: 

1. Indra penciuman yang hilang. Hidung seperti sinus, terasa kebas dan tidak sensitif terhadap bau-bauan. Alias gak bisa nyium bau apa pun.

2. Tidak enak badan dalam durasi lebih dari seminggu. Walau pun sudah minum obat dan vitamin, sakitnya sering hilang muncul.

3. Pilek tapi gak ingusan. 

Kalau flu biasa, pasti bersin-bersin dong. Ini bersin jarang banget. Gue malah gak bersin-bersin.

Biasanya gue pilek sembuh dalam waktu 3 hari. Ditidurin juga udah enakan. Nah, kalau covid, gejalanya bisa berminggu-minggu. Gue 1 bulan.

4. Merasa dadanya tiba-tiba engap.

Kasus ini biasanya saat gue kecapean kerja. Atau abis nangis, sedih, banyak pikiran, dan stres. Alangkah baiknya jangan terlalu sendu, karena ngaruh banget ke imun kita.

5. Tenggorokan gatal, suara agak serak,  dan batuk tak berdahak.

Tenggorokan rasanya gatal dan batuk kecil. Pada sebagian kasus orang lain, batuk bisa juga parah. Kalau bicara, tenggorokan seperti kering. Suara agak serak.

6. Terpapar covid gak selamanya demam tinggi. Bisa juga tidak demam sama sekali. Atau bisa juga demam ringan cuma 37' Celcius.

7. Tenggorokan tidak nyaman. 

Rasanya ingin meludah terus. Terdapat lendir yang mengganjal dan harus dikeluarkan. Adanya lendir karena paru-paru memberi sinyal bahwa ada bahaya mengancam. Warna lendir putih, atau hijau dan kuning tergantung tingkat berat ringannya. Kalau putih masih ringan. Nah untuk hijau itu paling berat.

8. Lemas dan napas terasa berat (bukan sesak).

Kalau lemas, mau aktivitas apa pun seperti sulit. Jalan sempoyongan, tensi tiba-tiba menjadi sangat rendah. Bisa 90/60.

9. Pusing

Pusingnya sampai berhari-hari. Kalau diminumin obat, enakan. Tapi, pusingnya gak hilang 100%. Nanti kumat lagi.

10. Badan greges dan keringat dingin.

Kadang kala, badan rasanya campur aduk.

11. Hampir mirip masuk angin.


Berdasarkan pengalaman almarhum bokap, ini yang dia rasakan.

1. Gejalanya mirip masuk angin. Sudah dikerokin tapi kok gak sembuh-sembuh.

2. Demam tinggi sampai 40' C. Di waktu tertentu, bapak merasa enakan lagi badannya dan demamnya turun setelah minum Paracetamol. Sampai berpikir itu typhus. Lalu makan cacing tanah segala, tapi gak sembuh juga.

3. Batuk.

4. Menggigil

5. Napas pendek-pendek tak beraturan saat tidur.

6. Lemas. Sampai bangun saja tidak kuat. Jalan pun sempoyongan.


Gejala Covid 19 ini bisa berat, sedang, ringan, bahkan tanpa gejala sama sekali. Kenali ciri-cirinya, dan segera lakukan tes usap jika merasa perlu.

Demikian ciri-ciri positif covid 19. Ada baiknya untuk lebih pasti, ikut tes usap/ Swab.

Pakai selalu masker, sedia sanitizer, dan jaga jarak, agar sakit kita tidak menular pada anggota keluarga yang lain. 

Safety first, karena SEHAT ITU MAHAL.

Kita berhak kok memilih takdir sehat atau sakit. Walau takdir sehat dan sakit sudah ada yang mengatur, tetapi menjaga kesehatan dan kebersihan adalah salah satu cara ikhtiar kita untuk memilih takdir baik Allah.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Ta'ala. Percayalah, sehat dan sakit datangnya dari Allah. Teruslah berjuang melawan sakitmu, gak usah panik apalagi stres. Karena kalau kita stres, imun tubuh akan menurun, yang dapat menyebabkan kita semakin drop.

Jika kalian positif covid, saran gue, dekatkan diri pada sang Maha SegalaNya, banyak berdoa, beribadah, dan berbahagialah. Karena jika kita bahagia, imun tubuh akan naik. Dan sakit kita akan segera pulih.

Silakan share jika bermanfaat.


Salam,

Nalla Dewi