Awalnya biasa saja. Lalu tumbuh benih cinta. Kemudian cinta mati lantas patah hati. Dan selanjutnya cinta itu berubah jadi benci. Moveonnya setengah mati, menguras seluruh energi.
Saat cinta itu benar-benar pergi dan telah jauh berlari, entah kenapa dia kembali lagi.
"Sumpah deh, gak sudi balikan lagi... Pokoknya aku udah punya pengganti, jangan ganggu lagi, ya . PLEASE!!!"
Beribu alasan yang terlontar untuk menolaknya, tak mematahkan niatnya untuk memperbaiki masa lalu yang menyakitkan itu.
Eh, benar saja balikan lagi, kasih kesempatan ketiga, yang katanya kesempatan kedua itu telah habis. Bukan karena tak tega ataupun masih cinta, tapi terlebih ingin membuktikan keseriusannya untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Rupanya tanda titik bisa berubah jadi koma. Ajaib memang.
Meski kadang, di pertengahan jalan selalu hadir yang namanya kecewa, kesal, menyesal, hampir menyerah, dan ragu. Serta di persimpangan, ada banyak pertemuan dengan orang yang lebih baik yang membuat bimbang memilihnya. Masa lalu, maupun orang baru dikenal, yang menjadi godaan terhebat untuk tetap memilih tinggal ataupun pergi selamanya.
Tapi, ya begitulah kadang hati manusia terbolak-balik. Pasang surutnya ibarat salju di Gunung Everest. Yang kadang membeku, menipis, bahkan mencair dan kering. Rasa benci yang membara, rasa cinta yang sempat hambar, kini muncul lagi begitu saja. Kemudian berubah ragu lagi, hambar, dan ingin mengakhirinya sekarang juga. Membuat semuanya bertolak belakang dengan kenyataan.
Seperti lagu yang sering kudengar.