10 Juli, 2010 - Citarik, Sukabumi
Pagi itu di sebuah ruang kerja.
“Boleh minta air minumnya?” tanyaku pada seorang perempuan berambut panjang yang sedang duduk menatap layar komputer.
Ia memandangku, bertanya siapa. Waktu hari pertama bergabung kerja di kantor ini, aku memang tidak sempat berkenalan dengannya. Menurut rekan kerja yang lain, kemarin dia tidak masuk karena penyakit asmanya kambuh.
“Ambil aja sih, ke atas. Manja banget. Gue juga buat minum obat, nih,” jawabnya ketus.
Aku langsung menciut. Dengan nafas yang masih tersengal lantaran mengejar beberapa angkot, aku melangkahkan kaki ke lantai dua. Sial, pelit sekali itu cewek, aku kan minta seteguk, bukan sebotol. Lumayan, kan untuk membasahi tenggorokanku yang kering sebelum menuju pantri. Aku menelan ludah. Sebal.
Kalian tahu dia siapa? Dia itu Mak Lampir. Admin gudang yang terkenal amat jutek dan galak sejagad-raya. Aku tak sudi hati jika harus berteman dengannya. Usianya terpaut tujuh tahun dariku. Saat itu aku masih fresh graduate, masih unyu-unyu. Sementara dia sedang menunggu kekasihnya yang menjadi TKI di Korea. Desas-desusnya sih, bila calon suaminya sudah sukses menjadi boyband, mereka akan segera menikah.
Namun kadang sesuatu yang dibenci justru sebaliknya. Sebulan kemudian aku malah akrab dengannya. Mungkin karena aku satu-satunya perempuan penghuni lantai satu selain dia. Dan dia lebih suka ribut dengan kutu kupret yang bernama Nata dan Sindoro. Maka sejak itulah aku resmi berbaikan.
Nata itu orang yang mengaku dirinya paling ganteng se-Planet Pluto. Sikapnya menyebalkan. Aku selalu sakit kepala jika harus meladeninya. Pantas saja Jenny sering bertengkar dengannya. Sedangkan Sindoro adalah nama gunung keturunan Tionghoa yang merupakan partner sejati Nata dalam mengubrak-abrik istana Mak Lampir.
Setiap hari peperangan di dalam gudang terjadi. Lagi-lagi Nata membuat ulah. Memancing amarah Jenny dengan hal sepele. Aku dan Pak Deka tak terhitung ribuan kali membantu memisahkan. Mereka ini seperti Tom and Jerry. Tak pernah seharipun akur.
Oh, ya, Pak Deka itu seorang messenger bagian penagih piutang dan surat menyurat. Aku sendiri menjabat sebagai kasir yang menangani pembayaran seluruh hutang dan piutang kantor pada pihak ketiga. Dari sinilah cerita itu dimulai.
Jenny Tarigan. Itulah namanya. Bila kalian tebak, dia pasti keturunan batak. Benar, tapi salah. Jenny adalah perempuan berwajah sunda. Bahasanya alus, tidak tinggi seperti negeri asalnya. Sejak lahir, dia memang sudah tinggal di Jakarta, sebelum akhirnya menetap di Depok. Jadilah Jenny tak bermarga, nama aslinya sejak lahir ialah Yenny Evelin.
Tapi bagiku, Yenny Evelin tidak cocok dengan kepribadiannya yang pemarah dan cerewet. Sehingga aku, Nata, Sindoro, dan Pak Deka menolak memanggil nama aslinya. Jenny melotot sebal. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sumpah serapah, “Akan gue kutuk lo semua jadi batu akik!”
Kala itu langit seketika menggelegar dan ruangan mendadak gelap. Ternyata hujan bercampur petir telah menyambar gardu listrik.
Juli, 2010, tepatnya tanggal 10, kantorku yang bergerak di bidang retail penjualan ponsel lokal, merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Masih balita sekali ya umur perusahaanku. Upss… maksudnya perusahaan my Big Bos.
Bu Nena selaku HRD, dan Pak Ilan selaku GA, belakangan ini sibuk menyiapkan ini-itu. Mulai dari tempat, catering makanan, bus, acara isi, dan tetek bengek lainnya. Maka seharian itu kami loncat kegirangan mendengar kabar bahwa kantor akan mengadakan outing ke Sukabumi (tetangganya Sukalangit).
***
“Loh, koq bus kita bablas sih, Pak? Bus 1 dan 2 mana?,” tanya Nata celingukan mencari jejak dua bus di depan kami. Setelah puas memetik gitar butut dan mengeluarkan suara falesnya, perutnya mulai kerucukan.
“Aduh, iya nih, Mas. Saya lupa belok. Kita harus muter dulu,” ungkap pak supir merasa bersalah.
“Yah, gimana sih, Pak. Nanti kita telat dong. Udah laper banget nih.” Pak Deka mengelus-elus perut, gayanya menyerupai ibu hamil yang tidak makan dua hari, dua malam.
“Sama nih, gue juga laper.” Sindoro memasang wajah super melas.
“Gue juga. Nanti yang lain udah selesai makan siang, kita baru nyampe,”
“Waduh, nanti gue langsung kurus dong,”
Beberapa peserta yang lain ikut mengeluh. Aku sendiripun lapar. Ini sudah pukul 12 siang. Seharusnya tiga puluh menit lagi sampai. Aku menepuk dahi, kecewa bukan kepalang.
“Kita makan di sini aja, kalau begitu. Tolong calling panitia bus 1 dan bus 2!” Pak Deka sok sibuk. Ia membuka kardus besar dan membagi-bagikan bungkusan catering ke seluruh penumpang.
“Heh, Nata, bantuin gue dong bagiin kotak nasi!” Pak Deka memelototi Nata yang asyik melantunkan lagu bujang lapuk.
“Ogah ah, males. Sini, gue bantuin makan aja,” Nata menjawab cuek.
“Lo tuh ya, nggak bisa sebentar aja bersikap jadi cowok bener,” Pak Deka menjitak Nata. Melempar kotak nasi catering ke pangkuannya.
“Aww… Sakit tahu…” Nata menangkap sekotak nasi catering. Cengengesan. Ia memang laki-laki yang selalu menyebalkan sepanjang masa.
Aku merogoh ponselku di kantong ransel hitam. Mencari kontak Pak Ilan. Biar aku yang berinisiatif menghubunginya.
"Halo, Pak Ilan. Aduh, gimana ini, kita kebablasan. Supirnya lupa belok. Disangkanya belokan di lampu merah depan. Ini harus muter balik jauh banget,”
“Ye, gimana sih. Ya udah, kira-kira kalian berapa lama lagi nyampe lokasi? Kita udah nyampe nih. Mau siap-siap lunch.”
“Yah, sebentar, Pak, gue nanya sama supirnya dulu,” Aku berdiri dari tempat dudukku yang terletak di sisi kanan pertengahan, berjalan berpegangan pada jok mendekati pak supir.
“Pak, kira-kira kita sampai jam berapa?”
“Saya kurang tau, Neng. Semoga di pasar perempatan tidak terhalang macet. Kalau lancar, 1 jam sampai,” jawab Pak supir seraya melirik spion kanan dan kiri.
Aku menjelaskan apa yang diucapkan pak supir barusan pada Pak Ilan. Kemudian kembali duduk ke bangku semula.
“Maaf ya, Pak, Bu, saya supir baru belum terlalu hafal jalan.” pak supir menengok ke belakang saat kemacetan terjadi. Wajahnya merasa bersalah.
“Oww…..” Peserta bus 3 kompak membentuk huruf ‘o’.
Pantas saja, pikirku. Aku menepuk jidad untuk kedua kalinya.
“Sudah-sudah, mungkin ini takdir kita harus nyasar. Lebih baik kita makan.” Aku mencoba mendamaikan keributan.
“Bener kata Vicka, yang penting perut kenyang. Nyam-nyam-nyam..” Pak Deka semangat sekali menyantap paha ayam.
“Ya udah sih, pada berisik aja. Nanti juga kalo udah kenyang pada diem semua,” Jenny membukakan sayur untukku, ikut buka suara.
Jenny menatapku galak karena terlalu lambat mengunyah. Aku buru-buru melahap tumis kacang panjang, menyendok nasi beserta rendang, dan memasukkan lagi capcay secepat mungkin ke dalam mulutku yang penuh agar Jenny tidak berubah menjadi mak lampir. Jenny sangat tidak suka melihat gaya makanku yang lelet. Kalau diperhatikan, lauknya banyak sekali. Aku dan Jenny larut dalam santapan.
Makan besar di sebuah bus dalam keadaan menanjak dan berliku ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Juga bagi Jenny, Nata, Sindoro, Pak Deka, dan seluruh penumpang bus 3. Rasanya seperti menaiki roler coaster. Saat mobil belok ke kiri, aku harus menahan dengan kaki dan tangan agar tidak jatuh ke samping. Begitu sebaliknya. Pada saat menanjak, menurun, dan mobil ngerem mendadak, perutku bagai di acak-acak.
Kalau bukan karena lapar, aku malas makan. Tapi ketika melihat ke jendela, aku lupa dengan perutku yang digonjang-ganjing. Lupa kalau aku sedang makan besar di dalam bus. Pemandangan di luar sungguh aduhai. Hijau sejauh mata memandang. Sebelah kiri berbaris pepohonan yang menjulang dan bukit-bukit kecoklatan, kanannya jurang yang membentuk bukit-bukit indah.
Sebelumnya, kami harus meliuk-liuk di medan yang sempit dan menanjak tajam, menerobos gelapnya hutan. Di tanjakan curam dan berbelok, aku melihat ada bus sejenis yang kami tumpangi terjatuh di sisi jurang. Persis di persimpangan jalan menanjak.
“Itu kenapa?” Aku terbelalak melihat bangkai bus yang naas terguling di sisi kiri jalan.
“Jatuh, mungkin.” Jenny asal tebak.
“Ngeri ya… Hutan ini angker, sama kayak lu, Jen.” Aku bergidik.
“Enak aja. Jangan bilang gue mak lampir,” Jenny meneguk air botol kemasan. Tak lama ia terbatuk-batuk. Wajahnya pucat pasi. Ia minum saat mobil sedang berguncang, membuatnya tersedak. Asmanya kumat.
"Eh, lo kenapa, Jen? Asma lo kambuh? Bawa obat?” Aku meletakkan kotak makanku dan mengecek tasnya.
“Gue lupa Vick. Obatnya ketinggalan di kosan,” jawab Jenny patah-patah. Ia terbatuk lagi. Ia seperti baru saja menelan kodok.
Aku langsung mengomelinya karena ceroboh lupa membawa obat pribadi. Perjalanan ini jauh dari apotek, klinik, dan rumah sakit. Bagaimana kalau dia sekarat? Bagaimana kalau dia lewat? Pikiranku bercabang kemana-mana. Aku mencoba mengelus-elus punggungnya. Menyuruhnya minum air yang banyak pada saat mobil berhenti.
Biarpun kadang dia galak, tapi Jenny sudah seperti kakaku sendiri. Kami terbilang dekat. Aku bahkan sering menginap di kosnya karena kemalaman nonton bioskop ataupun belanja ke mal. Jenny juga selalu menyediakanku makanan dan baju ganti. Jenny orang yang bawel tapi perhatian. Dia juga kadang berkunjung ke rumahku jika malas pulang ke Depok.
“Eh, lihat, Jen, ada gubuk di tengah hutan,” Aku tak bisa mengedipkan mata. Berharap apa yang kulihat hanyalah halusinasi semata.
“Lo kebanyakan nonton film horor kali, makannya di otak lu cuma ada sosok mak lampir beserta teman dan aksesorisnya.” Wajah Jenny sudah kembali normal. Asmanya sudah menghilang. Ia baik-baik saja.
“Lo mah nggak percayaan sih orangnya. Coba lihat tu!” Aku menunjuk ke belakang. Sayang, mobil sudah meliuk lagi ke atas.
“Mana? Orang nggak ada,” Jenny telat. Aku ingin sekali menjambak rambutnya.
***
Setelah satu jam membuat rusuh di dalam bus, akhirnya kami tiba di lokasi. Rekan kerja yang berada di bus 1 dan 2 menyambut kami dengan ejekan. Mereka baru selesai makan.
Seseorang berseragam memberikan instruksi menggunakan toa. Menyuruh kami berbaris di pinggiran sungai berbatu.
“Ini kekecilan, Neng. Ntar lu engap,” Jenny membantuku memasangkan tali pelampung ke depan dada.
“Ini udah pas, Jenny,” Aku bersikekeuh. “Tolong bantuin gue cari dayung yang warnanya abu-abu juga,” tukasku sembari mengencangkan tali helm yang berwarna biru telur asin. Helm yang lebih mirip dengan peralatan orang kontraktor.
“Rewel banget sih lu, Vick. Iya kalo ada, kalo nggak ada lo mesti ngecat dulu tuh dayung,” Jenny celingukan ke mobil bak. Tidak ada apa-apa lagi di sana. Ia merebut dayung dari tangan Nata yang diselipkan di pahanya.
“Ih, apa-apaan sih lo, Mak Lampir. Ngerampok barang gue,” Nata melotot.
“Lo cowok, harus ngalah sama cewek,” Jenny balas melotot.
Keduanya main tarik-tarikan. Tidak ada yang mau mengalah. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Guide yang melihat pertengkaran antara Jeny dan Nata segera melerai, “Jangan berebut, masih ada lagi.” Laki-laki yang membawa toa itu terbahak menyaksikan dua makhluk yang sama-sama ngotot.
“Nah itu mobilnya sudah datang,” Pak pemandu menunjuk mobil bak yang berisi dayung, pelampung, dan helm, bekas peserta dari rombongan lain yang telah selesai menuntaskan keseruannya.
Nata dan Jenny saling berkejaran. Lagi-lagi berebut dayung. Padahal jelas-jelas Nata sudah memegang satu dayung. Akupun tidak mau kalah, ikut berebut dengan mereka dan peserta lainnya. “Yah, kok warnanya ungu sih, kan gue nggak suka. Nggak mau ah,” Aku memanyunkan bibir.
“Ah, lu mah ribet bener hidupnya, Vick. Nih tukeran sama gue,” Jenny menyodorkan dayungnya yang berwarna hitam.
Aku menukar dayungku. Meski tidak terlalu suka hitam, tapi setidaknya bukan terong-terongan. Jenny gantian memanyunkan bibirnya. Sebal.
Nata memutar-mutar dua dayung di tangan kanan dan kirinya berlaga menjadi pendekar abal-abal. “Dasar stres,” Jenny sengaja menyenggol bahunya. Yang disenggol melotot, menipu mau memukul dengan dayung.
“Kalau mau geser ke kanan, maka awak bagian kanan mendayung ambil dan awak sebelah kiri mendayung buang. Posisi sebelah kiri pindah ke tengah. Begitu sebaliknya. Jika aba-aba mundur, maka semuanya harus mendayung ke belakang. Seperti ini…” Guide mempraktikan dengan dayung.
“Oh ya, ujung dayung jangan sampai menyentuh temannya di belakang. Khawatir akan mengenai rahang. Nanti giginya rontok, kasihan.”
Pak Pemandu menjelaskan panjang lebar aturan main dalam rafting. Dari mulai aba-aba geser kanan, kiri, balik kanan, balik kiri, maju, mundur, mendayung saat sungai dangkal dan aliran deras, saat aliran tenang, bila perahu terbalik atau tersangkut di batu besar, dan sebagainya. Semuanya bertujuan untuk keselamatan peserta.
Usai pengarahan, kami yang memakai perlengkapan macam banteng takeshi berhamburan menaiki mobil pick up yang sudah disiapkan panitia. Aku, Jenny, dan Pak Deka duduk di pinggiran mobil bak. Suasana ketika menjadi tegang saat mobil kecil itu menanjak dengan kemiringan 45 derajat di atas jalanan berkerikil tajam. Kalau mobil ini oleng sedikit saja, mungkin tubuh kami akan lebam oleh tajamnya bebatuan yang dibiarkan tanpa aspal.
Bukannya takut, Nata malah berdiri, berteriak-teriak pada pepohonan yang berbaris di sisi kanan dan kiri jalan. Sindoro meniru gaya Nata yang tidak bisa diam. Aku dan Jenny berpegangan kuat. Mobil ini sepertinya sudah teruji tahan banting. Bannya bebal, meski menginjak batu-batu yang tajamnya bagai pisau. Meski akhirnya aku terbuai dengan eloknya pemandangan. Pak Deka usil menyodok pantat Nata dan Sindoro dengan dayung.
Jalanan menuju hulu lumayan jauh. Adalah sekitar dua puluh menit kami berteriak mengusir tegang. Kami harus berjalan kaki sekitar 100 meter untuk sampai di sungai. Astaga, Nata dan Sindoro norak sekali. Mereka berdua main ciprat-cipratan. Tertawa macam anak kecil yang baru saja melihat air. Aku menggelengkan kepala.
“Ayo Vicka, Jenny, Nata, Sindoro, bergegas naik ke perahu!” Pak Deka begitu semangat. Ia orang pertama yang menemui Pak Edo selaku guide yang ditunjuk panitia untuk menyaksikan ulah kami berlima.
Kalian tahu ini di mana? Ya, benar sekali, ini di Citarik, sungai beraliran deras yang terkenal dengan petualangan raftingnya. Ide ini adalah hasil voting sebagian karyawan PT DUNIA HARUS TAHU dalam rangka merayakan ulang tahunnya kali ini.
Aku setengah takut saat hendak naik ke perahu karet yang diikat tali tambang agar tidak hanyut terbawa aliran sungai. Arusnya yang kencang, membuatku susah menaikinya. “Gue nggak ikut ah,” Aku mundur satu langkah, ragu.
“Apa-apaan lu, Vicka, jauh-jauh ke sini nggak ikut. Nggak bakal ada kenang-kenangan yang lo bawa pulang,” Jenny menarik tanganku, gemas.
Nata dan Sindoro meledekku si penakut, “Jenny aja yang penyakitan berani, masa lo takut?”
Aku tidak terima dengan ledekan mereka.
Maka dengan perasaan takut yang luar biasa, aku naik ke perahu. Pak Deka dan Jenny menyemangatiku. “Ayo, Vicka, takhlukan ketakutanmu!”
“Apa di sini pernah ada korban meninggal dunia, Pak Edo?” Tanyaku mengintrogasi. Di depanku batu-batu besar terpampang tak beraturan. Airnya yang deras membuat jantungku ingin copot.
“Semuanya akan baik-baik saja, asal kalian ikuti instruksi saya,” jelasnya menenangkan.
“Sejauh ini belum ada korban, Mbak. Nikmati saja arusnya, sebagaimana kita mengikuti arus kehidupan yang berliku, terjal, dan penuh drama ini,” Pak Edo melebarkan senyum ke arahku, mengingatkan semuanya sudah ada yang mengatur.
Entahlah, aku tidak tahu apakah Pak Edo hanya berusaha menenangkan hatiku, seolah semua pemain di sungai deras ini tak ada yang hanyut ataupun meninggal.
Aku dan Jenny duduk di depan Pak Edo, di deret belakang. Sementara Nata dan Sindoro di deret depan, membiarkan Pak Deka menjadi penyeimbang di ujung depan.
“Siap?” Pak Edo memberi aba-aba. Tali perahu yang terikat di batu segera dilepas. “Ikuti perintah saya, dan ingat-ingat penyuluhan di bawah tadi,” Pak Edo mulai mengayuh dayungnya ke depan, membuat posisi kami memutar.
Aku dan Jenny berteriak saat perahu karet dengan lincahnya bergerak maju. Nata dan Sindoro ikut-ikutan berteriak dengan suara yang membuatku pusing.
“Geser kanan!” Pak Edo memberikan instruksi. Baru jalan setengah menit, perahu kami terjepit di batu besar. Aku yang berada di sebelah kiri segera menggeser posisi duduk pindah ke tengah. Nata yang berada di depanku lupa, sehingga posisi perahu tidak mau bergerak.
“Nata, geser duduknya ke tengah!” Tegasku berteriak.
Nata menoleh dan segera memindah posisi duduknya.
“Dayung ke kanan!” Pak Edo berusaha kuat menghentakan dayung ke batu, mengayunkannya dengan teknik membuang, agar perahu lekas keluar dari himpitan.
Aku, Jenny, Sindoro dan Pak Deka mengikuti instruksi. Namun Nata masih saja keder dengan aba-aba dari pak pemandu.
“Nata, please deh ayun dayungnya ke kanan, kalo lo nggak mau perahu kita stag di tempat.” Aku berteriak ke kupingnya. Geregetan.
“Eh?” Nata menoleh bingung. Ia lupa apa yang harus dilakukan. Atau memang kupingnya sengaja disumpal kain super tebal sehingga ia tidak jeli mendengarkan bahan penyuluhan yang diwejangkan oleh pak pemandu saat briefing tadi.
Peserta lain yang lewat bersorak-sorai memberikan semangat. Merekapun berteriak histeris saat pelampung itu menabrak batu besar di hadapannya dan melesat kencang di aliran yang deras. Berseru saat berhasil melewati tantangan.
Sungai ini lebar dan liar. Kanan dan kirinya dipenuhi pohon nyiur yang melambai. Rumput-rumput ilalang tinggi menjulang. Langit biru berawan menjadi atap yang menyenangkan. Air semi coklat yang beriak tak lagi membuatku geram.
“AWAASSSS!!!!” Aku berteriak spontan. Membuat perahu oleng ke kiri. Sindoro kehilangan kendali. Dayungnya terpental. Tubuhnya terjerembab ke luar perahu. Mirip papan triplek mengapung dalam air. Megap-megap.
Bukan membantu menolong, aku, Jenny, Nata, dan Pak Deka terbahak. Pak Edo mengatur posisi perahu agar tidak bergerak. Segera menyodorkan dayung untuk menarik Sindoro ke dalam perahu. Pak Deka yang kasihan ikut membantu.
“Ngapain dibantu sih, Pak, biarin aja dia nyium batu. Gakgakgakgak…” Nata menirukan suara burung Gagak. Cengengesan merasa tidak berdosa. Padahal selama ini ia juga bandel. Disuruh kayuh dayungnya, diam saja. Diminta geser tengah, juga diam saja. Giliran jatuh, baru deh minta ampun.
“Lu jangan bahagia dulu, Nata de coco. Nanti pas lu jatuh kita nggak mau nolongin lu,” Jenny tergelak dengan ucapannya.
“Sial! Lumayan juga nyium batu,” Sindoro mengusap lututnya yang lebam. “Ini semua gara-gara Vicka sama Jenny,” Sindoro bersungut-sungut kesal sambil terkeukeuh.
“Enak aja gara-gara kita. Lo sendiri bandel nggak mau pegangan. Merasa udah lihai,” kataku membela diri.
“Iya, tapi kan gara-gara teriakan kalian gue lupa pegangan.” Sindoro masih berbelit.
“Udah-udah, bosen gue denger kalian nggak pernah akur,” Pak Deka mencoba melerai.
“Syukurin… Hahahaha,” Nata meleletkan lidah ke Sindoro yang meringis kesakitan. Teman macam apa dia, tertawa di atas penderitaan sahabatnya sendiri.
“Elu juga, Ta. Mau ikut jatuh kayak Sindoro?” Pak Deka melotot galak.
“Nggak mau lah gue. Lu aja, Pak! Gue belum kawin.” celotehnya menyebalkan.
“Lanjut lagi ya.. Masih semangat kan? Sebentar lagi di kilometer 4,5 kita istirahat. Di sana ada kelapa segar yang siap menyambut.” Beber Pak Edo menengahi perkelahian kami yang membuatnya gagal konsen mengemudikan perahu karet.
“Di tikungan depan, sebelah kiri, ada photographer. Siapin gaya kalian yang paling gokil,” beber Pak Edo sambil menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik karena tingkah kami yang tidak bisa diam.
Tanpa disuruh dua kali, Nata menunjukkan gaya super alaynya. Menempelkan kedua jarinya ke pipinya yang tirus. Sindoro tidak mau kalah, memamerkan giginya seperti kuda. Pak Deka memperagakan gaya mengepal senapan ke udara dengan tampangnya yang serius.
Aku dan Jenny bingung harus berpose seperti apa.
“Neng, gaya Patung Liberty aja, kayak gue,” Jenny dengan PD menirukan patung yang dilihat melalui majalah, belum pernah ke sana. Sedangkan aku menirukan patung pancoran yang tidak mandi selama bertahun-tahun.
Pak Edo menepikan perahu karetnya. Beberapa rombongan lain yang juga mengenakan kaos putih senada melambaikan tangan. Menyuruh kami ikut meneguk buah kelapa yang langsung dari pohonnya.
Meski hanya duduk di perahu karet, mendayung asal-asalan, nafasku tersengal. Rasa haus dan lelah mengantarkanku pada bulir buah nyiur tanpa tambahan pemanis yang membuatku segar kembali. Perjalanan kami masih setengah jalan. Artinya masih 4,5 kilometer lagi untuk mengarungi derasnya Sungai Citarik. Seperti biasa, Jenny dan Nata kembali bertengkar berebut buah kelapa.
“Gue duluan,” Nata tidak mau mengalah.
“Lo tuh emang bikin gue darah tinggi, Ta. Sebel gue liat lo,” Jenny berlalu pergi, mengahimpiriku yang asik menyedot air kelapa.
Jenny terus mendumel karena kelakuan Nata yang tidak pernah mau mengalah. Aku menyerahkan sisa air kelapa dan menunggu giliran ke belakang.
“Si Jenny berantem lagi sama Nata?” Pak Deka membawa dua kelapa di tangannya.
Aku mengangguk.
“Ini buat Jenny…” Ia menyerahkan satu kelapa di tangan kanannnya.
Aku menerima buah kelapa dari tangan Pak Deka dan langsung balik kanan. Sekilas memperhatikan Sindoro sedang meluruskan kakinya yang mulai membiru akibat jatuh beberapa menit lalu.
“Woy, Vicka… Kakak lu berantem lagi sama si Kutu Kupret?” Sindoro berteriak, kepalanya mengangguk-angguk macam golek.
Aku menoleh, menjawabnya dengan senyum terpaksa. Bukankah selama ini Jenny dan Nata terkenal dengan julukan Tom & Jerry? Kalau begitu, kenapa harus diperjelas lagi, pikirku malas.
“Thanks, Neng. Lo nggak mau lagi?” Jenny sumringah melihatku membawa satu butir kelapa utuh untuknya.
“Nggak, ah, udah kenyang. Gue mau makan kelapanya aja. Sini!” Aku merebut kelapa milikku dari tangan Jenny.
Perempuan bertubuh tinggi dan berambut panjang itu langsung menyedot air kelapa dengan ekspresi haus bandel. Aku tertawa. Mengingat umurnya yang berjarak 7 tahun, Jenny terlihat sepantaran denganku.
Perjalanan ronde dua dilanjutkan. Masih dengan posisi awal. Pak Edo sibuk menginstruksi kami untuk segera naik ke perahu karet. Aku dan Jenny sudah penuh baterai. Kami bisa berteriak lantang melawan derasnya arus kehidupan. Sindoro sudah membaik, meski lututnya lebam. Pak Deka sejam lebih muda dari sebelumnya karena meneguk bulir kelapa hasil panjatan dari pohonnya langsung yang dikupas secara mendadak oleh panitia rafting.
Sementara Nata masih saja jelek. Tidak ada tampang ganteng-gantengnya dari dulu. Dan selalu menyebalkan.
Aliran Sungai Citarik memang tiada duanya. Pantas saja disebut Citarik. Menurut arti bahasa Sunda, ci itu artinya cai = air, dan tarik = kencang atau deras. Maka Citarik merupakan air yang mengalir kencang nan deras.
Rafting ini sungguh menegangkan. Karena kalau tidak bisa mengendalikan perahu secara benar, maka bisa saja kami terjatuh seperti Sindoro dengan oleh-oleh lebam. Jika jatuhnya pas dialiran yang tidak terhalang batu, tubuh kita bisa terbawa arus kencangnya, hanyut. Belum lagi jika harus terbentur batu-batu besar dan alat keselamatannya bermasalah, maka nyawalah taruhannya.
Kami hanyut dalam derasnya air Sungai Citarik. Berseru jika tersangkut di batu besar. Menghanyutkan segala beban yang selama ini terus mengganjal. Melupakan semua hutang, juga mantan. Tertawa lepas memarahi Nata yang susah diatur. Meneriaki Sindoro dan Pak Deka agar berpegangan.
Air sungai yang dingin ini mampu membius kulitku dari sengatan teriknya matahari. Meski petualangan ini membutuhkan banyak tenaga, namun tak setetespun keringat keluar dari tubuhku. Mungkin karena aku terlalu asyik bermain dalam seluncuran air, tidak menyadari kaosku basah oleh cipratannya yang menyatukan keringatku dengan air sungai.
Bila posisi sungai datar, maka kami akan kerja keras mendayungkan perahu agar melaju. Air yang tenang menandakan kedalaman sungai yang lumayan. Disitulah kami bisa bersantai barang sejenak untuk menghemat tenaga atas teriakan, tapi tidak untuk tangan kami yang terus mendayung agar perahu maju ke depan.
“Lu mandi sama gue, Vicka. Semua kamar mandi penuh,” Jenny menenteng handuk ekstra mini di tangannya, disertai sekotak plastik sabun dan sampo.
Kamar mandi ini penuh sesak oleh peserta lain. Pilihan mandi bareng adalah pilihan yang paling tepat agar kami tidak kemalaman berada di basecamp pinggir sungai. Tidak ada kamar untuk bersolek ria ataupun untuk rebahan. Karena memang Bu Nena dan Pak Ilan tidak menyediakannya. Ganti bajupun di kamar mandi. Mengenaskan, bukan? Kata Pak Ilan, biar kita menghargai alam. Jangan mentang-mentang hidup di kota, maunya serba mewah.
Para bos dan jajaran petinggi lainnya pun mendapatkan perlakuan yang sama. Mereka sedang berbincang seru di saung dekat kamar mandi dengan anak buahnya. Tertawa. Kegiatan outing ini sungguh membantu merukunkan suasana. Tidak ada lagi jabatan manager dan anak buah. Tidak ada lagi posisi tinggi dan rendah. Semuanya membaur menjadi satu.
Selepas mandi, kami bersiap-siap menuju rumah makan yang sudah dipesan Bu Nena. Letaknya cukup jauh dari sini, sehingga kami harus naik bus. Aku dan Jenny tidak sempat berdandan. Menyisir rambut saja sambil jalan.
“Pak Deka, ayo! Lu mau ditinggal sendirian di sini?” Jenny melambaikan tangannya di samping pintu.
Pak Deka tersadar bus sudah siap berangkat. “Eh, tungguin gue dong, jangan ditinggal.” Ia menaiki anak tangga dan mencari bangku yang masih kosong.
Nata dan Sindoro kembali membuat ulah dengan memainkan gitar butut dan suara falesnya. Aku dan Jenny iseng melemparnya dengan kulit kacang. Semburat jingga di ufuk barat menandakan pergantian tirai dari siang ke malam. Udara dingin pegunungan membuatku menggigil. Pepohonan tinggi yang menjulang di sisi kiri dan kanan seakan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan.
Jenny terus menyuruhku makan. Entah itu roti, snack, buah, permen, dan apa saja yang bisa dimakan. Katanya untuk mengganjal perut karena seharian dikuras untuk mendayung dan berteriak. Mulutnya terus-terusan mengunyah. Kadang bila sebal oleh celotehan Nata dan Sindoro, Jenny berkacak pinggang, menjitak mereka satu per satu. Aku terbahak menjadi penonton. Pak Deka sibuk memisahkan.
Baru setengah jam duduk, bus mengalami hambatan. Bau kopling menyengat ke hidung. Pak supir menyuruh kami semua turun. Kemungkinan bus tidak kuat menanjak. Aku dan Jenny tanpa disuruh dua kali, langsung loncat. Mencari aman. Tas dan barang bawaan lainnya kami tinggalkan di jok.
“Aneh, padahal tadi nggak kenapa-napa, kan Vick?” Jenny mengibas-ngibaskan tangannya menghilangkan asap.
“Iya nih, aneh banget. Mungkin mak lampir ngikutin kita, Jen,” Aku mulai mengaco. Terbatuk dengan bau yang menyengat.
Jenny melotot sebal jika mendengar kalimat itu.
“Ayo, naik lagi, busnya sudah bisa.” Pak supir menyuruh kami semua masuk kembali ke dalam bus.
Syukurlah, aku menarik nafas lega.
Jika perjalanan lancar, kami diperkirakan sampai kantor pukul 10 malam. Namun hanya bertahan setengah jam sejak bus mogok, untuk kedua kalinya kami dipaksa turun. Bau kopling kembali menyengat. Membuat aku, Jenny, dan penumpang lainnya terbatuk. Bunyi mesin meraung kencang. Aku bagai terguncang.
“Kenapa lagi sih, nih? Heran gue.” Jenny menuntaskan batuk terakhirnya.
“Nggak ngerti, mungkin karena…”
“Jangan bilang yang nggak-nggak lagi deh, Vicka. Cukup!” Jenny melotot mengancamku.
Aku menutup mulut. Urung bercanda meledeknya. Kami berhenti di tepian hutan menunggu bus merangkak menjemput. Tak lama bus melaju lagi. Kami semua masuk kembali ke dalam bus tersebut. Kali ini lebih apes, setiap tanjakan, kami harus turun. Aku dan Jenny memilih untuk berjalan kaki saja. Tas dan ransel kami tinggalkan di dalam jok.
Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 19:00 WIB. Namun suasana hutan ini seperti sudah larut. Angin sepoi-sepoi mengibas anak poniku. Derik jangkrik dan kodok mengalun bersautan menjadi orkestranya. Aku menelan ludah. Jalanan menanjak dan menurun ini sungguh membuat bulu kudukku merinding. Di sini jauh dari perkampungan. Tidak ada lampu sama sekali. Hanya hutan yang gelap. Beruntung, bulan sedang purnama, jadi jalanan tidak hitam pekat.
Sudah hampir setengah jam kami berjalan menyusuri hutan. Bus yang kami tumpangi tertinggal jauh di belakang. Aku memperhatikan Jenny yang berjalan di sampingku, “Lo nggak nyesek kan dadanya?” tanyaku sembari memegang tangan Jenny. Semoga dia kuat dan penyakit asmanya tidak kumat.
“Nggak apa-apa koq, Vicka. Gue sehat walafiat,” Jenny tersenyum, menyembunyikan wajah lelahnya dariku.
“Kalo lo ngerasa sesek, kasih tau gue, kita berhenti dulu,” pintaku serius. Aku khawatir jika terjadi apa-apa padanya. Mengingat ini di tengah hutan yang jauh dari manapun. Susah sinyal, apalagi warung yang menjual minum.
Jenny mengangguk. Sekali lagu berkata baik-baik saja.
Nata yang berjalan di belakangku berkomentar, “Iya lu Jen, bilang. Gue nggak mau gendong lu, nyusahin tau,” Nata memanyunkan bibirnya.
“Siapa juga yang mau digendong sama lu, Ta. Ogah gue,” Jenny menoleh sebentar, enggan menanggapi ledekan Nata yang kian menjadi.
Aku berusaha melerai keributan. Percuma, mereka berdua memang ditakdirkan untuk saling bertengkar. Aku harus menggelengkan kepala berkali-kali, mengelus dada. Sabar Vicka, kataku dalam hati.
Sindoro berjalan tersuruk-suruk di samping Nata. Ia hanya tertawa mengomentari keributan dua sahabatnya, sesekali ikut meledek Jenny. Sementara Pak Deka menimbrung percakapan dengan karyawan lain. Malas meladeni Nata.
Desir angin yang lewat menyebabkan ranting dan daun bergesekan. Menimbulkan suara mencekam. Malam ini aku benar-benar nelangsa. Seharusnya aku sudah tiba di rumah makan. Ini malah olahraga malam. Keringat satu per satu bercucuran. Aku lapar.
Kadang tak selamanya duka itu menyedihkan. Tak berapa lama, mobil pick up yang kami tumpangi tadi siang berhenti menawarkan jasa. Aku dan Jenny antusias dan segera loncat ke dalam tumpukan perahu karet yang sudah dikempeskan udaranya itu.
“Eh, tapi tas kita gimana?” Aku baru ingat kalau barang bawaan kami tertinggal di bus.
“Nanti ada tim yang membawa tas kalian,” salah satu panitia rafting menjawab.
“Tapi nggak ada yang hilang kan, Pak?” Jenny memastikan.
“Semoga tidak ada. Bus yang kalian tumpangi masih berhenti dan tidak mau jalan. Supirnya menyuruh kami untuk membawa kalian hingga ke rumah makan. Pasti kalian lapar, bukan?”
“Bukan lapar lagi, udah hampir pingsan, tau nggak?” Jenny berceloteh jutek, nafasnya terengah-engah.
“Heh, kutu kupret, lu mau jalan kaki sampe besok pagi? Cepetan naik,” Jenny menimpuk Nata dengan sandal.
Nata menangkap sandal jepit Jenny, “Ih, Mak Lampir sialan, lu jangan berisik kek, kuping gue sakit,” timpal Nata sambil loncat ke tumpukan belakang. Disusul Sindoro, Pak Deka, dan karyawan lainnya.
Jadilah kami naik mobil bak beralaskan pelampung basah. Mau tidak mau. Bersyukur masih ada yang mau menolong di tengah hutan nan gelap gulita ini. Tanpa jaket dan syal, judulnya harus siap masuk angin. Aku, Jenny, dan rekan kerja lainnya menertawai nasib malang kami.
Laju mobil membuat tanganku harus mencengkeram kuat. Aku dan Jenny sudah tidak dapat berteriak lagi. Kami sibuk dalam diam. Begitu pula dengan Sindoro, Nata, dan Pak Deka. Purnama yang bulat terang, tersenyum menemani kami. Hanya deru mobil yang memenuhi gendang telinga. Selebihnya dingin oleh tiupan angin.
Dua puluh menit kemudian, kami tiba di rumah makan dengan tampang kusut acak-acakan. Pemilik perusahaan menyambut kehadiran kami dengan perasaan iba, “Ayo, langsung ke meja makan. Pasti kalian lelah ya?” Tangannya menunjuk ke meja parasmanan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Bukan lelah lagi, tapi gempor. Nata langsung menyerbu makanan memba-bi-bu. Kalap. Semua makanan yang tersaji di atas meja dituang ke dalam piring super besar. Jenny seketika langsung memukul tangan Nata yang masih saja menyendok lauk ke dalam piringnya.Pak Deka dan Sindoro tidak mau kalah dengan Nata. Mereka meraih semuncung nasi putih, ikan bakar, dan lauk lainnya ke piring masing-masing.
Aku dan Jenny duduk semeja, menyendok dengan cantik bulir nasi ke dalam mulut. Tertawa.
“Lo nggak lihat kelakuan mereka? Kayak orang kesurupan ih, semuanya di masukin ke piring. Bikin malu aja,” Jenny mengunyah daging ayam dan sayur mayur. Menatap sirik Nata, Sindoro, dan Pak Deka.
“Mereka dari dulu emang udah malu-maluin. Biarin ajalah, laper mungkin,” kataku sembari menahan tawa.
“Kalian ngomongin gue ya? Nggak boleh ngomongin orang tahu, dosa.” Nata menimbrung ke meja makan. Diikuti Pak Deka dan Sindoro.
Seketika meja makan ramai oleh suara sendok, garpu, piring, dan keributan.
Setelah pengumuman karyawan terbaik, terajin, dan terimut selesai, waktunya menunggu doorprize yang sayang lagi-lagi aku belum beruntung. Kami pulang menaiki bus 2.
Sebagian ada yang ikut dengan rombongan para bos di bus 1. Mengingat kapasitas bus terbatas, maka dibuat aturan bahwa laki-laki harus berdiri.
Aku dan Jenny dipersilakan duduk oleh peserta laki-laki di bus dua. Nata membuat ulah. Merengek minta diberikan tempat duduk, “Please… kan gue capek, abis jalan jauh banget. Nanti gantian. Janji.” Dia merayu Pak Ilan.
Hari itupun menjadi legenda yang terlupakan. Kami tiba di kantor pukul satu dini hari akibat bus melaju sangat pelan menghindari jurang. Juga sempat terjebak kemacetan panjang. Sampai detik ini, aku tidak tahu nasib supir bus 3 yang berusaha menjalankan mesin di tengah gelapnya hutan. Sendirian.