Kamis, 12 Februari 2015

Dewi Awan #FlashFiction

Apakah kamu menyukai langit biru yang tak tersaput awan? Apakah kamu lebih tertarik melihat gumpalan awan mengotori birunya langit? Apakah hujan itu menyebalkan? Apakah kau takut melihat kilauan halilintar memenuhi angkasa? Apakah kehadiran pelangi bisa memberikan senyum terindah?

Bagiku semua itu adalah tontonan luar biasa yang diciptakan Tuhan. Lihatlah, awan-awan itu berarak tertiup angin. Kemudian membeku dan menggelap. Tak lama gumpalannya bertabrakan mengeluarkan suara halilintar dan kilat yang menyambar-nyambar. Hujan pun turun menciptakan suasana sejuk di muka bumi ini.

Oh, tidak! Sesuatu yang selalu kutunggu kehadirannya adalah pelangi. Pembiasan cahaya oleh rinai hujan itu mampu menciptakan warna yang menakjubkan.

Aku Dewi, gadis berusia 24 tahun yang sedang mencari jati diri. Tinggi badanku semampai. Alias 150 cm pun tak sampai. Sampai sih, aku hanya bergurau. Lebih malah, lima centi. Dan artinya tinggiku 155 cm. Berat badanku hanya 43 kg. Rambutku ikal, tidak hitam, tidak pirang. Biasa saja. Hidungku juga tidak mancung, tidak juga pesek, biasa saja. Daguku tidak lonjong tidak juga bulat. Biasa saja. Mataku pun tidak sipit, tidak juga belo. Biasa saja.

Kecantikanku juga biasa saja. Aku sungguh biasa saja. Tapi aku bersyukur menjadi makhluk Tuhan yang sempurna memiliki panca indera lengkap, organ tubuh komplit, dan otak yang cukup cerdas.

Hobiku memandang awan bergerombol di langit biru. Menyaksikan percikan airnya dari atas sana. Mengagumkan. Sama halnya aku mengagumi sosok Awan. Laki-laki berusia dua tahun di atasku yang kukenal melalui sahabat baikku, Tita. Awalnya aku menolak perkenalan itu mentah-mentah. Tetapi Tita memaksaku.

“Ayolah, Dew… sampai kapan kamu menjomblo seperti ini?”

Aku memang masih menikmati kesendirianku. Tiga tahun adalah rekor muri dalam sejarah hidupku memilih status single. Rasa trauma atas kegagalan berkali-kali di masa lalu membuatku enggan memulai komitmen dengan seorang lelaki. Tetapi apa salahnya mencoba membuka pintu hati yang kuncinya sudah tertimbun dalam-dalam.

“Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun saat ini, Tita. Maaf…”
“Ayolah! Apa salahnya berkenalan. Dia anaknya baik.”

Tita terus merayuku. Dengan berat hati aku pun menerima tawaran konyol sahabatku, berkenalan. Pria bertubuh tinggi, kurus, putih, dan tampan itu sepertinya orang baik-baik. Dan kamipun akhirnya berteman cukup dekat, sangat dekat.

Wahai, Ibu, es di kutub utara dan selatan tiba-tiba mencair. Aku mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Saat Tita memperlihatkan foto Awan pertama kalinya padaku. Dan saat pertemuan itu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya.

Kehadirannya bak hujan di tengah kemarau panjang, seperti pelangi pasca badai. Secepat itukah aku jatuh cinta padanya yang baru saja kukenal kemarin sore? Setelah bertahun lamanya aku sendiri dalam kesibukan tanpa seseorang.

Kami terjebak dalam keadaan ini. Perasaan yang hadir tanpa bisa ditawar. Serta pilihan yang tidak dapat ditolak. Awan memilih menjalani hubungan ini karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk merasa menjadi seorang yang sangat dicintai. Sedangkan aku harus bertanggung jawab pada hatiku yang terlanjur mencintainya.

“Kita sudah terlalu dekat, Awan. Aku tidak ingin perasaan ini semakin jauh. Apakah? Apa kau mencintaiku?”
“Jangan suguhkan aku dengan kalimat itu.”

Tuhan, maafkan aku yang selalu berdoa agar dia menjadi teman hidupku kelak. Memohon agar ia menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku. Aku terlalu memaksa. Awan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan untukku. Rasanya sakit. Awan masih belum siap menjalani hubungan yang lebih serius. Hatiku menggigil mendengar pengakuannya.

“Kita jalani saja dulu”
“Sampai kapan? Kita sudah menjalani hubungan ini. Aku tahu kamu sedang belajar mencintaiku.”
“Dengarkan aku, Awan…”
“Tengoklah ke langit siang, betapa indahnya gumpalan awan putih bergerak tertiup angin. Lambat laun warnanya menjadi gelap pekat menutupi sinar sang surya. Hatiku seperti itu. Membendung hasrat di pelupuk mata.”

Mungkin hujan dapat menghapus jejaknya. Mungkin pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Ternyata dia bukan hujan di tengah kemarau panjang. Dia juga bukan pelangi pasca badai.

Malam-malam ini menyesakkan dada. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang sudah. Oh, Awan… kau sungguh elok bersanding di birunya langit yang tak berbatas. Tapi aku tak dapat menyentuhmu. Aku tidak pernah punya kesempatan itu. Kini aku kembali pada kesibukanku semula. Menikmati kesendirianku.Bersabar menunggu seseorang berhati Malaikat datang menemuiku.

Tugasku adalah memupuk tanaman itu agar ia tumbuh subur. Namun jika ia tetap layu atau justru mati, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah berusaha. Berusaha mempertahankan hubungan ini semampuku.

Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, seorang Dewi yang mengagumi setitik awan lepas menari di birunya langit. Memesona sejauh mata memandang, namun tak bisa dimiliki. Ini hanya sebatas mimpi untukku. Tak akan pernah menjadi nyata. Awan semakin dingin, mengucurkan derasnya titik-titik air mata membanjiri pipi tirusku.

Perasaan tetaplah perasaan. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, pasti aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayang, hanya waktu yang mampu memulihkan semua ini. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seribu tahun lagi.
◊◊◊

Flash Fiction ini merupakan kontributor dari Hujan Bercerita yang sengaja saya publish di Blog.
Terimakasih sudah membaca.

Salam hangat,


Nalla Dewi