Perkenalkan, ini Kota Jakarta. Kota yang super sibuk, tidak pernah tidur, bising, dan sarat polusi udara. Di ibukota, tiada hari tanpa mengenal yang namanya macet. Padahal tidak ada si Komo lewat. Untuk mempersingkat waktu dan biaya akomodasi, kemanapun aku pergi, selalu mengendarai roda dua. Trotoar yang berfungsi sebagai media pejalan kaki, kerap menjadi sasaran empuk bagi pengendara motor. Dan akulah salah satu pengemudi nakal yang menikmati hak pejalan kaki tersebut dikala Jakarta tidak bergerak. Bagiku, keefisienan waktu di kota metropolitan amatlah penting. Time is money. Aku setuju dengan kalimat tersebut.
Orang bilang, aku mirip setan bila di jalan raya. Tetangga yang sempat kubonceng untuk membeli handphone baru, memilih turun di perempatan jalan karena katanya naik motor denganku, bagaikan naik wahana adrenalin. Ibuku sering berujar, “Nyawa kamu hanya satu, Adya… Bukan seribu.” Aku hanya mengangguk.
“Pulangnya jangan malam-malam, Adya… Jangan ngebut-ngebut di jalannya. Ibu pusing mendengar kamu mengeluh kesakitan acapkali jatuh dari motor.” Ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mulutnya juga ikut-ikutan sibuk menceramahiku.
Aku tertawa saja mendengar segala celotehan ibu yang hampir setiap hari mengingatkanku laiknya anak kecil. “Iya, Bu, aku lekas pulang.” Kucium tangan beliau setelah menandaskan sepotong roti bakar dan melesat pergi menggunakan kendaraan roda dua berwarna hitam.
Di pertengahan jalan, dua pengendara motor lain memancing amarahku. Pagi ini Jakarta tidak terlalu macet, tidak juga lengang. Aku yang jengkel oleh dua pengendara itu, langsung menarik pedal gas tiga kali lebih kencang. Adu balap pun terjadi. Aku meliuk ke kanan dan ke kiri, menyelip di antara kendaraan lain yang menghalangi laju kecepatan motorku.
“Woy, BRENGSEK!!! Gak punya mata ya?” Salah satu pengendara berseru sebal ketika stangnya tersenggol olehku. Aku tertawa. Suruh siapa jalannya pelan macam keong. Menghambat adegan balapanku saja.
Laki-laki berjaket kulit coklat yang sejajar denganku, melayangkan jempol tangannya mengarah ke bawah. Sial, dia meledekku. Dia pikir aku takut dengan tantangannya? Dengar, ya, Adya tidak pernah takut dengan siapapun. Camkan itu!
Dua pengendara ninja itu memainkan gasnya, meledekku. Menimbulkan efek suara mengerang-erang pertanda perang masih berjalan. Motor belalangku ini tidak akan tinggal diam atas tawa meremehkan mereka. Maka, kutambah lagi kecepatanku menjadi 99 km/jam. Mustahil memang, mengendarai kendaraan secepat itu di jam berangkat kerja. Namun aku bisa mempraktekannya. Dan seperti biasa pula, pengendara lain yang kudahului selalu berseru sebal sambil membunyikan klakson kencang-kencang, menganggapku sudah gila.
Balapanku dengan dua laki-laki asing itu menjadi semakin panas tatkala kemacetan panjang menghadang. Emosiku yang meluap-luap, semakin meluber menahan amarah. Tak sabar mengantri di belakang, aku menyerobot jalur busway. Polisi yang melihatku, berteriak menyuruhku berhenti. Aku tak merisaukannya. Kuperkencang pedal gasku. Dua pemuda itu pun mempercepat laju motornya menyusulku dari belakang. Adegan track semakin panas.
“Kau tak akan bisa mengalahkan kami, Cewek Jelek. Mesin motormu KW, tak akan bisa menandingi mesinku,” Salah satu laki-laki yang menantangku mencibir.
Aku bersungut-sungut kesal, “Jangan menghinaku, Bujang Tengik! Kau akan bertekuk lutut di hadapanku bila aku menang. Curang sekali dua lawan satu. Lawan perempuan pula,” teriakku geram.
Dua laki-laki itu menyeringai, menambah laju kecepatan motornya, meninggalkanku lima meter di belakangnya. Aku tak mau kalah, kukejar dia dengan muka merah. Dia tertinggal satu meter di belakangku. Dua meter, tiga meter, dan aku menang.
Laki-laki satunya, berusaha menyejajarkan motornya. Sambil tersipu dengan senyum garang, “Kau boleh juga, Lady,”
Aku balik menyeringai. “Sudah kukatakan, kalian jangan sombong dulu. Karena aku yang akan memenangkan track ini,” ucapku puas. Itu sama saja mengajakku berkelahi secara jantan, meski aku seorang perempuan.
Namun ternyata mereka berdua licik. Peperangan belum kelar. Acara kejar-kejaran di jalur busway masih berlanjut tegang. Hingga akhirnya pihak polisi mengamankan pertengkaran tiga anak manusia yang berkelahi di jalan.
Hal seperti itu sudah biasa bagiku. Jujur, aku paling benci jalanan ibukota ketika jam berangkat dan pulang kerja. Macet dimana-mana membuat lelah. Semua pengendara tidak ada yang mau mengalah. Serobot sini, serobot sana. Dimana hampir semua spasi jalan penuh oleh kendaraan, khususnya roda dua dan empat. Dari jembatan penyeberangan, kepadatan kendaraan terlihat bagai kodok di musim kawin. Berisik, bikin gerah. Aku muak dengan bunyi klakson bersahutan. Aku juga harus ikhlas mengorbankan gajiku habis dipotong tiap hari gara-gara telat tiba di kantor.
Andai aku punya sayap, aku akan memilih terbang ketimbang bermacet ria selama berjam-jam. Atau bila Tuhan berbaik hati, aku ingin memiliki teman seperti Doraemon, yang bisa meminjamkan baling-baling bambunya agar terhindar dari kesemrawutan daratan.
Bila kau menjulukiku sebagai wonder woman, itu memang benar adanya. Tapi jika kamu menganggapku tidak pernah jatuh karena ketangguhanku, itu salah. Sini kuberitahu, tak terhitung sudah berapa kali kakiku lecet dan baret, wajah memar, tangan sobek, mulut berdarah, serta gegar otak. Dari semua kecelakaan naas yang pernah kualami, hanya ada satu yang kusesali seumur hidupku, yakni pada saat aku kesiangan menuju kantor klien untuk mengikuti meeting tidak penting. Saking terburu-buru, aku memotong jalan dengan cara melawan arah dengan amat tergesa-gesa. Saat itulah kejadian buruk menimpaku.
Siang itu, tabrakan beruntun pun tak dapat kuhindari. Selepas hujan mengguyur jalanan ibukota di bulan Januari, seusai aku bertengkar hebat dengan ayah lantaran membela hak ibu, aku tak sempat menguasai rem dan kopling motor belalangku. Alhasil aku menghantam truk besar yang melintas tepat di hadapanku dengan kecepatan maksimal.
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi saat klakson kencang bergemuruh di kedua kupingku. Yang kutahu, aku terkapar di ruang ICU dalam keadaan menyedihkan. Ibu dan kakak perempuanku menangis tersedu-sedan, ayah bersedekap dada menatapku iba, dan Vian - tunanganku, takut-takut melihat kondisiku yang seluruhnya dibalut perban kecuali mata dan lubang hidung.
“Adya, kamu koma selama delapan hari, tujuh malam. Ibu kira, kamu akan pergi selamanya meninggalkan Ibu, Nak... Sudah Ibu bilang, kalau naik motor itu pelan-pelan.” Ibu menyeka air matanya dengan handuk kecil. Kak Dina yang berdiri di sampingnya tak mengucapkan apa-apa. Dia terlihat sama sedihnya dengan ibu, ikut sesegukan meratapi kemalangan nasibku. Sedangkan ayah, dia mengusap wajahnya yang sayu. Tampaknya tidak tega membiarkan anak bungsunya terbaring bagai mummy.
Dua hari setelah aku siuman, suster membantuku membukakan perban. Aku meringis kesakitan saat helai demi helai kain putih itu terkelupas dari kulitku. Perih. Rasanya bagai mengelupaskan kulit dari dagingku.
Dokter spesialis dibantu susternya, mengecek seluruh anggota tubuhku dan memperlihatkannya dengan kaca besar. Aku tercengang waktu menatap wajahku yang hancur. Lebih mirip hantu buruk rupa. Jeleeeek sekaliiii. Rambutku yang sebelumnya panjang, dipangkas habis-habisan. Kepalaku penuh dengan jahitan. Daun telingaku miring sebelah, lebih tepatnya sompel. Tulang hidungku penyok, serta gigiku rontok.
“Semuanya normal, kecuali kaki kanannya,” ucap dokter pada ibu, kak Dina, dan ayah.
Aku tidak mengerti apa yang diutarakan oleh dokter. Namun otakku memerintahkan syaraf untuk menggerakannya. Terasa berat. Aku mencobanya sekali lagi, tetap tidak bisa. Jari kelingking dan tengahnya putus, telapaknya remuk. Aku menangis merintih melihat keadaanku yang bagai mayat hidup ini. Semuanya terasa amat ngilu dan perih. Terutama pada sobekan kulit wajahku dan kaki kanan. Kalau begini, mana ada laki-laki yang sudi menerima kondisi fisikku? Mana ada yang mau berteman denganku nanti?
Buktinya, pasca kecelakaan, Vian hanya tiga kali datang menjenguk. Katanya dia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai tukang cukur. Entahlah, mungkin itu alasan dia mencampakkanku. Teman-teman serta kerabat tak henti-hentinya berkunjung menyampaikan ucapan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Aku tidak tahu apakah mereka tulus atau berpura-pura. Terustetang aku malu dengan keadaanku yang mengerikan ini. Akankah aku masih bisa bertahan dalam keadaan yang cukup lama? Entahlah, aku tidak tahu.
Pak dokter meminta persetujuan ibu untuk mengamputasi kaki kananku. Lagi-lagi aku berteriak kencang tidak setuju. “Jangan dokter, jangan potong kaki saya. Kumohon... Saya tidak ingin menjadi gadis buntung,” pintaku lirih sambil terisak.
“Adya, kakimu sudah busuk. Perlu dibuang. Daripada menjalar kemana-mana. Ibu tidak akan rela." Ibu terlihat menahan air matanya yang hampir tumpah.
"Ibumu benar, Adya, kakimu harus dieksekusi sekarang juga,"
Dadaku sesak mendengar vonis mengerikan itu. Aku tidak mau. Sungguh tidak mau! Kakiku pasti akan sembuh seperti sediakala. Dasar dokter bodoh! Mestinya dia punya obat dan peralatan medis super canggih untuk menyelamatkan kaki kananku. Bukannya malah memaksa untuk memotongnya.
“Tapi aku tidak mau kehilangan satupun bagian tubuhku, Ibu. Kembalikan rambut panjangku, kembalikan gigi-gigiku, kembalikan jari-jari kakiku, kembalikan telinga dan hidungku, kembalikan semuanya seperti dulu……” Aku sungguh tak berdaya meratapi kondisiku yang begitu memilukan.
Seminggu berlalu, aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Katanya aku bisa berobat jalan. Dengan begitu, ibu, Kak Dina, dan ayah, tidak perlu repot bolak-balik rumah-rumah sakit untuk merawatku.
Kak Dina mendorongku menggunakan kursi roda menuju mobil yang disewa ayah. Kini aku pulang ke rumah dengan kaki pincang dan raga yang tiada berguna. Di dalam mobil, Kak Dina banyak berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku di siang itu.
“Kamu masuk ke dalam kolong truk, Adya. Rambutmu terlilit di jari-jari, wajahmu mencium aspal. Saat kamu terpental, kaki kananmu terlindas ban depan. Kamu bandel banget sih jadi anak. Palai helm aja susahnya minya ampun. Mengetahui kabar buruk dari rumah sakit, kami sempat pingsan berkali-kali, Adya,” Kak Dina melirik kakiku yang lumpuh tak mampu bergerak.
Kulihat ibu menarik napas, lalu mengelus rambutku yang dipotong sembarang oleh suster hingga botak. “Untungnya otakmu masih bisa diselamatkan, Adya. Kalau tidak, mungkin kamu sudah lewat.”
“Lebih baik aku tewas di tempat, Bu, daripada hidup menanggung semua kesakitan ini. Aku ingin mati saja. Ayah, bunuhlah aku sekarang juga…” kataku berteriak.
Ayah yang duduk bersama supir di jok depan, menoleh dari kaca spion tengah. Beliau tidak menjawab. Barangkali dia masih membenciku.
“Semenjak pertengkaran itu, ayahmu tak banyak bicara, Adya. Ia menyesal telah membuatmu kesal. Maafkanlah ayahmu...” Bisik ibu sambil menciumi keningku yang penuh dengan luka.
Untuk beberapa bulan bahkan tahun ke depan, tampaknya aku mesti setia bertumpu dengan kursi roda dan tongkat seumur hidupku. Mau buang air kecil, aku digendong ayah. Mau salin baju dan makan, dibantu ibu. Mau melakukan apapun, aku butuh bantuan orang lain. Rasanya sangat tersiksa. Kedua orangtuaku sukarela menjadi perawatku di rumah. Bila jadwal kontrol tiba, mereka mengantarkanku ke rumah sakit. Aku selalu menentang jika dokter berniat mengambil kaki kananku.
“Adya, biarkan dokter menggantikan kaki barumu agar kamu tidak merasa tersiksa setiap detik. Ibu tidak tega menyaksikannya, Nak..” ucap ibu berusaha meluluhkan hatiku.
Apa? Kaki baru? Kaki manusia sudah mati atau kaki palsu buatan manusia? Enak saja. Aku tidak akan pernah mau menjual kakiku berapapun jua harga yang ditawarkan. Meski kata dokter kakiku sudah hancur dan tak berfungsi normal.
***
Setiap malam tiba, aku terbangun dari tidur lelapku karena rasa sakit yang bertubi-tubi. Sebenarnya aku tidak pernah bisa tidur lelap, mengingat seluruh tulangku rasanya patah, kulit wajahku pedih, kepala nyut-nyutan, dan rasanya serba salah. Meringkuk ke kiri salah, ke kanan juga salah. Apalagi disuruh tengkurap, terlentang saja rasanya aku menyerah.
Kalau sekadar rasa perih di wajah dan seluruh anggota tubuhku, mungkin bisa kutahan, meski air mata terus bercucuran menahan rasa perihnya. Namun sakit pada hatiku karena ditinggal calon suami, serta ngilu di kaki kananku yang remuk, rasanya bagai dicabut nyawa. Ya, Tuhan, mengapa Engkau membiarkanku hidup? Aku sudah tak berguna lagi, tak akan mampu membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Hanya bisa merepotkan. Jadi untuk apa? Biarkanlah aku mati!
Hukuman ini memang pantas kuterima. Aku tahu Tuhan sengaja membiarkanku hidup untuk menyesali tabiat burukku semasa sehat. Bila mungkin aku kembali pulih seperti semula, aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Bagi siapapun yang membaca kisah naasku, kuharap kalian bisa lebih menghormati tata tertib lalu lintas, tidak mengaku-ngaku jalan raya sebagai jalan milik kakek moyangmu. Gunakanlah selalu perlengkapan standard yang sudah dicanangkan dalam undang-undang berkendaraan, serta ingat selalu pesan orang-orang yang menyayangimu meski membosankan. Nyawamu bukan kacang yang dijual dengan harga murah, kamu juga bukan barang loak yang bisa diperdagangkan di jalanan.
Barangkali Tuhan menyuruhku untuk merenungi kesalahan fatal yang pernah kubuat dan menyebarkannya pada kalian. Barangkali, napasku tidak akan lama lagi berhembus menghirup udara dunia. Di ruang serba putih ini, aku mengenang jasadku yang hancur tak berbentuk.
Terimakasih untuk Kak Dina yang sudah mau merekam semua pembicaraanku, dan dengan ringan tangannya merampungkan kisah tentang penyesalan yang teramat dalam ini. Pun terimakasih teruntuk kamu yang berkenan membaca tulisan kakakku, yang mana mewakiliku dalam menceritakannya secara tidak langsung karena jemariku tak sanggup lagi menulis walau satu huruf.
Adya yang malang, telah lama berpulang. Setelah setengah bulan syarafnya bekerja keras mendorong fungsi hati dan otak yang ternyata tak kuat lagi menopang detak jantungnya yang semakin hari semakin melemah.
Aku Dina, kakak dari seorang Adya yang kini sudah bersatu dengan tanah merah. Semoga kalian bisa menjadikannya pelajaran, bahwa kecelakaan lalulintas merupakan momok paling menakutkan bagi siapapun yang tidak taat pada peraturan. Kadang yang patuh saja celaka, apa lagi yang brandalan macam Adya.
Takdir manusia memang sudah ada yang menentukan, tapi tidak ada salahnya kita menghindari kesalahan fatal yang membuat kita menyesal. Semoga penyesalan Adya bisa membuat mata kalian terbuka, untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkendaraan.
***The End***
Selasa, 27 Oktober 2015
Kamis, 12 Februari 2015
Dewi Awan #FlashFiction
Apakah kamu menyukai langit biru yang tak tersaput awan? Apakah kamu lebih tertarik melihat gumpalan awan mengotori birunya langit? Apakah hujan itu menyebalkan? Apakah kau takut melihat kilauan halilintar memenuhi angkasa? Apakah kehadiran pelangi bisa memberikan senyum terindah?
Bagiku semua itu adalah tontonan luar biasa yang diciptakan Tuhan. Lihatlah, awan-awan itu berarak tertiup angin. Kemudian membeku dan menggelap. Tak lama gumpalannya bertabrakan mengeluarkan suara halilintar dan kilat yang menyambar-nyambar. Hujan pun turun menciptakan suasana sejuk di muka bumi ini.
Oh, tidak! Sesuatu yang selalu kutunggu kehadirannya adalah pelangi. Pembiasan cahaya oleh rinai hujan itu mampu menciptakan warna yang menakjubkan.
Aku Dewi, gadis berusia 24 tahun yang sedang mencari jati diri. Tinggi badanku semampai. Alias 150 cm pun tak sampai. Sampai sih, aku hanya bergurau. Lebih malah, lima centi. Dan artinya tinggiku 155 cm. Berat badanku hanya 43 kg. Rambutku ikal, tidak hitam, tidak pirang. Biasa saja. Hidungku juga tidak mancung, tidak juga pesek, biasa saja. Daguku tidak lonjong tidak juga bulat. Biasa saja. Mataku pun tidak sipit, tidak juga belo. Biasa saja.
Kecantikanku juga biasa saja. Aku sungguh biasa saja. Tapi aku bersyukur menjadi makhluk Tuhan yang sempurna memiliki panca indera lengkap, organ tubuh komplit, dan otak yang cukup cerdas.
Hobiku memandang awan bergerombol di langit biru. Menyaksikan percikan airnya dari atas sana. Mengagumkan. Sama halnya aku mengagumi sosok Awan. Laki-laki berusia dua tahun di atasku yang kukenal melalui sahabat baikku, Tita. Awalnya aku menolak perkenalan itu mentah-mentah. Tetapi Tita memaksaku.
“Ayolah, Dew… sampai kapan kamu menjomblo seperti ini?”
Aku memang masih menikmati kesendirianku. Tiga tahun adalah rekor muri dalam sejarah hidupku memilih status single. Rasa trauma atas kegagalan berkali-kali di masa lalu membuatku enggan memulai komitmen dengan seorang lelaki. Tetapi apa salahnya mencoba membuka pintu hati yang kuncinya sudah tertimbun dalam-dalam.
“Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun saat ini, Tita. Maaf…”
“Ayolah! Apa salahnya berkenalan. Dia anaknya baik.”
Tita terus merayuku. Dengan berat hati aku pun menerima tawaran konyol sahabatku, berkenalan. Pria bertubuh tinggi, kurus, putih, dan tampan itu sepertinya orang baik-baik. Dan kamipun akhirnya berteman cukup dekat, sangat dekat.
Wahai, Ibu, es di kutub utara dan selatan tiba-tiba mencair. Aku mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Saat Tita memperlihatkan foto Awan pertama kalinya padaku. Dan saat pertemuan itu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya.
Kehadirannya bak hujan di tengah kemarau panjang, seperti pelangi pasca badai. Secepat itukah aku jatuh cinta padanya yang baru saja kukenal kemarin sore? Setelah bertahun lamanya aku sendiri dalam kesibukan tanpa seseorang.
Kami terjebak dalam keadaan ini. Perasaan yang hadir tanpa bisa ditawar. Serta pilihan yang tidak dapat ditolak. Awan memilih menjalani hubungan ini karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk merasa menjadi seorang yang sangat dicintai. Sedangkan aku harus bertanggung jawab pada hatiku yang terlanjur mencintainya.
“Kita sudah terlalu dekat, Awan. Aku tidak ingin perasaan ini semakin jauh. Apakah? Apa kau mencintaiku?”
“Jangan suguhkan aku dengan kalimat itu.”
Tuhan, maafkan aku yang selalu berdoa agar dia menjadi teman hidupku kelak. Memohon agar ia menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku. Aku terlalu memaksa. Awan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan untukku. Rasanya sakit. Awan masih belum siap menjalani hubungan yang lebih serius. Hatiku menggigil mendengar pengakuannya.
“Kita jalani saja dulu”
“Sampai kapan? Kita sudah menjalani hubungan ini. Aku tahu kamu sedang belajar mencintaiku.”
“Dengarkan aku, Awan…”
“Tengoklah ke langit siang, betapa indahnya gumpalan awan putih bergerak tertiup angin. Lambat laun warnanya menjadi gelap pekat menutupi sinar sang surya. Hatiku seperti itu. Membendung hasrat di pelupuk mata.”
Mungkin hujan dapat menghapus jejaknya. Mungkin pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Ternyata dia bukan hujan di tengah kemarau panjang. Dia juga bukan pelangi pasca badai.
Malam-malam ini menyesakkan dada. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang sudah. Oh, Awan… kau sungguh elok bersanding di birunya langit yang tak berbatas. Tapi aku tak dapat menyentuhmu. Aku tidak pernah punya kesempatan itu. Kini aku kembali pada kesibukanku semula. Menikmati kesendirianku.Bersabar menunggu seseorang berhati Malaikat datang menemuiku.
Tugasku adalah memupuk tanaman itu agar ia tumbuh subur. Namun jika ia tetap layu atau justru mati, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah berusaha. Berusaha mempertahankan hubungan ini semampuku.
Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, seorang Dewi yang mengagumi setitik awan lepas menari di birunya langit. Memesona sejauh mata memandang, namun tak bisa dimiliki. Ini hanya sebatas mimpi untukku. Tak akan pernah menjadi nyata. Awan semakin dingin, mengucurkan derasnya titik-titik air mata membanjiri pipi tirusku.
Perasaan tetaplah perasaan. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, pasti aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayang, hanya waktu yang mampu memulihkan semua ini. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seribu tahun lagi.
◊◊◊
Flash Fiction ini merupakan kontributor dari Hujan Bercerita yang sengaja saya publish di Blog.
Terimakasih sudah membaca.
Salam hangat,
Nalla Dewi
Bagiku semua itu adalah tontonan luar biasa yang diciptakan Tuhan. Lihatlah, awan-awan itu berarak tertiup angin. Kemudian membeku dan menggelap. Tak lama gumpalannya bertabrakan mengeluarkan suara halilintar dan kilat yang menyambar-nyambar. Hujan pun turun menciptakan suasana sejuk di muka bumi ini.
Oh, tidak! Sesuatu yang selalu kutunggu kehadirannya adalah pelangi. Pembiasan cahaya oleh rinai hujan itu mampu menciptakan warna yang menakjubkan.
Aku Dewi, gadis berusia 24 tahun yang sedang mencari jati diri. Tinggi badanku semampai. Alias 150 cm pun tak sampai. Sampai sih, aku hanya bergurau. Lebih malah, lima centi. Dan artinya tinggiku 155 cm. Berat badanku hanya 43 kg. Rambutku ikal, tidak hitam, tidak pirang. Biasa saja. Hidungku juga tidak mancung, tidak juga pesek, biasa saja. Daguku tidak lonjong tidak juga bulat. Biasa saja. Mataku pun tidak sipit, tidak juga belo. Biasa saja.
Kecantikanku juga biasa saja. Aku sungguh biasa saja. Tapi aku bersyukur menjadi makhluk Tuhan yang sempurna memiliki panca indera lengkap, organ tubuh komplit, dan otak yang cukup cerdas.
Hobiku memandang awan bergerombol di langit biru. Menyaksikan percikan airnya dari atas sana. Mengagumkan. Sama halnya aku mengagumi sosok Awan. Laki-laki berusia dua tahun di atasku yang kukenal melalui sahabat baikku, Tita. Awalnya aku menolak perkenalan itu mentah-mentah. Tetapi Tita memaksaku.
“Ayolah, Dew… sampai kapan kamu menjomblo seperti ini?”
Aku memang masih menikmati kesendirianku. Tiga tahun adalah rekor muri dalam sejarah hidupku memilih status single. Rasa trauma atas kegagalan berkali-kali di masa lalu membuatku enggan memulai komitmen dengan seorang lelaki. Tetapi apa salahnya mencoba membuka pintu hati yang kuncinya sudah tertimbun dalam-dalam.
“Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun saat ini, Tita. Maaf…”
“Ayolah! Apa salahnya berkenalan. Dia anaknya baik.”
Tita terus merayuku. Dengan berat hati aku pun menerima tawaran konyol sahabatku, berkenalan. Pria bertubuh tinggi, kurus, putih, dan tampan itu sepertinya orang baik-baik. Dan kamipun akhirnya berteman cukup dekat, sangat dekat.
Wahai, Ibu, es di kutub utara dan selatan tiba-tiba mencair. Aku mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Saat Tita memperlihatkan foto Awan pertama kalinya padaku. Dan saat pertemuan itu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya.
Kehadirannya bak hujan di tengah kemarau panjang, seperti pelangi pasca badai. Secepat itukah aku jatuh cinta padanya yang baru saja kukenal kemarin sore? Setelah bertahun lamanya aku sendiri dalam kesibukan tanpa seseorang.
Kami terjebak dalam keadaan ini. Perasaan yang hadir tanpa bisa ditawar. Serta pilihan yang tidak dapat ditolak. Awan memilih menjalani hubungan ini karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk merasa menjadi seorang yang sangat dicintai. Sedangkan aku harus bertanggung jawab pada hatiku yang terlanjur mencintainya.
“Kita sudah terlalu dekat, Awan. Aku tidak ingin perasaan ini semakin jauh. Apakah? Apa kau mencintaiku?”
“Jangan suguhkan aku dengan kalimat itu.”
Tuhan, maafkan aku yang selalu berdoa agar dia menjadi teman hidupku kelak. Memohon agar ia menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku. Aku terlalu memaksa. Awan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan untukku. Rasanya sakit. Awan masih belum siap menjalani hubungan yang lebih serius. Hatiku menggigil mendengar pengakuannya.
“Kita jalani saja dulu”
“Sampai kapan? Kita sudah menjalani hubungan ini. Aku tahu kamu sedang belajar mencintaiku.”
“Dengarkan aku, Awan…”
“Tengoklah ke langit siang, betapa indahnya gumpalan awan putih bergerak tertiup angin. Lambat laun warnanya menjadi gelap pekat menutupi sinar sang surya. Hatiku seperti itu. Membendung hasrat di pelupuk mata.”
Mungkin hujan dapat menghapus jejaknya. Mungkin pelangi mampu menggantikan sejuta senyumku yang hilang. Ternyata dia bukan hujan di tengah kemarau panjang. Dia juga bukan pelangi pasca badai.
Malam-malam ini menyesakkan dada. Air mataku tak terhitung puluhan liter terbuang sudah. Oh, Awan… kau sungguh elok bersanding di birunya langit yang tak berbatas. Tapi aku tak dapat menyentuhmu. Aku tidak pernah punya kesempatan itu. Kini aku kembali pada kesibukanku semula. Menikmati kesendirianku.Bersabar menunggu seseorang berhati Malaikat datang menemuiku.
Tugasku adalah memupuk tanaman itu agar ia tumbuh subur. Namun jika ia tetap layu atau justru mati, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah berusaha. Berusaha mempertahankan hubungan ini semampuku.
Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, seorang Dewi yang mengagumi setitik awan lepas menari di birunya langit. Memesona sejauh mata memandang, namun tak bisa dimiliki. Ini hanya sebatas mimpi untukku. Tak akan pernah menjadi nyata. Awan semakin dingin, mengucurkan derasnya titik-titik air mata membanjiri pipi tirusku.
Perasaan tetaplah perasaan. Seandainya ada obat instan untuk mengobati luka hatiku, pasti aku sudah membelinya di toko terdekat. Sayang, hanya waktu yang mampu memulihkan semua ini. Entah sampai kapan aku tak tahu. Mungkin seribu tahun lagi.
◊◊◊
Flash Fiction ini merupakan kontributor dari Hujan Bercerita yang sengaja saya publish di Blog.
Terimakasih sudah membaca.
Salam hangat,
Nalla Dewi
Langganan:
Postingan (Atom)